Catatan Author:

Setelah jenjang waktu berbulan-bulan, akhirnya author telah berkesempatan untuk mempublikasikan chapter keempat ini. Author ingin mengajukan permohonan maaf karena kemalasan, kesibukan, serta masalah yang terjadi di dalam kehidupan pribadi author telah menjadi penghambat dalam memperbaharui fanfiksi ini. Author juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pembaca yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan kesan, masukan, dan pendapat—itu membuat author terpacu dalam semangat. Author harap, chapter keempat ini tidak akan mengecewakan pembaca setia sekalian. Enjoy :)


Yang bersembunyi di balik topeng tersebut bukanlah roman Cinderella

Juga bukan Romeo yang ingin meminang sang dara

Cinta hanyalah sandiwara dalam drama

Namun, akankah sandiwara mengantarkan happy ending kepada keduanya?


Not Your Average Fairy Tale

[Chapter four: Dance to the Waltz of the Flowers]

Princess Tutu ©Mizuo Shinonome

Peringatan terhadap typo(s), ke-abal-an, OoC, dan keanehan


Satu, dua… satu, dua….

Kaki-kaki yang berpijak, memutar dengan begitu lincah. Keselarasan pijakan kaki-kaki tersebut memantulkan keindahan dinamis yang jelas terpancar pada lapisan mengkilap sebidang kemegahan marmer yang mendatar luas.

Satu, dua, tiga… satu, dua—

Berputar.

Tempo dan melodi musik klasik terkenal karya Pachelbell meresonansi seluruh ballroom, menyelaraskan dinamika tarian waltz dengan harmonisasi yang terlampau sempurna.

Musik mengagumkan, tata ruangan yang megah, serta partisipan yang berbalut busana gaun dan tuxedo indah. Bagi Mytho juga Rue, semua itu ialah sempurna. Namun, Fakir memiliki sudut pandang yang berbeda.

"Lihatlah, Fakir, bukankah gadis yang di sana itu cantik?" Dari sudut ruangan, Rue yang menetap di singgasana altar menunjuk kepada kerumunan partisipan yang tengah menyibukkan diri masing-masing dengan berdansa.

Fakir—yang berdiri di samping Rue—sontak saja menolehkan kepala. Pandangannya yang kian datar ia daratkan. "Yang benar saja. Betis wanita itu terlampau besar!" serunya, berusaha menahan rasa bosan.

Di lain pihak, Mytho yang mendengar pernyataan—bodoh—Fakir tak kuasa menahan kekehan. "Fakir, Fakir… bagaimana kau bisa tahu kalau betis wanita itu besar? Bukankah seluruh wanita di sini mengenakan gaun sepanjang mata kaki?"

"Aku dapat menerawang," jawabnya asal seraya memutar kedua bola mata dengan bosan.

"Kau harus melihat-lihat, Fakir. Tahu saja ada wanita yang memikat hatimu."

"Ya… dalam mimpi."


"AAA! AKU TIDAK MAU MATI SEKARANG, TUHAN!"

"Berpegangan yang erat, Kak Ahiru!"

Dan…

'BRUK! BRAK! BRUK!'

…Tak kurang dari dua puluh meter jauhnya dari segala kemegahan istana, Ahiru dan Uzura baru saja mendarat—dengan tidak sempurna. Ruang lingkup yang didekorasi dengan nuansa hijau daun pepohonan serta rerumputan ialah hal pertama yang menjadi realisasi bagi Ahiru bahwa dirinya telah Uzura daratkan pada salah satu hutan yang tak jauh letaknya dari istana kerajaan.

"Hah!" seru Uzura seraya bangkit berdiri dari "kejatuhannya". Dengan sedikit trik sihir yang ajaib, drum itu resmi ia buat menghilang.

"Uh…." Layaknya Uzura, Ahiru pun lekas bangkit berdiri di sela-sela erangannya yang menunjukkan bukti kesulitan.

"Huh, Kak Ahiru? Apa kakak baik-baik saja?"mengingat rekan seperjalanannya tadi, sontak saja realisasi dan rasa khawatir membuat Uzura bertanya.

"Ah, iya…," jawabnya kakas. "Tidak ada luka maupun cidera."

Uzura menghela nafas lega. "Syukurlah."

"Bagaimana denganmu, Uzura?"

"Aku baik-baik saja!" jawab sang anak seraya tersenyum semangat. Ahiru tersenyum simpul mendengar jawabannya.

"Ah! Omong-omong!" tiba-tiba saja ia berseru riang. "Kakak harus segera masuk ke dalam istana!"

Realisasi atas tujuan semula mereka membuat Ahiru membatu di tempat. Di sela-sela keterkejutannya, ada rasa khawatir serta was-was. Entah bagaimana….

"Ah, ayo lah, kak! Jangan buang-buang waktu!" Namun, Uzura segera dengan tangkas bertindak. Tanpa ragu, langsung saja ia dorong tubuh mungil Ahiru menghadap muka istana yang telah menunggu dengan segala angan-angan dan mimpi akan kemegahan.

"T-Tapi, Uzura, bagaimana denganmu?"

Setelah berhadapan langsung dengan muka istana, sontak Uzura lepaskan dorongan kuatnya itu. Ia tersenyum pasti dan menatap Ahiru dengan keyakinan berkobar. "Kak, masuk lah ke dalam sana! Aku akan baik-baik saja!"

"Be-benarkah begitu?"

"Tentu saja!"

Mendengar jawabannya memicu percikan cahaya yang memancarkan semangat dalam batin Ahiru. "Terima kasih, Uzura," ujarnya tulus. Syukurnya yang mendalam lekas ia sampaikan dalam bentuk pelukan hangat penuh rasa terima kasih.

"Kakak pantas mendapatkan lebih…."

Untuk beberapa detik lamanya, kedua insan tersebut nampak hanyut dalam eratnya pelukan hangat. Namun, realisasi membawa Uzura pada kenyataan. "Kak, kakak harus pergi sekarang," ujarnya mengingatkan.

"Ah, iya." Sadar, Ahiru lekas saja melepaskan pelukannya lalu berkata, "Kau benar, aku harus segera pergi."

"Ingatlah pesanku, Kak Ahiru," ujarnya meyakinkan seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. "Dan ini… topeng untuk pesta dansamu."

Kedua manik biru Ahiru lekas memantulkan visualisasi topeng putih yang hanya menutupi sebagian roman si pemakai. Butir batu-batu indah menahtakan topeng putih nan bersih tersebut. Topeng ini, dengan selaras membingkai kedua mata bundar Ahiru secara sempurna pertama kali ia kenakan.

"Ya, tentu saja." Ahiru tersenyum, keyakinan kini dengan pasti meronai romannya. "Terima kasih, Uzura. Aku pergi dulu."

Dengan kepastian, Ahiru pun membawa langkahnya menuju ke dalam istana. Bayangannya yang terbalut gaun putih samar-samar meredup dilahap kelamnya malam. Uzura? Ia hanya mematung di tempat seraya tersenyum puas.

"Kita akan bertemu lagi, kak…."


"Fakir…," panggil Mytho. Sinar manik keemasan miliknya kini mulai meredup oleh rasa bosan. Dalam batin mulai bergejolak perasaan ragu. Apa Fakir benar-benar tidak tertarik dengan wanita-wanita yang ada di sini? Jangan-jangan dia… gay?

"Apa?" Fakir pun menyahut tanpa sedikit pun menoleh.

"Huh, coba lah untuk berdansa dengan salah satu wanita yang ada di sini." Letih dan bosan kian dirasa oleh sebab saran yang monoton terus saja ia lontarkan sedaritadi.

"Mytho benar, Fakir…." Di lain pihak, perasaan yang sama pun tak luput menghampiri Rue.

Batin Fakir berbicara, Mungkin tidak ada salahnya juga kalau aku mencoba. Ah, tapi….

"Ah!" seru Rue girang tiba-tiba.

Sontak saja hal ini menjadi pengalih perhatian masing-masing Fakir dan Mytho. Mereka pun lekas menoleh ke arah Rue.

"Kalian lihat!" serunya lagi. Kali ini, jari telunjuk ia acungkan ke arah kerumunan partisipan yang tengah berdansa.

Kebingungan, Mytho pun spontan bertanya, "Huh? Apa?"

"Di sana! Ada gadis cantik berbalut gaun serba putih!" Seruannya kini semakin menjadi-jadi dengan target yang telah terkunci pasti oleh jari telunjuknya.

"Mana?" Kedua manik keemasan Mytho yang sempat meredup kini kembali memperoleh sinarnya. Dengan tangkas pandangan tajamnya pun lekas menemukan target yang tengah dimaksud-maksud. "Yang itu? Gadis yang berambut oranye?" Lekas ia lontarkan tembakan jitu.

"Benar!" jawab Rue meng-iya-kan.

Di lain pihak, rasa penasaran yang sama besarnya melanda batin Fakir. Ia pun lekas mengikuti arah pandangan Mytho dan Rue seraya menyerngitkan dahi.

Namun, belum sempat ia dapatkan visualisasi sempurna atas gadis yang dimaksud-maksud, Rue dan Mytho yang kini telah terlampau bersemangat sontak menarik kedua tangan Fakir.

"A-Apa-apaan ini?" Keterkejutan sontak saja membuat Fakir meronta dalam usaha untuk melepaskan diri.

Namun, nihil.

"Jangan cerewet! Kami sudah bosan menunggumu mencari pasangan yang tepat!" seru dua sejoli ini serentak seraya terus menyeret Fakir menuju tempat gadis yang mereka maksud-maksud.

Fakir—yang sedaritadi menghasilkan usaha nol dalam perlawanan—kini hanya mampu terseret tak berdaya. Panorama ini sontak saja mengalihkan perhatian tiap-tiap insan yang sempat sibuk berdansa.

"U-Uh…."

Seluruh mata memandang, membukakan jalan bagi Mytho dan Rue selagi Fakir hanya berkemampuan untuk merintih dan mengerang dalam rasa kesal.

Seraya seluruh insan kini menjadi saksi bisu dalam ketidakpastian, gadis cantik berbalut gaun putih itu hanya mampu membatu di tempat dikabuti oleh sejuta tanda tanya. Batinnya dipenuhi sedugang pertanyaan, kedatangannya yang belum lama nampaknya telah menjadi sensasi bagi seluruh acara.

Huh? Kenapa mereka berjalan ke arahku?

"Kau!" seru Rue ke arah gadis tersebut.

"Huh, aku?"

"Ya, kau. Siapa namamu?" spontan saja Rue bertanya.

"A-Ahiru…?"

Ya, benar, Ahiru.

"Ahiru! Berdansalah dengan Fakir, ksatria kerajaan ini!"

Dengan begitu, resmilah Fakir—dengan tidak terhormat—didorong ke arah Ahiru. Untuk sepersekian detik, keseimbangan meninggalkan tubuh Fakir dan dia hampir saja mendarat tepat di atas tubuh Ahiru. Tapi, syukurlah, Tuhan… Fakir nyatanya masih mampu memperoleh keseimbangan pada saat yang tepat dan kritis.

"Uh… hi…." Walaupun telah dengan resmi melakukan tindakan tak terhormat sebagai seorang ksatria kerajaan, Fakir tetap dengan percaya diri memberikan sapaan kepada gadis bertopeng putih di depannya.

"Musik!"

Berdasarkan aba-aba yang Rue teriakan, dentingan melodi dan nada-nada indah musik klasik Waltz of the Flower lekas mengaluni seluruh ruangan ballroom.

"Kembalilah berdansa, semuanya!"

Kini, beberapa partisipan yang sempat teralih perhatiannya mulai kembali berdansa—sesuai dengan perintah sang tuan purti.

"Uh… maukah kau berdansa denganku?" Dengan perasaan gugup yang memompa jantungnya dua kali lebih cepat, Fakir mengumpulkan keberanian untuk mengajak Ahiru berdansa.

Namun, serangkaian perasaan ragu membuat Ahiru membatu di tempat dan bertanya dalam hati, Dia… ksatria kerajaannya? Bukankah dia pria yang kutemui ketika bersama dengan Uzura?

Tanda bisu dari Ahiru lekas membuat Fakir heran dan berpikir dalam diam. Makin lama dipandang, kok sepertinya dia mirip dengan wanita yang kutemui saat bersama dengan anak kecil yang kemarin?

"Mungkinkah…," serempak, satu kata itu terucap secara spontan oleh bibir mereka.

"Huh? Kau—apa kau wanita yang pernah kutemui saat mengejar seorang anak kecil?" Tanpa ada rasa basa-basi, kuatnya rasa penasaran spontan membuat Fakir bertanya.

Bukannya menjawab, Ahiru malah memberikan jawaban kosong seraya terus memandangi roman Fakir. Hal ini, tentu saja mendorong rasa penasaran Fakir hingga menerobos titik puncak. Tanpa adanya pemberian peringatan dan persetujuan, sontak Fakir buka topeng putih yang membingkai kedua mata bundar milik Ahiru.

Melihat roman familiar yang berada di bawah topeng putih tersebut sontak membuat Fakir membelalakkan kedua bola mata. "Huh… jadi benar kau orangnya."

"E-Eh… kembalikan topengku!"

"Dengarkan aku—um… Ahiru." Intonasi sang ksatria kini terbata-bata. "Setelah pesta dansa ini selesai, Yang Mulia Rue dan Mytho kemungkinan besar akan mendesak kita berdua untuk menikah."

"A-Apa?!" pekik Ahiru.

Lentingnya intonasi suara Ahiru spontan membuat tubuh Fakir terperanjat. "Diamlah! Jangan kencang-kencang!" desisnya perlahan.

"A-Ah... maaf…."

"Dengar, ide mereka untuk membuatku jatuh cinta pada seorang gadis hanya dalam waktu satu malam itu gila! Tapi, aku telah menyiapkan rencana." Mata Fakir dengan skeptis dan tajam menelusuri seisi ruangan. "Aku akan memberitahumu, tapi tidak di sini. Ikut denganku."


Denting-denting melodius karya Tchaikovsky perlahan tersubtitusi dengan suara jangkrik yang didampingi dengan buaian angin malam. Terangnya gemerlap bulan merefleksikan cahaya di atas riak tenang kolam air mancur.

"Aku tak menyangka... ternyata, pesta dansa ini bukan seperti yang ada di dalam dongeng...," desahnya perlahan seraya beranjak mendekati kolam air mancur tersebut.

Mengekor dari belakang, Fakir secara sarkastik memutar kedua bola matanya. "Tentu saja bukan, dasar bodoh. Memangnya kau pikir cinta bisa tumbuh hanya dalam waktu hitungan jam?"

"Ya." Ahiru menoleh dan memvisualisasikan figur Fakir yang terbingkai oleh pemandangan taman istana. "Aku rasa, aku juga tidak akan bersedia jika dipaksa untuk menikahimu. Karena—yah, aku tidak mencintaimu."

"Heh... untung saja kau bukan seperti gadis-gadis liar yang mengejarku." Fakir terkekeh geli.

"Jadi, apa rencanamu?" Sontak pertanyaan itu meluncur dari bibir mungil Ahiru.

"Pernikahan kontrak."

Kedua alis oranye milik Ahiru spontan bertemu. "Pernikahan kontrak?" tanyanya dalam repetisi.

"Kita akan mengikuti kemauan mereka, tapi kita tidak saling mencintai," sahutnya seraya memposisikan diri untuk duduk di tepi kolam. "Kau bebas melakukan apapun keinginanmu, dan begitu juga denganku. Jadi, pernikahan kita hanya sebatas status, tak lebih. Setelah tiga bulan menikah, kita akan bercerai."

"Itu terdengar sedikit... berbahaya…." Roman si gadis menampakkan kerut kebimbangan. "Bagaimana kalau kita ketahuan?"

"Aku tak dapat memikirkan cara lain."

Untuk sepersekian detik, "ya" dan "tidak", serta "mengapa" membuat Ahiru bergelora dalam ketidakseimbangan batin.

Tak berdaya melawan rasa penasaran, Fakir pun spontan bertanya, "Jadi, bagaimana?"

"Apa Yang Mulia Putri dan Pangeran begitu mengerikan?"

Fakir mengangguk dengan kepastian.

"Kalau begitu…." Jawaban Ahiru ia bawa pada sebuah jeda. "...Kalau begitu—kurasa memang tak ada pilihan lain."


[T.B.C]