Always There
Chapter Four
Pairing: Yunho x Jaejoong(YunJae)
Warning: YAOI, BL(BOYS LOVE), Typo, Tidak sesuai EYD dll.
No Bash! No Copas!
.
.
Cinta itu tak dapat dipaksakan..
Terkadang kau tidak menyadari saat cinta datang padamu
Tak peduli seberapa besar pun kau membencinya, jika cinta sudah mentakdirkan kalian bersama, pada akhirnya, kau hanya akan bahagia denganya
Cinta datang karena terbiasa...
Kau terbiasa tinggal denganya, terbiasa menjalani hari-hari denganya
Saat ia menghilang dari kehidupanmu, kau akan merasakan ruang hampa di hatimu.
Ketika debar jantungmu lebih cepat saat menatap matanya
Ketika kau tersenyum saat melihat dia tersenyum
Sadarilah suatu hal...
Meskipun mulut menyangkalnya, tapi hatimu tak dapat berbohong.
Kau sudah jatuh cinta padanya
.
.
Jaejoong menatap jengah pria di depanya. Sejak tadi Yunho masih belum mengatakan apa-apa. Hanya terkaget dengan tampang bodohnya itu.
"Apa?" Hardik Jaejoong ketus saat Yunho masih menatapnya. "Kau tidak mau? Sayang sekali, padahal ini makanan mahal" Ucap Jaejoong lagi.
"Aniya!'' Jawab Yunho cepat. "Gomawo, aku akan makan sekarang"
Yunho pun mulai mengambil hidangan yang tersaji di depannya dan makan dengan lahap. Jaejoong yang melihat itu berdecih pelan kemudian mulai makan juga.
Makan malam itu dihiasi keheningan. Hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Jaejoong memang tidak tertarik untuk berbicara dengan Yunho. Sedangkan Yunho tak tahu harus bicara apa. Suasana benar-benar canggung~
"Jae selamat atas keberhasilan album mu." Ucap Yunho akhirnya. Senyum tulus mengembang di bibir hati miliknya. Ia mengulurkan tanganya, hendak berjabat tangan dengan Jaejoong.
"Gomawo" Ucap Jaejoong angkuh. Ia tidak membalas uluran tangan Yunho dan membuang mukanya.
Meskipun Yunho agak sedikit sedih karena Jaejoong tak membalas tanganya, ia tetap berusaha tersenyum. Ia ingin mencairkan suasana yang kaku dengan mengajak Jaejoong mengobrol.
"Ne." Ucap Yunho.
"B-bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Jaejoong gugup. Ia memang tidak terbiasa menanyakan hal ingin pada Yunho. Biasanya juga dia tidak peduli. Jaejoong juga bingung pada dirinya saat ini. Kenapa ia peduli? Pikirnya dalam hati.
"Baik. Semua berjalan seperti biasa." Jawab Yunho dengan senyum mautnya yang mampu detak jantung Jaejoong sedikit berdebar. Mungkin karena Jaejoong tak pernah melihat wajah suaminya dengan benar, baru ia sadari kalau sebenarnya Yunho tampan juga.
"Ohh baguslah." Ucap Jaejoong sekenanya. Ia mengambil ponsel nya yang bergetar dalam saku celana nya.
"Yeoboseyo" Ucap Jaejoong di telepon. Yunho jadi penasaran siapa yang menelepon Jaejoong.
"Yeoboseyo Jongie chagi. Kenapa tidak membalas pesanku? Aku kangen sekali padamu"
"Maaf Sam, aku bahkan belum membaca pesanmu." Jawab Jaejoong dengan nada pura-pura menyesal.
"Gwenchana, aku tahu kau lelah. Selamat atas album barumu ya sayang. Maaf baru mengucapkanya sekarang."
"Gomawo."
"Kau sedang apa sayang? Apa besok kau ada acara? Aku ingin mengajakmu kencan hehe"
"Ah eothoke? Besok aku sudah ada janji dengan Chagmin. Aku akan mentraktir anak itu besok. Kau ikut saja dengan kami, aku akan mentraktirmu sekalian." Ucap Jaejoong. Manik matanya memperhatikan wajah Yunho yang tampak sedikit sedih dan tidak suka, menurutnya.
"Baiklah sayang. Sampai bertemu besok, Saranghae"
"Nado Saranghae" Ucap Jaejoong lalu memutus sambungan teleponnya. Ia melihat Yunho hanya diam dan menatapnya tidak suka. 'Berani sekali dia' ucap Jaejoong dalam hati.
Merasa risih diperhatikan seperti itu, akhirnya Jaejoong buka suara juga. "Apa?" Ucapnya ketus seperti biasa.
"Pria yang bernama Sam itu, eumm di-dia namja chingu mu?" Ucap Yunho gugup tapi berusaha untuk berani. Ia melihat air muka Jaejoong langsung berubah dingin.
"Apa itu hal yang menjadi urusanmu?!" Ucap Jaejoong dingin.
"Te-tentu s-saja. Kau istriku." Ucap Yunho akhirnya. Walaupun ia takut Jaejoong bakal mengamuk.
"Ya. Dia pacarku. Aku sangat mencintainya. Puas kau?! Ini sungguh bukan hal yang menjadi urusanmu. Jangan besar kepala hanya karena hari ini aku berbaik hati mengajakmu makan malam. Kau harus tahu seberapa dalam aku membencimu!" Jaejoong menatap sengit pemuda yang duduk di depanya. Ia harus membuang jauh-jauh pemikiran 'ia akan bersikap sedikit baik' pada namja ini. Yunho semakin terlihat besar kepala dan berani. Dan Jaejoong tidak suka itu.
"Kenapa? Kenapa kau membenciku? Apa salahku? Aku tak mengerti karena selama ini aku merasa sudah bersikap baik padamu." Ucap Yunho.
"Kau tanya kenapa aku membencimu?! Bukankah sudah sangat jelas?! Karena kau menyetujui perjodohan konyol ini! Apa yang kau harapkan dari sikap baikmu itu? Berharap aku mencintaimu begitu? Cih sampai mati pun aku tak pernah melakukanya." Ucapan Jaejoong tadi sangat menohok hatinya. Ia kembali merangkul luka perih yang masih belum sembuh karena Jaejoong terus menambahnya setiap hari. Baru saja ia berpikir kalau Jaejoong sudah mulai menerimanya dalam pernikahan ini. Tapi ternyata ia salah. Namja cantik itu kembali ke sifat awalnya yang kejam(?).
Yunho jadi merasa bersalah. Tak seharusnya ia berkata seperti itu. Sepertinya ia telah merusak suasana hati Jaejoong yang baik hari ini. Dalam hati, Yunho merasa sangat menyesal. Seharusnya ia jangan terlalu terbawa suasana seperti ini. Tapi memang yang diucapkan nya tadi berasal langsung dari hati terdalamnya.
"Mian. Lupakan saja semua ucapanku tadi. Aku hanya terbawa suasana, maafkan aku ne" Ucap Yunho berusaha untuk tersenyum.
BRAK
Jaejoong menggebrak meja makan keras kemudian berdiri. "Percuma saja berbicara dengan pria bodoh sepertimu! Kau tak akan mengerti! Dasar namja tidak berguna" desis Jaejoong sinis. Ia menatap Yunho seolah Yunho adalah manusia menjijikan yang pernah hadir dalam hidupnya. Setelah itu Jaejoong langsung meninggalkan Yunho di ruang makan dan masuk ke kamarnya.
Yunho masih terdiam saat Jaejoong sudah meninggalkanya dan menggebrak pintu kamarnya. Pandanganya lurus ke depan, entah melihat apa dengan tatapan kosong. Perlahan kristal bening itu keluar dari mata musangnya. Yunho menangis. Ia tak sanggup lagi membendungnya. Selama ini Yunho berusaha menjadi namja yang kuat. Ia memantapkan dirinya sendiri bahwa perilaku kasar Jaejoong adalah sebuah proses dalam kehidupan berumah tangga.
Dasar Namja Tidak Berguna
Kalimat itu terngiang-ngiang dalam otaknya. Sangat menyakitkan mendengarnya langsung dari orang yang sangat ia cintai.
Dan tatapan dingin yang menatapnya penuh kebencian saat Jaejoong mengucapkan kalimat itu membuat Yunho tak terkutik lagi. Hatinya serasa diremas entah oleh apa. Perasaan nya tak dapat digambarkan lagi. Campur aduk.
Yunho tak sanggup lagi. Ia ingin berteriak se kencang-kencangnya untuk melampiaskan rasa sakitnya. Terlalu sakit hingga membuatnya sulit bernafas.
Yunho bukan namja cengeng yang selalu menangis karena suatu masalah. Tapi kali ini berbeda.. Karena Ini masalah perasaanya. Siapa yang tak sedih jika diperlukan seperti itu oleh istrimu sendiri?
Yunho menghela nafasnya pelan kemudian berdiri dan mulai membereskan piring bekas makan malam. Ia mengangkatnya ke tempat cuci piring lalu mencucinya. Setelah semua selesai, ia membaringkan tubuh penatnya di sofa kemudian mulai terlelap.
.
.
Keesokan harinya, Yunho bangun pagi seperti biasa. Ia menyiapkan dirinya kemudian berangkat untuk kerja. Yoochun sudah datang duluan saat ia sampai di tempat kerjanya.
"Yo Chun, tumben datang pagi." Sapa Yunho menghampiri Yoochun yang sedang memindahkan pasir dari dalam truk ke gudang.
"Ne" Jawab Yoochun.
"Baiklah, aku ganti baju dulu." Ucap Yunho kemudian berlalu dari hadapan Yoochun.
Setelah selesai ganti baju menjadi pakaian kerja, Yunho mulai bekerja. Ia mulai menyemen sisi samping bangunan kemudian membentonnya. Banyak juga kuli yang sudah datang dan membantunya.
"Yun, aku ingin bicara sebentar denganmu" Ucap Yoochun. Ia sudah selesai memindahkan pasir ke dalam gudang toko bangunan yang berada di sebelah proyek pembangunan ini. Yoochun dan Yunho memang bekerja di dua tempat sekaligus. Bekerja sebagai kuli hanya jika ada proyek pembangunan. Beruntung sekali mereka, proyek pembangunan kali ini berada tepat disebelah toko bangunan.
"Oke, tunggu sebentar Chun." Ucap Yunho sedikit menyelesaikan tugasnya kemudian menghampiri Yoochun.
"Ayo kita bicara disana saja." Ucap Yoochun seraya menunjuk bangku panjang tak jauh dari sana.
"Mau bicara apa?" Tanya Yunho saat mereka sudah duduk.
"Begini, kemarin aku melihat ada lowongan pekerjaan di sebuah cafe yang biasa ku lewati. Setelah kutanya-tanya, ternyata 3 pelayan mereka memutuskan untuk berhenti kerja dan melanjutkan kuliah. Ku lihat cafe itu juga bisa kerja paruh waktu. Bagaimana menurutmu Yun?"
"Jinjja? Itu kesempatan yang bagus sekali!" Ucap Yunho senang.
"Ne. Aku juga berpikir jika kita lebih baik bekerja disana daripada bekerja sebagai kuli bangunan seperti ini. Badanku pegal-pegal semua setelah selesai kerja." Ujar Yoochun. Yunho mengangguk membentulkan ucapan Yoochun. Kerja sebagai kuli memang melelahkan sekali.
"Iya benar. Kapan kita akan ke cafe itu? Aku juga lebih baik berhenti bekerja seperti ini."
"Bagaimana kalau besok? Setelah pulang kerja kita coba saja kesana." Usul Yoochun.
"Setuju." Jawab Yunho mengangguk mantap.
.
.
Changmin menatap kesal Hyungnya yang sedang bermesra-mesraan dengan Sam. Mereka baru saja sampai di Commander's Palave dan hyungnya langsung seperti itu. Kenapa sih pacar hyung nya itu harus dibawa-bawa juga? Menyebalkan! Changmin memang tidak suka dengan Sam yang dianggapnya telah merusak pernikahan Jaejoong dan Yunho.
Saat pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka, langsung saja Changmin yang sedang emosi dan lapar memesan makanan dengan jumlah yang tak bisa dibilang sedikit.
"Aku pesan French Toast, Chicken Grilled, Sandwitch Tuna, Butter Steak, Cheese Spagetti, sama Chicken Gordong Blue. Untuk minumnya aku pesan cola-cola jumbo, milkshake dan caffe latte" Ucap Changmin. Jaejoong dan Sam hanya bisa melongo mendengar pesanan Changmin.
"Aku ingin risotto dan lasagna. Minumnya Chocolate mocca. Kau mau pesan apa Sam?" Tanya Jaejoong.
"Indian curry with toast chicken dan Strawberry Float" Jawab Sam. Pelayan tadi segera mencatat pesanan mereka, membungkuk sopan kemudian pergi.
"Hei Changmin. Kenapa mukamu ditekuk begitu? Harusnya kan kau senang makan enak begini" Tanya Jaejoong heran.
"Ani. Aku tak apa-apa." Jawab Changmin sekenanya. Mukanya terlihat kesal. Sambil menunggu makanan datang, Jaejoong dan Sam mengobrol sembari tertawa-tawa mengabaikan Changmin yang hanya bisa menekuk muka imutnya.
"Makanan datang" Ucap Changmin riang ketika pelayan tadi menaruh satu-satu pesanannya ke atas meja. Dengan segera Changmin mulai memakan satu persatu makanan nikmat itu. Jaejoong hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat dongsaengnya itu makan. Hmm memang hanya makanan yang bisa mengembalikan mood seorang Shim Changmin.
Changmin melirik hyungnya yang sedang suap-suapan dengan kekasihnya itu. Jaejoong terlihat tertawa-tawa bahagia. Senyum indah selalu mengembang di wajahnya saat menghabiskan waktu dengan Sam. Changmin juga melihat Sam mengecup bibir ranum Jaejooong yang bisa membuat hyungnya itu tersipu malu.
Dalam hati, ia selalu kepikiran Yunho. Bagaimana perasaan Yunho saat melihat istrinya seperti ini? Pasti akan sakit sekali, guman Changmin dalam hati kemudian melanjutkan acara makannya.
"Jae"
"Hmm?"
"Bagaimana kalau kau bercerai dengan suamimu?" Ucap Sam langsung. Jaejoong langsung membelakan matanya. Hal ini tak pernah sedikitpun terlintas di otaknya. Yah walaupun ia memang membenci Yunho.
"Ma-maksudmu?" Tanya Jaejoong agak gugup.
"Kau kan sudah ada aku. Buat apa masih terikat dengannya? Bukankah kalian juga ingin berpisah?" Ucap Sam menatap Jaejoong intens. Jaejoong terdiam sebentar dan mulai berpikir. Apa yang diucapkan kekasihnya benar. Tapi bukan itu jalan yang diinginkannya. Separuh hatinya menolak untuk berpisah begitu saja dengan Yunho.
"Mian, aku tidak bisa." Ucap Jaejoong akhirnya. Mendengar itu, Changmin tersenyum puas. Seenaknya saja pria ini menyuruh hyungnya untuk menceraikan suaminya. Memang dia pikir dia siapa? Dia kan cuma kekasih baru Jaejoong. Tidak ada apa-apa dibanding Yunho yang berstatus sebagai suami sah hyungnya. Terlebih lagi, cinta yang diberikan Yunho itu terkesan lebih tulus tanpa ada kepura-puraan, berbeda dengan Sam.
Changmin menghentikan makannya sejenak untuk mendengarkan apa yang selanjutnya dikatakan Sam.
"Wae? Apa kau mulai mencintai namja itu eoh?" Tanya Sam dengan nada kesal.
"Aniya. Kau tahu kalau aku tidak pernah menyukainya sedikitpun." Jawab Jaejoong.
"Terus kenapa?"
"Pernikahan kami masih sangat muda. Terlalu awal untuk bercerai. Orangtuaku tidak akan setuju." Jawab Jaejoong memberi alasan.
"Orangtuamu ada di Korea?" Tanya Sam lagi.
"Ani. Mereka sudah balik ke Jepang beberapa hari yang lalu."
"Apa sekarang namja itu masih tinggal di apartemenmu?" Jaejoong menatap wajah Sam yang serius. Ia bingung buat apa kekasihnya itu menanyakan hal itu. Sedikit rasa tidak suka merayap ke hatinya.
"Ya" Jawab Jaejoong datar. Sungguh, Jaejoong ingin menghindaari pembicaraan semacam ini. Bukankah Sam sudah tahu kalau ia sudah mempunyai suami? Lagipula namja keturunan Inggris itu tidak mempermasalahkannya.
"Kau usir saja namja miskin itu keluar dari apartemenmu. Orangtuamu juga tidak tahu kan." Ucap Sam santai. Jaejoong membelakan matanya kaget mendengar penuturan Sam. Sama halnya dengan Changmin yang kini tengah memandang Sam sinis.
"Apa kau gila eoh? Itu tidak mungkin!" Ucap Jaejoong penuh emosi. Ia merasa kesal karena orang ini mencampuri urusan rumah tangganya. Jaejoong memang sensitif sekali dan tak suka hidupnya diatur-atur orang lain.
Melihat Jaejoong sepertinya marah, Sam jadi merasa aneh. Tak biasanya Jaejoong emosi, apalagi menyangkut suaminya.
"Kenapa kau marah hanya karena namja miskin itu eoh? Kau mencintainya? Iya kan?!" Desak Sam tak mau kalah.
"Hei, dengar ya Samuel-ssi. Kau itu memang kekasihku, tapi kau sama sekali tak berhak mengatur hidupku. Sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak mencintainya, apa masih kurang jelas?!" Ucap Jaejoong. Matanya berkilat marah.
Sam hendak berkata lagi, tapi Jaejoong dengan emosi sudah berdiri dan meninggalkanya.
"Ayo Changmin-ah, kita pergi dari sini." Ujar Jaejoong. Changmin hanya mengangguk kemudian melangkah mengikuti Hyungnya
"Arggghhh Sial! Dasar namja miskin Brengsek!" Maki Sam Frustasi.
.
.
Sesuai rencana, hari ini Yoochun dan Yunho akan ke Moonlight Cafe untuk melamar pekerjaan. Senyum tak lepas dari bibir hati Yunho. Ia senang bisa mendapatkan pekerjaan selain Kuli. Ia juga berharap agar penghasilanya di Cafe itu bisa lebih mencukupi.
"Chun, ini Cafe nya?" Tanya Yunho saat mereka sudah berada di depan Cafe itu.
"Iya. Ayo masuk." Ajak Yoochun. Mereka bedua pun masuk ke Moonlight Cafe. Di luar dugaan mereka, Cafe itu ternyata lumayan besar dan juga elegant. Pengunjungnya pun ramai.
"Permisi, saya kesini ingin melamar pekerjaan" Ucap Yunho sopan kepada salah satu pelayan.
"Ne, anda bisa pergi kesana" Jawab pelayan itu seraya menunjuk ke sebuah pintu.
"Gamsahamida" Ucap mereka kemudian membungkuk pelan. Mereka berjalan menuju ruangan itu.
Tok Tok
Yunho mengetuk pintu pelan kemudian mereka masuk ke dalam. Terlihat seorang pria muda sedang duduk disana. Sepertinya namja itu tak terlalu berbeda umur dengan mereka.
"Permisi, Kami lihat di Cafe ini ada lowongan pekerjaan, apa kami masih bisa melamar?" Ucap Yoochun sopan.
"Bisa. Silakan duduk kalian berdua" Ucap namja muda itu ramah.
"Anyeong haseyo, aku Yoochun dan ini temanku Yunho." Ucap Yoochun memperkenalkan diri.
"Anyeong, aku Cho Kyuhyun, pemilik Moonlight Cafe."
"Kami bisa bekerja jadi apapun Kyuhyun-ssi. Asal bisa diterima disini. Kami sangat membutukan pekerjaan." Ujar Yunho sopan.
"Baiklah, apa kalian membawa CV?" Tanya Kyuhyun.
"Ne, kami membawanya. Silakan dilihat." Yunho dan Yoochun memberikan CV mereka kepada Kyuhyun.
Kyuhyun menerimanya kemudian melihat CV mereka dengan serius. Tak berapa lama kemudian, ia berdehem pelan kemudin berkata, "Baiklah. Kalian kuterima bekerja disini. Kalian bisa bekerja sebagai pelayan kan?"
Ucapan Kyuhyun tadi sukses membuat Yunho dan Yoochun menarik nafas lega. Senyum terkembang di bibir mereka berdua.
"Bisa Kyuhyun-ssi. Jeongmal Gomawo." Ucap Yunho seraya tersenyum
"Ne, tak perlu sungkan begitu Yunho ssi, Yoochun ssi. Aku memang sedang membutukan pelayan baru." Ucap Kyuhyun membalas tersenyum.
"Sekali lagi Gamsahamida Kyuhyun-ssi. Kapan kami bisa mulai bekerja?"
"Besok bisa?"
"Bisa. Kalau begitu, kami pamit pulang Kyuhyun-ssi. Selamat sore." Ucap Yunho dan Yoochun kemudian berlalu.
.
.
.
Sejak saat itu, Jaejoong masih belum berbaikan dengan Sam. Jadwal yang padat serta Jaejoong yang sepertinya masih ingin ngambek dengan kekasihnya itu merupakan alasan kenapa sampai sekarang hubungan mereka belum membaik.
Tapi meskipun begitu, Sam tidak menyerah. Ia tetap mengirimi Jaejoong pesan dan menelpon nya saat sedang break syutting. Walaupun terkadang Jaejoong tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya. Tapi Sam tetap melakukan hal itu setiap hari.
Lama kelamaan, Jaejoong luluh juga. Kekasihnya itu mengiriminya pesan permintaan maaf dan menelepon nya setiap hari. Akhirnya, hubungan mereka membaik kembali seperti dulu. Bahkan sekarang sudah lebih mesra. Sam tidak hanya mengantar atau menjemput Jaejoong di apartementnya. Terkadang namja itu menghabiskan waktunya di apartemen Jaejoong. Seperti sekarang, mereka sedang berjalan menuju apartementnya.
Entah kebetulan atau apa, Yunho juga sedang berada di apartement. Ia pulang lebih cepat hari ini.
CKLEK
Yunho tersenyum saat melihat Jaejoong datang, ia menghampirinya.
"Hai Jae" Sapa Yunho seraya tersenyum tulus.
Tapi senyum itu langsung hilang saat melihat namja lain disebelah Jaejoong.
"Minggir" Ucap Jaejoong dingin. Yunho pun segera menyingkir dari hadapan mereka. Bahkan tadi Jaejoong tak membalas sapaan nya. Istrinya itu kembali memasang wajah dingin seperti biasa.
Mereka-Jaejoong dan Sam- berjalan menuju kamar Jaejoong tanpa memperdulikan Yunho sama sekali. Yunho melihat namja inggris itu menunjukan ketidaksukaanya saat menatapnya.
Yunho menatap sendu pintu kamar Jaejoong. Ia berharap Jaejoong tak melakukan apa-apa dengan Sam. Berhubung Jaejoong itu istrinya. Dan sekarang istrinya sedang berduaan dengan namja lain, tanpa Yunho tau mereka sedang berbuat apa di dalam sana.
"Sudah Baby, jangan menggodaku lagi. Gelihh~" Ujar Jaejoong dari dalam kamarnya. Sebenarnya mereka tidak melakukan apa-apa. Sam hanya sedang menggelitik Jaejoong karena gemas dengan namja itu. Tapi tak tahukah mereka bahwa seorang namja lain salah paham mendengarnya.
Di luar kamar Jaejoong, Yunho hanya bisa menahan rasa sakit yang mendera hatinya. Mendengar canda tawa mereka membuatnya cemburu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menahanya.
.
.
Yunho memutuskan untuk mengambil kerja penuh di Moonlight Cafe. Ia sudah berhenti sepenuhnya bekerja menjadi Kuli. Penghasilannya sekarang juga sudah lumayan mencukupi. Terkadang Yunho lembur sampai malam untuk mencari uang tambahan.
"Yunho-ah maaf aku harus pulang duluan hari ini. Kau tidak apa-apa kan mengerjakannya sendiri?" Ucap gadis itu merasa tidak enak. Gadis itu adalah teman kerja Yunho di Moonlight Cafe.
"Tak apa-apa Carrie. Kau pulang duluan saja, tak baik juga kan seorang wanita sepertimu pulang selarut ini." Ucap Yunho seraya melanjutkan pekerjaannya.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan ya." Jawab gadis itu seraya melambaikan tangan.
"Ne, hati-hati di jalan" Yunho balas melambaikan tangan kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Ia menghela nafas pelan. Lelah. Itulah gambaran perasaan Yunho saat ini. Ia bekerja dari pagi hingga larut malam seperti ini. Biasanya Carrie akan lembur bersamanya, tapi hari ini gadis itu ada urusan sehingga pulang lebih awal. Yunho kembali melanjutkan tugas nya. Masih banyak yang belum ia kerjakan seperti mencuci piring, mengepel lantai Cafe dan masih banyak lagi. Hmm, sepertinya Yunho akan pulang lebih malam hari ini.
.
.
"Changmin-ah, tak bisakah kau mengantarku dulu? Yahh jeball Minnie" Rengek Jaejoong mengeluarkan jurus puppy eyes nya. Changmin menghela nafas gusar, tak enak juga meninggalkan hyungnya pulang malam-malam begini sendirian. Apalagi Jaejoong seorang penyanyi terkenal. Takut ada stalker atau antifans yang bisa melukainya kapan saja.
"Mian Hyung, eomma ku sudah menunggu hampir 2 jam di bandara. Aku harus menjemputnya sekarang" Jawab Changmin akhirnya. Jaejoong menatap Changmin kesal. Memang sih ini salahnya juga. Sebenarnya pekerjaannya sudah selesia dari 3 jam yang lalu, tapi ia meminta Changmin untuk menemaninya makan malam sekaligus mentraktir(lagi) dongsaengnya itu. Ajakan yang pasti tidak dapat Changmin tolak karena berhubungan dengan makanan.
Sialnya lagi, hari ini Jaejoong tidak membawa mobil. Tadi pagi ia dijemput Changmin di apartementnya dengan menggunakan mobil managernya itu.
"Kau tega membiarkanku pulang sendirian minnie?" Rengek Jaejoong lagi tetap tak menyerah.
"Mian" jawab Changmin penuh dengan nada penyesalan. Bagaimanapun juga, ia tak enak dengan Jaejoong.
"Aish! Arasseo, Arraseo! Sudah sana jemput eomma mu di bandara!" Ucap Jaejoong kesal. Kemudian ia memakai topi, masker, dan kacamata hitam sebagai penyamarannya agar tak dikenali fans.
"Hati-hati di jalan Hyung. Di ujung jalan ini, panggil taxi saja hyung."
"Iya iya sudah sana pergi cerewet" Jawab Jaejoong sekenanya kemudian berlalu meninggalkan Changmin yang juga sudah memasuki mobilnya.
.
Jaejoong merapatkan lagi jaket sutra itu ke tubuh kurusnya. Udara malam ini terasa menusuk kulitnya. Ia berjalan pelan menyusuri gang besar yang gelap itu. Jaejoong begitu merutuki pencahayaan yang sangat kurang di jalan ini.
Ia harus jalan beberapa meter lagi ke depan untuk sampai ke jalan raya dan menyetop taxi. Karena tempat ia dan Changmin makan tadi memang berada dalam gang, dan agak sedikit jauh dari jalan raya.
Jaejoong mengerjapkan matanya beberapa kali dibalik kacamatanya. Rasa takut merasukinya saat melihat 3 orang namja bertubuh kekar berada di ujung gang. Padahal sedikit lagi sampai. Orang-orang tersebut terlihat mabuk dan errr mengerikan.
'Tenang jae, tak akan terjadi apa-apa. Kau hanya perlu jalan tanpa memperdulikan mereka. Selama kau tak menganggu mereka, maka mereka juga akan tidak menganggu mu.' Suara batin Jaejoong berbisik menenangkannya.
"Ya, ya, aku hanya perlu jalan saja." Ucap Jaejoong memberanikan diri. Ia membetulkan penampilannya lagi agar tak diketahui namja namja disana.
Jaejoong berjalan perlahan, sangat berhati-hati saat namja-namja pemabuk itu sudah tak jauh di depannya. Ia melihat namja-namja itu tertawa kencang, sembari meneguk lagi minuman keras yang ada ditanganya. Semakin dekat jarak Jaejoong dengan para pemabuk itu, maka semakin pula ketakutan merasuki hatinya.
"HAHAHA DASAR GIlA KAU HAHAHA!" Suara tawa keras itu benar-benar membuat Jaejoong merinding. Ia harus secepatnya melewatinya dan pulang ke apartement. Ya benar, harus sekarang. Tanpa pikir panjang lagi, Jaejong segera berjalan cepat melewati mereka. Ia hampir saja melewati para pemabuk itu dengan selamat saat merasakan seorang mencengkram punggungnya dengan keras.
"YA YA YA! KITA LIHAT SIAPA DISINI! SEORANG NAMJA KAYA EOH?!" Ucap salah satu dari pemabuk itu. Ia memperhatikan Jaejoong dari atas sampai bawah. Memakai kacamata hitam, topi, masker dan jaket tebal. Sebenarnya penampilannya biasa saja, sama seperti orang pada umumnya yang menggunakan pakaian seperti itu di malam musim dingin. Namun mungkin karena kewarasan namja-namja pemabuk itu sudah mulai menghilang, jadi mereka menganggap Jaejoong pria kaya raya.
Jaejoong mulai berontak agar dilepaskan dari cengkraman pemabuk itu. Sedikit menggertak, tapi apa daya namja-namja brengsek itu tak mendengarnya sama sekali. Malah semakin puas melihat pemberontakanya walaupun wajahnya terhalagi masker dan kacamata.
"Apa mau kalian HAH?! Lepaskan aku! Atau ku panggil polisi sekarang juga!" Ancam Jaejoong seraya berusaha melarikan diri dari ketiga namja itu. Bukannya takut, para pemabuk itu malah menertawakannya seperti orang gila.
"KAU PIKIR AKU TAKUT HAH?! DASAR NAMJA LEMAH BRENGSEK!"
BUGH
DUAGH
Namja besar itu menghantam pipi mulus Jaejoong dan menendang perutnya. Mengakibatkan bibirnya mengeluarkan darah dan tubuhnya limbung ke belakang. Rasa sakit menjalar di tubuhnya. Perutnya terasa nyeri dan pipinya lebam.
"BERIKAN SEMUA UANGMU SEKARANG JUGA!" Bentak namja itu. Ia mencengkram jaket Jaejoong yang membuat namja cantik itu berdiri.
"Tidak ada Brengsek! Dasar gila!" Ucap Jaejoong lemah tapi tetap berusaha melawan.
"MASIH BERANI MELAWAN EOH? BISA APA SEKARANG KAU BAJINGAN?!" Namja itu segera melepaskan cengkramannya mengakibatkan tubuh Jaejoong kembali terlempar ke tanah.
"Arghhh" jaejoong meringis kesakitan saat bagian belakang tubuhnya serasa mau remuk. Ia serasa mau pingsan saat ini juga. Para pemabuk itu merebut paksa tas ranselnya dan hendak mengobrak-abrik isinya.
BUGH
DUAGH
PLAKKK
Para pemabuk itu sempat merasa kesakitan atas tamparan dan pukulan yang mendera tubuh mereka. Tak lama kemudian mereka melepas tas Jaejoong dengan geram dan menghampiri seseorang yang memukul mereka tadi.
"Yunho" Ucap Jaejoong pelan sekaligus tak percaya. Suaminya itu yang datang menolongnya, memukul ketiga namja brengsek tadi yang hampir merampoknya.
"HEH! BERUSAHA JADI PAHLAWAN EOH?! NAMJA KURUS SEPERTI MU MEMANGNYA BISA APA?!" Namja-namja pemabuk itu seketika mengelilingi Yunho yang tak takut sama sekali.
"Dasar manusia tidak berguna! Hanya bisa merampok saja!" Ujar Yunho sinis dengan sangat berani.
"Sialan Kau! HAJAR DIA!" Ucap seseorang dari mereka memberi aba-aba. Jaejoong melihat Yunho dengan susah payah melawan 3 namja besar itu sekaligus. Tak pelak, tendangan dan hantaman mendarat mulus di namja bermata musang itu. Rintih-rintihan keluar dari mulut kecil Yunho, tapi ia tetap tidak menyerah. Ia harus menyelamatkan istrinya. Biarlah ia berkorban demi cintanya.
Jaejoong tak tahu harus berbuat apa. Ia sangat takut untuk sekedar membantu Yunho melawan namja-namja itu. Sedangkan tubuhnya saja sudah sakit luar biasa akibat pukulan mereka tadi.
GREP
Para namja pemabuk itu berhasil menangkap Yunho. Satu diantara mereka memegangi tangan Yunho dan membatasi ruang geraknya. Sedangkan dua namja lainnya terlihat puas telah berhasil meringkus Yunho.
"HEH! BISA APA SEKARANG KAU?!" Bentak namja itu seraya memberikan bogem mentah ke wajah Yunho. Kedua namja itu terus memukuli Yunho yang sekarang tidak berdaya.
Yunho menatap Jaejoong dengan mata musangnya yang sayu. Ia melihat Jaejoong hampir menangis dan bergetar ketakutan.
"Panggil seseorang, cari pertolongan" Ucap Yunho sangat pelan dengan sisa tenaganya. Bahkan suaranya tak keluar, hanya gerak mulutnya saja yang bisa terlihat.
Jaejoong mengerjap bingung, tak mengerti dengan gerak bibir Yunho. Ia hanya diam saja dengan muka tanda tanya.
"Telfon seseorang, selamatkan dirimu, pergi dari sini Jae" Yunho masih berusaha untuk berbicara dan menyuruh Jaejoong pergi. Kali ini suaranya masih terdengar walaupun sangat parau dan pelan.
Setelah mengerti maksud Yunho, Jaejoong segera mengambil ponselnya dan menelfon seseorang untuk meminta pertolongan. Beruntung kedua namja itu sedang sibuk menggebuki Yunho yang sangat tidak berdaya hingga tak menyadari kalau Jaejoong menelfon seseorang.
Jaejoong menatap Yunho khawatir. Namja itu terlihat sangat kesakitan. Ia berharap seseorang yang diteleponnya tadi cepat datang dan segera menolongnya dan juga suaminya.
Harapan Jaejoong terkabul. Orang itu datang dan begitu kaget dengan keaadaan Jaejoong yang lebam dan begitu berantakan.
"Astaga Jae! Kau tak apa-apa? Bagaimana bisa?" Ucap Sam-orang yang ditelfon Jaejoong tadi- dengan nada khawatir. Sam melihat Yunho sedang terkapar di tanah dan dicaci maki oleh tiga orang yang mabuk, tapi ia sama sekali tak peduli.
"Yun..hoo to-tolong dia kumohon" Ucap Jaejoong terbata karena harus menahan nyeri di perutnya saat berbicara.
Sam menatap Jaejoong tidak percaya. Bagaimana bisa Jaejoong memintanya menolong Yunho? Jaejoong saja sudah terluka.
"Tidak Jae, Kau terluka! Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang!" Ucap Sam tegas.
Jaejoong tetap menggeleng. Bagaimanapun ia sangat mengkhawatirkan keaadaan Yunho saat ini. Mana mungkin ia meninggalkannya.
"Yunho Yunho tolong dia.." Racau Jaejoong. Tetapi Sam tidak memperdulikan ucapanya dan membopong Jaejoong pergi dari tempat itu.
Yunho melihat Jaejoong sudah pergi dibopong namja chingunya. Meskipun ia sedikit merasa cemburu, tapi ia tenang sekarang Jaejoong sudah bersama orang yang tepat. Seulas senyum terbentuk di bibir hatinya.
"SIAL! KITA KEHILANGAN NAMJA KAYA ITU! BRENGSEK KAU!" Ucap namja mabuk itu kesal seraya menendang muka Yunho. Kemudian mereka meninggalkan Yunho yang terkapar di tanah dengan luka dimana-mana.
Yunho memejamkan matanya. Sakit menderanya di seluruh bagian tubuhnya. Ia berusaha untuk berdiri tetapi terjatuh lagi.
"Aku Mencintaimu Jaejoongie"
.
.
TBC
Happy Birthday to uri appa and leader, Yunnie Bear. Semoga makin langgeng dan romantis ya sama emak Jeje Haahahaha
Bagaimana dengan chap ini? Aku buat sedikit lebih panjang dari biasanya, semoga tidak mengecewakan yaa
Disini Yunho masih tersiksa, masih belum ada adegan YunJae yang romantis. Tapi di chap depan, bakal ada banyak YunJae momentnya. Keep Read and Review ne? Review makin banyak update makin cepet, hehe seperti biasa..
So, tetep setia menunggu kelanjutan ff ini ya~
BIG THX To kim anna shinotsuke, ifa. , YunHolic, SiDer Tobat, danactebh, hlyjs, Jaejung Love, 6002nope, RaraRyanFujoshiSN, leeChunnie, akiramia44, , , Hana - Kara, , Guest, My beauty jeje, Liaohuan, meotmeot, jaena, ryeo ryeong, yjyjyjyj, ShaYJS, starlight, atarashi11.
Salam YunJae Shipper
Last, Review Plissss~~~^^
