Disclaimer : Yamaha-sama, Crypton, Sega, dll ada yang mau nambahin? xD
Genre : Romance/Comedy
Rated : T. Yang baik ditiru, yang jelek jangan xD (?)
Konnichiwa! Eh? Kemana semua reader ? *nangisgulingguling*
Len : elu sih lama apdetnya, ngilang kan readernya..
Enggak mungkin! QwQ /tidakbisamenerimakenyataan/
Hai hai! Panda kembali melanjutkan fic ini! Bukannya gamau cepet apdet, namun otak author yang belum mampu melanjutkannya T_T komedinya itu yang susah T_T gatau bagus atau enggak, sedapetnya aja ya QwQ mudah2an bisa menghibur anda sekalian w( QAQ)w
Warning! Alur kecepetan, Awas typo tersisa, Miskin kosakata, Gaje tiada tara, dan segala bentuk keanehan lainnya.
Fanfic ini tidak bertujuan untuk merubah pola pikir anda! Tidak bertujuan untuk hal-hal jelek lainnya! Isi fanfic ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk hiburan semata! Silahkan membaca dengan bijak ^^
Don't Like Don't Read !
Omae no Namae wa Shiranai! Chapter 4!
"Ada apa ,Len?"
Len segera menyembunyikan apa yang ia dapat tadi ke saku celananya.
"Bu-Bukan apa-apa, kok. Ayo kita berangkat saja." Len sudah berkeringat dingin. Takut kalau ketahuan.
"Kenapa, Len?" Gadis itu tampak menyadari perubahan tingkah Len.
"Bukan apa-apa! Sungguh!" Len mencoba meyakinkan gadis itu. Gadis itu hanya mengangguk. Mereka kemudian berangkat sekolah bersama.
-x-0-x-
Len masih terus memikirkan gadis itu. Ternyata, selama ini ia mengenalnya.
Ya, ia tahu namanya...
Len hanya terdiam memandang ke arah luar. Langit biru itu seperti menjelaskan semuanya. Ia hanya merutuki dirinya sendiri karena tidak sadar bahwa...
Gadis itu adalah teman masa kecilnya..
Memang ia tidak begitu ingat, karena terlalu banyak yang sudah berubah dari diri gadis itu. Tapi,
Kenapa gadis itu tak mengingat namanya sendiri?
Hanya itu yang ada di benak Len sekarang. Ia melamun hingga sebuah chop buku tebal mengenai kepalanya.
"Perhatikan pelajaranku, Kagamine-san!" Len mengaduh sakit. Ia menatap ke arah guru yang memberinya chop tadi. Ia hanya menggeleng pelan, kemudian berkata,
"Aku hanya tidak enak badan, Hiyama-san. Aku mau ijin ke UKS." Len segera berdiri dari tempat duduknya dan segera berjalan pergi meninggalkan kelas.
-x-0-x-
Len membuka pelan pintu UKS dan menutupnya kembali. Ia kemudian berbaring di sebuah ranjang. Baru saja ia memejamkan matanya, sebuah suara mengejutkannya.
"Len."
Len hampir saja terjatuh dari ranjang karena kaget. Ia menyibak gorden biru tipis yang memisahkannya dari ranjang satunya.
"Halo, Len." Gadis itu menatapnya datar. "Kau bisa bilang begitu setelah mengagetiku, hah?!" Len tampak kesal. Gadis itu hanya mengangguk. Len menyesal sudah bertanya pada gadis aneh itu. Namun, Len teringat sesuatu.
"Tunggu. Kau benar-benar tidak tahu namamu sendiri?"
Gadis itu mengangguk. Len merogoh sakunya dan memberikan kartu pelajar itu kepadanya. Gadis itu justru mengernyit.
"Ha? Siapa?"
Gadis itu makin berkerut. Len jadi geregetan karena gadis itu terlalu lama berfikir.
"Namamu! Aku temanmu waktu kecil! Ingat?" Len menatapnya. Gadis itu malah tampak semakin bingung dengan apa yang diucapkan Len.
"Aku...?" Gadis itu masih merasa ragu.
"Disini juga ada fotomu, kan?! Masa wajahmu sendiri kau tidak ingat?!" Len makin naik darah karena gadis itu tidak menjawab pertanyaannya. Gadis itu menitikkan air matanya. Len terkesiap. Ia lupa, tidak seharusnya ia membentak gadis itu..
Gadis itu turun dari ranjang dan berlari keluar. Tepat saat itu, bel pulang berbunyi. Len harus menyusulnya. Ia harus tahu semua rahasia di balik misteri ilahi ini (?)
Len berlari entah kemana. Ia sudah mencari-cari di seluruh ruangan di gedung sekolah ini. Pokoknya ia akan terus mencari gadis itu. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Siapa tahu gadis itu kembali ke kos. Siswa-siswi sudah pulang. Meski masih ada yang tersisa beberapa di halaman sekolah karena mengobrol sebentar.
Namun, mata Len menangkap gadis itu sedang dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil. Len tidak keburu mengejarnya. Ia ingin tahu kemana mobil itu membawa gadis itu pergi.
Len benar-benar tak mengerti. Semua terjadi begitu cepat.
-x-0-x-
Len kembali ke kosnya. Ia melihat sebentar ke arah kamar gadis itu. Ia membuka pintu perlahan. Namun, gadis itu tak ada di sana. Len menutupnya kembali. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa kesepian karena tak ada gadis itu.
Bukankah harusnya ia senang?
Tidak. Ia tidak merasa senang sama sekali.
Len bersandar pada tembok. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mulai menangis.
Orang yang menangis itu lemah.
Dan Len merasa lemah sekarang...
-x-0-x-
Baru sehari tanpa gadis aneh itu. Ia sudah kehilangan konsentrasi. Saat di sekolah, maupun tempatnya bekerja. Sang manajer menasihatinya sesekali. Len hanya mengangguk. Wajah imutnya tertutupi rasa kehilangannya. Len masih sibuk mengantar pesanan. Rupanya, kesohoran akan keshotaannya ini tersebar luas berkat Gumi. Terima kasih untuk itu.
Len membawa pesanan dua potong strawberry cake, dan dua gelas capuccino ke meja nomor sebelas. Orang yang duduk disana tampak mencurigakan, sepertinya ia mengenali keduanya. Rambut pendek biru dan ungu panjang. Tapi ia tak mau pusing berfikir. Otaknya sudah dipenuhi gadis itu, kalau berfikir lagi, bisa meledak otak pentium pas-pasan miliknya itu. Hampir saja ia menjatuhkannya karena kurang konsentrasi. Untung saja. Len akan berbalik, namun ia terjatuh sendiri. Tuh, kan..
oemjihastaganagabonarjadiduawow.
Rok Len tersingkap. Yah, meski ia memakai celana pendek, sih. Len segera menutupnya. Ia kemudian segera pergi dari sana. Tanpa ia sadari bahwa kecerobohannya barusan berakibat sesuatu.
Kedua orang disana sudah mimisan hebat melihat 'pemandangan' segar itu.
-x-0-x-
Esoknya..
Len sangat tidak bersemangat untuk sekolah hari ini. Ia masih berbaring di atas kasur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan. Hah. Rasanya hampa sekali.
"Kagamine, kau tidak berangkat? Kau bisa siap-siap sekarang." Suara dari luar memanggilnya.
"Ya, Kagamine! Kami akan menemanimu ke sekolah!"
Len tak ingin menjawab mereka. Rasanya malas sekali menjawab pertanyaan orang. Namun, akhirnya Len berkata juga,
"Aku bolos hari ini."
"Kagamine! Ada surat untukmu! Aku taruh di bawah pintu, ya!"
Len membenamkan kepalanya di bantal. Saat ini ia tidak mau melihat atau mendengar apapun.
-x-0-x-
Len terbangun saat jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia tampak begitu kusut. Ia turun dari kasurnya untuk mandi. Tak sengaja ia melihat surat yang diselipkan di bawah pintunya tadi. Surat dengan amplop berwarna cream dengan pelekat berbentuk mawar kecil. Seperti surat resmi saja. Len membukanya dan mulai membacanya.
Untuk : Kagamine Len
Kami sangat berterimakasih karena ternyata kau yang menjaga anak kami selama ini. Anak kami kabur seminggu yang lalu. Kami sudah mencarinya kesana kemari, ternyata ia kabur ditemani salah satu asisten rumah tangga kami, sayangnya asisten kami itu sekarang justru menghilang ditelan bumi (LOL)
Sebagai tanda terima kasih, kami mengundangmu makan malam secara resmi jam tujuh nanti di rumah kami. Kau tahu tempatnya, kan?
Tertanda,
Calon mertuamu
Len swt. Ca-calon mertua?! Apa maksudnya?!
Tunggu, makan malam?
Len melirik jam dinding. Hampir pukul enam. Dan ia belum siap sama sekali. Dengan secepat kilat ia mulai bersiap. Ia harus hadir untuk mengetahui jawaban atas semua pertanyaannya selama ini.
Tentang gadis aneh itu..
-x-0-x-
Len turun dari bus yang membawanya. Ia kini berdiri di sebuah mansion mewah. Ternyata tempat ini tidak berubah sama sekali. Len menelan ludah karena gugup. Ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke sana. Di depan pintu, para pelayan di rumah itu membungkuk menyambutnya. Len agak canggung dengan ini. Namun rasa penasarannya mengalahkan kecemasannya. Seorang pelayan membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya masuk. Baru beberapa meter berjalan, sang tuan rumah berdiri disana.
"Ara, Kagamine-kun..?"
"I-iya Lily-san!"
"Aaahh! Menantuku!" Sang tuan rumah memeluk Len erat.
"Bu-bukan! Aku masih calon!"
Hening sesaat. Len memerah menyadari apa yang dikatakannya barusan. Lily tertawa.
"Benar juga! Masih calon!" Lily melepaskan pelukannya. "Mari kuantar.." Len mengikuti langkah nyonya itu. Mereka tiba di ruang makan. Disana gadis aneh itu duduk. Ia terlihat senang melihat kehadiran Len.
"Len! Apa kau menerima lamaranku?"
Len swt di tempat. Lily hanya tertawa. Mereka lalu duduk berhadapan dengan gadis aneh itu.
"Ara, Kagamine-kun, jangan sungkan-sungkan." Tawar ayah gadis itu.
"Ba-baik.."
Mereka akhirnya makan bersama. Setelah selesai makan, ayah gadis itu mengajaknya berbicara. Sedangkan Lily mengalihkan gadis aneh itu ke tempat lain.
"Kagamine Len.."
"Iya.." Len menelan ludah.
"Kudengar kau bersama anakku.." Ayahnya menatap Len tajam. Len bergidik. Tatapannya sungguh mengerikan!
'Mampus!'
"Kau ingin tahu kenapa anakku bisa lupa namanya sendiri? Atau melupakan hal lain?"
Rasa penasaran Len tergugah kembali. Len mengangguk.
"Kau pernah mendengar *)Alzheimer?"
Len mengernyit. Apaan tuh? Len menggeleng pelan. Pengetahuan tentang istilah asingnya tidak cukup banyak. Tapi, kok kedengarannya keren, ya?
"Alzheimer semacam amnesia. Tapi, gejalanya bertahap."
Oh, kalo amnesia Len juga tahu.
"Dimulai dari lupa kata-kata sederhana. Biasanya dimulai dari kata benda. Awalnya tidak begitu parah. Tapi, lama kelamaan dia akan melupakan nama barang di sekitarnya, kemudian dia akan melupakan nama orang-orang. Satu-satunya cara untuk menghambat penyakit ini adalah dengan menulis kata secara berulang-ulang..atau dengan selalu berada di dekatnya.."
Len bingung. Jadi, singkatnya, gadis itu cuma butuh sering menulis kata secara berulang-ulang, kan? Dan harus selalu dekat dengan keluarganya. Biar dia tidak lupa.
Terus?
"Dia menulis kata yang tidak perlu hingga dia melupakan namanya sendiri."
Len terus mendengarkan ayah gadis itu berbicara.
"Kau tahu? Hanya namamu yang paling sering dia tulis di bukunya. Aku memarahinya dan ia justru kabur. Untungnya ia bertemu denganmu. Aku perlu berterimakasih untuk itu."
"Bu-bukan apa-apa! Aku hanya menolongnya!"Len menundukkan kepalanya berkali-kali.
"Kami minta tolong jaga dia hingga akhir semester nanti. Sepertinya ia tidak mau melupakanmu." ayah gadis itu tersenyum tipis.
"Ba-baik!" Len menganggukkan kepalanya. Hingga akhir semester saja?
Loh?
"A-ano, akhir semester? Lalu dia akan pindah?" Len bertanya hati-hati. Namun ayah gadis itu menunduk.
"Ma-maaf.." sesal Len. Harusnya ia tidak bertanya seperti itu tadi.
"Kami akan pergi untuk mengobatinya di luar negeri.."
Len tercengang.
"Tolong, ya.." Ayah gadis itu tersenyum. Kemudian meundukkan kepalanya. Len jadi merasa tidak enak.
"A-akan saya lakukan sebisanya! Sa-saya cuma harus menemaninya saja, kan?"
"Hanya wajah dan namamu yang belum dia lupakan sekarang. Ia bahkan lupa siapa kami, padahal baru seminggu tidak bertemu.."
Len menelan ludah. Kalau ia diberi tanggung jawab sebesar ini, rasanya gugup juga.
"A-akan saya usahakan..."
-x-0-x-
Gadis itu kembali ke kos bersama Len. Tentunya dengan seijin kedua orang tua gadis itu. Mereka tidak keberatan sama sekali. Len kira gadis itu akan menolak. Lihat saja rumahnya yang bak istana itu. Len bertaruh tak ada satupun orang yang ingin pergi dari rumah yang semewah itu. Ya, kecuali gadis aneh di sebelahnya kini.
"Len. Ini dimana?"
Benar apa kata ayahnya, gadis ini mudah lupa. Len menjelaskan kalau mereka akan tinggal disini. Gadis itu hanya mengangguk.
"Apa aku sekamar dengan Len?"
Pertanyaan gadis itu membuat Len mimisan mendadak. Ehem...
"Ba-baka! Tentu saja tidak!"
"Hm.." Gadis itu hanya bergumam pelan. Mereka kini kembali ke kamar masing-masing (setelah diberitahu Len tentunya) Tak lupa Len mengucapkan selamat tidur padanya. Rasanya jarak antara mereka kian lama kian menipis.
Aneh.
Itu yang dirasakan Len sekarang. Ia begitu senang gadis itu bisa kembali bertemu dengannya. Ia menatap kosong ke arah langit-langit. Che, harusnya ia bersyukur gadis itu tidak ada. Tapi, yang dirasakannya justru sebaliknya.
-x-0-x-
Di hari Minggu yang cerah ini sangat cocok untuk berjalan-jalan. Terutama pasangan muda-mudi. Tak terkecuali pemeran utama kita, Kagamine Len *ehem*
Ia menggenggam tangan gadis itu. Wajahnya sedikit memerah. Gadis itu hanya menuruti saja semua yang dikatakan Len padanya.
Gadis itu lupa kalau ia bekerja di café maid.
Dan takut gadis itu tersesat oleh keramaian, Len memutuskan untuk menggandengnya saja. Tentu hal ini membuat para orang tua yang mereka lewati tersenyum. Dan ancaman tatapan mengerikan dari jones di sekitar mereka juga begitu terasa.
Tepatnya, hanya Len yang merasakan semua beban mental yang disebutkan di atas.
Mereka sudah sampai. Len memberi sedikit penjelasan lagi. Yang harus dilakukan gadis itu hanya memakai baju maid dan berdiri memegang papan di depan café. Jika ada yang bertanya padanya, ia harus menjawab.
Setelah gadis itu selesai berganti baju dan menuju depan café, giliran Len yang memakai pakaian kerjanya. Aih, betapa manisnya dirimu, Len.
Len keluar malu-malu. Meski sudah beberapa hari kerja, tetap saja..malunya itu lho..untung teman sekelasnya tidak ada yang tahu.
Len memulai pekerjaannya. Mencatat pesanan dan mengantarkannya. Tentu saja, hanya dengan merubah sedikit suara dan nada bicaranya, ia seperti perempuan sungguhan.
Kali ini ia mencatat pesanan di meja nomer enam. Seorang perempuan jangkung dengan highlight beda warna di twintailsnya. Senyum Len pudar begitu melihat wajah pelanggan itu.
Ruko. Tetangganya.
'Gyaaaaa!' Len merinding sendiri.
"Aku pesan choco pie saja..minumnya satu gelas mocca saja."
Len mencatat pesanan Ruko dengan keringat dingin. Ia sudah melepas kucirnya, berharap Ruko tak mengenalinya.
"Sepertinya aku pernah melihatmu, nona Maid.." Ruko sibuk mengamati wajah Len. Len berusaha tersenyum kembali.
"Ah? Be-benarkah? Ba-baru kali ini kita bertemu.." elak Len. Kalau sampai Ruko tahu dan disebar ke ibunya..
"Hm, benar juga ya. Aku kesini karena gadis di depan." Ruko memikirkan sesuatu.
"Pe-pesanan anda akan segera datang.." Len mengambil langkah seribu. Ruko mengerjap matanya heran.
-x-0-x-
Len memegang nampan yang memuat pesanan Ruko. Ia menelan ludah. Ia berjalan mendekati meja Ruko.
Len meletakkan pesanannya agak cepat. Ia harus buru-buru pergi dari sini sebelum Ruko menyadarinya.
Ruko tidaklah sama seperti Gumi. Len tahu itu.
"Nona maid..bolehkah aku tahu siapa namamu? Maksudku, nama asli, bukan nama kerja disini."
'Gyaaaa!' Di dalam imajinasi Len, ia membayangkan dirinya yang berguling-guling gaje kesana kemari. Rumus-rumus matematika yang sulit pun tak mau ketinggalan eksistensinya di pikiran pemuda itu. Fantasinya tidak hanya sampai situ. Tergambar bumi dijatuhi ribuan meteor dan matahari meledak dalam otaknya.
Yah, gatau juga isi otak Len yang sebenarnya.
"A..aku.."
Len memegang kepalanya. Kami-sama! Cobaanmu terlalu berat untukku! Len sibuk komat-kamit berdoa agar keajaiban datang padanya.
Tapi, sepertinya semua lebih suka melihat Len tersiksa batinnya. Dan mungkin karena tiba-tiba mendung, doa itu tak pernah sampai pada Yang Maha Kuasa karena tidak ada sinyal (?)
"Len..!"
Gadis aneh itu tiba-tiba masuk ke café dan dengan jelas menyebut namanya.
NAMANYA! NAMANYA, SAUDARA-SAUDARA!
Ruko mendelik "L-Len? Ja-jadi kau.."
Tidak! Tidak! Tidak!
Len berharap ia bisa menghilang dari dunia saat ini juga.
-side story-
"Aku bosan nih, Shion."
"Sama, Kamui.."
Kaito dan Gakupo sedang duduk di taman. Menikmati suasana sehabis pulang sekolah. Tapi tetap saja mereka bosan. Tak sengaja mata Kaito menangkap sosok Len yang berjalan tak jauh dari mereka.
"Hei, Kamui, bukankah itu Kagamine?"
Gakupo melihat arah yang ditunjuk sahabatnya itu. "Benar juga. Tapi, untuk apa Kagamine berjalan-jalan? Menurutku dia bukan tipe orang yang suka membuang waktu.." Ujar terong itu. /dibuang Gakupo/
"Kita ikuti saja!" Ajak Kaito. Gakupo hanya mengiyakan saja. Akhirnya misi mereka dimulai!
-x-0-x-
"Dia masuk ke sebuah café maid.."
"Apa dia bersenang-senang dengan para cewek pelayan di dalam sana?! Kita tidak bisa biarkan ini!"
Kedua pemuda itu saling bertatapan dan serempak mengangguk. Mereka akhirnya memakai mantel dan kacamata agar tak dikenali yang entah didapat darimana.
"Kita masuk."
-x-0-x-
Café itu cukup ramai. Kedua makhluk abnormal*?* itu duduk di kursi nomor sebelas. Baru saja mereka duduk, seorang maid menghampiri mereka.
"Okaerinasai, Goshujin-sama, Goshoujo-sama. M-mau pesan apa?"
Kedua pelanggan misterius itu sepertinya mengenali suara dan wajah maid itu. Mereka akhirnya menyadari bahwa maid itu adalah Len. Wajah mereka sudah blushing tingkat dewa.
"Maaf, Goshujin-sama. Tolong dipercepat.." Len tersenyum ke arah mereka. Demi mbah titan kolosal di fandom seberang, Len sukses membuat kedua pemuda ini meleleh hatinya(?)
"Dua potong strawberry cake dan dua capuccino.." Kaito menjawab asal. Len mencatat. Ia kemudian membungkuk.
"Silahkan ditunggu, Goshujin-sama.."
Len berlalu.
Kaito melirik ke arah sahabatnya. Sahabatnya masih berada di alam fantasinya. Kaito mengguncang bahunya pelan. Akhirnya Gakupo tersadar dari dunia lain(?)
"Eh? Shion?" Gakupo baru tersadar.
"Kagamine manis sekali.." Kaito mengelap darah yang terus-terusan keluar dari hidungnya. "Kau sama saja!" Gakupo mengernyit.
Tak lama kemudian, Len membawa pesanan mereka. Namun, ia sepertinya kurang konsentrasi. Hampir saja pesanan yang dibawanya jatuh.
"Ma-maafkan saya, Goshujin-sama.." Len tampak berkaca-kaca. Eh, dia menangis?
Kaito dan Gakupo hanya diam saja. Mungkin Len punya masalah lain. Mereka ikutan merasa bersalah juga meski gak ada hubungannya dengan beban yang dirasakan pemuda shota itu. Len hendak berbalik, tapi ia terjatuh sendiri. Kaito dan Gakupo hendak menolongnya, namun mereka terhenti. Wajah mereka kembali memerah, bahkan lebih merah daripada yang tadi.
Len segera berdiri dan menuju ke meja lain. Sementara kedua makhluk itu mematung di tempat dan mengalami mimisan hebat.
Side story end xD
Aloha!
Kayanya reader ilang semua..jadi nama gadis aneh itu , baru bakal Panda sebutin kapan-kapan XD ahahaha XD /tawajuhud/dibuang readers/
Kayanya serius banget bacanya XD
Rencana mau disebutin nama gadis itu pas chapter 4, tapi..ya , semua tergantung anda semua! Lanjut atau tidak? Mari anda tentukan di fav, follow atau kotak review!
*) Panda gatau tentang penjelasan Alzheimer secara rinci. Tapi, Panda pernah lihat film , bercerita tentang seorang nenek yang kena Alzheimer, kalau gak salah judulnya "Poetry" kasian banget neneknya ;( nenek itu sering dan hobi menulis puisi biar gak lupa, jadi, Panda bikin penjelasan Alzheimer sesuai di filmnya/dor/ tapi secara garis besar, itu memang penyakit lupa yang bertahap, kalau gasalah(?) /dihajar/
Selamat natal dan tahun baru! Maaf ngucapinnya kecepeten. Ehehehe xD
Next chapter : ada ide dari reader sekalian? qwq
Jaa nee~ (^_^)/
