Disclaimer : I do not own anything. Fans obsession, not for commercial. Anyhow, copyright always Masashi Kishimoto's

Warning : Alternative Universal, fem!Naru, possible!OOC, confusing-EYD, freak-time!knnowledge, possible!over-imagination, and other standard warnings

Siapkan google, sebelum hujan(istilah)

Enjoy, Please~!

.

.

.

Ada satu program khusus yang wajib dijalani setiap murid yang terdampar di SMU Izanami. Bukan hanya dituntut berdompet tebal(hanya permainan kata, bukan dompetnya yang tebel, tapi isinya), setiap murid diharuskan memiliki kaliber kecerdasan otak yang tinggi. Cerdas di sini bukan berarti nilai akademikmu harus tinggi. SMU ini punya jajaran bimbingan konseling yang memiliki mata setajam silet. Mereka bertugas untuk menggali kemampuan tiap siswanya.

Program ini menambahkan beberapa mata pelajaran wajib di jadwal masing-masing siswa, dari strata kelas manapun dia berada. Salah satunya adalah Tata Krama dan Manajemen.

Ah... Tata Krama?

Hota Iwaki-sensei, guru buntet berkumis tebal itu? Yang nyeremin tiada duanya itu? Mana mungkin murid Izanami tidak tahu? Guru yang mengaku paling baik karena rajin menugaskan portofolio 75 lembar per minggunya itu, memang benar-benar sensasional.

Tapi, kelas Naruto anti mainsetrum.

Ketika kelas lain mewek kejang hingga tepar mulut berbusa setelah guru itu mengajar, maka di kelas Naruto, posisi guru-murid bertukar sementara.

"...Ketiga, Teori Diri Antisosial. Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Digagas oleh beliau, bahwa : masyarakat sebagai makhluk sosial besar peluangnya untuk mengalami konflik yang berikatan dengan kesendirian yang dapat menghalangi seseorang untuk mencapai kesenanagannya..."—untaian teori itu terus bergulir. Bukan oleh Hota-sensei, si guru Tata Krama yang terkemuka di dunia maupun akhirat. Kelas Naruto sudah jengah dengan rasa kantuk yang menyerbu tiap bibir guru muda itu bergerak. Ya, Hota-sensei memang berhasil membuat mereka tidak memancing keributan seperti biasanya. Tapi justru itulah titik pusat masalahnya. Daripada merasa kantuk, mereka lebih memilih mengikat dan menggantung Hota-sensei bagai pajangan di tembok belakang kelas. Jangan lupa bola kasti yang baru saja selamat dari tragedi nyaris tenggelam di dalam comberan—kemarin sore, yang disumpalkan di mulut Hota-sensei, tanpa dicuci sedikitpun.

Tadinya mau disumpal pakai apel, tapi terlalu elit—katanya.

Yeah, mereka memang murid yang baik.

Sekalipun Hota-sensei mulai mewek dengan mulut berbuih, mereka pura-pura peduli. Sesekali tersenyum iba dan menanyakan "Kau tidak apa?", lalu kembali konsentrasi ke depan kelas tanpa mendengar rintihan guru killer(ganti 'r' dengan 'd') versi kelas Naruto itu. Teori terasa lebih komunikatif ketika yang menyampaikannya kawan mereka. Toh kurikulum duaributigabelas yang sempat diterapkan menuntut para murid untuk menyiapkan bahan materi sendiri, presentasi ke depan, diskusi oleh mereka pula, bukan? Kalau mentok baru bertanya pada guru. Tapi untuk murid berotak luar biasa macam mereka? Guru jadi tidak ada kerjaan, kan?

Daripada menghalangi pemandangan, mengganggu konsentrasi, tak jelas pekerjaan, kenapa tidak mereka tempel saja Hota-sensei di belakang kelas sebagai pengusir setan?

Beliau tidak perlu lelah mengomel dan menjelaskan teori dengan cara membosankan, mereka bisa belajar dan memahami ilmu pengetahuan ke-Tata Krama-an dengan selamat sentosa.

Itu kalau pelajaran Tata Krama. Lain lagi ketika pelajaran Manajemen yang kebetulan setelahnya.

Ketika bel pergantian pelajaran berkumandang, Naruto dkk buru-buru melepas jimat pengusir setan mereka dari tembok, menendang dan mengusirnya dari teritori kekuasaan mereka. Tak perlu takut bimbingan konseling menegur. Siapa pula yang berani mengusik ketentraman jiwa kelas pertengahan miliknya Uchiha Sasuke?

Kalau mereka siap hidup di dasar jurang, silahkan saja.

Memasang wajah anak baik, Naruto dan yang lainnya duduk dengan manis. Pelajaran Manajemen dimulai, ketika walikelas tercinting mereka sampai. Walikelas tercinting bukan titel plesetan semata dari kaum kreatif 4L Y. Tapi, walikelas mereka memang sinting. Ini serius.

Di balik wajah bermasker dan seragam KW militer—yang selalu membuat mereka merasa masuk akademi kemiliteran tempatnya kepala kinclong itu, jajaran guru bilang, Hatake Kakashi punya otak yang terlalu melenceng dari sudut α yang seharusnya.

Guru mana yang tidak cukup gila, mengajarkan anak didiknya meretas sistem keamanan negara, untuk mengetahui update Pendapatan Negara versi terbaru? Survey harga pasar, sampai pada titik -95% dari harga aslinya? Lalu membuktikan sebab-akibat inflasi, dengan cara meminta Sasuke mendorong sedikit harga saham perusahaannya, hingga harga nyaris seluruh barang melonjak 350% dari harga aslinya?

Kakashi memang luar biasa.

Tapi, berbeda dengan yang lain. Setiap pelajaran ini berlangsung, Naruto tidak mau menyentuh alat tulisnya sedikit pun. Dia bisa, namun tidak suka. Khusus untuk hari ini, Naruto lebih memilih mengeluarkan cermin datar dari tas Shiho. Daripada mendengarkan ocehan Kakashi dan semakin menyadari kebenciannya pada pelajaran Manajemen, lebih baik Naruto memandang kaca dan semakin menyadari kecantikannya.

Aw, yeah!

"...Sebagai contoh, Namikaze Naruto. Apa langkah yang kau lakukan untuk menguatkan keuntunganmu?"

Naruto terlonjak. Cerminnya lepas, pecah berkeping-keping. Giginya menggertak kesal, mengutuk Hatake Kakashi dalam hatinya. Tapi ketika berjongkok dan hendak meraih cermin itu, Naruto nyengir lebar. Cerminnya pecah, tapi tidak rusak. Benda keramat itu masih memantulkan wajah jelitanya, jadi banyak pula. Tidak yakin dengan jumlah bayangannya, Naruto langsung menarik kertas dan menuliskan rumus fisika.

Yeah... Berkutat terlalu lama dengan fisika memang tidak terlalu baik. Bisa jadi ketika kau berada di tengah jalan dan truk rem blong tak jauh dari tempatmu berdiri, kau malah menghitung percepatan truk tersebut, jarakmu dan truk, lalu menggabungkannya dalam rumus untuk mencari berapa waktu yang diperlukan truk hingga menabrakmu. Untung jika otakmu bekerja lebih cepat daripada cahaya. Kalau tidak?

Rumus lupa, hasil tidak ditemukan, tanpa kau sadari truk itu sudah mencium badanmu.

Menyesal deh, tak bisa menghitung jarak pental badanmu setelah ditabrak.

"...NAMIKAZE!"

Syuuut! BLETAK!

"ADAW!"

Kali ini, headshot Kakashi lakukan. Pakai infocus bermassa 2 kg itu, sukses mengenai kepala Naruto dengan percepatan—ahh, sudahlah!

Naruto meringis, menendang benda elektonik yang digunakan sebagai proyeksi slide materi itu dengan emosi. Kali ini, ia memaksakan dirinya menghadap gurunya yang menyebalkan itu. "Apa sih?! Tak bisakah kau lihat aku sedang sibuk?!" Naruto mulai nyerocos, mengomeli Kakashi. Setelah sekian minggu berhadapan dengan guru ini, masih belum sadar juga Kakashi bisa membuat semua temannya bertekuk lutut—gosipnya, Uchiha Sasuke sekalipun. Mungkin Naruto masih dendam perihal hari pertamanya di sekolah yang berhias kaki kesemutan gara-gara guru teroris yang satu ini. Sampai-sampai ia tidak sadar siapa yang punya tahta di atas awan selama pelajaran Manajemen berlangsung.

"Apa yang kutanyakan pada Namikaze, Tokio?" Kakashi mengabaikan protesan Naruto.

"T-taktik pembludakan rekening p-pribadi, sensei!" Tokio menjawab, agak merinding. Jelas saja. Kakashi sudah berasap begitu. Jawabannya jadi ngaco. Harusnya taktik penaikkan laba tertinggi, malah pembludakkan rekening pribadi. Ya sudahlah, toh akhirnya sama-sama masuk rekening juga. Lagipula kalau diterapkan pada materi Logika Matematika, konklusi itu masuk akal juga.

"Kau tidak mendengar jawaban teman-temanmu, Namikaze?" Kakashi menyipitkan matanya, tersenyum palsu di balik maskernya.

"Dengar, kok!" tukas Naruto. "Mereka bilang dengan cara menaikkan harga saham, bukan? Cih... Cara tradisional begitu, kurang greget!" Kakashi melongo, saat Naruto duduk di atas meja dan bersidekap angkuh.

"Pembludakkan? Mudah! Cantumkan tarif untuk bernafas. Satu hirup ¥5000. Mustahil untuk dilakukan? 95% oksigen yang kalian hirup berasal dari hutan Konoha. Ingat lagi siapa yang berjasa membuat Konoha sejuk dengan pepohonan yang mengitari wilayahnya. Hutan buatan yang merupakan jantung kehidupan kita saat ini adalah milik Namikaze," Naruto tertawa sarkastik. "Teman-temanku bilang, menaikkan harga saham, bukan? Cih, terlalu naif. Hanya begitu yang terkena dampaknya langsung adalah dunia bisnis. Masyarakat menerima hasil sekundernya, sudah berupa inflasi. Kan kalau pencantuman tarif bernafas, semua juga wajib membayar. Tiap satu orang dimisalkan menghirup seribu kali oksigen, dapat lima juta, tuh. Kalikan dengan jumlah penduduk. Itu tiap hari, sensei!" Naruto mulai menggebu.

Satu kelas melongo, mendengar penjelasan Naruto. Mengkhayal? Tidak juga. Jika dia memang berniat menyiksa semua orang, hal itu sangat memungkinkan dilakukan oleh Naruto. System hutan buatan itu memang milik kakak Naruto, ilmuwan gila yang satu dan satu-satunya itu. Gagasan ketika Konoha dalam keadaan gersang minim oksigen, ketika generasi muda hingga tua-nya banyak yang terserang kelainan sistem pernafasan. Kurang oksigen. Paru-paru tidak bekerja secara maksimal.

Akibat penebangan pohon, man! Makanya, jaga lingkungan!

Tapi sekali lagi, Naruto bukan Uchiha yang ngakunya berperikemanusiaan, tapi terjun di dunia bisnis yang kejam. Naruto adalah Namikaze. Manusia pemilik otak rada-rada dengan tingkat perikemanusiaan yang tinggi. Seorang pahlawan nuntut tanda jasa.

"...Tapi gak tega deh, sensei! Sepertinya..." Naruto menunjukkan layar ponselnya pada semua orang yang menghuni kelas itu. Sebuah artikel lama, tentang virus mematikan yang pernah menyebar di Konoha dan berhasil dihapuskan tanpa korban jiwa oleh Minato—ayahnya. "...Lebih menguntungkan untuk menyisipkan sisa virus itu pada pompa oksigen ciptaan Kak Kurama. Lalu menyemprotkannya ke seantero Konoha—sedunia kalau bisa. Pasang tarif untuk vaksin antivirusnya, bisa nego. Harga penawaran tertinggi didahulukan. Khusus untuk seorang perjaka ngenes bernama Hatake Kakashi, vaksin tidak disediakan. Sekian, terimakasih telah memberikanku ruang untuk berbicara di pelajaran menyebalkan ini, sensei~!"

Baru kali ini, Kakashi benci pada murid yang jujur. Hell... Jujurnya Naruto terlalu ekstrim. Iya sih, Kakashi suka dengan ide penyengsaraan dunia itu. Tapi, jika ia ikut disengsarakan seperti itu, apalagi dapat diskriminasi spesial begitu, tidak jadi suka-nya deh. Eh, tapi... Apa ini hanya perasaannya, atau Naruto memang sedang mengancamnya?

"...Kau mengancamku, Namikaze?"

"Iya. Apa sensei senang, sekarang? Ini berkat sensei, yang mengajariku konsep manajemen Uchiha!"

Senyum manis dari Naruto, benar-benar membuat Kakashi dongkol. Yeah, dia memang terlalu jujur.

"Bisa kau tolong Sensei, tutup pintu dari luar?"

"Kenapa tidak sekalian tolong Sensei tutup usia saja? Naru bersedia kok! Ikhlas!" Naruto tertawa lebar.

Kali ini, Kakashi benar-benar kehabisan kesabaran.

"NAMIKAZE! SINI KAU!"

"TIDAAAK! AKU BUKAN LOLI, MR. PEDO!"

"SIALAN!"

Sekali lagi, Naruto tanpa pawang memang luar biasa.

.

.

.

Setidaknya... Kelas XI IPA 3 bisa bersantai dari kekangan pelajaran Manajemen, selagi Naruto dan Kakashi mempraktekan adegan romance berlatar awan Colomunimbus. (Jaga-jaga, siapa tahu ada pesawat Air Asia yang jatuh lagi)


"Yang Benar Saja"

Chic Proudly Present


.

.

.


Cinta Pertama Makhluk Sosial (Bag II)


"Pahit,"Sasuke bergumam lemas, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Bubur di atas sendok pemuda itu abaikan. Terjangkit virus tipus memang tidak menyenangkan.

"Kau yakin tidak mencampur bubuk kamper di dalamnya, Naruto?" Kurama bertanya, dengan tangan sibuk mengetik sesuatu pada laptop Naruto—yang dipinjamnya.

"Aku tidak memasukkan apapun, Kak. Memang inilah penderitaan seorang pasien tipus. Harus makan banyak, tapi lidah konslet. Makanan seenak apapun juga akan terasa pahit atau hambar, apalagi bubur menjijikan ini?" Naruto merengut kecil, menyimpan kembali mangkok bubur itu ke atas meja. "Gerak sedikit, demam tinggi. Enggak digerakkin, lemes banget. Harus full bed-rest. Berak di kasur kalau perlu. Ckckck... Mati aja deh, Sas!" sambung gadis itu—setengah sinis.

Sasuke menggetok puncak kepala Naruto pakai remot AC. Tidak keras, tapi cukup bikin nyut-nyutan. "Kau tidak membantu meningkatkan nafsu makanku sama sekali, dobe!" Sasuke protes, mengerut pelipisnya ketika pening kembali menyerang.

"Beruntung kau sedang sakit, teme. Kalau tidak, saat ini kau sudah tinggal nama~" Naruto menyeringai kesal. Remot AC yang membuat kepalanya nyeri ia hantamkan ke lantai, tak lupa menginjaknya dengan brutal. Seolah remot itu adalah badan Sasuke.

"Kau mengerikan!"dengus Sasuke. Tidak berani memprotes ataupun menuntut kerusakan remot AC itu. Dia berbaring di teritori Namikaze, bro. Uzu Hospital! Pintu kaca rusak bukannya Naruto diberi hukuman, malah suster-setengah-cabe di meja suster jaga yang mendapat hadiah surat PHK. Ish... Sebanyak apapun harta Uchiha yang akan diwariskan padanya, Sasuke tidak sanggup mengotori saham keluarga Namikaze. Mereka tidak dalam jangkauan target rudal Uchiha. Makanya, mencari masalah pada Naruto saat ini tidak baik untuk kelangsungan hidupnya. "Kalau kau memang sebegitu inginnya menghajarku, bantu aku agar sanggup menelan nutrisi makanan dan bisa cepat pulang!" Sasuke kembali merengek. Rupa-rupanya dikurung seminggu lebih di penjara bau obat ini cukup membuatnya rindu udara segar.

"Bukan salahku kau sakit begini! Salahkan virus Salmonella tiphy!" Naruto menggerutu. Memilih mendekati dan memperhatikan apa yang Kurama lakukan. Diam-diam mengutuk kakaknya agar cepat dapat jodoh, wanita sederhana namun tinggi budi pekerti. Naruto kapok mengutuk aneh-aneh pada Kakaknya ini. Sekali-kali harus kutukan yang bagus, biar jadi adik idaman. Walaupun gara-gara ulah Kakaknya, ia terdampar di satu ruangan yang sama dengan seonggok kepala pantat pertengahan antara bebek dan ayam.

"Aku punya ide bagus!" Kurama menjentikkan jarinya tiba-tiba. Ia tersenyum lebar pada dua remaja kelas 2 SMU yang ada di depannya. "Gimana kalau Naruto ganti metode suap? Dari suapin pake sendok, jadi suapin pake mulut?" usul Kurama, langsung ketawa ngakak, bangga dengan ide cemerlang dari otaknya. Dia memang seorang jenius.

"...KAKAK!"

Mendapat sinyal bahaya, Kurama langsung mengangkat laptop di pangkuannya sebagai tameng dadakan. Kaki Naruto bergerak cepat, lihai, mengenai laptop itu, terpelanting, hingga menghantam tembok. "Bukan aku yang menendang, lho, ya..." Kurama mengekeh tanpa dosa.

Naruto melongo, menatap nanar pada laptopnya yang mati mengenaskan.

Sebelum Naruto kembali mengamuk, Kurama buru-buru angkat kaki.

"L-laptop...ku..."

Sasuke meringis kecil, menatap iba pada Naruto yang melangkah gontai, menghampiri jasad benda elektonik itu. Pemuda itu kira, Naruto akan menangis, atau minimalnya langsung mengadu pada kedua orangtuanya. Tapi ternyata, gadis itu malah melompat kegirangan, tertawa kesetanan.

"YEAH! LAPTOP BARU, I'M COMIIIIIIIING!"jerit gadis itu penuh euforia, sukses membuat Sasuke speechless.

Oke, kepala Sasuke sudah pening. Jangan membuatnya semakin pusing!

"Kurama sudah pergi, Naruto. Kenapa kau tidak pulang saja?" Sasuke memutuskan untuk bertanya.

Naruto sempat terdiam, sebelum akhirnya menggendikkan bahu. Gadis itu mendudukkan dirinya di sisi ranjang Sasuke, mendorong pemuda itu agar berbaring. "Meninggalkanmu di sini sendirian? Oh, tidak! Aku masih ingin menonton detik-detik kematianmu," ucap gadis itu, nyengir lebar.

Sasuke menepuk wajahnya—facepalm. Untuk sekali saja, ia berharap kalimat yang Naruto ucapkan tadi hanya modus untuk menutupi bahwa Naruto ingin merawatnya yang sedang sakit. Tapi, apa mau dikata? Kalaupun Naruto peduli, hanya sebatas hubungan antar-kompetitor. Naruto sudah punya tambatan hati, kenal dari kecil pula! Sasuke tidak punya kesempatan...

"Tipus bisa menyebabkan kematian jika salah penanganan, dobe. Aku belum sembuh bukan karena mau mati, tapi karena kurang nutrisi. Antibodi-ku takkan kembali sampai pola makanku sudah benar, itu yang dokter bilang,"Sasuke menghela nafas. "Sialnya, infusan pengganti nutrisi makanan ini sukses mengganggu pola tidurku," Sasuke mulai curhat.

Naruto hanya manggut. Dia tahu. Terkadang, obat-obatan yang dikonsumsi tubuh bekerja menyembuhkan yang satu dan menghancurkan yang lainnya. "Sekarang kau coba tidur saja, Sas!" ucap Naruto. Tangannya menarik selimut hingga setengah dada Sasuke.

"Tidak bisa..."

"Pakai baygon?"

"Serius, tidak bisa!"

"Oke, aku ambilkan Botulinum Toxin agar—"

"—NARUTO!"

"Oke, maaf!"

Naruto tertawa garing saat Sasuke memberinya tatapan tajam. Yeah... Mungkin Naruto rindu cekclok dengan kompetitornya ini, sampai-sampai memancing masalah segala. Klub Jurnalis terasa sepi tanpa adanya Sasuke. Anggotanya galau semua, sih, tidak bertemu dengan ketua mereka ini. Walau Sasuke adalah ketua paling aneh yang ada di dunia, tapi dia punya tanggung jawab dalam tugasnya. Lumayan keren, kalau Naruto boleh berkomentar.

"Jadi, apa aku harus mengelus rambutmu sampai kau tertidur, seperti yang biasa dilakukan Tante Mikoto ketika kau mimpi buruk?"pertanyaan Naruto membuat pipi Sasuke merona, malu. Sialan! Siapa yang mengumbar-umbar ibunya sering mengelus rambut Sasuke ketika ia mimpi buruk?

Apa...Naruto mengirimkan mata-mata untuk mengumpulkan informasi tentang Sasuke?

"Kenapa kau memandangku begitu?!" Naruto jadi sewot sendiri saat Sasuke memandangnya dengan aneh. Seolah Naruto sudah menelan tomat karungan yang Sasuke sembunyikan di bawah tempat tidurnya. "Lebih baik kau tidur, sana! Atau...harus kubacakan sebuah dongeng?"Naruto manyun.

"Bagaimana kalau dongeng tentang cinta pertamamu?"Sasuke bergumam, langsung mengubah posisi tidurnya jadi menyamping, memunggungi Naruto.

Sebutlah dia malu membuka topik ini.

"Cinta pertamaku?"beo Naruto, bingung. Ketika teringat dengan kirimannya di website sekolah tempo hari, gadis itu mengerling. "Ou...! Ada Uchiha yang patah hati, di sini~ Manisnya~!"

Sasuke mendengus, mengabaikan wajahnya yang mulai memanas.

"Seorang Uchiha Sasuke tidak akan bisa menyaingi cinta pertamaku. Menyerahlah~!" nada main-main dari Naruto benar-benar membuat Sasuke dongkol. Pemuda itu langsung bangun, mencubit kesal kedua pipi Naruto.

"Describe it! No one can defeat Uchiha Sasuke!" deklarasi Sasuke secara sepihak. Benar-benar tidak terima jika ada yang tidak bisa ia kalahkan. "I'm popular, dobe!"

"Cinta pertamaku lebih populer, teme,"

"Aku tampan!"

"...Dia lebih menakjubkan,"

"Semua gadis takluk padaku!"

"Semua? Hei! Aku tidak takluk padamu!"

Satu botol menghantam kepala.

"Oke, oke, kutarik yang tadi! Aku punya banyak fans!"

"Duh? Kau mengakui fans ababil-mu itu? Kau sudah tidak waras, Sasuke..."

"..."

"Lagipula dia dikagumi seluruh lapis penduduk, gyaaa~!"

Naruto mulai tertular virus fansgirling.

"..."

"..."

"..."

"...Tapi, Sasuke? Kenapa kau ingin tahu?"

"Agar aku bisa menunjukkan kalau aku lebih pantas darinya!"

"..."

"..."

"...Oh,"

Sasuke menggigit bibir bawahnya—merasakan pening yang semakin menjadi. Inginnya sih berbalik lagi, melihat Naruto. Sasuke tentunya ingin mengetahui respon Naruto dengan setiap untai kata yang diucapkannya. Tapi kalau kepala begini, buka mata pun jadi malas.

Srat...

"...Kau mau dengar lagi, semenakjubkan apa Cinta Pertamaku itu?" Sasuke terhenyak, ketika ia merasakan jemari lembut menyentuh mahkota pertengahan antara bebek dan ayamnya yang sangat ia banggakan.

Tidak salah lagi, tangan Naruto.

"...H-hmm?"

"...Aku tak bisa hidup tanpanya. Dua hari seminggu bertemu dengannya tidak cukup untukku. Inginnya sih setiap hari, bermangkok-mangkok jumbo! Hehe..."

Nahlho? Mangkok jumbo?

"Menyebalkan, selalu membuatku mengantri. Tapi tetap saja. Dia...benar-benar fantastik, nempel di lidah!"

H-hoi?

"...Singkat kata, lezat,"

Lezat? Jangan bilang...!

Sasuke reflek membalikkan dirinya, langsung duduk dan mencengkram tangan Naruto.

"...Ramen? Cinta Pertamamu adalah RAMEN?!" hujan lokal dimulai.

Naruto nyengir tanpa dosa, mengangguk dengan semangat.

"...Wow! Aku...cemburu pada ramen?" Hidung Sasuke kembang-kempis.

"Hm! Bukankah bagus untuk rubrik mading minggu depan?" Naruto ngakak.

Merasa direndahkan, Sasuke menggetok kepala Naruto dengan kesal."Sialan kau, dobe!" umpatnya kesal.

Naruto meringis kecil, masih terkekeh menahan tawa dengan tangan mengusap puncak kepalanya yang lagi-lagi nyut-nyutan. "Heheh! Jangan-jangan, kau sakit tipus karena virus Salmonella tiphy bereaksi dengan kecemburuanmu?"

"..."

"Sudah kuduga! Aw~ Kau benar-benar manis, Saskey~"

"...Shut up!"

Wajah Sasuke kini benar-benar terasa panas. Bukan hanya karena demamnya, ataupun rasa dongkol diekori malunya. Melainkan karena rasa menggelitik di perutnya saat Naruto mengalamatkan pet-name padanya. Entah itu hanya main-main, menyindir, atau apapun itu, yang jelas...

Cukup ampuh untuk membuat Uchiha Sasuke mengalami melting dadakan.

Naruto memang luar biasa.

"Aslinya, kau cemburu, Sas?" tawa Naruto sudah reda. Kali ini dia bertanya dengan senyum simpul di wajahnya.

"Kenapa kau mau tahu?"Sasuke mendengus, kembali membaringkan dirinya.

Naruto tidak menjawab. Gadis itu malah membuka ponselnya, mengetik e-mail, lalu kembali melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti tadi—mengelus rambut Sasuke.

"...Naruto?" Suara Sasuke terdengar bagai bisikkan. Sepertinya dia mulai mengantuk.

"...Hmm?"

"Kau sudah makan?"

Naruto tertawa. Kenapa Sasuke jadi lembek begini?

"Sungguh, Sasuke. Jangan membuatku tertawa. Cepatlah sembuh, dan jadilah Uchiha Sasuke yang menyebalkan itu. Kau membuatku takut, haha!"

"...Whatever. Temani aku sampai kau lelah, lalu pulanglah,"

Sasuke mulai merasakan matanya semakin berat. Dia memang sulit tidur belakangan ini. Jadi tak mengherankan, jika kantuk langsung datang saat ada yang mengelus kepalanya.

Tapi, sebelum ia benar-benar sampai di negeri mimpi, Sasuke mendengar bisikkan kecil.

"Have a nice dream, Sas. See you tomorrow,"

.

.

.

Drrt! Drrt!

Kurama terlonjak. Meraih ponselnya, mata setengah-terpejam itu langsung terbelalak saat itu pula. Di sana, di layar ponselnya, tertera jelas nama kontak Uzumaki Naruto, adiknya. Kepalanya sudah memutar bloody-scene, takut Naruto akan menuntutnya mengembalikan keadaan laptop adiknya itu. Kurama tidak sanggup, lalu Naruto akan membunuhnya. Shit! Adiknya terlalu jenius. Bisa-bisa kematian Kurama tidak ada yang mengetahui dalam kurun waktu satu abad. Satu dunia banjir air mata, menangisi kepergian pemuda tampan sepertinya. Kasus bunuh diri merajalela, tidak ada yang rela kehilangan pemuda keren sepertinya.

Yeah, begitulah imajinasi Kurama yang masih meler bagai Kodok Zuma.

Tapi pada faktanya, badan e-mail dari Naruto malah membuat pemuda itu nyengir.

From : Uzumaki Naruto

Subject : Wanna guess?

Resosialisasi, kak! Gak jadi orang, jadi manusia lagi aja, rela kok! *whiteflag up*

Hehe... Jadi makhluk sosial itu emang ribet, yak?

Gapapa deh, demi jadi manusia, ngemban tahta makhluk sosial juga akan kutelan!

Jangan lupa tegur jika Konformitasku melenceng, ya kak!

...

PS : Kompensasi apa yang harus kulakukan karena melakukan desosialisasi menjadi orang?

To : Uzumaki Naruto

Subject : re:Wanna guess?

Resosialisasi, huh? Kondisi di mana seseorang diberi identitas baru? Goffman akan tertawa jika tahu teori-nya kau wujudkan dengan Resosialisasi dari manusia ke orang, adik! Apakah itu yang membuatmu berubah belakangan ini? Yokatta! Kembalilah jadi adikku yang manis!

Ribet? Tidak juga. Kemarin aku mendapat laporan dari guru konselingmu, soal skandal dengan guru Manajemen. Kau bukan hanya berhasil kembali menjadi manusia—makhluk sosial, tapi juga berhasil menjadi Namikaze. Selamat! Hidupmu akan luar biasa dengan status Namikaze!

PS : Kompensasi atas desosialisasi? Hmm... Mungkin, merespon Cinta Pertama Makhluk Sosial, yang membuatmu kembali jadi Makhluk Sosial? (Kakak yakin kau mengerti siapa yang kita maksudkan di sini)

PSS : Kontakmu akan kurubah nanti. Traktiran ditunggu~

Satu laporan pengiriman diterima, Kurama membuka mulutnya."Akhirnya kau sadar juga, Naruto! Kan kalau begini, penelitian apapun yang kulakukan pasti terwujud!"ucapnya disertai tawa laknat.

.

.

.

Dua Namikaze siap tampil beraliansi.

Well...

Sekedar peringatan untuk yang merasa berdarah Uchiha, di manapun anda berada.

.

.

.

Duh? Ini apaan coba?

Wkwkwk maaaaf kalau lama dan aneh, kepala Chic kemaren-kemaren lagi penuh sama proposal, sponsor, proposal, sponsor.

Btw, ada yang punya jalur buat sponsor, rayon Bandung? *plak*modus*

Hmm... Bagaimana yang ini? Gak seperti chapter sebelumnya yang penuh dengan kegilaan, di chapter ini Chic mengedepankan F aksi-reaksi antara Naruto dan Sasuke. *mulaifisika*

Mungkin kalian bisa menafsirkan sendiri, maksud dari e-mail antara Kurama-Naruto? Khukhu~

Re-review :

~levfus kit

Yang Chic lakuin sama Naru? Gak ada :trollmeme:

B-bagaimana kau tahu Chic itu gelo dan sinting? C-chic...j-jadi m-malu *blushing* #lho?

Haha... yang ini bagaimana? Masih bikin pusing kah?

Semoga iya *gampared*

~Nabila Chan BTL

Gak kuat? Kuatin XD

Wahaha, Chic dipanggil senpai? Gak salah nih?

Oh, ya. Nih udh lanjut

~Hyull

Sengaja ditanggungin kak :v

Khekhe...tapi udah lanjut kok!

Hmm...Terus Chic harus peluk apa? *pose mikir*

~Ryuusuke583

Sekarang lebih berasap lagi~!

Noh udah dijawab siapa first love-nya Naru :v

Iya ini udah lanjut kok!~

~Guest

Hai juga, Guest :D

Wkwkwk... Chic udah keseringan liburan ke sana :v (ini bohong, kok)

Mudah-mudahan bahasanya makin gak nyampe, bro. Itu akan sangat menyenangkan *gampared*

~UzumakiDesy

Hahaha peace, mamen! XDv

Iya ini udah lanjut~!

~efi. astuti .1

Wkwkwk... Sasuke masuk RS karena Tipus... Tapi stress karena Naru punya Cinper juga memungkinkan :v

Iya ini udah lanjut~!

~Ichiro Makoto

Oke, Ichi.

Hmm... Ichi, Chic. Kita sama-sama berkanji chi alias darah. Jangan-jangan... kita anak ayam yang dipisahkan? Tidaaaaaak! *mulaierror*

Wahahaha... Telen sekalian hpnya~

Hehe... Udah gak penasaran lagi, kan? *kedipkedip*

~Fap-kun

Mueheheh... Hati-hati, senyam-senyum sendiri merupakan salah satu gejala kangen sama Chic *BLETAK!*

Maaf kalau chapter ini kurang nista :v

~Aristy

Khekhe... Pelepas penat, un! Kemarin-kemarin otak Chic lagi bolot gara-gara pelajaran Sosiologi. Makanya Chic tumpahin ke sini :v

Wkwkwk

Cinper Naru? Sasuke gak dalam bahaya, ah :v Terjawab di chap ini kan

Kurama? Dia ada, kok di chap kemarin. Cuma numpang nama, kena twinball-birdshoot. XD

Ini udah lanjut~!

~Arum Junnie

Wahaha~! Jujur, pelajaran ini paling bikin Chic bengong di kelas, tapi jadi gila di rumah. Sadomasochist de el el Chic lampiasin ke seperangkat alat tidur (baca : guling dan sanak saudaranya)

Hehe semoga tetap keren, yak!

~Fuyutsuki Hikari

Sejak Chic berkehendak, khukhu~! Habisnya tiap baca ff, kebanyakan Sasu sama Kurama itu musuhan terus. Kan kurang greget :v

Ne, sama-sama

#bales SunJauh

~zadita uchiha

Wkwkwk bisa jadiiii :v

Nih udh update. Maaf gak kilat. Biasa, sibuk di duta *gampared*

~Jasmine DaisynoYuki

Waaa, Chic terhura lho, ada yang bisa menebak Cinper Naru itu apa XD

Selamat! Kau mendapatkan sepuluh cincin batu ali/akik berbeda warna. Segera ambil di tambang batu terdekat :v

~ hendrawan. putra .948

Ini udah mulai keren belum? Duanyanya mulai saling jitak, sekarang :v

Nanti-nanti Chic bikin mereka saling tebas, kkk *jderr*

Iyaa ini udh lanjut

~SNlop

Konklusi yang bagus, khukhu!

Noh, udh tau kan apa yang dilakuin Naru? Xixi

~Nita Nitachi

Iyaaa ini udah update kok! Masih suka? :v

~Kris hanhun

Iya ini udh lanjut~!

~Khioneizys

Haha, nih udh terjawab kok

~November With Love

Wkwkwk... Iyaaa ini udh lanjut

Yosh! Akhirnya beres, hehe...

Ada yang terlewat, kah?

Maaf untuk keterlambatan ini, Chic kemarin-kemarin nyaris gak bisa buka e-mail buat liat notifikasi fanfiction, hehe... Lagipula mulai tempo hari, Chic jadi punya jadwal tambahan belajar Matematika setiap pulang sekolah. Jadi pulang makin sore, dan gak bisa janji lanjut secepat 3 chapter sebelumnya. Nasib jadi kandidat olimpiade *mewek*

Hontou ni gomenasai~! *bow*

Sekali lagi thanks buat all support

View-read-review-follow-fave-etc, terimakasih! :D

Sekian terimagaji,

Chic White

(Possible!Chic-ken *roosting*)