~New Family~


by: PrinceStraw

chapter : 3B

pairing : KrisxTao

genre : Fluff, CRACK! XD

rating : T+

warning: Weird story as usual, Language, Male's pregnancy, sissy Tao

disclaimer: Kris and Tao are mine, they are JGV actor in my company *is lying*

A/n: Yay! Ini adalah sequelnya ff remake-ku yang Perfect Family. Disini ceritanya Taoris sudah menikah :) tapi saya memakai kata 'kekasih' bukan istri atau suami karena kurang sreg begimanaaa gitu~ wkwkwk

.

.

Disarankan untuk membaca Perfect Family dulu biar ngerti XD

.

.

Enjoy...


Perlahan Tao menghempaskan tubuhnya ke sofa. Rasa bahagia dan terharu yang membuncah sanggup melemaskan sendi-sendi tubuhnya. Detak jantungnya tidak henti-hentinya berdentum keras, seperti ketukan sepatu, apalagi setelah mendengar suara Kris ia tidak bisa meruntuhkan senyuman kelegaan dari bibirnya.

Dengan bergetar kecil, pria manis itu meletakan hati-hati telapak tangannya diatas perutnya, membuat gerakkan vertikal—atas lalu bawah—berulang-ulang dan tidak bosan-bosannya. Ia tidak memperdulikan sudah berapa banyak air mata yang mengalir pelan dari sudut matanya, sebagai luapan kegembiraan akan masa depannya dengan pria yang selama ini setia di sisinya.

Berbaring dengan posisi menyamping sangat membuat Tao rileks. Terkadang bibir kemerahannya bersenandung lirih, melantunkan melodi-melodi indah yang tidak asing. Andai saja Kris ada disampingnya, ia pasti sudah memeluknya erat. Sangat erat. Menyuarakan doa-doa kecilnya—cukup di dalam hati—selagi merasakan dekapan hangat pria itu, kemudian membicarakan sesuatu yang manis berkaitan dengan kenangan yang kelak mereka lalui bersama. Tao tampak tidak sanggup bahkan sekedar untuk membayangkannya saja, ia menutup rapat-rapat mulutnya karena tiba-tiba saja terisak.

"Kris.. hiks, hiks," semakin keras. "Cepatlah pulang, aku ingin segera memberitahukan ini padamu, aku.. aku—"

Meski senang, tapi ia merasa seolah-olah ada beban berat di pundaknya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia mengingat kabar tidak terduga yang dialaminya hari ini.

.

.

.

"Saya hanya ingin meluruskan hal yang memang seharusnya segera saya luruskan, dan saya minta maaf baru bisa memberitahukan hal ini pada anda sekarang."

Tao mendengarkan dengan saksama perkataan dokter di depannya. Nervous; salah satu kebiasaannya apabila masuk ke dalam obrolan yang serius. Genggaman pada cangkir cappucinonya yang telah dingin kian erat.

"Pada hari itu, setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan sampai hasil lab keluar, saya membaca bahwa disana tidak ada tanda-tanda apapun yang merujuk bahwa anda tengah... mengandung." Kata terakhir diucapkan pelan sekali oleh dokter itu, tetapi Tao bisa menjangkaunya dengan baik.

Aliran darah seakan mendidih dan mengalir cepat ke ubun-ubunnya. Bangkit dari duduknya, ia marah. "Tentu saja! Pemeriksaan itu terpaksa saya lakukan atas keinginan si bodoh itu?! Lagipula saya ini laki-laki, tidak perlu diperiksa pun sudah ketahuan hasilnya seperti apa." Tao melepaskan kekesalannya dengan memukul meja, mengakibatkan dokter itu berjengit ke belakang. Ia berusaha meredam emosinya, kembali duduk dan menarik napas perlahan.

"Ah—anda benar. Tapi saat itu, bukan sekarang. Makanya saya datang ingin meluruskan hal ini pada anda. Hasil lab tersebut keliru. Jujur saja, sebenarnya hasil lab anda tertukar dengan pasien lain."

Perut Tao seperti dijungkir-balikan, matanya membulat sempurna. Susah payah Tao mengeluarkan suaranya untuk bertanya. "Lalu? Tunggu! bagaimana dokter bisa tahu kalau lab saya tertukar?" Ia tidak percaya ini. Raut muka dokter itu tegas, nada suaranya serius, ia sangat yakin dokter tersebut sedang tidak ada niat untuk bergurau.

Dokter itu menjawab, "Karena pada hari anda datang ke tempat praktek saya, hanya ada 2 orang saja yang sengaja ingin memastikan kehamilannya."

Tao kembali mengingat, memang sebelum ia masuk ke ruangan periksa ada sepasang suami-istri duduk disebelahnya. Ia mencuri dengar sedikit pembicaraan mereka, tentang sang istri yang tidak kunjung hamil dan suaminya yang terus-terusan menuntut untuk itu.

"Pasien yang membawa lab asli anda datang seminggu kemudian, mengeluhkan bahwa hasil labnya tidak sesuai. Dari hari ke hari, ia merasa tidak seperti seseorang yang sedang hamil muda. Setelah dilakukan pemeriksaan ulang ternyata hasilnya negative." terang dokter itu.

Semakin lama pembicaraan tersebut semakin menuju titik terang, namun semakin lama itu juga akal sehat Tao enggan memberikan timbal balik yang semestinya. Dokter itu bahkan telah memberikan penjelasan baik secara ilmiah maupun medis dengan bahasa yang terlatih dan mudah dipahami, tetapi tetap, Tao tidak bisa mempercayainya semudah itu. Keringat telah turun dan membasahi tubuh Tao yang berbalut sweeater. Rasanya dingin, kemudian panas, berselang-seling. Ia melihat telapak tangannya yang tampak mengkilap.

"Itu tidak mungkin dokter... ini salah. Aku... aku tidak mungkin.. tidak—"

"Ini kenyataannya."

Dokter itu menatap dalam mata Tao. Seperti psikiater, ia seolah bisa membaca emosi yang memancar hanya dengan melihat wajah Tao; yang terdapat ketidakpercayaan, kebimbangan, dan kepanikkan. Pria yang sudah berpengalaman menjadi dokter selama 10 tahun itu berbicara." Saya pun tidak seratus persen mempercayainya, saya mengira di dunia ini hanya sahabat saya saja—Lay—yang mengalami keajaiban seperti itu. Jadi saya mohon, sekarang juga tolong lakukan pemeriksaan kembali. Lebih cepat lebih baik untuk memastikan semuanya, dan bila memang benar hal itu terjadi akan sangat bagus untuk—"

"Tidak mau!" Pria panda itu memutuskan kontak mata.

"Saya mohon, tolonglah! Demi kebaikan anda. Saya yakin jika Kris mengetahuinya ia pasti juga meminta anda untuk melakukan ini." Mendengar nama Kris disebut-sebut, Tao tampak melunak. Ragu-ragu ia kembali memusatkan perhatiannya pada dokter itu. "Klinik saya sedang libur, namun karena saya yang meminta anda jadi tidak masalah jika anda ingin periksa disana. Dan juga anda jadi lebih leluasa dan tidak perlu malu." Dokter itu tersenyum simpul, merasa yakin sarannya akan Tao ambil.

Pada akhirnya Tao menganggukkan kepala. "Baiklah. Bagaimanapun hasilnya nanti, saya minta untuk di rahasiakan."

"Saya mengerti."

Tao yang telah setuju, tanpa membuang-buang waktu langsung dibawa oleh teman Kris itu ke kliniknya. Selama menuju kesana, detak jantung Tao tidak karuan, dadanya merasakan sesak yang tidak nyaman; dan menimbulkan reaksi aneh pada perutnya; menggelitik, sakit, entahlah. Beberapa kali pikiran-pikiran untuk kembali ke rumah—membatalkan niatnya bersama dokter itu—terlintas di dalam benak Tao. Namun sesampainya disana ia hanya menuruti perkatan dokter itu. Ia diminta untuk melakukan segala macam pemeriksaan dari yang sederhana sampai yang rumit.

Setelah menunggu selama satu jam lebih sampai hasil labnya yang baru keluar. Seperti yang sudah diperkirakan, bahwa hasilnya possitive.

.

.

Tao yang hampir tertidur dibangunkan oleh bunyi bel apartemennya. Ia bangkit duduk dari sofa, menguap, mengucek kedua matanya dan beranjak meninggalkan ruang tamu menuju ke arah bunyi itu berasal. Matanya sempat melirik sekilas ke jam dinding dan berhasil menangkap bahwa waktu menunjukkan pukul delapan malam. Tao membuka pintu apartemennya dengan mata sayu dan pandangannya lemas tidak bertenaga; orang yang menahan kantuk memang selalu terlihat seperti itu 'bukan?

Tepat ketika suara berat favoritnya menyapanya segala jenis kantuk yang menggelayutinya tadi hilang dalam sekejap.

"Peach, aku pulang."

"Selamat datang, Kris."

Anak-anak rambut Tao diusapkan oleh tangan besar Kris sebentar, lalu ia membimbing kekasihnya itu masuk. Tangannya mengambil alih tas kerja Kris dan jas hitam mahalnya. Pintu ia tutup kembali dan tidak lupa untuk menguncinya.

Kris mengambil posisi senyaman mungkin di sofa, menopang kaki sambil mengendurkan dasi. Sedangkan Tao, ia tengah berkecamuk bersama pikirannya sendiri. Bagaimana cara ia mengatakan hal ini pada Kris? Bahwa ia—seorang lak-laki—mengandung anak dari pria itu?

Tidak. Tidak. Tao menggeleng pelan, tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Sebab Kris mencintainya, Tao juga mencintai Kris, maka ia yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja. Lagipula bukankah Kris pernah menginginkan seorang anak darinya? Sampai-sampai ia pernah diperlakukan layaknya seorang wanita yang sedang menyambut kehamilan pertamanya.

"Peach? Ada apa?" Kris mengerutkan keningnya sambil meneliti kekasihnya yang berdiri tidak jauh dari tempat ia duduk. "Kau tidak ingin memberiku ciuman selamat datang?" Kris menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.

"Ti—tidak."

"Tidak?" nada kecewa.

"Tidak, maksudku. Aku ke kamar dulu menaruh barang-barangmu." Tao tidak ingin membicarakan itu dulu pada Kris, ia merasa belum siap dan menunggu momen yang tepat. Ia mengayunkan langkahnya ke kamar, tidak menyadari tatapan Kris yang memandanginya dengan heran sampai ia menghilang di balik pintu.

Selesai dengan itu Tao pergi ke dapur lalu kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas air dingin kemudian diberikan kepada Kris. Ia duduk disamping pria tampan itu, dan sedikit menundukkan kepalanya. Kris yang tidak sabaran ingin mendengar penjelasan dari Tao, mengabaikan minumannya dan ia lebih memilih untuk mendekap pipi bulat yang halus dan terdapat semburat merah kemudian mendaratkan bibirnya di bibir kekasihnya penuh kelembutan. Kris mulai memagut bibir kemerahan yang berada di bawah kuasanya, ia menuntut Tao untuk merespon perlakuannya memanjakan bibir itu.

Tangan Tao melingkar di leher Kris, dan menarik pria itu lebih rapat ke tubuhnya yang hangat. Tidak seperti biasanya, kali ini Tao melumat permukaan bibir padat merekah Kris begitu tenang namun ia berharap Kris tidak menyadari itu. Sedari tadi Tao terus memikirkan bagaimana cara ia menyampaikan kabar bahagia yang sudah tidak bisa dibendungnya lagi kepada kekasihnya.

Kris tidak memberikan jeda terlalu lama setiap kali tarikkan napas mereka terdengar. Pahanya dimajukan, menghimpit tubuh Tao. Secara alamiah Tao membuka mulutnya, ia membebaskan lidah Kris untuk menelusuri ruang hangatnya dan membiarkan Kris mendominasi dan mendesah. Getaran-getaran kecil yang keluar dari dada Tao mengalir ke tenggorokan Kris, bergetar seirama dengan getar tubuhnya. Kris semakin kuat menekan bibir Tao, semakin lihai mempermainkannya, ia terhuyung-huyung hanyut dalam kenikmatan yang tidak terkendali.

"Nghmm.."

Desah sesal itu terdengar setelah Kris mengakhiri ciumannya. Kris tidak bisa menahan senyumnya lalu disandarkan dahinya di dahi Tao yang terhalau poni. Kesepuluh jemarinya menyangkut di sela-sela rambut hitam Tao. Hembusan napasnya yang memberat dan berhasrat menyentuh Tao, menciptakan makna bahwa ia ingin sekali melakukan keintiman jasmaniah dan merasakan gairah yang lebih memabukkan dibandingkan apa yang baru saja ia lakukan.

Tetapi Kris cepat-cepat tersadar dan menunda keinginannya.

"Kenapa semakin hari aku semakin tidak ingin jauh-jauh darimu, ya? Selalu memikirkanmu, tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja, menyebalkan bukan?" kata Kris kemudian tertawa. "Ah, tapi itu karena aku mencemaskanmu, peach. Akhir-akhir ini kau sering membuatku khawatir. Kau ingat? Kau sering sekali terbangun malam-malam, kemudian merepotkanku, mengeluhkan perutmu dan badanmu yang—"

"Aku hamil, Kris."

Kata-kata Tao yang perlahan itu menghentikan semburan kata-kata yang hendak meluncur keluar dari bibir Kris. Ia menatap Tao tanpa bersuara. "Itulah penyebabnya. Aku sedang hamil." Tao balik menatap Kris tepat ke dalam manik cokelatnya yang berkilat terang berkat cahaya lampu.

"A—apa?" Seolah-olah otak Kris tidak bisa menyerap informasi yang ia dapatkan. Ia tercengang dan kembali bertanya. "A—apa katamu, Tao?"

Tao mengangkat satu tangannya dan ia sentuh pipi Kris, mengeluskan-eluskannya membentuk putaran. Lalu berkata, "Aku akan punya anak. Aku akan punya anak darimu, Wu Yi Fan."

Suara Tao bagai echo di telinga Kris, masuk namun kemudian memantul kembali. Kris menurunkan pandangannya ke bawah, tidak sengaja matanya tertuju pada perut Tao yang datar. Benarkah? Benarkah di dalam sana Tao tengah mengandung anaknya? Ia mulai bertanya-tanya. Dadanya berdenyut kencang, kenapa tiba-tiba ia merasa pusing. Meski ia pernah memperkirakan hal ini tapi tetap saja memberikan kesan mustahil bahwa perkiraannya itu ternyata menjadi kenyataan; yang irasional. Tidak masuk akal.

"Tao, kau yakin sayang?" Entah kenapa hati Kris mengharapkan kalau Tao sedang bercanda.

"Mengapa Kris? Kau terlihat tidak senang." Air muka Tao tampak terluka karena Kris memutuskan secara sepihak pandangannya. Ia menarik tangannya dari pipi Kris, meletakkan diatas pahanya, meremat-remat tangannya sendiri.

"Bukan begitu, sayang. Jangan mengambil kesimpulan secepat itu," ucap Kris gerogi.

"Tapi dari wajahmu mengatakan begitu." Ada kegetiran di senyumnya.

"Eh? Masa?" Kris mengacungkan jari telunjuk ke wajahnya sambil tersenyum. Tanpa berpikir tangan Tao mencari-cari bantal sofa lalu dilemparkannya dan telak mengenai wajah Kris yang menurutnya kelihatan bodoh daripada tampan.

"Menyebalkan."

"Ayolah sayang, jangan marah seperti itu." Kris memohon.

"Bagaimana aku tidak marah sedangkan aku melihat reaksimu seakan-akan tidak senang mendengarnya, Kris. Kau tidak tahu, bahkan aku sudah membayangkan kalau kau akan memelukku dan terkesima karena terlalu bahagia. " Papar Tao, bersusah payah menyembunyikan kekecewaannya pada Kris. Ia mengasihani imajinasi yang dibangunnya sendiri sampai-sampai disepanjang perjalanan sepulang dari klinik ia begitu gembira.

Harusnya ia bisa maklum. Mungkin saat ini Kris masih belum percaya padanya, bahkan diawal ia sendiri tidak bisa mempercainya. Tetapi tetap—rasanya sakit sekali, ingin menangis. Dan benar saja, ia mulai merasakan matanya memanas.

Kris melihat air mata membasahi pipi Tao, turun mengaliri lekuk-lekuk rahangnya dan menetes dari dagu pria tercintanya. "Oh Tuhan, Tao maafkan aku," seru Kris panik, lengan kekarnya bergerak begitu saja memeluk Tao. Ia melesakkan wajahnya di perpotongan leher Tao, mengecup surai-surai kelamnya yang wangi berulang-ulang. "Sssh.. jangan menangis. Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja—"

"Hanya saja kau tidak percaya padaku 'kan? Kau pikir aku bercanda?" Pertanyaan Tao lurus tepat mengenai kepalanya. Pria panda itu seolah-olah mengetahui isi pikirannya.

Cukup membuat Kris mengangguk kecil diantara kehangatan leher kekasihnya. "Peach, jangan membawa dirimu sendiri terlalu lelah memikirkannya. Mengenai kejadian membawamu ke klinik dan bagaimana cara aku memperlakukanmu waktu itu, aku benar-benar merasa bersalah. Aku minta maaf. Lupakan soal aku menginginkan seorang anak, kupikir karena hal itu, karena terus-terusan memikirkannya sehingga kau jadi seperti ini. Berapa kali kukatakan ini padamu, walau kau tidak bisa seperti Lay aku tetap mencintaimu, sayang. Selalu."

Selagi berbicara tidak henti-hentinya jari-jari Kris mengelus belakang kepala pria yang bersikukuh pada pendiriannya, membentuk satu kenyamanan yang tetap bagi Tao terasa klise.

"Bagaimana jika aku tetap mengatakan bahwa aku hamil?" Tao menempelkan dahinya di pundak Kris. "Apa yang akan kau katakan?" nadanya lemah. Ia meraih tangan berkeringat Kris dan ditaruh di atas perutnya, melanjutkan bicaranya dengan suara sehalus kapas. "Kau memang masih belum bisa merasakannya bergerak. Tapi bila kau merasakannya dengan perasaanmu, melalui perasaan seorang ayah aku yakin kau akan percaya bahwa di dalam perutku saat ini terdapat kehidupan."

Gejolak di dalam dada kian menggemuruh, bak bendungan air yang berputar cepat dan berpusat pada pusarannya. Hentikan Tao. Kris serasa dipukuli ratusan bebatuan tepat dibagian dadanya, sungguh menyakitkan. Dirundung kecemasan yang bertingkat dan penyesalan. Pasalnya, ia berpikir perubahan sikap Tao sampai sedrastis ini adalah akibat ulahnya. Ia tidak mau mengakui Tao terkena obsessive compulsive disorder. Tetapi hanya OCD-lah yang terpeta di dalam kepalanya ketika menerawang kilauan mata Tao yang kuat. Disana hanya ada kebenaran, sama sekali tidak ada keraguan atau bahkan kepura-puraan.

"Taozi—," Kris memanggil nama kecil Tao lirih, berharap panda cantik-nya mau mengerti.

"Rupanya kau masih tidak mempercayainya dan sekarang ketakutan seperti itu. For God's shake! Kris! Demi Tuhan aku kecewa padamu," Tao yang tidak bisa mengendalikan diri lagi memutuskan berdiri dengan perasaan sedih. "Aku pergi."

Respon yang lambat. "A—apa?"

"Aku pergi!"

Jantung Kris seakan mencelos saat Tao berteriak dan mengatakan kalau ia akan.. pergi?

Oh, shit!

Kris kemudian menyumpahi dirinya atas kebodohannya itu. Kris ketakutan setengah mati apabila Tao berniat akan meninggalkannya seperti waktu itu, maka ia menyusul Tao hendak menahannya. "Pergi kemana?"

Tao merapihkan sweeaternya setelah selesai memakai sneakersnya. Ia membuka pintu lebar-lebar. "Cari angin. Jangan mengikutiku." jawabnya ketus.

"Tunggu," Kris mengambil jaket tebalnya—yang ia gunakan ke kantor hari ini—tergantung di hanger dekat pintu. Jaket itu dicantelkannya di pundak ringkih kekasihnya. Ia membenarkan syal yang Tao pakai, lalu tersenyum bagai malaikat. "Di luar dingin sekali, jangan sampai masuk angin. Cepat kembali."

Tao tampak memandang jaket Kris sambil menggigit-gigit bibir bawahnya. Perang batin dialaminya, seolah dua kubu terus berseteru dan bimbang perihal menerima jaket Kris atau tidak. Bulan mendekati musim gugur, angin di luar pasti sangat kencang apalagi malam hari dan jaket Kris sepertinya berfungsi sekali digunakan di saat-saat seperti ini.

Tapi ia gengsi!

Sial! Tapi di lain sisi ia masih peduli pada tubuhnya serta janin yang sedang di kandungnya. Sambil memasang ekspresi yang tak acuh Tao membaluti pakainnya dengan jaket Kris yang besar.

"Ini bukan berarti aku memaafkanmu. Yifan Idiot!"

BRAAK!

Tao menutup pintunya dan menimbulkan suara gebrakkan yang kencang. Kris terpaku. Pigura di dinding sedikit bergeser. Kris khawatir penghuni sebelah apartemennya akan datang memprotes.
.

.

.
Tao berjalan kemanapun kakinya mau melangkah namun bukan tanpa tujuan. Seperti yang dikatakannya pada Kris, ia ingin cari angin atau dengan kata lain ingin mendinginkan kepalanya. Trotoar sepi ia lalui seorang diri. Cahaya dari lampu jalanan berwarna putih, tampak berkedip-kedip dan tidak dihiraukannya. Hembusan angin menyapu wajah bulatnya yang sebagian tertimbun syal. Dirapatkannya jaket pemberian Kris. Ia tengadahkan kepalanya. Bulan di langit malam ini terlihat besar dan terang, bertengger murung karena tidak ada satupun bintang yang terlihat. Sebelumnya Tao tidak pernah berjalan sendirian, malam-malam. Biasanya selalu ada Kris disampingnya yang bersedia menemaninya kemanapun.

Mengingat pria itu semakin bertambah saja kekesalan Tao padanya.

"Ugh!" Entah sejak kapan ia kembali menangis. Mata sialan, kenapa cengeng sekali.
.

.

.
Mondar-mandir di ruang tamu itulah yang sedang Kris lakukan. Pria itu menggigit ujung ibu jarinya dan kembali pada kegiatan absurdnya. Ia ingin sekali menyusul, mencari Tao yang tidak ia ketahui keberadaanya. Sekarang. Kata-kata Tao masih terngiang di telinganya.

Aku hamil,

Aku akan punya anak,

Aku akan punya anak darimu, Wu Yi Fan.

Ia berakhir dengan menghempaskan bokongnya di sofa, tangan menelungkup di wajahnya yang menengadah. Frustasi, adalah kata yang tepat untuk mewakili keadaannya saat ini. Ia tidak ada harapan untuk memahami ucapan kekasihnya, pikirannya kosong. Ia butuh penjelasan Tao lebih lanjut, lebih mendetail.

Beberapa menit ia masih setia pada posisinya, lalu bangkit. Hatinya kalut, tetapi jika terus dibiarkan dan hanya duduk menunggu pun tidak ada yang berubah. Ia harus mencari Tao, menemuinya sekalipun pria itu menolak. Isi kepalanya bahkan mulai menyusun rencana untuk membawa Tao pulang secara paksa apabila Tao tetap bersikeras.

Ia mengeluarkan pena dari kantong kemejanya, akan menuliskan pesan untuk jaga-jaga seumpama Tao kembali ke apartemen tanpanya kala ia masih sibuk mencari. 'Aku mencarimu. Hubungi aku jika sudah pulang.', kira-kira seperti itulah kalimatnya.

Akan tetapi ia tidak menemukan kertas untuk menyalurkan pesan itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ke depan, dan ia melihat amplop besar berwarna cokelat muda terkulai diatas meja, lalu dibalikkannya amplop itu. Ada logo pada pojok kanan atas amplop tersebut. Tertera disana bahwa amplop tersebut berasal dari klinik yang ia kenal. Ia membuka benda penyimpanan dokumen tersebut, mengeluarkan isinya. Satu lembar kertas—hampir seukuran dengan amplop—berada di tangannya.

Kris mencemati setiap kata-kata yang tercetak disana, hingga berhenti di paragraf terakhir ia merasa akal sehatnya dirampas secepat tarikan napas. Ia membeku, sorot matanya berkerlip takjub. "Ya Tuhan.. Tao... kau benar-benar—" Ia memilih untuk tidak meneruskan ucapannya. Ia mengontrol kakinya yang bergetar kecil untuk tetap berdiri tegap, ia harus mencari kekasihnya.

Segera.

.

.

.

Seraya menghela napas, Tao berniat mengunjungi taman yang letaknya tidak jauh dari apartemennya. Ia tiba di taman kosong itu dan langsung mendudukkan dirinya di bangku taman, di sisi kananya terdapat tiga buah ayunan dalam beragam warna, sedangkan di kirinya ada satu kolam ikan dengan bunyi air mancurnya yang menenangkan. Sejauh mata memandang hanya terlihat kegelapan, kecuali jika ada satu-dua kendaraan yang melintas. Tao memasukkan kedua telapak tangannya ke saku jaketnya, ia mengusap-usap perutnya yang belum kelihatan seperti wanita hamil.

"Zitao!"

Tao terhenyak mendengar panggilan itu. Dari kejauhan ia melihat sepeda motor berhenti di luar gerbang taman, ada sosok tinggi yang berlari kecil kearahnya sambil mengangkat tangan. Sosok itu datang mendekat, dan menampakkan diri dengan senyuman yang lebih lebar ketika di depannya.

"Luhan?" gumam Tao, terkesiap.

Luhan tidak pernah berhenti tersenyum. "Zitao, apa yang sedang kau lakukan di taman malam-malam, sendirian pula. Kau tidak takut?"

"Ti—tidak. Kau sendiri sedang apa?"

Luhan mengarahkan jempolnya ke topi yang ia pakai. "Mengantar pizza. Aku bekerja sebagai pengantar pizza, dan punya langganan disini."

Tao membulatkan mulut mendengar penjelasan pria yang selalu ceria itu. "Sendiri saja?" tanyanya kemudian. Tumitnya yang dilindungi sepatu memijak tanah, ditimang-timangkannya berirama.

Luhan menganggukkan kepala beberapa kali, "Begitulah," katanya dan duduk disamping Tao tanpa basa-basi. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau sendiri sedang apa?"

"Ah, aku hanya cari udara segar.. heheh," jawab Tao sekenanya lalu menyembunyikan gerai rambut hitamnya di balik telinga.

"Malam-malam begini?" Luhan menaikkan sebelah alisnya.

"Ya." Tidak mungkin bagi Tao untuk mengatakan alasan sesungguhnya kepada pemuda yang dikenalnya kurang dari dua puluh empat jam. Apalagi ini menyangkut masalah pribadinya.

Tapi sepertinya Luhan nampak percaya, "Hm.. Itu berarti kau tinggal di daerah sini' kan? Sangat tidak mungkin sekedar cari angin tapi sampai kesini. Memang dimana rumahmu, Zitao?"

Tao sepertinya cukup terbiasa dipanggil Zitao, dan ia menunjuk dengan dagunya ke gedung apartemennya. "Disana."

Sontak pemuda yang lengkap memakai pakaian kerjanya itu tercengang, mengikuti arah pandang Tao ke bangunan 100 lantai yang memiliki desain mewah dengan kelap-kelip lampunya yang membuat mata lupa cara berkedip.

"Ke—Kereen! Kau tinggal disana! Berarti kau orang yang sangat kaya dong," selanjutnya Luhan kembali memuji-muji yang Tao anggap sedikit berlebihan.

Kekehan kecil melesat dari bibir Tao ketika mereka—ia dan Luhan—melanjutkan perbincangan ke hal-hal lain yang lebih menghibur. Mereka membicarakan aktivitas sehari-hari dan syukurlah Luhan tidak mempertanyakan pekerjaan Tao, mereka juga membicarakan kesukaan mereka mulai dari tontonan, bacaan, sampai musik. Obrolan menjadi begitu heboh dan seru, Tao berbicara sangat antusias. Sama halnya dengan Luhan yang sampai mengepalkan tangan ke udara dan berteriak 'TVXQ memang hebat!'

Mereka tergelak bersama.

"Oy Luhaaaaan! Kurang ajar kauuuuuu!"

Pemuda bermata rusa tersentak mendengar triakkan yang menggema itu dan seketika menghentikan tawanya. Ia dan Tao menoleh bersamaan ke depan, ada laki-laki jangkung berjalan cepat ke arahnya. Semakin lama semakin dekat, lebih dekat, Luhan dan Tao mengenalnya.

"Sialan kauuuu!" Laki-laki yang baru saja datang itu langsung memiting leher Luhan.

"Kaiiii-sssiiii~ lepaskan! sakit! sakit! sakit! sakit tau!" Sambil meringis, kedua tangan Luhan menggapai-gapai udara, Tao mencoba untuk menolongnya dengan gerak-gerik yang gugup dan panik.

"Cih! Setelah membuatku menunggu lama dan disetubuhi(?) oleh para nyamuk kau memintaku melepaskanmu. Brengsek! itu tidak akan." Ujar Kai sinis, ia mengeratkan pitingannya(?) kemudian diikuti oleh triakkan nyaring laki-laki yang sedang ia aniaya itu.

"Aaarrrrggh!"

"Kk—Kai.. bisa—bisakah lepaskan Luhan, kalau tidak ia akan mati! Aku tidak mau genre fanfic ini berubah menjadi angst (?)" kata Tao asal-asalan, nadanya terbata-bata. Manik matanya yang berkaca-kaca menatap tepat ke dalam mata Kai yang tampak sedang mencerna perkataannya.

"Cih! Benar juga." Kai melepaskan sahabatnya sedikit kasar.

Luhan buru-buru menjauh dari Kai. Ia terbatuk beberapa kali seraya mengelus-ngelus lehernya. Setengah membungkuk, ia melihat Kai dengan mata yang berair. "Kau tega sekali Kai-ssi~ Apa salahku?"

"Apa salahmu, hah? Salahmu! Kau membuatku menunggu lama ditempat gelap itu sialan!" sungut Kai sambil menunjuk sewot ke area luar taman yang tidak ada penyinaran disana. "Kau bilang melihat kenalanmu dan ingin menyapanya sebentar, cih, tapi ternyata kau melihat Zitao dan tidak memberitahuku."

Luhan meringis pelan, menggaruk sebelah pipinya yang tidak gatal dengan telunjuknya. "Hehehe... maaf, maaf." cicitnya.

Kai tersenyum sinis tidak mengacuhkan permintaan maaf Luhan, namun ketika ia melirik Tao senyumannya melembut. "Zitao, lama tidak bertemu ya," ia mendekati Tao, tanpa ba-bi-bu menggenggam tangannya.

'Lama gundulmu,' cibir Tao dalam hati. "Hai, Kai, apa kabar?" senyumnya kemudian.

"Aku merasa sangat baik malam ini. Hhh.. walau aku sedikit kecewa karena kau belum juga menghubungiku." Kai membuat ekspresi sesedih mungkin, Luhan nyengir melihatnya. Apa Kai pikir tampang sedihnya yang konyol itu bisa dengan mudah membuat Tao percaya?

Tentu saja tidak. "Ahaha begitu ya." Meski begitu Tao tetap menebar senyum ramah.

"Ah! sudah jam berapa ini? Kita harus kembali ke toko Kai, masih banyak pizza yang harus diantar." Luhan berseru, cukup mengacaukan mood Kai yang berniat ingin bermesraan dengan laki-laki manis namun mirip panda itu.

"Akhirnya kau sadar juga." Kai menjawab malas ucapan sahabatnya. Sebenarnya, tujuan Kai menyusul Luhan ke taman untuk mengingatkan hal ini, tapi setelah melihat orang yang ditemui Luhan adalah Zitao, lalu mendapati mereka tertawa bersama, Kai jadi melupakan hal itu dan rasa cemburu bersemi di hatinya.

"Zitao, aku dan Kai pamit dulu ya. Kau juga sebaiknya pulang, tidak baik keluyuran seorang diri seperti ini. Nanti diculik mas-mas mesum loh," kata Luhan dengan sedikit sunggingan senyum mengejek. Ia mempertegas kalimat demi kalimat terakhirnya dengan melirik Kai yang tersinggung.

"APA?! Kenapa kau menatapku seperti itu! Aku bukan mas-mas, bahkan aku lebih muda darimu!" gusar Kai.

"Ya memang. Tapi kau mesum."

"Ah, terserahlah."

Dan Tao hanya menelengkan kepala. Tidak mengerti.

"Tsa! Kami duluan ya~" pamit Luhan. Sedang Kai, yang masih dalam posisi menggenggam tangan Tao memperlihatkan tatapan seolah-olah enggan untuk pergi.

"Zitao," panggil Kai lirih lalu ia membawa tangan Tao ke bibirnya, tanpa memperdulikan wajah terkejut Tao ia mengecup punggung tangan halus itu secara bergantian. Kai sama sekali tidak menyadari—entah sejak kapan—ada seorang pria berdiri dibelakangnya, pria itu memangku tangan dengan wajah yang geram.

"Kk.. Kai." Memalingkan fokusnya ke samping, Tao mematung dengan apa yang dilihatnya saat ini.

"Ada apa, baby?"

Satu detik berikutnya Kai menerima tinjuan di pipi.

Buaagh!

"Jangan seenaknya menciumnya brengsek!"

"KRISS!"

Tao bergerak cepat menahan sekuat tenaga lengan kekasihnya yang akan melayangkan pukulan ke dua. Tubuh Kai tersungkur ke tanah, beruntung bokongnya yang lebih dulu mendarat bukan wajahnya. Menahan kesal, Kai menyeka darah yang keluar dari luka di sudut bibirnya. Dengan gusar ia berdiri dan bersiap membalas perlakuan pria yang tidak dikenalnya itu.

"Cih!" Membuang ludah. "Sialan, siapa kau berani-beraninya memukulku?"

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, siapa kau berani-beraninya mencium kekasihku?"

Mendengar itu Kai dan Luhan berkoor berbarengan. "Eh? Apa?"

"Kurang ajar, aku benar-benar kesal sekali." Kris menggapai telapak tangan kanan Tao, mengangkatnya, kemudian disejajarkannya dengan tangan miliknya sendiri. "Lihat." Mata Kai dan Luhan langsung tertuju ke cincin emas yang melingkar di jari manis keduanya. "Makhluk panda ini kekasihku," Tao yang berdiri disamping Kris tiba-tiba merengut. "Just for your information. Kami sudah menikah," lanjut Kris dengan suara tegasnya.

Luhan mengangguk, selintas ia memperhatikan pria dengan postur tinggi dan bentuk tubuh yang sangat pas memang terlihat cocok disandingkan dengan Tao. Namun berbeda dengan Kai yang memperhatikan Kris melalui tatapan sadisnya, dan menurutnya Kris tidak ada bagus-bagusnya sama sekali jika dibandingkan dengan dirinya. Kai berpikir bahwa ia yang lebih pantas menjadi kekasih Tao daripada pria itu.

"Ah~ kalau begitu maafkan sahabatku yang bodoh ini," ucap Luhan merasa malu. "Ayo Kai minta maaf." Perintah Luhan seraya mengapit lengan sahabatnya. Tetapi sahabatnya itu malah menarik lengannya kasar, berbalik dan berjalan begitu saja.

"Aku tidak mau minta maaf! Bodoh!" seru Kai kencang dari jauh.

Luhan menepuk jidatnya sendiri, "Dasar," gerutunya pelan. "Ah kalau begitu aku permisi. Zitao, sampai ketemu lagi." Butuh bagi Luhan berlari kecil untuk menyusul Kai yang hampir beranjak keluar dari area taman. Luhan menyamakan langkah Kai yang santai, bersisian berjalan bersama dengan lengannya yang menggantung di pundak lelaki itu.

"Luhan-ssi, Kai-ssi, hati-hati di jalan!" triak Tao cukup kencang. Ia melihat Luhan melambai-lambaikan tangan tanpa membalikkan badan. Suara halus knalpot motor lalu terdengar, sorot lampunya yang memancarkan sinar oranye bisa Tao lihat. Motor Luhan dan Kai melaju pelan sebelum pada akhirnya meninggalkan kawasan elit apartemennya, dan Tao hampir saja melupakan pria yang berdiri disebelahnya.

"Ehem."

Dehaman berat. Tao menoleh dengan mimik marah.

"Kau berlebihan sekali Kris."

Kris menatap Tao terheran-heran, "Berlebihan bagaimana?"

"Kai hanya mencium tanganku dan kau memukulnya sampai seperti itu?"

"Ayolah, siapapun pasti akan marah bila melihat kekasihnya dibegitukan."

"Oh ya? Memang apa pedulimu?"

"Peduliku? Peduliku tentu saja aku tidak mengizinkan laki-laki manapun berada sedekat itu denganmu." Tarikkan napas panjangnya terdengar sampai ke tempat Tao, tangannya mengepal erat. "Atau jangan-jangan kau suka dekat-dekat dengannya?"

Air muka Tao mengeras, ia sungguh tidak menyangka pertanyaan semacam itu terlontar dari mulut kekasihnya. "Jangan bercanda," balasnya kemudian, singkat.

"Lalu siapa mereka? Kenapa mereka sangat akrab denganmu? Aku tak pernah ingat kau punya teman seorang pengantar pizza?" cerocos Kris.

"Teman Chanyeol,"

"Kalau teman Chanyeol, kenapa bisa-bisanya salah satunya menciummu? Bisa jelaskan padaku kenapa si kulit tan itu memanggilmu baby?"

"Aku tak mau berdebat denganmu tentang hal ini." Memalingkan wajahnya dari tatapan Kris yang intens.

"Aku bukan berdebat, hanya—"

Kris mengurungkan niatnya membalas ucapan Tao, jika diteruskan ini sama saja menaburkan garam diatas luka. Yang dalam artian malah membuat keadaan semakin runyam. Menghela, "Baiklah, aku minta maaf. Kejadian tadi cuma... refleks," kata Kris cukup tenang.

"Menyebalkan. Aku benci padamu, Kris." Ingatan akan Kris yang tak mempercayai kehamilannya melintas di benak Tao, memunculkan sesak di dada sekaligus kesal.

"Aku tahu," Kris menyentuh tengkuk Tao, mendorong pria manis itu untuk mendekat ke dadanya. "Aku tahu, sayang."

Menit berikutnya Kris merasakan tetes-tetes air yang dingin di rambutnya, begitu juga lengannya yang berada di pinggang Tao. Saat ia mendongakkan kepala berbondong-bondong rintikkan hujan sudah berubah menjadi cepat, seolah kompak bersama-sama menghempaskan diri ke bumi dan begitu girang membasahi setiap makhluk di dalamnya. Dengan sigap Kris melindungi Tao agar tidak kebasahan, meski usahanya itu terbilang sia-sia.

"Kris,"

Tak mampu berkata-kata ketika kekasihnya menggendongnya. Otomatis Tao melingkarkan tangannya erat di leher Kris agar tidak jatuh. Hujan yang disertai angin kencang menuntut keduanya untuk segera menemukan tempat berlindung. Sambil membawa Tao, Kris berlari semaksimal mungkin untuk sampai ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman.

Beberapa akhir ini hujan tidak pernah absen mengguyur di malam hari. Maka tidak salah lagi ketika ramalan cuaca yang Kris saksikan tadi pagi mengatakan bahwa pemanasan global memberikan dampak datangnya hujan yang begitu tiba-tiba dan perubahan suhu yang tidak menentu. Kris dan Tao sudah di dalam mobil, menyaksikan angin bertiup menggoyangkan ranting-ranting pohon dan mendengar suara gemuruhnya hujan. Mereka duduk dibagian belakang.

"Dingin," Tao mengangkat tangan, memperlihatkan kulitnya yang meremang. Ia melirik Kris dengan kemejanya yang basah kuyup dan mencetak dadanya yang bidang. Meski sudah sering melihat bahkan dalam keadaan telanjang sekalipun, tetap saja wajahnya merona setiap kali menaruh kekaguman pada tubuh Kris yang sangat bagus itu.

"Ah, tidak ada handuk di mobil. Tapi tunggu sebentar," Kris mengingat sesuatu. Dari belakang Kris menengok ke bagian depan. Ia menemukan gooddy bag dan mulai membongkar isinya

"Kris?" Cukup penasaran dengan apa yang sedang Kris lakukan, Tao mencoba mengintip tapi terhalang punggung Kris.

"Sebentar, Tao." Bunyi mengaduk-aduk. Selang beberapa menit kembali duduk disamping Tao, Kris menyerahkan kaos merah dengan sebelumnya membuka plastik bening kemasannya terlebih dahulu. "Ayo kau pakai ini, lalu kita pulang."

Diam sejurus. Tao menggeleng pelan kemudian tersenyum, "Kau benar-benar tidak tertebak ya," suaranya parau karena perasaan bersalahnya yang sempat membenci pria yang telah bertahun-tahun di sisinya. "Aku tidak mau memakainya."

Memilih mengabaikan kaos pemberian Kris lalu memeluk pria itu tanpa rasa ragu. Kali ini ia tidak mau egois, ia juga ingin merasakan dingin yang tengah Kris rasakan, kemudian menciptakan kehangatan yang menguar dari tubuh mereka yang bersentuhan.

Jari-jari Kris yang menenangkan itu mengelus rambut Tao. "Jangan sayang, aku tidak mau kau sakit. Aku ingin kau selalu sehat...demi... demi buah hati kita."

Sambil menarik tubuhnya sepintas mata Tao berbinar dan berkata, "Kau percaya? Kau percaya Kris.. Kau percaya pada...ku," kata-kata itu belum lama meluncur, tetapi air mata sudah tidak terbendung lagi di kelopak matanya. Kris menangkup pipinya yang terdapat titik air mata dengan dua tangan, bibirnya diciumnya dengan sangat manis. "Akhirnya kau percaya... Kau percaya," terlalu bahagianya Tao sampai tidak bisa berhenti menggumamkan kata-kata itu. Merapalnya seperti mantra. Ia mengusap-usap perutnya penuh kasih sayang.

Kris tidak bisa bilang kalau sebenarnya ia percaya sebab telah melihat bukti autentik dari hasil lab yang secara tidak sengaja ditemukannya itu, bukan karena pengakuan langsung dari Tao. Ia tidak mau merusak momen berharga ini maka yang dilakukannya hanya mengiyakan.

"Ya, aku percaya sayang. Terima kasih telah memberikan kebahagian terindah di dalam hidupku. Aku mencintaimu, Tao, terima kasih sayang." Bersamaan dengan itu Kris memposisikan Tao untuk tidur di pangkuannya. Tao meletakkan kepalanya diatas pahanya dan ketika ia menatap wajah Tao seolah mendapat kehidupan baru dan cinta yang begitu besar. "Kau sungguh istimewa, aku beruntung memilikimu." Kris mengecup bibir Tao sekali lagi. "Dan aku kagum saat kau terus mempertahankan ucapanmu."

"Aku melakukan hal itu untukmu, Kris. Aku ingin kau percaya padaku, dan aku sangat yakin kau bisa memakai nalurimu sebagai ayah dari janin yang ku kandung," tutur Tao sambil mengendalikan sensasi panas yang memenuhi kulit wajahnya. Ia yang seorang pria jelas saja merasa malu mengatakan hal semacam itu.

"Betulkah?" tanya Kris dengan rasa menyesal, sepertinya ia telah gagal dan naluri ayah itu tidak sampai merasuk ke dalam hatinya. Kendati ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa lain waktu pasti akan mengatakan pada Tao yang sebenarnya. Kehamilan Tao merupakan keajaiban terbesar baginya, yang tepenting dari semua itu ialah bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya dan menjaganya setulus hati bersama Tao selamanya.

Dan Tao mengangguk, "Ya." Satu tangan Kris mengamit jari-jarinya, dan yang lain menyibak pakaian yang ia kenakan sampai memperlihatkan perutnya yang mulus.

Kris mendekatkan wajahnya ke perut Tao, sampai menyentuh kemudian di ciumnya pelan. Kris yakin bayinya sedang aman tertidur di dalam perut pria yang sangat dicintainya itu. Tao meletakkan tapak tangannya di kepala pria yang dicintainya dengan takjub karena hidup menganugerahkan kebahagiaan sedemikian rupa. Keterikatan dan cinta saling bertaut, menerpa Tao bagai angin sepoi-sepoi.

Kris mengelus perut pria itu, "Benar-benar sulit dipercaya, ada anakku di dalam sana. Apa dia menendang-nendang perutmu?" tanyanya kemudian mengundang gelak tawa dari kekasihnya.

"Tidak Kris, ini baru satu bulan. Kau harus bersabar sampai bisa merasakan dia bergerak di tubuhku,"

"Oh." Kris membulatkan bibir. "Baru satu bulan saja 'mamahnya' sudah gendut begini."

"Jahat! Kau bilang aku sexy!"

Kekehan pelan lolos dari bibir Kris, lalu ia mengecup kembali perut Tao melimpahkan kasih sayangnya yang tak terukur oleh apapun. "Aku harap anak kita kembar, satu laki-laki dan satu perempuan."

Tao menghentikan kegiatannya memainkan rambut keemasan Kris dengan jari-jarinya. "Kenapa begitu?"

"Aku tidak mau kalah dari Suho yang sudah memliki satu anak."

Jawaban Kris dihadiahi jitakkan keras. "Bodoh seperti biasa,"

"Bercanda. Mau kembar atau tidak, laki-laki ataupun perempuan aku tetap bahagia," Kris merebahkan Tao lalu mensejajarkan tubuhnya keatas tubuh Tao dan menopang bobotnya sendiri menggunakan siku dan lutut. Karena keterbatasan ruang ia lebih berhati-hati agar tubuhnya tetap seimbang hingga tidak menyakiti kekasihnya.

Ia menatap wajah Tao dalam-dalam. Saat Tao mengaitkan tangannya di rambutnya ia mulai menciumi setiap bagian-bagian wajah cantik itu dan berakhir di bibirnya, namun tak berarti setelah itu Kris berhenti. Ia malah melumat bibir penuh itu tanpa tekanan, dengan sangat lembut secara terus menerus sampai menyerah karena kebutuhan akan bernapas.

Dalam jarak yang teramat dekat, bahkan hidung keduanya bersentuhan mereka mengatur napas. Lalu Tao berkata, "Aku sangat mencintaimu, Kris."

"Aku lebih mencintaimu." Kris tersenyum amat memukau. "Besok aku berencana akan membawamu berkeliling kemanapun yang kau mau. Kita akan menyapa setiap orang yang akan kita temui. Dan aku akan mengatakan siapapun yang ingin tahu dan tidak ingin tahu, betapa aku sangat mencintaimu dan tidak sabar untuk melihat anakku. Bagaimana, kau setuju?"

"Tidak, kurasa itu rencana yang buruk," jawab Tao sambil tertawa lirih.

"Yah, benar itu buruk mengingat kau seorang artis."

"Tapi aku mau kau berjanji kepadaku satu hal Kris," Tao berbisik dengan wajah yang serius.

"Apa?"

"Berjanjilah untuk selalu menjagaku dan anak kita, kau mau 'kan?" Tao menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Kris dengan jantung yang berdebar-debar. Penuturannya yang lugu membuat Kris memeluknya erat, tanpa diminta pun sudah pasti Kris akan melakukannya setulus hati. Kris pasti akan menyanggupi hal apapun itu untuk menjaga dua detak jantung kehidupannya.

Kris mencium kening Tao sebagai tanda sumpah setia. "Aku berjanji. Aku berjanji, sayang."

"Terima kasih."

Tao tersenyum bahagia, tangannya menggelayut di antara leher Kris. Kris merendahkan kepalanya mendengarkan uraian kalimat dari Tao yang hanya ia saja yang mengetahuinya. Membiarkan hal itu menjadi rahasia untuk pemanis lantunan kisah mereka di atas kertas yang baru. Memulai dan bersiap untuk ditulis kembali dengan rangkaian cerita yang lebih sempurna, tidak akan membiarkan sang editor memenggal kepala kata-katanya.

Satu hal yang tidak Tao dan Kris sadari sekarang. Bahwa hujan di luar sana telah reda.

.

.

.

.

.

==FIN==

Jadi ya seperti itulah. Hahaha. Semoga gak mengecewakan . Makasih bagi yang sudah baca, makasih juga untuk reviewnya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya ya :)