Now Playing : AAA – Climax Jump, Mash - Boys~Hikari Kagayaku Asu e~, Nakagawa Shouko – Flying Humanoid (Ada yang nonton Occult Gakuin gak? Ceritanya kan kereen… #promo #PLAK)

Disclaimer : Inazuma Eleven © Level-5

Warning :Alternate Universe, Out Of Character, Yaoi/Shounen-ai/BL for later chapters.

Don't like don't read! ^^

.

#

.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

"Jadi, kau siapa?" tanya Shuuya.

"Aku Endou Mamoru," jawab Mamoru.

"Lantas, kenapa kau tidak mengenalku?"

"Mana kutahu! Aku kan memang tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya!" seru Mamoru.

"Tapi kan kau Mamoru!" kata Shuuya. Ngotot. Beruntung ada yang menghentikan kengototan Shuuya, Kazemaru. Yang sedari tadi melihat keanehan yang terjadi.

"Aku mau bicara. Goenji," kata Kazemaru sambil menarik baju Shuuya. Sebelum Shuuya menjawab, ia sudah ditarik paksa. Kazemaru menarik Shuuya menjauh dari Natsumi dan Mamoru.

"Mamoru itu, apa dia adalah temanmu diatas sana?" tanya Kazemaru.

"Teman masa kecil. Kenapa dia bisa disini?" jawab dan tanya Shuuya tanpa basa-basi barang sedetik.

"Begitu," gumam Kazemaru. Ada pandangan sedih tersirat di balik wajahnya. "Aku. Tidak boleh menjawabnya. Setidaknya, tidak sekarang. Maaf, Goenji."

Shuuya terdiam. Baru kali itu Shuuya melihat pandangan Kazemaru yang biasanya agak angkuh menjadi seperti itu.

"Tapi…" ucapan Kazemaru berlanjut. Kata 'tapi' yang penuh dengan penekanan. "Jangan pernah kau berkata keras kepada Mamoru seperti tadi. Kali ini kau kumaafkan. Untuk selanjutnya, akan begini," lanjutnya sambil menggerakkan tangan yang menunjuk leher dengan horizontal. Gestur yang berkata 'kau akan mati,'.

Inisiatif, Shuuya langsung beranjak dari hadapan Kazemaru ke hadapan Mamoru.

"Maaf, Endou. Ada seseorang yang persis denganmu diatas sana, dengan nama yang sama, juga wajah yang sama. Kukira kau adalah dia, sayangnya bukan," jelas Shuuya.

"Tidak apa-apa. Bukan suatu masalah, meski aku agak penasaran sih. Sebaiknya jangan berdiri saja disini. Ayo masuk ke dalam," ajak Mamoru.

Dia berjalan ke pintu yang ada di sebelah kanan tempat lubang keluar. Dan membukanya.

Terlihat ruangan besar. Luas. Dan, tentu saja, bersih dan 'tidak murah'. Cukup banyak orang didalamnya. Sekitar 10 atau 11, mungkin? Mamoru masuk duluan dan diikuti Kazemaru, Shuuya, Natsumi.

"Teman-teman! Ichi, Natsumi-san dan 'The Last One' datang!" teriak Mamoru. Orang-orang yang ada disana menoleh kearah Mamoru. Seseorang maju kearah Goenji. Seseorang yang memakai syal putih. Juga imut.

"Goenji-san kan? Aku Fubuki Shirou, dan adikku Fubuki Atsuya," katanya memperkenalkan diri dan seorang lagi. Tapi, seorang lagi tidak kelihatan ada dimana.

"Shirou dan Atsuya ada dalam satu tubuh. Tubuh yang dipakai adalah tubuh Shirou," jelas Mamoru.

Orang-orang yang berdiri di belakang Fubuki sudah berdiri berjejer. Dan mereka memperkenalkan namanya satu-satu.

"Ichinose Kazuya,"

"Utsunomiya Toramaru,"

"Kiyama Hiroto,"

"Kageto Yamino,"

"Miyasaka Ryou,"

"Midorikawa Ryuuji,"

"Kogure Yuuya,"

"Someoka Ryuugo,"

"Fudou Akio,"

"Jousuke Tsunami,"

"Heigorou Kabeyama,"

"Handa Shinichi,"

"Matsuno Kuusuke, atau Max,"

"Kami semua adalah chevalier!" seru Mamoru, senang.

"Oh ya, kau sendiri apa kekuatanmu, Goenji?" tanya Fubuki.

"Tidak tahu," jawab Shuuya. "Memang bagaimana cara mendapatkannya?"

"Kazemaru-san dan Natsumi-san belum mengajarkan apa-apa ya?" tanya Miyasaka kepada Kazemaru juga Natsumi.

"Baru datangnya kemarin," jawab Natsumi.

"Oh pantas," gumam Miyasaka.

"Kalau begitu kami yang akan mengajarkanmu," kata Akio dengan senyum yang kurang enak.

"Goenji, jangan mau kalau diajarin sama Fudou. Nanti ketularan virus empat-el-empat-ye lho…" kata Tsunami memberi tahu. "Lihat aja tuh rambutnya,"

Mendengar itu, Fudou hanya menendang kaki Tsunami. Membuatnya kesakitan. Tsunami juga hanya memukul balik Fudou tepat diatas jambul rambutnya. Dan akhirnya, mereka hanya gontok-gontokan.

"Oi, nyadar rambut sendiri dong! Udah mencuat kesegala arah, warna pink lagi!" seru Akio yang masih baku hantam sama Tsunami.

"Rambut saya juga pink yaa…" tambah Someoka.

"Kalau pitak memangnya bisa disebut berambut ya?" goda Kogure ke Someoka.

"Anda ngajak ribut?" tantang Someoka.

"Mereka akrab sekali ya," komentar Shirou.

"Darimana?" tanya Shuuya.

"Hongkong," jawab Fubuki tenang.

"Sudah. Tenang," Kazemaru memberi instruksi.

"Sekarang bagaimana kalau kita bantu si anak terakhir ini untuk mendapat kekuatannya?" kata Natsumi sambil menunjuk Shuuya dengan ibu jarinya.

"Boleh saja, kita main itu, kan?" tanya Midorikawa.

"Benar!" seru Natsumi.

"Kalau sudah begini sih… Sudahlah, Goenji, kau keluar dulu!" perintah Kazemaru.

Shuuya hanya menurut. Dia keluar dulu. Ketika dia keluar, terdengar suara ribut-ribut dari dalam. Suara ledakan? Tembakan? Baku hantam? Gempa? Bulldozer jatuh? Jeritan kucing? Raungan gajah? Absenan kebun binatang? Lengkap.

"Sudah, masuk!" perintah seseorang dari dalam. Sudah disuruh begitu, Shuuya akhirnya masuk.

"Jadi… ini apa?" tanya Shuuya yang agak tercengang melihat apa yang ada di depannya.

Ruangan itu berubah. Di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah papan besar, papan yang sangat dikenal, tidak asing lagi, papan permainan yang orang sebut sebagai 'Ular Tangga'. Meskipun tidak ada ular ataupun tangga di sana. Yang ada hanya para Chevalier plus Natsumi yang menempati satu kotak secara acak.

"Peraturannya, kau adalah pion dalam permainan ini. Mainkan permainan ini seperti biasanya. Jika kau bertemu chevalier di salah satu kotak, kau harus bertarung melawannya. Jika kau kalah, kau harus mundur sesuai langkah yang mereka tentukan, jika kau menang kau boleh menentukan maju sampai berapa langkah. Namun, kau ataupun para chevalier harus menentukan sampai 6 langkah, tidak boleh lebih. chevalier yang sudah bertarung melawanmu sebelumnya, tidak akan bertarung melawanmu lagi," jelas Kazemaru.

"Dan, aku yang pegang dadunya," lanjut Kazemaru.

"Memang dadunya mana?" tanya Shuuya.

"Apa kursi ini tidak kelihatan seperti dadu di matamu? Lebih baik kau lihat yang benar sebelum bertanya. Anak pintar," kata Kazemaru dengan ketus.

"Kau pasti makan banyak wasabi hari ini, mulutmu pedas sekali," balas Shuuya tak kalah ketus. "Tidak ada rencana ke toilet? Siapa tahu pedasnya mulutmu itu sampai ke perutmu," lanjut Shuuya seraya melengos pergi. Meninggalkan Kazemaru yang memicingkan mata sebal kearah punggung Shuuya.

"Hei, ayo mulai! Lama sekali!" teriak Mamoru.

Shuuya menuju ke kotak Start. Kazemaru mempersiapkan kedua dadunya.

"AYO MULAAI!" teriak para chevalier semangat.

Kazemaru melempar dadu. "5 langkah."

Shuuya berjalan ke kotak no. 5. Sementara tidak apa-apa, Shuuya melihat situasi papan. 60 kotak. 15 halangan. Para chevalier menempati masing-masing kotak ke-8, 11, 13, 19, 21, 22, 27, 29, 31, 33, 42, 46, 47, 51, 53 dan 59.

"6 langkah," kata Kazemaru setelah melempar dadu lagi. Dengan ragu, Shuuya berjalan ke kotak no. 11, disana menunggu seorang Fubuki.

"Hai, Goenji," sapa Fubuki tersenyum. Tiba-tiba kotak no. 11 itu bergetar. Memisahkan diri dari papan permainan, membuat Shuuya hilang keseimbangan. Pelan-pelan kotak no. 11 itu melayang ke atas secara lurus.

Kazemaru menduduki dadunya dan menjetikkan jarinya, dan dadu itu naik ke atas dan berhenti ketika sejajar dengan kotak no. 11.

.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

Shuuya's POV

.

'Bertarung diatas sini? Apa tidak salah?'

"Mengurangi resiko kerusakan kotak-kotak yang lain akibat pertarungan," celetuk Kazemaru.

'Dasar esper,'

"Kau belum lihat Kidou Yuuto, sih," kata Kazemaru sambil menghela nafas.

"Kau bisa baca pikiranku ya?" tanyaku padanya, heran.

"Perasaanmu saja," balas Kazemaru.

'Satu tambah satu berapa?' pikirku, memancing dia apakah dia menjawab atau tidak.

"Tidak ada gunanya memancingku, bodoh," kata Kazemaru lagi.

"Aku bingung siapa yang bodoh, Kazemaru-san," kata Fubuki masih tersenyum.

"Hah? Aku tidak bodoh, tentu saja satu tambah satu sama dengan dua!" marah Kazemaru.

"Ah, dia terjebak," ejekku.

Kazemaru yang baru sadar akah hal itu, hanya bisa bermuka merah padam menahan malu.

"Itulah sisi manisnya. Kadang-kadang dia ceroboh," kata Fubuki lalu tertawa.

"Ayo pertarungannya mulai," kata Kazemaru, mencoba mengalihkan pembicaraan menjadi pertarungan—masih dengan muka merah malu.

"Goenji, ayo mulai," kata Fubuki. Dia agak menundukkan kepalanya. Menyembunyikan mata. Menyunggikan senyum. Mendinginkan tempat sekitar.

Mendinginkan secara harafiah. Arti denotasi. Arti yang sebenar-benarnya.

Hei, apakah lantai kotak ini membeku?

"Kedinginan, Goenji?" tanya Fubuki, masih dengan nada ramah yang agak seram—lengkap dengan dua suara.

Tunggu, dua suara?

"Siapa yang mau kau lawan, Goenji? Aku atau aku?" tanya Fubuki masih dengan suara dobel yang berbeda tipis.

"Tidak peduli, ayo, mulai saja!" seruku.

"Aku disini sebagai jurinya, kalian harus bertarung sampai salah satu life-meter yang ada diatas kalian habis. Life-meter akan berkurang jika serangan mengenai lawan, kerasnya serangan juga menentukan berkurangnya life-meter. Habisnya life-meter tidak akan membuatmu mati. Jelas? Tidak perlu di jawab," jelas Kazemaru lagi.

Dan, sejak kapan di atasku ada life-meter?

Aku pasti tersasar di game 'Tekken' atau 'Mortal Combat'. Di saat seperti ini—entah kenapa aku lebih berharap tersasar di game 'Pokemon' atau 'Harvest Moon'. Atau bahkan, 'Inazuma Twelve'.

Aku hanya menghela nafas. Dan melihat ke depan.

"Ice ground," kata Fubuki.

Tiba-tiba lantai di depannya itu tumbuh es, lalu es itu dengan cepat merambat ke arahku. Aku segera melompat sebelum es itu berhasil menangkap tubuhku. Sepertinya jurus itu dibuat untuk membekukan lawan.

Aku berlari menerjang ke arahnya, mempersiapkan tinju yang sudah siap dilepas—tapi masih terkepal di tangan kanan. Kira-kira jarak seperempat meter aku sudah meninjunya.

Sayang, aku hanya memukul ruang kosong.

.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

Normal POV

.

"Disini, Goenji…" kata Fubuki yang suaranya terdengar dari arah belakang Shuuya.

Kontan, Shuuya menoleh, dan langsung membalikkan badannya. Ia langsung melayangkan pukulan lagi.

"Ice ground," gumam Fubuki tenang, namun terdengar.

Ketika mata tertuju ke arah pandangan yang dilihat Fubuki, yang dapat terlihat hanyalah seorang Goenji Shuuya. The Last One. Menggeram. Dengan tangan yang terkunci oleh es. Es itu muncul dari tempat berpijak.

Life-meter Shuuya berkurang.

"Kurasa tangan kananmu kesepian, bagaimana kalau kaki?" tanya Fubuki.

Es itu mulai merambat. Membekukan kaki yang ada diatasnya. Dan menghambat ruang gerak Shuuya.

'Bagaimana ini?' pikir Shuuya. 'Bukannya seharusnya aku punya kekuatan? Aku 'The Last One'—yah, kata mereka. Kenapa baru segini saja aku tidak bisa?'

"Kau masih lemah, ternyata. Padahal kau 'The Last One'," ejek Fubuki. "Dengan kekuatan segini, kau kira kau pantas menyandang gelar itu? Menyedihkan,"

"Apa maksudmu? Jika tidak untuk duniaku dan duniamu, bahkan aku tidak akan mau jadi 'The Last One'!" bentak Shuuya.

"Dan sekarang kau berkata seolah-olah jika kau diperbolehkan, kau tidak ingin jadi 'The Last One', apakah di duniamu tidak ada mahluk yang bisa bertanggung jawab?" ejek Fubuki. Makin sinis.

"Tapi, aku bertanggung jawab! Kalau aku mau tidak peduli, aku pun bisa menolak!" bentak Shuuya.

"Lalu, kenapa kau mau? Kalau memang mau, kenapa kau lemah?"

"Mau dan lemah itu tidak ada hubungannya! Orang lemah itu bisa jadi kuat. Aku pun mau karena aku masih punya orang yang kusayangi di atas sana. Aku tidak bisa membiarkan mereka mati begitu saja karena ulah para Universe Chain!"

Es yang ada di tangan Shuuya tiba-tiba menghangat, lalu mencair. Fubuki yang melihat itu hanya tersenyum.

"Kita akhiri saja, Goenji," katanya kembali tenang. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas.

Tangan Fubuki seperti dikelilingi oleh angin salju. Angin salju itu berkumpul dan mengitari tangan Fubuki. Suhu dingin yang tadi ada pun seperti terserap menuju ke tangan Fubuki.

Sekarang, Fubuki menyejajarkan tangan itu dengan pundak, membuat lengannya teracung ke depan, tepat di depan Shuuya. Putaran angin salju itu makin keras. Suara keras menggema. Tangan Fubuki seperti rocket launcher yang siap menembakkan amunisinya.

Dan semuanya berubah putih. Terkubur oleh salju. Semua yang angin es yang tadi dikumpulkan oleh Fubuki telah dilepaskan kearah Shuuya dengan energi yang kuat—yang jika dihitung dengan satuan Newton, pasti sudah 4 digit angka terlewat.

Semuanya, termasuk Kazemaru mukanya menegang melihat apa yang terjadi. Seperti melihat sesuatu bahaya yang akan mencengkeram mereka dengan cakarnya. Semua tertuju ke satu arah.

Lihat, di depan Fubuki hanya ada tumpukan es. Diam, tak bergerak.

"Goenji, kuhitung sampai 5 detik. Jika kau tidak melakukan reaksi apapun, kau dianggap kalah," kata Kazemaru memberi perintah dengan muka yang menegang—bisa di bilang pucat.

"Go," Kazemaru memulai hitungannya. "Yon,"

"San,"

"…"

"Ni," lanjut Kazemaru. Fubuki hanya tersenyum senang.

Fubuki melanjutkan hitungan. "I—"

'BYAAAR!'

Tumpukan salju tu tiba-tiba meledak, membuat salju-salju itu berhamburan ke segala arah. Namun, beberapa salju sekitar posisi Shuuya tertimbun telah mencair. Kembali tegak sudahlah sang The Last One. Dengan lingkaran api di sekelilingnya.

"Pyrokinetics," gumam Kazemaru. Lalu, membuang nafas. Lega. Begitu juga yang lain.

Sudah sewajarnya jika salju yang terkena panas akan mencair. Dan, itulah yang terjadi. Salju yang menjadi air itu mulai menetes dari tempat Fubuki dan Shuuya berpijak. Membuat seolah hujan. Melihat beberapa potong kepala yang telah mendongak dari tadi melihat perubahan yang terjadi.

"Wah, salju Fubuki mencair…" sahut Mamoru kagum.

"Padahal salju dari Eternal Blizzard itu tidak bisa mencair 'kan?" tanya Tsunami.

"Dari namanya sudah kelihatan. Eternal berarti abadi, seharusnya tidak bisa dicairkan," jawab Natsumi.

"Kekuatan itu…Pyrokinetics, ya? Memang tidak asing disini. Tapi, kalau sampai bisa mencairkan Eternal Blizzard Fubuki itu berarti bukan pyrokinetics biasa," jelas Kiyama.

"Yah, kalau biasa juga pasti tidak menarik," sahut Midorikawa sambil tersenyum.

"Kira-kira apa yang akan dilakukan pangeran es itu ya?" sahut Miyasaka membangkitkan rasa penasaran.

Udara dingin perlahan kembali normal bahkan menjadi lebih hangat—kalau tidak mau dibilang lebih panas. Fubuki mengambil segenggam salju padat. Ia menunduk, memperhatikan dengan jelas. Kristal yang disebut salju itu berubah bentuk hingga cair. Ia mendongak, menatap kearah Shuuya yang bernafas dengan terengah-engah.

"Es dan api memang tidak cocok. Bagaimanapun, api selalu mencairkan es, ya?" kata Fubuki.

"Kelihatannya kau marah, bukan begitu?" tanya Shuuya.

"Cukup," jawab Fubuki dengan nada datar. "Tapi, life-meter mu berkurang banyak juga, sedikit lagi—" lanjutnya sambil mendongak kearah life-meter Shuuya, yang kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Shuuya.

"Yah, sedikit lagi," sambung Shuuya. Nafasnya masih terengah-engah.

Ia terlalu lelah, terlalu lelah untuk menstabilkan fisiknya yang sempat membeku. Bahkan terlalu lelah untuk menyadari bahwa udara sempat mendingin secara drastis selama sepersekian detik.

Dengan cepat, tangan Fubuki mengacung kearah Shuuya. Sama dengan apa yang dilakukannya tadi. Mengucapkan sebuah kata yang penuh amarah, sambil melancarkan jurus yang dilakukannya. Kata itu adalah—

"—MATI!"

Shuuya pun tidak sempat menghindar. Dan membiarkan dirinya yang terlalu lelah itu terhempas oleh apa yang dilakukan Fubuki. Life-meter-nya habis. Dan jatuh. Jatuh dari tempat ia berpijak. Semakin dekat dengan tanah, ia jatuh semakin pelan—untungnya.

"Kerja bagus, Hiro-Hiro!" puji Mamoru ke Hiroto. "Psychokinetics-mu memang berguna di saat-saat yang dibutuhkan!"

"Jika tidak begitu, aku tidak pantas disebut chevalier bukan?" balasnya lembut kepada Mamoru, dengan senyum sebagai bonus.

"Life-meter Goenji habis! Pemenangnya adalah Fubuki!" seru Kazemaru memberikan putusan.

Semuanya bertepuk tangan dengan senang. Kagum dengan pertarungan—yang bagi mereka disebut hiburan—yang menyenangkan tadi.

"Tapi, kalau pingsan begini…Bagaimana permainan ini dilanjutkan, Natsumi-san?" tanya Mamoru.

"Tidak perlu dilanjutkan. Inti dari permainan ini adalah untuk mengeluarkan kekuatan anak itu. Kalau untuk melatihnya, akan terlalu berat jika dia harus melawan kalian," jelas Natsumi. "Lihat saja, baru begini saja dia sudah pingsan," lanjutnya sambil menghela nafas.

Miyasaka menghampiri Shuuya dan meraba lengan Shuuya. Dan menghela nafas lega.

Kazemaru langsung melompat turun dari dadu-nya yang masih melayang diatas. Ketika Kazemaru sudah tidak menaiki dadu itu. Dadu itu terjatuh dengan biadab, sedangkan Kazemaru sampai ke tanah dengan beradab.

"Bagaimana?" tanya Kazemaru ke Miyasaka.

"Untung saja, dia masih sempat mengeluarkan hawa panasnya. Kalau dia sudah beku oleh Eternal Blizzard Fubuki, dia pasti jadi fosil dalam es untuk beberapa abad kedepan," lapor Miyasaka.

Kotak yang dipijaki Fubuki perlahan kembali ketempatnya, melengkapi nomor yang tanggal.

"Fubuki, kau tahu apa yang akan terjadi kalau dia sampai membeku 'kan? Jangan ceroboh seperti itu lagi!" tegur Kazemaru agak marah.

"Bukan peduliku," kata Fubuki sambil melengos pergi.

"Fubuki!" panggil Someoka sambil mengejar Fubuki yang sudah pergi.

"Ah, Atsuya…" kata Tsunami.

"Bukan Shirou ya…" tambah Kogure. "Tapi, aku pasti marah juga kalau jadi Fubuki,"

"Jurus istimewa dikalahkan secara kebetulan oleh orang yang tidak terlatih sebelumnya, begitu?" Handa angkat bicara.

"Tapi, jurus istimewa itu dikalahkan oleh orang yang istimewa pula. Jadi, itu tidak sepenuhnya salah," sambut Max..

"Sekarang, ayo pindahkan dia ke kamar. Biarkan dia istirahat sebentar disana," kata Natsumi.

"Kalau mau cepat sembuh, kenapa tidak panggil Kino-san saja?" usul Mamoru.

"Benar juga!" setuju Natsumi. Ia berjalan ke sudut ruangan. Di sudut ruangan itu, ada seuah rak kecil berisi banyak badge yang warnanya di dominasi oleh blue aquamarine. Semuanya berbeda bentuk dan juga mempunyai khas warna masing-masing di bagian badge tertentu.

"Endou, pinjam badge-mu boleh?" tanya Natsumi.

"Silahkan," jawab Mamoru singkat.

Natsumi mengambil sebuah badge yang jika dilihat secara seksama mempunyai lambang petir di sisi atasnya. Ia kemudian menggenggam badge itu dan menutup mata, sekianlah beberapa detik, ia membuka matanya lagi. Lalu, ia menaruh badge itu kembali di tempatnya semula.

.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

"2nd Continent: Inazuma," gumam seseorang

"Targetmu berikutnya, Kidou?" tanya seorang lagi yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

"Urusanmu?" balas orang yang dipanggil Kidou itu dengan dingin. Kemudian ia berbalik menghadap orang itu.

"Hei… Tidak perlu galak-galak. Aku bertanya karena diperintahkan oleh orang itu," katanya diiringi kekehan kecil. "Dan, dia berkata kalau dia tidak mau menunggu 2 bulan."

"Begitu?" helaan nafas terdengar dari mulut Kidou. Ia berbalik arah lagi menuju ke posisi sebelumnya. Ia berpikir dengan serius, plus memicingkan mata. Namun mata itu tertutup oleh goggle biru yang melekat di kepalanya.

"Kau benar-benar seperti seorang maniak. Lebih spesifik, kau seperti maniak yang merencanakan dimana akan menaruh kamera tersembunyi di kamar mandi wanita, kalau berpikir keras seperti itu," komentar orang itu sambil memandang seperti apa ruang kerja Kidou.

Di depan Kidou ada meja yang penuh tombol, papan catur, dan sebuah layar besar yang menampilkan peta. Peta Under World. Sedangkan di sekelilingnya hanya ada rak-rak yang berisi buku. Juga sebingkai foto yang digantung dan terlihat bersih—sepertinya dibersihkan setiap hari. Sebuah foto greyscale dimana sesosok Kidou di masa lalu tersenyum senang bersama seorang anak perempuan yang berambut pendek dan hitam—atau warna yang gelap.

Setelah puas melihat-lihat, orang itu pergi. Sebelum menutup pintu, ia hanya berkata, "Dia tidak ingin membuang waktu, Kidou,"

"Aku tahu," jawab Kidou.

Setelah orang itu keluar, ia menekan salah satu tombol yang kelihatannya berupa tombol intercom—karena ada speaker tepat di sebelah tombol itu.

"Ada yang bisa saya bantu, Kidou-sama?" tanya orang di seberang.

"Siapkan beberapa unit pasukan tempur mulai dari level 1 hingga level 3, lengkapi dengan amunisi yang selengkap-lengkapnya. Sekarang, kirim beberapa orang untuk mengawasi keadaaan," perintah Kidou.

"Targetnya?" tanya orang itu.

"2nd Continent," jawab Kidou tenang.

"Bagaimana dengan para chevalier?"

"Biarkan mereka. Aku sudah punya rencana lain yang lebih bagus untuk mereka,"

"Apakah harus checkmate, tuan?"

"Ya, checkmate," jawab Kidou. Ia terdiam sesaat dan memberikan perintah lagi.

"Besok. Jatuhkan 2nd Continent."

.

.

= = To Be Continued = =

.

.

Referensi :

Pyrokinetics : Kekuatan mengendalikan api.

Psychokinetics: Kekuatan mengendalikan barang sekitar dengan kekuatan pikiran.

.

A/N:

Finally Updated. Haha.

Sibuk. Sibuk. Sibuk. Salahkan guru mata pelajaran IPA yang sarap semua, mulai dari Fisika ampe Kimia, yang gurunya bener cuma Biologi doang… Tak terasa sebentar lagi mesti naik kelas. FUAAAAAH~~~ Mau 5 juta… #gaje

Cekak. Cekak. Cekak… Gak ada duit~ Ada yang mau kasih saya uang? #PLAK

Okeh, maaf apdetnya sangat telat van ngaret. Alasannya sudah saya kemukakan diatas. Saya mesti belajar lebih di semester dua karena guru IPA-nya pada makin sarap. Gimana mau bisa masuk IPA kalo gurunya sarap? #ignorethis

Bales ripiu yuk?

The Fallen Kuriboh

Arigatou for ripiu….XD

Em… Horror-nya…. Voila! Langsung ada! Mamoru… itu Rahasia!

Sampai kapanpun saya kayaknya susah apdet asap, hehehe….

Aurica Nestmile

Ini sudah di-apdet! Thanks buat ripiunya XD *balesnya gak banget* #plak

Aishiro KyuHyung-ppie

Disini, gunanya Under World adalah sebagai 'penopang' dunia manusia. Sederhananya Dunia manusia gak akan bisa ada tanpa Under World, gitu…. Entah kenapa, saya juga jadi bingung ngejelasinnya. XD #ayogeplaksaya

Thanks for ripiu… XD

Asma Syifa Nabihah

Makasih banyak buat reviewnya. Di adegan anak tangga spiral itu saya juga suka… XD Masterpiece saya itu… #lebay #jdak

Kuroka

Terima kasih sudah mengingatkan saya di sms untuk apdet ini XD. Shuuya pinter kan? Hebat bisa kepikiran #jdak Untuk nama julukan itu…. Rahasia!

Thanks for review! XD