Masih di Bellato HQ 11.52 W.N.

,,

,,

Tap! Tap! Tap!

Seorang lelaki berambut Ungu pekat agak panjang di sisir belah pinggir stylish, tengah berjalan dengan cepat melewati beberapa ruangan dengan desain dan interior yang mewah. Langkahnya terlalu cepat untuk ukuran bellato berjalan pada umumnya, tampaknya lelaki itu tengah tergesa-gesa.

"Hosh... Hosh... Ma...Maaf Maximus Huam, apakah tidak sebaiknya anda tidak terburu-buru begitu?" tegur wanita pirang di belakangnya, seraya kewalahan mengikuti langkah kaki tuanya.

"..."

sang warchon hanya bergeming dan memilih terus melanjutkan langkah gaya kereta apinya. Jubah putih yang selalu ia kenakan bergoyang tersapu angin kecil ketika ia berjalan, Seakan patuh dan tidak berani menanya, bahkan melawan apa yang sedang tuanya inginkan. Tangan kananya yang biasa memegang sebuah tongkat perak beraura biru seakan bosan membawa tongkat dan memegang sesuatu yang lain. Sebuah kotak hitam dengan garis kuning melintang ditengahnya sekarang dalam genggaman tangan putihnya.

Ketika sampai di hadapan sebuah pintu dengan ornamen mewah, benda itu terbuka dengan sendirinya karena ada suatu hidrolik yang bekerja pada pintu tersebut. Sang warchon pun langsung masuk tanpa permisi, diikuti dengan asistenya yang seperti tersiksa dengan cara berjalan tuanya. Ketika ia sudah berada di dalam ruangan tak ada seorang pun di dalam. Hanya udara kosong yang ia lihat dengan di temani beberapa interior mewah dalam ruangan tersebut, Lelaki itupun terhenti.

"Salaam... Maximus Elims apakah anda sedang berada di ruangan ini!?" panggil Huam dengan suara yang agak di tinggikan.

Sekali lagi matanya berkeliling ruangan mewah tersebut untuk menangkap figur yang di cari namun nihil. Pandanganya terhenti pada sebuah pintu kaca buram agak jauh dari tempatnya berdiri, lalu belum sempat wanita pirang itu menyusul punggungnya. Huam kembali berjalan menuju ruangan tersebut.

"owh... yang benar saja...!" seru wanita tersebut dengan suara pelan.

Tangan kiri Huam membuka sebelah sisi pintu kaca manual tersebut, lalu membiarkanya menganga terbuka. Di ruangan tersebut seorang lelaki berambut coklat, tengah duduk di sofa sambil meminum sebotol susu dengan tangan kananya, tangan kirinya ia rentangkan diatas sandaran sofa memberi kesan santai. Huam pun langsung melangkah mendekati orang yang dicari.

"Yosh..! Maximus Huam Nossaer tampaknya anda sedang terburu-buru mencari saya."sapa sang Archon sembari memperhatikan warchonya yang sedang mendekat.

"Mohon maaf jika saya lancang masuk tanpa permisi Maximus." Jawab Huam sembari melepas jubah putih yang sedari tadi ia kenakan.

"Ah sudahlah... jangan terlalu kaku dengan hal militer di ruangan pribadi saya, silahkan duduk." Seru sang Archon sambil kembali menegak botol susunya.

Baru saja Huam menaruh jubahnya diatas gantungan, seorang wanita pirang yang membuntutinya dari tadi masuk melalui pintu dan berpegangan pada gagangnya. Mukanya tertunduk, nafasnya terputus-putus akibat mengikuti cara berjalan lelaki di depanya.

"Hosh... Hosh... Hosh... Maximus Huam, apakah anda sudah bertemu dengan..."ketika ia mengangkat pandanganya, kata-katanya tehenti. Tepat di sorotan matanya, Maximus Elims tengah duduk diatas sofa dengan bagian atas armornya di buka total, menyisakan celana yang ia kenakan. Memperlihatkan deretan otot kekarnya pada setiap bagian tubuh. otot-ototnya mengkilat terkena sapuan air dan sinar matahari siang itu. Handuk dilehernya dan helai rambut yang basah sedikit tergerai diatas wajahnya yang tampan dan berwibawa, mengisyaratkan bahwa sang Archon habis memanjakan dirinya setelah ekspedisi Dark Hole Dungeon.

Melihat Maximus Elims duduk dengan pose begitu, pose yang mungkin di anggap oleh para wanita sebagai pose sexy dan maskulin. Apalagi untuk ukuran wanita sopan seperti nona Lumire, hal itu membuatnya terpana ,mukanya memerah lalu menjadi salah tingkah. Sadar akan dimana ia berdiri dan siapa saja yang ada di sana, membuat Lumire salah tingkah sendiri. Dengan sikap hormat dan mata dipaksanya tertutup. Ia berujar setengah teriak.

"Kyaaa...! Me... Maa...Maaaf Maximus Elims saya ti...tidak bermaksud untuk lancang menyelinap ke... ke ruangan pribadi anda, se...se...sekali lagi saya mohon maaf.." setelah menuntaskan kata-katanya Lumire yang 'salting' langsung balik badanya dan menutup pintu kaca dengan kedua tanganya dari luar.

Melihat kejadian barusan sang archon dan wakilnya pun beradu tatap, lalu saling menahan tawa.

"Hahaha..(tertawa kecil) sepertinya anda telah membuat nona Lumire kesusahan." respon sang Archon.

"Haha... bukan begitu maksud saya Maximus, hanya saja… saya benar-benar terburu-buru."

"Hal apa yang perlu anda sampaikan sampai sangat terburu-buru? Bukankah lebih baik kita obrolkan di Hall of Fame?" ujar sang Archon sambil menaruh botol susu dan handuk yang ia kenakan, lalu mulai memakai sebuah layer hitam.

"Saya rasa, anda harus melihat ini sekarang." Ujar huam sembari menaruh kotak hitam kecil dengan garis kuning melintang di tengahnya, Ternyata itu sebuah mini digital proyektor. Dengan satu sentuhan pelan dari jari telunjuknya, garis-garis gambaran hologram tak beraturan muncul seketika di udara. Sekejap membentuk sesuatu yang tidak bisa dinalar oleh akal, lalu membentuk sebuah persegi rapih seperti layar. Hitam… beberapa saat layar itu hanya menampilkan satu warna gelap, lalu muncul beberapa gambar bergerak, ya.. itu sebuah rekaman video.

Merasa ada ganjalan, tangan sang Archon menyentuh suatu tombol untuk menghentikan pergerakan video yang baru terputar beberapa detik.

"Apa yang istimewa dari rekaman ini? Apakah anda hanya ingin menunjukkan kepada saya sebuah video patriot yang akan terbunuh?". Tanya sang Archon penasaran.

Di video rekaman itu jelas tergambar seorang wanita berambut abu-abu yang sedang terduduk dengan ekspresi muka ketakutan. Sedang pasrah menunggu ajalnya sambil menutup mata di tengah-tengah tiga ekor brutal. Bahkan salah satu brutal tengah mengayunkan tangannya ke arah gadis malang tersebut.

"Maaf Maximus Huam, saya kira anda sudah faham bahwasanya saya paling tidak suka melihat seorang patriot terluka, terlebih lagi terbunuh. Maaf sekali lagi, anda merubah rasa susu yang saya minum. Jika sudah tidak ada lagi yang perlu anda sampaikan, lebih baik kita bertemu di Hall of Fame 1 jam lagi…" begitulah tanggapan Maximus Elims sembari tersenyum, seakan tidak menyiratkan kemarahan sedikit pun. Lelaki itu bangun dari tempat duduknya dan berjalan membelakangi Huam.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya lelaki yang dijuluki Dewa Perang dan the Smiling Archon ini, sangat tidak menyukai melihat seorang patriot Bellato dalam keadaan terluka apalagi terbunuh. pernah suatu saat ia mendapat kabar bahwa Solus Settlement mendapat gangguan dari tiga skuad Accretia yang ingin berburu Varas, sehingga menewaskan hampir satu setengah party patriot Bellato yang sedang berpatroli. Padahal pada saat itu merupakan masa tenang setelah Chip War. Hal ini merupakan sebuah kejahatan perang.

Maximus Elims Ibtasim yang sangat marah saat itu, langsung pergi memasuki territorial Armory 213 milik Kekaisaran Accretia dan memporak-porandakan wilayah territorial tersebut hanya seorang diri. Sebagai tebusan atas darah yang telah ditumpahkan di atas tanah Solus. Korban jiwa yang berjatuhan di pihak Accretia bisa terbilang tidak sebanyak yang gugur dari pihak Bellato. Mereka hanya berasal dari anggota skuad yang pernah melanggar masa tenang Chip War. Sedangkan anggota skuad yang lain sedang tidak berada di territorial tersebut. Sebuah keberuntungan bagi Accretia, sang Archon federasi tidak berniat mencederai sedikit pun prajurit baru dan yang tak terlibat dalam insiden Solus berdarah. Namun sebagai gantinya hampir 85% wilayah territorial tersebut porak-poranda bagaikan tersapu badai.

Akhirnya Archon dari pihak kekaisaran Accretia dapat meredam amukan si Smiling Archon dan membuat kesepakatan, untuk menghukum patriot yang melakukan kejahatan perang. Ya… walaupun ketiga bangsa selalu berseteru dalam peperangan memperebutkan sumber daya Holy Stone, namun mereka mempunyai aturan dalam pertempuran. Ini semua merupakan sebuah wujud penghargaan atas sebuah nyawa. Nyawa seseorang lebih berharga dari pada apapun. Dan segala bentuk pelanggaran terhadap perjanjian dan aturan perang tersebut merupakan sebuah kejahatan yang harus di tindak oleh hukum.

"Tapi Maximus… bukan itu yang saya ingin perlihatkan..!" ujar Huam menegaskan. " sebaiknya anda melihatnya sampai selesai."ujarnya lagi.

Sang Archon yang sudah berjalan membelakanginya berhenti dan menoleh.

"Baiklah, saya harap anda tidak mengecewakan saya." Balas sang Maxius Elims seraya berjalan untuk duduk kembali. Rekaman itu pun di lanjutkan. Maximus Elims tampak mulai tertarik dengan rekaman itu.

,,

,,

Di dalam video rekaman,..

Seorang wanita berambut kelabu terduduk pasrah di tengah-tengah tiga ekor brutal. Bisa dibilang sia-sia, tubuh Yuri yang gemetar sudah tidak mampu menerima rangsangan sensorik dari pusat kordinasinya. Brutal itu mulai mengayunkan tanganya untuk memberikan salam perpisahan kepada Yuri.

" Ti... TIIIIDAAAAK…YUUURRRIII…!" ucap Sans putus asa.

Tiba-tiba. "Anger of Inferno…!" sebuah ledakan api besar menyilaukan langsung menghanguskan ketiga brutal yang mengelilingi Yuri. Semua yang ada di area itu terdiam. Api terus berkobar di tempat Yuri terjatuh, entah apa yang terjadi pada gadis malang itu. Sans yang sudah kehabisan nafas jatuh berlutut memandangi kobaran api tersebut.

,,

Yuri merasakan sensasi panas di sekelilingnya. Iapun perlahan membuka matanya. "Gw masih hidup?"

Sedikit demi sedikit Yuri melihat sebuah bayangan terlihat dari balik api yang berkobar. Seorang bellato, ya seorang bellato tengah berdiri di balik api. Samar-samar mulai terlihat wajah dari bellato tersebut.

"K..Kau..mengapa bisa berada disini..!?" respon Yuri tidak percaya melihat siapa yang ada di depannya.

Seorang lelaki berambut merah pekat disisir spike kebelakang berdiri dari balik kobaran api, sembari mengarahkan telapak tanganya kearah Yuri terduduk. Lelaki itu berjalan mendekati Yuri melewati kobaran api yang baru saja ia buat. Disekelilingnya, Brutal dari tadi menjebak Yuri, sudah diam tak bergerak menikmati panasnya api yang ia keluarkan.

Lelaki itu kini berdiri tepat dihadapan Yuri, lalu sedikit berjongkok agar sejajar dengan wajahnya. Mata Yuri yang hampir tidak dapat mempertahankan kesadaranya hanya bisa memandang wajah laki-laki itu dengan lirih.

"Kau… Kau… mengapa bisa berada di sini..!? bu.. bukanya..." kondisi Yuri yang semakin menurun mempersulit dirinya bahkan hanya sekedar melanjutkan kata-kata. Fikiranya sudah tidak lagi bisa terfokus, yang ia rasa hanya fikiranya mulai melayang-layang dengan efek mata berkunang-kunang.

Tangan kanan lelaki itu terangkat, lalu mengeluarkan cahaya oranye dari telapaknya. Mata merahnya yang sayu masih menatap wajah gadis berambut kelabu itu.

"…"mata sayu pemuda berambut merah itu terus menatap Yuri,perlahan lalu ia tempelkan telapak tanganya di atas ubun-ubun gadis malang tersebut.

"Heat Addict..!"pelan namun pasti ia mengucapkan sebuah mantra. Sekejap kedua mata Yuri langsung terpejam, dalam dirinya, Yuri sama sekali belum pernah merasakan sensasi hangat yang menjalar keseluruh tubuh seperti ini. Hangat yang Ia rasakan benar-benar menjalar melalui setiap nadi kehidupan di dirinya lalu merasuk kedalam hatinya. Sudah lama ia merindukan kehangatan ini.

"Kehangatan ini seperti…sudah lama aku tidak merasakannya… pelukan Ayah!?...tidak… ini bahkan lebih hangat!"batin Yuri. Dalam heningnya kesadaran wanita itupun semakin lama semakin hilang terseret kealam bawah sadarnya. Tubuh Yuri yang sudah terlelap condong kebelakang mengisyaratkan fikiranya telah beristirahat total. Dengan sigap sang lelaki menahanya dengan lembut sebelum tubuh Yuri jatuh ke tanah. Lalu berusaha menggendongnya.

,,

Disisi lain kobaran api, Sans masih terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi tepat di hadapanya. Anggota tim 17 yang lain berusaha berlari menghindari pertarungan untuk mendekat ke arah Sans, khawatir jika ada brutal yang tiba-tiba menyerangnya. Anad dan Henri menjadi dua orang pertama yang berhasil mencapai Sans. Pandangan Sans masih kosong kearah api yang berkobar.

"Fire force..? Inferno? Tidak mungkin, D… da..lam jarak sedekat i… in..ini !? Sssiiiiaaall…! Apa mungkin Yuri meledakan tubuhnya?" keluh Sans sambil memukul tanah

"Hei… Sans jangan terlalu lengah begitu..! kita masih berhadapan dengan beberapa brutal." Tegur Anad sembari memunggungi Sans dan memasang kuda-kuda pertahanan khas Shield Miller. Wiky pun berhasil sampai, disusul oleh Lluve.

"Hei Sans.! Kita semua terpukul dengan kejaidan ini… tapi kuatkan hati lo, ayo selesaikan pertarungan ini dan bawa jenazah Yuri pulang…!" sela Lluve yang sudah mengacungkan tombaknya kearah brutal yang mendekat.

Pandangan Sans mulai terangkat " Jenazah kata lo..!? tidak Yuri belum mati..!" sanggah Sans

"Bukannya lo tahu sendiri ! tidak ada orang yang bisa menggunakan force ledakan seperti Inferno dalam jarak yang sangat dekat kecuali mereka meledakkan dirinya sendiri..!? dan ledakan force itu bukanlah ledakan yang biasa.. berfikirlah logis..!" rutuk Lluve mengingatkan.

Kalimat Lluve bagaikan sebuah belati yang menusuk telinganya hingga tembus ke hati. Ia pandangi lagi kobaran api tersebut, seakan mengingat-ingat sesuatu.

"Sans…Sans..! ayoo berdiri." Kini giliran Henri yang menegur.

Seakan berharap sesuatu lelaki itu berujar.

"Yuri ga bakal mati… Ga boleh ada yang mati di dungeon pertama ini..!" Sans mengumpulkan keberanian serta harapanya untuk sekali lagi berdiri. Lalu perlahan beranjak menuju kobaran api, tanpa menghiraukan anggota tim 17 lainya yang sedang berusaha menghadang para brutal. Langkahnya gontai bahkan sesekali kembali jatuh berlutut.

"Et dah bocah…!" gerutu Henri.

"Biarkan saja Hen, mau bagaimana lagi..? kapten Anad, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Wiky mempererat genggamanya pada Intense Vulcan.

"Lindungi Sans dan jangan biarkan para 'Cangcorang' ini menyentuhnya.!"instruksi Anad.

"Ya… mudah untuk bicara..! , apa kau tidak memperhatikan jumlah mereka!?" gerutu Lluve lalu melemparkan pandanganya pada sekawanan brutal.

Terlihat sekitar sembilan ekor brutal tengah menunggu celah untuk menghancurkan formasi tim 17. Para makhluh hijau itu bagaikan membuat barisan berbentuk setengah lingkaran guna merencanakan serangan mereka. Pandangan mereka tertuju pada satu titik, yaitu tempat di mana tim 17 bersiaga menahan gempuran.

" Haaaah… situasi yang tidak menguntungkan.." gerutu Anad sembari menghela nafas. " Kalau begitu kita pecah saja barisan mereka, dan tumbangkan satu persatu." Instruksi Anad yang terlihat semangat dengan hal itu. Tergambar dari tatapan dan genggaman pisaunya yang semakin erat.

"Bunuh diri.." Henri menimpali dengan kepala tertunduk.

Anggota tim yang lain sepertinya tersentak atas perkataan Henri, pandangan langsung tertuju kearah lelaki ber-google itu. Yang di pandangi hanya tertegun dengan kepala menunduk melihati senapanya.

"Bunuh diri..?" Ujar Wiky bingung

"Ya.. bunuh diri, silahkan saja lakukan jika kalian ingin hanya nama kalian yang pulang ke HQ…"

"Apa maksudmu ..!? bukankah itu cara terbaik..? satu ranger dan satu warrior menghadapi beberapa brutal sekaligus? Tanker dan hitter merupakan komposisi yang pas..!" celetuk Lluve.

"Bodoh… apa lu sama sekali ga belajar dari situasi..!?" rutuk Henri sembari mengangkat kepalanya.

Mendengar itu yang lain pun terdiam, mereka tidak menyangka specialist dengan tampilan seperti itu akan menetang perintah Anad sang party leader.

"Lu… lu… tau apa tentang perang hah? Satu-satunya hal yang bisa di lakukan seorang specialist kaya lu cuma ngutak-ngatik barang..!" kecam Lluve yang sepertinya mulai tersulut emosi. Acungan tombaknya yang mengarah ke kawanan brutal turun seiring tatapan tajamnya kearah Henri.

Grepp…!

"Lu tau apa..!?" kini genggaman tangan kiri Lluve sudah berada di kerah armor Henri disertai pandangan merendahkan, field lancenya pun telah lepas dari genggaman. Ya, Berserker memang terkenal dengan tabiat keras dan menang sendirinya, apalagi ketika pendapat mereka disanggah oleh orang yang mereka anggap lemah.

"Heh… apa ga ada hal lain selain diri sendiri yang kalian pikirkan para warrior..!? setidaknya yang gua tau bukanlah hal yang bakal membunuh kita..!" celetuk Henri yang badannya sudah sedikit terangkat, walaupun terlihat dari raut wajahnya yang mulai berubah menyiratkan ketakutan ia berusaha mengumpulkan keberanianya kembali. Suasana semakin mencekam.

"Hey Lluve..! Ayolah… bertindaklah sedikit lebih dewasa…!" gerutu Anad tanpa mengalihkan perhatianya dari brutal, yang kini mulai gerah dengan kelakuan dua rekanya. Sedangkan wiky lebih memilih untuk menutup mulut terhadap masalah ini, mungkin karena takut atau bisa jadi ia tidak ingin memperkeruh suasana.

Sementara kawanan brutal yang sedari tadi bergerak mendekat, kini sudah berhenti dan terus memandangi tim 17. Mendengar perkataan Anad Lluve hanya bisa menggertakan giginya sembari menatap tajam kearah mata Mental Smith di hadapanya. Semakin tajam ia memandang bukanya ketakutan yang ia ia dapat sebagai respon, malah dari sorot matanya Henri memancarkan sesuatu yang berbeda.

"Dia..! sorot matanya tidak menggambarkan keraguan..!" cukup lama untuk ukuran adu pandang diantara mereka, yang diakhiri dengan melemahnya cengkraman Lluve dan mulai melepaskanya.

"Ciiiihh…!" Diiringi mata yang sengaja di pejamkan Llue mengambil kembali Intense Field Lancenya. Kuda-kudanya kembali terpasang, tombaknya kembali teracung. Kini berserker wanita itu hanya memilih untuk acuh terhadap si Mental Smith.

"Jika ada strategi yang lebih bagus, aku harap bisa mendengarnya darimu Hen.." giliran Anad yang angkat suara tanpa merubah posisi dan pandanganya.

"Ekhhh… " deram Henri sambil memegang kerah armornya yang baru saja di cengkram oleh Lluve. " Oke… sebelumnya gua minta maaf jika menyinggung kalian semua… tapi coba perhatikan para Brutal itu.." jelas Henri.

Kini semua pandangan tertuju kearah kawanan brutal yang sedang berdiri diam memperhatikan gerak-gerik tim 17.

"Berhenti..!?" seru Wiky pelan.

"Ya.. berhenti, kalian tau apa alasan mereka diam dan memperhatikan kita seperti itu?.." Tanya Henri. Semua partypun hanya bergeming.

"Satu-satunya alasan mereka tidak menyerang adalah fokus mereka yang buruk pada target banyak, jadi dengan kata lain, mereka sengaja menunggu kita memecahkan formasi lalu, mengepung kita seperti keadaan Yuri tadi." lanjutnya.

"Warrior dan ranger memang pasangan Tanker dan hitter yang mumpuni, tapi hal itu hanya bekerja pada Grumble Hook yang kita lawan tadi. Fokus Grumble hook terhadap target memang bagus, namun mereka tidak mempunyai kendali penuh pada tubuh mereka. Berbeda dengan brutal yang mempunyai kendali penuh pada pola seranganya. Kalian lihat tangan sabit itu?" Henri kembali menunjuk kearah kawanan brutal.

"Itu adalah senjata sekaligus kelemahan mereka, disamping mereka bisa melakukan serangan elemen tanah, entah bagaimana tapi itulah yang gue tahu. Jadi jika kita tetap melakukan manuever dengan komposisi warrior dan ranger. gue yakin.." Henri mulai menarik nafas panjang menghentikan kalimatnya.

"Wiky dan gue akan mati tanpa sempat kalian lindungi…"lanjut Henri sembari menghembuskan nafasnya. "Lalu disusul dengan kematian kalian pastinya, ya ga masalah juga sih… ntar juga palingan ketemu di alam baka"

Lluve dan yang lain terdiam mendengar penjelasan Henri. Hal itu sama sekali tidak terfikirkan oleh mereka. Selama ini yang terfikirkan hanyalah mengalahkan musuh.

"Terus… rencananya..?" Lluve mulai tak sabar.

"Anad akan maju sebagai benteng dan pengalih perhatian…"

"Lu gila Hen..!? Anad bisa mati konyol..!" sela Lluve tidak terima.

"Tenang dulu… , Anad sebagai Shield Miller punya pertahanan paling besar diantara kita selain itu, dia juga punya skill penarik perhatian Provoke dan Taunt.. saat Anad maju dan menggunakan skillnya, tugas kita adalah tetap bersama dan membereskan Brutal yang berusaha mendekatinya. Tapi ini semua juga harus sepertujuan Anad, ya… gue hanya ga mau kehilangan temen lagi." jawab Henri serius.

"Hahaha.. oke.. oke.. Ini dia salah satu ide gila yang ku tunggu dari tadi."ujar Anad yang sudah melepaskan kuda-kudanya dan sekarang berdiri sambil memutar-mutar bahunya.

"Tapi... kalo rencana ini gagal Anad bakalan…" kalimal Lluve tertahan, pandanganya dibuang ke kiri.

Tangan besar Anad menggenggam bahu Lluve, sedikit menggerakkannya agar pandangan mereka beradu. "Cukup percaya padaku… 4 tahun di akademi, pastinya kau tahu betul bagaimana kerasnya tamengku ini kan..?"

"Iya .. Tapi.."

"Ssstt… aku ga mau ada korban lagi yang jatuh dari kelompok kita. Cukup Yuri yang gagal aku lindungi hari ini." Suara Anad memberat pada kata terakhir, mengisyaratkan ada suatu penyesalan yang ia simpan namun , ia selalu menegarkan dirinya. Karena masih ada orang yang harus ia lindungi.

"Yosh… Henri… ku serahkan semua strategi ini padamu..! Wiky dan Lluve ku harap kalian mengikuti instruksi dari Henri..!"

"Siap..!" jawab Lluve dan Wiky serempak.

"Dan sekarang… ayoo habisi para cangcorang ini..! HEEYYYYAA..! Build up Defendse..!" teriakan Anad diiringi hujaman pisaunya ke tanah, sebuah cahaya kekuningan muncul dan menjalar dari perisainya lalu menyebar keseluruh lapisan armor.

Usai mencabut pisaunya, badan besar Sheld miller itu langsung menerjang maju dengan posisi tameng sebagai bantalan. Bergerak lurus tanpa ragu, kokoh, tebal dan tak tergoyahkan seakan berbicara "Ga ada satupun senjata yang bisa nembus gue.!". Melihat hal itu perhatian kawanan Brutal seketika tertuju kepada pria bertameng tersebut, beberapa Brutal mulai mengejarnya.

"Berhasil..! sekarang tinggal tunggu aba-aba gue untuk menyerang." Seru Henri kepada Wiky dan Lluve yang klihatan sudah geram.

"Provoke…! Taunt…!" teriakan Anad menggema di atas battle dungeon ground, mengundang seluruh perhatian agar tertuju padanya. Benar saja semua brutal yang ada di area itu menarget dirinya. Beberapa sabit Brutal yang sudah mencapai Anad, kini telah beradu dengan protection shieldnya. Keadaanya cukup berbahaya.

"Anad..! Ayo lakukan sekarang Hen..!"desak Lluve.

"Tunggu dulu..!" tahan Henri.

"Lu ga liat dia kesulitan begitu!?" Lluve yang sudah semakin tidak tahan, terus mendesak Henri.

"Gue bilang tunggu dulu…!" sanggah Henri. Wiky yang berada di sebelah kanan Lluve tampak gelisah melihat keadaan Anad. Ditambah lagi adu mulut kedua rekanya.

"Ah.. masa bodo dengan instruksi lo..!" Lluve yang sudah kehilangan kesabaran melihat rekanya berada dalam kesusahan, langsung melesat dengan badan sedikit membungkuk khas serangan terjang berserker.

"Lluve… tolong jangan gegabah..! aaaarrrhhh… kacau ! Wiky ayoo maju .. hujani mereka dengan pelurumu..!" instruksi Henri sambil menunjuk kawanan brutal yang sedang 'menari' bersama Anad.

"Aku mengerti.. Fasts shoot..! Rapid fire..!"tembakan Wiky melesat kearah kawanan brutal, entah berapa ekor yang terkena tembakanya namun Wiky tetap menembak kearah yang sama.

Lluve melesat mengejar dua ekor brutal yang sedang mengarah ke Anad, perbandingan kecepatan mereka jauh berbeda, sekejap saja Lluve sudah berada tepat di belakang dua ekor brutal tersebut.

"Ga akan gue biarin lu berdua nyentuh Anad..!" gumam Lluve. Langkahnya memendek, lalu dengan satu hentakan kaki tubuh Lluve meloncat kedepan sembari melakukan salto vertical 360 derajat. Field Lance kesayanganya juga ikut berputar vertical di udara, searah dengan tubuhnya, Lalu mengeluarkan cahaya.

"Pressure bom..!" Pada akhir saltonya Lluve menghantamkan Field Lance yang bercahaya tadi tepat diatas seekor brutal, membuat lapisan kulit tebalnya remuk dan mengeluarkan cairan berwarna hijau pucat. Sudah dipastikan Lluve mengakhiri hembusan nafas brutal tersebut.

Impact yang kuat dari serangan Lluve membuat brutal yang lain terpental kesamping. Namun sayangya serangan kuatnya membuat luka di lengan Lluve terbuka. Berserker wanita itupun kembali menyeimbangkan pijakanya. Tanpa disadari olehnya, seekor brutal tengah mengarah kearahnya dengan posisi siap mencabik. Mengetahui itu Henri yang mengikuti Lluve membidik brutal yang satu ini. Ketika bidikanya sudah pas, tangan Henri tidak mampu menahan lama gemetar tanganya.

"Jangkriiik..! gue emang ga pernah cocok make senapan di saat terdesak begini.." gerutunya seraya membuang rifle gatling gun yang ia pegang. Dengan posisi berjongkok, kedua tangannya mengambil dua buah benda berbentuk cakram sedang dengan bulatan merah di tengahnya yang sengaja di sembunyikan di balik bootnya.

"Electric Shock..!" dua buah benda berbentuk cakram dengan warna metallic itu meluncur seiring dengan teriakan Henri. Keduanya tepat mendarat di badan brutal, satu di daerah punggung dan yang lain di sekitar pinggang. Sekejap saja, bulatan kuning pada benda tersebut berubah menjadi biru kehijauan dan di saat yang sama imej listirk banyak terlihat mengalir dari benda tersebut, yang berhasil membuat brutal menggagalkan seranganya lalu menggeliat-geliat karena efek kejut setrum.

"Syukurin…. Kesetrum kesetrum lu cangcorang..!" umpat Henri dengan tangan menunjuk-nunjuk kearah brutal.

"Sekarang lu rasain nih.. 'Error Burst'…!" ujar Henri sembari cengengesan menekan tombol pada glove tangan kirinya.

Bulatan biru kehijauan di tengah benda cakram yang di lemparkan Henri kembali berubah warna dan sekarang menjadi merah.

DDDUUUUAAARRR!

Sebuah ledakan yang berasal dari benda cakram yang dilemparnya membuat tubuh brutal hancur berhamburan, sisa-sisa potongan tubuh makhluk tak berakal itu berceceran. Lluve yang tampak kaget akan ledakan dari spontan melihat kebelakang dan..

Ccpraaat..!

"IIiiuuuuhh… menjijikan..!" cairan lendir berwarna hijau pucat membasahi tubuhnya sebagai hadiah dari ledakan yang di buat Henri. Lluve yang kelihatanya risih dengan hal itu berusaha mengibas-ngibaskan tanganya agar cairan tersebut hilang. Namun, apa daya cairan itu mengenai hampir seluruh armornya, membuatnya basah kuyup.

Dengan muka merah padam, tangan terkepal dan tatapan iblisnya Lluve memandang satu-satunya terdakwa di tempat itu.

"HEEENNNNRRIIII…. !"

"Adduuuhh…. Aduuuh… sorry sorry hehe, Pliss gue Bellato bukan brutal, ga usah di pelototin gitu ya… hehe (-_-'')"elak Henri.

"Lu bakal jadi mangsa gue senlajutnya..!"ujar Lluve mendekat

"Waaaaa….. Mayday..Mayday Some body help me..!" adegan ini di tutup dengan adegan penyiksaan terhadap Henri.

"Plisss gue ga kuat lihatnya..!" Ujar penulis sambil nutup mata ketika adegan ini berlangsung.

XXX - SEMACAM DI SENSOR SAMA PENULIS -XXX

( untuk saudara kita Henri, Menghenigkan cipta…. Mulai…..Selesai )

,,

Tepat di depan Anad seekor Brutal tumbang dengan beberapa lubang pada kepalanya, hasil dari hujaman peluru Wiky dari jarak jauh. Sedangkan lima brutal lagi masih bergulat dengan sang party leader. Nafasnya hampir berat, menahan gempuran dari 5 brutal sekaligus bukanlah suatu hal yang mudah.

Drrrttt…Ddrrrtt…. Ckrek…ckrek…

"Reload..!" teriak Wiky " Huffhh.. pasti deh saat-saat begini." Sedikit tergesa-gesa Wiky mengisi ulang Vulcannya.

Suara dentingan tameng terdengar sebagai jawaban dari ayunan sabit brutal, tidak semua serangan berhasil Anad tangkis dengan tameng dan pisaunya. Alhasil beberapa sayatan merah terlihat di balik armornya yang sobek.

,,

Di dekat kobaran api

Lidah api yang terbentuk dari ledakan sebelumnya, masih berkobar dengan hebat. Langkah gontainya sekali lagi membuat Sans jatuh berlutut beberapa langkah di depan kobaran tersebut. ia pun menoleh kebelakang, sekelebat fikiran akan hinanya dirinya membiarkan teman satu timnya bertarung, sementara ia hanya bisa terpaku menyaksikan mereka melindunginya. Namun sebuah harapan bahwa Yuri masih hidup entah mengapa menjadi sesuatu yang lebih kuat untuk ia pastikan.

"Gue yakin lu masih hidup… " seru Sans seraya berusaha merapal mantra air agar bisa menembus kobaran tersebut. tangan kananya terangkat lurus walau gemetar, beberapa imej air mulai berkumpul di sekitar telapak tanganya.

Namun belum sempat ia selesaikan mantranya, kobaran api tersebut terbelah terbuka bagaikan tirai pada pertunjukan. Menampakan siluet lelaki bellato dengan tongkat tersandang dan menggendong seorang gadis dengan kedua tanganya.

"…..!" Sans tercekat melihat siapa yang keluar dari kobaran api tersebut. perlahan si lelaki mendekat kepada Sans, berlutut lalu menyodorkan tubuh Yuri seperti memberi isyarat " Nih gentian, lu jaga ya…".

"Chraigh…, lu Chraigh kan..?" bagaikan reflek kedua tangan Sans sigap berganti peran dengan tangan Chraigh, tatapan Sans tak lepas dari pria di matanya menyelidik, tidak salah lagi rambut merah pekat disisir spike di tambah lagi bola mata yang sewarna dengan rambutnya, serta wajah yang sangat ia kenal. Namun ada sesuatu yang mengganjal.

" Chraigh.. ini beneran Chraigh.. tapi kenapa pandanganya sayu begini?"batin Sans, senang namun masih dalam keterkejutanya.

"Ah lu…. Gue kira siape.. gimane caranya bisa masuk?" ujar Sans mencairkan suasana. Namun, Yang di ajak bicara hanya menatap mata Sans dengan pandangan yang sayu serta menampilkan seringai tipis. Tangan kanan Chraigh menepuk pundak Sans, tanpa sepatah kata pun ia pergi menuju kearah Anad yang terlihat dalam keadaan kacau melawan brutal. Meninggalkan Sans dalam kebingunganya

,,

Kkkrsskk… KKrkksssrrrkk… Tuuiiiiiiiitt

"Hei.. Adakah yang bisa membantuku menghadapi brutal-brutal ini..!? mereka ini sungguh menyusahkan ..! ganti.." Ujar Anad melalui transmitter yang di set dengan frekuensi party.

"Maaf kapten, saya kehabisan Amunisi… bertahanlah 1-3 menit lagi.. Lluve tolong lindungi Anad.." Ujar wiky sembari sibuk mengganti slongsong peluru pada Vulcanya.

"Astaga… Anad… sorry sorry. Tuh kan gara-gara lu, gue jadi lupa bantu Anad.. HHuuuh.." gerutu Lluve sembari menjatuhkan Henri setelah usai menghiasi wajahnya dnegan beberapa benjolan.

"BbbbHhhmmpfff…" Ujar Henri yang sebenernya udah ga bisa ngomong jelas akibat 'belaian' Lluve barusan.

Lluve kembali berlari menerjang dengan posisi tombak berada mengacung ke belakang. Ketika jaraknya dengan Anad tinggal beberapa langkah. Sekali lagi ia keluarkan jurus andalanya.

"Tornado…!"

Serangan memutar dari Lluve berhasil melukai beberapa brutal namun belum dapat merobohkan satu pun dari mereka. Anad yang baru saja bebas langsung roboh dengan posisi berlutut, namun sigap ia menancapkan pisaunya ke tanah untuk menyanggahnya.

"Sorry nad, kamu ga papa kan..? lukamu.. ?" kata Lluve setelah mendarat tepat di samping Anad.

" Ya… Bukan masalah besar, dengan Soul ballad dari Conquest Lumire, ini akan cepat menutup."

"Oke.. sekarang kamu ga usah banyak gerak dulu.." Ujar Lluve berusaha melindungi Anad.

Wanita berserker itu kembali memasang kuda-kuda, namun tepat di lengan kanannya sekali lagi ia rasakan nyeri yang menusuk dibarengi dengan cairan warna merah yang keluar. Beban field lance yang lumayan berat juga menambah kontraksi otot pada lenganya.

"Sial… lukanya terbuka lagi, gue ga mungkin pakai skill elite lagi.. terlalu beresiko..!" batin Lluve.

"Ga usah di paksain, aku tahu luka di lenganmu kembali terbuka!" suara Anad memecah lamunan Lluve. "Ini pertarungan tim oke? Jangan bahayakan yang lain dengan jatuhnya dirimu, oke..?"

"Tapi kondisimu nad.."

"Oh.. pliss… sejak kapan seorang Berserker jadi penyayang begini?" sindir Anad sembari kembali berdiri dan memasang kuda-kuda.

"Ga salah dong… begini-begini kan feminis juga tau..!"bela Lluve

"PPpppffftt…" mendengar perkataan lluve Anad menahan tawa. "Ya sudah lah, ga usah di perpanjang .. ayo maju dan habisi mereka berlima."

"Kapten Anad reload selesai.." lapor Wiky melalui transmitter.

"Bagus.. lindungi kami dari belakang, kami akan maju."

"Dimengerti."

Anad dan Lluve kembali melakukan maneuver , namun kali ini Anad berada lebih depan dari pada Lluve. Di sisi lain Wiky sudah siap dengan Intense Vulcanya untuk melindungi mereka. Ketika jarak semakin sempit, Anad merasakan sesuatu yang tidak beres. Udara di sekitarnya mulai terasa kering dan panas, ia mendongakkan kepalanya keatas.

Artificial Blazing Star..!

Sebongkah proyektil bulat berpijar terlihat mendekat dari atas kepala mereka.

"Kapten Anad awas ..!" seru Wiky

Menyadari itu adalah sebuah Force api tingkat tinggi, dengan sigap Anad berputar balik dan menerjang tubuh Lluve sehingga membuat tubuh mereka berguling di tanah.

"Anad..! kamu ngapain sih..!?" baru saja Lluve menyelesaikan kalimatnya. Sebuah proyektil bulat raksasa jatuh menimpa lima brutal dihadapan mereka. Menyisakan hawa panas di sekitar tempat jatuhnya.

"Ya… mungkin ledakan itu bisa menjawab pertanyaanmu." Ujar Anad kepada Lluve yang dibuat melongo dengan apa yang terjadi barusan.

"Wiky cari tahu dari mana asal mantra ini.!"

"siap.."

Mata Wiky berusaha mencari dari mantra itu berasal, pandanganya tertuju pada seorang pemuda berambut merah dengan posisi berlutut dan tangan kananya menyentuh bumi. Sedangkan tanganya masih memegang Sickle Staff

" Kapten, di belakang anda..! siapa lelaki itu? apakah dia anggota tim? Saya belum pernah melihatnya.."

Setelah matanya menemukan siapa yang dimaksud Wiky, Anad mencoba untuk berdiri. Sialnya baru saja ia berdiri, lelaki itu langsung merapal sebuah mantra. Serta merta tiga buah lembing api melesat tipis disamping pipi kirinya sontak membuatnya kaget buat main. Walaupun tiga buah benda itu mengeluarkan hawa panas ketika melewatinya, tetap saja Anad merasakan desiran dingin yang menjalar keubun-ubunnya efek dari kaget.

"Devil Tooth Picks..!"

Setelah mengeluarkan mantra aneh tersebut lelaki itu mengacungkan jari telunjuknya seakan memberi isyarat untuk menoleh kebelakang. Anad pun mengikutinya dan melihat tiga lembing api tadi menancap pada dada seekor brutal yang sudah kehilangan lengan kirinya, sebenarnya brutal itu baru bangkit dari jatuhan proyektil bulat berpijar barusan.

"Weeew…!" Ujar Anad sedikit gemetar.

Lelaki berambut merah itu mendekat dengan tatapan sayunya, lalu menempelkan tangan kananya pada dada Anad.

"Siapa kau? Dari mana kau datang!?" Tanya Anad tanpa melakukan perlawanan sedikitpun.

Heat Addict..!

Pertanyaan Anad hanya dijawab dengan sebuah mantra oleh lelaki tersebut. seperti apa yang dialami Yuri, Anad juga merasakan sensasi hangat menjalar keselruh tubuhnya. Kemudian, lelaki itu berjongkok, memegang kepala Lluve dan mengucapkan mantra yang sama. Kedua warrior itu pun sekejap memejamkan matanya, merasakan aliran force hangat mengalir dan memugarkan tubuh mereka

Pada saat yang bersamaan lelaki berambut merah itu menyadari ada sesuatu berbentuk bola dengan sebuah lensa ditengahnya, terbang meliak-liuk seakan memerhatikan gerak gerik mereka. Warna bola itu transparan namun tetap tidak bisa menyembunyikan panas mesin yang ia hasilkan. Maka dari itu lelaki itu membentuk lipatan pada jarinya seperti orang yang ingin menyentil sesuatu kearah bola tersebut.

"Melter Marble..!"

Sesuatu seperti kelereng melesat cepat mengenai Bola berlensa tersebut dan tepat mendarat pada lensanya, membuat benda tersebut meleleh sangking panasnya lalu disertai ledakan pada beberapa detik kemudian.

,,

,,

BBbbbzzzzzzzzzzztttt….BBBbbbzzttttt….. Chiiipzzz

Gambar pada layar yang sudah cukup lama di saksikan oleh Maximus Elims tiba-tiba berubah rusak.

"Seperti itulah kejadian yang dapat di rekam oleh kamera pemantau dungeon , Maximus"

" Baiklah rekaman ini cukup membuatku terkesan .., tapi tunggu sebentar" tangan sang Archon menekan tombol back pada kotak hitam tersebut. Membuat rekamanya berhenti pada gambar seorang pemuda dengan rambut merah.

"Pemuda ini..Aahh.. aku ingat, bukankah dia yang datang terlambat pada sesi pemberangkatan dungeon tadi?"Tanya sang Archon

"Anda benar Maximus" jawab Warchonya

"Haha.. dia pemuda yang bersemangat, tapi bukankah Pemuda ini terpental dari gerbang dungeon?" Tanya sang Archon kembali mengingat kejadian di depan dungeon gate tadi. Sebuah kejadian konyol tentang seorang patriot Bellato yang memaksa masuk dungeon. Kejadian konyol yang akan mengubah jalan hidup si patriot dan juga menjadi asset berharga bagi pihak federasi, bahkan seluruh ras di Novus.

-#######-

Aku, Kau, Kita dan Api

oleh : Chraigh Istoris

Api itu Indah ...

Api itu Marah...

Api itu Penyayang...

Api itu Penghilang...

Dimana ada Api ada pula ranah kehidupan

Dimana ada Api ada pula lubang kehancuran

Aku Api... Kau Juga Api

Kita semua Api...

A/N :

MAAf..! mungkin itu kata pertama yang hatus ane ucapkan pada chapter ini kepada para peminat S.o.R. jujur sorry bangetnih, dikarenakan kegiatan yang menumpuk + tugas mematikan dari para Sensei pengampu matkul, jadi chapter ini sangat melenceng dari ekspektasi penulis...

Dan untuk para penulis yang lain mohon maaf ane belum bisa muncul di kolom review, karena ane bertirakat untuk tidak muncul di kolom review sampe update Ch. 5 muehehehe... jangan bosen ngikuti cerita S.o.R yo sob..! kite baru mau ngupas kulitnye nih hehe..

see you next Chapter..! thx 4 u all..!