luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan.
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; Switzerland, Italy, Ancient Rome. Genre: Adventure/Family. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Erika memangkas pendek rambutnya. Lovino bersekolah, dan sepertinya hidup menjadi—sedikit—lebih baik.)
Lovino baru saja membeli sebuah cermin untuk diletakkan di ruang makan. Supaya bisa berbagi, katanya, dan Erika—beruntungnya—tidak keberatan kamarnya tetap tak punya cermin.
Gadis itu memandangi dirinya di depan sana. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia mematut dirinya di depan cermin. Tingginya ia rasa bertambah, sedikit. Dan matanya tetap sama seperti sebelumnya walau ia sadar sudah ada yang kurang di dalam hidupnya; suatu lubang yang tak dapat ditambal lagi di hatinya. Mata itu jendela hati, katanya—entah siapa, namun ia merasa ajaib bahwa tak ada yang terlihat cacat di sorot pandangannya.
Ia mengelus rambutnya yang sekarang telah sepanjang separuh tubuhnya—meski telah dianyam dengan rapi dan rapat. Ia merapatkan mata dan berusaha merasakan tangan kakaknya yang seringkali membantunya menjalin rambutnya, sedikit demi sedikit dengan pelan karena tangan lelakinya lebih cocok untuk menulis aksara dan membawa barang.
Satu tarikan napas; panjang dan lelah. Lalu Erika menuju meja makan dan mengambil pisau. Menatap dirinya lagi di cermin sambil menggenggam erat pisau tersebut.
Ikatan rambutnya ia lepas, jalinannya ia uraikan. Rambutnya menjadi bergelombang tak karuan.
Ia pangkas habis seluruh sisi, tersisa hanya sampai leher.
Kaki Lovino yang berderap di tangga mendadak berhenti, "Rambutmu—"
Erika menoleh, "Ah, Lovino, selamat pagi."
"He-hei ..." Lovino turun pelan-pelan lalu berdiri di belakang Erika. "Kenapa ...?"
"Hanya ingin ...," dia menyela sambil menatap ujung rambutnya—dirinya sendiri merasa asing dengan pemandangan di cermin, "memulai sesuatu yang baru."
Lovino memegang rambut Erika dengan ujung jari, sedikit takut, kemudian dia mundur sedikit. Mengukur penampilan Erika di posisi yang sedikit lebih jauh.
Erika terlihat lebih mungil. Rapuh. Dia tak dapat menahan rasa simpati dan iba yang muncul begitu saja—melihat Erika yang terlihat kembali seperti anak kecil yang menarik pakaian kakaknya dan berlindung di balik lengan saat membeli roti.
Dan ini berarti tanggung jawabnya menjadi lebih besar.
"Cukup," Lovino melebarkan bentangan uang tersebut sekali lagi, menghitungnya secara kasar dengan lirikan mata. "Ini cukup."
Erika berdiri, membiarkan Lovino termenung di meja sendirian, ia menaiki tangga. Sejenak kemudian, dia turun dengan kotak kayu kecil digenggamnya erat-erat. Diletakkannya di tengah-tengah meja. "Kalau kurang, aku punya tambahan."
"Tidak," Lovino mendorong kotak tabungan Erika, "itu untukmu sendiri, hasil pekerjaanmu sendiri. Kau harus terus menabung agar bisa berangkat ke London."
Senyum Erika hambar. "Tetapi ... aku sudah benar-benar melupakannya. Sungguh. Aku ... aku rasa apa yang kudapatkan di sini sudah sangat cukup. Aku sudah belajar banyak tanpa harus pergi jauh. Semua orang di klinik sangat baik dan tidak pelit berbagi."
Lovino menatap Erika. "Sungguh?"
"Ya."
Lovino iba lalu menelan ludahnya. "Aku sungguh-sungguh juga—aku bisa bekerja di tempat lain untuk menambahkan uang agar kaubisa berangkat, setelah aku diterima sekolah nanti. Orang-orang pasti lebih mempercayai anak yang sekolah, jadi pasti ada yang bisa menerimaku. Bagaimana?"
Erika menggeleng berkali-kali. "Bagaimana dengan sekolahmu jika kau menambah pekerjaan lagi? Aku tidak mau kau menjadi sakit dan sekolahmu jadi terhambat."
"Hei ..."
"Aku lebih serius," Erika menekankan. Pandangannya lebih tajam, sedikit. "Tolong turutilah aku, ya?"
Peuda di hadapannya lalu menutup mata, da dia sendirit ak sadar dia mengepalkan tangannya di bawah meja sana. "Aku akan sekolah dengan serius untukmu, tenang saja. Percayalah padaku."
Lovino menatap kertas itu bangga. Tersenyum, matanya berair. Dia tertawa ketika memeluk kertas itu. Lekas-lekas dia seka kedua matanya setelah tersadar, hal menggembirakan ini tidak bisa dia santap sendiri saja.
Dia membelah keramaian dengan langkahnya.
"Erika!"
"Ah, Nyonya—maaf, maaf," Lovino menggaruk kepalanya, mukanya sedikit memerah. Kedapatan meneriakkan nama Erika di sepanjang jalan lalu nyaris menubruk sang perawat di depan pintu, dia jadi berniat untuk tidak datang lagi ke tempat ini paling tidak hingga sebulan ke depan. "Erika ada di dalam, Nyonya Ella?"
"Ada, Nak. Tunggu sebentar, ya, Ibu panggilkan. Dia tadi sedang mencuci beberapa peralatan. Kami baru saja melakukan operasi kecil."
Nyonya Ella adalah sosok wanita yang belum pernah benar-benar Lovino temui dalam hidupnya. Dia ibu yang baik, meski tak terlalu tua, dia punya kharisma seperti orang yang telah menangani belasan anak dengan tangannya sendiri dalam bertahun-tahun. Lovino hanya bertemu dia beberapa kali selama ini, namun seolah dia telah bisa menganggap Nyonya Ella sebagai tetua dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, Erika datang seorang diri. Lovino memandangnya, lantas tertawa. Erika mengerutkan kening dan memiringkan kepala—namun alih-alih menjawab, pemuda itu langsung memeluk Erika kencang.
"Uangnya cukup! Cukup, Erika! Dan aku diterima di sekolah itu!"
"Ah ...," Erika mengangkat tangannya, balas merangkul Lovino lalu menyembunyikan senyum hangatnya di kemeja Lovino, "syukurlah ... syukurlah ... selamat ..."
Lovino terkekeh, dan melepaskan pelukan untuk menatap Erika sambil mengacak rambut anak itu. Tapi dia membiarkan airmatanya turun lagi. Seandainya Kakek mendengarnya. Seandainya aku juga bisa memeluk Feliciano.
"Belajar dan bekerjalah dengan keras, ya?"
[ 1935 ]
Erika datang dengan air putih segelas. Lovino tak begitu suka minuman, tetapi ia sadar pemuda itu terlalu keras bekerja, ia harus memasukkan sesuatu ke dalam perutnya. Dia letakkan di tengah-tengah, kemudian dia masuk lagi ke bilik dapur dan mengangkat sepiring kecil pai.
"Makan malamnya."
"Oh," Lovino melepaskan tangannya dari radio yang telah menganga tersebut. Ia mengerjap, "bukankah kita sudah makan?"
Erika hanya mengedikkan dagu ke arah jam dinding. Lovino terbelalak dan bergumam astaga. Sudah pukul setengah satu, dan ia lupa diri.
"Kenapa kau tidak tidur?" suara Lovino sedikit parau, lalu dia meraih gelas kecil tersebut. Mereguknya hingga separuh dengan berisik.
"Sudah. Dari pukul sembilan tadi. Dan aku tidak bisa tidur lagi. Semoga pai apelnya tidak terasa aneh," dia menyandarkan punggungnya. Lalu dia berdiri lagi, menyusup ke dapur dan kembali dengan gelas yang sama, isi yang sama rata. Mereguknya pelan. Dia menatap Lovino yang kembali sibuk dengan beberapa radio di meja. "Banyak sekali ... tidak bisa diselesaikan besok saja?"
"Besok pagi, sebelum berangkat sekolah, sudah harus kuserahkan," sambil mengecek elemen yang kecil-kecil. "Semua radio ini masalahnya sama. Mati total. Ini gampang," dia menyengir sambil mengedipkan salah satu matanya, "sudah kucek semuanya, tidak ada yang bermasalah dengan kabel steker, konektor AC/DC dan trafo. Cuma dioda-diodanya yang putus. Jadi cukup ganti saja semuanya."
Kedipan mata jahil membuat Erika mengulum senyum. "Sekolahmu, bagaimana?"
"Benar-benar tidak salah sekolah di jurusan itu. Semua yang kupelajari, banyak yang sudah kukenali lewat bekerja!" suaranya menyaring di tengah malam yang sunyi membuat dia seolah bisa memecahkan aura yang sedikit mencekam. "Tidak ada masalah dengan pekerjaanmu, bukan?"
Erika menopangkan kepalanya di atas meja, menunduk menekuri kayu, "Tadi kami mendapat pasien seorang anak kecil yang patah tulang," dia menggeleng. "Patah tulang terbuka, aku tidak tahu penyebabnya," ulangnya, lebih pelan dan gemetar. "Aku tidak berani bertanya. Kasihan sekali."
Satu dioda selesai dipasang. Lovino mengangkat pandangan pada Erika. "Apa anak itu sudah baik-baik saja?"
"Sedikit ... tapi dia masih lemah."
"Semoga dia cepat sembuh." Lovino menggemeretakkan jari-jarinya, sambil merapatkan punggung pada kursi. Mendongak pada langit-langit yang mulai berdebu tebal. Lalu dia teringat pada pai apel yang belum tersentuh.
Erika juga tengah memakannya. Tak dia lihat kapan gadis itu mengambilnya. Mereka bersitatap sebentar. Lovino mengembuskan napas panjang.
"Tidurlah."
"Kau juga."
"Aku akan selesai sebentar lagi. Aku janji."
Erika berhenti mengunyah, lalu setelah membiarkan dirinya tenggelam dalam pertimbangan. Mengakhirinya dengan anggukan. "Baiklah. Janji, ya," dia memundurkan kursi dengan pelan. Berderit membuat nyeri. "Selamat malam."
Baru saja Erika menaiki tangga, Lovino menghentikannya. Lelaki itu tersenyum—senyuman pengantar tidur yang lebih terang daripada penerangan di atas kepala mereka, "Jangan bersedih, ya."
Persetujuan patuh, "... Terima kasih. Dan kau ... bersemangatlah."
Hari Minggu itu, tak seperti biasanya, Lovino tidak menemukan Erika di ruang depan dengan keranjang rajutannya. Selepas meletakkan tasnya—ia baru kembali dari rumah Tuan Marco untuk mengembalikan beberapa peralatan yang ia pinjam untuk praktik di sekolahnya—dia menuju ke dapur.
Erika tidak ada di sana. Segera dia ke atas.
Pintu kamar gadis itu terbuka. Dia berdiri di samping jendela. Tidak ada pemandangan bagus di langit, sesungguhnya, karena mendung yang baru saja luruh airnya itu masih menggantung di atas bubungan penduduk. Dan sekeliling juga bukan tempat indah untuk melepas penat. Rapatnya rumah-rumah dan cerobong-cerobong kotor berjelaga yang mencuat di sana-sini bukan hal yang bisa dijadikan ajang rekreasi. Lovino mulai menebak-nebak ke arah mana pikiran remaja tanggung itu sedang melaju.
"Ada hal yang mengganggumu?"
Erika menoleh dan baru lovino sadari matanya basah. Percuma gadis itu menyekanya, dia tak pandai menyembunyikan apapun. Terlambat.
"Seseorang mengganggumu?" suara Lovino meninggi tiba-tiba. Dia berdiri di hadapan Erika dan menatap dengan kening mengerut. "Katakan siapa orang sialan yang mengusikmu."
"Tidak ada," Erika menurunkan tangannya; tak sadar ia sendiri menggigit kuku ibujarinya sejak entah kapan. "Hari ini ...," jeda panjang dan membuat Lovino tak sabar, "ulang tahun Kakak."
Mata Lovino membulat, kemudian kelopak matanya merendah menjadi sayu. "Begitu ..."
"Sudahlah. Kita tidak perlu bersedih."
Lovino ingin membungkam Erika. Bagaimana bisa kaubilang begitu sementara airmatamu terus jatuh? Tetapi dia memilih untuk melampiaskannya dengan melukai telapak tangannya sendiri dengan kuku-kukunya.
Ketegangan yang tak terkatakan selesai setelah beberapa saat, setelah Erika mencoba tersenyum pada Lovino yang duduk di tepian tempat tidurnya. Lovino yang tengah larut dalam adukan pemikirannya sendiri, bersitatap dengan Erika yang sedang mencoba memperbaiki suasana dengan lengkungan bibirnya. Lelaki itu menghela napas.
Dia mencoba untuk turut melakukan hal serupa. "Ayo kita pergi ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Ikut saja," Lovino meraih tangannya lalu menariknya keluar. Dia berlari sangat cepat di tangga—melangkahi dua anak tangga sekali gerak. Erika tertinggal di belakang, dan gadis itu sempat menjatuhkan kunci saat sedang menutup pintu. Gemetaran, kaget. Sementara itu Lovino sudah berada di depan gang dan menunggunya.
Lovino menahan diri untuk tidak berlari di sepanjang perjalanan.
Erika tidak besar di area yang diapit laut. Erika takut saat pertama kali naik kapal dari Spanyol ke Italia—saat kali pertama kakaknya memboyongnya untuk hidup mandiri, di luar pengawasan nenek mereka. Dia tak tahu alasan Basch sebenarnya memilih Italia, tetapi barangkali mungkin karena Italia adalah tempat asal ibu mereka, Erika bisa maklum. Ibu mereka tumbuh di pedesaan tepi laut, lambat-laun dia bisa memahami bahwa bisa saja Basch ingin agar mereka lebih dekat dengan jiwa ibunya yang tertinggal di pesisir Italia.
Lovino membawanya, ke tempat dia merasakan jiwa ibunya.
Dan tempat dia terakhir kali benar-benar dirangkul Basch.
"Mungkin kakakmu berada di suatu tempat di seberang sana—di dunia yang kita tidak tahu," setelah deheman Lovino mencoba menyegarkan pikiran rekannya. "Mungkin pula dia ..." Lovino tertegun saat menatap laut. Sial, sial, sial, jaga mulut bedebahmu itu, Lovi! Jangan pesimis lalu mengatakan yang aneh-aneh!
"Mungkin pula dia sudah di surga," Erika berbisik. Lalu senyap. Laut semakin sunyi di siang yang cukup panas ini. Dermaga mungkin telah melepaskan kehidupannya, membiarnya nyawa luput dari genggamannya tengah hari itu.
Lovino menahan suaranya, dan Erika tersenyum lemah.
"Maaf, aku memang tak pernah bisa menggantikan kakakmu." Kata-kata itu tersapu angin begitu saja hingga dia menambahkan lagi, "Tetapi semoga kau tidak pernah kesepian lagi."
"Kakak memang tidak pernah tergantikan oleh siapapun." Erika mengangkat salah satu tangannya yang terkepal ke depan dada.
Aku tahu. Lovino tahu, ada tempat yang tak pernah bisa dia masuki entah sampai kapan. Barangkali selamanya.
"Tapi kau membuat tempat baru di hidupku yang tak pernah kupikirkan sebelumnya," Erika berujar lembut sambil mendongak. "Terima kasih sudah menjadi Lovino yang selalu ada dan melakukan banyak hal untukku."
"Tapi aku tidak melakukan hal sebanyak kakakmu," senyum getir, "aku bukan dan tidak akan pernah jadi kakakmu."
"Tapi aku tahu kau akan melakukan lebih banyak hal hingga nanti," peperangan kata tapi itu masih dilanjutkan Erika dengan suara rendahnya. "Dan terus menjadi sosok yang tidak pernah kuduga sebelumnya."
Lovino menarik napas. Bau garam penguapan bisa dia kenali, lalu dia mengangkat tangannya. Mengelus pucuk kepala Erika walau hanya sesaat. "Kita tidak punya siapapun lagi selain diri kita sendiri, dan satu sama lain. Kita bisa bertahan hingga saat ini ... jadi ... kita bisa, bukan? Masa depan hanya seperti masa bertahan kita ini yang diulang dan dibuat berkali-kali lipat."
"Harus ...," Erika meyakinkan, lebih untuk dirinya sendiri.
Baru saja Erika berkedip, Lovino sudah menghilang di sampingnya, disusul dengan bunyi deburan keras di air.
"Lovino!"
Lovino mengekeh jahil saat menyembulkan kepalanya dari air. Matanya menyipit karena sinar matahari yang cerah mendadak. "Seorang calon angkatan laut harus pandai berenang! Dan air membantu menghilangkan kesedihanmu dan membuatmu lebih segar! Ayo ikut!"
"A-aku tidak bisa berenang," Erika berlutut di tepian dermaga, "Kau tidak takut? Laut ini ... dalam sekali ..."
"Kenapa harus takut? Kalau aku takut, nanti aku tidak diperbolehkan ikut berlayar mengelilingi dunia!" dia menyelam, lalu timbul lagi dengan gaya berenang yang tak menentu. "Aah, lama sekali aku tidak berenang. Untung aku masih ingat caranya." Kemudian dia muncul lagi, berdiri di dalam air, "Dan terutama, untung airnya masih bersahabat denganku!"
Erika tertawa kecil—Lovino semakin bersemangat.
"Sungguh-sungguh tidak ingin ikut?"
"Tidak ... kau saja sendiri. Aku benar-benar tidak bisa berenang."
Kemeja putih Lovino merekat ke tubuhnya, rambutnya menempel di sekeliling pipinya dan dia timbul-tenggelam sambil tertawa-tawa. Mata hijaunya berkilat, mimpi-mimpi masa kecilnya tercermin di sana. Erika perlahan mengerti, dari waktu ke waktu, hingga saat ini sebagai puncaknya; Lovino adalah anak yang penuh cinta. Dia memeluk mimpinya erat dan tak dia tanggalkan bahkan ketika separuh hidupnya tercerabut dari sisinya—ketika kehidupan mendorongnya paksa untuk berjalan sendiri, tertatih sendiri.
Lalu kenapa kau diam saja?
Erika perlahan mendekati air. Dia duduk berjuntai, ujung jari kakinya dibelai permukaan air. Dingin dan mengirimkan sensasi yang membuatnya sedikit gemetar saat belum terbiasa. Lama-lama dia bisa sedikit santai dan menggoyangkan kakinya, ikut merasakan kesenangan Lovino.
Lovino berenang hingga jarinya mengerut dan wajahnya pucat, bibirnya punya sedikit cahaya biru. Erika ketakutan melihatnya, namun Lovino berkata menenangkan, "Aku puas."
Erika juga (seharusnya) puas dan menjadi tenang kembali.
Basch, di suatu tempat yang tak secuil pun mereka punyai petunjuknya, pasti bisa menjadi lebih tenang karena ada orang yang tepat bersama adiknya tersayang.
Yang menyerahkan kertas itu berkata, isi kertasnya cukup memuaskan. Tidak masuk dua puluh besar, memang, tetapi nilai-nilai itu tetap bisa menjadi modal yang potensial.
Lovino membawanya pulang sambil menyapu ujung matanya sekilas.
Erika belum tiba. Lovino menyembunyikan kertasnya dan menuju ke dapur. Dia membuka bufet dan lemari di dekat kompor. Ada banyak bahan di dalam sana, dan dia mengambil beberapa dengan acak. Telur, ikan, dan sayur-sayur hijau. Dia lapar, namun tidak mungkin memanggil Erika di tempat kerjanya. Dihamparkannya semua bahan itu di atas meja dan menatapnya sekian lama.
Dia memisahkan ikan di tempat tersendiri lalu memecahkan telur ke dalam mangkuk kecil. Diaduknya hingga rata tercampur, lalu dia mengurus ikannya. Sebelum membersihkannya, dia mencoba mengingat-ingat sekian lama tentang cara menangani ikan yang dulu sering dia perhatikan. Kakeknya sesekali mengajarinya, namun Feliciano adalah murid kesayangannya. Tapi mau bagaimana lagi, Lovino tak pernah begitu tertarik dengan dapur sejak dia kecil.
Ah, Feliciano. Nama itu lagi. Dia mendesah lalu memijat pangkal hidungnya. Sekolah yang ia harapkan dan kehidupan bersama Erika yang membawa kebahagiaan tersendiri barangkali tidak akan terjadi jika Feli dan Kakek masih di sini. Dia cukup bahagia sekarang, begitu rasanya, namun bukan pula sesederhana itu mengganti kehidupan.
Satu hal hilang untuk digantikan hal lain, seperti itu barangkali yang ada di kitab takdir hidupnya, tetapi itu tidak kedengaran seperti yang seharusnya. Sama seperti Basch di hidup Erika, Feliciano adalah entitas dan ruang yang tak pernah bisa diisi atau dijelmakan hal apapun. Sebaru dan seindah apapun.
Sudahlah. Mana tahu hari esok. Lovino masih punya harapan, meski sekecil lilin yang pendek dan lelah. Dia pun mengangkat ikan itu ke tempat pencucian.
Selesai dengan ikan, yang memakan waktu hampir setengah jam, Lovino menuju kompor dan menaruh panci yang telah diisi air. Saat air itu mendidih, dimasukkannya potongan-potongan ikan tadi. Dia hanya mengira-ngira waktu, lantas sayur-sayuran dan garam dia masukkan. Sup ikan, tentu saja.
Dan telur yang nyaris terlupakan dia masukkan di akhir sambil diaduk-aduk. Ia teringat 'sup telur' yang asin dan hangat yang pernah dibuat Erika di tengah malam saat dia demam beberapa waktu lalu, dan dia rasa akan lebih enak jika ada ikan yang menyertai kuahnya yang gurih.
Barangkali hasil kreasi asal-asalannya tak sebaik buatan Feliciano saat anak itu berusia sepuluh tahun, tapi Lovino tahu apapun hasil dari sebuah usaha besar tentu akan mempunyai hasil setimpal pula.
"Ini buatanmu sendiri?" Erika meletakkan tasnya di sudut meja. "Wanginya enak sekali, bagaimana dengan rasanya? Pasti lebih dari itu ..."
"Selamat makan, spesial dari Koki Lovino," dia mencium jarinya lalu mengedipkan matanya, berlagak seperti pencipta makanan yang sudah mengabdi di dapur berdekade lamanya.
"Terima kasih." Erika tak memikirkan berganti baju, dan dia menikmati sajiannya dengan lahap.
Lovino masih menyembunyikan kertasnya, kali ini ditaruhnya di pangkuan. Begitu gadis itu selesai makan, dia mulai menyusun kata-katanya.
"Enak sekali. Tidak kusangka kau juga hebat memasak. Aku suka sekali."
"Terima kasih pujiannya," Lovino lalu menyodorkan kumpulan lembaran kertas tersebut. "Bisa kaulihat ini?"
Erika mengerjap dan terperangah ketika melihat judul dari kumpulan kertas itu, "Astaga, hari ini hari pembagian laporan belajarmu? Kenapa tidak bilang? Aku bisa menemanimu—"
"Aku tidak ingin merepotkanmu," senyum Lovino teduh, begitu jarang ditemukan, seolah musim semi langsung bisa terjadi di rumah itu, "aku bisa mengambilnya sendiri."
Erika membaca deretan angka dan keterangan-keterangan di dalam sana, Lovino lanjut berbicara dengan suara rendah yang kadang terdengar begitu ragu untuk dirangkainya.
"Teman-temanku didampingi orangtua mereka. Atau paling tidak, paman dan bibi. Ada beberapa yang membuat bangga orangtua mereka dengan nilai mereka, ada pula yang dimarahi karenanya," tawa hambar, "aku mengambilnya sendirian. Guruku menghiburku dengan berbagai cara ..."
"Jika memerlukan seseorang untuk datang, kau tidak perlu takut meminta padaku ..."
"Aku belum selesai," senyuman itu jadi lebih baik. "Aku tidak keberatan datang sendiri. Dan—baiklah, kita lanjutkan ... sampai mana tadi?"
"Gurumu menghibur, kurasa?"
"Ah, ya, ya, benar!" Lovino menepukkan tangan satu kali, "Guruku menghiburku, dia bilang bahwa dengan nilai ini dan kemampuanku di teknik radio ... aku bisa diperhitungkan untuk masuk ke Regia Marina!"
Erika terdiam lalu kertas itu diletakkan pelan-pelan setengah sadar ke atas meja.
"Regia Marina, Erika! Jika aku bisa mempertahankan nilai ini hingga tahun depan, aku pasti bisa ikut tes masuknya dan menjadi bagian dari spesialisasi khusus di ketentaraan!" Lovino bahkan sampai menggebrak menja.
"Ya Tuhan ... Lovino—aku benar-benar bersyukur," Erika menepuk-nepuk lembut tangan Lovino di atas meja. "Perjuanganmu pasti akan mulus jika kau terus bersemangat seperti ini, aku selalu berdoa untukmu, tenang saja. Kekuatan doa itu bisa lebih besa dari usaha—dan kautahu itu."
Lovino mengekeh bangga, Erika tersenyum penuh harap.
Masih terlalu pagi untuk bangun, memang, tetapi Erika adalah pecinta suasana hari sebelum matahari terbit. Kadang dia memasak, kadang dia mencuci atau bersih-bersih. Digilir bergantian agar tak bosan.
Dan hari ini, dia membersihkan kamar. Termasuk kamar Lovino.
Ada teritori pribadi di rumah ini, namun satu sama lain punya kesepatakan tak resmi bahwa siapa saja boleh masuk kapan saja, demi keperluan yang baik. Tidak ada yang pernah mengatakan hal itu secara gamblang, namun mereka sepakat satu sama lain tanpa harus merumuskannya dengan cara-cara merepotkan.
Saat menyapu bagian bawah tempat tidur Lovino, sapunya tersangkut sesuatu.
Buku yang sangat tua dan sobek di sampul belakang. Terlipat juga keriting. Permukaannya tak terlalu berdebu, barangkali setiap malam sering dibawa tidur oleh Lovino dan baru sekarang dia tak sadar benda itu tidak berada di samping bantalnya.
Erika mengerutkan kening. Rasanya ia pernah melihat buku ini.
Oh. Di dalam karung benda-benda yang dikumpulkan oleh orang-orang yang memperbaiki rumah.
Tunggu, bukan. Bukan. Erika menatapnya lebih lama lagi, hingga nyaris menjatuhkan sapunya.
Ah.
Buku tentang kapal laut.
Selalu dibawa Lovino saat mereka masih kecil.
Begitu dibuka, Erika langsung sampai ke halaman yang paling sering dibuka, seolah dia adalah halaman terdepannya. Regia Marina. Angkatan laut Italia yang berdiri setelah kemerdekaan. Erika menyusuri gambar-gambar armada awal angkatan laut itu, dan membayangkan bahwa Lovino juga pasti sering melakukan hal yang sama. Bahkan barangkali menempelkan bibirnya di sana. Erika menutupi tawanya dengan kepalan tangan saat membayangkannya.
Lovino pasti meraih mimpinya, ia yakin. Dia sudah memiliki terlalu lama memiliki itu bahkan mungkin mimpi di dalam tidurnya sendiri bosan menayangkan rangkaian harapan tersebut terus-menerus. Tuhan pasti punya bayaran tersendiri pada mimpi yang sudah dipeluk terlalu lama, yang selalu dicium sebelum tidur, dan selalu menjadi tali-temali yang terangkai panjang di setiap doa yang selalu sampai ke langit.
Lantas ia disentuh satu bayangan.
Jika Lovino berhasil masuk ke angkatan laut ... maka berarti dia akan sendirian? Lagi?
Dia bisa menjadi apa?
Erika meletakkan buku itu ke samping kepala Lovino lalu menatap lelaki itu, yang bergelung di dalam selimut hingga terlihat seperti ulat sutra yang siap diuraikan serat-seratnya. Lovino bahkan mengubur separuh wajahnya di balik kain. Dia merapikan sedikit rambut Lovino, menghirup napas dalam-dalam. Aroma Lovino begitu kental di udara ini.
Wangi yang ingin dia genggam sampai kapanpun.
[ 1938 ]
Lovino menyelesaikan sepertiga sekolahnya dengan keseharian yang biasa. Bekerja, sekolah, dan makan bersama Erika sambil bertukar cerita.
Erika sendiri sudah bisa disebut mumpuni dalam hal kesehatan, meski tidak ada hitam di atas putih yang mengakui kemampuannya. Dia sudah bisa menangani operasi kecil sendiri dan menghafal obat-obatan luar maupun dalam untuk penyakit-penyakit umum. Ditambah pula, Nyonya Ella telah menyewa seorang pembantu tersendiri kegiatan rumah tangganya, membuat Erika yang awalnya hanya asisten paruh waktu menjadi bekerja sepenuhnya menjadi wakilnya.
Waktu menggerakkan mereka, kehidupan mendorong mereka. Sesekali tanah menyambut mereka jatuh, tetapi mereka saling mengulurkan tangan agar bisa kembali menempuh jalan. Hingga tak terasa, Erika mengantarkan Lovino pada gerbang baru; tibalah saatnya Lovino berangkat untuk tes masuk Regia Marina.
Mereka hanya bersitatap sambil saling menganggukkan kepala dan tersenyum simpul saat Erika melepas Lovino masuk ke dalam gedung tempat tes itu dilangsungkan. Gadis itu terus memandangi Lovino yang berjalan dengan langkah mantap, dan kemudian secara kebetulan menemukan teman satu sekolahnya.
.
.
"Dia itu siapa? Adikmu, ya? Kau tidak pernah cerita kau punya adik perempuan."
"Memang bukan. Kami bukan saudara tapi kami saling membantu."
"Lantas siapa? Pacar, hmmm?"
"... Entahlah ..."
"Ha? Tetanggamu?"
"Bukan."
"Lalu? Teman lama?"
"Ah, kami tinggal satu rumah."
"Ah?! Astaga—"
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kami beda kamar dan ada cerita panjang mengapa itu terjadi."
"Ho ... tapi kau begitu beruntung, Lovi."
.
.
Beruntung?
Apa di mata orang lain aku seberuntung itu?
.
.
.
.
.
"Oh," seorang tamtama senior memerhatikan seorang pemuda yang menatap tak percaya pada pengumuman di papan bagian depan ruang administrasi, yang jarinya menunjuk salah satu nama. "Jadi kau yang bernama Lovino Vargas, ya?"
Lovino sontak menoleh, tersentak, "A—ya, senior! Saya Lovino Vargas!" dia nyaris latah dengan melakukan hormat—sesuatu yang diam-diam dia latih di dalam kamar setiap malam sebelum tidur.
"Senang bertemu denganmu. Nilai tesmu memang pas-pasan, dan kau nyaris tidak lolos. Tetapi setelah melihat rekam jejakmu di sekolah, dan nilaimu yang tinggi dalam bidang teknik komunikasi radio, kami sadar kami sangat membutuhkan orang-orang sepertimu."
Lovino pikir orang ini telah menendang beban di bahunya. Mendapat urutan terakhir di seleksi masuk sudah cukup membuatnya syok sekaligus berberat hati.
"Yang menguasai radio hingga ke seluk-beluknya cukup jarang di ketentaraan, terutama angkatan laut. Menerimamu adalah keputusan yang sudah dipertimbangkan oleh semuanya dan disetujui dengan baik. Selamat bergabung! Kami menantikan kontribusimu untuk negara, Vargas."
"Siap, Senior!"
Harinya telah dimulai.
.
.
Dia dengan antusiasme yang tinggi mengemasi pakaiannya untuk berangkat pelatihan. Dia tak lupa menyelipkan beberapa buku—
—lalu dia tertegun sesaat.
Dia lupa bertanya pelatihannya akan berlangsung seberapa lama.
Lalu, setelah pelatihan, ada apa?
Penempatan, tentu saja.
Di mana?
Lalu Erika bagaimana?
.
.
.
.
Bedebah kau, Lovino. Demi Tuhan, kenapa kau hanya memikirkan mimpi dan laut?
Dia turun dan menemukan Erika sedang membaca buku. Buku medis. Erika memperkenalkannya pada buku itu beberapa hari lalu, dikatakan bahwa Nyonya Ella memberikan itu untuknya.
Matanya bertahan pada punggung mungil Erika. Dia lalu bertopang pada birai tua tangga sederhana mereka. Lantas dia menutup wajahnya. Bagaimana bisa dia begitu mengabaikan Erika? Dia tahu dia akan bertugas dan bekerja di tempat yang bukan di rumah—tetapi dia baru sadar bahwa ketentaraan akan menuntut prajuritnya untuk bersedia bertualang ke berbagai titik serta turun di berbagai medan. Seorang prajurit bisa saja lupa apa itu rumah berikut kehangatannya. Dia akan bergaul dengan dunia dan bahkan mungkin saja tidak memiliki banyak teman selain yang ada di batalionnya.
Lalu bagaimana dengan Erika setelah ini?
"Sedang memikirkan sesuatu?"
"Oh—astaga, eh—yah, begitulah ..." Pemuda itu baru sadar dia ditatap balik.
"Kau sudah berhasil masuk Regia Marina, Lovino, apalagi yang kau takutkan?"
"Justru karena aku masuk itulah, masalahnya muncul."
"Masalahnya apa? Ceritakanlah," Erika memberi isyarat agar Lovino mendekat ke meja.
"Aku ..." Lovino menahan diri hingga sampai ke meja makan. "Aku akan meninggalkanmu sendirian ..."
"Aku tidak akan sendirian," jawab Erika dengan ringannya, seolah dia telah meramalkan pertanyaan ini sejak Lovino belum memikirkannya sama sekali. "Aku masih bisa bekerja di tempat Nyonya Ella ... dan kalau kau tidak keberatan ..."
"Katakan saja." Lovino lantas menahan napasnya, dengan tujuan yang ia sendiri abaikan.
"Barangkali aku akan pergi ke London untuk mendapatkan sertifikat ... atau sejenisnya. Bisa saja ke tempat yang lebih dekat, misalnya Roma atau Berlin."
"Heh, kau benar-benar serius juga dengan mimpi itu, ya," ucap pemuda itu kikuk sambil menggaruk kepalanya yang baru dicuci itu, "baguslah. Kudukung. Jadi ...," gumpalan di tenggorokannya ia coba telan, "... apakah itu artinya kita akan sama-sama pergi meninggalkan rumah ini?"
"Kita masih bisa saling berkirim surat. Sesering mungkin, ya? Aku barangkali baru akan berangkat setelah kau mendapat posisi yang tepat agar kita tidak kesulitan saat bersurat-suratan."
"... Ide bagus," Lovino menekuri meja dan menemukan banyak coretan pensil di halaman buku yang dipegang Erika—dan pensil itu masih dijepit di antara kedua jarinya.
"Kita pergi untuk pulang kembali. Tenanglah. Pergilah untuk mimpimu."
"Ah, ya—ya. Pergi. Benar. Pergi. Benar sekali. Kau juga, ya ..."
"Kau memiliki mimpi itu sebelum memilikiku, jadi—" Erika menghentikan dirinya perlahan dan menutup mulutnya, seolah kalimat barusan adalah salah satu dosa besar.
Memiliki.
"Maaf—"
"—Itu benar. Memiliki. Ya, kita saling memiliki. He he. Sebagai apa, itu tidak penting, tetapi ..."
"Yang penting, kita akan selalu bersama. Jarak bukan hal besar jika kita tetap selalu membutuhkan satu sama lain. Saling memiliki tidak ada hubungannya dengan jarak, aku yakin itu." Erika sadar ujung jarinya menyentuh ujung jari Lovino di atas meja, dan kerapatan yang begitu rapuh itu seolah abadi dalam berjalannya waktu.
"Ya. Terima kasih. Kau sangat berarti."
"Kau satu-satunya yang kumiliki."
.
.
.
.
Ransel Lovino tidak lebih berat daripada beban di pundaknya saat dia melambaikan tangan untuk terakhir kali pada Erika. Gerbang sudah semakin sepi karena sebagian besar calon prajurit sudah masuk, namun Lovino selalu mengulur waktu.
Hingga akhirnya, dia memang harus masuk.
"Sampai jumpa."
"Sampai nanti."
.
.
tbc.
a/n: thanks buat semua follower, faver dan reviewer baru! maaf ngga ketulis namanya karena ini publishnya lewat tablet dan lagi buru2 ;u;
