Hari Sabtu menjadi hari paling dibenci oleh mahasiswa-mahasiswa baru.

Hari yang seharusnya menjadi hari libur mereka, harus dipakai untuk mengikuti kegiatan ospek.

Duduk berjam-jam untuk mendengarkan materi dan mencatat apa saja yang didapat lalu membuat resume yang harus mereka kumpulkan ke senior.

Sesungguhnya banyak sekali ilmu dan wawasan baru yang didapat selama ospek, tetapi yang menjadi bagian paling dibenci dan ditakuti oleh para mahasiswa baru adalah Komdis, Komisi Disiplin.

Setiap pertemuan ospek, selalu saja ada hukuman yang mereka terima.

Meskipun hanya satu orang yang membuat kesalahan, tapi satu angkatan yang harus menanggungnya.

Alhasil setiap pertemuan ospek, push up menjadi makanan yang harus mereka nikmati.

Dilarang merokok di kampus, dilarang memakai pakaian di luar ketentuan dresscode mahasiswa baru, dilarang bawa kendaraan bermotor dan masih banyak lagi aturan yang harus dipatuhi.

Setiap pertemuan pasti ada saja mahasiswa baru yang ketahuan melanggar aturan.

Suasana akan seketika menjadi mencekam saat para Komdis memasuki ruangan dan berdiri mengelilingi mereka.

"Duduk tegap! Tidak ada yang mengantuk atau tertidur!"

Woozi –koordinator Komdis—masuk ruangan diikuti anggota bidang Komdis yang lain.

Suasana yang tadi berisik karena baru selesai makan siang, seketika berubah menjadi hening dan mencekam.

"Ini sudah pertemuan ke berapa!?" tanya Woozi menyentak.

Sesungguhnya nada menyentak bukan bermaksud memarahi atau menindas Sebaliknya, itu bertujuan agar suaranya bisa di dengar oleh semua mahasiswa baru karena luas ruangan yang cukup besar, juga supaya mahasiswa baru tidak mengantuk.

"Pertemuan ketiga," jawab mahasiswa baru serentak.

"Kenapa masih kami temukan banyak dari kalian yang melanggar peraturan!?"

Tak ada yang berani menjawab.

Semua hening.

Mahasiswa baru sudah tahu jika mereka menjawab, mereka akan dimarahi.

Tapi jika tidak dijawab, Komdis akan marah karena tidak dihiraukan.

Serba salah.

Itulah rasanya berada di posisi mahasiswa baru.

"Satu pun gak ada yang bisa ngomong di sini!?" tanya seorang anggota Komdis.

Masih tak ada suara.

"Di sini siapa yang melakukan pelanggaran!? Ngaku dan mau ke depan!" teriak Woozi.

Mahasiswa baru hanya saling melirik, tak berani bersuara apalagi bergerak.

"Oh, gak ada yang mau ngaku!?" tanya anggota Komdis yang lain.

"Ngelanggar aja jago, tapi gak berani ngaku. Haduh gimana sih, katanya mau jadi jagoan," sindir seorang anggota Komdis.

"Oke kalo gak ada yang mau ngaku. Lihat layar di depan!" perintah Woozi.

Semua mahasiswa baru menatap layar di depan mereka.

Suasana semakin menegangkan saat layar di depan mereka menampilkan foto-foto mahasiswa baru yang melanggar peraturan selama hari perkuliahan.

"Yang merasa ada di foto tersebut maju ke depan!" sentak Woozi.

Di layar persegi itu nampak banyak mahasiswa baru yang melanggar peraturan selama masa perkuliahan.

Ada yang tidak memakai pakaian hitam putih, ada yang merokok, ada yang memakai sandal saat di lingkungan kampus.

"Wah! Hebat ya adik-adik kita!" sindir seorang Komdis yang membuat mahasiswa baru semakin merasa ketakutan.

Satu persatu maba yang wajahnya ada di foto yang ditayangkan maju ke depan.

"ADUH! INI MAHASISWA BERANI BAWA KENDARAAN KE KAMPUS!?"

"BAWA MOBIL LAGI!" teriak Woozi saat melihat ada mahasiswa baru yang dengan santainya membawa mobil ke kampus dan parkir di parkiran fakultas.

"Siapa yang tadi wajahnya ada di foto!? MAJU!"

Mingyu merasa terkejut saat wajahnya terpampang jelas di layar saat dia turun dari mobil.

Dia pikir saat perkuliahan tak akan ada senior yang mengawasi.

"SIAPA YANG TADI BAWA MOBIL!? MAJU DONG! KAN JAGOAN!"

Mingyu mendelik sebal.

Push up lagi? Oke. Mau seratus kali pun gue siap. Batin Mingyu.

Tanpa perasaan dan wajah bersalah, Mingyu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke depan kelas dengan santainya.

"WAH! Ternyata Mingyu lagi!" sahut seorang Komdis.

Salah seorang anggota Komdis mendekati Mingyu lalu dengan nada sinisnya dia berkata, "Wah kita punya jagoan di kampus nih."

Mingyu hanya terdiam, jika dia membantah akan ada masalah yang lebih panjang.

Lebih baik menerima semuanya meski tangan kanannnya tidak tahan ingin memukul seseorang yang sudah pasti menjadi pelaku yang mengambil foto itu.

Lo ngajak ribut lagi Wonwoo? Oke, gue ladenin lo serius kali ini. Geram Mingyu dalam hati.

Mingyu tentu tidak bodoh, dia tidak mungkin memilih berkelahi dengan senior di depan teman satu angkatannya lalu tahun depan mengulang kegiatan ospek.

Cukup satu kali saja sudah merepotkan, dan tidak ada kedua kali.

Dia akan membalas semuanya dengan cara dia, langsung pada pelaku utamanya, Wonwoo.

Meski pun dia ingin membantah, foto tadi memang dirinya.

Tak ada alasan lagi untuk Mingyu membantah.

Dan setelah semua yang melanggar peraturan maju ke depan, senior menghadiahi mereka 30 kali push-up ditambah 10 kali push-up bersama satu angkatannya.

Bagi Mingyu hukuman itu tak berarti apa-apa, dia rutin olahraga. Tentu saja badannya kuat melakukan semua hukuman itu.

Jadi gini lo bales dendam ke gue gara-gara buku catetan lo gue buang ke kolam? Berani juga ya lo. Pikir Mingyu dalam hati seraya menatap tajam Wonwoo yang berada 5 meter dari tempatnya duduk dan sedang bertugas mengambil foto.


"Wonwoo, lo cari ribut lagi sama Mingyu?" tanya DK di sela-sela waktu istirahat mereka.

Wonwoo melirik sekilas tapi tak tertarik untuk menjawab pertanyaan DK.

"Woy! Gue lagi ngomong, jawab kali," sahut DK lagii

Wonwoo merapikan kameranya dan berkata,"Gue dari awal gak ngajak ribut dia, ini pure karena tugas gue. Gue gak childish kaya dia, gue gak bales dendam atau apapun."

"Gue cuma mau ngasih tau aja, kalo dia sekarang udah tau lo. Dia pasti tau kalo lo yang ngambil foto itu. Hati-hati aja dia nyamperin lo dan giliran lo yang dilempar ke kolam," kata Seungkwan.

"Gak peduli," jawab Wonwoo singkat sambil berjalan ke arah ruang serba guna.


Mingyu's POV

Gue gak nyangka dia bakalan bales dendam dengan cara kaya gitu.

Bikin gue dihukum di depan semua temen seangkatan?

Oke, karena lo duluan yang cari masalah, gue bakal bales lebih dari sekedar buang buku catetan lo.

Gue harus tahu apa yang jadi kelemahan senior sialan itu.

Gue bakal bikin lo nyesel karena udah cari masalah sama gue.

Setelah kejadian di pertemuan ospek minggu kemarin, Mingyu mencari informasi mengenai Wonwoo.

Khususnya apa yang menjadi kelemahan dia.

Dengan info dari beberapa orang yang pernah menjadi teman Wonwoo saat SMA, Mingyu mendapatkan satu informasi penting.

"Hati-hati lo suka sama Kak Wonwoo," ujar Vernon datar.

Mingyu menatap Vernon tajam.

"Lo sadar ga, sekarang lo jadi stalker dia? Nanyain tentang dia ke orang-orang, nyari tahu akun media sosialnya," tambah Vernon.

Mingyu meletakkan HP yang di genggamannya.

"Denger ya, gue cuma mau bales kelakuan dia aja. Depan gue dia so-so gak tahu apa salah dia, tapi di belakang gue ternyata dia bales dendam. Munafik banget."

"Lo boleh main-main sama dia, jailin dia sesuka hati lo. Tapi inget dia senior dan kita tuh maba. Ketauan sama senior lain, abis lo."

Kini Joshua yang membuka suaranya mencoba menyadarkan Mingyu.

"I don't care."

Lagi-Lagi Mingyu menjawab dengan jawaban yang sama.

Dia memang tidak peduli apa yang nanti akan terjadi.

Satu hal yang penting baginya saat ini adalah membuat Wonwoo merasa menyesal karena telah mengusik ketenangan Mingyu.


Selamat membaca^^