Feeling and Terrible Cooking


YUI POV

"Yui mama mau kedalam sebentar, kau mau ikut?"

"Ngg, Yui tunggu diluar saja deh mah..." jawab Yui

"Yasudah, tunggu sebentar ya sayang.."

Hari itu mereka pergi untuk berbelanja di kawasan pertokoan. Yui ingin membuat sesuatu yang spesial untuk Hinata, karena itu ia meminta ibunya untuk mengantarnya.

FLASHBACK

"Hmm...hmm"

"Ara...Yui sejak kapan kau rajin membaca buku tentang masakan?" tanya Ibunya. Yui yang terkejut, refleks menyembunyikan bukunya. "Ngg-nggak kok ma.." jawabnya malu-malu. Ibunya yang langsung menebak apa gerangan yang terjadi langsung tersenyum sambil tertawa jahil. "Hee...oh iya-ya kau ingin membuat makanan untuk dicicipi Hinata-kun nanti ya..." ujarnya. Yui yang mendengarnya pun tertunduk malu, wajahnya pun memerah. "Baiklahhh..." Yui menatap wajah ibunya. "Ehh..ada apa mama?" "Kamu ingin memasak sendiri untuknya kan?" Yui mengangguk. "Kalau begitu bagaimana kalau besok kita ke wilayah pertokoan sebelah, kamu belum bisa memilih bahan makanan yang bagus kan? Mama akan membantu mu memilih bahan makanan untuk besok, bagaimana?" Mendengar perkataan ibunya Yui menggenggam tangannya dan mengucapkan terima kasih. "Makasih mama.."

END OF FLASH BACK

Saat ini ia sedang menunggu ibunya. 'Hmm mama kok lama ya?' pikirnya

"Wakkhh...apa yang kau lakukan bodoh."

Yui terkejut saat mendengar suara yang dikenalnya, ia pun menoleh dan melihat Hinata disana bersama seorang gadis dan mereka...berpelukan. Tiba-tibanya hatinya merasa sakit.

"Siapa gadis itu?"

NORMAL POV

"Damn Yuri, sikapnya sama sekali tak pernah berubah, masih seperti anak kecil."

Hinata membawa tas pertukangan. Ia menuju rumah Yui untuk memperbaiki jendela yang ia pecahkan. Tak lama sampailah ia dirumah berwarna pink pucat, dengan satu jendelanya di plester dengan lakban.

TING TONG...

Ditekannya bel rumah itu.. ia pun menunggu hingga tuan rumah muncul. "Yaa, ara Hinata-kun silahkan masuk." "Permisi." Ia pun berjalan mendekati rumah, dan mendapati peralatan yang ia beli kemarin sudah sampai dan diletakkan di taman. "Sepertinya peralatannya sudah sampai ya Saku-san?" "Oh..iya baru saja sampai. Kamu sudah makan pagi?" "Sudah tadi di rumah, terima kasih atas tawarannya," jawab hinata. "Kalau begitu saya langsung mulai saja," Ia pun mengeluarkan palu dari tasnya dan segera bersiap-siap. "Ya, berusahalah"

SABTU SIANG, JAM 14.00

"Huft...tinggal sedikit lagi" "Yosh...tinggal dipasang di kusen jendelanya." Ia pun melihat hasil karyanya. "Hmm tak buruk". "Hei Yui apa yang kamu lakukan?". Hinata mendengar suara Saku-san. 'Hmm ada apa ya?' pikirnya. Ia pun lalu menuju ke atas untuk memasang jendela. "Selesai..." Ia pun menuruni tangga dan menuju ke dapur untuk memberi tahukan kepada mereka jendelanya sudah selesai diperbaiki. Sesampainya di dapur, ia mencium sesuatu dari meja makan dan menoleh untuk melihatnya. 'Ekh...apa-apaan makanan ini..ajaib sekali bahkan sampai kuah sayurnya pun seperti gosong,' pikirnya. Ia pun melihat Saku-san yang menuju kearahnya. "Akh..Hinata-kun kau sudah melihatnya ya? Maaf sebenarnya hari ini Yui yang memasak. Dia ingin sekali membuatkan mu masakan yang enak. Tapi entah kenapa sikapnya menjadi aneh saat pulang dari berbelanja kemarin, aku tanya pun ia hanya diam saja. Oh iya, kau ingin makan apa, biar ku belikan," ujarnya. Ia pun bergegas ke kamarnya. "Tunggu Saku-san..." Ia pun terhenti dan menoleh memandang pemuda yang baru saja memanggilnya. "Yaa?" "Sudah tidak usah nanti malah merepotkan, saya akan memakan makanan yang ada saja." ucap Hinata. "Ehh tapi, bagaimana kalau nanti kau sakit perut?" tanya Saku-san khawatir. Hinata yang mendengarnya lalu menepuk-nepuk perutnya, "Jangan khawatir perut saya kuat kok." Ia pun bergegas mengambil piring dan menyendok nasi, saat melihat lauk yang ada dihadapannya ia pun menelan ludah. "I—itadakimasu.."

YUI POV

Yui mengurung diri di kamar tamu. 'Bagaimana ini? Bagaimana ini?' pikirnya. 'Hah...aku bodoh kenapa aku masih memikirkan kejadian kemarin? Memangnya kenapa kalau ia punya pacar? Bukan hal yang aneh bukan? Tidak mungkin aku bisa disamakan dengan dia, dia memiliki tubuh yang bagus, wajah yang cantik, Akhhh...gara-gara memikirkannya semalaman aku tak bisa konsentrasi memasak, pasti masakan ku di bilang tak enak olehnya . Huft, yang pasti saat ini aku tak mungkin menemuinya,' batinnya

TOK TOK

"Yui..mama masuk ya?" "Ya." Saku-san melihat anaknya. Ia sedang merenung sambil memeluk bantal. "Yui...kau ini kenapa sih? Ceritakanlah pada mama.." Yui menengok kearah ibunya. Ia lalu menggeleng-geleng, "Maaf ma, Yui sendiri tidak yakin kenapa perasaan Yui seperti ini." Saku-san pun menghampiri anaknya dan memeluknya, "Tidak apa-apa, kalau kau sudah merasa bisa untuk mengatakannya. Mama siap kok untuk menjadi pendengar untuk kamu." "Terima kasih mama," jawab Yui, dibalasnya pelukan hangat ibunya itu. "Oh ya ma, mama sudah belikan makanan untuk Hinata? Aku juga harus meminta maaf padanya karena masakan yang kubuat pasti sangat tidak enak," tanya Yui. "Ngg...sebenarnya mama kesini ingin memberi tahumu sesuatu. Dia memakan masakan mu. Bahkan sepertinya dihabiskan semua, sepertinya ia sangat kelaparan," jawab Saku-san sambil memutar-mutar jarinya. "EEEHH...kenapa? dia kan bisa sakit perut?" tanya Yui terkejut. "Yah mama juga tidak yakin alasannya, tapi sepertinya karena janjinya padamu. Ingat?" jawab Ibunya. Yui terdiam ia kemudian mengingat kembali janji pemuda itu. 'Bodoh, asalkan kau berusaha dan mencurahkan jiwamu, aku yakin masakan buatanmu tak akan kalah enaknya dari masakan buatan ibumu,' "Akhh...si bodoh itu...serius..." Yui pun bermaksud bangun dari tempat tidur tapi tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh kelantai. "YUI...", teriak ibunya.

NORMAL POV

"Huft...habis juga."

Hinata menghabiskan makanan buatan Yui tanpa tersisa sedikit pun. "Ternyata kalau perut lapar apapun masuk ya, tapi makanan ini.."

"YUI.."

"Ehh, suara itu, suara Saku-san apa yang terjadi?" Ia pun bergegas menuju arah suara dan melihat Yui yang sedang dibantu oleh ibunya untuk duduk di kasur, "Apa yang terjadi?" tanya Hinata khawatir. "Akh Hinata-kun maaf membuat mu khawatir. Oh ya bisa tolong jaga Yui sebentar?" tanya Saku-san. "Ngg..tentu." Saku-san lalu keluar kamar. Hinata lalu menghampiri Yui dan duduk disampingnya. "Kenapa?" Hinata menoleh dan melihat Yui juga sedang menatap dirinya. "Kenapa kamu memakan masakan buatanku? Padahal aku yakin dari luar masakanku pasti sudah membuat orang ingin muntah melihatnya, tapi kenapa malah kau menghabiskannya?" tanya Yui. Hinata menatap gadis disampingnya, "Sebelum itu aku mau tanya sesuatu, apa kau mencicipi masakanmu?" Yui terkejut mendengar pertanyaan itu, "Ehh, aku tidak mencicipinya karena yakin tidak enak, memang kenapa?" tanyanya lagi. "Haah, kamu ini, memang benar masakanmu dari luar terlihat tidak enak, baunya pun tercium menyengat, benar-benar minus lah..." Yui yang mendengarnya serasa ada batu yang menghantam kepalanya.

"Tetapi..." Yui lalu menatap Hinata kembali. "Masakan mu memiliki rasa yang unik, rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya, sampai-sampai membuat aku tak sadar sudah menghabiskannya, hehehe maaf ya." ujarnya tersenyum. Yui menunduk dengan wajah yang memerah. "U-unik?maksudnya apa?" tanyanya. "Hmpp...aku tak bisa menceritakannya dengan jelas, tapi yang pasti masakan buatanmu itu membuatku ingin mencicipinya lagi, kupikir mungkin karena kau sudah berusaha dan mencurahkan jiwamu karena itu perasaanmu tersampaikan kepada masakanmu." jawab Hinata. Yui yang mendengarnya lalu tersenyum dan menatap wajah Hinata. "Terima kasih", ujarnya

Hinata yang mendengar perkataan Yui lalu menatap Yui, "Yah, sama-sama." Gadis itu berwajah sangat merah, hingga wajahnya pun mendadak merah juga. 'I-imut banget sih.', pikirnya. Mereka lama terdiam menatap satu sama lain.

"Ehemm."

"Wawawawawa," mereka berdua tekejut. "Apa mama mengganggu kalian?" tanya Saku-san jahil. "Ahh tidak kok Saku-san, oh ya ngomong-ngomong apa yang Saku-san bawa itu?" tanya Hinata mengalihkan pembicaraan. "Ohh ini ya?" Ia lalu menyodorkan dua lembar kertas itu pada Hinata. "Ini dua tiket taman bermain di kota sebelah, sebagai tanda terima kasih," ucapnya. "Ehh, tidak usah repot-repot, lagipula awalnya memang saya yang salah kok," tolak Hinata halus. "Hee, tidak apa-apa kok. Oh ya bagaimana kalau kamu ajak juga Yui sekalian. Sudah lama dia tidak ke taman bermain," tawar Saku-san sambil tersenyum jahil. "Mama..." teriak Yui. "Ngg, kalau Yui tak keberatan, saya juga tak keberatan," jawabnya. "Ehh..." Yui terkejut mendengarnya. "Bagaimana Yu-i-cha-n?" tanya Ibunya dengan senyum jahilnya. "Engg...aku tak keberatan kok.." jawabnya malu-malu. Hinata lega mendengarnya, ia lalu melihat tanggal tiketnya. "Hmmp tiket ini berlaku sampai minggu depan nih, jadi bagaimana kalau hari rabu saja kita berangkatnya? Kebetulan hari itu sekolah libur," tanyanya sambil menatap Yui. "Baiklah," jawabnya. Hinata tersenyum, "Kalau begitu aku permisi dulu ya sudah malam. Yui aku akan menjemputmu jam 9, oke?" "Ya sampai jumpa," jawab Yui. "Biar ku antar sampai pintu depan," ujar Saku-san. Yui lalu menatap sosok pemuda yang pergi diikuti ibunya. 'Hmmp, untuk hari Rabu nanti apa aku menyiapkan bekal ya?' pikirnya

RABU PAGI, JAM 7.00

Pagi yang indah di kediaman Hinata, seorang pemuda sedang bersiap-siap untuk pergi menjemput seorang gadis. Hari itu ia mengenakan kaus putih ditutupi jaket jeans warna biru, serta celana jins yang sewarna.

"Hmm...Hmm..." senandung Hinata sambil tersenyum

"Hey, kenapa senyum-senyum sendiri? Dasar aneh," ejek kakaknya. "Nee-chan, ganggu aja nih, udah sana gih..huss...huss.." usir Hinata sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir kakaknya. "Iya...iya...nanti kalau kencannya sukses cerita ya." Mendengar perkataan kakaknya, mendadak wajahnya berubah merah, "Ke-kencan? Siapa yang mau kencan? Orang cuman jalan-jalan aja," elak Hinata. Kakaknya melirik ke Hinata, lalu menjulurkan lidah padanya, "Sama cewek, itu namanya kencan, BAKA! HAHAHA..." ledek kakaknya.

Setelah rapi, ia pun bergegas menuju ke arah rumah Yui. Sesampainya disana ia lalu menekan tombol rumah, dan masuk. "Maaf ya Hinata-kun, Yui masih belum selesai. Ditunggu aja ya.." ujar ibunya. "Baik," jawab Hinata. 'Huft kenapa aku agak sedikit nerves gitu ya?' Tak lama kemudian ia mendengar suara gadis kecil tersebut. "Ngg...maaf ya lama menunggu.." ujar seorang gadis. Hinata kemudian menoleh, "Tidak ap-." Ia terkejut melihat dandanan Yui hari ini. Ia memakai dress warna pink dengan manik-manik dibagian dada, sewarna dengan warna rambutnya. Rambutnya diikat kebelakang membuat kesan dewasa muncul dalam dirinya. "Ba-bagaimana?" tanyanya malu-malu. "Ngg...kau cantik hari ini," jawab Hinata tanpa pikir panjang. "Akhh...terima kasih.." ucap Yui sambil menunduk, malu memperlihatkan wajahnya yang mulai memerah. "Akhh ya kalau begitu ayo kita berangkat, mari saya saja yang mendorong kursi rodanya ke depan pintu Saku-san?" ujar Hinata sambil menggenggam kursi roda Yui. "Baiklah Hinata-kun, hati-hati ya. Jagalah Yui," pesan Saku-san. "Ya, Saku-san jangan khawatir," balas Hinata. "Ma, aku pergi dulu dan..." Yui mendekati telinga ibunya "Terima kasih ya ma," Saku-san tersenyum, "Anything for you, my dear."

Mereka pun melangkahkan kaki keluar. Tetapi tanpa disadari oleh mereka ada seseorang yang mengendap-ngendap membuntuti mereka dari belakang. Siapakah dia?

~ TO BE CONTINUED ~