Change : After the Arrival of My Brother
Drrrttt
Jam weker berbunyi. Halilintar terbangun akan hal tersebut. Ia meraih jam itu dan mematikannya. Kemudian mendudukkan diri di tepi kasur- mengumpulkan semua kesadarannya sebelum memulai rutinitas.
Direnggangkan sedikit otot-otot tangan yang merasa kaku. Lalu mulai bangkit- berjalan menuju pintu. Sesekali ia menguap, tanda masih tersisanya rasa kantuk.
CKLEK
Ia telah membuka pintu kamarnya. Namun bukannya beranjak pergi ke kamar mandi, ia malah mematung disana. Terpaku akan sosok sang adik- Air yang juga baru saja membuka pintu kamar. Perlu diketahui kamar Halilintar dan Air saling berhadapan.
Tak ada pembicaraan, hanya saling menatap dalam diam. Lalu tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka dari sebelah kamar Air.
"A-Apa?"
Taufan muncul dengan raut wajah kebingungan sebab begitu membuka pintu ia malah langsung jadi pusat perhatian kakak dan adiknya.
Ia menyengir canggung karena pertanyaannya tadi tidak mendapat respon apapun dari Halilintar dan Air. Bibirnya juga terasa kelu untuk berbicara.
"Masih pagi udah pada bengong kalau kesambet baru tahu rasa." Celetuk Api tiba-tiba.
Semua sontak menatap Api yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu kamar sendiri. Api mendengus lalu berjalan melewati ketiganya dengan cuek. Sementara Halilintar, Taufan dan Air masih melongo.
Entah kenapa suasana pagi ini sedikit berbeda…
-0000-
Chapter 4 : Pemuda berkacamata dan Siswa baru Culun ?
"Kenapa hari ini aku sial sekali, huh?"
Sepanjang jalan Air tak henti-hentinya menggerutu. Wajahnya penuh buliran keringat, ia sudah sangat kelelahan sekarang. Walau semua berawal karena kebodohannya yang lupa membawa buku tulis Matematika. Kalau saja pelajaran tersebut tidak ada tugas rumah yang harus dikumpulkan, ia tak perlu repot-repot kembali pulang.
Masalahnya… ada PR yang harus dikumpulkan hari ini juga. Jadi… beginilah nasibnya. Belum lagi lokasi dari rumah ke sekolah cukup jauh.
Inginnya berlari biar cepat sampai datang ke sekolah. Namun… saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.50. Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi dan dia… masih sangat jauh dari sekolah. Berlari pun percuma, dia bakal telat juga dan berakhir dengan mendapat hukuman.
"Engga perlu sampai lari juga Tio!"
Air mendadak menghentikan langkah saat…
"Kita telat Yude! Kalau dimarahi guru bagaimana?!"
"Panggil aku kakak bodoh!"
"Kita seumuran tahu, malas ah manggil kaka."
… melihat sepasang saudara kembar itu melintas di hadapannya. Seketika ia merasakan suatu perasaan…
"Perasaan apa ini?"
Ia mulai membayangkan wajah kakak-kakaknya saat pergi bersama dulu. Halilintar dan Taufan yang selalu saja bertengkar, berkat keusilan Taufan. Lalu Api yang terlihat senang dan malah mendukung aksi jahil Taufan. Lalu ia yang harus berinisiatif memisahkan keduanya, kalau tak perang akan terus berlanjut.
Perasaan ini… mungkinkah…
"Iri… Aku iri melihat kakak-beradik itu ya? Rasanya aku ingin merasakan keakraban seperti itu lagi. Aku … kangen…"
CKITTT
Air tersentak saat mendengar sebuah bunyi di arah belakangnya. Ia tak tahu pasti apa itu makanya dengan segera ia membalikkan tubuh ke belakang.
Iris biru terang nya itu melihat seseorang yang sedang berdiri dan membenarkan sepeda yang terjatuh. Ia hanya memandangi tanpa niatan untuk bersuara sampai akhirnya orang tersebut menegurnya.
"Apa kau tidak apa-apa?"
"Hah?"
Air melongo tak begitu paham dengan maksud orang di depannya ini. Ia mengamati ciri-ciri orang tersebut, rambut hitam legam pendek, mengenakan kaos putih yang terlapisi kemeja hitam tak terkancing. Lalu celana jeans hitam serta sepatu skets warna hitam strip putih. Terlihat simple namun trendy. Apalagi ditambah kacamata hitam yang dikenakan orang itu.
Air mengira orang tersebut seumuran dengannya hanya saja sosok itu lebih tinggi sedikit darinya. Hanya saja sikapnya terlihat ramah dan agak dewasa?
"Tadi aku hampir saja menabrakmu. Untung saja aku langsung membanting diri ke kiri dan akhirnya aku terjatuh hehehe. Kau tidak apa-apa kan? Tidak terkena apapun." Air mengangguk meski masih kebingungan.
Tanpa sepengetahuan Air, sosok tersebut menatapnya dari bawah sampai atas secara bergantian. Lalu mulai tersenyum.
"Kau… murid SMP ya?"
"Iya, aku- ASTAGA AKU LUPA!" Teriak Air mendadak histeris. Orang itu spontan menutup telinganya.
"Err...Kenapa kau tiba-tiba teriak begitu?"
"Aku terlambat…"
Jawaban singkat plus wajah datar Air membuat orang tersebut sweatdrop. Tak mau memperdulikan orang itu, Air memilih untuk kembali berjalan. Sudah berapa banyak ia menyia-nyiakan waktu hanya untuk meladeni orang yang tak dikenal?
"Mau ku antar ke sekolahmu?"
Air yang masih berjalan menengok ke sebelahnya. Ternyata sosok itu mengikutinya sembari menakki sepeda. Ia mulai melirik tempat duduk di belakang sepeda tersebut. Mulai menimbang apakah ia harus menerima tawaran itu atau tidak.
"Hei tidur ya?"
What the-
Air memandangi sosok itu tanpa ada ekspresi sama sekali. Agak kesal juga karena orang itu menanyakan hal bodoh kepadanya. Sudah tahu ia sedang berjalan, mata terbuka dan ia barusan bicara. Masa ia sedang tidur, yang benar saja.
"Enggak. Aku cuma pingsan. Cepat antar aku ke sekolah." Sahutnya cuek. Sedikit melawak.
Lagipula ia benar-benar butuh tumpangan untuk ke sekolah, itu sih kalau tidak mau sampai terlambat banget. Air pun langsung duduk di belakang dengan seenaknya.
"Baiklah, pandu aku ke sekolahmu ya."
"Iya."
Dalam hati Air terus menggerutu karena orang yang memboncengnya ini terlalu banyak bicara. Merepotkan.
-00000-
"Kalian tahu besok akan ada…"
Taufan yang baru masuk ke kelas seketika langsung mempertajam pendengarannya. Kalau tak salah tadi ia mendengar….
"Hei ada info apa sih, kok seru banget?" Tanyanya pada siswi-siswi yang sedang berkumpul. Rasa ingin tahunya mendadak tinggi.
"Aku baru saja ke ruang guru dan mendengar kalau besok akan ada murid baru di kelas kita."
… ah ternyata pendengarannya tak salah.
"Murid baru? Seperti apa rupanya?" Tanya Taufan lagi.
"Tak tahu lah, wali kelas kita tak bagi infonya secara lengkap."
"Oh begitu. Thanks ya infonya!"
Taufan menarik diri dari gerombolan siswi itu. Ia lebih memilih untuk cepat-cepat duduk di kursinya. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
-0000-
"Kita sudah sampai…"
Sosok itu segera menghentikan laju sepeda ketika sudah tiba di depan gerbang sebuah sekolah. Air yang berada di belakang lantas segera turun, sementara sosok itu tengah memperhatikan bangunan sekolah di depannya.
"Jadi ini sekolahmu ya…"
"Kenapa?" Tanya Air sedikit curiga.
"Aku hanya bergumam saja. Memangnya tak boleh?"
"Hm… Terserah."
Tanpa mengucapkan kata 'terima kasih', Air melesat begitu saja menuju gerbang sekolah. Berbarengan dengan itu bel masuk berbunyi. Sementara sosok yang mengantarnya tadi masih terdiam disana mengamati punggung Air. Sedetik kemudian ia tersenyum lalu mulai mengayuh sepedanya dan pergi dari tempat itu.
-0000-
"Hah…"
Helaan napas keluar dari mulut Api. Matanya menatapi awan-awan stratus yang menghiasi langit biru cerah itu.
Dipejamkan matanya perlahan, ia nikmati hembusan angin yang masuk melalui celah jendela. Ia kembali mengingat hal tadi pagi. Dimana ia menceletuk sekali dan pergi mandi.
Hahaha… sungguh baginya itu adalah sebuah perkembangan. Biasanya ia tak pernah sedikitpun berkomentar hal tidak penting pada saudara-saudaranya. Ya tak pernah sekalipun semenjak Ibu Tomoe tiada.
"Hah…"
Ia memijit dahinya yang terasa pening. Semalam memang ia pulang larut malam lagi. Kebiasaannya semenjak masuk SMP. Hal tersebut hanyalah pelampiasan karena tak tahan dengan suasana senyap di rumah. Belum lagi mendengar isak tangis Air, walau tidak hampir setiap hari.
-0000-
"Sebuah perusahaan mampu menjual produknya sebanyak ( 2000 – 10 x ) unit setiap bulannya…"
Sang Guru Matematika sedang memberikan contoh soal kepada seluruh murid. Tangan yang memegang kapur itu mulai mencoret-coret rumus di papan tulis. Murid-Murid menyimak dengan penuh khidmat. Terkecuali Halilintar.
Tangan yang menopang dagu dengan pandangan mengarah keluar jendela. Ia sungguh merasa bosan sekarang. Tidak tahan dengan kejenuhan ini, ia mulai mengangkat tangan.
"Ada apa Halilintar?" Tanya Guru tersebut.
"Izin ke toilet Pak."
"Jangan lama-lama."
Halilintar mengangguk. Lalu segera bangun dan melesat keluar kelas. Sebenarnya ingin ke toilet hanyalah bualan semata. Ia hanya mau menghilangkan rasa penat saja.
BUGH
"Ma-Maaf saya tak se-sengaja…"
Kalau Halilintar tak punya fisik yang kuat mungkin sekarang ia terjatuh di lantai koridor sekolah. Raut wajahnya terlihat kesal. Tentu siapa yang senang dirimu ditabrak seseorang?
"Hm…"
"Sa-Saya benar-benar minta ma-"
"Sekali aja udah cukup kali minta maafnya." Ujar Halilintar mulai jengkel.
Sosok tersebut diam membisu. Halilintar sendiri cuek-bebek saja, ia melewati orang itu begitu saja.
"Seingatku… tak ada murid dengan penampilan culun seperti itu. Murid baru kah?" Pikir Halilintar.
-0000-
"Ugh… beratnya…"
Taufan membenarkan posisi kardus-kardus yang ia bawa. Dapat dilihat Taufan agak kesulitan membawa dua kardus yang ukurannya lumayan. Belum lagi… ia baru selesai olahraga, tentu energinya semakin terkuras.
"Mau saya bantu?"
Ia menghentikan langkah, menengok ke sebelah dan menemukan seseorang remaja terlihat culun sih. Dia memakai kemeja putih sekolah dan celana abu-abu. Yang membuatnya culun sih kacamata besar yang dikenakan orang itu, belum lagi semua kemejanya terkancing sampai leher.
"Um… Kau siapa?"
Sosok itu tersenyum "Saya murid baru yang akan bersekolah disini besok."
"Oh begitu…"
"Mau saya bantu?" Ulang sosok itu lagi.
Taufan memandangi kardus-kardus yang dibawanya "Hm… boleh sih. Jika kau mau membantu."
"Saya bersedia membantu."
Sosok itu mengambil kardus teratas, lalu mereka berdua kembali berjalan secara bersamaan. Taufan terlihat lebih senang karena beban yang ia bawa sudah mulai berkurang. Sangat bersyukur ada yang mau menolongnya.
"Nah kita letakan saja disini." Ucap Taufan begitu sampai di ruang gudang.
Taufan segera meletakkan kardus itu di pojokkan, diikuti oleh siswa baru tersebut. Selepas itu mereka keluar gudang, tak lupa Taufan menutup rapat pintu ruangan.
"Sudah beres. Thanks ya!" Ujar Taufan senang dengan menepuk bahu siswa baru itu.
"Ya sama-sama."
"Oya, Namaku Taufan. Kalau kau?"
Sosok tersebut tersenyum "Nama saya- Ah maaf saya baru ingat kalau harus segera melengkapi data-data yang diminta Kepala Sekolah. Saya permisi dulu." Ucapnya langsung berlari meninggalkan Taufan yang tengah bersweatdrop.
Sepertinya Taufan melupakan sesuatu, tapi apa… ya?
-0000-
"Kira-Kira Halilintar dan yang lainnya sudah pulang belum, ya?"
Hanna mempercepat langkahnya dengan kedua tangan yang menjinjing banyak plastik berisi belanjaan untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Sesekali ia melirik arloji di tangan, sudah pukul tiga sore. Ugh… antrian yang begitu panjang di Supermarket memang banyak menyita waktu. Ditambah lagi tadi sedang ada diskon besar-besaran.
"Ayo cepatlah Hanna!" Batinnya menyemangati.
Ia tak berniat sedikitpun untuk berhenti, malah semakin mempercepat langkah kakinya dan kini… akhirnya ia telah sampai di depan rumahnya sendiri. Saat ingin membuka pintu dengan kunci yang digenggamnya, ia merasa ada yang aneh. Pintu tersebut sudah terbuka. Pikirannya seketika berubah menjadi waspada.
"Aku yakin sekali tadi mengunci pintu. Siapa yang telah membukanya? Halilintar, Taufan, Api dan Air kan tidak memegang kunci."
Rasa kecurigaan yang besar merasuki diri Hanna. Ia segera memutar kenop dan masuk ke dalam, memandang ke sekitar dan akhirnya ia mendengar suara orang menuruni tangga, sontak matanya langsung terpusat ke anak-anak tangga tersebut.
"Kau-"
"Hallo Ibu Hanna~ Aku senang melihatmu~" Ucap orang itu dan langsung memeluk Hanna.
"Eh? Ka-Kau kan…"
Sosok itu tersenyum "Aku…. Gempa."
-0000-
Hening.
Hanya langkah kaki yang menjadi melodi sepanjang perjalanan pulang mereka. Halilintar, Taufan, Air apalagi Api tak sama sekali berminat untuk memulai percakapan. Coret kata berminat, mungkin lebih tepatnya mereka bingung harus membicarakan apa disaat seperti ini. Biasanya mereka tak pernah pulang bersama.
Hari ini memang penuh keajaiban, dimana ke-empat orang itu pulang bareng. Padahal mulanya Taufan tak sengaja berpapasan dengan Halilintar lalu kedua orang itu bertemu dengan Api dan Air. Jadi… beginilah, mereka sedang berjalan bersampingan, walau agak menjaga jarak antara satu dengan yang lain.
"Kakak pergi kemana sih?"
"Hm… Aku tidak tahu tapi katanya sih tadi mau berjumpa kawan lama."
Halilintar, Taufan, Air dan Api memandangi kedua anak kembar di depan mereka yang sepertinya sedang membicarakan soal kakak.
"Siapa kawan lama itu?"
"Mana ku tahu lah. Sudahlah, lebih baik cepat-cepat masak untuk sore nanti. Hehehe Kakak pasti akan senang begitu sampai rumah kita sudah memasak untuknya." Ujar salah seorang anak dengan ceria sementara yang satu lagi hanya mengangguk. Meski wajahnya terlihat datar.
Kedua anak itu saling berpegangan dan mulai berlari bersamaan. Entah apa yang dipikirkan Halilintar, Taufan, Api dan Air setelah melihat keakraban kedua anak kembar itu, yang pasti hal tersebut hanya akan terpendam dalam hati mereka sendiri. Yah mungkin untuk saat ini…
.
.
.
TING TONG
Sepuluh menit telah berlalu, sekarang Halilintar berserta ketiga adiknya sudah berada di depan pintu rumah. Selepas Taufan memencet bel pintu, mereka semua masuk ke dalam. Mulut ke-empatnya masih saja tertutup rapat. Hanna yang berniat untuk membukakan pintu agak terkejut mendapati ke-empat anaknya itu pulang bersama. Pemandangan yang jarang ia lihat.
"Kalian sudah pulang. Cepat kalian mandi dang anti baju. Ibu sudah memasak untuk kalian." Ujar Hanna dengan memasang senyum lebar. Setelah itu ia kembali lagi ke dapur untuk melanjutkan acara memasaknya.
Halilintar, Taufan, Api dan Air yang hendak menaikki tangga menuju kamar terhenti saat telepon rumah berbunyi. Dengan sigap Taufan mengangkat telepon tersebut, sementara yang lain hanya memandangi Taufan.
"Hallo… I-Ini siapa?" Tanya Taufan agak ragu.
"Taufan kah? Ini Ayah."
Mata Taufan langsung berbinar "Ayah! Apa kabarmu?! Ada apa menelpon kami?" Ia mendadak begitu antusias. Ketiga saudaranya pun mulai tertarik dengan apa yang akan dibicarakan sang Ayah melalui telepon.
"Ayah sangat baik kok Taufan. Begini… Apa adikmu sudah sampai?"
Taufan menautkan alis "Adik? Maksud Ayah…" Ia menengok ke Api dan Air yang sedang memasang wajah bingung ketika ia tatap "…. Api dan Air?"
"Bukan Api dan Air. Ah ya, Ayah lupa bilang ya kalau Ge-"
"Aku sudah sampai kok Ayah!"
Taufan hampir saja terjatuh karena tiba-tiba ada seseorang yang langsung mengambil paksa gagang telepon yang ia pegang tadi. Ia memandangi remaja lelaki tersebut. Tentunya mereka berempat disana bingung dengan kehadiran orang asing di rumah mereka.
"Bukankah sudah ku bilang jangan menghubungiku sebelum aku hubungi Ayah."
Tu-Tunggu. A-Ayah? Halilintar, Taufan, Api dan Air mulai paham siapa sosok tersebut. Jadi yang dimaksud adik oleh Ayah mereka tadi pada telepon tadi adalah…
"Masa Ayah tidak boleh menghubungimu sih Gempa." Terdengar suara rajukan.
"Hm… Iya. Sudah ya, ku tutup teleponnya. Bye!"
"Tu-Tung-"
Tut Tut Tut
Sosok yang bernama Gempa itu dengan seenakjidatnya menutup telepon tanpa membiarkan Boboiboy melanjutkan perkataannya. Sebelum membalikkan badan, ia sempat tersenyum aneh dan kini...
"Hallo Kakak-Kakakku tersayang~ Akhirnya kalian bisa bertemu denganku- adik kalian ini hahaha~" Ujar Gempa yang malah tertawa. Membuat kakak-kakaknya itu kebingungan.
"Kenapa kau tertawa?"
Gempa menatap Taufan yang berdiri disebelahnya "Kenapa? Kenapa ya~"
Ia mulai berjalan perlahan, meninggalkan Taufan lalu melewati Halilintar, Api dan Air. Terus melangkah menaikki anak tangga.
"Selalu ada kunci meskipun jalan tersebut buntu. Dinginkan kepala pakai es batu hahaha~" Ujar Gempa sembari bersenandung tak jelas. Membuat saudara-saudaranya hanya bisa melongo mendengar perkataan Gempa yang seperti melawak?
Entahlah mereka tidak mengenal seperti apa watak seorang Gempa. Sementara itu… Gempa yang berjalan membelakangi Halilintar. Mulutnya mulai bergumam sesuatu yang hanya bisa terdengar oleh dirinya sendiri hingga kemudian ia mulai tersenyum.
-00000-
Balasan review :
Fuyaori : Hahaha kerjakan tugasmu, mau uts kan? Atau sudah selesai? XD Ini Gempa sudah bertemu dengan yang lain. Meski cuma dikit munculnya wkwk.
DMTS : Terima kasih atas semangatnya ^^
N Rani Kudo : Sebenarnya sifat Gempa engga ooc banget kok. Dia seperti yang aslinya, cuma pura-pura aja dia begitu hehehe. Silahkan aja kamu amati watak Gempa disetiap chapternya hehehe~
Zahra781: Jangan sedih, ini sudah di next kok :')
*Untuk review yang lain sudah ku balas melalu via PM, Silahkan di cek ^^*
*Terima kasih banyak atas review kalian dan juga bagi yang selalu membaca ff saya. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih ^^*
Jika ada pertanyaan silahkan kalian berkomentar di review, insya allah akan saya jawab
~Cukup Sekian & Terima Kasih~
.
.
.
TBC
