No Marry

.

Based on my original novel

.

Akai Momo (c) 2015

.

Screenplays! Main focus: Sibum with others

.

Yaoi/ Alternative Universe/ Typos

.

No Like, don't read!


.

.


Summary!:

Kibum Kim tidak akan menikah, begitu doktrinnya. Hal yang membuat kedua kakaknya jengkel dan membuat rencana kencan buta untuk Kibum bersama teman-teman si bungsu Kim. Akan tetapi, kencan buta itu gagal total dan yang ada justru membuat hidupnya kacau sesaat.

Namun, semua berubah ketika Kibum Kim bersiteru dengan Siwon Choi perihal ponselnya yang menjadi rusak akibat ulah pria tersebut. Semakin runyam kehidupan normal si bungsu Kim, begitu mengetahui bahwa kakak-kakaknya berusaha membuat Kibum dan Siwon untuk mengenal lebih jauh satu sama lain, persis seperti pasangan yang hendak membuat hubungan serius. Dan Kibum terpaksa menerima saran saudaranya, tetapi Kibum sangat terkejut jika apa yang ia lakukan pada Siwon justru membuat pria Choi tersebut berani meminta izin pada Kim bersaudara untuk mempersuntingnya. []


.

.


#04: Bab Empat


Bias-bias cahaya sang raja hari menyelinap nakal dibalik tirai yang menggantung di salah satu sisi kamar Kibum. Sinarnya menampar-nampar segala benda yang dapat dijangkaunya, termasuk salah satunya adalah sebelah pipi Kibum yang sedang berbaring dibalik selimut hangatnya. Itu membuat si bungsu Kim merasa terganggu dengan sensasi hangat yang menyentuh lembut kulitnya dan kilau silau khas mentari.

Maka, sebuah leguhan samar terbentuk, meluncur manis dari bibirnya yang kini merengut-rengut lucu itu dan akhirnya bergerak tidak karuan. Hingga tak lama kemudian, si bungsu Kim memilih bangun dari posisi tidurnya, memamerkan helai-helai rambut hitamnya yang berantakan. Matanya yang memang sipit kini semakin sipit, karena sejujurnya ia masih amat sangat mengantuk—namun tubuhnya terasa pegal tanda-tanda bahwa ia terlalu lama sekali berbaring dari biasanya.

Kibum menguap. Lagi, lalu sekali lagi dengan agak puas sampai ia melepaskan geram kecil yang membuat Siwon merasa terganggu tidur nyenyaknya. Tetapi Kibum tidak sadar jika semalam yang lalu ia tidur bersama pria yang merupakan teman sang kakak-kakak—pria manis itu belum menyadarinya sampai ketika ia merasa bahwa ia tidak sendirian di kamar.

"Si-" matanya melotot heran. Alisnya mengerut dan ujungnya saling mencumbu. "Siwon..?!" sekejap dengan tiba-tiba, ia bergerak menjauhkan posisi duduknya dari tubuh tegap pria yang bahnya dibalutkan kaus singlet hitam legam dibalik selimut tebal hangat. Gerakan itu membuat Siwon berjengit kaget dan terbangun seketika. "Si—kenapa kamu di kamarku?!"

"Ah," desah Siwon dengan wajah mengantuk. Sebelah tangannya menggaruk tengkuk dengan kondisi rambut yang tidak berbeda jauh dengan Kibum. "kamu lupa kalau kakak-kakakmu yang menyuruhku untuk menginap di sini?"

Kibum semakin mengernyitkan dahinya dibalik poni hitam kelam semalam. Ia mengingat-ingat tentang semua perkataan kakak-kakaknya atau siapapun itu di malam dan di tempat mereka berdua bertemu. "Kakak-kakakku tidak begitu," sergahnya tidak yakin. "—kurasa." Kikuknya. Entah mengapa. "kalau memang ya, lalu kenapa kamu bisa tidur di kamarku, bukan kamar yang lain?!"

"Well," Siwon menguap. Dan dari jarak yang tidak terlalu dekat, bahkan Kibum masih bisa mencium wangi mint samar-samar dari mulutnya. Pria ajaib. Bahkan wangi mulutnya saja mint, bukan macam-macam—pikir Kibum malu. "walaupun tubuhku seperti ini, aku juga bisa merasa lelah—terlebih menggendongmu yang meringkuk dan tertidur pulas di dadaku, Kibum." Siwon terkekeh menyebalkan dan Kibum tidak suka itu—maka, ia menendang-nendang kasar kaki Siwon yang masih tersembunyi di balik selimutnya. "dan karena kamar tamu terkunci plus aku lupa menanyakan kakak-kakakmu kuncinya di mana, akhirnya aku tidur di sini." Pria Choi itu mengedikkan bahu. Dan tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya dan menyeringai jahil. "ngomong-ngomong, kamu manis sekali tidak ingin aku gendong dengan piggy back."

Kibum melotot kaget. "A-apa?"

"Oh, did you know?" seringai jahil pada wajah rupawan sang pria Choi semakin melebar. Dan jantung Kibum semain kencang berdetak ketika melihatnya. "malam itu ketika kamu tidak bangun sama sekali, aku hendak menggendongmu dengan piggy back," katanya. Pelan ia merangkak mendekati si bungsu Kim yang tampak terkena serangan syok mendadak mendengar ucapannya. "tetapi kamu mengigau—lebih persisnya merajuk dan memintaku untuk menggendongmu di depan—bridal style they say."

Kibum merah sekali. Merambat sampai ke telinga dan tengkuk dibalik rambutnya yang berantakan. Matanya yang melotot kini berkaca-kaca dan bibirnya yang semerah apel ranum melongo seperti orang idiot. "Bo," katanya samar. "Bohong." Lalu tertawa di paksakan. "Kamu pasti bohong."

"Aku tidak, percayalah." Siwon terkekeh rendah, kemudian mencuri kecup pada sudut kanan bibir si manis Kim, Siwon pun melesat dari ranjang menuju kamar mandi dalam ruangan sambil membawa kemejanya yang tersampir asal di lantai, setelah ia berkata dengan nada serak khas orang baru bangun dari mimpi: "Selamat pagi, dolce."

Hening menghampiri Kibum yang terpaku di ranjangnya. Dan perlahan, punggung tangan Kibum menyentuh sudut bibir yang dikecupnya lancang oleh Siwon, "Ak-ak-aku tidak begitu," gumamnya samar.

Ketika Siwon beranjak dari ranjang dan Kibum bisa menghirup aroma musk yang samar-samar dari tubuh pria itu, sekejap memorinya mengingat wangi musk yang sama ketika ia merasa tubuhnya digendong oleh seseorang, yang kala itu sambil menikmati lantunan indah detak jantungnya. "—kurasa."


Kibum terjatuh di ambang pintu kamar mandi ketika ia berlari melewati Siwon yang baru saja selesai membasuh tubuhnya. Suara bruk! yang cukup menggema di ruang kamar khas novelis itu membuat Siwon menolehkan kepalanya, sambil mengerutkan dahi dan memasang kancing-kancing kemeja semalam, pria itu mencemooh, "Memangnya kamu ini anak-anak yang bisa terjatuh karena ceroboh berlarian?"

"Berisik!" desis Kibum. Matanya melotot sebal dan ia berdiri dengan tertatih. "Memangnya kamu ini anak-anak yang masih saja mandi dengan seberantakan ini? Aku penasaran, bagaimana caramu mandi, bahkan sampai ada genangan air dan busa-busa sabun di ambang pintu ini?" ia menyindir balik pria Choi tersebut.

Siwon yang dicemooh balik oleh Kibum, memilih melengoskan wajahnya pura-pura tidak melihat atau mendengar apapun dan mengedikkan bahu tegapnya. Membuat Kibum semakin sebal dan melampiaskan emosinya dengan membanting pintu kamar mandi.

Di dalam sana, Kibum bahkan bisa mendengar tawa yang sedang meledeknya habis-habisnya. Mengabaikan rasa nyeri pada pergelangan kaki, dengan perlahan-lahan Kibum menghampiri bilik kaca tempat shower mandi berada. Setelah ia menanggalkan pakaian semalam yang masih dikenakannya (Oh, Kibum sangat bersyukur jika Siwon tidak macam-macam pada tubuhnya, bahkan walaupun itu hanya sebatas mengganti pakaian.) dan menyetel keluaran air hangat pada titik-titik shower-nya, butiran-butiran air pun langsung terjun bebas dan mendarat nakal di tubuh indah tanpa busana si bungsu Kim—menghantarkan sensasi menenangkan pada jiwa dan raga.

Duapuluhlima menit lebih tigapuluhempat detik kemudian pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Kibum yang dibalutkan baju handuk berwarna hitam bergaris merah marun di bagian ujungnya. Sebuah handuk abu-abu muda menyelimuti rambut hitam kelamnya yang basah, dan ia cukup terkejut begitu iris mutiara hitamnya menangkap Siwon yang masih berada di kamarnya—ia baru akan berkata dengan nada ketus tentang alasan Siwon yang masih diam di tempat ini, ketika ia mendengar suara pria Choi itu sedang berbicara dengan bahasa asing di bersama seseorang dibalik sambungan teleponnya.

Kibum sangat-sangat-sangat iritasi ketika Siwon berbincang-bincang bersama seseorang itu dengan senyum dan wajah bahagia seperti yang tertangkap oleh lensa matanya. Rasa jengkel menusuk-nusuk hatinya. Ia tidak tahu kenapa.

Melihat itu, Kibum mengingat sesuatu. "Oh!" pekiknya heboh. "Oh-oh, di mana ponselku?!" tanyanya pada diri sendiri. Sambil itu, ia kembali berlari sambil terseok-seok, karena pergelangan kakinya masih nyeri akibat terjatuh tadi, dan begitu ia menemukannya dibalik saku mantel yang tersampir di single sofa meja kerjanya, lantas Kibum menekan tombol sambungan yang telah ia hafal di luar kepala. "Tuhan," gemasnya. "Kenapa aku bisa lupa jika hari ini aku ingin ikut piknik dengan Jiyong dan Elliot, ah?"

Nada sambung terdengar cukup menyebalkan untuk saat ini bagi Kibum, dan setelah delapan detik ia menunggu, akhirnya Jiyong menjawab panggilan dibalik suara ramai nyanyian-nyanyian khas anak-anak. Itu pasti Elliot lagi, pikirnya. "Jiyong-ah!" panggil Kibum. "Di mana posisi kamu sekarang?"

/"Oh, apa ini kamu, Kibum-ah?"/

"Ya." Kibum refleks mengangguk. Siwon yang baru saja selesai mengakhiri sambungan dan melihat itu, seketika tertawa diam-diam dan merutuki kecerobohan Kibum barusan. "Ya, ini aku."

/"Well, aku ingat sekali aku menyimpan nomor ponselmu dalam kontakku, tapi apa ini?"/

"Ponselku rusak semalam," Kibum melirik sinis Siwon yang hanya menampilkan wajah pura-pura tidak mengerti dengan ucapannya barusan. "dan karena ada seseorang yang tidak-ingin-bertanggung-jawab, akhirnya aku membeli ponsel baru." Pria Kim itu membalikkan tubuhnya, memunggungi Siwon yang sedang menjulurkan lidah—mengejeknya.

/"okay, i got it. Jadi nomormu yang dulu aku ganti nomormu yang baru ini, benar? Ngomong-ngomong, ada apa kamu menelponku?"/

"Oh, di mana posisimu saat ini?" telapak kakinya menghentak-hentak kecil tidak sabar.

/"Aku? Posisiku ada di dalam mobil, menuju kebun binatang tempat Elliot ingin piknik. Oh ya, Elliot nangis hebat semalam, karena sambungan teleponnya mati tiba-tiba. Dia marah, karena dia pikir kamulah yang mematikannya."/

"Oh, pangeranku." Melas Kibum. Di belakang sana, sebelah alis Siwon naik satu senti dari tempatnya. "katakan pada Elliot bahwa aku minta maaf padanya. Kamu tahu, sambungannya terputus karena ponselku rusak—lebih tempatnya dirusak oleh seseorang itu."

Di belakang punggungnya, Kibum mendengar ocehan Siwon yang mengatakan terus saja kamu mengungkit-ungkitnya dan mengadukannya kepada orang lain, Kibum!, membuat pria Kim itu tertawa terbahak-bahak dalam hati.

/"Tentu."/

"Oh, kamu bilang jika posisimu ada di dalam mobil menuju kebun binatang? Kenapa pagi sekali, Jiyong?"

/"Pagi yang kamu sebut adalah saat ini yang sudah jam sepuluh lewat tigapuluhlima menit, Kibum. Tentu saja kebun binatang sudah buka sejak jam sembilan pagi."/

Kibum yang mendengarnya, tiba-tiba menolehkan kepalanya ke belakang—menatap jam meja antik yang berdiri manis di meja nakas samping ranjangnya. Siwon yang melihat ekspresi kaget, bingung, kecewa dan marah itu lantas menghampiri Kibum, bibirnya berbisik bertanya ada apa?, dan Kibum membalas dengan diam. Memilih untuk melanjutkan obrolannya dengan Jiyong.

"Bukankah sudah kubilang jika aku dan Changmin ingin ikut bersama kalian. Lalu kenapa kalian tinggalkan?" melasnya.

Jiyong tertawa dibalik sana. /"Kamu bodoh atau bagaimana, sih? Coba kamu pikir, bagaimana kami tidak meninggalkanmu jika kamu tidak memberi kabar sebelum kami berangkat? Kutebak, kamu pasti bangun kesiangan dan lupa, benar?"/

"Ya." Katanya. "lalu bagaimana dengan hadiah untuk Elliot? Masih ada di kamarku."

/"Kamu tinggal mengirimkannya lewat jasa pengiriman barang saja. Mudah, 'kan?"/

Kibum mendengus. Lalu setelah ia mengalah, iapun menutup sambungannya. Nyaris saja menjerit histeris tatkala ketika ia berbalik, Siwon sedang berdiri tegap dengan jarak yang cukup dekat sekali dan memicingkan matanya dengan tajam.

"A-apa yang sedang kamu lakukan?!"

"Siapa itu Elliot?"

"A-apa?"

"Ya, Kibum." Siwon melangkah maju, dan Kibum memilih langkah mundur. Pria Kim itu cukup terganggu dengan tatapan intimidasi yang Siwon layangkan. "Siapa itu Elliot? Kamu memanggilnya manis sekali, 'pangeran' kamu bilang?"

"Memangnya kenapa jika aku memanggil Elliot dengan sebutan 'pangeran', tuan Choi?" Kibum tidak habis pikir, ia marah karena Siwon sepertinya sangat mempermasalahkan hal itu. Maka, ia mulai berani menantang pria Choi tersebut. "Ada yang salah?" tanyanya lagi.

Siwon mendengus. "Jawab saja, Kibum Kim."

Kibum berkacak pinggang dan menaikkan dagunya, "Elliot Kwon-Howell, anak tunggal dari Roger Howell dan Boa Kwon, dan keponakan tersayang dari Jiyong Kwon—editorku! Usianya masih enam tahun! Kamu puas..?!"

Dan setelahnya, yang tidak Kibum duga-duga adalah, pertama, Siwon yang tiba-tiba tersenyum sumringah sekali di beberapa detik setelahnya. Kedua, pria Choi itu menarik tubuh Kibum yang masih dibalutkan baju handuk untuk ditenggelamkan dalam pelukan hangat tubuhnya yang besar. Ketiga, Siwon mengedus-endus gemas pipi kanannya yang mulai merona hebat.

Tak lama kemudian, yang terakhir, tawa mengalun dari bibir joker Siwon, menguar di udara, menggema mengisi sudut-sudut kamar yang baru Kibum sadari bahwa tiap tirainya telah disibak rapi, dan mengisi gendang telinganya yang akhirnya menyelinap masuk dan tersimpan dalam memori si bungsu Kim. Itu menyebalkan untuknya, karena dengan begitu, mungkin ke depannya nanti, Kibum akan terus-terus-terus mengingat bagaimana suara dan nada dari tawa Siwon Choi.

Hanya saja, sepertinya itu tidak terdengar terlalu buruk—begitu pikir Kibum dengan mati-matian berusaha untuk tidak menyunggingkan senyum.

"Baiklah," sebuah usapan dan pijatan lembut mendarat di tengkuk Kibum yang anak-anak rambutnya di sana mulai kering. Terasa geli-geli menggelitik memang, namun Kibum tidak ingin menghentikan Siwon untuk melakukannya. "Mengingat baru saja wajahmu tampak murung sehabis menelpon editormu itu, jadi ada apa?"

Kibum menggumam di balik bahu kanan Siwon, ujung jarinya memelintir ujung kemeja Siwon yang kebetulan sedang tidak dimasukan ke dalam celana kain hitamnya, dan setelah Siwon menunggu selama lima detik, pria Kim itu menjawab: "Ini hari pertama aku libur setelah akhirnya menyelesaikan naskahku yang kesekian. Aku berencana mengajak Changmin untuk ikut serta rencana piknik Jiyong dan keluarganya, sambil memberikan hadiah ulang tahun untuk Elliot." Kemudian, tangan Kibum kini menusuk-nusuk otot perut Siwon yang ternyata cukup membuat Kibum terkejut karena kondisinya baik. "Tapi aku bangun siang dan akhirnya rencana itu batal."

Siwon menggumam persis seperti orang yang mengerti seluk beluk permasalahan. Maka, masih sambil tangannya bergerilya di tengkuk Kibum, pria tigapuluhlima tahun itu akhirnya memberi sebuah tawaran yang membuat Kibum—yang semula memejamkan mata menikmati sensasi menenangkan-menyenangkan dari aroma tubuh musk Siwon dan angin siang hari sabtu, menjadi terbuka lebar.

"Well, kalau begitu, tidakkah kamu berpikir untuk ikut denganku dan bertemu dengan kawan lama yang baru saja menelponku, Kibum? Dan kita akan makan siang diluar bersama-sama."


Saat itu, Leeteuk sedang tertidur tertelungkup di meja kerja di ruangannya, ketika suara ring! Dering ponsel yang diletakkan tak jauh dari jangkauannya berbunyi nyaring—membuatnya tersentak bangun. Lima detik Leeteuk terpekur dengan wajah khas bangun tidurnya, barulah ia mengangkat panggilan yang ternyata dari Jiyong.

"Halo."

/"Ada apa dengan suaramu itu?"/

"Tsk," sebelah tangan Leeteuk menjulur ke atas, untuk menggaruk-garuk tidak sabaran rambut pirang coklat madunya yang terurai berantakan sekali. "kamu menelponku saat aku sedang tidur, Jiyong."

Tawa tidak bersalah mengalun dari balik sambungan telepon Leeteuk. /"Aku yakin kamu pasti sangat lelah karena lembur semalam, benar? Maafkan aku, kalau begitu, jika aku mengganggu."/

"Oh," Leeteuk mengapit ponselnya, karena ia hendak menikmati sepiring sandwich tuna, sepiring puding mangga dan teh melati yang asapnya tidak lagi mengepul-ngepul dan membumbung tinggi dari balik leher teko. Pria tigapuluhdelapan itu berpikir bahwa mungkin suaminya-lah yang menyiapkan sarapan kali ini. Mengingat itu, ia merasa malu, apalagi sudah hampir seminggu ini suaminya melakukan hal itu. Dan sekarang, suaminya sudah pasti telah berangkat kerja. "seperti kamu tidak pernah menginterupsi tidurku saja, Ji," katanya perlahan, bibirnya sedang sibuk mencecap-cecap sandwich di dalamnya. "ngomong-ngomong, ada apa?"

/"Well, di mana posisimu saat ini?"/

"Rumahku, jelas."

/"Kalau begitu, kamu pasti sudah mendapatkan naskah terbarunya."/

"Apakah si Kibum Kim yang sedang kita bicarakan?"

/"Karena hanya dia yang menjadi tanggung jawabku, kamu ingat?"/ Jiyong dan Leeteuk sama-sama terkekeh. /"Jadi bagaimana?"/

Leeteuk menjawab setelah sebelumnya ia menelan habis sepotong sandwich tuna dan meneguk setengah teh melati yang ia tuangkan pada cangkir porselen biru muda. "Ya, aku sudah. Mungkin tadi pagi suamiku menerimanya, dan dia ada di mejaku sekarang, masih dengan segelnya."

Lalu ia meraih amplop coklat yang tertulis sebuah alamat rumah di perumahan lengkap dengan kode posnya, kemudian ia membukanya dan mengeluarkan sebuah naskah yang terususun rapi dengan sebuah paperclips di ujung kiri atas. Saat itu, ketika iris coklat muda Leeteuk menangkap sebuah kata dalam cover-nya, mata indahnya itu memutar malas searah jarum jam. "Dan dia masih bertahan dengan genre ini, Ji?"

/"Tidak apa-apa, 'kan? Dia yang menginginkannya dan setelah aku baca kemarin, dia cukup meningkat dari yang sebelumnya."/

"Peningkatan menurutmu jauh berbeda dengan peningkatan menurutku, Jiyong," dengusan tidak sabar keluar dari pria bermarga Kim-Park tersebut. "tapi akan aku coba untuk menilainya—tidak dengan genre detektifnya, tetapi genre romansanya yang masih terus ia coba-coba untuk dikolaborasikan."

/"Kamu tampak marah sekali, ya?"/

"Aku tidak marah," sergah Leeteuk. "mungkin ini hanya efek samping dari kelelahan karena lembur hampir setiap hari dalam seminggu terakhir ini, kamu tahu."

/"Baiklah, terserah kamu saja,"/ Jiyong mencoba mengalah. Karena ia tahu, satu-satunya cara agar terhindar dan meminimalisir kekacauan yang dilakukan Leeteuk Kim-Park dalam kondisi tidak baik adalah dengan mengalah dan bertahan. /"Kalau begitu, sebagai antisipasi untuk selanjutnya, mari kita berpikir sisi pahit dan atur sebuah rencana."/

"Kau—apa?"

/"Ya-ya-ya,"/ dari sana Leeteuk tahu bahwa Jiyong sedang bersemangat untuk membicarakan hal ini. /"begini, seperti yang sudah-sudah dilakukan olehnya, Kibum memasukkan genre romansa pada karyanya yang selalu berbau analisis dan kegiatan detektif. Sebenarnya itu tidak terdengar buruk, bahkan peminat pembacanya semakin lama semakin bertambah. Namun, karena ia belum pernah merasakan apa yang terjadi di dalam novelnya—terutama di sisi genre romansa, membuatnya terlihat kaku dan hambar."/ lanjutnya. /"maka dari itu,"/ Jiyong menjeda dan Leeteuk bersabar. /"ayo kita beri pelajaran pada anak yang-katanya-tidak-ingin-menikah-itu!"/

"Memberikannya pelajaran privat, maksudmu?" sebelas alis Leeteuk terangkat satu senti.

/"Tepat!"/

"Aku tidak yakin," Leeteuk berputar-putar pada kursinya. "Kamu tahu benar jika akan itu cukup pemilih dan keras kepala, kan? Kombinasi dari Heechul dan Jaejoong."

/"Tidak, jika kita berterus terang."/

"Oh!" seru Leeteuk. "dia sangat menyukai kesehariannya sebagai novelis, dan mungkin jika kita berterus terang bahwa itu untuk keberlangsungan karyanya ke depan, mungkin Kibum akan mengerti!"

/"Tepat!"/ Jiyong tertawa senang. Lalu tiba-tiba berhenti dan berkata dengan nada lesu, /"hanya saja, aku tidak tahu dan tidak kenal dengan seseorang yang akan mengajari privat Kibum. Apa kamu punya?"/

Leeteuk menyadarkan punggungnya yang dibalutkan kemeja piyama, matanya menerawang ke langit-langit kamar, bergulir kesegala arah dan ketika ia melihat sebuah benda yang tergeletak diatas ranjang, seketika pupilnya mencekung tajam. "Aku punya!"

Pria dewasa itu bangun dari duduknya. Ia berjingkat-jingkat semangat dan tawa senang mengalun dari bibirnya yang memiliki senyum menenangkan. Pekikan senang itu membuat Jiyong terkejut dan hendak memarahi Leeteuk karena membuat telinganya berdenging sesaat, ketika kemudian Leeteuk berkata: "Aku punya seseorang yang tepat untuk menjadi pengajar privat Kibum! Sangat-sangat-sangat tepat!"

/"Oh ya?!"/

"Ya!"

/"Kalau begitu, kesepakatan telah dibuat!"/

"Kamu tahu apa yang membuatku sangat senang selain telah menemukan orang yang tepat untuk mengajari Kibum?" tantang Leeteuk. Ia berlari menghampiri ranjangnya dan membanting tubuhnya di sana, hingga benda yang membuatnya mengingat seseorang itu melompat-lompat dan jatuh tepat di perut Leeteuk. "ha-ha-ha-ha, kamu tahu apa itu?"

/"Tidak,"/ di baliknya, Jiyong menggeleng. /"apa itu?"/

"Bahwa jika mereka berdua sampai memilikinya, bukan tidak mungkin kita berhasil membuat happy ending untuk seorang Kibum Kim—si pria yang katanya tidak ingin menikah sama sekali itu."

Ada jeda diantara keduanya, dengan Leeteuk yang sedang membolak-balikkan benda itu dan Jiyong yang sedang menikmati angin jum'at siang di taman tempat mereka hendak menikmati makan siang sesuai keinginan keponakannya.

/"Kamu tahu,"/ hingga Jiyong memecahkan keheningan diantara mereka. /"Aku penasaran, apakah komisi dari sayembara kakak-kakaknya masih berlaku atau tidak."/

Leeteuk tersenyum lebar. "Kukira masih. Biar aku tanyakan kepada mereka nanti." Kini pria itu merubah posisinya menjadi telungkup. "tapi, apa kamu yakin ingin menjalankan rencana ini?"

/"Tergantung penilaianmu tentang novelnya kali ini. Jika bagimu itu jauh dari perkiraan, maka mari kita tawarkan pada dia."/

"Apa benar tidak masalah?" tanya Leeteuk sekali lagi. Ia ingin kepastian. "maksudku, Kibum tidak sedang dekat dengan siapapun, benar?"

/"Tidak, tidak dengan siapapun,"/ jawab Jiyong. /"Karena sejauh ini ia belum bercerita apapun tentang itu."/

Seringai lebar terpahat di wajah malaikat Leeteuk. "Kalau begitu, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Ji." Katanya. "pasti."

Dibaliknya Jiyong pun sama-samar membuat seringaian yang khas. /"Berhasil membuat karya kolaborasi genre-nya semakin halus, kita juga berhasil membuat Kibum Kim menikah dan kita akan mendapatkan komisi dari kakak-kakaknya."/


Mobil merah menggoda Siwon Choi berhenti tepat di pelataran parkir sebuah restoran khas spanyol—restoran bergaya klasik yang cukup ramai dikunjungi warga lokal. Namun, sebagian dari pengunjung itu mengarahkan pandangan pada mereka berdua.

Sementara Siwon Choi sedang mematikan mesin mobilnya, Kibum masih terpaku di tempat dengan mata melotot tegang. Di detik ke delapan setelah mereka tiba di tempat, Kibum menoleh tiba-tiba dengan pandangan ganas.

"Lain kali, aku tidak mau menaiki mobilmu lagi, ingat itu!"

"Apa yang salah?" heran Siwon.

Kibum menganga, ia cukup kaget dengan balasan Siwon yang tampak tidak ada masalah dengannya. "Kamu idiot sekali atau bagaimana?!" sebalnya. "kamu pikir jalan raya ini adalah arena balapan?! Caramu mengemudi membuatku mual, Siwon!"

"Oh, mulutmu sopan sekali, sayang." Siwon mencemooh. "Aku lebih tua tiga tahun darimu, maka biasakanlah berkata sopan kepada yang lebih tua," katanya sambil melepas safety belt. "aku mengemudi secepat itu karena kita terlambat dari janjian yang telah aku dan temanku tentukan. Dan itu karena kamu yang lama sekali mengganti pakaian, tuan Kim."

"Ingat tuan Choi," Kibum pun melepas safety belt-nya dengan agak kasar. "ingat karena kamu yang tidak mau keluar dari kamarku dan justru mengulur waktu! Bagaimana aku bisa berganti pakaian jika kamu tetap satu ruangan denganku?!"

"Kenapa kamu malu untuk melakukannya?" Siwon kembali menggoda. "sedangkan kita ini sama-sama pria, Kibum." Seringainya.

Sebuah tamparan ringan mendarat tepat di tengah wajah Siwon, membuat pria itu mengaduh kecil dan justru terkekeh melihat wajah Kibum yang semakin garang dan dihiasi sapuan tipis rona merah. "What an pervert man, really!" katanya. "sudahlah, aku sangat lapar dan kenapa orang-orang rumah tidak bilang kalau mereka pergi wisata bersama-sama?!"

"Mungkin karena kamu susah sekali untuk bangun."

"Tapi aku sudah terbiasa bangun pagi dan terbiasa bangun walau hanya mendengar satu kali suara saja."

"Mungkin kamu sangat lelah dan terbuai dengan pelukan hangatku." Goda Siwon sekali lagi. "sampai-sampai kamu bangun siang dan batal untuk ikut piknik dengan Jiyong dan pangeranmu itu, benar?"

"Aku tidak," belanya. "Siwon, kamu sangat tidak sopan sekali pada orang yang baru kamu temui. Kamu tidur di kamar tanpa seizin pemiliknya, kamu memeluknya tanpa izin dan kamu menggoda pemilik kamar berkali-kali."

"Oh, lebih tidak sopan siapa dengan seseorang yang ingin sekali memamerkan miliknya di tempat umum kemarin malam, Kibum? Beritahu aku, beritahu aku."

"Shuush!" sergah Kibum. "aku-sangat-lapar-tuan-Siwon-Choi." Kibum bersidekap dan mengeluarkan sisi otoriternya—persis seperti Heechul.

Siwon mengedikkan bahu, "Baiklah, ayo kita keluar dan menikmati menu restoran ini."

Ketika Kibum dan Siwon keluar dari mobil, orang-orang semakin banyak yang memperhatikan mereka. Bahkan begitu pula ketika mereka berdua masuk ke dalam bangunan, diantaranya terdengar bisik-bisik tetangga.

Kibum tidak tahu apa yang mereka katakan, tapi ia yakin jika topik pembicaraannya tidak jauh dari pesona Siwon Choi yang sejak keluar dari mobil selalu memamerkan senyum jokernya. Sementaranya, Kibum tidak memamerkan apapun melainkan hanya melirik-lirik sekilas untuk menjelalati desain interior dari restoran tersebut, dan otaknya mencatat bahwa mungkin suatu hari nanti ia akan mengajak orang-orang rumah untuk makan bersama di sini—tanpa Siwon Choi, tentu saja.

"Siwon!" suara seorang wanita dengan logat dan bahasa asing yang menarik pandangan Kibum. "Siwon, di sebelah sini!" kata wanita itu yang membuat Siwon melangkah cepat kearahnya, meninggalkannya di belakang.

Meninggalkannya yang kini sedang terpaku dengan mata hitam khas keluarga Kim yang menyoroti Siwon dan wanita itu.

Memandang dari jauh, ketika Siwon memeluk erat wanita tinggi semampai berkulit coklat tan cantik dan berambut hitam panjang bergelombang, bahkan sebelah tangan pria Choi itu mendarat di punggung sang wanita dan mengusap lembut daerah sana. Kibum hanya diam merapatkan bibirnya, bahkan ketika pria Choi itu mendaratkan kecupan ringan di pipi bersemu sang wanita, juga ketika pria Choi itu berbisik mesra hingga wanita itu tertawa. Itu membuat iri sebagian besar para pengunjung, dan menimbulkan decak kagum bahwa betapa serasinya mereka berdua di sana.

Saat itu, Kibum merasa menyesal telah menerima ajakan Siwon untuk bertemu kawannya—atau mungkin bertemu dengan kekasih hatinya.

Atau istrinya.


Bersambung

.

Rnr!Please

.

Terima kasih yang spesial untuk! Readers, reviewers, favers dan followers.

.

Khusus untuk Nezumi Shizuka: Wah, aku cukup tersanjung mengingat kamu yang merupakan salah satu author favoritku datang untuk membaca dan sudi me-review. Mari langsung ke intinya.

Pertama, konflik dari ff ini—sebenarnya, konflik utama ff ini adalah Kibum Kim yang tidak ingin menikah. Mungkin kamu lupa atau baru tahu jika konflik tidak hanya sebatas bertengkar fisik dengan orang lain, karena konflik pikiran/ pendapat pun bisa juga di sebut konflik, seperti yang terjadi dengan Kibum dan orang-orang sekitar lingkungannya. Mungkin, konflik yang kamu maksud adalah konflik puncaknya, ya? Oh, kalau itu masih belum bisa aku munculkan, jadi harap bersabar.

Kedua, masalah pengulangan yang di skip—aku bingung mau berkata apa, karena itu tergantung yang membacanya. Ada pembaca yang berkata ia menyukai jalan cerita yang rinci dan detil seperti yang aku lakukan di ff ini karena terkesan sesuai dengan kenyataan, semantara kamu tidak suka terlalu berbasa-basi karena terkesan membosankan. Bukan begitu? Tapi, supaya lebih adil, aku akan berusaha untuk menyusun ulang deskripsiannya—meskipun aku tidak yakin itu membuatku dan yang lainnya sreg atau tidak. Ha-ha-ha-ha.

Ketiga, masalah dialog yang diubah menjadi deskripsi—sejujurnya, aku tidak menyukai cerita (terutama novel) yang terlalu banyak dialog, kesannya terlalu ramai dan jadi kacau, apalagi itu adalah dialog yang sebenarnya bisa bermakna penting atau tidak penting, tergantung pengarangnya juga. Selain itu, aku suka sekali novel klasik, dan dari novel klasik yang pernah kubaca, pengubahan dialog menjadi deskripsi itu terlihat mewah. Ha-ha-ha-ha, well, begitu sih menurutku. Tapi kalau menurutmu itu cukup mengganggu, akan aku usahakan untuk dikurangi.

Review panjang? Tidak apa-apa. Selama review itu membangun bukan untuk menghina-hina, aku sih tidak masalah. Kuharap kamu juga tidak pusing membaca yang diatas, ya. Ha-ha-ha-ha. Jaa, mata ashita, ne.