Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name
The Two-Tale Heart 3
IV
DRACO
Waktu berlari kencang jika kau sedang bahagia. Atau sedang banyak kejadian. Itulah yang dirasakan Draco pada musim panas ini. Walaupun hatinya hampa karena kakek Abraxas telah tiada, tapi toh kedua orangtuanya sudah berbaikan kembali karena hal ini. Kehilangan satu orang keluarga bisa membuat mereka solid kembali sebagai Malfoy. Dan Draco sama sekali tidak menyesal kehilangan banyak kerabat yang akhirnya memusuhi mereka akibat surat wasiat kakek. Semakin sedikit orang yang menggerecoki semakin baik. Toh, mereka masih punya teman-teman ayah dan ibunya.
Untuk merayakan soal pewaris baru ini, ibunya menyarankan agar Draco mentraktir teman-temannya sekaligus belanja peralatan Hogwarts-nya di Diagon Alley. Untuk pertama kalinya juga, Draco akan membelanjakan uangnya dengan bebas, yang disetujui oleh sang ayah.
"Ibu tidak mau ikut kami?" tanya Draco sambil mengikat tali sepatunya.
"Dan bersama anak-anak cowok berisik itu?" Ibunya tertawa. "Tidak, Draco... Kau bersenang-senanglah. Aku sebenarnya ingin mengadakan pesta... tapi..."
Ibunya tercabik antara rasa bersalahnya menghancurkan ulangtahun Draco dan kesedihan yang mendalam.
"Tidak apa-apa, Bu... Kakek baru saja meninggal. Tidak pantas rasanya kita merayakan apapun..."
Sekarang mata ibunya berkaca-kaca dengan senyum bangga, "Kau sudah dewasa, Draco... Kau sudah berubah banyak. Tadinya kukira kau akan persis seperti ayahmu. Tapi... Yah... Baiklah, sebaiknya kau bergegas. Diagon Alley sudah diberlakukan jam malam... Segera ke Leaky Cauldron sebelum jam sembilan..."
Jam malam ini adalah upaya untuk menyelamatkan diri dari narapidana yang masih berkeliaran tersebut. Sirius Black. Paman Draco. Sudah sepanjang libur musim panas ini Kementerian belum menunjukkan tanda-tanda bahwa Black terlihat dimanapun. Saking stres-nya, Fudge akhirnya mengabarkan kejadian ini kepada Perdana Menteri Muggle agar mereka juga bersiaga. Fudge mendapat banyak tekanan. Dia bahkan sudah mulai menanyai beberapa keluarga yang kerabat mereka masih mendekam di Azkaban saat ini. Keluarga Malfoy belum tersentuh. Padahal ibunya adalah sepupu Sirius yang masih bisa dihubungi. Itu karena Fudge menganggap mereka masih berduka cita atas kematian Abraxas Malfoy. Apalagi niat sumbangan besar-besaran Draco pada sudah sampai di telinganya. Membuat Fudge semakin segan.
Perlindungan dari keluarga merupakan hal yang masuk akal mengapa seorang kriminal belum juga bisa tertangkap lagi. Black bisa saja dilindungi salah seorang kerabat yang punya banyak rumah, seperti keluarga Malfoy. Memulihkan diri sambil menyusun rencana balas dendam yang dia rencanakan... Itu dan mungkin Black punya Jubah Gaib entah dimana. Kalau saja tidak ada spekulasi bahwa dia berambisi pergi ke Hogwarts dan menghabisi Harry Potter, mungkin Draco sudah yakin bahwa pamannya itu telah ber-apparate ke Alaska.
Dia juga yakin alasan ibunya tidak menemani Draco ke Diagon Alley pada saat keadaan berbahaya begini justru karena mereka ada pertemuan-pertemuan lagi. Draco akan membicarakan ini dengan Theo nanti.
Jadi boys day out ala Draco berjalan menyenangkan sekali. Draco hanya mengajak Theo, Blaise, Crabbe, dan Goyle saja. Teman sekelasnya. Dia membelanjakan anak-anak cowok itu keperluan Hogwarts mereka. Lalu sapu terbang baru, walaupun Blaise yang tidak main Quidditch akhirnya memilih untuk dibelikan sepatu kulit mahal saja. Draco mengajak mereka ke Florean Fortescue. Membayari es krim yang dibeli beberapa anak ingusan yang mendominasi tempat terbaik kafe itu, dan segera mengusir mereka dari sana. Draco membiarkan Crabbe dan Goyle bolak-balik tambah es krim. Dia puas sekali. Apalagi mengetahui bahwa dia masih mempunyai banyak emas yang tidak akan habis sampai empat belas turunan.
Mereka sedang menertawakan ekspresi Marc Zabini yang tidak diajak ketika Blaise pergi lagi ke konter untuk mengambil jus buah. Meninggalkan Draco bersama Theo.
"Jadi kupikir kau akan sibuk sekali, Pangeran Muda..." kata Theo jahil.
"Semua masih berada dalam genggaman ayahku, Theo. Jadi biarlah dia yang bersibuk-sibuk. Lagipula ibuku kan sama pintarnya... Aku tidak khawatir..." kata Draco sambil mengelus perut yang telah diisi dua porsi es krim kopi.
"Tapi mereka akan segera menuntutmu belajar, Draco. Kalau tidak hati-hati, kau akan sama stres-nya seperti si cewek Van Der Woodsen itu. Belajar tak henti dan terjun langsung jadi pelayan toko bukunya..."
Draco menahan diri agar wajahnya tidak panas, "Yah, dia kan berayah Muggle? Lagipula ada perbedaan besar antara warisan keluargaku dan keluarganya. Kami sudah lama hanya berongkang-ongkang kaki dan memerintah dan semua buruh menghasilkan emas untuk kami... Para Muggle, yah... Mereka kebanyakan kasihannya, sih..."
"Jadi, jangan rusak kebahagiaan Pangeran ini dengan kekhawatiranmu, Theo... Katakan padaku, apakah mereka mengadakan pertemuan tentang Black lagi?"
"Tidak..." jawab Theo. "Belum ada pertemuan lagi sebelum kalian mengunjungi bibimu itu. Dan kuberitahu kau, kunjungan Kementerian yang menanyakan Sirius Black saja sudah membuat ayahku stres. Kalau mereka sampai mau merazia, mungkin ayahku bisa meledak..."
"Aku benar-benar penasaran pada kejadian dua belas tahun yang lalu..." Draco berandai-andai. "Tapi pasti orangtuaku tidak mau bicara... Aku ingin ikut kalau mereka ke Azkaban..."
"Kau gila!" seru Theo. "Tempat itu menyeramkan..."
"Aku tahu. Tapi siapa tahu aku akan dapat gambaran atau apalah... Lagipula, di mana sisi kepenasaranmu? Penjara itu terletak di tengah laut. Sebelum Sirius Black, tidak ada yang bisa kabur... Aku ingin melihatnya..."
Mereka tidak sempat bicara karena Crabbe, Goyle, dan Blaise sudah bergabung lagi. Hari sudah sore ketika mereka memutuskan untuk pergi ke toko buku. Tempat yang tidak disukai semuanya, kecuali mungkin Draco. Dia ke Flourish and Blotts dengan harapan lain yang sesungguhnya sangat memalukan. Serena belum pulang dari Miami, kan?
Kerangkeng besar berisi buku-buku yang saling menggigit membuat mereka ternganga.
"Selamat datang di Flourish and Blotts, gentlemen... Ada yang bisa saya bantu?" sambut pelayan toko yang tinggi kurus.
Dia nyaris menangis ketika mengetahui mereka akan beli buku tersebut sebanyak lima buah.
"Siapa guru bodoh yang menyuruh kita beli itu?" seru Blaise sebal.
Crabbe dan Goyle sudah mulai membantu si pelayan toko dengan memiting empat buku sekaligus.
"Aku tahu bagaimana kau bisa ikut ke Azkaban..." kata Theo tiba-tiba.
"Bagaimana bisa?" seru Draco tak percaya, masih tercabik perhatiannya antara buku dan Theo.
"Kunjungan keluarga biasanya hari Sabtu. Dan mereka pasti melakukannya Sabtu ini sebelum kita sekolah... Kau bisa memajukan acara serah-terima sumbanganmu... Ayahmu tidak bisa membantah. Kau bilang saja hari Minggunya ingin istirahat atau apa... Lalu setelah acara serah-terima paginya..."
"...siangnya mau tidak mau mereka harus mengajakku ke Azkaban karena tidak akan tega meninggalkanku di rumah sendirian... Takut Black tiba-tiba datang... Wah, kau memang jenius, Theo... Tidak salah aku menjadikanmu bawahanku..."
"Terima kasih banyak, deh..." balas Theo.
.
.
.
Draco pulang ke Malfoy Manor setelah jam makan malam lewat dan menyadari bahwa kedua orangtuanya sedang berdiskusi di perpustakaan. Dia setengah melonjak karena mereka sedang membicarakan tentang Black lagi.
"Jadi Fudge sudah kuberitahu kalau kita akan pergi ke Azkaban Sabtu besok dan memberitahu Bella dan Rodolphus tentang mertuamu yang meninggal. Asal kau tahu saja, penjagaan diperketat. Dan kau pasti tahu bahwa satu jenis Dementor saja bisa membuatku pingsan!" kata ayahnya sebal.
"Jangan khawatir tentang Dementor..." kata ibunya tenang. "Apa yang persisnya akan kau tanyakan pada Bella? Bagaimana memulainya? Bella bahkan tidak bicara pada Sirius sejak dia masih kecil. Tapi kalau dia tahu Sirius kabur, dia pastilah ingin ikut juga..."
"Ada banyak kegilaan di otak kakakmu dan kabur bukanlah salah satunya... Dia menikmati betul mendekam di penjara sebagai bentuk loyalitas. Aku hanya akan menanyakan hal yang sama-sama sudah kita ketahui. Apa yang sebenarnya terjadi dua belas tahun lalu. Aku jamin bahkan kakakmu tidak akan tahu. Salah satunya masukkan yang akan diberikannya adalah bunuh Sirius Black sebelum dia sempat membunuh kita dan temukan Pangeran Kegelapan... lagi..."
Suhu ruangan menjadi turun satu derajat ketika ayahnya membicarakan ini. Draco yang sedang asik menguping jadi tidak ingin lagi melonjak. Mulutnya mendadak jadi pahit sekali.
"Mungkin ketidaktahuan akan jadi hal yang bagus?" saran ibunya menenangkan. "Aku sebenarnya tidak khawatir pada Draco... Hogwarts tempat yang aman..."
"Lalu?" tuntut ayahnya dingin. "Dan Black kabarnya sedang menuju kesana..."
"...untuk mencari Harry Potter... Syukurlah, anak kita tidak berteman dengannya."
"Dan?" tuntut ayahnya lagi.
Bahkan dibalik pintu, Draco bisa mendengar helaan nafas ibunya.
"Dia tidak akan melukai Draco..."
Ayahnya mendengus antara tertawa dan tak percaya.
"Darimana rasa percaya dirimu itu?"
"Beberapa orang tidak berubah... Aku bisa merasakan sifat seseorang dan memilih yang baik-baiknya saja... Seperti kau, Lucius... Aku tidak akan menyamaratakanmu dengan Bella. Apalagi Sirius... Dan... adiknya Regulus..."
Nafas Draco tertahan. Dia tahu Regulus Black. Salah satu pamannya yang meninggal saat masa perang. Terlalu muda dan bersemangat. Begitu kata ibunya...
"Dia pengkhianat, Cissy... Dan kau tahu Regulus itu pengecut..."
"...sama seperti kita semua. Yang jelas aku tahu Draco akan aman. Dia bahkan tidak pernah berselisih jalan dengan Sirius. Dia masih bayi saat itu..."
"...begitu pula Harry Potter..."
"Aku tidak peduli pada Harry Potter..." tandas ibunya dingin.
"Kau tahu mereka kelas tiga yang berarti mereka akan pergi main ke Hogsmeade, kan? Ada banyak Dementor keliaran... Draco suka sekali berkeliaran..."
"Aku percaya pada, Draco, Lucius... Kau lihat sendiri bagaimana hebatnya dia waktu kematian ayah dan pembacaan warisannya..."
"Dia nekad, mirip kau dulu..." gerutu ayahnya.
"Apa yang kau harapkan?" bela ibunya sambil tertawa. "Aku setengahnya senang dulu kau mengungsikan aku dan Draco yang masih dalam kandungan ke Irlandia pada waktu perang... Kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Sirius berada di depan pintu rumah kita sebagai pengkhianat, aku tidak tahu lagi harus berpikir apa..."
Ini hal baru bagi Draco, karena dia hanya tahu bahwa dia dilahirkan di Malfoy Manor ini. Tapi dia dan ibunya pernah mengungsi ke Irlandia?
"Kau selalu berlembut hati pada Sirius-mu itu... Bahkan sampai saat ini," keluh ayahnya pelan.
"Tidak... Katakanlah aku hanya peduli pada almarhum Regulus sebagai gantinya..."
"Baiklah... Sebaiknya kita lupakan hal ini sampai Draco masuk sekolah. Aku tidak ingin kau banyak pikiran... Mari kita cari tahu mengapa Draco belum pulang..."
.
.
.
Theo benar tentang ayahnya yang tidak akan menolak permintaannya agar acara St. Mungo dimajukan. Dan bagaimana dia akan terpaksa membawanya ke Azkaban. Wajah ayahnya sudah membiru ketika Draco bilang akan memajukan acara serah-terima sumbangan pada hari Sabtu.
"Kami berdua ada acara pada hari Sabtu itu!" seru ayahnya pada mulanya.
"Tapi, Yah! Akan terlalu melelahkan kalau aku masih harus berkegiatan pada sehari sebelum sekolah... Apakah kalian tidak bisa mengundur acara kalian menjadi siang atau sorenya? Aku bisa sekalian ikut..."
Draco agak nekat ketika membicarakan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Waktunya sudah mepet untuk memikirkan hal lainnya...
Ibunya tampak bisa membaca alasan Draco tersebut. Tapi dia hanya tersenyum, "Baiklah, kau bisa ikut kita pulangnya..."
"Cissy!" protes ayahnya.
"Tidak apa, kan? Kami bisa menunggu diluar?"
"Diluar? Memang kita mau kemana, sih?" tanya Draco pura-pura polos.
"Jangan tanya-tanya lagi!" sentak ayahnya.
Tapi dia tiba-tiba melunak lagi ketika Draco dan ibunya terdiam, "Baiklah, aku aka mengabarkan Kepala Penyembuh St. Mungo untuk memajukan harinya... Dan menyiapkan pidatomu..."
Draco harus menahan diri agar tidak melonjak-lonjak lagi.
.
.
.
Sabtu akhirnya datang dan Draco merasa panik sekaligus tegang. Pertama, dia tidak hafal satu katapun yang dituliskan ayahnya sebagai pidato hari itu. Mereka langsung menuju St. Mungo dengan menggunakan Floo. Aroma antiseptik langsung menguar dari lobi yang putih-biru bersih tersebut. Lobinya luas dan sudah dihias dengan pita-pita pesta. Ada juga mimbar dan berbagai macam kembang api-anti-bau yang bisa digunakan didalam ruangan. Meja panjang disisi lainnya menahan berbagai camilan dan makanan sehat khusus untuk pesta.
Draco disambut seseorang yang mirip Rubeus Hagrid dalam versi kecil. Jubah putihnya berkibar. Kontras dengan rambut sebahu dan wajah berewokkannya.
"Neddard Tully, Mr Malfoy, Kepala Penyembuh St. Mungo..."
Draco membiarkan tangannya dijabat dan berpikir sebagai Kepala Penyembuh, si Tully ini harusnya lebih rapi jali. Draco membaca papan namanya dan menyadari bahwa dia mungkin ayah dari si Tully, sahabat Serena di Ravenclaw yang selalu menatapnya dengan bermusuhan.
"Nah, Mr Malfoy... Karena acaranya mendadak sekali, mari kubacakan apa-apa saja yang telah kami rencanakan dengan emasmu... Supaya nanti kau tidak kebingungan dan meyakini bahwa kami menggunakan sumbanganmu dengan jujur dan benar..."
Ayahnya sudah lama menyumbang sana-sini dengan royal dan biasanya mendapatkan beberapa orang yang dengan sukarela menjilat sepatunya. Hanya saja nada suara Kepala Penyembuh ini terdengar agak menyidir, seolah tidak akan sudi menjilat apapun. Tapi Draco mendengarkan dengan tekun daripada nanti mendapat malu.
Acara amal ini adalah yang pertama kali untuknya. Dia merasa agak senang sekaligus tegang berada dibawah lampu sorot. Atau mungkin agak tegang karena sehabis acara ini dia akan mengunjungi Azkaban.
"Kami akan mulai pada stok Ramuan. Ramuan yang jelas kau minta diperbanyak adalah Pencegah dan Penyembuh Cacar Naga. Kami sudah siap menerima kiriman dari pabrik ramuan terpercaya kami di Cina. Lalu riset dan pengembangan para Penyembuh yang berada pada bidang ilmu kesehatan. Kami menyumbangkan beasiswa. Lalu kami juga punya sisa dana untuk mengangkat pegawai honorer. Untuk pembangunan, kami bisa mempergunakan uangnya untuk penambahan sayap rumah sakit, yang pastinya akan dinamai nama kakekmu sesuai keinginanmu, sebanyak lima lantai. Lalu untuk sosial lainnya, kami akan berikan jatah pengobatan gratis pada masyarakat sihir yang tidak mampu..."
"Biar kupermudah daftarnya," sambut Draco sambil terkekeh. "Keluarga Weasley..."
Tapi si Kepala Penyembuh tidak tertawa, matanya malah berkerut galak.
"Saya yakin Arthur Weasley masih bekerja di Kementerian dan sangat produktif..."
Draco mencibir, "Wah, aku salah ngomong, deh..."
Beberapa menit yang terburu-buru, Draco telah dirapikan dan diluruskan dasinya oleh ibunya. Dia memakai jas dan jubahnya yang berwarna biru gelap agar sama seperti lambang St. Mungo yang biru-menenangkan. Acara itu tidak besar-besaran. Ayahnya tampak sengaja tidak mengundang teman-teman mereka. Mungkin khawatir akan terjadi ramah-tamah yang panjang sampai mereka tidak sempat mengunjungi Azkaban. Tapi semua pegawai keluar dari tempat kerja mereka dan juga beberapa pasien yang di rawat inap yang sudah lama tidak menikmati makanan enak. Ibunya mengernyit karena beberapa pasien batuk-batuk didekatnya.
Fudge, si Menteri Sihir, tentu saja menyempatkan datang. Walaupun dia tidak berlama-lama karena kerjaan menumpuk. Si Kepala Penyembuh membuka acara dengan berbicara tentang kakek Draco dan keluarga Malfoy dengan mulut manis yang mengesankan. Membuat keluarga Malfoy menjadi tampak amat welas asih. Hanya saja, tidak ada ketulusan di mata orang itu. Draco tidak peduli. Toh, itu ayah si cewek Tully itu, dan bukannya ayah Serena...
Draco memberikan pidatonya yang pertama didepan orang-orang itu. Dan itu bukanlah dari kartu yang diberikan ayahnya. Karena kalimat-kalimat monoton itu sudah merembes keluar otaknya sejak kemarin.
"Saya hanya akan meneruskan wasiat kakek saya... Bahwa bagaimanapun masyarakat sihir menganggapnya sebagai penyihir tidak-berhati, saya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa dia dipenuhi cinta sampai maut menjemputnya. Maka saya tidak ingin melihat orang lainnya menderita karena penyakit... Semoga semua perubahan yang akan dibangun St. Mungo ini membawa perubahan positif pada kesehatan masyarakat sihir pada khususnya dan dunia sihir pada umumnya... Terima kasih..."
Tak diduga semua bertepuk keras mendengar pidato asal-asalan Draco. Ayahnya sudah jelas membiru lagi karena Draco menuduh orang-orang mengatakan Abraxas tidak-berhati. Tapi ibunya terisak keras karena terharu dan bangga.
Mereka mulai menyemburkan kembang api tanda peresmian di lobi tertutup itu, dan membagikan makanannya. Setelah Fudge berpamitan, keluarga Malfoy ikut undur diri. Tidak ada yang mencegah mereka dan itu sangat melegakan.
.
.
.
Tapi ayahnya membawa Draco ke toko terdekat dan membayar pemilik tokonya untuk Draco menggunakan Floo.
"Aku akan ke Azkaban dengan menggunakan Floo? Kemana munculnya?" seru Draco gemetar.
Dia tidak bisa membayangkan bahwa Dementor punya tempat jaga khusus untuk menyambut penyihir yang lewat perapian.
"Sstt! Jangan keras-keras!" sentak ayahnya. "Ada tempat jaga khusus yang dikelola Kementerian di daratan sebelum kita ke laut. Kau hanya perlu baca alamatnya dengan jelas. Kami akan menemuimu disana. Kami akan ber-apparate sehingga tidak terlalu banyak menarik perhatian..."
Draco berusaha mengingat alamat yang dituliskan ayahnya, dan segera masuk perapian. Setelah bubuk Floo ditaburkan, Draco menyebutkan tujuannya dan mulai berpusing...
.
.
.
Arloji hadiah ulangtahunnya yang berlumur debu menunjukkan pukul dua siang. Kalau tidak buru-buru, dia akan meninggalkan penjara Azkaban yang terisolasi sewaktu gelap...
Draco memaksakan diri untuk bangkit walaupun sambil bersin-bersin. Berpergian lewat Floo kini tidak menyenangkan bagi anak yang sudah tumbuh sekitar dua puluh sentian.
Kantor cabang Kementerian itu ternyata hanyalah galangan kapal kecil yang menyewakan perahu agar mereka bisa menyeberang ke Azkaban. Berbau apak dan amis, Draco akhirnya menemui si petugas Kementerian, pria menyeramkan yang janggutnya sudah mirip rumput laut.
Azkaban tidak kelihatan, yang berarti letaknya jauh sekali di tengah laut. Draco tahu sekarang, bahwa galangan ini adalah tempat satu-satunya yang memungkinkan orang luar bertransportasi. Ayah-ibunya tidak bisa langsung ber-apparate ke seberang lautan. Untuk keamanan. Mereka harus mencapai tempat tersebut layaknya Muggle.
"Draco! Ayo, cepat kemari!"
Ibunya berseru dari samping perahu yang cukup untuk memuat lima orang. Yang terlalu kecil untuk menyeberangi laut ganas, menurut pendapat Draco. Si petugas Kementerian hanya menggerutu sebagai ucapan selamat tinggal saat mereka mulai naik ke perahu. Draco berpikir, apakah petugas itu gila juga karena satu-satunya rekan kerjanya adalah Dementor nun jauh di seberang?
Perahu berjalan dengan sendirinya seolah ada orang tak kelihatan menarik mereka dari arah lain. Menarik dengan kecepatan yang hanya bahkan bisa mengalahkan sapu terbangnya. Sekejap saja wajah dan jubah Draco sudah basah kuyup. Dia merasa mati rasa karena terpaan angin.
Sewaktu menyeka wajahnya, Draco memperhatikan beberapa kelebatan perahu menyusul mereka. Beberapa juga berbalik arah menuju galangan. Draco berpikir, untuk ukuran penjara, Azkaban lumayan ramai juga... Kemudian dia teringat bahwa Azkaban adalah satu-satunya penjara sihir di seluruh Inggris.
Kemudian, dibalik kabut yang tampaknya aneh sekali karena berada pada saat musim panas, Draco melihat bangunan itu. Walaupun terlihat seperti karang kecil kurus dari kejauhan, bangunan itu tingginya beberapa ratus kaki dari kedalaman laut. Membuncah diantara pulau kecil yang berupa gosong. Hanya saja Draco tahu bahwa bangunan ini berbentuk segitiga sama kaki. Dirancang tanpa balkon jendela atau apapun di permukaan temboknya. Hanya batu hitam licin, untuk mencegah kaburnya para tahanan... Ataupun terjunnya tahanan...
Kepala Draco sudah sakit sekali karena dia harus mendongak semakin mereka dekat ke bangunan tersebut. Perahu mereka menabrak ujung karang dengan kasar, yang berarti mereka sudah berlabuh.
"Hati-hati!" seru ayahnya mengalahkan deruan angin. "Jangan sampai jatuh ke air dan terseret ombak!"
Baik Draco maupun ibunya sama-sama berpegangan erat. Rambut mereka semua terburai oleh angin. Draco merasa bahwa ombak yang menciprati mereka sama buruknya dengan efek Dementor terhadap tubuh. Tapi dia tidak tahu apa-apa sampai melihat seperti apa Dementor sesungguhnya...
Hanya melihat dari buku dan koran sama sekali tidak membuat Draco siap pada Dementor. Seperti gambaran ibunya, mereka bisa melayang, dengan jubah bertudung hitam yang tampak berat. Wajah mereka sama sekali tidak kelihatan. Dan Draco sama sekali tidak ingin tahu seperti apa wajah dibalik tudung tersebut.
Banyak sekali Dementor yang berkeliaran di sisi-sisi Azkaban, atau diatasnya, sedang berpatroli. Kelihatannya seperti hantu di siang hari...
Draco melihat mereka menjulang begitu perkasa beberapa meter dari pintu masuk, melayang dengan bangganya. Jantung Draco serasa disiram air es...
"Ibu! Kurasa aku tidak mau masuk!"
Draco benar-benar berhenti berjalan sekarang...
Pintu masuk, satu-satunya jalan masuk di tempat itu, membuka-tutup sendirian karena ada seorang penyihir yang habis berkunjung. Walaupun keberadaan manusia jelas-jelas tampak, efek Dementor membuat Draco merasa dia sungguh sendirian.
"Kau akan terseret ombak nanti... Ayo, Draco, beranikan dirimu... Di dalam ada tempat bebas-Dementor, untuk yang menunggu... Kita tidak bisa membiarkan ayahmu masuk sendiri..."
Ibunya juga tampak pucat pasi dan basah. Draco mengangguk pada akhirnya. Dia tidak mau ibunya sakit flu atau terseret ombak. Mereka benar-benar tahu bagaimana cara membuat suatu penjara, yang diisi sampah masyarakat, menjadi tempat yang tidak nyaman...
Ayahnya sudah sampai ke pintu masuk. Karena dia berlari. Lalu menatap tajam ibunya... Draco melihat pada Dementor diatas ayahnya...
"Jangan lihat keatas!"
Tapi seruan ibunya terdengar bagaikan gaung rusak ketika Draco berusaha melewati para Dementor diatas. Suara ibunya tenggelam oleh suara berkeretak yang entah disebabkan oleh apa... Dia merasa akan pingsan. Mengapa ayahnya tidak membawa dia berlari juga? Apakah ayahnya sama takutnya? Kelebatan rambut ayah Draco terlihat seperti sebuah turban putih... Ataukah itu ular? Draco nyaris mendengar seseorang berteriak kesakitan... Tapi siapa? Wajah kakeknya terpampang dihadapannya. Sama sekali tidak damai, melainkan penuh bisul yang langsung pecah ke wajah Draco...
"Pilih yang mana, Draco? Racun? Atau cewekmu mati?"
Quirrell membayang setelah nanah Draco hilang. Serena Van Der Woodsen sedang dicekoki racun...
"DRACO!"
Draco bangun sambil geragapan.
"Ibu? Oh, tidak! Di mana kita?"
Draco terduduk di kursi kurus keras dalam suatu bangunan. Suasananya bahkan lebih buruk daripada ruang bawah tanah manapun. Gelap dan penuh suara berbisik. Seperti di rumah duka cita yang amat besar...
"Di Azkaban tentu saja... Ayahmu sudah masuk duluan untuk bertemu... bibimu... Kau tidak apa-apa?"
Wajah ibunya tampak cemas. Draco bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa sampai kesana?
"Kau tadi sempoyongan... Syukurlah, kalau kau pingsan, tidak ada satu pun dari kami yang bisa mengangkutmu sekarang..."
"Demi Merlin..." umpat Draco sambil mengusap peluhnya. Jubah tebalnya kini berkeringat dingin. Draco lega dia tidak pingsan... Tapi mengapa dia memimpikan hal yang mengerikan tadi?
"Mereka harusnya mempekerjakan ajudan atau apalah! Dan bukannya makhluk mengerikan..."
"Aku setuju... Tapi bukan aku yang membuat peraturan..." kata ibunya sambil duduk di bangku sebelah.
Draco baru menyadari apa yang membuat ibunya tidak sempoyongan seperti dirinya. Juga mengapa dia tidak sampai pingsan. Ada cercahan asap dan cahaya berbentuk ular perak yang melayang-layang diatas ibunya. Ular itu amat panjang, serta terbang dengan melata. Kalau ular ada yang bisa disebut terbang dengan melata.
"Ibu... Itu apa?"
"Patronus... Pertahanan untuk menghadapi Dementor..." kata ibunya santai.
"Itu yang biasanya Ibu perlihatkan kalau aku tidur dulu, kan?"
"Ya... Hanya saja aku membuatnya lebih baik saat ini. Kau hampir pingsan dan ayahmu hampir membatu..."
"Ayah tidak bisa membuat anu-"
"Patronus... Tidak. Dan sebaiknya kau juga menyimpan ini untuk dirimu sendiri, Draco... Pertahanan ini bersifat pribadi..."
Masih banyak yang ingin Draco tanyakan pada ibunya. Tentang Dementor, dan bayangan mengerikan yang Draco lihat tadi, dan cahaya ular perak yang tampaknya melata bahagia itu. Tapi Draco hanya bisa memandanginya dengan takjub. Ketakutan seolah merembes bersamaan dengan keringat Draco, hanya dengan melihat ular tersebut.
Hanya beberapa menit mereka menunggu ayah Draco, ayahnya sudah muncul lagi dari koridor. Wajahnya hampa. Dan juga pucat pasi alih-alih membiru. Dia menatap ular diatas kepala ibunya dengan mencibir.
"Sudah kubilang ini sia-sia saja, Cissy... Sebaiknya kita kembali secepat mungkin... Dan singkirkan ular itu..." geramnya sambil menoleh kearah Draco seolah itu adalah salahnya.
Ibunya hanya tersenyum sambil menggamit Draco, "Kita bertiga sekarang membutuhkannya..."
Mereka berjalan menuju pintu tadi. Draco sempat ragu, tapi ibunya terus menyeret Draco. Dan betapa anehnya. Ketika air asin mulai menciprati mereka saat mereka keluar, tidak ada satu Dementor pun disekitar pintu...
Baru ketika mereka naik perahu, satu-persatu hantu berjubah itu kembali ke pos mereka. Draco memalingkan wajah. Dan tertangkap olehnya wajah ibunya...
Mungkin selain baik hati, pintar, dan pencemas, Narcissa Malfoy lebih kuat dibanding suaminya... Juga menyimpan lebih banyak rahasia...
.
.
.
Pagi hari tanggal satu September pun tiba seolah dalam hitungan detik. Draco merasa dia baru saja memejamkan mata pada hari minggu malamnya. Ayahnya terserang flu sepulangnya dia dari Azkaban. Jadi tidak dapat mengantar Draco hari ini.
Terlalu sibuk mengasihani diri, Draco sampai lupa untuk menguping pembicaraan orangtuanya di malam setelah mereka mengunjungi Bibi Bella. Draco sudah keburu tumbang di kamarnya sendiri, tanpa makan malam. Untung saja dia tidak terserang flu juga. Sekolah masih tetap dimulai tanggal satu, dengan ataupun tidak adanya narapidana yang kabur sekalipun.
Draco menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi. Memastikan rambutnya terlihat berantakkan tapi keren seperti dalam majalah yang dipinjamkan Blaise. Dia tidak akan kalah dengan Marc Zabini, si merak pesolek yang selalu menggencet Draco di sekolah. Marc sangat bergaya dan Draco yakin, dia menghabiskan waktu sama lamanya dengan para wanita di kamar mandi.
"Draco!" suara ibunya terdengar sampai kamar mandi. "Kau akan ketinggalan kereta!"
"Aku datang, Bu!"
Draco buru-buru ke lantai bawah dan mendapati ibunya tercengang menatapnya.
"Kau sedang puber, Draco..." katanya sambil tertawa riang.
"Jangan aneh-aneh, Bu!" seru Draco gusar.
"Kau wangi sekali dan tatanan rambutmu berubah... Lalu sejak kapan Draco Malfoy membiarkan kancing kemejanya berantakkan dan lengan panjangnya digulung?"
"Sejak kapan-kapan... Aku kan tidak mau terlalu kelimis seperti Ayah..."
"Aku tidak kelimis... Masukkan kemejamu kalau tidak mau didetensi!" seru ayahnya yang sedang menyeruput sup ayam.
Mereka berpamitan pada ayah Draco yang telah menandatangani surat izin mengunjungi Hogsmeade-nya dengan berat hati. Sebenarnya Draco tidak mau diantar ibunya ke stasiun. Tapi tampaknya hal itu adalah tradisi bagi para penyihir. Dan dia tidak mau digoda ibunya lagi.
Setelah perjalanan dengan Floo lagi, Draco sampai pada peron sembilan tiga-perempat di King's Cross. Dia segera celingukkan mencari teman-temannya agar bisa mencari kompartemen. Diantara Hogwarts Express merah cerah dan ratusan anak yang tak berguna, yang sama sekali tidak Draco kenal, dia sama sekali tidak menemukan teman-temannya. Sampai kemudian dia melihat Theo dan Blaise yang sedang dikerubuti cewek-cewek.
"Draco! Hei! Kemari!" Blaise melambai.
Setelan Blaise tampak gaya dan bisa menyebabkannya kena detensi seminggu. Dia terlihat dua tahun lebih tua dan lebih cocok menjadi model majalah penyihir dewasa dibandingkan murid kelas tiga. Ibunya menghampiri ibu Blaise dan semua temannya yang sama-sama mengantar.
Draco memerhatikan bahwa beberapa anak perempuan itu sekarang cekikikan padanya.
"Lebih baik cari kompartemen sebelum banyak yang menggerecoki..." saran Draco sambil berdesis.
"Ayolah, Draco... Jangan terlalu kaku..." kata Blaise santai. "Nah, ladies... Sang pangeran ingin kompartemen yang terbaik... Bisa kalian carikan juga?"
Betapa anehnya Draco saat mereka terkikik dan mulai memasuki pintu kereta.
"Berhenti memanggilku 'pangeran'! Dan apa maksudnya menyuruh cewek-cewek tadi? Aku bisa menyuruh Crabbe dan Goyle, atau Pansy..."
"Draco... Kau adalah remaja pria paling kaya saat ini. Lupakan Pansy... Dan, oh! Rambutmu juga keren banget! Semua cewek akan mengantri dan kita bisa memanfaatkan semua ini..."
"Aku akan memanfaatkan mereka untuk melemparmu dari kereta..." gerutu Draco sebal.
Dia tidak bisa membayangkan sekompartemen dengan anak-anak cewek. Walaupun mungkin sebenarnya dia akan menikmatinya... Mungkin dia bisa lebih populer dari Potter Pitak itu tahun ini...
Lalu, disanalah dia berada... Bukan Potter, tapi satu orang cewek yang bahkan tidak menyadari keberadaan Draco. Draco merasa udara dingin menyelimuti lengannya yang tidak dilindungi kemeja.
Serena Van Der Woodsen tampak baik-baik saja. Tidak terkena gelombang pasang Miami ataupun dicekoki racun. Draco berusaha keras untuk tidak memperhatikan cewek yang sedang bersandar pada troli kosong dan bicara santai pada nenek si Neville Longbottom.
Cara berpakaian Serena bahkan bisa kena detensi sebulan karena ketidakpeduliannya. Dia bertambah tinggi beberapa senti, tapi masih ketinggalan jauh dari Draco, yang membuatnya senang. Dia mengenakan baju terusan putih dibawah lutut yang memperlihatkan sepasang kaki yang tidak bisa dilewatkan cowok manapun. Jaket denim membungkusnya juga. Dia hanya mengenakan sandal jepit layaknya akan pergi ke pasar bahan ramuan. Rambutnya mengikal berantakkan dibawah bahu. Tampaknya dia berusaha keras untuk berdandan, tapi menghapusnya lagi karena merasa tidak nyaman...
Dia berusaha keras untuk tidak mencolok, yang gagal total...
"Yah, kalau yang satu itu sih, tidak mungkin melakukan apa saja untukmu... Tapi aku akan melakukan apa saja untuknya..." kata Blaise tiba-tiba.
"Tapi tidak ada yang tidak mungkin kan?" bela Theo santai pada Draco yang geragapan. "Bayangkan kalau ada cewek Gryffindor yang tekuk lutut padamu..."
Mereka berdua tertawa dengan ramai. Draco otomatis ikut tertawa. Akan kelihatan bohong sekali kalau dia menyangkal tadi memperhatikan Serena.
"Draco... Ayo, cepat naik ke kereta..." kata ibunya sambil menghampiri.
"Tenang, Bu... Anak-anak sudah mendapat tempat..."
"Tentu saja, anakku yang tampan... Tapi kau harus ingat ini..."
Ibunya memeluk Draco sambil berjinjit, kemudian berbisik di telinganya...
"Berhati-hatilah tahun ini... Kalau aku dapat membantumu. Ingatlah. Hanya dibutuhkan satu kebahagiaan untuk mengusir semua kegelapan..."
Peluit kereta berbunyi dan ibunya melepas pelukan.
"Kau akan baik-baik saja, Bu?" tanya Draco agak bergetar.
"Jangan pikirkan aku..." jawab ibunya percaya diri.
Perlu waktu bagi Draco untuk melepaskan dahinya dari jendela di pintu kereta. Kereta terus berjalan sementara sosok ibunya menghilang ditelan jarak...
.
.
.
