Heartbreaker!
Jung Jaehyun X Lee Taeyong
ATTENTION :
bisa saja isi cerita tidak nyambung sama judulnya
apa tau aja saya cuma pinjam judul lagu nya ensiti huehue
btw ini bukan songfic ya kawan2
Rated : T
WARNS :
boyslove | OOC | twoshoot | yaoi
Memang ya ibu-ibu itu rempong, sama hal nya seperti eomma jaehyun . Eomma jaehyun memerintahkan dirinya untuk membawakan kue ke tetangga sebelah dalam rangka ramah tamah kembali dengan tetangga lama mereka.
"Tidak mau!" tolak jaehyun dengan segera, "Loh, kenapa tidak mau?"
'Karena aku pasti bertemu anak itu' Batin jaehyun
"Pokoknya tidak mau!" jaehyun meletakkan kue itu di meja makan dan hendak kembali ke kamar, "Antar kue itu atau eomma tidak akan memberimu biaya jajan selama satu semester" ancaman eomma jaehyun memang selalu yang model begitu, jadi mau tidak mau jaehyun mematuhi perintah eomma nya, mengantarkan kue itu dan kembali bertemu dengan si anak buruk rupa.
Tok, tok, tok
Jaehyun mengetuk pintu itu berkali-kali namun tetap saja tidak ada yang membuka pintunya, menyahut pun tidak.
"Permisi" kali ini Jaehyun meninggikan intonasi nya, dan akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sosok dengan rambut yang berantakan dan tubuh mungil nya yang terlihat atletis, jaehyun menahan nafasnya.
"Ehm maaf, apa ini benar kediaman Lee?"
Sosok itu mengusap matanya sebentar, kelihatan nya baru bangun tidur.
"Iya betul, ada apa"
Sosok itu mengangkat wajahnya dan mendapati jaehyun berdiri di depannya dengan sebuah kue dengan ukuran agak besar pada kedua tangan nya.
Jaehyun meneguk ludah nya, nafasnya tercekat tiba-tiba, ia hampir saja terjengkang ke belakang jika ia tidak teringat akan harga dirinya.
"Kau.. Lee Taeyong?"
Pria yang disebut Lee taeyong itu mengangguk dan melempar tatapan tanya pada jaehyun
"Ada yang saya bisa bantu..?" tanya taeyong ragu-ragu, jaehyun langsung menggeleng, "T-tidak, ini aku hanya ingin mengantar kue" jaehyun memberikan kue itu pada taeyong, "Kau tetangga baru ya?" tanya taeyong, "B-bukan, aku—"
"Loh? Jaehyun sudah sampai ya" kata eomma taeyong yang tiba-tiba muncul didepan pintu, eomma taeyong langsung menyuruh jaehyun untuk masuk dan mampir sebentar. Taeyong yang baru sadar kalau roang yang tadi berbicara dengan nya adalah jaehyun hanya menggeram kesal.
"Apa?" tanya taeyong sinis, sejak jaehyun mendudukkan pantatnya di sofa pandangan nya tak pernah lepas sedetik pun dari taeyong, jaehyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau taeyong?" jaehyun masih penasaran apakah benar atau tidak lelaki dihadapannya itu adalah Lee Taeyong tetangga nya, "Menurutmu saja" taeyong berdiri lalu entah pergi kemana.
Sedangkan jaehyun masih perang dengan nurani dan otaknya, jaehyun tidak pernah menyangka bahwa seorang Lee Taeyong akan tumbuh menjadi seorang remaja manis yang mampu membuat jaehyun sesak nafas, padahal jaehyun pikir saat itu tayeong hanya main-main dengan ucapan nya. Lee Taeyong yang jaehyun tau adalah bocah gendut dengan noda coklat disekitar bibirnya yang merupakan tetangga jaehyun sejak jaehyun masih dalam kandungan ibu nya.
"Jaehyun aku mau ikut main!" seru taeyong kecil dengan nyaring, namun jaehyun kecil tidak menganggap keberadaan nya, taeyong memutuskan untuk langsung terjun dalam permainan yang jaehyun mainkan dengan tetangga nya yang lain, "Taeyong menganggu sekali sih! Gendut begitu mana bisa main beginian!" jaehyun mendorong taeyong kemudian taeyong jatuh akibat dorongan jaehyun, taeyong menangis hebat tetapi jaehyun tidak peduli, jaehyun tetap saja sibuk main, "Lihat saja, aku akan jadi lelaki manis saat dewasa nanti!" teriak taeyong yang hanya dianggap omong kosong oleh jaehyun
Waktu terus-menerus berjalan, dan tahun itu, tahun dimana jaehyun dan taeyong berumur sembilan tahun, jaehyun pindah ke Amerika karena ikut ayah nya yang harus pindah melanjutkan pekerjaan disana, dan akhirnya setelah delapan tahun jaehyun menetap di Amerika ia kembali ke Korea dan berencana untuk melanjutkan sekolah tingkat atas nya disini.
"Yak! Mau sampai kapan kau melamun terus?" taeyong mendengus kesal, jaehyun hanya bengong saja daritadi padahal minuman yang taeyong buat sudah nampak di depan matanya, jaehyun tersenyum canggung lalu meneguk minuman nya dalam sekali tenggak bahkan taeyong sampai menatapnya heran.
Jaehyun kembali berperang dengan dirinya sendiri, di satu sisi ia menentang bahwa taeyong terlihat sangat manis dan di satu sisi ingin rasanya jaehyun mencium taeyong karena saking manisnya, jangan salahkan otak jaehyun yang memang sudah ternodai itu. Jaehyun teringat akan ucapan taeyong waktu itu
'Lihat saja, aku akan jadi lelaki manis saat dewasa nanti!'
Iya. Yang itu. Bahkan belum dewasa pun sudah manis duluan pikir jaehyun.
"Kalau sudah habis minuman nya, kau boleh pergi" ucap taeyong dengan maksud mengusir, "Aku masih betah disini" kata jaehyun lalu menyamankan posisi duduknya. Karena merasa tidak senang jaehyun berada dirumahnya taeyong pun kembali mengusir jaehyun dengan menghujam pria bermarga Jung itu dengan tinjuan maut nya yang membuat jaehyun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke rumah.
Jaehyun begitu senang ketika mendapati satu menit lagi jam menunjukkan pukul delapan malam, itu artinya keluarga taeyong sebentar lagi akan sampai dan mereka akan memulai makan malam bersama, tak dapat dipungkiri hati jaehyun bersorak-sorai.
Lebih cepat dari perkiraan, keluarga taeyong sampai lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan, disinilah mereka sekarang ruang makan keluarga Jung, tak lupa keluarga jung dan keluarga lee menyelipkan tawa canda dalam acara makan bersama itu, kecuali taeyong yang daritadi hanya diam dengan memasang wajah masamnya.
Setelah selesai makan jaehyun langsung mencari ide untuk mengajak taeyong berbicara dan memulai hubungan yang baik dengan tetangga nya itu. Eomma jaehyun kebetulan sekali mendukung keadaan.
"Jaehyun bisa ajak taeyong main dulu? Kami harus membahas masalah bisnis, alangkah lebih baiknya para remaja tidak ikut campur" jaehyun tahu eomma nya bermaksud mengusir mereka dengan cara halus kemudian jaehyun langsung mengajak taeyong untuk pergi ke kamarnya yah walaupun sebenarnya mereka belum membangun hubungan antar tetangga yang baik.
"Kau masih suka coklat?" tanya jaehyun yang membuat taeyong memutar matanya kesal, menurutnya pertanyaan jaehyun tersebut tidak bermutu sama sekali
"Jutek sekali sih? Memangnya aku ada salah apa?" taeyong ingin sekali rasanya menguliti lelaki sialan itu yang dengan seenak jidatnya bertanya apa salahnya, tentu saja tak terhitung bagi taeyong
Jaehyun menghela nafasnya, "Saat itu kan kita masih bocah taeyong, mana aku mengerti" ucap jaehyun seenak pantatnya kali ini, "Memangnya kalau pun kau masih bocah kau tidak punya rasa kemanusiaan hah?" omel taeyong, "Memang kau pikir aku tidak sakit hati terus terusan kau ejek gendut? Walaupun saat itu aku gendut harusnya kau tidak begitu, bodoh! Dasar Jung sialan Jaehyun bisanya hanya mengejek ku seenak pantatmu bahkan aku tidak pernah berpikir kau punya pantat!" taeyong melanjutkan omelan nya untuk jaehyun, yang di omeli hanya terkekeh kecil lalu menatap taeyong dengan entah tatapan apa itu, "sssttt, pelan-pelan ngomelnya" jaehyun meletakkan jari telunjuknya didepan bibir, taeyong makin membara bukan nya minta maaf jaehyun malah mengingatkan nya untuk pelan-pelan dalam urusan bacot membacot aka ngomel.
"mati saja kau jaehyun"
"Jangan, nanti kau rindu"
Taeyong membulatkan matanya dengan sempurna, "Apa kau bilang? Rindu? Ugh tidak, terimakasih"
Jaehyun menarik tangan mungil taeyong namun taeyong langsung menarik tangan nya kembali, "APA KAU PEGANG PEGANG HAH MAU AKU TAMPOL?!" pekik taeyong, "Astaga taeyong, kecilkan suaramu" jaehyun berbisik
"Aku hanya ingin minta maaf dan berjabat tangan, jadi masalah kita selesai"
"Minta maaf ya minta maaf saja tidak perlu jabat tangan, tanganku mahal"
Jaehyun mengulas senyum tipisnya, taeyong begitu menggemaskan untuk jaehyun, jaehyun jadi merasa ada beberapa kerusakkan pada otaknya.
"Tidak bisa begitu kita harus berjabat tangan, supaya resmi"
Taeyong mengutuk jaehyun berkali-kali dalam hatinya.
"Berikan tanganmu" perintah jaehyun, taeyong memberikan tangan nya setengah hati
Jaehyun langsung menjabat tangan taeyong, "Maaf ya taeyong kalau aku dulu keterlaluan pada mu, dan juga terimakasih untuk ucapanmu yang tidak main-main itu"
Taeyong bingung, "maksudmu?"
"Kau benar benar telah menjadi seseorang yang manis, bahkan sebelum menginjak umur dewasa"
Blush.
Rona merah sialan itu muncul di kedua pipi taeyong, ia berusaha mati matian menutupi wajahnya yang memerah
'Aku akan menaburi bunga bangkai pada saat pemakaman mu nanti, Jung Jaehyun!' pekik taeyong dalam hati nya.
TBC
a/n : terimakasih sebelumnya untuk yang sudah reviews
mungkin di chapter selanjutnya saya bakal respon satu satu yaa
thankyou :))
