NORMAL?

.

.

GENRE : ROMANCE

LENGTH : HANYA TUHAN YANG TAHU

FANFICT BY TIANLIAN

DESCLAIMER : CERITA INI MILIK SAYA, SEHUN HANYA MILIK JONGIN DAN JONGIN ADALAH MILIK KITA BERSAMA.

RATE: TM [TETEP MESUM TAPI MASIH TANPA NC]

WARN : YAOI, BXB, TYPO'S

.

-OH SEHUN- KIM JONGIN-PARK CHANYEOL-

And other cast

.

SUMMARY

Kami berdua adalah laki-laki normal. Kami suka payudara besar, pantat kenyal dan vagina sempit. Kami juga punya wanita yang kami sukai.

Namun,

Kenapa kami saling tertarik satu sama lain?

.

.

.

Satu-satu hal yang Sehun benci dari hidupnya adalah dirinya, satu-satunya hal menyebalkan yang sangat ingin dia hapus dari dunia ini adalah keberadaannya, satu-satunya, satu-satunya manusia yang mampu membuat dirinya bertahan ada didunia adalah eommanya. Dan satu-satunya hal yang sekarang sangat mengusik hati dan pikirannya adalah senyuman dari Jongin. Pemuda aneh yang seharusnya tidaklah menawan namun begitu menyita perhatiannya. Bagaimana pemuda itu tertawa, mengoceh, berdebat, bertengkar dan mengacuhkannya. Ia tertarik, secara sukarela dan hal itu entah bagaimana membuatnya mulai berpikir.

Mungkinkah ia harus bertahan?

.

.

"Sehun."

.

Sapaan itu keluar dengan begitu tegas dari sang kepala keluarga. Tuan Oh, ayah dari Sehun. Dalam hening Sehun hanya menatap datar ayahnya yang kini tengah menatapnya tak kalah datar.

.

"bagaimana sekolahmu?" lalu sebuah suara yang sangat lembut mengalihkan perhatian keduanya. Wanita dengan kulit pucat yang masih sangat cantik diusianya yang keempat puluh itu tersenyum dan mengusap pucuk kepala Sehun―sayang. Pandangan matanya yang teduh membuat relung hati Sehun menghangat. Secara otomatispun bibir yang menampilkan garis datar itu melengkung beberapa mili. Ikut tersenyum.

.

Ketiganya kini duduk satu meja. Tak ada yang berbicara setelahnya, hanya suara denting sendok yang berbenturan dengan piring serta bunyi kecapan dari masing-masing yang mengisi ruang.

.

Sehun adalah orang yang pertama meninggalkan meja. "aku sudah selesai, selamat malam." Dan hanya begitulah sepatah kata yang terucap. Tanpa menunggu balasan ia sudah melangkahkan kakinya menuju tangga lalu masuk ke dalam kamar.

.

Dari balik pintu kamarnya ia terduduk, melipat tubuhnya lalu menenggelamkan kepalanya pada lutut. Bunyi gebrakan meja itu terdengar nyaring diikuti suara pecahan yang begitu memekakkan telinga. Teriakan dan makian itu berdenging, menari-nari bebas dalam lempeng telinganya secara jelas meskipun ia sudah dengan erat menutup telinganya dengan kedua telapak tangan.

.

Selalu sama dan tidak akan pernah selesai.

.

Ia akan selalu menjadi sumber masalah. Apapun, bagaimanapun, selama ia masih bernafas di dunia ini maka senyuman kedua orang yang seharusnya sangat ia sayangi itu tidak akan pernah dapat dia lihat. Dan itu karenanya. Semua salahnya. Salahnya, sampai kapanpun itu… ia tetaplah bersalah.

.

.

.

[Chapter 4]

-Wrong Peanut-

.

.

.

"aaahhh… umh, ugh.. sa―kit!"

.

"diamlah!"

.

"kau mau membunuhaahhh… Parrkk!"

.

"diamlah Kim!"

.

"yaakk… jangan disentuh! Arrgghh! YOORAA NUNA! TOLONG JONGIN!"

.

Tak lama kemudian pintu kamar Chanyeol menjeblak dengan sangat tidak elit. Seorang wanita dengan baju kantoran memandang sengit seorang pemuda yang berparas sebelas dua belas dengan dirinya lantas berjalan penuh aura kegelapan kearah mereka berdua yang masih bergulat diatas ranjang.

.

CTAK!

.

Dengan sayang Yoora menjitak kepala sang adik―Chanyeol- yang iikuti oleh tatapan sengit tak terima Chanyeol.

.

"APA SALAHKU?!" protes Chanyeol tak terima. Yoora yang masih ada disana berkacak pinggang, membalas protesan Chanyeol dengan cibiran lalu beranjak menuju samping Jongin yang masih mengenakan separuh seragam. Yah separuh, karena yang terpasang ditubuhnya hanyalah sepotong kemeja sedangkan celana yang seharusnya ada dibagian bawahnya itu masih terpasang separuh sebuah bokser yang membalut kaki tan Jongin.

.

"kau salah, karena kau selalu salah." Balas Yoora malas sembari membantu Jongin berdiri. "apa sulitnya membantu Jongin memakai seragam hah?! Begini saja kau tidak bisa, kalau seperti ini mana mau nyonya Kim mengambilmu menjadi menantunya."

.

Jongin menrima uluran tangan Yoora patuh kemudian mulai membenahi celananya dengan perlahan. Ok, kakinya masih sangat sakit karena kejadian semalam. Jatuh, terkilir dan kemudian dibanting oleh si idiot Park. Jadi pagi ini seharusnya jadwal Chanyeol yang idiot itu membantunya memakai seragam. Namun, karena Park Chanyeol yang kata para kaum hawa sangat menawan itu sesungguhnya sangat idiot. Dia, Park Idiot Yeol malah tidak sengaja memegang kakinya yang terkilir dengan begitu kasar. Dia memang sialan, yakan?

.

Dan wanita menakutkan ini. Yoora nuna. Park Yoora, kakak kandung Chanyeol, cantik, menawan, pintar dan juga orang yang sangat Jongin sayangi setelah kedua orang tuanya. Bahkan Jongin lebih menyayangi Yoora nuna ketimbang dua kakaknya sendiri. Kenapa? Karena Yoora nuna tidaklah lebih menyeramkan daripada dua kakaknya. Well, setidaknya Yoora nuna akan selalu membelanya dari pada si idiot Park Chanyeol itu. Canggung? Tidak, Yoora adalah kakaknya juga. Ia sudah mengenal Yooara nuna semenjak ia masih bayi.. Yoora adalah keluarganya, tapi Chanyeol? Bukan. Keluarganya adalah Yoora dan Chanyeol adalah anak tiri disini.. kkkk

.

"AKU NORMAL, PARK YOORA!" Chanyeol berteriak dan Yoora dengan malas menatap sang adik semata wayang dengan mata bosan.

.

"memangnya aku mengataimu tidak normal?" Yoora berdecak sebal lantas membantu jongin berjalan. "ibu Jongin juga punya dua anak perempuan. Jika kau ingat."

.

Telak, Chanyeol menggeram marah dan Jongin dengan sialnya terkekeh puas. Hahah.. seharusnya Yoora nuna saja yang menjadi kakakku. Pikir Jongin serius. Yah.. mungkin nanti dia akan mengusulkan hal tersebut pada kedua orang tuanya, tukarkan dua kakak perempuannya yang menyeramkan itu dengan Yoora nunanya tersayang.

.

"tch, sialan." Jongin dapat mendengar Chanyeol mengumpat pelan namun ia tak perduli. Well, karena toh dia juga senang jika Chanyeol terpojokkan macam ini.. ahahaha

.

.

.

.

.

"jaga baik-baik Jongin, Ingat itu Park!"

.

Chanyeol menggerutu mendengar petuah dari sang kakak. Sebenarnya dia adik siapa hah? Apa mungkin dia dan Jongin tertukar pada waktu di dalam kandungan? Heh, yang benar saja!

.

"jangan lupa ganti perban kakinya, Jongin sendirian dirumah dan nuna harus pergi ke Jepang untuk beberapa hari. Jadi tolong, jangan mengacau.. Park Chanyeol." Yoora dan sifat galaknya, ia selalu begitu dan Chanyeol sudah kebal.

Masih dengan wajah tertekuk Chanyeol hanya menanggapi ucapan Yoora dengan gumamam yang berarti 'ya' dan Jongin yang ada di meja makan masihlah asyik memakan sarapannya sembari melihat interaksi antara dua kakak beradik itu.

.

Ya, Jongin sendirian dirumah. Kedua orang tua serta nunanya tengah ada di China mengunjungi sang nenek yang tiba-tiba saja ingin menikah lagi dan Jongin sang anak bungsu pada akhirnya terpilih menjadi penunggu rumah sementara orang-orang dewasa memilih berlibur ke China dengan kedok menyelesaikan masalah keluarga. Hah.. ya sudahlah. Dengan sangat berat hatipun mau tak mau Jongin haruslah mau. Lagipula kalau dia sendiri dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya. hahahah

.

"berhenti mengkhayal, Kim. Kita harus sekolah."

.

"aku sedang sakit, Jika kau lupa." Jongin membalas acuh sembari mengunyah.

.

"sakit jiwa maksudmu?" Jongin memicingkan matanya, dan Chanyeol malah mengendikkan bahu mengambil kunci diatas nakas sembari menenteng tas sekolahnya enggan. Meninggalkan Jongin.

.

"yaakkk kau mau meninggalkanku, Park!"

.

.

.

Keduanya sampai disekolah diiringi tatapan aneh sebagian siswa, bagaimana tidak. Sudah tau kaki jongin terkilir Chanyeol malah membawa motor kesayangnnya untuk sekolah alhasil dengan sangat tidak elit Jongin haruslah membuang urat kemaluannya saat ia digendong Chanyeol untuk turun dari atas motor. Shit! Benar-benar memalukan!

.

Dan lagi-lagi Jongin harus menelan bulat-bulat rasa malunya saat dia dan Chanyeol berjalan dilorong, well mereka memang berjalan biasa, namun Chanyeol dengan wajah pongahnya merengkuh bahu Jongin dengan protektif. Tujuannya jelas untuk membantu Jongin berjalan. Namun, karena sebagian besar otak para siswa disini agak perlu dipertanyakan, adegan tersebut malah jadi semacam fanservice bagi para siswa yang otaknya agak kurang waras.

.

"aku ingin mati saja." lirih Jongin dengan wajah memerah menahan malu.

.

"dan aku ingin membunuhmu." Sahut Chanyeol datar sembari terus menggeret Jongin agar lekas sampai ke kelas.

.

Namun, sepertinya keinginan mulia dari seorang Park Chanyeol itu haruslah tertunda saat seorang pemuda tinggi berparas tanpa cela menghadang keduanya.

.

"apa yang terjadi denganmu, Jongin?"

.

Jongin mendongak menatap sang pemuda, ia tersenyum lalu mengkibas-kibaskan tangannya diudara. "seperti biasa," ucapnya ambigu dan sisambut dengan tawa renyah dari sang pemuda. Chanyeol menjulurkan lidahnya seperti ingin muntah dan dengan padangan malas menatap Jongin. 'seperti biasa heh? Yang benar saja!'

.

Dering telpon menginterupsi cemooh Chanyeol, buru-buru ia mengambil hanphonenya lalu menatap id penelpon dengan senyum sumringah. "ah, Kris! Bisa tolong antarkan makhluk ini kekelasnya. Aku ada urusan sebentar. Terimakasih!"

.

Dan seperti biasanya, begitulah seorang Park Chanyeol. Orang yang selalu berpangku tangan, picik, tidak punya rasa solidaritas, dan selakangan adalah prioritasnya. Dengan langkah panjangnya Chanyeol berbalik arah, meninggalkan jongin yang masih menatap kesal sahabat idiotnya dan kemudan menghela nafas kasar.

.

"jadi…." Kris menggantung ucapannya menunggu jongin berucap.

.

"tidak perlu repot-repot, aku bisa berjalan sendiri." Penolakan halus dari Jongin membuat Kris tersenyum kaku namun sepertinya semua belum berakhir disitu.

.

"kata siapa merepotkan, membantu mu tidak pernah jadi hal merepotkan bagiku. Jongin." Tawa Kris menguar diiringi tatapan aneh Jongin. Heh, dia bercanda atau bagaimana? Kenapa Jongin geli sendiri mendengar perkataan Kris?

.

Mencoba berdeham untuk menutupi rasa canggungnya Jongin tersenyum masam. "ehm.. baiklah. Maaf merepotkan."

.

.

.

Sepasang mata itu mengunci obyek menarik dalam sudut matanya lekat. Wajah datar itu masih tenang tanpa riak. Pemuda itu, apa yang menjadikan pemuda itu begitu menarik?

Terkekeh pelan, pemuda berwajah datar itu memudian berbalik menyeret langkahnya menuju lapangan belakang sekolah. Apa yang menjadikannyaa begitu memikat? Apa?

Entah. Entahlah…

.

.

.

Jongin menguap bosan, belajar adalah salah satu hal yang cukup untuk membuat matanya berat dalam sejarah hidupnya. Ia tidak suka belajar―Seperti kebanyakan siswa- namun ia tidak pernah berpikiran untuk membolos. Ia murid yang baik, murid yang amat baik terlepas dari sifat bengalnya yang suka tawuran dan mesum tentunya. Dan hari ini menjadi salah satu hari yang paling membosankan kuadrat dimana partner in crimenya Park Idiot Yeol dengan sangat murah hati membolos tanpa dirinya. Bukan masalah dia mau membolos kapan dan dengan siapa, masalahnya, Jongin jadi mulai berpikir dengan siapa dia nanti pulang. Kakinya terkilir ingat? Masa iya dia harus ngesot sepanjang jalan? Tch, yang benar saja.

.

Dengan malas ia memperhatikan guru sejarahnya yang tengah menjelaskan―entah apa- didepan kelas. Teman sekelasnyapun tertawa dengan cara penyampain sang guru. Namun, Jongin tetap saja tidak paham. Menguap lagi, ia mencoba memandang langit yang begitu biru dengan malas dan malah terpaku pada sesosok manusia yang tengah bergelantungan dipohon dengan sangat nyaman. Mata Jongin memicing lalu terkesiap saat tau siapa orang itu.

Dia pemuda yang kepalanya bocor, eh?

Punya nyali juga anak itu.

.

.

.

Sehun hanya suka ketenangan, dan hal itu menjadi satu-satunya alasan kenapa dia malah memilih bergelantungan diatas pohon daripada masuk kedalam kelas. Jadi bukan karena ia tidak suka belajar, semua pelajaran formal itu mudah untuknya, ia tidak perlu belajar dengan keras untuk memahaminya. Cukup dengan melihatnya sekilas semua kata-kata yang tercetak rapi dalam buku cetak itu sudah tercopy paste secara rapi juga dalam otaknya. Simple saja. oh Sehun memanglah jenius. Tak terbantahkan.

.

Namun anehnya,

Kenapa Oh Sehun yang jenius ini diam-diam mengawasi gerak-gerik pemuda tan yang selalu menguap setiap lima menit sekali itu dengan antusias layaknya seoraang anak kecil yang mendapatkan hadiah paling menarik dari kedua orangtuanya? Kenapa?

.

.

.

.

.

Oranye adalah warna yang mengusik tidur lelap seorang Kim Jongin. Lagi-lagi ia menguap, mengkerjabkan matanya dengan malas dan memudian menyapukan pandangannya kesekitar dengan posisi kepala masih bertumpu diatas meja.

.

Sepi?

.

Apa jam sekolah sudah berakhir?

.

Buru-buru Jongin bangun dari tempat duduknya tanpa ingat bahwa kakinya itu masihlah dalam status terkilir akut. Alhasil, Jongin haruslah puas saat dia malah jatuh tersungkur dengan dahi menyapa lantai kelas lebih dulu.

.

"Ck, sialan!"

.

"bodoh."

.

Suara asing itu mengusik Jongin, ia memicing dan mendapati sepasang sepatu hitam terpampang tepat dihadapannya lantas membuat Jongin mendongak.

.

Sehun, manusia pucat itu berdiri menjulang dengan wajah datar yang entah bagaimana layaknya mencemooh Jongin secara tak kasat mata. Membuat dahi Jongin berkedut keki. Well, mereka tidak punya masalah bukan? Lagipula adegan kepala bocor itu bukan kesalahan Jongin. Lalu siapa juga orang tidak tahu terimakasih yang malah meninggalkan dirinya berada di UKS hingga malam sampai-sampai berujung tinndakan bunuh diri berbuah terkilir itu? Siapa? Lantas seharusnya siapa yang wajib menyimpan dendam? Niel amstrong? Ariana grande? Atau Miranda kerr? Heh. Lucu sekali..

.

Susah payah Jongin mencoba berdiri, menyeimbangkan tubuhnya dengan bertumpu pinggiran meja secara hati-hati dan kemudian menatap murid baru itu datar.

.

"siapa yang kau maksud bo―

.

Kruuucccuuuukkk, bunyi perut Jongin yang meraung itu merusak suasana yang seharusnya tegang menjadi awkward. Jongin kembali mengumpat dan merutuki perut sialannya yang membuat martabatnya jatuh lalu menggelinding secara mengenaskan dilantai―berceceran-.

Jongin berdeham pelan, dan Sehun masihlah datar. Belum sempat Jongin membuka mulutnya sebuah kantong plastic putih terlempar padanya.

.

"apa ini?" sebuah roti dan susu ada didalamnya, Jongin memandang Sehun dengan bingung namun Sehun hanya menghela nafasnya kasar seolah tak sabar menghadapi kelakuan Jongin.

.

"untukku?" masih Jongin yang berbicara namun kali ini wajah menyebalkan seorang Kim itu telah berubah menjadi binar senang yang membuat Sehun jadi salah tingkah sendiri. "woooaaahhh, terimakasih!"

.

Dan Kim Jongin tetaplah Kim Jongin. Ia menawan dengan segala pesona aneh yang tak sadar ia miliki. Sehun mengulas sebuah senyum tipis saat Jongin menggigit roti miliknya dengan kunyahan yang amat besar.

.

Senja ini mungkin menjadi senja paling indah bagi Sehun, terlepas dari segala hal yang membuatnya enggan berada lebih lama lagi di dunia. Ia ingin menghabiskan sisanya untuk melihat senyum Jongin. Entah mengapa hal itu kini mulai jadi salah satu hal yang kini dapat membuatnya kembali tersenyum. Jongin, kenapa kau harus hadir saat ia nyaris menyerah?

.

UHUK! UHUUUK ! UHUKKK! UGGHHH―BRUGH

.

Jongin tersungkur! Dengan panic Sehun segera menjatuhkan tubuhnya, menopang tubuh Jongin yang masih terbatu-batuk parah disertai dengan nafas yang memburu lalu tanpa pikir panjang membawa tubuh ringkih itu dalam gendongannya.

.

Tanpa sempat berpikir kenapa atau karena apa Jongin jadi seperti ini Sehun buru-buru berlari menuju ambang kelas dimasa seorang pemuda dengan tinggi yang hampir menyamainya berdiri dengan wajah menahan amarah.

.

Siapa dia?

.

"jauhkan tangamu dari Jongin!" kata-kata yang begitu lugas itu terdengar seperti peringatan, namun Sehun tetaplah keras kepala. Ia masih keukuh membawa Jongin dalam gendongannya menuju ambang pintu, menatap balik mata yang menatapnya dengan amarah.

.

"kuperingatkan kau sekali lagi." Pemuda itu menggeram menahan kesal saat Sehun melewatinya, "jauhkan tanganmu!"

.

BUUUGGHHH!

.

Sebuah tinju menyapa rahang Sehun secara tiba-tiba! Sehun terhuyung dengan begitu keras, menabrak tembok dengan Jongin yang masih terbatuk parah diiringi bunyi nafas yang semakin berat.

.

Pemuda yang masih menatapnya dengan bengis itu kemudian mengambil alih Jongin. "hei, Kim.. atur nafasmu.. bernafaslah perlahan, aku akan segera membawamu kerumah sakit."

.

Sehun terabaikan, pemuda asing itu kini mengusap pelispis Jongin yang bercucuran keringat dengan perlahan. Suaranya yang bengis itupun berubah menjadi begitu lembut. Namun, mata itu masih menatapnya dengan bendera perang yang terpampang begitu lugas.

.

Pernyataan perang! Bukankah begitu?

.

Dan detik-detik dimana Jongin hilang dalam rengkuhannya menjadikan Sehun bagai seorang pecundang. Namun, toh dia tahu apa? Pemuda asing itu.. pemuda asing itu membuat Jongin tenang disela-sela batuk dan nafasnya yang memberat. Ia melihat hal itu, bagaimana Jongin bergelung dengan nyaman di balik punggungnya. Bagaimana perlakuan pemuda asing itu begitu lembut terhadap Jongin. Dan bagaimana cara pemuda asing itu menenangkan Jongin yang mulai kehabisan nafas.

.

Tiba-tiba Sehun terkekeh, ia merasa, ia hanyalah orang asing yang tiba-tiba saja membuat kacau segala hal.

.

Semua adalah kesalannya?

.

"menyingkirlah," pemuda asing itu mengucapkan kata penuh kecaman. Hanya sebuah kata namun sukses membuat Sehun bergeming ditempat melihat sang pemuda membawa Jongin pergi menjauh, menghilang dari hadapannya. Tanpa melakukan apa-apa.

.

Karena semua adalah kesalahannya..

.

Semua adalah kesalahannya..

.

Ya, kesalahannya…

.

Jadi, ia haruslah menerima konsekuensi dari segala kesalahannya.

.

Tidakkah begitu?

.

.

.

.

a/n :

I'M BACK! HAHAHAH

Jujur, saya agak kagok saat mulai menulis lagi. Ini adalah ff pertama saya yang saya selesaikan dalam waktu singkat setelah beberapa bulan tidak menulis. Dan saya harap hasilnya tidak mengecewakan. #bow

CHANKAI_HUNKAI

Bagaimana menurut kalian?

Hm, seperti biasa..

Terimakasih sudah menyempatkan waktu berharga kalian untuk membaca fanfict saya.

Jika berkenan silahkan reiew dan fav fanfict ini guna mendukung kelangsungan mood saya menulis.. kkkk

Ahh, saya ada niatan menghijrahkan ini fanfict beserta fanfict-fanfict lama saya ke akun wattpad.

Jadi, bagi yang belum tau akun saya, silahkan kepo in akun dibawah:

Fb : Tian Lian Lian

Ig : tianlian013

Wattpad : tianlian

Okey, sekian… dan terimakasih

[TianLian]