.

Story © Me (yume-nyaa)
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Genre: Family, Humor? , Drama?

Rating: T?

WARNINGs: AU, Siscon(?), OOCs, Typos?, Gaje, Alay.

.

.


Setelah menempuh jalan selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya kalian pun sampai di tempat tujuan. Pantai.

Semua nya pun langsung turun dari dalam mobil, dan segera mengganti pakaian renang di tempat ganti baju yang sudah disediakan.

Setelah beberapa saat pun, satu-per-satu keluar dan kemudian berkumpul.

"Are? (Name)cchi dan Okaa-san mana?"

"Biasa, lah. Perempuan." Ucap Shuuzo kemudian memasang kacamata berwarna hitamnya.

Lalu Shuuzo menggelar karpet berwarna hitam di atas pasir, dan membuka payung besar lalu menancap nya di samping karpet berwarna hitam tersebut. Lalu duduk bersantai disana.

Dan, pada akhirnya, kamu dan Satsuki pun datang menghampiri mereka semua yang sedang berkumpul. Kamu menggunakan bikini berwarna orange, sedangkan Satsuki menggunakan bikini berwarna putih dan gardigan berwarna merah muda.

"Tetsu-kun, jaga adik perempuan mu ini, ya." Ucap Satsuki dengan nada riang, lalu duduk disamping Shuuzo.

"Kakak nya (Name) bukan hanya dia!" protes yang lain.

"Sudahlah, Papa bebaskan kalian hari ini. Tapi, jangan ganggu Papa dan Mama disini." Ucap Shuuzo kemudian merangkul Satsuki.

Ketujuh nya pun sweatdrop lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang ingin bermesraan itu.

Semua nya pun mulai berpencar. Dan kini kamu sangat bingung ingin bersama siapa, tapi setelah melihat kelakuan mereka semua,..

Dimulai dari Ryouta,

"Ryouta-kun, kenapa kau memakai baju tebal?"

"Ah, aku tidak ingin kulitku terbakar, ssu."

"Tapi, aku ingin melihatmu memakai baju renangmu!"

"Maaf, mungkin lain kali, ssu."

"Janji, ya! Kau harus memakai baju renang yang sangat sexy!"

Setelah itu, para perempuan itu pun berteriak-teriak tidak jelas.

'Dasar tante-tante mesum.' Batinmu.

Lalu mata mu pun mencari yang lainnya, dan akhirnya kamu menemukan Daiki yang sepertinya sedang mencari sesuatu.

"Daiki-nii sedang mencari apa, ya?" tanyamu pada dirimu sendiri.

"Aduh, kenapa di pantai ini tidak ada yang dada nya besar, ya?"

'Oh, jadi dia mencari itu.' Batinmu—lagi.

Lalu pandanganmu pun menangkap Shintarou yang sedang berenang di laut. Ya, menggunakan ban renang yang merupakan lucky item nya.

"Mungkin, untuk saat ini, dia lah orang yang tidak boleh aku dekati."

Lalu kamu pun mencari yang lain, dan, akhirnya kamu menemukan Atsushi yang sedang bermain pasir.

"Dia seperti anak kecil. Tapi, tunggu— apa yang dia buat itu?!"

Ya, Atsushi membuat maibou besar dari pasir. Sungguh, hebat sekali.

Kamu hanya menghela nafas melihat kelakuan para kakakmu itu, tapi sepertinya ada yang kurang, ya.

"Kira-kira Sei nii-sama dimana, ya? Dan, Tetsuya onii-chan— ah sudahlah, dia memang sulit dicari."

Saat ingin mencari mereka berdua, tiba-tiba saja tanganmu ditarik dari belakang oleh seseorang.

"Halo, nona manis, kenapa sendirian saja?" tanya orang itu.

Saat kamu menoleh, kamu melihat tiga orang pria yang tersenyum-senyum tidak jelas.

"Tolong, jangan ganggu aku."

Kamu pun berusaha melepas genggaman orang itu tetapi dia malah memperkuat genggamannya sehingga tanganmu terasa sedikit sakit.

"Itu sakit, bodoh!"

"Oh, nona manis ini sepertinya sangat sombong."

"Cepat singkirkan tanganmu itu!" kamu ingin memukul salah satu orang itu menggunakan tanganmu yang satu lagi. Tapi, yang lainnya berhasil menahan tanganmu tersebut.

"Ayo, bermain dengan kami."

"Aku tidak mau! Lepaskan!"

"Jangan membuat kami me—"

Belum sempat menyelesaikan kata-kata nya, tiba-tiba di samping ketiga nya pun lewat gunting yang berhasil menggores pipi mereka bertiga. Dan, secara reflek dua orang tersebut melepas genggaman tangannya lalu memegang pipi mereka.

"Sakit! Siapa itu?!"

"Hee, berani-berani nya kalian menyentuh tangan adik manis ku yang tercinta dengan tangan kotor kalian." Seseorang yang merupakan pelaku pelemparan gunting itu mulai mendekat.

"Sei nii-sama!"

Seijuuro memeluk pinggangmu lalu mendekatkan tubuhmu ke dirinya, "Pergilah, atau kalian akan mati, menit ini juga."

"Sial, dia bersama kakaknya!"

"Kita salah sasaran!"

"Kakaknya siscon!"

Mereka bertiga pun langsung berlari dari tempat itu.

"Sei nii-sama! Terima kasih,.." kamu menatap Seijuuro dengan tatapan penuh kebahagiaan.

"Jangan berterima kasih saja. Berikan aku hadiah." Ucap Seijuuro dengan seringai nya.

"Eh? Hadiah?" kamu memiringkan kepalamu karena bingung.

Seijuuro menutup kedua matanya, lalu sedikit memajukan bibirnya. Tangannya pun semakin mempererat pelukan dipingganmu, sehingga kamu semakin dekat saja dengannya.

'What the h*ll?!' batinmu berteriak.

"Bisa tidak hadiahnya yang lain saja?" tanyamu sambil sweatdrop.

"Hm, kalau begitu, bagaimana kalau kuberi tahu besok? Dikamarku."

'Bahkan itu lebih parah!' batinmu kembali berteriak.

"Hadiahnya yang normal saja!"

"Yang paling normal adalah ciuman." Ucap Seijuuro sambil menunjuk bibirnya sendiri.

Kamu sweatdrop. Tapi, tiba-tiba pipi mu memerah.

"Tapi aku tidak ahli soal itu." Ucapmu sambil mengembungkan kedua pipi mu dan memainkan jari telunjukmu.

Saat ini, Seijuuro tidak berkedip melihat wajahmu yang menurutnya sangat manis itu. Tanpa sadar pun darah keluar dari dalam hidung Seijuuro.

"Geh! Nii-sama! Kau baik-baik saja?"

"Kalau begitu, aku yang akan menciummu!"

Seijuuro pun terus mendekatkan wajahnya. Tetapi kamu malah terus memundurkan kepalamu. Hingga kamu melihat sebuah tangan menempel diwajah Seijuuro.

"Nii-san, kumohon, berhenti menggoda (Name)-chan." Seseorang yang paling berani melawan Seijuuro pun datang. Ya, dialah Tetsuya.

"Tetsuya, beraninya kau..." Seijuuro mengeluarkan aura membunuhnya.

"Aku tidak takut denganmu hanya karena kau yang tertua."

Entahlah, tapi kata-kata Tetsuya barusan berhasil membuat Seijuuro sedikit sakit hati.

"Oh, ya, Tetsuya onii-chan, kau habis darimana saja?" tanyamu berusaha untuk mengganti suasana.

"Aku habis dari sana." Tetsuya menunjuk sebuah kedai es krim disana, "Lalu saat melihat kau digoda oleh Nii-san, aku langsung kesini."

"Digoda olehku? Apa maksudmu, Tetsuya? Kau bahkan tidak menolong (Name) saat dia digoda oleh orang mesum tadi." Protes Seijuuro berusaha membela dirinya.

"Aku tidak tahu soal itu. Maaf." Tetsuya masih memasang wajah datar.

"Kau kakak yang tidak benar." Seijuuro tersenyum penuh kemenangan

"Lalu, menurutmu, menggoda adik perempuan nya sendiri itu benar?"

"Aku hanya ingin menciumnya, apa itu salah?"

"Salah."

"Jelas tidak ada yang salah jika seorang kakak ingin mencium adiknya."

"Kalau begitu, kenapa kau harus mencium (Name)-chan? Kau, 'kan, bisa mencium Shintarou nii-san, atau Atsushi nii-san, atau Daiki-kun, atau bahkan Ryouta-kun."

"Mereka itu laki-laki."

"Kalau begitu kau bisa mendadani mereka seba—"

"Berhenti, Tetsuya." Seijuuro menutup mulut Tetsuya, "Dimana (Name) sekarang?" tanyanya.

Mereka berdua pun langsung mencari-cari dimana kamu. Dan akhirnya mereka berdua menemukan mu sedang di kedai es krim bersama seseorang berambut hijau dengan ban renangnya.

"Shintarou nii-san memalukan sekali."

"Dia seharusnya tidak bersama (Name)."

Duo terpendek itu pun sweatdrop dan langsung mendekatimu yang sedang bersama Shintarou.

"Kau mau es krim rasa apa, nanodayo?" tanya Shintarou sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Coklat dan toppingnya chococip, nanodayo." Ucapmu tanpa sadar mengikuti logat bicara Shintarou dan kini kamu sudah tidak peduli lagi dengan apa yang Shintarou kenakan.

Shintarou pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya yang sangat tebal—tapi tak setebal Seijuuro dan Shuuzo—itu.

"Coklat dengan chococip satu." Shintarou memberikan lembaran uang tersebut.

"A-apa tidak ada uang kecil? —pfft." Pemilik kedai itu terlihat sangat berusaha untuk menahan tawanya. Lalu ia memberikan es krim nya.

"Ambil saja kembaliannya." Ucap Shintarou sambil mengambil es krim itu, lalu memberikannya kepadamu.

"Terima kasih, Shin-nii! Aishiteru yo!" kamu tanpa sadar—lagi—mencium pipi Shintarou.

"A-apa yang kau lakukan, nanodayo? Itu memalukan." Shintarou mundur beberapa langkah dari tempat dia berdiri tadi.

Shintarou memegang pipi nya yang habis dicium mu tadi. Jujur saja dia sangat senang, tapi apa daya, sifat tsundere nya masih melekat kuat didalam dirinya.

Kamu yang masih tidak sadar karena mabuk es krim itu pun tidak peduli dan langsung memakan es krim yang ada ditanganmu itu.

Dan ternyata, aksi cium pipi tadi disaksikan secara langsung oleh Seijuuro dan Tetsuya. Ya, sudah ditebak, sekarang mereka berdua memancarkan aura yang sangat menyeramkan. Dan itu menyebabkan orang-orang yang berada di kedai es krim itu langsung pergi, termaksud pemilik kedai itu sendiri.

"Shintarou..." Seijuuro mengeluarkan guntingnya yang entah ia letakan dimana.

"Shintarou nii-san..." Tetsuya memegang sebuah bola yang entah ia dapatkan darimana.

Seijuuro pun melempar dua gunting yang ada ditangannya itu, lalu ia melemparnya dan berhasil mengenai ban renang milik Shintarou, hingga bocor. Sedangkan Tetsuya, dia kini melempar bola yang ia pegang itu dan tepat kena diwajah Shintarou. Dan sekarang Shintarou pun tergeletak di pasir, pingsan.

"Sei nii-sama! Tetsuya onii-chan! Mau es krim?" tanyamu dengan wajah penuh kebahagiaan.

Seketika aura Seijuuro dan Tetsuya yang tadi sangat seram pun berubah menjadi bunga-bunga.

"Mau."

Mereka berdua pun berlari dengan sangat dramatisir nya kearahmu.

"Beli sendiri." Kamu menjulurkan lidahmu, lalu pergi.

Mereka berdua ikut jatuh tergeletak di kasir, dan pingsan karena hati mereka yang hancur karena perbuatan kamu, yaitu adik mereka sendiri.

Kamu berjalan di pinggir pantai sambil memakan es krim mu yang belum habis itu. Lalu tiba-tiba, seseorang pun datang menghampirimu.

"Yo, (Name)."

"Daiki-nii!"

"Kau sendirian saja?" tanyanya.

"Ya, memangnya kenapa?"

Daiki tidak menjawab. Tapi kini dia memandang mu, sangat lama. Dan parahnya, dia bukan memandangi wajahmu, tetapi dadamu itu.

"Apa yang kau lihat?!" kamu mencolok kedua matanya.

Daiki langsung memegang kedua matanya dan terjongkok diatas pasir, "Itte yo!"

"Oh, (Name), aku selalu ingin bertanya soal ini."

"Apa?!"

"Jangan marah-marah seperti itu. Ini hanya pertanyaan gampang."

Dan Daiki pun berhasil membuatmu begitu penasaran.

"Soal apa?" tanyamu.

"Kau ini,.. Benar anaknya Okaa-san? Maksudku, ya, dada Okaa-san itu besar. Sedangkan punya mu itu ke—"

Seseorang berhasil memukul Daiki, dan membuatnya mencium pasir. Tidak, itu bukan kamu, melainkan seseorang dengan rambut kuning dan berbaju tebal.

"Dasar Daikicchi mesum!"

"Ne, Ryouta-nii. Bisakah kau melepas baju mu itu?"

"Baiklah, jika itu mau (Name)cchi! Onii-chan akan rela menjadi gosong, ssu!" seketika itu juga Ryouta langsung membuka seluruh baju tebalnya dan menyisakan celana renangnya saja.

Lalu aksi Ryouta itu langsung disambut kyaa-ria dari pada penggemarnya.

"Sepertinya kau sudah menyiapkan ini." Ucapmu saat melihat Ryouta yang ternyata sudah siap menggunakan celana renang.

"Oh, ya, Ryouta-nii. Bisakah kau jauh-jauh dariku sekarang juga? Karena penggemar tante-tante mu itu sangat menyeramkan." Kamu memeluk dirimu sendiri saat merasakan aura yang sangat seram dari para fansnya.

"Eh? Kenapa? Onii-chan, 'kan, hanya ingin dekat dengan (Name)cchi, ssu!"

"Tidak mau! Tidak mau!"

"Ayolah, (Name)cchi. Kita ini jarang bersama seper—ugh," sama seperti yang lain, Ryouta jatuh mencium pasir.

"Jangan memaksa (Name)chin atau aku akan menghancurkanmu."

"Ah, Atsushi nii-san."

"(Name)chin pasti lelah, ya? Sini aku gendong~"

Tanpa menunggu jawabanmu, Atsushi langsung menggendongmu layaknya seorang anak kecil yang digendong oleh ayahnya.

"Ya, sudahlah. Kita jalan-jalan di seluruh pantai, ya. Lalu kembali ke Otou-san dan Okaa-san." Kamu tersenyum sangat manis kearah Atsushi.

"Oke."

Kalian pun berjalan seperti itu, orang-orang yang melihat kalian pun langsung berteriak penuh kecemburuan. Dan, kalian pun berjalan melewati kedai es krim tadi, disana terlihatlah tiga tubuh manusia yang tergeletak diatas pasir. Lalu kalian melewati tempat tadi, dan disana dua tubuh manusia masih tergeletak dan hampir tersapu air laut.

Tanpa sadar waktu pun terus berlalu, dan pantai sudah semakin sepi dan hari sudah hampir gelap.

"(Name)chin, ayo kita kembali."

"Ya."

Atsushi langsung menurunkanmu perlahan.

"Terima kasih, Atsushi nii-san!"

Atsushi mengangguk dan sedikit tersenyum.

Lalu kamu pun mengisyaratkan Atsushi untuk menunduk dan mendekatkan kepalanya ke dirimu. Atsushi yang langsung mengerti pun langsung melakukannya.

Saat itu juga, kamu langsung mencium pipi Atsushi. Dan tersenyum begitu manis.

Atsushi yang melihat wajah manismu itu pun tanpa sadar langsung memeluk tubuhmu begitu kencang, sehingga membuatmu sulit bernapas.

"Sesak!"

"Ah, maaf." Atsushi langsung melepasmu.

"Hehe." Kamu terkekeh kecil.

Beberapa saat kemudian, kamu merasakan aura yang begitu berat dibelakangmu. Dan ternyata, disana sedang berdiri ke-lima saudara laki-laki mu yang lain.

Kamu pun berusaha kabur perlahan.

"Aku tidak ikut-ikutan!"

Setelah itu kamu kabur meninggalkan mereka semua. Dan menuju ke ayah dan ibu mu. Ternyata mereka masih ditempat tadi.

Kamu melihat mereka berdua sedang duduk sambil meminum jus di satu gelas dengan dua sedotan. Mereka terlihat sangat mesra.

"Okaa-san. Otou-san." Panggilmu dengan nada sedatar mungkin.

Keduanya pun langsung tersedak minuman.

"E-eh, (Name)? S-sejak kapan kau ada disana?" tanya Shuuzo tergagap.

"Baru saja."

"Ah! (Name)-chan, kenapa kau sendiri saja? Dimana kakak-kakak mu?" tanya Satsuki berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

'Okaa-san berusaha untuk menghindar.' Batinmu.

"Mereka sepertinya sedang berkelahi."

"Lalu kenapa kamu disini?" tanya Satsuki lagi.

"Ini sudah hampir gelap. Ayo kita pulang." Jawabmu masih dengan nada datar.

"Pulang? Kita akan menginap disini malam ini." Ucap Shuuzo. Kamu pun langsung hening.

"Menginap?! Tapi besok aku masih masuk sekolah! Liburan baru minggu depan nanti!" protesmu pada akhirnya meninggikan suaramu kembali.

"Tenang saja, Otou-san sudah menelfon sekolahmu dan tempat bekerja ketiga kakak tertuamu."

"He."

"—lagipula, Otou-san dan Okaa-san ingin bulan madu yang ke-delapan kami. Bukannya kamu ingin seorang adik, 'kan?" ucap Shuuzo dengan senyuman nya yang terlihat seram walaupun dia berusaha membuatnya manis sekalipun.

"Aduh, papa jangan berbicara seperti itu! (Name)-chan masih kecil! Hohoho."

"Memalukan sekali—" ucapmu pelan, lalu menjeda perkataanmu. Kedua orang tua mu mendengar dan langsung sakit hati.

"—tapi, aku ingin adik perempuan, ya." Ucapmu penuh semangat. Ternyata kamu sama saja.

"Bagaimana kalau kembar?!" heboh Shuuzo.

"Kembar! Dua-dua nya perempuan! Supaya aku punya teman!" ucapmu tak kalah heboh.

"Tidak! Satu laki-laki! Agar bisa membantu Seijuuro memimpin perusahaan!"

"Tidak boleh! Kalau laki-laki harus didandani seperti perempuan!"

Satsuki pun sweatdrop melihat dan mendengar pembicaraan kamu dengan Shuuzo.

'Ayah dan anak sama saja.' Batin Satsuki berkata.

"Apa?! Otou-san dan Okaa-san ingin punya anak lagi?! Dan perempuan, ssu?!" heboh seseorang. Yang ternyata adalah Ryouta.

Ryouta terlihat sangat berantakan. Tapi dia sendirian saja. Sepertinya dia berhasil selamat dari pertarungan besar yang terjadi diantara 6 saudara itu.

"Aku tidak setuju, ssu! Adik perempuan ku hanyalah (Name)cchi! Tidak ada yang lain!" Ryouta langsung memelukmu.

"Anak-anak, papa itu hanya bercanda. Kami tidak mungkin punya anak lagi diumur kami yang sudah tua ini." Ucap Satsuki dengan senyuman khasnya.

"Tapi, kalian berdua awet muda." Ucapmu.

"Umur tetaplah umur. Tak peduli seberapa muda nya wajahmu." Satsuki tersenyum kembali, "Lagipula, mama sudah senang mempunyai kalian bertujuh sebagai anak mama. Tapi, kalian semakin beranjak dewasa. Dan mungkin disaat kami sudah sangat tua nanti, kalian akan pergi meninggalkan kami berdua. Lalu memulai hidup baru."

Kalian bertujuh yang mendengar Satsuki langsung berkaca-kaca. Tunggu, bertujuh? Ya, entahlah sejak kapan yang lainnya datang. Yang pasti, sisanya sama seperti Ryouta, berantakan.

"Okaa-san, Otou-san—"

Kalian langsung menghampiri Satsuki dan Shuuzo. Lalu mengelilingi mereka, dan memeluk mereka.

"—kami semua mencintaimu!"

"Nah, anak-anak! Sekarang bawa barang-barang kalian ke tempat penginapan yang itu." Shuuzo menunjuk sebuah tempat penginapan yang terlihat cukup besar itu.

"Baik!"

.

.

Akhirnya semuanya pun berkumpul ditempat penginapan yang dimaksud.

"Apa?! Hanya tersisa empat kamar? Tiga kamar untuk dua orang dan satu kamar untuk tiga orang?!" suara Shuuzo menggema.

"Maaf, tuan, anda sedikit terlambat. Kamar sudah banyak yang di pesan."

"Tidak ada pilihan lagi. Yasudah, berikan ke-empat kuncinya." Shuuzo pasrah.

Shuuzo pun kembali berkumpul dengan yang lainnya dengan wajah sedikit kecewa.

"Ada apa, Otou-san?" tanyamu.

"Kita harus membagi kamar." Jawab Shuuzo lalu menghela nafas.

"Kunci ini, adalah kamar Otou-san dan Okaa-san. Dan, tiga kunci ini, kalian silahkan membaginya. Dua kunci yang ini, kamar yang isinya untuk dua orang, dan satu lagi, kamar untuk tiga orang."

"J-jadi aku harus berbagi kamar dengan mereka?!" protesmu sambil menunjuk ke-enam kakak laki-laki mu.

Mereka pun langsung tersenyum tidak jelas.

"Kalau begitu, sudah jelas aku lah yang akan tidur dengan (Name)!" ucap Seijuuro lalu mengambil satu kunci dari tangan Shuuzo.

"Apa maksudmu, Seijuuro nii-san? Jelas-jelas aku yang harus tidur dengan (Name)-chan!" ucap Tetsuya sedikit meninggikan suaranya lalu mengambil kunci itu dari tangan Seijuuro.

"Tidak bisa! Aku yang harus tidur dengannya! Karena aku akan—" belum sempat menyelesaikan kata-kata nya mulut Daiki sudah ditutup oleh Ryouta.

"Tidak boleh, ssu! (Name)cchi seharusnya tidur denganku! Karena memang aku yang paling aman! Soalnya aku akan melakukannya dengan pengaman." Ucap Ryouta dengan senyuman lebarnya.

"MELAKUKAN APA?!" teriak yang lain, bahkan Tetsuya dan Seijuuro pun juga.

"(Name)chin harus tidur denganku karena aku akan membuatkannya kue coklat." Ucap Atsushi lalu mengambil kunci yang masih ditangan Tetsuya itu.

"Jangan menyogok (Name), nanodayo. Untuk saat ini, aku lah yang paling aman untuk tidur dengannya."

"DIAM KALIAN SEMUA!" teriakmu karena sudah tidak tahan dengan ocehan mereka.

"Lakukan Jan-ken-pon, dua tersisa akan tidur denganku."

"Dua? Kenapa dua, ssu?!" protes Ryouta tidak terima.

"Ya, kalian semua tidak terima kalau aku hanya berdua dari salah satu dari kalian, bukan? Jadi aku memilih dua."

"Ho, jadi kau ingin threesome, ya, (Name)." Ucap Daiki sambil tersenyum mesum.

"Hah? Threesome itu apa? Sesuatu yang jumlahnya tiga?" tanyamu.

"Hmm, threesome itu—" saat ingin menjelaskan, Ryouta mendapatkan dua pukulan, begitu juga dengan Daiki.

"Jangan mengajari (Name) hal seperti itu, nanodayo."

"Aku akan menghancurkan kalian."

"Sepertinya kalian ingin merasakan gunting ku, ya?"

"(Name)-chan masih belum boleh tau hal seperti itu."

"Tidak usah jan-ken-pon! Tetsu-kun dan Shin saja yang tidur bersama (Name)-chan." Akhirnya Satsuki yang sudah tidak tahan dengan pembicaraan anak-anaknya itu pun memutuskan.

"Dengan Shintarou nii-san? Kenapa tidak aku sendiri saja?"

"Cancer tidak cocok dengan Aquarius, nanodayo."

"Tidak ada membantah! Atau Ryou-chan dan Dai-chan yang—"

"Baiklah." Serempak mereka.

Lalu kalian bertiga pun pergi duluan menuju lift.

"Nah, Ryouta, kau akan tidur bersamaku. Siap-siap untuk hukuman karena berani berkata seperti itu kepada (Name)." Seijuuro menyeringai lalu menyeret Ryouta. Mereka memilih untuk lewat tangga, lebih tepatnya, itu pilihan Seijuuro sendiri.

"Daichin, aku akan menghancurkanmu disaat kau tidur." Atsushi menatap Daiki dengan tatapan mematikannya. Lalu menyeret Daiki juga.

Shuuzo dan Satsuki saling memandang, lalu mereka terkekeh pelan. Dan menuju kamar mereka.

.

.

Kamar kamu, Tetsuya dan Shintarou.

"Ne, Tetsuya onii-chan, Shin-nii. Kenapa kalian diam-diam seperti itu? Tidak seru!" kamu memajukan bibirmu karena kesal.

"Aku memang tidak membenci Tetsuya. Tapi, aku hanya tidak suka dengannya."

"Aku tidak akan memulai pembicaraan."

"Sudah kuduga, aku seharusnya tidur bersama Sei nii-sama dan Atsushi onii-san saja."

Seketika mereka berdua membulatkan mata. Lalu saling memandang.

"T-tetsuya, bagaimana kalau kita bermain perang bantal, nanodayo?"

"Benar. (Name)-chan juga ikut, ya."

"Kalau berdua saja tidak seru. Aku akan mengajak yang lain!" kamu mulai mengetik sesuatu di ponselmu.

Lalu, beberapa saat kemudian bel kamar kalian pun berbunyi. Dan kamu segera membukakannya. Disana berdirilah, empat manusia, Seijuuro dan Atsushi, serta Daiki dan Ryouta yang sepertinya habis disiksa.

"Perang bantal?" Seijuuro masuk kedalam kamar kalian. Ternyata dia sudah membawa bantal sendiri.

"Ayo kita lakukan~" Atsushi pun juga ternyata sudah membawa bantal sendiri.

"Daiki-nii dan Ryouta-nii mau ikut?" tanyamu dengan senyumanmu.

"Tentu saja." Jawab mereka serempat, lalu masuk kedalam. Dan ternyata, walau habis disiksa, mereka juga ingat untuk membawa bantal sendiri.

Kamu pun menutup pintu kamar tersebut. Lalu mendadak melempar bantal yang kamu pegang ke kepala Seijuuro bagian belakang. Tiba-tiba saja keluar aura seram dari Seijuuro yang membuat semuanya—kecuali kamu dan Tetsuya—takut.

Lalu Seijuuro melirik kearahmu. Dan, dia tertawa. Tunggu—tertawa?!

"Seijuurocchi bisa tertawa juga, ssu?!"

Setelah mengatakan itu, Ryouta langsung mendapatkan lemparan bantal yang sangat keras dari Seijuuro.

"Ryouta-nii, failed! Sei nii-sama, win!"

"Tidak. Ini masih belum, ssu!" Ryouta bangkit lagi, lalu dia meniru apa yang Seijuuro lakukan, melempar bantal dengan sangat keras.

Terjadilah aksi lempar melempar. Dan, entah kenapa, Daiki dan Ryouta lah yang paling diincar oleh semuanya. Mungkin karena apa yang telah mereka lakukan tadi?

Tanpa sadar, karena terlalu lama melempar, waktu pun cepat berlalu. Dan, satu persatu dari mereka pun ambruk dan tertidur pulas, termaksud kamu sendiri. Hingga pagi hari datang.

Cara tidur kalian itu, sangat tidak biasa. Kamu yang berada ditengah tengah, kaki kanan mu dipeluk Atsushi, kaki kiri mu dipeluk Shintarou. Tangan kanan mu dipeluk Ryouta, tangan kiri mu dipeluk Daiki. Pinggang mu di peluk Seijuuro, dan lehermu dipeluk oleh Tetsuya. Pegal pasti akan menantimu.

Dan, pada akhirnya kamar yang terpakai pun hanya dua. Sungguh keluarga yang sangat luar biasa.

Dengan berakhirnya perang bantal ini. Liburan kalian di pantai pun juga selesai. Tapi, masih banyak cerita yang akan menunggu kalian ber-sembilan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


.

Halooo semuaanyaaa~ *ditimpuk*

Maaf ya baru sempat update lagi ._. Dikarenakan beberapa alasan, saya tidak bisa menyebutkannya, karena takut dibilang curcol (?).

Dan, intinya, semoga kalian suka dengan fic alay nan gaje milik saya ini!

Dan -lagi- jangan lupa untuk,

.

.

.

.

REVIEW~~~!

.

See you at next chapter~ :3