A/N: Maafkan Naka yang selalu lama update. Naka kan masih 13 tahun, jadi masih suka ngulur-ngulur waktu. Kalo udah buka laptop, bawaanya mau internetan aja *plak*. Makasih masih terus nunggu update-nya cerita ini. Maaf jika semuanya kecewa sama chap ini, soalnya Naka kehabisan ide.


To:

nanao yumi: Makasih reviewnya. Kalo Naru dibuat meninggal sekarang, gak seru donk. Biarin sampe Naru amat kesiksa *plak* biar ceritanya ngena. *aku sadis amat sih*

momoko: Terimakasih atas review dan sarannya. Naka udah dapet ide, untuk Kushi-nya emang bakalan Naka buat gila :p ntar juga bakalan ada adegan kisu sasunaru, tapi kisunya masih dalam batas normal kok *?* sebenernya tamatnya di chap 5 ke atas, tapi.. harus segera ditentuin karena mulai chap 4 ke atas bakalan berpengaruh sama ending. Jaaa~

uchiha cucHan clyne: Makasih, udah review. Haha*ketawa datar, ikut baca ulang* Naka di sini sadis amat yak? Naka udah putusin endingnya *nari-nari gaje* Naru gak mati? Tapi kayaknya nanti ada adegan di mana Naru mati, tuh *plak* TAPI, jangan pergi dulu! Ntar nyesel gak baca endingnya, lagi. Endingnya Happy kok.

monkey D eimi: Makasih datang untuk review lagi. Untuk ending nanti… agak mengerikan Naka buat *plak* di sini ada adegan Naru mati, kok. Tapi… endingnya gk sad. Maaf yak?

Kanon1010: Makasih udah review lagi. Kurang panjang? Aduh-_- Naka kayaknya gak sanggup bayangin harus berkutat lama di depan laptop + mencetin tombol-tombol huruf *halah, biasanya juga ngenet mulu* end nya di chap 5 ke atas, kok. Cuma, chap 4 ke atas akan mempengaruhi endingnya.

Akai no Tsubasa: Terimakasih banyak atas review +s aran senpai. Gomen, Naka masih 13 tahun sih. Naka seneng banget senpai ngereview *plak* tau gak, scane incest itu Naka ambil karena terinspirasi dari fic senpai yang 'White Ring' ya, biarpun bacanya telat, tapi udah Naka fav, kok *lho?* lanjutin donk ficnya. datang lagi~ *malah curcol*

Meiyo Fujo: Terimakasih reviewnya. Ok, ntar endingnya udah Naka tentuin. Ini Naka usahain update cepet.

Haru -QiRin: Terimakasih banyak udah direview. Tolong jangan panggil aku senpai. Panggil naka aja yak? Baru juga sebulan di FFn =.= Ada versi koreanya juga ya?*plak* Naka Cuma tau versi Amerika yg originalnya doank sih. Naka usahain update cepet deh.

Devil Brain: Makasih dateng lagi untuk review*?* Endingnya masih di chap 5 ke atas kok, Cuma chap 4 ke atas bakalan berpengaruh bagi ending. Ntar Naka buat sad tapi happy ending, deh *kayaknya* Sasufemnarukyuu? Threesome? Gak kepikiran buat gitu -_-

Yamada dita-chan: Makasih permintaan Naka dipenuhi*plak*ok, Naka udah nyiapin endingnya. Eh dita*ikut nyolek dita* masa' sih berdebar-debar?*plak*Kukira dita marah karena dengan gajenya aku ngabarin update -_-. Kyuu… mati gak ya? Liat aja nanti.

Yuki Uta Nakigoe: Makasih review lagi. Ntar Naka buat sappy ending deh*?* yok, Naka bantu motongin hewannya*?* ini, Naka update pir, eh petir.

kitsuneNK: Makasih atas janji dan reviewnya*?*. eum… kita liat dulu, Saku nyesel apa gak. Gomen kalo alurnya mudah ditebak, ntar Naka usahain deh. Manjangin cerita aja gak sanggup, apalagi bikin penasaran*plak*

Miyako shirayuki Phantomhive: Terimakasih banyak senpai udah review. Mimpi apa sih Naka semalem? Sampe author-author favorit Naka pada review*plak* Jadi makin semangat nih buat lanjut*malah curcol* ok, mohon bantuannya.

Hara fujinawa: Makasih reviewnya. Kok lupa sih? *pundung* Jangan telat lagi *deathglare akut* Baca lagi yaw?

Yashina Uzumaki: Terimakasih atas reviewnya. Apakah ini udah cepet updatenya? Naka harap sih, iya. Tetap dukung Naka selalu ya?*plak*

Min To NaruHikarii: Makasih reviewnya. Salam kenal juga. Kan Naka terinspirasi -_- jadi maklumin ya kalo ceritanya HAMPIR sama.


Yosh, mulai!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Inspiration by: MY SISTER'S KEEPER

Story by: shiho Nakahara

Pairing: SasuFemNaru

SasuSaku

MinaKushi

KyuuNaru

Warning: FemNaru, cerita gaje, lebay, dan seperti biasa TYPO BERTEBARAN, bahasa rancuh dan agak kasar, bagi yang GAK mau liat KEMATIAN Naru atau/dan Saku, serta Kyuubi di akhir cerita, silahkan exit sekarang *abaikan*

Summary: Aku terlahir karena alasan khusus, dimanfaatkan. Untuk menyelamatkan kakakku.


Demi Neechan

Akhirnya, setelah mendekam di rumah sakit selama 5 hari, kami diperbolehkan pulang ke rumah juga. Ada yang berbeda dengan Saku-nee, ia jadi lebih dingin. Aku tak tahu apa sebabnya, yang jelas ia tak seperti biasanya.

"Kaa-san, sepertinya hidupku memang tak akan lama lagi…" terdengar suara Nee-chan membuka percakapan di ruang keluarga saat ini.

"Kau bicara apa, sayang? Bukankah kata dokter kau mengalami kemajuan?" kemajuan? Ah, Kaa-san memang seperti itu. Selalu berusaha membuat Nee-chan tenang dengan membesarkan hatinya. Padahal, jelassekali akhir-akhir ini kodisi Nee-chan dinyatakan semakin memburuk. Bulan ini saja, kami harus berkali-kali ke rumah sakit untuk menemaninya cuci darah.

"Ya, tapi rambutku mulai rontok! Itu dampak dari penyakitku kan? Bagaimana kalau aku sampai botak tak ada rambut? Apa Sasuke masih mau bersamaku?" Nee-chan mulai mengeluarkan airmatanya. Entah mengapa, Kyuu-nii yang juga ada di sana langsung pergi sambil merolling matanya saat mendengar suara Nee-chan.

"Oh, Sasuke sangat menyayangimu, tidak mungkin ia akan meninggalkanmu. Kaa-san yakin, kulit kepalamu hanya tidak kuat menahan rambutmu yang indah itu. Bagaimana kalau kita potong rambutmu? Pasti rambut cantikmu tak akan rontok lagi," ucap Kaa-san sembari memeluk Nee-chan yang mulai menahan isak tangisnya.

Aku hanya menatap sendu mereka. Di satu sisi, aku sangat kasihan pada Nee-chan. Tapi, di sisi lain aku iri padanya, aku juga ingin merasakan kasih sayang orang tua, bukan hanya Kyuu-nii. Tou-san juga menyayangi Nee-chan, buktinya, sekarang ia juga memeluk Nee-chan. Hanya aku yang tak dianggap di keluarga ini. Merasa hanya menggangu, aku pun meninggalkan ruang keluarga itu menuju kamar pribadi milikku.

.

.

.


Sesampainya di kamar, air mata mulai mengalir di pipiku. Entah mengapa aku menangis, padahal aku sudah berusaha untuk tetap tegar. Namun hasilnya nihil. Aku memang benar-benar anak yang cengeng. Aku tidak marah pada Nee-chan, aku hanya iri padanya yang mendapat perhatian lebih dari Kaa-san dan Tou-san.

Ah, sudahlah! Toh, Nee-chan juga bahagia dengan semua ini. Aku kasihan dengannya, padahal rambutnya sangat cantik hampir mirip dengan rambut Kaa-san dan Kyuu-nii. Sedangkan aku menyerupai Tou-san. Hah, sudah kuputuskan! Bagaimana kalau aku melukis wajah Sasuke untuk Nee-chan?

Hah, kenapa aku malah memikirkan ayam Uchiha itu? Sejak kapan sih aku jadi memikirkannya terus? Hhh… Ngomong-ngomong, sudah berapa lama mereka jadian ya? Hey! Kau memikirkan apa, Naru? Ah! Kau benar-benar gila!

Tanpa sadar, aku memejamkan shappireku dan jatuh tertidur.

.

.

.


16.30:

Seperti biasa, setiap sore aku pergi ke halaman belakang. Menyirami bunga kesayanganku, Matahari. Ah iya, entah mengapa, akhir-akhir ini aku juga jadi menyukai bunga Edelweis, ya… Walaupun hanya akan ada saat musim dingin*bener kan?*

Suara gemericik air yang mengalir hingga jatuh ke tanah ditambah dengan indahnya langit yang mulai berubah warna. Kupu-kupu berbagai warna menambah kedamaian taman. Kaa-san sekarang sedang memotong rambut Saku-nee.

"Hey, kau sedang apa?" suara yang sombong dan menyebalkan ini lagi… Apakah aku sedang berhalusinasi. Hah, sejak bertemu dengan Teme itu, aku jadi seperti ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menghiraukan suara itu.

"Kau tuli ya, Dobe?" hah, dengan gerakan patah-patah, aku menoleh ke asal suara itu. Dengan segera aku mendapatkan wajah datar dengan rambut ayamnya.

"K-kau? Kenapa ada di rumahku?" aku bertanya dengan mata yang membulat dan setengah tergagap. Astaga, wajahku mulai memanas sekarang.

"Sakura yang memintaku ke sini. Sekarang, dia malah sibuk memotong rambutnya dan menyuruhku untuk menunggunya."

"Oh, Saku nee… Eng… Teme, sebenarnya, sejak kapan sih kau jadian dengan Nee-chan?" aku memberanikan diri bertanya.

"… 2 hari sebelum kita bertemu. Ya, sebenarnya..." Sasuke diam tak melanjutkan kalimatnya. Aku menatapnya heran beberapa detik.

"Ah sudahlah, itu tidak penting. Kau menyukai Bunga Matahari?" ia malah mengalihkan pembicaraan sekarang. Baiklah, aku memutuskan untuk tak menanyainya lagi.

Walau awal-awal percakapan kami sempat membuatku kesal karena perkataan sadisnya, lama-kelamaan aku mulai betah dan merasa nyaman untuk menceritakan semuanya pada Sasuke. Dia memang calon aniki yang baik. Sesekali aku aku melihatnya tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang ia perlihatkan, yang membuat wajahnya lebih errrr- tampan?

End Naru's Pov, start for Sasu's pov:

Usia kami terbilang cukup jauh, 13 dan 16 tahun. Tapi, saat aku berbicara padanya, aku seperti berbicara dengan orang yang sudah mengenalku lebih lama. Aku lebih terbuka saat bersamanya. Sebenarnya ada apa denganmu, Uchiha? Berbeda dengan Sakura, mata shappire-nya, rambut pirang terangnya, senyum cerianya, dan ketabahan hatinya… semua hal itu membuatku tertarik padanya. Entahlah, aku tidak mengerti.

Aku rasa, aku mulai tertarik padanya. Kalau boleh jujur, sifat Naru yang terlihat dewasa, ceria, tegar, dan mandiri sangat menarik perhatianku ketimbang Sakura yang manja dan egois. Yah, sakura lah yang memintaku untuk menjadi pacarnya. Entah mengapa, aku menerimanya. Seperti ada sesuatu yang menuntunku untuk menerimanya dan mengetahui tentang keluarganya lebih lanjut. Sesuatu yang menuntunku untuk bertemu… Naruto.

.

.

.

Back to Naru's Pov:

Hari sudah sangat sore sekarang. Mentari mulai menampilkan tetes-tetes keemasannya, sang bulan mulai terlihat lengkungan senyumnya. Saat yang menandakan berakhirnya percakapan kami sore ini.

"Hey, hari sudah sangat sore. Apa kau tidak ingin kembali ke rumahmu?" aku menyela pembicaraannya, membuat ia terdiam sebentar dan berkata, "Jadi, kau bermaksud mengusirku?"

"Bu-bukan begitu, hanya saja waktunya untuk pulang ke rumah, Sasuke."

"Baiklah, aku hanya bercanda tentang tadi. Aku pulang dulu," aku menganggukan kepala singkat, lalu ia berdiri dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan aku sendiri di halaman belakang.

Ah! Aku baru sadar! Sejak siang tadi, aku belum melihat Kyuu-nii. Pergi ke mana dia? Aku pun melangkahkan kaki ke dalam rumah dan mengunci pintu menuju halaman belakang

XOXOXO

Baru saja aku akan mencarinya, Kyuu-nii sudah berdiri di hadapanku sekarang. Wajahnya menampilkan raut kesal saat berpapasan denganku.

"Kyuu-nii… Kyuu-nii dari mana saja?" aku bertanya sambil menarik kunci yang masih ada di lubang pintu.

"…" bukannya mendapat jawaban, dia hanya membalikkan badan dan pergi meninggalkanku. Ugh! Akhir-akhir ini Kyuu-nii sangat aneh! Hhh… sudahlah.

Aku pun pergi ke kamar Nee-chan.

.

.

"Waw, Nee-chan… kau terlihat sangat cantik dengan rambut sebahu itu," pujiku tulus. Saat ini, semua keluargaku sedang berkumpul di kamar Nee-chan., termasuk Kyuu-nii.

"Terimakasih, Naru," Nee-chan tersenyum senang. Yah, sebenarnya Nee-chan memang terlihat cantik. Hanya saja… rambutnya sekarang benar-benar tipis. Aku tidak yakin helaian-helaian pink itu akan terus bertahan di sana.

"Naru, ada yang ingin Kaa-san bicarakan padamu," Kaa-san menarik tanganku keluar kamar Saku-nee. Aku yang bingung pun hanya pasrah ditarik-tarik.

XOXOXO


"Naru, apa benar akhir-akhir ini kau mulai dekat dengan Sasuke?" Kaa-san bertanya dengan mengerutkan dahinya. Aku terdiam sejenak. Dekat? Aku rasa tidak, kami hanya sering bercakap-cakap dan saling mengejek, itu saja. Apa itu disebut dekat?

"Tidak juga, memangnya kenapa, Kaa-san?"

"Kaa-san memohon dengan amat sangat agar kau menjaga jarak dengannya. Kau tahu kan, dia pacar Nee-chan mu? Apa kau tidak sayang pada Nee-chan mu?"

"Aku… sangat menyayangi Saku-nee. Tapi, apa hubungannya dengan Sasuke?" aku masih tidak mengerti ucapan Kaa-san.

"Hhh… Sebenarnya, tadi Sakura bilang bahwa ia tidak terlalu suka melihatmu terus bersama Sasuke. Bahkan, tadi Sasuke datang ke sini hanya untuk bertemu denganmu,"

"Bertemu denganku? Bukankah Nee-chan yang memintanya datang ke sini?" aku semakin tak mengerti sekarang.

"Sasuke bilang begitu? Hah, sudahlah! Pesan Kaa-san, jauhi Sasuke," Kaa-san pun berlalu dan kembali masuk ke dalam kamar Nee-chan.

Aku terdiam menatap pintu kayu berlapis cat soft pink itu. Kamar Nee-chan. Menjauhi Sasuke? Nee-chan cemburu? Sebenarnya apa arti dari semua ini? Kaa-san menyuruhku menjaga jarak dengan Sasuke? Padahal, ia adalah salah satu dari sedikit orang yang memerhatikanku. Di saat ada orang yang peduli padaku, pasti akan berakhir dengan menyedihkan. Hah, sudahlah. Toh, semua ini Demi Nee-chan.

.

.

.


Dua hari sudah berlalu…

Aku memandang hasil lukisanku untuk Nee-chan. Wajah pemuda berkulit pucat dengan kedua bola mata onyx-nya, serta senyum datar di wajahnya. Uchiha Sasuke. Entah mengapa, aku merasa sayang jika lukisan ini kuberikan kepada Nee-chan. Akh! Aku terlalu egois! Tapi… Apa aku harus memberikannya?

Aku pun kembali menyimpan lukisan itu ke dalam lemari tempat kanvas dan alat lukis lainnya berkumpul.

Tiba-tiba…

Handphoneku bergetar, tanda ada SMS masuk. Dengan segera, aku membuka, dan membaca pesan tersebut.

From: 08xxxxxxxxxx

Hey, bagaimana kabarmu? Sudah dua hari kita tidak bertemu.

Aku mengernyitkan dahi sejenak. Nomor siapa ini? Dengan segera, jemariku mengetikan kalimat 'siapa ini?' di tombol keypad, lalu menekan enter pada smartphone milikku.

Tak sampai satu menit, handphone ku kembali bergetar.

From: 08xxxxxxxxxx

Uchiha Sasuke. Jawab pertanyaanku, Dobe!

Deg! Mataku membulat tersentak kaget. Dari mana ayam itu tahu nomorku? Ah, ya! Saat operasi itu, handphone-ku kan aku titipkan pada Kyuu-nii. Dan, Kyuu-nii meletakkannya di meja samping tempat tidurku. Dasar pencuri!

Baru saja aku akan membalas SMS-nya, tiba-tiba aku teringat pesan Kaa-san. Jauhi Sasuke. Akhirnya, aku hanya menyimpan nomornya di contact-ku dan mengabaikan SMS-nya. Setelah menaruh handphone di tempat semula, aku pun meninggalkan kamaku yang bernuansa orange dan biru itu, menuju kamar Nee-chan.

.

Betapa terkejutnya aku melihat hal yang terjadi pada Nee-chan. Kulihat emeraldnya mengeluarkan airmata dan wajahnya sangat merah sekarang. Ia sekarang sedang berada di atas kasur empuknya. Hal lain yang membuatku tak kalah terkejut. Mataku terpaku pada kepalanya. Rambutnya, rontok tak bersisa. Pantas saja ia mengurung dirinya selama dua hari ini. Helaian pink berserakan di mana-mana.

"… Nee-chan…" aku bergerak mendekat kearahnya. Dapat kulihat raut terkejutnya melihat kedatanganku. Mungkin ia tak sadar saat aku masuk ke kamarnya.

"j-jangan mendekat! Kubilng jangan mendekat!" bentaknya kepadaku. Mataku mulai berkaca-kaca. Apa yang kulihat ini nyata? Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan padanya? Aku terus berjalan mendekat kearahnya, tanpa sadar airmataku sudah jatuh dari kedua bola mata shappire-ku.

"Kubilang jangan mendekat, Baka!" Saku-nee berteriak histeris, membuat hatiku semakin sakit. Dengan cepat aku memeluknya. Menumpahkan airmataku di bahunya dengan mulut yang terus mengucapkan kata 'Saku-nee' seperti mantra yang bisa menumbuhkan rambut cantiknya kembali.

"… Pergi… Jangan ganggu aku! Aku muak melihatmu," satu kalimat itu membuatku tersentak. Saku-nee… Sesakit itukah dirimu?

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ia malah menjambak rambutku dan mendorongku dengan sangat kuat hingga aku jatuh dengan tidak elitnya. Perlakuannya tersebut, dengan sukses membuatku terkejut. Nee-chan…

"Saku-nee…"

"Diaaaam! Pergi sekaraaaaang! Kau pikir aku senang melihatmu bersamanya? Kau senang kan melihatku begini? Pergi!" bentak Nee-chan kearahku.

Aku benar-benar tidak mengerti sekarang. Nee-chan membentakku? Aku berbuat hal yang salah di hadapannya? Astagaaa… Maafkan aku Nee-chan.

Aku mencoba berdiri, tak lama kemudian Kaa-san datang ke kamar Nee-chan. Ia tak kalah terkejutnya denganku. Dengan segera ia memeluk Saku-nee dengan erat. Berbeda dengan perlakuan Nee-chan tadi terhadapku, ia malah memeluk Kaa-san tak kalah erat.

"Tinggalkan kami berdua, Naru," Kaa-san berkata kepadaku. Dengan segera aku menuruti perkataannya.

.

.

.


Aku merenung dalam diam di kamar. Rambut Nee-chan… Ingin aku menolongnya, tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya. Jika aku menjadi Nee-chan, mungkin aku juga akan menangis sepertinya.

Aku membayangkan kehilangan rambut pirangku…

Oh, tidak! Jangan… Rambut ini, rambut yang sangat aku sayangi. Rambut yang membuatku mirip dengan Tou-san, rambut yang membuatku terlihat seperti seorang Namikaze. Aku akan melakukan apapun asal aku tidak kehilangan rambut ini. Aku lebih memilih menyumbangkan ginjal atau apapun daripada rambutku. Entah, aku tidak tahu mengapa aku sangat menyayangi rambut ini.

XOXOXO

"Apa? Kenapa harus Naru?" Ucapan Kaa-san benar-benar membuatku terkejut.

"Sakura yang memintanya padamu! Kaa-san mohon, Naru" kalimat itu membuatku terkejut. Saku-nee memintaku memplontoskan rambutku? Lelucon apa lagi ini?

"Kaa-san! Aku akan melakukan apapun demi Nee-chan, asalkan jangan rambut ini!" sekarang aku menjadi sama histerisnya dengan Saku-nee.

Aku memohon kepada Kaa-san yang sekarang sedang membawa gunting. Aku sangat takut! Tolonglah aku Kami-sama! Jangan rambutku!

"Kenapa harus aku? Kenapa?" aku terkejut dengan perkataanku barusan. Aku membentak Kaa-san? Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini! Sungguh.

Tiba-tiba, sosok laki-laki yang lebih tinggi dariku datang mendekap tubuhku.

"Kaa-san tidak bisa seperti ini! Mana jiwa ke-ibuanmu? Bukan hanya Sakura, Naru juga anakmu! Anak yang pernah kau kandung di rahimmu!" sosok itu menatap tajam kearah Kaa-san. Suaranya tegas membuat Kaa-san tertegun.

Kyuu-nii?

TBC or END?


Yey! Selesai juga chap ini -_- direview ya? Naka tau ceritanya tambah gaje, apalagi scane Kushi mau gunting rambut Naru =,=

Mohon komennya untuk kelanjutan cerita.

Gomawo, shiho Nakahara