The Curse
Rated : M
Pair : GaaraxMatsuri
Genre : Romance
¤Disclaimer : Masashi Kishimoto¤
chapter 4
A/N:
== buat para pembaca, maafkan sy telah mengabaikan fic ini dan ripiu anda,berhubung teknologi dirumah kurang mndukung dan sy pun disibukkan dgn UAN(dan pada akhirnya saya lulus SMA) maka fic yg tk berdosa ini t'bengkalai begitu saja.
(_ _) *mohon jgn mmbenci sy*...
Sy janji akn menuntas kan fic ini dgn segera. Bgi yg telah meripiu , saya sgt berterima kasih *sujud*.
Go read.
=============()==============
Melepas segel pertama
Menempatkan sesuatu pada tempatnya, definisi dari adil. Itu yang Gaara dengar saat ayahnya meninggal. Roda waktu terus berputar, namun ada yang telah merusak roda waktu itu. Ketidak stabilan hidup mulai menghantui ke2 keluarga yang menjadi pondasi sejarah. Ada sesuatu dari masa lampau yg ingin menembus ruang waktu dan mencari hal tabu dimasa depan yg bukan lagi miliknya. Dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan itu. Meski harus membunuh. Apakah ini termasuk dari definisi adil yang Gaara dengar dari Ayahnya?
Ada yang mengawasi mereka dari tempat yang jauh. Dunia siluman tepatnya. Dunia yang terkubur oleh jam pasir. Para sang waktu Membuat mereka terlupakan dan hanya menjadi Mitos saja.
"Maaf kurenai,aku rasa ini sudah saatnya, aku akan mengambil alih semuanya. Khekhekhe." suara parau itu menghilang.
Didunia manusia.
Apa yang menjadi kekhawatiran kakashi tiba juga.
"Dia akan kesini kakashi" tatapan dingin tanpa ekspresi,kurenai merasa ini yang terakhir dia berada sebagai bayangan mimpi buruk bagi kakashi.
Malam yang mencekam & cuaca yg tak lagi bersahabat,maka terdengarlah suara gemuruh dari langit. Mungkinkah dewa marah?
"Melepas kan segel dan membiarkan siluman itu menguasai tubuh matsuri. Atau membiarkan matsuri mati?"
kakashi harus memilih dari kedua pilihan yg diberikan kurenai, yang juga sama sekali tidak menjamin keselamatan Matsuri.
Memudarnya tubuh kurenai bukan berarti ini selesai.
Ini baru saja dimulai.
Meski wajah kakashi tetap terlihat tenang,namun tersirat kecemasan yang amat sangat. Ia tidak dapat menerka kengerian seperti apa yang akan menunggunya didepan sana.
Ia mengambil sebuah kertas gulungan,yg tersimpan dibawah lantai kayu.
Dia membuka gulungan itu secara perlahan. Memercikkan darah dari luka yg dibuat dengan menusukkan sebuah kunai ditelapak tangannya.
Sembari berkata dengan lantang...
"MELEPAS SEGEL"
Suara jeritan,bantingan tubuh diatas matras dan semangat para anggota ekskul judo yang sedang berlatih. Tidak mematahkan semangat mereka dimusim panas tahun ini.
Hari ini matsuri sendirian,entah semenjak sakura ketoilet sampai sekarang dia belum kembali lagi keaula.
"Kemana pengasuhmu?" tanya Gaara. Sambil menyodorkan minuman dingin kematsuri yang sedang istirahat dipinggir aula.
"Dia bukan pengasuhku." mendengus kesal. Dia sudah SMA kan,siapa yang butuh pengasuh diusianya sekarang.
Sementara ditempat sakura, tepatnya dibelakang gedung olahraga.
Bertemulah 2 insan yang mampu mengulang waktu. setelah perputaran waktu yg cukup panjang mereka lewati,menjalani kehidupan berkali-kali. Dan mati berkali-kali.
Kini dapat bertemu sekarang sebagai siswa SMA yg modern.
Angin mengibas rambut sakura yang panjang berwarna pink.
"Sakura...senang bisa bertemu sama seperti dulu,tetap cantik" sapa orang dihadapannya.
"Sai...Kenapa kau?"
"Aku gagal memilikimu. Kini aku datang untuk mendapatkanmu kembali." sai tersenyum ramah.
"Meski setelah berabad lamanya dia sama sekali tidak berubah." pikir sakura. Ia terus menatap, kearah lelaki dihadapannya.
Sai Mengikuti sakura yang juga menjalani reinkarnasi.
-Sebenarnya siapa mereka berdua?-
Usai berlatih judo,Matsuri berjalan sambil tertatih menuju ruang ganti.
Hari ini tidak seperti hari-hari biasanya. Ia tampak sangat lelah dan terlihat pucat. Saat berjalan sendiri dikoridor kelas yang tampak sunyi, tiba-tiba ada rasa sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Ia berjalan sempoyongan.
Jantung nya terasa sakit.
Sampai-sampai kedua kakinya tidak lagi mampu menahan berat tubuhnya.
" Kenapa? ada apa ini?hosh.. hosh..." nafasnya memburu seperti akan kehabisan oksigen. Jantungnya memicu dengan cepat. Dadanya sesak. Dan rasa sakit itu semakin menjadi, setiap ia mencoba bertahan.
Dia sudah tidak mampu melihat dengan jelas. Buram.
Tidak ada yg bisa memberi tahu apa yang terjadi dengan dirinya.
Dia pun ambruk.
(Dikediaman Danzo)
Para pelayan tampak sibuk.
Sesekali pelayan wanita itu bergosip ria.
"Tumben sekali,tuan muda membawa temannya kerumah."
"iya, apa lagi tamu nya itu seorang gadis yang cantik."
"Beruntung sekali."
Gaara berdiri sambil bersandar pada dinding. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. Meski tetap terlihat tenang,namun dia tidak mampu menyembunyikan kecemasannya sejak 30 menit yg lalu.
Sejak Gaara menangkap tubuh matsuri yg tiba-tiba roboh dengan kedua tangannya.
"Neji_san. Bagaimana keadaannya?" tanya Gaara yang sedari tadi merasa cemas.
"Dia baik-baik saja. Dia cuma kelelahan. Sudah saya beri dia obat. Saya permisi dulu."
"hn, baiklah. Makasih dok"
"sama-sama."
Gaara bergegas memasuki kamarnya. Menatap gadis yang baru saja siuman.
Matsuri duduk diatas tempat tidur,menerka-nerka dimana dirinya dan siapa pemilik kamar yg sama sekali tidak mirip rumah sakit atau apapun itu.
Yang terpintas dibenakknya saat itu adalah pulang kerumah.
"Dokter menyarankanmu untuk jangan banyak bergerak." baiklah sekarang matsuri tau siapa pemilik kamar yg ia tempati sekarang ini.
matsuri menatap laki-laki yang berada didepannya berdiri sambil memasang tampang stoicnya.
Gaara menempelkan jidatnya kejidat matsuri alih-alih menerka suhu tubuh matsuri yg menghangat.
Matsuri mengalihkan pandangannya, jidatnya tak lagi bersentuhan.
Jika ada sisa-sisa tenaga, matsuri ingin sekali melakukan adu jidat untuk membalas dendamya soal ciuman itu.
" Matsuri, apa kau tidak mengingatku sama sekali?"
suasana hening seketika.
Yg bersua pun hanya diam menanti jawaban lawan bicaranya.
Jawaban yg dinanti Gaara,hanya sebuah gelengan kepala dari matsuri. Yang berarti dia sama sekali tidak mengingat Gaara.
Gaara membelai kepala matsuri.
"Istirahatlah...aku akan memberi tahu kakashi kalau kau menginap dirumahku." tangan yang menyentuhnya dengan lembut,membuat matsuri tunduk seperti seekor kucing terhadap majikannya.
"Apa aku mengenalnya?" pikir matsuri. Namun sia-sia ia tidak mengingat apapun mengenai laki-laki bertato 'ai' didahinya.
Dering ponsel Gaara memecah kesunyian malam itu saat dirinya termangu menatap langit hitam yang pekat.
Matanya beralih keponsel miliknya.
"halo kakashi.."
"Gaara..kebetulan kau menelpon. Ada yg ingin ku sampaikan padamu"
"hmm...katakan"
"aku sudah melepas segelnya,mau tidak mau aku harus membangkitkan tuan Jiraiya. Tidak ada cara lain,selain mencegah munculnya sakura Hitam dipunggungnya"
"Sudah sampai disitu rupanya."
"Sisa-sisa tenaga ku hanya bisa ku simpan sampai keadaannya benar-benar genting."
" Genting?apa maksudmu?"
Kakashi terdiam sejenak,kemudian berkata dengan nada serius." Matsuri yg berubah total menjadi siluman mampu membangkitkan orang mati. Jika sampai orochimaru pun bangkit!.. Maka perang tidak akan mampu terelakkan lagi."
"Berarti harus membunuh orochimaru kedua kalinya." Gaara mendesis pelan.
"iya. kali ini kurenai tidak akan membantu kita lagi. Kau paham,gaara?"
" Ya. Aku harap dia belum menyadari kutukan itu."
Gaara mematikan ponselnya. Kembali, berjalan menuju kamar matsuri.
"Apa ini!" Matsuri terlihat frustasi melihat dirinya dicermin. Tiba-tiba muncul gambar dipunggungnya.
Gaara yang masuk tanpa mengetuk pintu, tidak memberi kesempatan matsuri memakai bajunya kembali.
Gaara kemudian berjalan mendekatinya.
Matsuri meraih bajunya yang tergeletak dikursi yang tak jauh darinya dan hanya menutup tubuh seadanya.
Gugup dan takut itu yang dirasakan matsuri,inilah dirinya dihadapan Gaara. Tidak memakai atasan bahkan bra tak lagi melekat dikulit mulusnya.
"Ga..ara" ucap matsuri gugup.
Gaara kini menghimpit tubuh matsuri, dengan tubuhnya yang kekar.
"Dulu ada seorang gadis kecil yang aku selamatkan,saat dia akan ditabrak truk. Dia berjanji akan membalas kebaikanku itu dengan sisa hidupnya. Dia kemudian pergi setelah mencium pipiku." tutur Gaara.
"Jadi kau!" Matsuri terkejut.
"sekarang aku menagih janjimu." Gaara menghimpitkan tubuhnya,mencium bibir matsuri. Kecupan-kecupan itu turun keleher matsuri.
Meninggalkan bercak-bercak merah. Gaara meremas lembut kedua payudaranya,sesekali menggigit ujung nya. Dan matsuri mulai mengerang kesakitan yg nikmat. Matsuri menikmatinya.
Dirinya terhanyut akan sentuhan yang Gaara berikan. Dirinya ingin lebih,lebih dari sekedar belaian. Mengetahui akan reaksi matsuri, Gaara bermain-main dengan wanita yang sedang bergejolak dihadapannya.
Mengabaikan Matsuri yang menanti agar Gaara memberikan 'itu' segera padanya. Membuat matsuri frustasi menunggu.
Mengerti akan bahasa tubuh matsuri. Gaara menggendong matsuri ketempat tidur. Gaara melepas seluruh pakaiannya yg dikenakannya. Menyentuh kewanitaan matsuri.
"ternyata sudah ya.." Garaa tersenyum kemenangan melihat matsuri yg sudah ejakulasi saat dia memberikan sentuhan sentuhan itu.
"Gaara…" matsuri terlihat malu-malu. Semburat merah tak dapat ia tutupi lagi.
Gaara memasukan jarinya kelubang yang siapa saja mampu mencakupnya dalam semalam maka dia disebut laki-laki. Ia masukkan 1 jari,dan memaju mundurkan secara seirama.
Tidak bukan itu yg diinginkan matsuri.
"ahaaaahahahaaaah hmmm…aaaah" matsuri mendesah,ia menahan nafasnya saat dirinya akan kembali berejakulasi,namun gaara mempertahankan jarinya didalam kewanitaan matsuri. Matsuri terus menahan agar cairan itu tidak keluar. Tapi, tidak manusiawai sekali si gaara sehingga dirinya terus menahan hasratnya.
Tidak bertahan lama. Akhirnya keluar.
Gaara merasakan cairan lengket itu keluar dari kemaluan matsuri.
Dia membuka kedua paha matsuri. Menatap sesuatu yg tepat ditengah yg telah merah merekah.
"Ini finalnya…" gaara tersenyum simpul.
Gaara memasukkan miliknya,sedikit menahan nafas. Dan neluncur dengan sempurna, ternyata matsuri menjaga dirinya dengan baik.
"aaaahkkkk haaaah" matsuri merasakan rasa sakit saat Gaara memasukkan miliknya kemilik matsuri. Rasa sakit itu perlahan namun pasti berubah menjadi kenikmatan tersendiri.
"hnn" Gaara menatap sesuatu yg keluar dari kemaluan matsuri. Rupanya ini yg pertama bagi matsuri.
"Kau milikku" Gaara membisikkan kata-kata itu,dan mulai memaju mundurkan Mr.P miliknya. Himpitan kemaluan matsuri membuat gaara sedikit bekerja keras membuat matsuri kembali merasakan sakit kembali,rasa nyeri dikemaluannya.
"Apa kau baik-baik saya?" Gaara merasa cemas. Gaara menghentikan kegiatannya, merasa kecewa karena tidak dapat melakukannya secara baik dan hanya melukai gadis yang dicintainya.
Tiba-tiba saja sesuatu yg terjadi ditengah-tengah kegiatana itu. Rasa sakit itu kembali matsuri rasakan, tidka ada yg athu bahkan dirinya tidak tahu. Keringatnya bercucuran.
matsuri mencengkran lengan Gaara,hingga kukunya menembus kulit Gaar,
Tenggorokkannya sakit akibatnya suaranya terdengar samar. Suhu tubuhnya kembali menghangat,wajahnya pucat.
Dan lagi
pupil mata matsuri berubah berwarna merah semerah darah.
Gaara khawatir melihat gadis dihadapannya yg terus gemetar. Dia merasa bersalah. Dengan segera gaara mengenakan pakaiannya kembali. Dirinya ingin cepat-cepat membawa matsuri kerumah sakit.
Matsuri kembali mencengkram lengan gaara saat hendak memasangkan darah keluar dari luka itu.
Gaara mengabaikan rasa sakit,ada yang lebih merasakan sakit dari pada dirinya.
"kau baik-baik saja ,matsuri. Bertahanlah." Gaara terlihat khawatir. "mungkinkah" pikir Gaara.
"haah..haah,.. Gaara.." matsuri mulai kehilangan kesadarannya,sesuatu mengendalikan tubuhnya.
Hening. Sesaat kemudian matsuri berkata.
"aku menginginkan… darah"
T
B
C
tunggu chap! Selanjutnya!
Mohon tinggalkan ripiunya.
