"Aku memang rindu keluarga lamaku, tapi aku tetap mencintai keluarga baruku."

Brothers;

CHAPTER III

.

.

.

"Mamaaaaaa!"

"Nanaaaaaaa!"

Haechan berlari mengejar Jaemin yang tiba-melesat dengan kecepatan kilat dan menjauh dari jangkauannya. Cepat sekali, kalau ikut lomba lari, Haechan yakin Jaemin akan menang. Haechan saja kewalahan mengikutinya.

Sementara itu, Jaemin sudah berhasil menghampiri ibunya dan langsung saja mereka berpelukan erat. Johnny yang berada di samping Ten tertawa ringan melihat interaksi kedua orang yang baru saja melepas rindu setelah satu minggu tidak bertemu.

"Mama aku kangen mama!" rengek Jaemin manja. Ia tidak juga berhenti memeluk Ten erat-erat.

"Astaga, iya Mama juga kangen Nana. Nanaku tidak kenapa-napa 'kan, selama tidak ada Mama?" balas Ten sama manjanya.

"Haechan, bagaimana? Kamu dan Jaemin tidak bertengkar lagi 'kan, Honey?" Johnny menimpali percakapan ibu-anak itu dengan menanyai Haechan.

"Eh, tidak terlalu, sih," jawab Haechan sekenanya.

"Kenapa? Apa saja yang terjadi?" Ten bertanya penasaran.

Jaemin mencebik. Ia ingin mengadu. Wajahnya dibuat seakan Haechan berlaku buruk kepadanya selama seminggu kemarin.

"Sudah, sebaiknya kita pergi dulu," Johnny menginterupsi. "Nanti kita saling cerita di rumah, ya."

Semua setuju untuk segera pulang kecuali satu orang di antara mereka. Jaemin. Jaemin belum mau pulang, karena ia ingin makan sushi. Sudah tiga hari belakangan ia membayangkan ingin makan sushi, dan ia sudah tidak tahan lagi ingin memakan makanan khas Jepang itu.

"Pa, Papa.." Jaemin berbisik malu-malu. Salah satu tangannya menarik lengan sweater Johnny pelan.

"Eh, iya? Jaemin mau apa?"

Johnny segera menunduk dan memposisikan tubuhnya di hadapan Jaemin sambil sedikit berjongkok, agar anak itu tidak pegal mendongak. Itu karena Johnny memiliki tubuh yang amat sangat tinggi sampai-sampai ia merasa seperti berjalan bersama kurcaci saat bersama anggota keluarganya yang tidak begitu tinggi seperti saat ini.

"Eum.." Jaemin berujar ragu. Apakah Johnny akan mengabulkan keinginannya?

"Sudah bilang saja kau mau sushi," timpal Haechan cuek yang membuat Jaemin hampir menjerit malu.

"Oh, Jaemin dan Haechan mau mampir makan sushi? Kalian sudah merencanakan bersama ya? Aduh, manisnyaaa! Kalian sudah mulai akrab ternyata," Ten berseru riang.

Haechan membiarkan saja orangtuanya berpikiran seperti itu. Tidak ada untungnya juga membantah. Lagipula kalau ia menyangkal, Jaemin bisa saja tersinggung dan marah lagi kepadanya.

Johnny merangkul kedua anaknya, lalu mengasak kepala mereka gemas. Jaemin tersenyum riang atas perhatian yang ia dapatkan, sementara Haechan mengeluh karena rambutnya jadi berantakan.

"Dad bangga dengan kalian, kids! Ayo rayakan keluarga baru kita dengan makan sushi!" seru Johnny semangat. Ten ikut bersorak senang.

Oke, Haechan punya keluarga baru yang ramai sekarang. Ayahnya sendiri dari dulu sudah berisik dan kadang membuatnya agak malu di depan umum karena kehebohannya. Dengan ditambah Ten yang sama hebohnya, juga Jaemin yang kelihatannya akan menurunkan sifat ibunya, Haechan akan terjebak dalam keadaan seperti ini sampai dia punya keluarga sendiri nanti.

Yah, tapi tidak buruk lah. Daripada memiliki keluarga yang sibuk dan dingin seperti yang mungkin dimiliki orang lain, lebih baik keluarganya yang selalu memancarkan kehangatan. Yah, walaupun Jaemin sering bermasalah, masih bisa lah Haechan atasi. Lagipula, setelah dipikir-pikir, Jaemin juga tidak buruk-buruk amat.

Seseorang harap tolong Haechan sekarang juga!

Mulai sekarang Haechan bertekad akan menghindari Jaemin jika anak itu habis makan. Kebiasaan Jaemin yang baru Haechan sadari adalah; Jaemin akan mengantuk setelah makan lalu tidur sembarangan. Kali ini Haechan menjadi korban karena Jaemin ketiduran di sampingnya dalam perjalanan pulang sehabis memakan banyak sekali sushi sampai kekenyangan.

Tidak masalah sih, kalau Jaemin mau tidur. Tapi jangan menyandar di bahunya juga!

Sudah mana semakin lama Jaemin makin menempel pula. Jaemin tidak hanya bersandar di bahunya saja, tapi ia juga berusaha mendusal kepada Haechan dan memeluknya!

Ia tidak begitu suka skinship, apalagi dengan Jaemin!

Haechan ingin memanggil Johnny dan meminta pertolongan kepada ayahnya untuk melepaskan Jaemin darinya. Tapi, ia merasa tidak enak karena terkesan menolak Jaemin di hadapan Ten. Lagipula, kedua orangtuanya itu sedang berceloteh mesra. Haechan mana berani mengusik kebahagiaan mereka.

Gawat! Jaemin sudah berhasil memeluk perutnya meskipun Haechan sudah melawan sekuat tenaga. Tidak sekuat tenaga juga sih, ia hanya mengeluarkan sedikit tenaga, karena saat menyentuh lengan Jaemin yang secara mengerikan kurus itu, Haechan merasa takut tulang-tulangnya patah kalau ia menahannya terlalu kencang.

Pada akhirnya, Ten lah yang pertama kali melihat ke bangku belakang di mana Haechan sedang berjuang melepaskan gelayutan Jaemin pada tubuhnya. Melihat pemandangan "manis" itu, Ten berseru nyaring sampai hampir membuat Johnny menabrak mobil di depannya.

"Kyaaa! John, lihat lihat lihat! Mereka imut sekali UWU!"

"Astaga Darling! Untung nyawaku masih utuh!" Johnny berteriak kaget.

"Joooooohn mereka lucu sekaliiiii aku ingin menangis," ujar Ten dramatis. Kedua matanya sudah dipenuhi oleh simbol hati imajiner berwarna merah muda.

Johnny melirik Haechan dan Jaemin melalui kaca spion dan bersiul menggoda Haechan. Johnny tahu, putra kandungnya itu tidak suka segala jenis skinship yang dilakukan orang kepadanya. Makanya ia tersenyum jahil untuk meledek anaknya, yang dibalas Haechan dengan mengerucutkan bibir dan menyipitkan kedua matanya kesal.

"Senangnya Nana sudah punya kakak," gumam Ten lembut. "Haechanie tolong jagain Nana ya!"

"Eh, iya," jawab Haechan sedikit ragu.

"Loh, kenapa?" Ten bertanya sedih. "Tidak suka ya?"

Aduh, mama muda yang satu ini kenapa malah ber-aegyo begini sih! Sebenarnya yang orang dewasa itu Ten yang berusia 35 tahun atau Haechan yang berusia 16 tahun?!

"Tidak kok! Iya nanti Jaeminnya aku jaga," kata Haechan berusaha meyakinkan Ten.

Mendengarnya, Ten tersenyum senang. "Asik! Terima kasih ya, Mama sayang kalian berdua!"

Hati Haechan serasa terpanah. Terpanah perasaan haru yang menyerangnya tiba-tiba. Mendengar Ten menyebut dirinya sebagai Mama, bukan hanya Mama Jaemin tapi Mamanya juga, membuat Haechan jadi kangen ibu kandungnya. Haechan rindu terhadap perasaan memiliki seorang ibu, dan Ten baru saja mengobati perasaan rindunya itu sedikit walau dalam kepalanya ia terus membayangkan interaksi terakhirnya bersama sang ibu kandung, juga dengan kakaknya Seo Herin.

Sadar bahwa perubahan suasana hatinya yang mungkin akan terlihat melalui ekspresi wajahnya bisa membuat sang ayah dan juga Ten khawatir, Haechan cepat-cepat melupakan ingatan mengenai dua orang yang dirindukannya itu dengan segera. Haechan tidak mau sampai ayahnya menyadari kesedihannya dan membuat Ten merasa tidak nyaman karena Haechan memikirkan sosok yang perannya sudah Ten gantikan saat ini. Biar bagaimanapun, Ten pasti akan merasa tidak enak kalau ada yang menyinggung soal mantan istri Johnny yang telah meninggal itu.

Di sisi lain, Jaemin yang sudah Haechan biarkan bergerak bebas ini posisinya sekarang sudah nyaman dan tenang, tidak bergerak-gerak lagi. Dengan kedua paha Haechan sebagai bantalan kepala, ia berbaring telentang dengan memegangi telapak tangan kiri Haechan untuk digenggam.

Haechan sedang memperhatikan hidung Jaemin yang kecil. Rasanya ia ingin mengisengi Jaemin dengan menutup hidungnya hingga anak itu tidak bisa bernafas, lalu akhirnya terbangun. Tapi ia tidak berani karena ada kedua orangtuanya, dan ia juga takut Jaemin akan ngambek atau lebih parahnya marah saat ia terbangun nanti.

"Kita sampai!" beritahu Johnny.

"Hei, bangun. Sudah sampai," Haechan berusaha membangunkan Jaemin sambil menggoyangkan tubuh remaja yang berbaring di atas pangkuannya itu.

Lalu Haechan teringat bagaimana susahnya ia membangunkan Jaemin waktu tidur di meja makan waktu itu. Bahkan ia sampai memanggil Jeno kembali ke rumahnya untuk menggendong Jaemin ke kamar, karena meskipun Jaemin kurus, Haechan tetap tidak kuat untuk menggendongnya sendiri.

"Wah, susah nih. Nana harus digendong," kata Ten saat melihat Jaemin yang masih tertidur. "Johnny, tolong ya."

"Siap Sayang," ujar Johnny sigap. "Sini, Chan. Biar Dad angkat Jaemin."

Haechan berusaha membantu Johnny menaikkan Jaemin ke punggungnya dengan hati-hati. Setelah berhasil, Johnny mengantarkan Jaemin ke kamarnya, sementara Haechan membantu Ten mengeluarkan koper-koper dari bagasi.

"Terima kasih Sayang," Ten berujar sambil mengecup pipi Haechan dengan sayang yang menyebabkan Haechan nyaris terlonjak kaget. Ia ingin berlari ke ujung komplek, tapi akal sehat menghalangi dirinya untuk melakukan hal itu.

"Um— yeah," jawab Haechan.

Setelahnya Ten terkikik. Ia tahu Haechan tidak suka kontak fisik. Johnny sudah memberi tahunya banyak hal mengenai Haechan semenjak mereka berpacaran dulu.

Tapi, sekarang Haechan sudah jadi anaknya. Ten akan membuat Haechan terbiasa dengan afeksi yang akan ia berikan sebagai seorang ibu untuk Haechan ke depannya!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

End of Chapter III.