Mencintai itu hal yang wajar, namun aku mencintaimu seseorang yang takkan pernah aku miliki. Akankah perasaanku sia-sia? Akankah aku hanya membuang waktu? Apakah aku tak berguna? Aku tak tahu, yang aku tahu aku sangat menyayangimu, mencintaimu apa adanya.

Truth Of Love

Chapter 4

Attack On Titan/Shingeki no Kyoujin

Author : Cattleya Wistaria

Read and Review

Waning : Lemon zone, Typo, alur berantakan.

Dont like? Dont Read!

.

.

.

.

.

Seperti biasa, mereka pasukan pengintai melakukan patroli setiap hari. Pasukan berkurang drastis karena sebagian dari mereka telah meninggal.

Erwin dan Levi pun terlihat seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Bisa dibilang mereka paling giat bekerja keras untuk kepentingan umat manusia.

Eren, Mikasa dan Armin pun bertingkah seperti biasa. Mereka rukun dan damai, namun yang membuat berbeda adalah kehadiran Annie dihidup Eren sehingga Eren harus membagi waktu antara Annie dan teman-temannya.

.

.

-Malam Hari di Markas Scouting Legion-

"Hey Mikasa. Tampaknya Eren dan Annie makin dekat yah?" tanya Jean yang sedikit demi sedikit mendekati Mikasa.

Mikasa yang menyadari itu pun sedikit demi sedikit menjauh dari Jean. "Ah, sepertinya..."

"Seperti biasa Mikasa cool yaa gaya bicaranya..." Sasha pun tersenyum dengan senyuman khasnya, nyengir gitu.

Lalu semua yang ada disana pun terdiam...

"Sepertinya mereka menjalin hubungan khusus..." ucap Hanji yang mebuat semua yang ada disana kaget karena tengah melamun.

"Ahh, Ketua Hanji mengagetkan saja..." tegas Armin.

"Ah gomen gomen..." Hanji pun tersenyum lalu ia melanjutkan kalimatnya lagi "Armin, ikutlah denganku untuk membahas teori teori tentang titan..."

Armin pun membalasnya dengan anggukan, tanda ia bersedia.

Lalu Armin pun mengikuti ketua Hanji.

Sedangkan Mikasa, ia selalu murung dan sedih. Terlihat dari wajahnya yang pucat. Tentu saja ia sedih karena Eren memilih Annie ketimbang dirinya.

.

.


Tengah malam ini, diterangi sinar rembulan yang sangat terang. Lalu terlihatlah seseorang berambut hitam legam yang tengah duduk diantara jendela. Ia pun seperti tengah memikirkan sesuatu yang sangat rumit.

Ia masih dalam keadaan melamun sampai seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Tokk Tokk Tokkk...

"Levi Heichou apa kau didalam?" tanya seseorang dari balik pintu.

Heichou muda yang bernama Levi Ackerman itu hanya menoleh kearah pintu yang kemudian terbuka.

"Dosta Armin?" tanya Heichou penasaran karena tak biasanya tengah malam begini ia mengunjunginya. Armin pun dipersilahkan masuk keruangannya.

"Ano Heichou, setelah pengintaian malam ini saya memiliki petunjuk tentang seseorang yang anda bicarakan..."

Levi pun menajamkan matanya. "Benarkah? Siapa dia?"

"Saya masih belum yakin apakah ia yang menyelinap pergi keluar dengan alasan tak ikut bersama kita, namun dengan misi selanjutnya kita akan mengetahuinya Heichou..." Armin pun menjelaskan pendapatnya.

"Ah baiklah, akan kubicarakan dengan Erwin dan Hanji."

"Baik Heichou... saya permisi..." Armin pun membungkukan badannya dan ia pun pergi dari ruangan sang Kapten.

Levi pun memutuskan untuk keluar dari ruangannya dan mencari sesuatu untuk memuaskan dahaganya ini. Ia menuju kedapur dan disanalah ia bertemu dengan gadis yang dia sukai. Mikasa Ackerman.

.

.

.


Bulan telah berganti menjadi Matahari yang menyinari seluruh alam ini. Embun pagi yang menghiasi dedaunan itu sungguh sangat indah. Namun semua itu dikalahkan oleh seorang gadis yang sangat cantik dengan parasnya yang sangat indah itu.

Pagi setelah latihan seluruh pasukan pun bergegas untuk mandi dan sarapan bersama di markas. Sungguh inilah kedamaian yang selalu ingin mereka lindungi.

Terlihat disebuah meja, disana ada beberapa orang yang berkumpul dimeja itu. Eren, Mikasa, Armin, Jean, Sasha, Historia dan Connie. Entah sejak kapan mereka selalu berkumpul seperti itu. Mungkin itulah yang dinamakan semakin lama kau bersama semakin erat persahabatan juga, ahaha pribahasa dari mana itu thorr.

Lalu dengan polosnya Sasha bertanya.

"Mikasa... Apa kau baik-baik saja semalam?" tanyanya.

Sontak Mikasa yang diajukan pertanyaan itu hanya menghela nafas sedangkan eren tersedak makannanya.

"Aku baik-baik saja kok..." jawabnya santai.

"Lagian kenapa kau bertanya seperti itu Sasha? Dan juga kau Eren, yang diberikan pertanyaan siapa yang tersedak siapa." Timpal Jean dengan wajah polosnya.

"Aku kan hanya ingin tahu. Oh iya Mikasa, kenapa lehermu banyak bercak merah?" tanya Sasha yang sukses membuat satu meja itu memandang kerah leher Mikasa yang tak terbalut syal.

Hee sejak kapan ia tak memakai syal pemberian Eren? Padahal seburuk apapun kondisinya ia selalu mengenakannya kemanapun ia pergi mneski sedang bertempur pun ia selalu menjaga dan memakainya setiap waktu.

"Ehhh aku baru sadar kalau Mikasa tak pakai syal..." Timbrung Connie yang sedari tadi hanya menjadi pengamat.

"Eh aku juga dan kenapa dengan lehermu, Mikasa?" sekarang giliran Jean yang kepo.

Selagi teman-temannya menanyakan hal itu pada Mikasa, Armin yang duduk ditengah tengah Eren dan Mikasa pun hanya bisa mengamati apa yang telah terjadi dan ia pun telah mengansumsikan sesuatu bahwa banyak hal yang telah terjadi diantara kedua sahabanya itu.

Mikasa pun menjawabnya dengan santai dan tenang...

"Ah ini bekas gigitan nyamuk. Kau tahu sendiri kan disini banyak nyamuknya dan aku lupa memakai lotion anti nyamuk..." Mikasa pun tersenyum palsu.

Eren yang mendengarnya langsung menatap sengit Mikasa dan dibalas oleh tatapan acuh tak acuh kepada Eren.

Armin yang sedari tadi diam saja pun angkat bicara.

"Heee sepertinya naymuknya ganas sekali ya Mikasa..." Armin pun membuat semua yang ada disana menjadi bingung dan wajah Mikasa serta Eren yang tengah sibuk dengan makanannya pun memerah seketika. Armin pun memandang kedua sahabatnya secara bergantian. Namun bodohnya yang lain tidak mengerti apa yang Armin maksud.

Dan tak disangka sangka seseorang pun ikut dengan rombongan itu.

"Ahhh kelihatannya begitu Armin, kuharap nyamuk itu tak berkepala coklat yaa..." Suara berat itu sontak membuat semua orang yang berada dimeja itu mengalihkan pandangan padanya. Pada kapten muda yang sangat tampan dan kuat itu, Levi Heichou.

Seseorang yang sedari tadi merasa panas telinganya pun tersedak lagi mendengar penuturan Heichou chibi nya tersebut. Ia pun langsung meminum segelas air yang telah disiapkan Armin.

"Ahh maksud anda apa yah Heichou?" tanya Jean, Sasha dan Connie bersamaan.

Levi pun mendengus pelan, "Ia, lupakan saja. aku hanya bercanda..." dengan nada khasnya berat dan dingin.

Pembicaraan ini pun mengingatkan Mikasa pada kejadian tadi Malam. Kejadian yang takkan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

.

.

.

.


FLASHBACK ON

Malam pun tiba, inilah saatnya untuk berpatroli keluar markas guna mengamati wilayah sekitar. Jean, Armin, serta anggota 104 yang lain melakukan pengintaian kecuali Mikasa, Eren dan Historia. Historia tak bisa ikut karena ia tengah demam dan kondisi tubuhnya lemah.

Pasukan pun dibagi menjadi 2, yaitu pasukan Levi dan Hanji. Mereka pun berangkat dan meninggalkan markas.

Mikasa dan Eren ditugaskan untuk menjaga markas selagi markas dalam keadaan kosong.

Eren pun duduk diruang tengah. Ia terlihat sedang memiliki beban. Lalu Mikasa pun menghampirinya.

"Eren... Kau baik-baik saja..." tanya Mikasa to the point.

"Ah, sepertinya..." Eren pun membalas pertanyaan Mikasa dengan nada dingin.

"Katakan Eren, kenapa kau seperti ini? Wajahmu sangat pucat Eren aku khawatir dan-." Belum sempat Mikasa menuntaskan perkataanya Eren pun menyela nya.

"Sudahlah Mikasa, kau jangan over begitu. Aku bukanlah adik atau anakmu. Jadi jangan seperti itu Mikasa!." Eren pun mengatakannya dengan nada membentak.

"Baiklah Eren, maafkan aku..." gadis berambut hitam pendek itu hanya bisa menundukan pandangannya. Ia tak sanggup melihat Eren.

Lalu terdengarlah suara Eren yang melembut .

"Maafkan aku Mikasa. Aku terbawa emosi. Maaf Mikasa..." Lelaki yang belum dewasa itu pun memandang sendu Mikasa, gadis yang telah ia bentak.

"Iya, aku tak apa..." Mikasa pun tersenyum lembut.

"Mikasa... apa yang kau rasakan ketika seseorang yang kau sukai malah menyukai orang lain?" pertanyaan Eren itu sukses membuat Mikasa mengadahkan wajahnya.

Mikasa pun menatap Eren.

"Kau tak perlu tahu bagaimana rasanya Eren... Yang perlu kau tahu hanyalah bahagia..." Mikasa pun menatap Eren lembut dan ia pun tersenyum lagi kepada Eren.

"Mikasa..." Eren pun menyebutkan nama gadis cantik yang berada dihadapannya itu.

Lalu Eren pun melanjutkan perkataanya. "Mikasa, sepertinya aku sangat kurang ajar bukan? Aku selalu membuatmu sedih."

Mikasa pun menggelengkan kepalannya. "Tidak Eren... jangan berkata seperti itu, aku bahagia selama kau bahagia Eren. Kau bahagia kan dengan Annie?"

Mendengar nama Annie disebut, Eren pun menundukan kepalanya.

"Sepertinya tidak... Annie. Dia bahkan tidak mencintaiku. Ia sepertinya mencintai Bertolt bukan aku..."

"Apa? Kenapa bisa? Aku mendengar sendiri kalau Annie mencintaimu Eren dan bahkan kau sudah berciu-."

"Tapi kenyataanya memang tidak seindah itu Mikasa. Ia tak pernah mencintaiku!" Eren pun menaikan nada bicaranya yang membuat Mikasa terkejut dan sedih.

Sudah berapa kali ia dibentak oleh Eren? Entahlah...

Mikasa tak bergeming sedikitpun. Eren yang sedang marah sangat menakutkan untuknya, bukan takut kepadanya namun ia takut kalau Eren semakin enggan dengannya.

Lalu Eren pun bangkit dari duduknya dan sepertinya Eren sudah tenang. Ia pun mengambil sebotol wine dan 2 gelas kecil lalu menuangkan wine itu kedalam gelasnya dan Mikasa.

Dengan perlahan Eren pun meneguknya.

"Naaa Mikasa. Ada hubungan apa kau dengan Heicou?" tanya Eren dingin dan menuntut jawaban.

Mendengar pertanyaan itu, Mikasa langsung menjawabnya. "Apa maksudmu Eren? Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya..."

Mata Eren pun tertuju pada bibir merah Mikasa. Ia pun mendekatkan diri pada Mikasa, dan ia pun memegang dagu gadis cantik tersebut.

"Hooo, lalu kenapa ia ingin menciummu Mikasa?"

"A-aaku tak tahu apa tujuannya Eren... Percayalah padaku..." Mikasa pun memandang tajam mata Eren yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.

"Baiklah. Tapi kau jangan dekat dekat dengan pria lain selain aku dan Armin... aku tak suka kau dekat dengan mereka, apalagi dengan Heichou..." perintah Eren.

"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Bukankah kau sendiri berhubungan dengan Annie?" sangkal Mikasa.

"Memang... tapi aku tak mau kau dekat dengan yang lain..." dengan wajah memerah.

"Eren, bicara apa kau ini... Apakah kau sudah mabuk?" tanya mikasa sambil mengusap wajah tampan Eren.

Eren pun menatap Mikasa. "Mabuk? Tak mungkin baka. Aku bahkan baru minum sedikit..."

Eren pun meneguk wine itu lagi dan lagi.

Namun dilihat dari manapun Eren sedikit mabuk.

"Eren, sudahlah ayo kekamarmu sekarang juga. Kau mabuk..." Mikasa pun berniat memapah Eren namun...

"Mikasa, aku akan menunjukan apa yang ingin kapten lakukan padamu..." Eren pun meminum wine itu lagi dan ia pun menarik tangan Mikasa sehingga mereka pun berdekatan...

Tanpa pikir panjang Eren pun mendekatkan wajahnya dan...

CUPPPPP...

Bibir Eren telah menyentuh bibir Mikasa dengan cepat sampai-sampai Mikasa tak sadar bahwa ia tengah dicium Eren dan sejak kapan ia berada dipanggkuan Eren. Ah rasanya semua terjadi dalam sekejap.

Eren pun terus menekan Mikasa agar Mikasa membukakan bibirnya sehingga Eren bisa leluasa bermain didalam mulut Mikasa.

Mikasa pun tak bisa menahan bibir Eren lagi, ia pun membuka bibirnya sehingga wine yang ada didalam mulut Eren pun masuk kedalam mulutnya juga.

Wine itu pun bisa dirasakan oleh mereka yang tengah berciuman. Wine itu pun menetes dari sudut bibir mereka. Lidah mereka pun terus bergelut dengan ganasnya, namun Eren lah yang mendominasi ciuman panas tersebut.

Mereka melakukan itu cukup lama dan sepertinya mereka harus menghentikannya sebelum mereka kehabisan nafas meski Eren sedikit tak rela melepaskan ciuman itu.

"Bibirmu sangat lembut Mikasa, pantas saja Levi Heichou ingin melakukannya." Eren pun tersenyum licik kepada Mikasa yang tengah menghirup udara segar dengan kasar.

"Ah sungguh ini sangat nikmat Mikasa, tak kusangka kita bisa melakukannya..." Eren tak henti hentinya memandang Mikasa dengan tatapan yang sungguh sangat sulit diartikan bagi mikasa, tentu saja tatapan mesum.

Sedangkan Mikasa sedikit terkejut dengan sikap Eren.

'Apakah Eren mabuk? Oh tuhan ia sangat tampan dan mengerikan...' gerutunya dalam hati.

Setelah cukup lama mereka terdiam, Eren pun mendekat lagi kearah Mikasa.

Tanpa basa-basi Eren pun memeluk Mikasa dan mendekap serta membungkamnya dengan ciuman ganas itu lagi.

Entah kenapa Mikasa tak dapat menghentikan Eren yang tengah bernafsu ini. Ia kalah telak. Ia bahkan tak bisa bergerak dengan leluasa.

Eren mencumbunya. Diruangan itu, mereka bercumbu.

Mikasa pun mencoba melepas ciuman itu dengan memberontak pada Eren. Eren pun melepaskan ciumannya itu.

"Ada apa Mikasa? Bukankah kau menyukainya?" tanya Eren dengan tatapan itu lagi.

"Eren, sadarlah. Kita tidak bisa melakukan ini. Aku mohon hentikan ini..." Mikasa pun memohon pada Eren yang masih memeluknya intens.

Mata mereka bertemu dan mereka pun saling bertatap satu sama lain.

Eren pun memejamkan matanya dan sedikit melonggarkan pelukannya. Mikasa pun bernafas lega karena ia terlalu gugup dengan posisi ia tadi yang tengah dipangku Eren dan dipeluknya erat itu.

Namun Eren tak berniat untuk melepaskan Mikasa.

Ia malah mengelus paha mulus mikasa yang masih terbalut celana dan sabuk 3DM itu. Lalu ia menggendong Mikasa ala bridal style menuju ke ruang bawah tanah. Yaitu tempat dimana kamar Eren berada.

Mikasa pun berontak dan memukul dada bidang Eren namun Eren tak menghiraukannya.

"Eren wo hanashite... onegai Erenn..."

"Eren onegai hanashite..."

"Ereeennnn..."

"EREEEENNN..."

Bukannya melepaskan Mikasa, Eren malah membungkamnya dengan ciuman lagi dan lagi. Dan tak terasa mereka telah sampai di kamar Eren.

Eren pun menurunkan Mikasa di kasurnya. Tanpa memberikan Mikasa kesempatan untuk bergerak apalagi memberontak Eren segera menindihnya.

Posisi mereka saat ini sangatlah berbahaya. Mikasa tak dapat bergerak sedikitpun. Ah sangat tak menguntungkan berada dibawah Eren yang tubuhnya terus tumbuh hari demi hari. Ia sangatlah kuat sekali. Sungguh Mikasa merasa sangat lemah sekarang ini. Ia pun menyerah karena kehabisan tenaga.

Eren yang melihat Mikasa sudah menyerah dan tak berontak itu pun mencium liar Mikasa lagi. Mikasa pun sepertinya tak menolak seperti tadi, malah Mikasa ikut berpartisipasi dengan memainkan lidahnya juga.

Setelah ia puas dengan bibirnya, Eren pun menurunkan ciumannya kearah leher jenjang Mikasa. Ah baunya, sangat wangi. Ini adalah bau khas Mikasa, yang selalu memabukan. Tak lupa tangannya pun mengusap perutnya dan meremas dada Mikasa yang membuat Mikasa melengguh.

"Ahhhhhhh Erennnn..." Mikasa pun mengelus rambut Eren lembut.

Pria yang disebut namanya itu hanya tersenyum karena ia berhasil membuat Mikasa mendesahkan namanya, bukan Levi Heichou.

Eren pun membuka kancing kemeja putih yang Mikasa kenakan. Lalu terlihatlah bra berwarna pink keputih putihan yang menyembunyikan dada Mikasa yang menawan itu.

Ia terus memainkan tubuh Mikasa dengan mencium, membuat kiss mark serta menjilat nya.

"Ahhhhhhhhh Erenn ahhhhh onegai yamete. Kita tidak bisa melakukan ini..." Mikasa pun memohon pada Eren dan tanpa terasa matanya telah dibasahi oleh air mata.

Eren yang mendengar desahan Mikasa yang menurutnya sangat indah itu pun langsung melepas pengait bra Mikasa. Dan terlihatlah dada berukuran besar untuk seukuran badan Mikasa itu. Tanpa menunggu lama ia pun menyentuh dada Mikasa dan meremasnya serta menjilat dan menghisapnya. Yang membuat Mikasa semakin basah dan membuat yang dibahwah Eren semakin tegang.

"Ahh Erennn aku mohon aku tak mau jika seperti ini... Erennn hentikaannn ahhhhh, aku tak mau melakukan lebih dari ini Eren kumohonnn..." Mikasa pun menatap Eren dengan wajah memerah dan mata yang sembab...

"Aku tak bisa melakukannya Mikasa, kau tahu ini sudah sangat terlambat... ahhh Mikasa..." Eren pun menuju kedaerah terlarang Mikasa dan mengelusnya lembut.

Ia melepaskan sabuk yang melilit badan Mikasa dan ia pun membuka celana serta melepaskannya. Ia pun langsung menghisap daerah yang sudah basah itu.

Mikasa yang disentuh bagian intimnya itu pun memblakan matanya dan mendesah semakin kencang disertai tangisan yang tak henti henti...

"AAAAAHHHHHH ERENNNNN..."

Dengan berat Eren pun menghentikannya, ia pun menatap wajah Mikasa yang sudah semerah tomat itu.

"Sepertinya kau sudah lelah Mikasa? Ini baru permulaan sayang..." Eren mengatakan itu dengan nada mesum. Sungguh Mikasa tak mengenal Eren yang tengah mencumbunya ini.

"Eren... kumohonn Erenn hentikann... aku tak mau Erenn..."

Eren pun bangkit dari posisinya yang sedang mencumbu Mikasa. Ia pun melepaskan kemejanya dan membuka pakaiannya satu persatu. Sehingga Mikasa dan Eren saat ini dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun...

Tanpa aba-aba ia pun siap memasukan kejantanannya kedalam Mikasa. Mikasa sangat terpukul karena ia tak menyangka Eren yang ia kenal selama ini melakukan hal gila. Mikasa pun menangis, air mata itu terus jatuh dan mengalir bak aliran air sungai yang tek pernah berhenti.

Eren pun menatap Mikasa lembut. "Hhhhhh nani Mikasa? Kenapa kau menangis hm? Kau tak ingin melakukannya? Tenang saja sakitnya hanya sebentar..." ia pun mengusap pucuk kepala Mikasa lembut dengan wajah yang memerah karena pengaruh alkohol.

Mikasa pun memejamkan matanya dan berharap semoga ini cepat berakhir.

Lalu mereka pun melakukannya. Melakukan hubungan yang seharusnya tidak boleh lebih tepatnya mereka belum boleh melakukannya karena mereka melakukannya diluar pernikahan. Namun Mikasa melakukan ini semua demi Eren, pria yang sangat ia cintai.

"Ahh Mikasa ahhhhh... sebentar lagi aku keluar Mikasaaaaa ahhhh... Miiiikkaasaaaa ahhhhhh..."

Mendengar Eren mendesahkan namanya, ia memang sangat senang, namun tidak dengan kondisinya sekarang. Mikasa hanya memeluk Eren dan ia pun tak henti hentinya mengeluarkan air mata...

"Ahhh Erennnnnnnn... Ahhhhhhh jangan keluar didalam aku mohonnn..." Mikasa pun mendesah, bukan mendesah karena menikmati tapi ia tak bisa melakukan hal lain lagi. Ia telah kehabisan tenaganya dengan matanya yang lelah karena menangis...

Eren pun mengeluarkannya dan aktivitas itu pun selesai dilakukan mereka. Eren segera bangkit dari posisinya yang berada diatas Mikasa. Ia merebahkan dirinya disamping gadis yang ah wanita yang telah bercinta dengannya itu.

Mikasa yang bersyukur karena ini telah berakhir pun langsung bangun dari tidurnya. Ia memungut seragam dan memakainya kembali dengan Air mata yang masih mengalir.

"Mikasa..." Eren pun memanggilnya.

Yang dipanggil hanya menoleh tanpa sepatah kata pun. Lalu ia meninggalkan Eren yang masih terduduk dikasurnya dan meninggalkan syalnya yang berada ditangan Eren.

Eren pun memakai celananya kembali dan menghampiri Mikasa. Disentuhnya wajah cantik itu namun ditepis mentah mentah oleh Mikasa sendiri.

Tanpa diperintah, kaki Mikasa pun bergerak dan mencoba untuk berlari meninggalkan Eren yang masih berdiri disana. Ia pun berlari secepat mungkin berharap Eren tak bisa mengejarnya.

Namun ketika ia berlari, ia malah menabrak seseorang sampai ia terjatuh. Ia ceroboh karena ia tak memerhatikan sekelilingnya.

Mikasa pun mengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang telah ia tabrak tadi. Lalu sebuah tangan terulur padanya untuk membantunya berdiri. Ia pun menerima ulurannya tersebut dan ia hanya membungkukan badannya kepada pria yang sangat tampan nan dingin itu.

"Gomennasai Levi Heichou..." dengan suara lemah. Setelah itu ia pun bergegas untuk pergi kekamarnya dengan langkah cepat.

Pria itu tak mengerti apa yang terjadi pada Mikasa, ia hanya melihatnya, melihat wajah pucat dan sedihnya itu sungguh Mikasa yang biasanya selalu berteriak kepadanya dan sangatlah kuat tapi apa apaan ini. Sungguh ia sangat kesal. Dan ia pun memutuskan untuk pergi kearah datangnya Mikasa. Yaitu kamar bawah tanah. Kamar Eren Yaeger.

Setelah sampai dikamar bawah tanah, Levi memerhatikan Eren dari balik tembok kamar itu. Dilihatnya Eren yang tengah menggenggam syal yang biasa Mikasa kenakan. Lalu Eren menggumamkan sesuatu yang tak dapat didengar olehnya. Hanya Eren sendiri yang tahu...

"Ternyata, kau masih perawan Mikasa..." Eren pun menggumamkan kalimat itu dengan sangat pelan...

FLASHBACK END

.

.

.

.

.

.

To Be Continued


Hallo minna, Author Cattleya balik lagii. Huh author lagi buntu nih semua. Btw thanks buat yang udah baca fanfic gaje author yaa. Dan untuk para silent rider jugaa arigatou. Dan maafkan author yang ga bisa bikin fic lemon ini juga baru belajar hehe.

Review kalian semua sangat berharga bagi Author, jadi kasih Review sebanyak-banyaknya yaa.

Sekian dan Terimakasih.

Akhir kata...

REVIEW ONEGAISHIMASU