"Diantara kalian siapa yang mau jujur atau mengakui sesuatu?" Lee Saem duduk di singgasananya dalam ruang kedisiplinan ini. Sedangkan kedua pelaku tadi berdiri sambil menunduk terutama Jeno menghindari kontak mata dengan ayahnya.
"Aku memukulnya." Jaemin angkat bicara. Ia hanya ingin segera keluar dari ruangan ii dan menyelesaikan urusannya dengan Haerin.
"Kenapa kau memukulinya?" Ujung-ujung jari Lee Saem bertaut hingga membentuk segitiga.
"Aku kesal."
"Karena?"
"Ia mencampuri urusanku."
"Kau melakukan kekerasan pada seorang siswi." Jeno menyahut setelah diam cukup lama.
"Apa kau punya bukti?" Jaemin melirik sinis orang di sampingnya. Sedang Lee Saem memperhatikan mereka tanpa menyela apapun.
Jeno bungkam, ia tidak punya bukti apapun tapi ia yakin jika Jaemin bermaksud memukul gadis tadi jika saja ia tidak datang.
"Aku melihatnya."
"Dan berusaha mencari muka dengan jadi pahlawan?" Sindiran yang Jaemin layangkan membuat Jeno mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
"Cukup!"
Keduanya diam, dan Jaemin masih berpikir bagaimana caranya keluar dari sini tanpa memperparah keadaan karena mulutnya sendiri.
"Aku menghargai Jeno sudah mau mengingatkan Jaemin sebagai teman." Jaemin menggulingkan matanya jengah mendengar pujian sepihak itu. "Tapi, kau seharunya punya bukti sebelum menuduh seseorang seperti itu Jeno-ah."
"Dan Jaemin, setahuku kau tidak pernah terlibat masalah selama ini, tapi perbuatanmu memukul teman seperti itu sudah pasti ada hukumannya."
"Iya Saem." Jaemin menunduk, lebih kepada tidak ingin mempermanjang masalah.
"Ah aku ingat, Pertandingan antar sekolah sebentar lagi bukan, Jeno-ah kau harus mau menjadi ketuanya."
"Ta-tapi Saem-" Lee Saem memasang ekspresi tak ingin di bantah.
"Dan Jaemin Kau jadi wakilnya."
"Tapi Saem aku bukan anggota kesiswaan." Jaemin menyela cepat.
"Urutan kepanitiaan acara itu tergantung padaku, dan tidak ada persyaratan harus menjadi anggota kesiswaan untuk itu."
"Bagaimana? Atau harus ku minus nilai kalian saja?"
"JANGAN SAEM." Keduanya kompak mencegah gagasan itu.
Lee Saem tersenyum puas, melihat kedua anak muda di depannya. Berbeda dengan Jaemin dan Jeno, mereka merutuki hari ini salam hari masing masing.
"Kalian boleh keluar, dan Jaemin rapat pertama pulang sekolah nanti, jangan menghindarinya."
"Iya Saem."
Keduanya keluar dari ruang konseling itu dengan gerutuan.
"Ini salahmu." Jeno mengusap pipinya yang masih ngilu.
"Jika kau tidak ikut campur aku sudah dapat buku sketsaku dari tadi." Jaemmi ingin sekali memusnahkan orang di depannya sekarang juga.
Omong-omong soal buku sketsa.
Di sisi lain, haechan melempar-lempar buku itu dalam jarak pendek, bocah itu berhasil mendapatkan barang berharga sahabatnya. Saat gadis bernama Haerin ingin pergi melipir ketika Jeno dan Jemin sedang sengit-sengitnya tadi.
Kira-kira begini.
"Ow ow ow, kau boleh pergi setelah memberikan buku sahabatku." Haechan mencegat Haerin yang masih ketakutan.
"Aku tidak mengancammu, tapi Jaemin bisa menghancurkan apapun jika miliknya di curi. Bagaimna? Haerin-ssi?" Suaranya kalem tapi yang Haechan bilang bukan cuman ancaman.
Gadis itu mengigit bibirnya.
"Ikut aku," Haechan mengekor sampai ke kelas gadis itu, menerima buku sketsa pemberiannya dengan beberapa potongan kertas kecil di pinggiran spiral buku itu.
"Berapa yang kau ambil?"
"Hanya dua."
Haechan membuka buku itu yang sudah setengah bukunya terisi gambar-gambar Jaemin. Dari goresan kerangka, beberapa wajah yang ia kenal, dan bebebrapa gambar chibi.
"Lain kali jangan mencuri, bilang saja padaku kan bisa aku fotokan. Itupun kalau Jaemin lagi lengah. Ok?" Haerin mengangguk.
Saat keluar kelas Haerin. Haechan di kejutkan oleh Mark yang tiba-tiba muncul di sana, dan langsung di pojokkan tatapan menuntut penjelasan dari kakak kelasnya itu.
"Dari mana saja?"
"Mengambil ini." Haechan mengangkat buku Jaemin di depan muka Mark.
"Mengapa tidak menjawab panggilanku? Memangnya kau tidak lapar hmmm?" mark mencubit pipi gembil kekasihnya.
"Aww, hyuuuuung. Aku sudah menghabiskan kimbapnya Jaemin jadi aku tidak lapar." Keluh Haechan cemberut.
"Kalau kau sudah makan harusnya bilang, jangan mengabaikanku." Mark mengusap sayang pipi bekas cubitannya itu.
"Pulang sekolah ada latihan tidak?"
"Ada." Mark masih betah mengusapkan jari-jarinyaa di pipi Haechan, mengabaikan jika seluruh isi koridor bahkan kelas tempat Haechan keluar tadi memperhatikan mereka.
"Kalau gitu aku pulang dengan Jaemin"
"Kau tidak mau menungguku?" Tampang memelas Mark membuat gadis-gadis di sana memekik, tapi langsung di tatap tajam oleh Haechan dan mereka pergi.
"Gadis-gadis pengemarmu saja sanah yang menunggumu, biasanya juga begitu." Haechan melengos pergi diikuti yang langsung merangkul baku kekasihnya.
"Ayolah Haehcan-ah kau tahu aku tidak pernah menghiraukan mereka."
"Tapi janji belikan aku Manggo dessert setelahnya."
"Call!" Mereka berdua saling melempar senyum.
"Yasudah aku ke kelas dulu. Bye hyung." Haechan mengecup kilat pipi hyung kesayangannya sebelum berlalu. Percayalah, efek ciuman itu membuat Mark lupa jika ia berniat marah-marah pada kekasihnya itu tadi.
Haechan sudah duduk manis di bangkunya saat Jaemin melangkah masuk ke dalam kelas dengan gerutuan yang lebih parah dari tadi pagi.
"Jadi, apa hukuman dari Lee Saem?"
"Kau melihatnya?!" Haechan nyengir saat tatapan menuduh Jaemin menghunus padanya. Jemin seakan kalau kau melihat kenapa tidak ngapa-ngapain.
"Lee saem memberikanku hukuman jadi wakil ketua acara kompetisi antar sekolah." Jaemin ingin sekali melempar apapun mengingat hal yang baru ia alami.
"Hah? Bagaimaan bisa? Kau kan tidak pernah ikut-ikutan kesiswaan begitu." Jaemin mengedikkan bahunya sebal.
"Tidak tahu, pria tua itu yang memerintahkannya, dan kau tahu Haehcan-ah dia memuji anaknya selama aku di ruang konseling. Cih, tidak pro sekali."
"Oh iya." Haechan meletakkan buku yang jadi alasan kesialannya hari ini.
"Darimana kau dapat?"
"Haerin."
"Maksudku bagaimana bisa?" Jaemin memeriksa halaman demi halaman, siapa tau ada yang hilang selain gambarnya di mading tadi pagi.
"Yaa, aku cuman minta dan bilang kau akan menghancurkan kelasnya jika dia tidak memberikan bukumu padaku."
"Ah, sial." Jaemin menemukan ada gambarnya yang hilang.
"Sudahlah, yang penting ka bukumu kembali." Jaemin mengangguk, tapi masih tidak rela.
Setelahnya, guru mereka masuk dan pelajaran kembali kondusif seperti biasa.
