Please! Let Me Love You!

Disclaimer: Punya om Masashi Kishimoto! *kesel*

Warning: OOC(banget), gaje, garing, typo, dll.

HAPPY READING, MINNA! XD


Dengan sedikit gontai Neji melangkahkan kaki kedalam rumah. Mengulang kembali kejadian itu. Kejadian buruk yang telah merenggut nyawa ayahnya. Kejadian yang membuat dia sangat membenci keluarga Namikaze..

NEJI's POV

Ayah.. Inikah yang ayah inginkan? Demi melindungi keluarga Hyuuga, benar kan ayah?

Flashback

13 tahun yang lalu dikediaman Hyuuga..

"Ayah, mau kemana?" Tanyaku yang saat itu berusia 6 tahun.

"Ayah pergi untuk urusan bisnis, Neji-kun. Tidak akan lama dan jaga Hinata ya." Pesan ayah, Hizashi Hyuuga.

"Baik ayah!"

"Nah, kita berangkat sekarang, Hizashi?" Tanya seseorang. Seseorang yang dulu kukagumi selain ayah. Pemimpin Namikaze Corp. Namikaze Minato.

"Ya Minato. Ohiya, dimana Kushina-san dan Naruto?" Tanya ayah.

Aku ingat.. Saat itu Naruto baru berusia 2 tahun. Masih terlalu kecil untuk mengenalku.

"Ah, mungkin sedang mengganti popok Naruto." Jawab Minato-jiisan

"Baiklah, kurasa kita harus berangkat sekarang Minato. Kalau tidak, kita akan ketinggalan pesawat." Ujar ayah sambil melirik jam tangannya.

Tiba-tiba Kushina-obasan menghampiri Minato-jiisan.

"Hati-hati ya, sayang." Pesan Kushina-obasan.

"Ya, nanti kamu akan diantar oleh supir keluarga Hyuuga, Deidara-san. Dadah sayang." Balas Minato-jiisan.

"Neji-kun, jaga Naruto juga ya!" Pesan Minato-jiisan sambil tersenyum.

"Baik, Minato-jiisan!" Jawabku.

Mereka pun pergi. Tetapi entah mengapa perasaanku agak gelisah melihat kepergian ayah. Rasanya seperti aku tidak akan bisa melihat ayah untuk selamanya. Tapi kusingkirkan perasaan buruk itu dan hanya berharap semoga tidak terjadi sesuatu pada ayah.

"Iruka-jiisan! Hati-hati ya menyetirnya!" Teriakku pada supir keluarga Namikaze. Iruka Umino.

"Ya, tenang saja." Jawab Iruka-jiisan sambil tersenyum. Senyuman yang sempat membuatku lega

Ya, hanya 'sempat membuatku lega.' Karena yang berita buruk datang setelah itu..

*KRIIIING KRIIING* *klik*

"Halo, apakah benar ini kediaman Hyuuga?" Tanya suara diseberang.

"Iya benar. Saya Hiashi Hyuuga. Ini siapa?" Tanya Hiashi-jiisama.

"Saya dari kepolisian Konoha. Apakah benar Hizashi Hyuuga tinggal disini?" Lanjut polisi itu.

"Ya benar. Apa yang terjadi?" Wajah Hiashi-jiisama terlihat khawatir.

"Mobil yang ditumpangi Hizashi-san mengalami kecelakaan. Satu korban bernama Iruka Umino tewas ditempat. Hizashi-san dan satu orang lagi yang bernama Namikaze Minato sedang menuju rumah sakit Konoha." Jelas polisi tersebut.

"APA! HIZASHI..!" Hiashi-jiisama berteriak.

"Hiashi-jiisama, ada apa?! Ayah kenapa?" Aku bertanya sambil terisak.

"Neji-kun, cepat bersiap . Kita akan kerumah sakit." Hiashi-jiisama tidak menjawab pertanyaanku. Tapi aku tahu, sesuatu yang buruk terjadi pada ayah.

"Ayah.." Tanpa sadar aku menitikkan air mata..

20 menit kemudian, Konoha Public Hospital.

Kulihat Kushina sudah berada disana, didepan resepsionis ditemani oleh beberapa temannya dan tentu saja, Naruto Kecil.

"Kushina-san!" Hiashi-jiisama memanggil Kushina-obasan.

"Hiashi-san!"

"Apakah mereka berdua baik-baik saja?" Tanya Hiashi-jiisama lagi.

"Aku tidak tahu. Mereka baru saja masuk ICU. Kalau sampai Minato.. Aku.. Aku.." Kushina-obasan tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menangis.

"Hiashi-jiisama, Ayah bagaimana? Aku mau bertemu dengan ayah! Ayah dimana?!" Aku bertanya sambil menangis. Aku sangat takut kehilangan Ayah. Ibu sudah pergi meninggalkanku sebelum sempat mengenalku. Aku tak mau kalau harus kehilangan ayah.

"Tenang Neji, aku yakin Hizashi baik-baik saja." Hiashi-jiisama berkata dengan sedikit keraguan.

2 jam kemudian, ruang tunggu rumah sakit..

Seorang dokter keluar dari kamar operasi. Hiashi-jiisama langsung menanyakan keadaan ayah.

"Dokter, bagaimana keadaan Hizashi?"

"Hizashi-san masih belum siuman. Melihat keadaannya sekarang, kita hanya bisa berharap yang terbaik" Kata dokter itu.

"Begitu ya.." Hiashi-jiisama hanya terlihat pasrah.

Dibagian lain rumah sakit..

"Bagaimana keadaan Minato, dokter?" Tanya Kushina-obasan.

"Dia sudah sadar, tetapi dia mengalami patah tulang tangan akibat benturan keras." Jelas dokter itu.

"Begitukah? Syukurlah.." Kushina-obasan tampak sangat lega.

….

..

.

.

"Ambil alat kejut jantung! Cepat!"

"Denyut jantung menurun!"

"SIAL!"

..

.

.

"Kami sudah melakukan yang terbaik. Tetapi, Hizaashi-san tidak dapat tertolong lagi.." Dokter itu berkata sambil menggelengkan kepalanya.

"Bohong kan? Ini bohong?! Ayah masih hidup kan Hiashi-jiisama?! Iya kan?!" Aku bertanya sambil menangis dan hancur perasaanku saat itu.

"Neji.. Aku punya pesan yang diberikan ayahmu.." Kata Hiashi-jiisama. "Lindungilah keluarga Hyuuga, jaga kehormatan Hyuuga. Karena kaulah penerus tahta Hyuuga selanjutnya." Lanjut Hiashi-jiisama lagi.

Aku hanya terdiam.. Ini tidak adil! Kenapa Ayah? Kenapa harus ayah yang pergi? Kenapa Minato-jiisan tidak? Aku tidak terima! Aku benci! Aku benci keluarga Namikaze! Akan kulindungi keluarga Hyuuga dari Namikaze! Agar tidak ada yang bernasib sama dengan ayah.

Flashback end

Ayah, akan kulindungi keluarga Hyuuga. Kau melihatku kan, Ayah?

NEJI's POV END

"Hinata-hime sama, Saya harap anda tidak berhubungan lagi dengan Namikaze itu."

"D-dia hanya teman biasa Neji-niisan. A-aku tidak.."

"Ini demi kebaikan keluarga Hyuuga!" Bentak Neji, memotong kalimat Hinata.

"H-hai, Neji-niisan.." Hinata hampir menangis, ia tidak menyangkan niisan nya akan semarah ini.

….

..

.

.

Keesokan harinya..

Sebuah mobil Sport bewarna jingga dan hitam beriringan memasuki gerbang sekolah. Yang disambut dengan teriakan gadis-gadis KHS.

Naruto dan Sasuke turun dari mobilnya yang semakin disambut dengan teriakan gadis-gadis yang mengagumi ketampanan dua pangeran KHS.

"Naruto-senpaaaaaai!"

"Sasuke-senpaaaaai! Kyaaa!"

Teriakan gadis-gadis KHS menghiasi pagi itu.

Mata Naruto menangkap sosok berambut indigo didekat halaman sekolah. Naruto langsung mengejar sosok itu meninggalkan Sasuke dengan raut wajah kebingungan.

"Hei Hinata. Ohayou!" Naruto menepuk bahu Hinata sambil tersenyum. Hinata, yang melihat senyuman itu, kembali berdesir. Hanya saja desirannya lebih hebat.

'Kenapa aku jadi begini jika didekat Naruto..' Pikir Hinata.

"N-Naruto. O-ohayou." Balas Hinata. Akan tetapi dia teringat akan perkataan Neji-niisan agar tidak mendekati Naruto. Meskipun dia sangat ingin.

Sangat ingin? Bukankah Hinata bilang Naruto hanya teman? Ya, memang hanya teman. Mereka juga baru saja berkenalan. Tetapi perasaan takut pada Neji lebih menguasai Hinata.

"G-gomen, Naruto." Bisik Hinata sambil berlari.

"Hinata, tunggu!" Naruto bingung mengapa Hinata tiba-tiba berlari. Dan entah mengapa itu membuat ia sedih. Sedih? Ya, sedih.

"Hinata.."


Bagaimana Chapter 4-nya? Dichapter ini lebih banyak cerita tentang Neji. Kenapa? Biar tahu kenapa Neji benci sama keluarga Namikaze. XD

Balesin review khusus yang gak login dulu ^^

Ino-chan: Diapa-apain gimana dulu? XD udah update dan makasih udah review! XD
Diane Ungu: Kan Author suka mempermainkan perasaan XD *dilempar sepatu*pengennya sih dibikin deket. Cuma liat nanti ya *sok misterius* XP dan makasih udah review! XD

Thanks to: Ryuuki Kazuto

Mind to another review? :D