Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 4

Who are you?

Sasuke membidik sasaran yang mematung di hadapannya dengan vas bunga di atas kepala. Tebak siapa yang menjadi 'sasaran hidup'nya saat ini? Yap...siapa lagi kalau bukan gadis yang dianggapnya pengganggu dengan rambut dan iris matanya yang aneh –menurut Sasuke. Hatinya sedang benar-benar kesal karena gadis itu tak kunjung berhasil membidik sasaran dengan benar.

Lihatlah nasib malang Sakura kita tersayang. Raut ketakutan terlihat jelas dalam wajah cantiknya. Tubuhnya bergetar, namun tak berani bergerak seolah terpatri di sana. Sesekali dipandangnya sepasang onyx itu memelas, ia benar-benar tak siap mati dalam keadaan seperti ini. Diliriknya seluruh anggota Exterminator, bahkan Shikamaru yang biasanya mangkir dari latihan rutin kini sedang memandangnya miris, seolah mendoakan keselamatan gadis malang itu.

Mereka bukannya tak berusaha menghentikan aksi Sasuke, namun nampaknya kita sama-sama tahu bagaimana keras kepalanya pemuda itu. Dalam keadaan seperti ini, bahkan kata-kata sang ayah takkan didengarkan.

Tak ada yang berani menghalanginya ataupun sekedar mendekat. Membujuk Sasuke hanya akan membuatnya semakin geram dan melampiaskan kekesalannya pada anggota lain.

Di lain pihak Sakumo memperhatikan salah satu putranya dari balik dinding kaca dengan tatapan datar. Kali ini Sasuke benar-benar keterlaluan. Sepertinya ia harus turun tangan untuk mengatur putra kebanggaanya itu. Sudah saatnya Sasuke belajar mengendalikan emosi dalam dirinya. Sesekali Sakumo nampak menghela nafas berat, membuat putra kandungnya yang kini berdiri di belakangnya mengrenyit heran.

"Siapkan ruang kebutuhan dan sampaikan pada Sasuke dan Sakura aku menunggu mereka di sana," pesan Sakumo.

"Sekarang?" tanya Kakashi ragu.

"Tunggu sampai anak itu menyelesaikan aksi gilanya," sahut Sakumo sembari berlalu.
Sasuke harus diberi pelajaran!

Mari kita kembali kepada posisi Sakura. Ia sudah berdiri di sana sekitar sepuluh menit, tapi Sasuke tak kunjung menyelesaian aksinya. Pemuda itu nampaknya senang menikmati ekspresi ketakutan Sakura saat dihadapkan dengan senapan siap tembak mengarah lurus padanya. Seringai sinis terlihat jelas mengembang di bibirnya, membuat siapa saja yang melihatnya merasa ngeri.

"Cepat selesaikan. Ayah menunggumu di ruang kebutuhan," ucap Kakashi setengah berbisik, mengacaukan kesenangan dalam pikiran Sasuke. Sepintas Sasuke meliriknya malas, kemudian kembali menegakkan tubuhnya. Menatap sepasang iris berlainan warna milik lawan bicaranya. Sejenak semua menghela nafas lega, akhirnya Sasuke menghentikan aksi gilanya yang mungkin bisa membahayakan Sakura bila tembakannya meleset –meski kita sama-sama tahu itu tak mungkin.

Baru saja berniat meninggalkan tempat latihan tersebut, Sasuke kembali mengarahkan pistolnya ke arah Sakura tanpa memandangnya. Sakura yang awalnya hendak mengistirahatkan tubuhnya kembali berdiri menegang. Tanpa diduga Sasuke melepaskan tembakannya tanpa memandang Sakura yang menatapnya nanar. Peluru melesat cepat sebelum sempat disadari, mengenai vas bunga di bagian yang hanya berjarak sekitar satu senti di atas kepala Sakura.

Sakura langsung jatuh terduduk diantara pecahan vas bunga. Kakinya terasa lumpuh dan tubuhnya bergetar. Dari wajahnya terlihat betul ekspresi ketakutan yang teramat sangat.

Segera saja Hinata menghampirinya dan membantunya berdiri, kemudian memapahnya ke ruang kesehatan.

"Kau gila?" pertanyaan Kakashi lebih terdengar sebagai pernyataan di telinga Sasuke yang kini tengah menatapnya bosan.

"Bukan aku yang meminta untuk melatihnya. Aku melakukan sesuai yang ku mau," jawabnya enteng. "Sakumo menginginkan gadis bodoh itu menjadi partnerku. Jadi aku berhak melatihnya sesukaku."

"Bukan berarti kau berhak menyiksanya. Kau memuat Ayah marah."

Sasuke mendengus meremehkan. "Kehidupan yang diberikan Ayahmu, aku tak pernah menginginkannya," jawabnya dingin kemudian berlalu meningalkan Kakashi yang hanya menghela nafas panjang.

Kakashi tahu betul dendam yang tersimpan dalam hati Sasuke. Ia ingat betul hari pertama Sasuke datang ke dalam keluarganya, Sasuke adalah anggota pertama yang bergabung dengan Exterminator. Diusianya yang masih teramat muda, ia kehilangan keluarganya dalam pembantaian yang dilakukan oleh kakak kandungnya sendiri.

Sasuke adalah anak yang memiliki sifat keras sejak pertama Kakashi bertemu dengannya. Ia lebih suka mengurung diri di kamar dan tak pernah banyak bicara sampai suatu ketika saat usia menginjak sekitar tiga belas tahun, Sakumo mengajarinya memegang senjata.

Sejak saat itu Sasuke begitu tergila-gila mempelajari berbagai macam senjata dan sejak saat itu pula kekuatan iblis dalam dirinya bangkit. Membuatnya kuat sekaligus lemah di saat yang bersamaan. Kuat secara fisik, lemah secara nurani.

##########

Sasuke memandang pria setengah baya di hadapannya malas. Lawan pandang di hadapannya kini tengah menatapnya datar, meski kemarahan tersirat dalam sepasang matanya. Mereka berdua masih sama-sama terdiam dalam ruangan serba putih dengan cermin satu arah di belakang tempat Sasuke duduk, hanya ada satu bangku di sana. Inilah yang disebut ruang kebutuhan. Biasanya digunakan untuk introgasi atau kegiatan khusus lainnya.

"Apa yang kau inginkan kali ini?" tanya Sasuke memecah keheningan.

Sakumo masih memandangnya dengan tatapan yang sama. "Kudengar kau menolak mengakui Sakura sebagai tunanganmu."

"Tidak juga,"

"Tapi kau tak meng-iyakan. Kau bahkan tak memakai cincin yang kuberikan," sahut Sakumo geram. "Kau ini prfesional Sasuke. Apa susahnya beracting di depan teman-temanmu? Kau biasanya lancar melakukannya dengan yang lain."

Rahang Sasuke mengeras mendengar kalimat terakhir Sakumo. "Aku tak suka bermain-main dengan status penting macam itu," jawabnya dingin.

"Jadi yang terakhir bukan acting?"sindir Sakumo pura-pura terkejut. "Jangan membuatku terpaksa mengirim agen terbaikku ke luar negeri lagi karena kebodohanmu."

Baru saja hendak menyahut, pintu di belakang Sakumo terbuka. Menampilkan sesosok gadis manis beriris emerald dengan dress rumahan membalut tubuhnya. Hinata memapahnya masuk perlahan.

Sakumo menatap Sakura yang kini menunduk takut. Gadis itu tak berani memandang Sasuke yang kini menatapnya intens, apalagi memori aksi sasuke yang hampir merenggut nyawanya tadi.

"Buktikan padaku kalau kau masih se-profesional dulu," tantang Sakumo. "Cium Sakura!" perintahnya kemudian, sukses membuat Sasuke dan Sakura –bahkan Hinata- tersentak kaget. Apalagi Sasuke yang langsung memandang Sakumo nanar.

"Aku tak sudi melakukannya," sahut Sasuke sembari memalingkan wajahnya.

"Ini bagian dari misi."

Sasuke menatap Sakumo penuh kebencian. Pria itu selalu saja menyeretnya dalam permainan yang menyesatkan. Dipandangnya Sakura yang kini menunduk ketakutan. Dan anehnya entah mengapa hatinya serasa mencelos saat menyadari keadaan Sakura begini karenanya.

"Jangan buat aku menggunakan cara keras Sasu," ancam Sakumo.

Sasuke memejamkan matanya, berpura-pura tidur. Membuat Sakumo semakin merasa dilecehkan. Ditariknya Hinata keluar, meninggalkan Sasuke dan Sakura dalam ruangan itu berdua.

"Lakukan sesuai perintahku!" titah Sakumo sebelum keluar dan mengunci pintu dari luar.

Sakura semakin gelisah, ditatapnya Sasuke yang masih duduk sambil memejamkan matanya. Dirasakannya suhu ruangan terasa menggigit kulitnya, apalagi saat ini Sakura mengenakan dress tipis tanpa lengan. Entah hanya perasaannya saja, atau memang suhu dalam ruangan itu menurun?

Sepintas Sakura mendengar decihan sebal Sasuke. Pemuda itu seperti menyadari sesuatu, namun masih tetap bungkam. Begitupula Sakura yang kini tengah mematung di hadapannya sembari sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya.

"Jadi ini rencanamu?" ucap Sasuke setengah berteriak, entah pada siapa. Matanya yang semula terpejam kini telah terbuka, menampilkan sepasang mata yang entah mengapa berubah menjadi semerah darah. Mungkinkah Sasuke marah?

"Aku tahu kekuatan dalam dirimu akan membuatmu bertahan dalam situasi apapun. Meski suhu minus sekalipun. Tapi lihatlah partnermu. Dia bisa saja mati beku karena keegoisanmu Sasuke," jawab sebuah suara dari mikrofon yang terpasang di dinding. Menandakan mereka tak hanya berdua di sana. Ya, Sakumo mengawasinya dari ruangan di balik cermin satu arah yang terpasang di dinding.

"Aku tak membutuhkannya. Matipun aku tak peduli," sahut Sasuke sembari memandang Sakura yang kini meringkuk menahan dinginnya udara dalam ruangan itu.

"Kau yakin? Aku bisa saja menurunkan suhunya lebih rendah," ancam Sakumo. Ia sengaja menggantung ucapannya, ingin tahu ekspresi Sasuke. "Bukankah perintahku sangat mudah? Nyawanya ada di tanganmu Sasuke," lanjut Sakumo sembari memberikan penekanan dalam setiap kalimatnya, mencoba meyakinkan Sasuke bahwa ucapannya bukan main-main.

Sesekali Sasuke melirik gadis pink yang kini nampak menggigil di hadapannya. Sakura duduk sembari menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Berharap dapat menghalau dinginnya udara yang terasa semakin lama semakin menusuk. Kepalanya mulai terasa pening, suara gemeletuk terdengar dari giginya. Sementara Sasuke hanya memandangnya sinis. Mata iblis itu memberinya kekuatan, membuatnya sanggup bertahan dalam situasi apapun. Dan parahnya, itu membuatnya tak memiliki nurani yang mungkin saja bisa menggerakkan hatinya untuk berkorban demi keselamatan Sakura. Karena saat ini, baginya Sakura mati-pun bukan urusannya.

Di lain pihak, Sakumo nampak mulai geram. Ia menunggu tindakan Sasuke dengan tak sabar. Dalam hati sesungguhnya ia khawatir kalau sampai gadis itu mati karena tindakannya sendiri, tapi hanya ini yang kiranya bisa ia lakukan untuk mengubah Sasuke. Ia percaya, dalam keadaan seperti ini-pun Sasuke pasti masih memiliki nurani.

##########

Hinata memandangi rerumputan di hadapannya bimbang. Ia memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin akan menimpa Sakura. Beberapa hari mengenal gadis itu, Hinata menyadari bahwa Sakura memilii perhatian lebih pada Sasuke. Tapi kenapa pemuda itu nampak begitu membencinya? Padahal menurutnya, sifat ceria Sakura mungkin bisa mengubah Sasuke menjadi pribadi yang lebih baik.

"Kenapa menghela nafas begitu?" tanya suara milik seseorang yang sangat dicintai Hinata yang ternyata sendari tadi berada di sampingnya.

Hinata tersenyum senang, kemudian menyandarkan kepalanya di pundak kekasihnya –Naruto.

"Kau menghawatirkan Sakura?"

"Begitulah," jawab Hinata singkat. Sejenak Naruto nampak menerawang, rasanya seperti baru kemarin semua kejadian buruk yang menimpa sahabat baiknya itu terjadi.

"Bagi Sasuke, menerima orang baru dalam hidupnya memang tak mudah. Ia belum siap mempercayakan hatinya pada orang lain. Maka dari itu sikapnya jadi begitu represif."

"Aku berharap dia bisa membuka hatinya lagi," sahut Hinata lirih.

"Pasti, yang dia butuhkan hanya waktu," ujar Naruto sembari memandang sepasang lavender yang sangat dicintainnya itu. "Kau tahu? Aku jadi ingat pertama kali kau dan Neji bergabung," lanjutnya sembari menerawang.

"Ya, aku ingat pandanganmu tak beralih dariku dan langsung memohon pada Ayah agar bisa melatihku," gurau Hinata disambut tawa Naruto.

"Aku tak bisa berhenti memikirkanmu saat itu. Sejak pertama kita bertemu, aku sadar bahwa sudah menjadi kewajibanku menjagamu. Aku ingin kau menjadi kuat dan menguatkanku," ucap Naruto dengan tatapan sayangnya.

Semburat merah menghiasi pipi mulus Hinata. Ia ingat betul hari pertama mereka bertemu. Ia selalu ingat setiap kenangan yang dilewatinya bersama Naruto. Pertama kali Naruto menggengam tangannya, pertama kali pemuda itu memeluk tubuhnya sebelum berangkat misi. Ciuman pertama mereka, bahkan ia masih ingat rasanya bercinta dengan Naruto untuk pertama kalinya setelah pemuda itu pulang dari misi panjangnya. Dan anehnya semua masih terasa seindah seperti saat pertama mereka melakukannya. Mungkinkah karena cinta?

"Aku harap Sakura akan baik-baik saja," ucap Hinata tulus. Naruto merangkul bahu Hinata dan menyandarkan kepalanya di pucuk kepala kekasih tercintanya itu.

"Kita sama-sama mendoakan yang terbaik untuk mereka," ucap Naruto tulus. Baginya Sasuke sudah seperti saudara kandung, mengingat selama ini ia hidup sebantang kara tanpa keluarga. Naruto berharap Sasuke menemukan kekuatannya kembali, kekuatan yang pernah terenggut secara paksa.

##########

Sasuke masih memandangi tubuh tak berdaya Sakura. Gadis itu nampak mulai kesulitan bernafas, terlihat dari caranya mengambil udara dengan penuh perjuangan.

Rasa sesak memenuhi Sakura, seolah paru-parunya perlahan mengecil. Sementara Sasuke di hadapannya tengah memandangnya dingin sekarang, membuat rasa dingin yang menusuk kulitnya merambat ke hati. Akankah ia mati dengan cara konyol seperti ini?

Beberapa kali dicobanya memandang Sasuke dengan tatapan memohonnya, tapi pemuda itu sama sekali tak bergeming. Justru nampak seolah menikmati ketidak berdayaan Sakura.

Sasuke's POV

Hampir tiga puluh menit dan gadis itu masih berusaha menjaga kesadarannya. Padahal dari nafasnya aku tahu ia tak lagi mampu bertahan lebih lama. Belum lagi bibirnya yang mulai membiru. Hey, kenapa aku terdengar menghawatirkannya?

Aku sadar saat ini si tua bangka itu pasti sedang memperhatikanku dari balik kaca. Hanya satu yang ingin kuketahui, kenapa harus menjadikan gadis ini sebagai alat untuk mengancamku? Dia pikir aku akan menuruti perintah konyolnya itu?

Kupandangi tubuh Sakura yang melemah tak berdaya. Kulihat rambutnya yang nampak mencolok, namun sedap dipandang. Sepasang emerald yang biasa terlihat cerah dan kini nampak meredup. Kemudian pandanganku terhenti pada bibir ranum yang kini nampak membiru. Tunggu dulu! Kenapa dari caraku mengungkapkan rasa-rasanya seolah aku tertarik padanya? Cih...dunia pasti akan segera kiamat.

"Kumohon..." sebuah kata akhirnya meluncur dari bibirnya yang bergetar. "Selamatkan nyawaku!" pintanya memelas, membuatku tersentak. Dia ingin aku menyelamakannya? Setelah aku menginjak-injak harga dirinya, ia masih memiliki keberanian untuk memohon?

"Dengan alasan apa?" tanyaku sengit. "Kau hanya pengganggu bagiku. Katakan mengapa aku harus menyelamatkan nyawamu!"

"Karena... Aku ingin hidup...bersamamu," ucapnya dengan suara bergetar. Hatiku terasa nyeri mendengar ucapannya barusan. Apa yang baru saja dikatakannya?

"Sama sepertimu, aku tak pernah menginginkan kehidupan seperti ini. Aku juga merasa, mungkin akan lebih baik bila aku mati. Tapi saat melihatmu, aku tahu aku tak sendiri menjalani ini," ucapnya sembari menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. "Beri aku kesempatan...Sasuke," ucapnya memohon.

Entah mengapa perasaan aneh menyelimuti hatiku, membuatku merasa harus melakukan sesuatu. Kulihat kedua irisku yang kini kembali menjadi onyx melalui pantulan bayangan yang dihasilkan cermin di belakang tubuh Sakura tanpa kusadari. Wajahku terlihat seperti...manusia? Sejujurnya aku tak pernah merasa semanusiawi ini. Mengapa rasanya aku menikmati perasaan asing ini?

Aku mulai bangkit dari tempatku duduk, bisa kurasakan udara dingin menyerap melalui jaket yang kukenakan. Kudekati tubuh ringkih yang kini bersimpuh tak berdaya di hadapanku. Kuletakkan kedua tanganku di pundaknya, mencoba menegakkan tubuhnya yang hampir limbung. Sakura memandangku sayu, tatapannya penuh harap, membuatku tak sanggup untuk tak terjerat. Ada apa denganku?

Kusentuh pipinya untuk pertama kalinya dengan telapak tanganku yang lebih besar dari pipi tirusnya, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan padanya. Sakura nampak menikmati sentuhanku, digenggamnya tanganku yang menyentuh pipinya seolah berharap aku tak memindahkannya dari sana. Kuselipkan tanganku yang lain ke tengkuknya, mencoba mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Bisa kurasakan nafasnya yang menderu dan wajahnya mulai memerah.

Kusentuhkan bibirku dan bibirnya yang terasa dingin. Aneh, hanya dengan satu kecupan saja tubuhku terasa seperti tersengat listrik. Ini bukan ciuman pertamaku, tapi mengapa rasanya jauh lebih menakjubkan dari yang pernah kurasakan? Bibir ini terasa lebih manis dan membuatku gila. Rasanya seolah aku tak sanggup lagi lepas darinya, terlebih Sakura terlihat tak melakukan penolakkan saat kucoba memperdalam ciuman kami. Ia bahkan membalas saat aku mengulum bibirnya. Meskipun masih kaku, tapi ia berusaha mengimbangi ciumanku. Bisa dibilang ia mudah sekali belajar, sangat berbeda saat aku mengajarinya memegang senjata.

Entah hanya perasaanku atau memang suhu ruangan berangsur-angsur mulai normal? Ehm..bahkan terasa lebih 'panas'. Meskipun begitu aku belum berniat melepaskan bibirku meski sadar kini Sakura mulai berusaha mendorong tubuhku. Ia bahkan menjambak ravenku, membuatku merasa semakin gemas dan justru menimbulkan hasrat yang menuntut untuk segera terpenuhi. Sampai akhirnya kurasakan gigitan pada lidahku yang sendari tadi mencoba menyusup masuk, membuatku tersadar dan segera melepaskan bibirku dari bibirnya.

Wajah Sakura nampak merah padam dan nafasnya tersengal. Kulihat sudut bibirnya yang membengkak. Dan satu yang kusadari, suhu ruangan telah kembali normal sendari tadi.

"Kau menikmatinya Sasuke?" tanya sebuah suara yang begitu ku kenal. Kutatap sepasang mata yang kini menatapku puas. Tatapan senang terlihat betul di sana, membuatku entah mengapa merasa begitu kesal. Segera kutarik lengan Sakura, bermaksud membawanya keluar. Kulirik sekilas wajah pria setengah baya yang menyebut dirinya ayah itu kemudian segera aku keluar sembari tetap menggenggam tangan Sakura.

End Sasuke's POV

Sakumo menghela nafas panjang. Entah mengapa separuh hatinya juga merasa cara yang dilakukannya salah. Tapi hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengubah Sasuke. Hanya Sakura yang bisa mengendalikannya.

##########

Sakura menunduk malu, tak berani menatap sepasang onyx yang sedang menatapnya intens. Mereka sedang berada di ruang kesehatan sekarang, dengan posisi Sakura duduk di tepi ranjang dan Sasuke duduk di sebuah kursi di depannya.

"Jangan membuatku melakukannya lagi," ucap Sasuke memecah keheningan di antara mereka, membuat Sakura mendongak dan menatapnya tak paham. "Aku bisa membuatmu kehilangan segalanya bila kau terlalu dekat denganku. Jadi jangan pernah berharap lebih," ujar Sasue mengingatkan.

Entah mengapa hati Sakura terasa tercubit saat Sasuke mengucapkannya tanpa beban. Apakah ini sebuah penolakkan dari pemuda yang diam-diam dikaguminya itu? Hatinya terasa perih mendengar ucapan Sasuke yang seolah tak menginginkannya.

"Setidaknya beri aku kesempatan," sahut Sakura lirih. "Kau benar-benar tak menginginkanku?" tanyanya penuh harap.

"Kau hanya penghalang bagiku. Aku tak pernah menginginkanmu," jawab Sasuke dingin, membuat Sakura menunduk semakin dalam. Ia mati-matian menahan air mata demi terlihat kuat di hadapan Sasuke. "Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan..."

" –aku hanya meminta kesempatan darimu," potong Sakura cepat tanpa memandang Sasuke.

Sasuke memandang tubuh yang nampak bergetar menahan tangis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara sebal,kasihan, dan prihatin –meski tak disadarinya. Entah mengapa perasaan yang asing baginya ini tiba-tiba merasuki hatinya. Lama kelamaan Sasuke merasa terganggu dengan sesak yang menjalari batinnya. Ia tak suka situasi cengeng seperti ini dan tak ingin terbawa olehnya. Segera saja ia bangkit dan bermaksud beranjak dari tempat itu.

"Terserah apa maumu, lakukan saja sesukamu," ucap Sasuke tanpa membalikkan badan sebelum akhirnya meninggalkan Sakura yang masih tergugu.

"Terimakasih," gumam Sakura dengan senyum terkembang di sela-sela tangisnya yang ternyata didengar Sasuke yang masih di ambang pintu.

'Harusnnya kau memilih pergi, gadis bodoh!' batin Sasuke kejam. Tangannya mengepal kuat. Ia harus membuat Sakura menyerah, entah bagaimana caranya.

##########

Hujan deras mengguyur Konoha. Membuat pejalan kaki berlarian mencari tempat berteduh. Toserba yang menjual payung laris manis diborong orang-orang yang ingin segera pulang dari kerja maupun hendak pergi ke suatu tempat.

Bertolak belakang dengan suasana di luar, dentuman keras musik berirama beat menghiasi sebuah klub malam yang ramai pengunjung. Terdengar lantunan lagu Little Bad Girl milik David Guetta yang diremix sedemikian rupa menghentak lantai dansa.

Sementara itu, salah satu tokoh penting dalam kisah ini hanya memutar-mutar gelas berisi minuman beralkohol ringan di salah satu sudut meja bar. Wajahnya yang rupawan, ditunjang dengan tubuh atletis menarik perhatian gadis-gadis yang tak sengaja bertatapan dengannya. Membuat mereka terkikik senang dan berusaha mencuri perhatian sang elang meski tak dihiraukan.

"Menikmati malammu sendiri tuan muda?" sindir salah seorang bartender yang akrab dengannya dan hanya ditanggapi senyuman pahit Sasuke. "Lama tak melihatmu. Kupikr kau mulai sehat," ucapnya jujur.

"Aku tak pernah sehat Sai," jawab Sasuke dingin. "Rasanya semua yang ada dalam diriku sudah mati," lanjutnya asal.

"Seorang gadis mematahkan hatimu lagi?"

Pertanyaan Sai dijawab kekehan ringan Sasuke, membuat Sai tak urung mengerenyit heran. Pemuda ini terlihat aneh malam ini. Mungkinkah seorang Uchiha Sasuke merasakan kegalauan?

"Apakah aku masih memiliki hati?" gumam Sasuke pada dirinya sendiri.

"Kau di sini rupannya?" sapa sebuah suara dari belakang. Tanpa menoleh-pun Sasuke kenal betul dengan suara mengganggu itu.

"Hn,"

"Gantikan aku untuk misi malam ini," ujar Naruto setengah berbisik.

"Kenapa harus aku?"

"Aku tahu suasana hatimu sedang buruk. Hitung-hitung pelampiasan?" bujuk Naruto.

"Bilang saja kau dan Hinata mau kencan," sindir Sasuke sinis, disambut dengan cengiran tanpa dosa milik Naruto.

"Kau mau tidak?" tawar Naruto untuk terakhir kalinya. Sasuke meliriknya sekilas kemudian mengangguk pasti. "Ini cuma misi sederhana."

"Tembakan jarak jauh?" tanya Sasuke memastikan.

"Yap, sasarannya salah satu pengusaha pemberi dana Akatsuki," terang Naruto. "Lokasinya akan diberitahukan nanti di markas."

"Hn," sahut Sasuke seadanya. Ia terlalu lelah untuk bekerja, namun tak ingin tidur sekarang. Menjalankan misi sesederhana ini mungkin bisa menjadi selingan untuknya. Setidaknya dengan melihat darah ia mendapat sedikit penghiburan. "Aku rasa aku tahu caranya," gumam Sasuke pada dirinya sendiri.

##########

Malam semakin larut, namun belum ada tanda-tanda kota akan tertidur. Ratusan atau mungkin ribuan orang masih sibuk berlalu lalang menikmati keramaian kota yang tak pernah tidur ini. Mulai dari wisatawan asing sampai penduduk lokal tak pernah habis memenuhi jalanan kota meski waktu sudah lewat dari jam tidur. Masih di pusat kota, Sasuke kini berdiri di atap sebuah gedung perkantoran di samping sebuah apartemen mewah. Ia tengah memandang dingin salah satu jendela besar yang ada di apartemen mewah itu, onyxnya telah berubah warna sejak semenit yang lalu.

Yang istimewa ia tak berdiri di sana sendiri. Seorang gadis dengan pakaian serba hitam –sama seperti Sasuke- tengah berdiri bimbang di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Sakura, yang sendari tadi menolak keras perintah untuk mendampingi Sasuke dalam misi ini. Melihat Sasuke memegang senjata dan membunuh mangsanya adalah hal yang tak pernah ingin dilihat Sakura.

"Kau bukan orang pertama yang berdiri di belakangku," ucap Sasuke memecah keheningan. Pandangannya masih lurus ke depan, membuat Sakura tak dapat melihat ekspresinya saat mengucapkan kalimat itu. "Kau juga bukan orang pertama yang menggantungkan harapan padaku," lanjutnya dengan nada yang masih menusuk. "Dan kau juga bukan orang pertama yang merusak kehidupanku," tungkasnya kemudian.

"Mengapa kau sangat membenciku Sasuke?" Pertanyaan yang terdengar menyakitkan di telinga siapapun yang mendengarnya, kecuali Sasuke tentunya.

Sasuke hanya mendengus pelan mendengar pertanyaan klasik dari mulut gadis yang kini seolah berbicara dengan punggungnya. Mengapa dirinya membenci Sakura? Adakah yang tau? Bahkan ia sendiri tak tahu mengapa rasanya menatap sepasang emerald itu selalu membuatnya merasa tak karuan. Ia membenci pandangan memelas Sakura, ia benci tatapan penuh harap gadis itu, ia benci segala hal yang ada pada gadis itu. Sifat manjanya, kebiasaan cengengnya, sikap dramatisnya –yang entah mengapa akhir-akhir ini menular ke anggota Exterminator lain, dan semua tentang Sakura yang baginya selalu tak masuk akal untuk ada dalam diri seorang gadis normal.

Pandangan Sasuke teralihkan dengan cahaya dari dalam jendela, memunculkan bayangan seorang pria yang memasuki ruang keluarga disambut isteri dan anak-anaknya. Pria yang bisa dibilang tak lagi muda itu memeluk keluarganya penuh kasih sayang, membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri, apalagi bagi seseorang yang tak memilik keluarga seperti Sasuke. Dari apa yang dilihatnya, nampaknya pria itu tengah mendapat kejutan di hari ulang tahunnya. Sayang sekali kebahagiaan itu takkan berlangsung lama.

"Semua ini membuatku muak," ucap Sasuke sembari memasang posisi siap tembak. Dibidiknya sasaran yang sudah ditunggunya sendari tadi, dan tanpa membuang lebih banyak waktu Sasuke menarik pelatuknya, membuat peluru melesat menembus udara dan kaca yang berjarak sekitar lima meter dari tempatnya berdiri. Tepat mengenai tengkuk pria itu dan terus menembus hingga menyebabkan leher pria itu berlubang dan mengeluarkan darah segar. Tapi bukan itu yang menjadi inti pertunjukkan ini, melainkan ekspresi ketakutan sang anak dan reaksi histeris sang isteri yang langsung menghambur ke tubuh suaminya membuat Sasuke menyeringai puas. Sementara di belakangnya Sakura berdiri dengan kedua telapak tangannya menutupi mulutnya, menandakan ia benar-benar terkejut dengan aksi Sasuke, matanya membulat tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Terlihat betul pria itu masih meregang nyawa, mati secara perlahan.

Yang membuat Sakura miris adalah pemandangan dimana anak berusia sekitar lima tahun yang notabenenya adalah anak dari pria itu, kini tengah meringkuk dengan tatapan menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.

"Apa yang kau lihat baik tak selamanya baik," ucap Sasuke datar. Sasuke memutar tubuhnya, menghadap Sakura yang kini memandangnya nanar. Terlihat jelas emosi dalam diri pemilik mata sebening permata hijau itu. Bisa dilihat Sasuke bahwa Sakura mati-matian menahan tangis.

"Kau kejam Sasuke," sahut Sakura dengan suara bergetar.

"Aku sudah memperingatkanmu sejak awal," ujar Sasuke sembari mendekati tubuh Sakura yang terus mundur hingga menempel pada dinding di belakangnya. Dikuncinya tubuh gadis itu dengan kedua tangannya yang mengurung tubuh Sakura ke dinding. "Suatu saat bukan tak mungkin kau yang menjadi mangsaku," lanjutnya penuh penekanan.

Sakura masih memandang sepasang mata semerah darah itu lekat-lekat. Dadanya terasa sesak mendapati pemuda menyedihkan ini bersikeras mengusir dirinya dari hidupnya. Membuat air mata yang sendari tadi ditahannya meleleh jua, meski tatapannya tak beralih dari sepasang mata milik lawan bicaranya ini. "Aku mencintaimu," ucapnya kemudian, tanpa keraguan sedikit-pun.

Ekspresi Sasuke berubah seketika. Seringai buas yang semula menghiasi wajah rupawannya tiba-tiba sirna, digantikan dengan tatapan tak percaya. Dipandangnya sepasang emerald itu bergantian, mencoba mencari keraguan dari sana. Tapi yang ditemukannya justru keyakinan dan ketulusan milik gadis itu. Membuatnya tanpa sadar mengubah warna matanya kembali menjadi sekelam malam. Tatapan Sakura...menyentuhnya sampai ke dalam nuraninya yang membeku.

Mereka masih bertahan dengan posisi yang sama. Masih saling menatap, seolah hanya dengan begitu-pun mereka bisa bertukar pikiran. Sasuke tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Gadis di hadapannya menangis, namun tatapannya menyiratkan ketegasan yang sebelumnya tak pernah dilihatnya.

Belum sempat berpikir lebih jauh, Sakura sudah menarik tengkuknya dan menempelkan bibirnya ke bibir Sasuke. Sasuke yang terkejut hanya diam dan tak membalas ciuman Sakura yang sarat akan keputusasaan. Diliriknya gadis yang kini menutup matanya rapat-rapat, menyembunyikan emeraldnya dari sang elang. Tak sampai semenit, Sakura menarik mundur bibirnya kembali dan menunduk sedih. Apa yang dilakukannya adalah sebuah sikap spontan yang tak disardarinya, membuatnya kini dirundung rasa malu.

Oh..Tuhan, jika saja ada yang membawa kamera dan mengabadikan wajah Sasuke yang sulit didefinisikan saat ini. Ia masih terbengong sampai akhirnya suara sirine polisi menyadarkannya. Tanpa basa-basi ia menarik Sakura untuk pergi setelah sebelumnya mengemasi semua senjata, termasuk mengganti pakaian dan segera turun.

Sasuke dan Sakura berjalan di depan apartemen mewah tadi, tepat saat jenazah diturunkan dan dipindahkan ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah sakit dan diotopsi. Nampak polisi sedang meminta keterangan dari isteri 'korban' tewas tersebut tentang kronoogis kejadian meki wanita itu hanya menjawabnya dengan tangisan histeris. Sakura terenyuh saat dilihatnya seorang bocah yang hanya duduk termenung dengan pandangan kosong. Hal ini wajar mengingat sang ayah mati tepat di hadapannya. Sasuke menghampiri anak itu dan memberikan sebuah pisau lipat kecil berwarna keperakan dengan ukiran cantik di luarnya.

"Tugasmu adalah melindungi ibumu mulai sekarang," ucapnya singkat kemudian kembali berjalan menghampiri Sakura. Meninggalkan bocah cilik yang masih menatap benda dalam genggamannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Memberikan senjata tajam kepada anak-anak bukan ide bagus tuan," sindir Sakura setelah Sasuke sampai di hadapannya.

"Kau berharap aku melakukan apa? Memelukya seperti dalam sinetron?" sahut Sasuke ketus kemudian berjalan mendahului Sakura yang masih merengut sebal. Mereka kembali berjalan menuju mobil dan melesat menembus keramaian kota.

##########

Polisi berusaha keras memutar otak dengan kasus-kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini. Belum lagi yang menjadi sasarannya adalah para pejabat tinggi berkantong tebal yang merupakan aset penting bagi banyak orang.

Seorang polisi menatap geram jajaran peluru dan sebuah pisau lempar di atas mejanya. Mungkin sudah puluhan barang bukti yang ia temukan, tapi mengapa tak satupun mengarah pada pelaku pembunuhan? Dipandanginya sebuah peluru dalam kantong transparan yang baru saja diambil dari tubuh korban. Semua peluru yang ia kumpulkan tak pernah berhasil dideteksi. Semua buatan pribadi dan yang pasti ilegal. Bentuknya-pun beragam dan bisa dibilang mengandung seni. Peluru terakhir yang didapatkannya memiliki bentuk memanjang, sekitar tiga sentimeter dengan ukiran yang dibuat sedemikian rupa, sangat unik dan mematikan.

Diremasnya rambut tak berdosa miliknya frustasi. Kasus yang ditanganinya saat ini benar-benar membuatnya gila.

"Ayah," panggil sebuah suara yang sedikit mengejutkanya. Seorang remaja tanggung kini berdiri di ambang pintu dengan tatapan datarnya. Rambut kemerahan dan sepasang zambrut yang terlihat lelah membuat tampangnya terlihat semakin kusut. Nampaknya ia lelah mengetuk pintu dan akhirnya memutuskan untuk langsung masuk ke dalam ruangan ayahnya.

"Kau sudah sampai rupannya. Maaf Ayah sibuk, tak bisa menjempurmu di bandara," sesal sang Ayah.

"Tak apa, aku langsung kemari begitu sampai di bandara. Aku tahu ayah sibuk," sahutnya pengertian.

"Baiklah, kita pulang sekarang. Kau sudah makan?"tanya sang Ayah yang disambut anggukkan pelan anak kesayangannya. Setelah mematikan lampu di ruangannya, ia segera mengajak anaknya untuk keluar dan kembali ke rumah. Setidaknya cukup untuk hari ini.

"Ada kasus berat ya?" tanya sang anak dalam perjalanan menuju rumahnya.

""Ya..kurang lebih begitu," jawab sang ayah sekenanya. "Bagaimana urusan kepindahan sekolahmu? Apa semuanya lancar...Gaara?"

"Sejauh ini baik-baik saja," jawab sang anak –yang kini kita ketahui bernama Gaara seadanya. "Aku akan mulai bersekolah Senin depan," lanjutnya kemudian, disambut anggukan lega sang Ayah.

Sekilas dipandangginya suasana kota dari balik kaca mobil, setidaknya sampai beberapa tahun kedepan ia akan menghabiskan waktu di sini. Di sebuah kota kecil padat penduduk yang namanya tersohor sampai ke pelosok Jepang.

##########

Menikmati pemandangan laut di malam hari sama halnya dengan memandangi lukisan tanpa penerangan. Sia-sia!

Tapi rasanya menikmati desiran ombak ditambah hembusan angin malam yang menggoda bukan hal yang terlalu buruk untuk dinikmati. Terlebih langit nampak cerah, menampilkan pertunjukkan gugusan bintang-bintang yang nampak berkelip bergantian dan membentuk formasi tertentu. Haaah...suasana yang romantis memang, tempat sangat tepat untuk sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara memadu kasih.

Di sinilah Sasuke memarkirkan mobilnya, dengan posisi menghadap lautan. Membuat Sakura yang duduk di sampingnya bertanya-tanya. Kenapa harus pergi ke pantai malam-malam?

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Sasuke tiba-tiba setelah mematikan mesin dan membuka kaca hendela sebagian.

Sakura memandang Sasuke dengan tatapan bertanya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Sasuke.

"Kau meminta kesempatan dariku. Jika kuberikan, apa untungnya untukku?" tanya Sasuke dingin. Pandangannya masih lurus ke arah lautan di depannya, mengabaikan tatapan bimbang sang emerald.

"Aku..."

"Kau tak bisa menjanjikan apapun untukku?"potong Sasuke cepat.

Sakura merenung sejenak. Mencoba memutar otak untuk menemukan setidaknya satu saja alasan agar pemuda itu memberinya kesempatan langka ini. "Aku janji memberikan segalanya yang tak pernah kau miliki," sahutnya kemudian.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya tanda tak mengerti. Bukan! Ia bukan tak tahu maksud ucapan Sakura, ia hanya tak mengerti mengapa gadis itu menjanjikan sesuatu yang tak mungin seperti itu. "Segalanya?" tanyanya memastikan.

"Segalanya!" jawab Sakura antusias, menarik perhatian Sasuke meski hanya sedetik.

Suasana hening sejenak. Kedua belah pihak sama-sama tak tahu lagi harus berkata apa. Sakura diam menunggu keputusan Sasuke, sedangkan di pihak lain Sasuke sedang menimbang-nimbang keputusan.

Bukannya cepat-cepat menjawab, Sasuke justru menyalakan mesin mobilnya, membuat tatapan penuh harap Sakura luntur seketika. Sakura akhirnya kembali ke posisi duduknya dan bersiap memakai sit-belt.

"Tiga bulan," ucap Sasuke tiba-tiba. "Jika selama tiga bulan kau tak berhasil membuatku mendapatkan apa yang tak kumiliki, kau harus bersumpah untuk menghilang dari kehidupanku," lanjutnya kemudian.

Sakura menatap pemuda di sampingnya tak percaya, ditambah lagi Sasuke kini menatapnya dingin. Rupannya ucapan pemuda itu tak main-main.

"Hanya tiga bulan?"

"Kalau kau menolak.."

"Aku setuju," potong Sakura sebelum pemuda itu menelesaikan kalimatnya,membuat Sasuke menyeringai puas. Tanpa bicara lagi ia segera menjalankan mobilnya untuk kembali ke markas. Mulai besok permainan baru akan dimulai. Setidaknya malam ini ia harus mengatur rencana untuk membuat gadis ini jengah dan akhirnya menyerah. Inilah satu-satunya cara yang ditemukan Sasuke untuk mengusir 'pengganggu' hidupnya.

TBC


Author's place ::

Mohon maaf... -.-

Berhubung jadwal sekolah mulai padat, author ngga bisa cepet-cepet update..

Ini juga rasanya masih kurang..

Ehm..

Maaf kalo adegan bunuh-bunuhannya kurang, soalnya lagi bingung mau bunuh siapa (?) dan lagi kurang mood untuk bikin adegan bunuh-membunuh..akhirnya mencoba untuk konsen ke SasuSaku deeh...

Kenapa yang jadi bapak Sakumo? Hmmm..kenapa ya? -.-
gatau kenapa pas bikin cerita ini yang muncul di kepalaku buat jadi bapaknya anak-anak(?) tu Sakumo... *padahal author juga ga kenal sama Sakumo Hatake.

Itachi dimana ya? *tengok kanan-kiri..
hehe... belum muncul karena author masih bingung mau mengeluarkan beliau dalam adegan apa...tapi diusahakan chapter depan ada Itachi deeh... ^^

Hmmm..apalagi ya?
minta doanya deeh...soalnya saya mau ulangan sebentar lagi..
makasih buat saran, review, apalagi yang udah fav... ^^
ngga ada yang lebih menghibur hariku selain membaca review kalian semua...

Mohon saran yang membangun yaa...

Akhir kata..

^^R.E.V.I.E.W pleace^^