Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah bersedia meluangkan waktu mereview ya, juga untul fave dan alert-nya. Seneng deh ngeliat ada yang peduli banget sama cerita ini :')
Zanpaku nee: Karena kalo manggilnya "Zan" kan lancar banget tuh di lidah, tapi kalo "Zanp" berasa setelah ngomong "Zan" ngedadak harus direm sama huruf 'p'... o3o) "Pakun" itu kan panggilan sayang :") *boong bener* ...Biar gampang, udah deh saya panggil "Dedek manis" aja *eaa* *rayuan ala abang2* . . . . . . . . . . Yang ngerikues mah udah pasti milih yg dirikuesnya ya... B| *iyalah*
Rose: Eh? Ga kok. Byakuya masih lajang 'A' Belum punya pendamping idup dia, walo emang punya mantan sih ' 'a Iya, say, ini GrimmIchi. Sesuai dengan kategori karakter: Ichigo K. & Grimmjow J. :)
Purple and blue: Find out in your own way, m'dear~ ;)
XOXOXO
CHAPTER 4
Disclaimer: I don't own Bleach, it's Kubo Tite. I used it just for fun...
Terkait dengan salah satu review, saya merasa harus mengklarifikasi. Fanfic ini tidak ada MPreg. Secara singkat alasannya, karena MPreg not my cup of tea. Jadi, kenapa Ichigo merasa agak2 khawatir bareback (tanpa kondom/cum di dalam)? Hal ini berkaitan dengan save sex. Anal sex itu memiliki kemungkinan besar untuk AIDS. Makanya gay (dalam kehidupan nyata) prefer menggunakan kondom setiap kali ngeseks. Dan Ichigo sebagai seorang Dokter, walau tau dia dan Byakuya sama2 clean, dia bakalan tetap mengutamakan kondom.
Semoga penjelasan saya jelas ya. :)
Next, enjoy chapter 4 of Forever Someone...
XOXOXO
Kecelakaan yang terjadi antara bus pariwisata dan truk pengangkut kayu semalam sudah menelan 3 korban jiwa, dan 36 korban luka lainnya. Tidak keseluruhan korban di bawa ke Rumah Sakit Karakura karena keterbatasan tempat. Para dokter dan suster yang seharusnya berada dalam masa libur dipanggil kembali karena rumah sakit membutuhkan tenaga lebih. Kericuhan, orang mondar-mandir bagaikan setrikaan, merupakan pemandangan yang kini terlihat di dalam rumah sakit Karakura.
Beberapa pasien yang lebih dulu dirawat nampak begitu penasaran dengan apa yang terjadi, dan begitu tahu, mereka langsung sibuk membicarakannya dengan orang yang berada paling dekat.
Di dalam ruang jaga para dokter, Ichigo menghela nafas. Setelah berjam-jam bergerak dan 3 kali melakukan operasi, akhirnya ia bisa istirahat juga. Memandang ke arah segelas kopi hangat yang diulurkan padanya, Ichigo tersenyum, "Thanks, Chad." Ia ambil gelasnya, melihat perawat raksasa itu mengangguk pelan dan mengambil tempat duduk di sebelahnya. Setelah menyesap kopinya, Ichigo merebahkan kepalanya pada punggung sofa, merasa rileks setelah tekanan yang sempat dirasakannya berangsur-angsur berkurang.
Suara klik ringan pertanda pintu terbuka sama sekali tidak ia hiraukan. Ichigo hanya memejamkan matanya, merasa tahu siapa yang bergabung dengannya di dalam ruangan itu. Bisa ia dengar suara kertas yang menggerisik, sebelum kemudian sebuah suara angkat bicara, "Pasien kecelakaan yang meninggal bertambah lagi. Kelihatannya operasi pengangkutan gagang besi dari diafragma Okamura-san tidak berhasil..." Ishida bergumam ringan, lalu kembali membuka-buka halaman catatannya yang lain. Tidak mempedulikan apakah dua orang lain di ruangan itu mendengarkannya atau tidak.
Tapi, Ishida yakin Ichigo ataupun Sado walaupun terlihat cuek, mereka sebenarnya peduli. Jadi, ia meneruskan penjelasannya. Dan ketika ia selesai, Ichigo mengerang. "Aku masih ingin menangisi hari liburku yang dicabut..." Dokter bersurai oranye itu sebenarnya sudah membayangkan saat-saat liburnya akan ia isi dengan banyak bersantai, menyelesaikan game yang belakangan ini tidak sempat ia selesaikan...
Ups.
Yep. Walaupun umur sudah bertambah, hobi main game Ichigo masih belum berubah.
"Lihat sisi baiknya, setelah ini, mungkin kita bisa libur lebih panjang lagi." Sahut Ishida dengan ringan sambil ia membenarkan posisi kacamatanya yang agak merosot. Ia simpan catatan miliknya, dan ketika ia bermaksud beranjak berdiri, Ichigo pun berdiri.
Meregangkan otot-ototnya yang sempat kaku, Ichigo pun kemudian menguap, "Semuanya sudah terkendali kan? Kurasa aku mau istirahat di rumah saja." Ia menggosok kedua matanya, dan tidak menyusahkan diri dengan melepaskan jas dokternya terlebih dahulu, Ichigo sudah keluar dari ruangan. Mengecek jam tangannya hingga helaan nafas keluar dikemudian.
Sudah hampir jam makan siang dan ia belum makan sedari pagi. Yang lebih penting lagi, ia sangat mengantuk. Semoga saja ia bisa mengendarai mobilnya dengan baik hingga bisa selamat sampai ke rumah.
Langkah Ichigo sempat ragu-ragu saat ia lagi-lagi melihat Cirucci berada di depan ruangan Mayuri. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika melihat wanita itu masuk setelah disambut oleh dokter bersurai biru cerulean itu. Kecurigaan yang sempat ia rasakan malam tadi dan sudah ia lupakan, kini kembali mengembang di dalam dirinya, membuatnya mengambil langkah mendekat. Tapi, tangannya yang hendak meraih gagang pintu ia hentikan saat pikirannya yang lain berbisik bahwa apa pun yang dilakukan oleh Cirucci tidak akan pernah ada hubungannya dengan dirinya.
Terdiam sesaat, lalu menghela nafas. Ichigo pun memutuskan untuk tidak ikut campur. Sepeduli apa pun ia dengan Grimmjow, bukan berarti ia akan dengan seenaknya masuk ke dalam ruang pribadi sang pria dan berperan sebagai orang ketiga.
Ah, ia tidak suka peran tambahan seperti itu.
Menjauh dari ruangan sang dokter sinting tapi ahli obat-obatan itu, Ichigo mendadak merasa jadi lebih lelah dari sebelum ini. Karena sepertinya, tidak seperti logikanya, hatinya masih bertanya-tanya. Apakah yang Cirucci inginkan dari Mayuri? Apakah ia harus mengatakannya kepada Grimmjow? Apakah ia harusnya tetap berada di depan ruangan itu dan... mencuri dengar? Selama mengenal Grimmjow, Ichigo selalu berusaha untuk tidak terlibat terlalu dalam dalam setiap urusan pribadi sang pria. Selain karena Grimmjow memang tidak suka ada orang yang ikut campur, dirinya sendiri juga—
"Sialan!"
TIIIIIIIIINNN!
Terlonjak kaget saat mendengar suara klakson yang ternyata berasal dari mobilnya sendiri, Ichigo sama sekali tidak menyadari bahwa selama berjalan tadi ia ternyata sudah sampai di mobilnya, dan saking kesalnya malah jadi memukul kemudi. Untungnya tidak ada siapa pun di parkiran kecuali petugas parkir yang menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.
Tidak mau berlama-lama lagi, Ichigo akhirnya menginjak pedal gas setelah menstarter mobilnya. Meluncur ke jalanan, dan pada akhirnya berbelok di tikungan yang sama sekali berlawanan arah dengan rumahnya.
Ia ingin sekali berbicara dengan seseorang.
Seseorang yang bisa memberikannya masukan.
Dan ia tahu siapa orang yang tepat.
XOXOXO
"Oh? Dia sedang ada di area kandang gajah kalau di jam-jam seperti ini."
Setelah mengucapkan terima kasihnya, Ichigo melangkah menuju arah yang ditunjukkan oleh salah seorang petugas yang ia tanyai. Kebun Binatang Los Lobos memang masih tampak ramai walau hari ini bukan merupakan hari libur. Mungkin hal itu dikarenakan di salah satu sisi kebun binatang ini terdapat wahana permainan seperti di taman-taman hiburan lainnya. Walau tidak terlalu banyak, harga tiket yang murah masih sangat sanggup menarik minat pengunjung.
Ichigo menemukan orang yang dicarinya di area kandang gajah, tepat ketika yang bersangkutan terpeleset saat sedang membawa bongkahan yang ia yakini berisi kotoran gajah—jika dilihat dari warna dan teksturnya. Sang dokter muda meringis, bukan karena rasa sakit yang mungkin dirasakan oleh Renji, tetapi karena membayangkan bagaimana bau yang diderita oleh sang kepala merah akibat tertimpa... Ergh, memikirkannya saja ia jadi ingin muntah.
Tapi...
Ia juga tidak bisa menahan tawanya sehingga meledak begitu saja. Dan kelihatannya bukan hanya dirinya yang tergelitik dengan adegan yang terjadi itu, tetapi juga para pengunjung yang berada di areanya. "WAHAHAHAHAHAA! Apa matamu silau karena warna rambutmu sendiri, Renji?" Samar-samar ichigo bisa mendengar umpatan yang dikeluarkan oleh Renji, ia terkekeh, namun kekehannya langsung berganti dengan ekspresi horor karena Renji yang baru menyadari kedatangannya langsung berlari ke arahnya.
Seringai di wajah pria bersurai merah itu menandakan dengan jelas kalau ia berniat balas dendam karena sudah ditertawakan.
Lalu Ichigo?
Sudah bisa dipastikan ia mengambil seribu langkah menjauh tanpa menunggu waktu lama lagi.
"RENJI! KUSUMPAHI KEPALAMU BOTAK SELAMANYA SEPERTI IKKAKU KALAU SAMPAI ADA SETITIK SAJA NODA DI BAJUKU!"
"Sori. Telingaku juga sepertinya kemasukan, jadi aku tidak dengar~!"
Dalam keadaan panik dan tidak bisa lari ke mana pun lagi akibat pohon besar yang menghadang lajunya, Ichigo hanya memiliki satu harapan terakhir, "AKU MEMBAWAKANMU BENTO KEDAI URAHARA!"
Renji menghentikan langkahnya.
Ichigo menghela nafas lega.
Renji menyengir lebar, dan menempelkan jari telunjuknya di pipi Ichigo, "G-GYAAAAAAAAAAAAAAAAAHH! ! ! ! !" Dan Ichigo berteriak saat merasakan yang lembek dan hangat menempel di pipinya yang bersih itu—well, sekarang sih sudah tidak bersih lagi.
xxxx
Suara mengunyah yang lahap dan air yang dituangkan ke dalam gelas terdengar dari balik pintu ruang pegawai.
Renji nampak begitu menikmati bento Urahara favoritnya yang sudah bersedia dibawakan oleh Ichigo. Tidak peduli saat ini sang pria bersurai oranye tengah ngambek di sudut ruangan, kedua tangan terlipat di dada, dan terus melemparkan tatapan membunuh ke arah Renji. "Gochisosama." Sang Zookeeper meletakkan sumpit dan bungkusan bentonya di atas meja, sebelum kemudian mengambil gelas berisi air dan menenggak isinya sampai habis.
Baru kemudian ia melihat ke arah Ichigo yang nampak masih penuh dendam akibat ditempelkan kotoran gajah. "Aku kena seluruh badan lho, sedangkan kamu cuma kena satu titik saja sudah begitu." Ia bersandar pada punggung sofa dan membentangkan kedua lengannya di sana. ". . . . Padahal lebih dari setengah botol sabun kuhabiskan, kok baunya rasanya masih ada ya. . .?" Renji mengkerutkan hidungnya dan mencoba mencium telapak tangannya yang kenyataannya hanya berbau sabun.
Ichigo mendengus. Ia menyilangkan kedua kakinya dan membuang muka, tidak mau melihat ke arah Renji. Di dalam pikirannya, ia terus memikirkan bagaimana cara membalas dendam kepada Renji. Selain menyukai kerapihan dan kebersihan, Kurosaki Ichigo juga pendendam. Jangan salah, sekalinya sudah dendam, ia akan menjalani berapa lama pun waktunya untuk membalas.
Apalagi, bukan salahnya Renji bisa sampai terjatuh dan tertimpa kotoran gajah seperti itu.
Tambahan: Bukan hanya dirinya yang tertawa tadi, tapi pada kenyataannya cuma dirinya saja yang dikerjai.
"Ah, ngomong-ngomong ada yang ingin kau bicarakan? Soalnya tumben kamu datang ketika masih dalam pakaian ala dokter begitu." Merasa sudah waktunya mengalihkan pembicaraan ke arah lain sebelum Ichigo semakin bete, Renji menatap ke arah sang dokter muda yang semenjak tadi ia sadari berpakaian rapih. Kemeja putih, dan celana kain hitam bukanlah style yang biasa digunakan oleh Ichigo di luar waktu kerjanya. Ia menduga kalau Ichigo langsung datang ke sini segera setelah pekerjaannya di rumah sakit selesai.
Kali ini Ichigo menghela nafas dan wajahnya nampak seperti orang yang banyak pikiran, membuat Renji mengangkat kedua alisnya. Menunggu dengan sabar mengenai penjelasan akan apa yang dibutuhkan olehnya.
"Kamu tahu, istri Grimmjow, Cirucci, berusaha menggugurkan kandungannya kemarin ini." Ichigo melirik ke arah Renji, dan dilihat dari bentuk roman muka sang pria bersurai merah, ia menebak kalau Renji sama sekali tidak mengetahui mengenai hal itu. Karena memang ia belum memberitahukan kepada Renji, dan tidak mungkin Grimmjow mengatakan tentang hal itu kepada sang Zookeeper. "Gagal kok. Dan Grimm sempat marah-marah soal itu." Ichigo mengangkat bahu, dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursinya, "Tapi, beberapa hari setelahnya, kulihat mereka rukun kembali. Hanya saja..."
Mendengar perkataan yang menggantung, Renji kembali mengangkat alisnya tinggi, "Hanya saja...?"
Ichigo nampak menggeleng ringan sebelum kemudian menghela nafas, "Entahlah. Kulihat tadi Cirucci menemui Mayuri." Melihat wajah bingung Renji, ia melanjutkan, "Aku pernah cerita kan, mengenai seorang dokter yang hak prakteknya hampir dicabut karena menggunakan pasien sebagai rat lab?" Ia lihat mulut Renji membentuk huruf 'O', tanda bahwa sang pria akhirnya bisa mengingat. "Iya, yang itu. Entah aku hanya paranoid atau memang ada sesuatu, aku tidak yakin..."
"Kamu pikir Cirucci menghubungi Mayuri untuk memintanya menggugurkan kandungan karena dokter yang lain tidak bersedia?" Renji menimpali dengan terkaannya yang kelihatannya tidak berbeda jauh dengan terkaan Ichigo, karena setelah mendengarnya, sang dokter muda pun mengangguk. Tapi, ada satu hal yang mengganggu pikirannya, "Euh, ngomong-ngomong... Memangnya kenapa dokter yang lain tidak bersedia menggugurkan kandungannya? Bukankah sudah merupakan hak pasien untuk tetap memilikinya atau membuang kan?" Pertanyaannya itu membuat Ichigo melemparkan tatapan apa-kamu-bodoh ke arahnya, yang langsung ia balas dengan kerutan di dahi, "Apa?"
"Renji... Kamu pikir masalah semacam itu bisa diiyakan begitu saja tanpa persetujuan sang suami? Bagaimana pun, janin di dalam perut seorang wanita itu milik pasangannya juga." Ichigo mengerutkan kedua alisnya, karena sudah jelas akibat Grimmjow tidak menyetujui pengguguran, makanya Cirucci tidak akan bisa menggugurkan kandungannya begitu saja. Tapi, kalau wanita itu meminta tolong kepada Mayuri Kurotsuchi, masalahnya akan beda lagi.
"Mana aku tahu soal semacam itu. Sekarang ini aku kan petugas kebun binatang."
"Tapi kamu kan dulu pernah belajar mengenai kedokteran walau hanya untuk semester-semester awal saja..." Mendengus, Ichigo bangkit dari duduknya dan mencoba meregangkan otot tubuhnya. "Kurasa aku pulang saja..." Nampaknya perkiraannya bahwa Renji bisa memberinya masukan sudah salah. Seharusnya ia tidak terlalu bergantung pada otak lemah sang pria karena Renji memang mudah sekali melupakan sesuatu. Tapi, sebelum Ichigo bisa meraih pintu, Renji memanggilnya kembali.
"Kalau kamu memang peduli akan Grimmjow, kenapa tidak beritahu dia saja? Toh dia tidak pernah marah walaupun kamu salah terka kan?" Terkadang terpikirkan di dalam benaknya kalau menyangkut masalah Grimmjow, Ichigo sering kali ragu. Seolah ia takut Grimmjow akan langsung meninggalkannya sekali saja ia melakukan kesalahan.
Menyukai seseorang apa harus sampai sebegitunya?
"Ichi—"
"Aku tahu, Renji. Aku tahu..." Ichigo tidak berbalik. Punggungnya masih menatap Renji, sementara arah pandangnya kepada lantai seolah lantai itu adalah hal yang paling menarik baginya di dunia. "... Justru karena itu, aku tidak mau sembarangan... Aku tidak mau seolah diberikan harapan ketika ia memaafkan kesalahanku..." Selalu ia ingat tidak ada saat di mana ia dan Grimmjow tidak bertengkar. Tapi, pertengkaran itu tidak pernah lebih dari sekedar pertengkaran antar sahabat, tidak pernah ada nafsu kebencian yang terlontar di setiap pertengkaran mereka.
Padahal Ichigo menyadari bahwa sesekali dirinya bertindak keterlaluan, tetapi tidak pernah Grimmjow benar-benar marah padanya. Begitu pula sebaliknya.
Yah, kalau dirinya sih sudah pasti tidak akan pernah bisa benar-benar marah pada sang pria, tapi, kenapa Grimmjow juga begitu? Dengan memikirkan hal itu saja, pikirannya sering kali menuturkan kemungkinan-kemungkinan manis yang ia tahu tidak akan pernah bisa ia dapatkan. Membuatnya menyimpan harapan semakin besar terhadap Byakuya untuk menjadi seseorang yang bisa membuatnya menimbun perasaannya kepada Grimmjow.
Iya. Ichigo tidak pernah berani untuk benar-benar melupakan atau menghapus perasaannya begitu saja.
"Ichi... Kau masih mencintainya?"
Pertanyaan Renji itu terdengar, tapi ia tidak menghentikan tubuhnya untuk melangkah keluar ruangan. "Thanks sudah mau mendengarkanku, Ren." Dengan lembut, Ichigo menutup pintu ruangan di belakangnya. Renji dengan menjadi pria yang pertama baginya, tentunya merupakan orang yang akan selalu tahu mengenai dirinya, mengenai perasaannya. Karena pada awalnya, Renji-lah yang membantunya menimbun perasaannya terhadap Grimmjow sebelum Byakuya mengambil langkah maju mendekatinya.
... Kalau dipikirkan dengan baik, ia sudah menjadi orang yang sangat egois.
Menggunakan dua pria yang memiliki perasaan terhadapnya demi kepentingannya sendiri. Tapi, kebutuhannya akan kehangatan dan belaian, membuatnya membiarkan dirinya sendiri menjadi orang yang egois. Ia jamin sang ibu akan sangat kecewa karena ia menjalani hidup dengan tidak berdasarkan arti dari nama yang ia sandang.
Number one guardian.
Pertanyaannya, siapa yang selama ini ia lindungi?
Tidak ada.
"Oomph...!" Terlalu tenggelam dalam lamunannya sendiri, Ichigo jadi tidak melihat ke depan dan baru sadar ketika merasakan kepalanya terbenam dalam sesuatu yang lembut namun juga keras. Ia tengadahkan kepalanya dan semburat merah muda merona wajahnya saat menyadari bahwa barusan kepalanya sempat tenggelam dalam dada seseorang. Seorang pria dengan surai coklat panjang dan mata yang sayu—saking sayunya hingga terlihat seperti yang mengantuk. "Ma-maaf..."
Ia dengar pria itu menggeram sedikit, bukan dalam konotasi yang negatif, dan setelah mengucapkan maaf sekali lagi, Ichigo melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir mobil.
Ia tetap tidak bisa berpura-pura tidak mengetahui masalah Grimmjow, dan akan jauh lebih baik jika ia menemukan bukti terlebih dahulu. Dengan pikiran dan ketetapan akan langkahnya, Ichigo menjalankan mobilnya kembali ke arah Rumah Sakit Karakura.
XOXOXO
". . . . A-Apa?"
Mayuri menghela nafas, ia mengibaskan tangannya ke arah Ichigo, "Seperti yang kubilang, semuanya sudah terkontrol. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, wanita itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan."
'Mendapatkan apa yang diinginkan'. Oh, Tuhan...
Jam 12.30 siang, Ichigo kembali lagi ke Rumah Sakit Karakura setelah sempat keluar dari sana pada jam 10 pagi tadi. Tanpa melihat kembali sekitarnya, ia langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Kurotsuchi Mayuri dan ia merasa beruntung ketika melihat dokter bersurai biru cerulean itu berada di sana, duduk di balik mejanya dan memeriksa beberapa kertas yang ia yakini sebagai percobaan yang belakangan ini tengah dijalankannya.
Harapannya kalau dirinya datang tepat waktu dan Cirucci belum sempat melakukan apa pun terhadap kandungannya langsung pupus saat mendengar jawaban Mayuri atas pertanyaannya tadi. Rasanya Ichigo jadi ingin menampar wajahnya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak terpikirkan sebelumnya kalau dengan melakukan Manual Vacuum Aspiration (MVA) hanya membutuhkan prosedur dalam waktu 5-15 menit? Walau kemungkinan besar saat ini Cirucci masih belum bisa bangun dari tempat tidur karena pendarahan yang memungkinkan untuk terjadi, tapi janin dalam kandungannya sudah bisa dipastikan tidak ada.
Kekesalan yang dirasakan oleh Ichigo itu pun ia layangkan pada Mayuri, "Bagaimana bisa kau melakukannya ! ? Retsu seharusnya sudah memberitahumu kalau suami dari Mrs. Jeagerjaques tidak pernah menyetujui mengenai aborsi!" Ia menggebrak permukaan meja dengan tangannya, tatapannya saat itu tajam mengarah kepada dokter yang seharusnya menjadi seniornya itu, "Sebagai seorang dokter senior kau pastinya tahu mengenai pra-syarat dan prosedur dalam proses kedokteran! Apalagi dalam hal seperti ini! Tidak bisa sembarangan—"
"Dr. Kurotsuchi,"
Ketukan ringan di daun pintu, dan secara otomatis Ichigo menghentikan perkataannya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita bersurai gelap dikepang serta berpakaian suster berjalan masuk, "Mrs. Jeagerjaques menanyakan apa dia sudah bisa melihat hasil diagnosisnya," Baru saja Ichigo berniat untuk meminta waktu, namun Mayuri sudah bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati sang suster.
Mayuri menghentikan langkahnya saat sudah berada di tepian pintu, ia menoleh dan menatap ke arah Ichigo dengan seringai khas dirinya terbentang di wajah, "Karena sudah tugas sebagai seorang dokter senior memberi contoh pada juniornya untuk memenuhi panggilan pasien, kurasa kita akan bisa berbicara lagi nanti, ne, Kurosaki-kun?" Entah hanya perasaan Ichigo saja atau bukan, tapi ia merasa mendengar kekehan Mayuri walau setelah ia keluar dari ruangan.
Kalau saja ia tidak ingat di mana dirinya berada saat ini, bisa dipastikan, meja sudah melayang ke arah sang dokter senior.
Memejamkan mata, menghembuskan, dan menghirup nafas secara perlahan, Ichigo berusaha menurunkan emosinya yang sempat memuncak. Kekesalan yang dirasakannya, membuat tangannya gemetar ketika mengambil ponselnya dari saku celana. Sambil berjalan keluar ruangan, ia menekan tombol yang ia yakini sebagai nomor dari orang yang paling harus tahu mengenai kondisi saat ini.
"Ye—"
"Istrimu orang yang SANGAT bodoh, Jeagerjaques. Injakkan kakimu di sini. Segera. SEKARANG." Dengan cepat ia berkata, dengan cepat pula ia memutuskan sambungannya. Ia tahu bahwa dirinya tidak diperlukan untuk mengatakannya secara detail saat ini. Grimmjow bukanlah orang yang bodoh, ia tahu pria itu akan menangkap apa maksudnya, walau mungkin membutuhkan waktu mencernanya selama beberapa menit. Tapi, Ichigo saat ini sudah bisa membayangkan Grimmjow dengan langkah dihentak-hentakkan, berjalan keluar apartemennya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Yang perlu ia lakukan sekarang hanya menunggu.
XOXOXO
Dua puluh menit kemudian Grimmjow datang bersama dengan dua orang temannya—satu ia kenal, dan yang satunya lagi tidak begitu. Hanya saja ia merasa pernah melihat sosok pria bersurai coklat gondrong, namun tidak bisa menempatkan ingatannya dengan sangat baik. Grimmjow nampak ingin bertanya sesuatu di menit pertama ia melihat sosok Ichigo, tetapi Ichigo memiliki pemikiran lain, dan tanpa banyak berkata, ia langsung membawa ketiganya ke sebuah ruangan di mana Cirucci saat ini tengah berada.
Ichigo membuka pintu ruangan dan membiarkan hanya Grimmjow yang masuk. Bisa ia lihat wanita dengan surai ungunya yang digerai tengah bersiap-siap untuk pergi, kedatangan Girmmjow saat itu memang pada waktu yang benar-benar sangat pas. Ichigo juga melihat seluruh warna menghilang dari wajah Cirucci.
Tertangkap basah setelah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, bukanlah pengalaman yang menyenangkan.
Menyadari tubuh Grimmjow yang bergetar menahan amarah, Ichigo memutuskan untuk menutup pintu dan meninggalkan kedua pasangan itu sendirian. Agar keduanya bisa bicara baik-baik? Heh. Ichigo sendiri tahu dalam kondisi seperti ini Girmmjow tidak akan bisa diajak baik-baik, jadi istrinya saat ini pun pastinya tahu. Makanya, wanita itu sempat melayangkan tatapan minta tolong ke arahnya, yang tentu saja tidak ia hiraukan.
Tepat setelah pintu tertutup, ia bisa mendengar suara tamparan dari dalam ruangan.
Ichigo menghela nafas, selama Grimmjow tidak melakukan pembunuhan, ia tidak akan menghentikan tindakan sang pria. Wanita itu saat ini mendapatkan ganjaran yang seharusnya.
Suara tawa tertahan menarik perhatiannya, sehingga ia menoleh ke arah salah seorang teman Grimmjow yang bersurai hitam panjang. Pria itu bertubuh sangat tinggi, ia yakini lebih dari 2 meter, dan ia kenal dengan nama Nnoitra Jiruga. Mereka pernah bertemu beberapa kali sebelum ini. Nnoitra nampak mengeluarkan ponselnya, dan menekan beberapa angka, sebelum kemudian seringai lebar yang menunjukkan sederetan giginya terpampang di wajahnya hingga seolah ujung bibirnya itu sanggup mencapai telinganya.
Dan tidak lama, ponselnya sendiri pun bergetar—ia tidak berani membunyikannya karena mengingat tempat di mana ia berada saat ini. Bisa bahaya jika ada orang berpenyakit jantung lewat di dekatnya. Alisnya sempat berkerut melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Renji. Bisa ia pastikan pria bersurai merah itu ingin menanyakan mengenai yang tadi. Menghela nafas, Ichigo akhirnya menjawab teleponnya, "Ya. Ya... Aku terlambat, Ren... Aku terlambat..."
Di seberang sambungan sempat sepi selama beberapa saat, baru kemudian ia bisa mendengar lagi suara Renji, "Wanita memang super cepat kalau masalah anak dan belanja, eh?" Ichigo bisa mendengar kekehan sang pria, dan jika saat ini Renji berada dihadapannya, bisa ia yakinkan ia sudah menyikut perut sang pria dengan sangat keras.
Ichigo hanya bisa mendengus, "Yang kau bicarakan itu berada dalam dua kategori berbeda tahu."
BRAKK!
Suara pintu dibanting membuat Ichigo yang terlalu terfokus dengan teleponnya, hampir saja terlompat kaget. "AKU TIDAK BUTUH WANITA YANG SAMA SEKALI TIDAK MAU MENGHARGAIKU! SEKARANG TERSERAH KAMU MAU MELAKUKAN APA, AKU TIDAK PEDULI!" Suara Grimmjow yang menggelegar saat keluar ruangan itu menarik perhatian petugas rumah sakit dan pasien lain yang kebetulan lewat, dan salah seorang perawat sempat memarahi Grimmjow yang terlalu berisik sebelum kemudian berlalu.
Saat ini Renji tertawa terbahak di balik telepon, dan Ichigo menggerang, "Apa yang lucu, Renji? ?" Tapi, kelihatannya yang tertawa bukan hanya Renji, karena ia bisa mendengar suara tawa itu berada di dekatnya, dan berasal dari Nnoitra yang kini memukul-mukul pundak Grimmjow dengan keras, seolah bangga pria bersurai biru itu sudah berhasil memenangkan suatu lotere berhadiah milyaran.
"Itu baru temanku! Sudah kutunggu-tunggu kamu mengatakan itu, Grimmy!"
Ichigo hanya bisa mengangkat alis mendengar komentar Nnoitra dan pria bersurai coklat yang mendengus. Entah hanya perasaannya atau bukan, tapi nampaknya kedua teman Girmmjow itu nampak tidak menyukai Cirucci.
. . . . Mungkin ada sesuatu mengenai istri Grimmjow yang tidak ia ketahui selama ini?
Bukan berarti juga ia benar-benar mengenai Cirucci saat ini sih.
"Ano... Kurosaki-san?" Suara seorang wanita mengalihkan perhatian Ichigo, Grimmjow, dan juga kedua orang temannya, "Saya tidak tahu apa yang terjadi tapi... saat ini di depan gedung ada banyak... wartawan..." Ichigo hanya diam memperhatikan raut wajah suster yang ia yakini selalu ada di balik meja resepsionis itu kini memancarkan kebingungan, karena nampaknya sang suster sudah berusaha mengusir gerombolan hyena haus berita itu tapi tidak kunjung berhasil.
"NNOITRA!" Grimmjow membentak ke arah teman jangkungnya, merasa tahu betul siapa dalang di balik kedatangan para wartawan itu. Tapi, Nnoitra hanya menyengir lebar sambil mengangkat jarinya membentuk V, tidak sedikit pun merasa bersalah atas apa yang dia lakukan.
Saat itu, untuk pertama kalinya Ichigo menyadari bahwa waktu istirahatnya lagi-lagi berkurang. Dan mungkin malah tidak akan dapat waktu istirahat. Memikirkannya saja, ia sudah bete. Ia memutuskan teleponnya dengan Renji, dan menatap nanar ke arah Nnoitra sambil menunjukkan jari telunjuknya, "Kamu harus mengurusnya sendiri! Aku pulang!" Tapi, baru saja Ichigo mau mengambil langkah menjauh, Ishida datang dari arah berlawanan dan memanggilnya.
"Kurosaki! Kau dibutuhkan di Unit Gawat Darurat. Pasien kecelakaan tadi malam yang kau tangani mengalami penurunan." Tutur sang dokter berkacamata dengan tenang sambil mengarahkan Ichigo untuk segera mengikutinya.
Ichigo mengerang, dan dengan langkah berat ia mendekati Ishida, tapi tidak sebelum melemparkan tatapan membunuh ke arah Nnoitra yang nyeletuk, "Kayaknya berat banget jadi dokter, ya?"
.
TBC
.
Apa itu Manual Vacuum Aspiration (MVA)?
MVA dilakukan dengan menggunakan jarum suntik genggam sebagai sumber hisap untuk menghilangkan isi rahim. Waktu prosedur ini 5-15 menit dan dilakukan di dalam kantor dokter, klinik atau ruang gawat darurat. Seorang pasien biasanya meninggalkan kantor dokter atau klinik dalam waktu dua jam. Hal ini dapat digunakan untuk aborsi pada wanita tiga minggu setelah awal siklus menstruasi terakhir, hingga 12 minggu kehamilan. Efek samping yang umum meliputi kram atau nyeri perut dan perdarahan. Komplikasi utama sangat jarang, tetapi bisa termasuk perforasi rahim atau leher rahim, infeksi panggul dan pendarahan berlebihan.
.
Agh, ini chapter terpanjang yang pernah saya kerjakan dalam judul ini =A=" Dan semoga penjelasan mengenai MVAnya ga membuat kalian bingung. Review? Review? Yang menunggu chapter 2 dari Cinnamon and Fangs, saat ini sedang saya kerjakan juga. Kalau lancar besok atau lusa sudah akan post :)
Terima kasih sudah bersedia membaca ^^
