¤SAKURA CHERRY BLOSSOMS¤

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Main Pair: Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

Genre: Romance, Supernatural, & Horror (mungkin?)

Warning!: OOC, typos, AU, dan masih banyak kekurangan dalam fic ini. Fic ini murni dari otak fyn. Apabila ada kesamaan cerita, itu hanya kebetulan semata.

-4th Chapter-

"Mimpi Buruk"

Matahari terbit disertai kokokan ayam yang bersahutan pertanda pagi telah datang. Semua orang memulai aktivitasnya masing-masing. Lalu, bagaiman dengan sepasang pengantin baru dalam cerita ini?. Mari kita tengok ke dalam sebuah kamar di salah satu rumah keluarga Uchiha.

Ah, sepertinya belum ada yang beranjak dari alam mimpi. Sakura masih terlelap di atas tempat tidur dengan nyaman, dan Sasuke... tunggu! Dimana Sasuke? Lalu siapa itu yang tengah terlelap diatas futon? Rambut raven yang mencuat ke belakang, Ah, rupanya dia disitu.

Jadi, Sasuke tidur terpisah dengan Sakura? Itu artinya tidak ada first night yang biasa dilakukan oleh pengantin baru. Baguslah! Dengan begitu Fict ini akan tetap ber-rated "T". Eh?

"Ngh..." Sakura melenguh seraya bangkit dari tidurnya. Tangan terentang meregangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur semalaman. Sesekali menguap, lalu ia terdiam. Kesadarannya masih di awang-awang. Belum 100% rupanya.

Kedip

Kedip

Kedip

Ada yang aneh pikirnya. Ini bukan kamarnya bukan juga kasurnya. Otaknya berputar lambat mencoba mengingat apa yang terjadi, mengkilas balik kejadian sebelumnya dan... Bingo!

'Oh iya, aku sudah menikah, dan kamar ini milik Sasuke-san.'

Ia baru menyadari sesuatu. Bukannya semalam ia tertidur di bawah? Kenapa malah terbangun diatas kasur begini?

Tiba-tiba tubuhnya menegang, matanya membelalak, lalu emerald-ya mengintip ke dalam selimut.

"Hah..." Sakura menghela nafas lega. 'Syukurlah, aku masih berpakaian lengkap.' Hei, memangnya apa yang dia pikirkan?

Lalu ia mencari sosok yang telah menjadi suaminya itu. Namun, ternyata tidak ada di sampingnya. Apa dia sudah bangun? Tanyanya dalam hati.

Pertanyaannya terjawab ketika ia melihat seseorang yang masih terlelap dalam balutan selimut di atas futon yang tergelar di lantai. Ya, di sanalah suaminya berada.

Lagi-lagi Sakura bernafas lega. 'Aku masih gadis kan? Dia tidak berbuat macam-macam padaku kan?' tanyanya dalam hati sambil memeluk dirinya sendiri.

"Eeehh… jangan-jangan dia yang memidahkanku ke sini?!" ucapnya pelan.

"Hn, mana mungkin aku membiarkanmu tidur di lantai." Sahut seseoramg yang baru saja terjaga dari tidurnya.

"Eh, Sa, sa, Sasuke…. ──san?" entah kenapa Sakura tergagap dan menatap Sasuke yang baru bangun itu dengan pandangan horror.

"Hn."

Sasuke beranjak dari futon, lalu membuka tirai jendela, dan ruangan pun berubah menjadi terang karena cahaya matahari yang masuk menembus jendela.

"Lalu, kenapa kau tidak membangunkanku? Kalau kau membangunkanku aku pasti akan memilih tidur di futon. Ini kan ranjangmu." Ucap Sakura.

"Sudah, tapi kau tidur seperti orang mati." Sasuke merenggangkan ototnya yang kaku. Ucapan suaminya itu membuatnya kesal.

"Apa maksudmu? Kalau begitu, kenapa kau memindahkanku?" Tanya Sakura. Nada suaranya sedikit meninggi. Sasuke yang berdiri membelakangi Sakura hanya memiringkan kepala dan meliriknyasekilas.

"Kau tahu maksudku."

"Lalu, apa saja yang telah kau lakukan padaku saat ku tertidur, hah?" Tanya Sakura menatap penuh selidik pada Sasuke. Uchiha bungsu itu menghadap Sakura dengan tangan bersedekap, oh jangan lupa ditambah dengan tatapan angkuh khas Uchiha.

"Menurutmu?" Sasuke menyeringai, dan itu membuat gadis yang sebelumnya bermarga Haruno itu merinding. Benar-benar mencurigakan, pikirnya. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai suaminya itu. Gadis itu menarik selimutnya sebatas dada lalu bergeser mundeur dengan wajah panik.

"Kau..." Sakura menyipitkan matanya ke arah Sasuke. Sementara, pria yang ditatap Sakura itu berdiri angkuh di depannya dengan seringai tipis di bibir, menunggu sang istri melanjutkan kata-katanya.

"Mesum!" tutur Sakura. Emeraldnya memandang horror Sasuke. Sementara bungsu Uchiha itu mendengus mendengarnya.

"Kau pikir—" ucapan Sasuke menggantung dan itu membuat Sakura penasaran. Mata obsidian itu menatap intens iris sewarna zamrud milik Sakura. Tatapan yang cukup tajam untuk dilayangkan pada seorang gadis macam Sakura. Perlahan ia melangkah ke arah Sakura yang masih terduduk diatas kasur dengan selimut menyelimuti sebatas perut. Sakura jadi was was.

"—Aku tertarik padamu, hm?" Sakura terkejut mendengar ucapan suaminya itu dan— sejak kapan wajahnya sedekat itu?. Sakura memundurkan kepalanya gugup. Ia menelan ludah.

'Ma-mau apa dia?' pikir Sakura.

Hembusan napas sang suami menerpa wajahnya. Sedikit lagi hidung mereka saling menempelm namun tiba-tiba...

"Ohayou." Sasuke tersenyum tulus.

BLUSH

"Me-me—MESUM!"

Sakura mendorong Sasuke kuat-kuat hingga pria itu menjauh darinya. Lalau ia bangkit dari tempat tidurnya. Setelah itu berlari dengan cepat ke kamar mandi. Namun sayang belum juga sampai di kamar mandi, kesialan menghampirinya.

JDUGG

BRUK

"I-itte..." ringis kesakitan meluncur dari bibir gadis itu. Penyebabnya adalah dirinya sendiri yang terlalu ceroboh. Saking terburu-burunya untuk melarikan diri dari sang suami, kaki Sakura tersangkut bagian bawah kimononya. Ironisnya lagi sebelum jatuh tertarik gravitasi, keningnya yang 'istimewa' itu membentur pintu kamar mandi yang berdiri kokoh di hadapannya. Alhasil, sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

"Dasar ceroboh!" ledek Sasuke sambil mendekati istrinya berniat untuk membantunya untuk berdiri. Namun, tangannya malah ditepis oleh putri keluarga Haruno itu.

"Jangan sentuh aku!" bentaknya kesal. Ia menatap tajam Sasuke yang menatapnya datar.

'Cih, menyebalkan! Aku benci dia!' gerutu Sakura dalam hati. Dengan langkah menghentak-hentak ia masuk ke kamar mandi lalu menutup kamar mandi dengan kasar.

BRAKKK

Sasuke hanya mengangkat bahu tak mengerti dengan mood istriya itu.

*~ Fynlicht~*

Aktivitas pagi di rumah utama keluarga Uchiha tidak beda jauh dengan kegiatan pagi Sakura di rumah bersama ayah dan ibunya. Sarapan pagi yang biasanya ia lewatkan bersama kedua orang tua kini berganti menjadi sarapan pagi bersama suami dan mertua. Tidak masalah sih… hanya saja aktivitas bersama keluarga barunya itu membuat Sakura harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ada beberapa hal yang berbeda dengan peraturan rumahnya. Ngomong-ngomong keluarga Uchiha benar-benar memegang teguh tradisi. Banyak kewajiban, banyak juga larangan. Salah satunya adalah tidak boleh berbincang di meja makan. Padahal biasanya, waktu makan bersama adalah waktu yang tepat bagi Sakura untuk bercengkerama dengan orang tuanya. Tidak ada larangan. Semua berjalan seperti keluarga harmonis seharusnya. di kediaman Uchiha ini, hanya Mikoto yang membuat Sakura merasa lebih tenang. Paling tidak Mikoto tidaklah sekaku dan sedingin Fugaku atau Sasuke.

Setelah aktivitas sarapan yang penuh keheningan, Sakura membantu ibu mertuanya membersihkan meja makan. Kemudian memenuhi perintah ibu mertua untuk mengantar kue buatannya pada kakak ipar dan ibunya. Tujuan pertamanya ke rumah kakak ipar yang letaknya tidak jauh dari rumah utama. Hanya berjarak beberapa blok saja. Sepanjang jalan, tidak sedikit orang-orang yang mengucapkan selamat atas pernikahannya. Tentu saja Sakura menanggapinya dengan ucapan terimakasih serta senyum manis yang terpaksa ia sunggingkan.

Hingga akhirnya gadis merah jambu itu sampai di kediaman Itachi. Rumah sederhana yang ditempati oleh Itachi beserta istrinya. Ya, Itachi sudah berkeluarga. Bahkan sudah dikaruniai seorang putra.

"Sakura."

Seorang wanita cantik bersurai hitam yang membukakan pintu. Terlihat anggun dan ramah.

"A,ano… apa Itachi-nii ada?" Tanya Sakura.

"Itachi-kun? A, dia baru saja pergi untuk menjalankan misi," jawab wanita bersurai hitam itu.

"Oh, kalau begitu…ini." Sakura menyerahkan kotak kue pada wanita itu.

"Apa ini?" tanyanya.

"Kue buatan Kaa-san. Beliau menyuruhku mengantarkannya pada Itachi-nii," jawab Sakura.

"Oh, kue buatan kaa-san ya? Terimakasih…" wanita itu tersenyum manis. "Kenalkan, aku Fuyuki Uchiha. Kemarin kita belum sempat bertemu, kan?"

"Fuyuki-nee, apa kau… istri Itachi-nii?" Tanya Sakura to the point. Yuki menjawabnya dengan anggukan. Semburat merah tipis muncul di pipinya.

"Ayo, masuklah dulu, tidak enak ngobrol di depan pintu," kata Yuki mempersilahkan adik iparnya itu untuk masuk.

"Ah, tidak perlu. Aku masih harus mengantar ini pada ibuku," tolak Sakura sambil menunjukkan kotak kue pada yuki.

"Begitu? Sayang sekali. Besok mampirlah lagi," ucap Yuki.

"tentu saja. Kalau begitu aku pamit dulu. Jaa… Nee-chan."

"Ya, hati-hati."

*~ Fynlicht~*

Sakura berlari menuju rumah orang tuanya. Meskipun baru sehari meninggalkan rumah, ia sudah merasakan kerinduan mendalam pada ayah ibunya. Terimakasih kepada Mikoto yang menyuruhnya untuk mengantarkan kue pada ibunya. Karena jarak antara pusat kota ke rumahnya cukup jauh, Sakura baru sampai ketika matahari sudah kembali ke peraduannya. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk ke dalam rumahnya.

"Tadaima…" Seru Sakura semangat. Wajah yang menyiratkan kegembiraan itu berubah ketika melihat suasana rumah yang begitu gelap. Kenapa rumahnya gelap sekali? apa karena lampu belum dinyalakan?

DEG

Entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.

"Ayah."

Hening.

"Ibu."

Sepi.

Sakura menyusuri rumah mencari rumah mencari keberadaan orang tuanya. Tapi, kenapa rumahnya kosong? Kemana ayah dan ibu? Beribu pertanyaan muncul di benaknya. Langkah Sakura terhenti di depan kamar orang tuanya. Ah, benar juga. Ia belum memeriksa kamar orang tuanya. Mungkin saja mereka di dalam.

"Ayah, Ibu," serunya seraya mengetuk pintu kamar. "Apa kalian di dalam?" panggilannya takmendapat jawaban. Kalau mereka tidak ada di dalam, kenapa pintu kamar ini terkunci?

"Ayah… Ibu… Sakura datang." Sakura mengetuk pintu dengan cukup keras. Berharap ada jawaban dari dalam.

"Sakura— Ja-ngan! Jangan masuk!" sahutan ayahnya dari dalm membuat Sakura sedikit lega. Tapi kenapa suaranya terdengar seperti tengah menahan sesuatu?

"Ayah, ada apa?" tanya Sakura khawatir. Sungguh, kali ini perasaannya benar-benartidak enak. Rasanya hawa dalam rumah ini berbeda. Tidak seperti biasanya. Terasa lebih— mencekam?

"Jangan! JANGAN MASUK, NAK!" Kali ini teriakan ibunya yang terdengar dari dalam.

"Ibu? Ada apa?" Sakura menggedor pintu berkali-kali. Dia mencoba mendobrak pintu karena merasa ayah dan ibunya dalam bahaya.

"SAKURA, LARI! PERGI DARI SINI!" lagi-lagi orang tuanya berteriak. 'kenapa menyuruhku lari?' pikirnya. Oh, ini tidak baik. Sakura bisa merasakan aura gelap dari dalam kamar. Dia mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu itu. Dengan chakra terpusat pada kakinya, lalu—

BRAKKK

CRASH

"TIDAAAAKKKK!"

PLUK. PLUK. PLUK

*~ Fynlicht~*

Sakura masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Kalau diingat-ingat setelah mendobrak pintu, dia langsung memasuki kamar dan disambut dengan cairan hangat yang menerpa wajah dan tubuhnya bak tetesan air hujan. Bersamaan dengan itu terdengar jeritan ibunya.

Gadis musim semi itu meraba pipinya yang terkena cipratan cairan hangat tadi. Lalu menatap jemari tangannya. Cairan merah pekat mengotori tangannya. Emeraldnya membeliak.

'Da-darah?'

Bau amis darah memeuhi indra penciumannya. Keterkejutannya bertambah ketika melihat anggota tubuh yang sudah tidak utuh lagi tergeletak tak jauh dari di depannya. Meskipun sudah tidak utuh lagi, namun Sakura mengenalinya. Bagaimana mungkin dia lupa dengan postur tubuh ayahnya sendiri? Ya, tubuh ayahnya sudah tidak utuh lagi. Hancur, hanya menyisakan tubuh tanpa kepala, lengan dan kaki. Sakura menutup mulut dengan telapak tangannya.

"A, ayah…" pekikan kecil lolos dari bibirnya. Dia berlari kea rah tubuh sang ayah.

"Oh, jadi… pak tua ini ayahmu?"

Seorang pria gempal dan besar yang berdiri di hadapannya mengalihkan perhatian Sakura. Pria gendut dan tinggi itu hanya mengenakan celana sebatas betis dan tubuhnya dibalut rompi hitam. Dia menyeringai ke arah Sakura.

"Kakak, kau terlalu kejam."

"Seperti kau tidak saja."

"Kheh, setidaknya aku mendapatkan jantung wanita ini. Lihat! Kau menghancurkan makananmu. Jangan salahkan aku kalau kau tidak mendapat mangsa lagi nanti," ucap pria yang tidak kalah besar dan gendut dari pria di hadapan Sakura. Dia tengah melahap seonggok jantung yang ada dalam genggamannya. Membuat Sakura mual.

Hal itu membuat Sakura takut. Dua orang−ah bukan— dua makhluk dihadapannya ini yang telah membunuh orang tuanya dengan sadis. Sebenarnya, mereka ini siapa? —bukan— sebenarnya mereka itu apa? Kalau memang yokai kenapa auranya berbeda? Tak seperti yokai justru seperti manuia biasa.

BRUKK

Sakura terduduk lemas diatas tatami. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Ia menatap nanar tubuh ayah dan ibunya yang sudah tak bernyawa.

"Ah, tenang saja! Aku tidak akan menyalahkanmu, karena mangsa baru sudah tersaji dihadapanku. Setidaknya, gadis ini terlihat lebih enak dari pada pak tua itu."

Pria gempal yang dipanggil 'kakak' itu menghampiri Sakura membuat gadis itu menatap nyalang kea rah pria tinggi besar yang jelas bukan manusia itu. Pria itu tersenyum sinis.

"Siapan kalian? Kenapa… kenapa membunuh ayah dan ibuku? KENAPA?"

Gadis yang sebelumnya bermarga Haruno itu bangkit lalu melayangkan tinjunya ke arah perut sang pria gempal. Namun, tidak ada perubahan. Dia tetap berdiri tegak tak bergeser secenti pun membuat Sakura terkejut.

"Wah, wah… melawan rupanya."

GREPP

Pria itu mencekik leher Sakura lalu mengangkatnya tinggi-tinggi hingga sejajar dengan wajahnya. Sakura mencoba melepaskan cengkraman itu. Kakinya yang menggantung menendang udara kosong. Wajahnya memerah karena sulit bernapas.

"Kh…Ukh…"

"kau ingin tau siapa kami? Baik, akan kuberitahu. Anggap saja sebagai hadiah sebelum kau menyusul orang tuamu. Kami adalah yokai bersaudara—"

'Yokai? Tapi kenapa—'

"Asal kau tau, kami tidak seperti yokai biasa. Kami bisa menyembunyikan aura yokai kami. Fufu.. kau pikir kami tidak bisa menembus kekkai yang menyelubungi desa ini? Kami tidak sebodoh itu!"

Cengkraman tangan besar itu semakin mengetat, membuat Sakura kesulitan bernapas. Matanya berkaca-kaca. Ia ingin menangis.

"Sssshhhh…. Kau tak perlu menangis! Tenang saja! Aku akan segera mempertemukan kau dengan orang tuamu di alam sana!"

BRAKKKK

Yokai itu melempaar tubuh Sakura ke sudut ruangan membuat gadis itu mengerang kesakitan. Lalu, ia mencoba bangkit. Namun, kepalanya terasa pening bukan main. Sehingga hanya bisa bersandar lemah pada dinding di belakangnya.

"Tuh kan, kak! Kau terlalu kasar! Dia wanita loh! Seharusnya kau memperlakukannya dengan baik," ucap yokai gempal yang satunya lagi.

"Urusai! Habiskan saja makananmu! Aku akan— sedikit bermain dengan gadis ini."

"Hai… Hai…. Terserah kakak saja." Yokai itu duduk santai diatas tatami menunggu tontonan apa yang akan kakaknya itu sajikan. Seringai lebar menghiasai wajahnya.

Sementara itu, di sudut kamar, pandangan Sakura tidak focus. Kalut melanda dirinya. Secara bergantian, ia memandang tubuh orang tuanya lalu ke yokai gempal ysng berjalan ke arahnya.

Marah. Sedih. Takut.

Berbagai emosi terpancara dari sorot matanya.

'Ayah… ibu….' Tangan Sakura terkepal erat di sisi tubuhnya.

Gadis Onmyouji itu bangkit. Lalu menatap benci ke arah sang yokai.

"Ow, masih bisa berdiri rupanya…" ucap yokai iitu meremehkan. Dengan gerakan cepat Sakura menerjang yokai itu.

DUAKKK

*~ Fynlicht~*

Kantor Hokage

"Ada yokai yag menyusup ke dalam desa. Dua yokai. Sepertinya bukan yokai sembarangan karena bisa menembus kekkai yang menyelubungi Konoha."

Tsunade memerintahkan dua orang Anbu untuk memusnahkan yokai yang menyusup ke dalam desa. Dua orang Anbu yang memakai topeng itu berlutut di hadapan Tsunade, mendengarkan dengan seksama penjelasan sang Hokage.

"Mereka ada di sebuah rumah dekat perbatasan sebelah timur. Cepat bereskan mereka sebelum ada korban!"

"Osh!" setelah itu, dua anbu tersebut menghilang.

Tsunade memutar kursi menghadap jendela besar yang menampakkan rumah-rumah penduduk Konoha. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Bulan tertutup awan mendung ang akan menumpahkan hujan. Gemuruh mulai terdengar dari atas sana. Kilatan cahaya yang berkedip dibalik awan mengantarkan petir menggelegar.

"Semoga ini bukan pertanda buruk," gumam Tsunade. Shizune menatapnya bingung.

*~ Fynlicht~*

Kediaman Fugaku di Distrik Uchiha

"Sudah malam begini kenapa Sakura belum kembali juga?"

Mikoto memandang keluar jendela dengan perasaan gelisah. Ya, gelisah, karena menantunya belum kembali juga.

"Memangnya dia kemana?" tanya Fugaku.

"Siang tadi aku, aku meyuruhnya mengantar kue pada Mebuki-san dan sampai sekarang Sakura belum kembali juga," ucap Fugaku yang kini mondar-mandir di hadapan Fugaku.

"Tenanglah… mungkin saja dia menginap disana. Tidak perlu khawatir seperti itu. lagipula Sasuke juga belum pulang. Bisa jadi Sakura sedang bersama Sasuke." Fugaku kembali menyesap ocha hangat buatan Mikoto.

"Tapi…."

"Sudahlah… Sakura pasti kembali."

Fugaku menghampiri Mikoto dan membimbingnya untuk duduk. Mikoto mencoba untuk mempercayai perkataan suaminya itu. ia menghela napas panjang berharap kekhawatirannya yang berlebihan itu menghilang. Namun, entah kenapa perasaannya benar-benar tidak enak. Dan pusat kekhawatirannya itu tertuju pada Sakura. Ya, hanya Sakura.

"Tadaima."

"Okaerinasai, ara? Sasuke?"

*~ Fynlicht~*

Ck, benar-benar merepotkan. Padahal dia pikir bisa beristirahat dengan tenang di rumah karena baru saja berlatih bersama si Dobe kepala Durian itu. namun, sepertinya Kami-sama belum mengijinkan.

Bayangannya untuk berendam di dalam ofuro lalu tidur lebih awal sepertinya harus dihapuskan. Karena Okaa-san tercintanya menyuruh ia pergi ke rumah mertuanya untuk memastikan kalau istrinya baik-baik saja. Yang benar saja? Dia baru tau kalau ibunya memiliki sikap berlebihan seperti itu. padahal sudah jelas 'kan kalau Sakura pasti baik-baik saja. Apalagi berada dirumah orang tuanya sendiri. Benar-benar merepotkan. Benar-benar aneh.

Walaupun sebenarnya Sasuke keberatan, tetap saja ia menuruti perintah ibunya itu. Dan— disinilah ia. Melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Berlari menmbus kegelapan malam menuju rumah mertua untuk bertemu istrinya, Sakura.

"Pergilah ke rumah Mebuki-san dan Kizashi-san! Menginaplah disana! Mungkin Sakura tidak bisa pulang karena hari sudah gelap. Ah, pastikan Sakura dalam keadaan baik-baik saja. Ibu punya firasat buruk. Tolong ya, Sasuke! Kau kan suaminya…"

Sasuke kembali mengingat ucapan ibunya itu. dan sejujurnya dari tadi ada yang mengganggu pikirannya. Bukan karena ia gagal beristirahat dengan santai. Bukan pula karena perintah ibunya. Tapi karena kata-kata ibunya sebelum Sasuke pergi.

"Ibu punya firasat buruk mengenai Sakura."

Mungkin itu kata-kata yang wajar diucapkan seorang ibu yang khawatir akan keadaan anaknya yang tak kunjung pulang. Tapi tidak bagi Mikoto. Sasuke seolah ikut merasakan kecemasan yang dirasakan sang ibu. Bukan apa-apa, tapi karena kenyataanya selama ini firasat Mikoto tak pernah meleset.

"Sakura…."

*~ Fynlicht~*

"Khu…. Khu… dengan begini, kau tidak bisa bergerak lagi!"

"Uugh.. Lepasakan, Brengsek!"

Sakura merintih seraya membentak yokai yang menindih tubuhnya. Ia mengumpat kesal karena dari tadi semua perlawanannya sia-sia. Yokai gempal ini jauh lebih kuat dari Sakura. Apalagi, saat ini ia tidak membawa kertas mantra atau apapun yang bisa memusnahkan yokai ini.

PPLAAAKK

Tamparan keras dilakukan oleh yokai itu lagi, membuat sudut bibir Sakura berdarah.

"Ck, benar-vbenara mangsa yang merepotkan!"

"Kenapa tidak langsung kau makan saja, kak?"

"Aku masih ingin bermain dengan gadis ini."

Pandangan Sakura berubah horror. Apa yang yokai sialan ini akan lakukan? Pasti bukan perlakuan baik mengingat luka-luka yang telah Sakura terima.

"Apa maumu, hah?" jerit Sakura panik ketika tangan yokai itu mencoba melepas ikatan obi kimono-nya. Seringai lebar terukir di bibirnya.

"Menurutmu?" ucapnya terkekeh.

Sakura semakin takut. Ikatan obi kimononya berhasil dilepas. Gadis yang baru saja menyandang marga Uchiha itu mencoba berontak. Tapi tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan. Lutut besar yokai itu menindih tulang kering Sakura. Membuat gadis itu mersakan sakit yang teramat sangat. Kalau seperti itu terus tulang keringnya bisa patah mengingat ukuran tubuh sang yokai yang besar itu.

Dan dari tadi kedua tangannya dicengkeram erat oleh tangan kiri yokai itu. sementara tangan kanannya sibuk membuka lapisan kimono yang membalut tubuh Sakura.

"Ti-tidak! Hentikan! Lepas!" teriaknya keras. Tubuh gadis itu hanya bisa mengeliat tak suka atas perlakuan yokai gempal tersebut.

"Kubilang DIAM! Kau tidak perlu takut, aku akan memberikan surge dunia sebelum kau pergi kea lam sana. Bagaimana, hm? Kau pasti akan suka." Yokai itu menyeringai ke arah Sakura. Ucapnnya membuat gadis itu semakin takut.

Apa-apaan dia? Memberikan surge dunia katanya? Jangan bercanda! Mana mau Sakura dierlakukan seperti itu. apalagi oleh yokai gempal, jelek, dan brengsek ini. Tidak bisa dibiarkan. Suaminya saja belum menyentuhnya. Tidak sudi kalau kehormatannya harus diambil oleh yokai. Sakura tidak sudi!

"Puih… jangan sentuh aku, BRENGSEK!"

"Ggggrrrr…. KAUU! Dasar gadis kurang ajar!"

KRAK

"KYYYAAAA." Sakura menjerit sejadi-jadinya ketika yokai itu mencengkeram tangannya erat. Terlalu kencang malah. Sampai dia bisa emndengar suara tulangnya yang patah atau remuk mungkin.

Yokai itu tersulut amarah karena Sakura eludahi wajahnya. Setelahnya, makhluk itu semakin bringas untuk menelanjangi Sakura. Satu persatu lapisan kimono yang Sakura kenakan tersingkap. Istri dari bungsu Uchiha itu sudah tidak berdaya tak bisa berkutik. Tatapannya kosong memandang jasad ibunya yang terbaring di sampingnya. Gadis itu sudah tidak kuat menahan sakit di sekujur tubuhnya. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya nanti. Tenggorokannya terasa sakit karena terus menjerit dan berteriak.

Namun, jauh di lubuk hatinya ia berharap ada yang akan datang menolongnya. Tapi siapa? Adakah seseorang yang sadar kalau dirinya dalam bahaya? Sepertinya tidak. Tersenyum miris. Benar-benar ironis. Padahal baru kemarin orang tuanya merasakan kebahagiaan karena putri semata wayangnya menikah dengan seorang Uchiha. Padahal, kemarin ibunya berkata kalau Sakura akan bahagia. Nyatanya semua berkebalikan dengan ucapan manis sang ibu.

Sakura memejamkan mata. Mencoba menenangkan diri. Bolehkah dia berharap akan ada yang datang menolongnya? Bolehkah dia berharap Sasuke akan datang? Bolehkah dia berharap kalau semua ini hanya mimpi?

"Sa—suke," gumamnya terbata.

"Kak, ada yang datang!"

"Cih, pengganggu!"

Kedua yokai gempal itu tiba-tiba menghilang bersamaan dengan munculnya tiga orang ke dalam ruangan tersebut.

"Kuso! Kita terlambat!" salah satu Anbu diantara tiga orang itu mengumpat.

Dan salah seorang lagi menghampiri Sakura yang tergeletak tak berdaya. Pria itu mengangkat punggung Sakura kepala dengan surai merah muda ke dada bidangnya.

"Sakura…" ucapnya lembut dengan menepuk pipi Sakura pelan. Sakura yang pada dasarnya masih sadar membuka mata dan melihat pria yang ternyata suaminya itu tengah menatapnya khawatir. Gadis itu tersenyum tipis. Ia bersyukur harapannya terkabul. Rasa lega memenuhi rongga dadanya. Sebelum Sakura benar-benar kehilangan kesadaran, gadis itu berbisik lirih.

"Sa-suke. Kumohon… bangunkan aku dari mimpi buruk ini."

Sasuke teretegun mendengarnya.

"Sayangnya, ini bukan mimpi," gumam Sasuke, sambil merengkuh istrinya lembut dan memasangkan kimononya lagi.

~ToBeCon~

A/N

Fyn tau, kata maaf pun percuma. Demi apa ini fic ngaretnya parah banget! Tapi tetep Fyn minta maaf atas keterlambatan update fic ini, *dogeza*

Terima kasih buat yang udah review dan udah mau nunggu kelanjutan fic ini. Semoga readers-tachi bisa memaklumi Fyn yang emang ga bisa buat update cepet. Yang jelas, fic ini akan tetap berlanjut kok. Soalnya draft udah ada tinggal dikelarin aja.

Ok, berkenan Review?

See you next chapter