Halo.. Aku kembali lagi ^^ makasih buat kalian yang masih setia nungguin FF ku. Maaf ya kalau ceritanya makin aneh /.\ aku masih suka bingung buat nyari alur yang pas udah gitu sekarang udan mulai sibuk sekolah juga. Kkk~ tapi akhirnya pada part ini bakal ada sesuanu ._. okay tanpa banyak kata lagi :'v silakan membaca ^^

Warning! Only 18 +

Bahasa Frontal, Sex Activity, Yaoi

Ini hari kedua Oh Sehun menjadi baby-sitter Kim Jongin. Pagi-pagi sekali Sehun sudah datang ke rumah Jongin, setidaknya dia harus memeriksa Jongin kalau dia masih hidup. Hanya berjaga-jaga kalau ternyata Jongin mati tersendak tulang ayam misalnya.

Sehun melangkah hati-hati memasuki rumah Jongin, kalau kau bertanya kenapa Sehun bisa masuk ke rumah Jongin jawabannya mudah nyonya Kim sudah mempercayakan Jongin dan rumah nya kepada Sehun.

Sehun berjalan mengendap memasuki rumah itu, samar-samar telinganya menangkap suara Televisi yang masih menyala. Apa Jongin sudah bangun? Sepagi ini? Pikir Sehun. Kaki jenjang Sehun perlahan berjalan memasuki ruang keluarga Jongin. Mata Sehun membulat melihat seonggok daging yang tertidur di sofa ruang keluarga itu dengan posisi yang sangat tidak elit di sekelilingnya ada beberapa bungkus minuman serta bungkus snack honey butter chips kosong yang masih tergeletak dengan berantakan.

Seperti sebuah kaset baru, otak Sehun dengan otomatis berputar kepada kejadian tadi malam. Dimana dirinya terus mendesahkan nama Jongin sembari mengocok penis-nya. Sehun kembali tertegun sesaat, sejujurnya ia masih belum bisa percaya kalau Jongin yang membuatnya terangsang dan mendesah begitu keras tadi malam. Beruntung kedua orang tuanya tengah tidur jadi tidak ada yang mengetahui konser solonya di kamar mandi.

Sehun berjalan mendekati seonggok daging yang tengah tertidur itu. Sehun menggelengkan kepalanya melihat bagaimana wajah Jongin yang tengah terlelap. Mulut Jongin setengah terbuka, bibirnya sedikit basah karena air liur. Jongin juga beberapa kali mengeluarkan igauan pelan yang terdengar seperti desahan di telinga Sehun. Tunggu, desahan? Yang benar saja? Oh Sehun jangan membayangkan itu lagi.

Sehun menelan ludahnya, jangan lagi. Itulah yang ada di pikiran Sehun sekarang, sejujurnya melihat wajah Jongin yang terlelap lebih mirip orang yang tengah di setubuhi. Menurut sehun. Sehun menggelengkan kepalanya. Dengan cepat ia berusaha menghapus pikiran kotornya. "Tidak.. jangan sampai bangun lagi, jangan.." ucap Sehun dalam hati sembari memukul-mukul pelan kepalanya. Entah kenapa ekspresi Jongin begitu menyiksa, walau Sehun akui itu juga terlihat sangat manis.

Mata Sehun menjelajah makin jauh tubuh yang berbalut piyama tipis situ. Berbicara tentang piyama tiba-tiba otak Sehun teringat suatu hal lagi. Bokong Jongin. Bagaimana bokong Jongin yang ikut terhentak naik turun saat Jongin melangkahkan kakinya. Ohh.. Berhenti memikirkan itu Oh Sehun, jangan sampai ereksi lagi. Itulah yang ada di pikiran Sehun sekarang.

Tapi, tunggu..

Mata Sehun menangkap sesuatu. Oh, bukankah itu perut Jongin. Sial.. kenapa piyama Jongin harus tersingkap seperti ini lalu membuat perut rata dan mulus Jongin yang berwarna tan terlihat jelas seperti ini? Aarrgghhh… Aku tak tahan lagi. Sehun frustasi.

Dengan cepat Sehun menyentuh ujung piyama Jongin. Ia berusaha membetulkan piyama Jongin yang terbuka, Sehun tidak ingin berakhir dengan babak belur apalagi sampai penis-nya putus hanya karena ketahuan Jongin tengah memandangi Jongin yang sedang tertidur.

Tapi Jongin sangat indah. Batin Sehun. Tapi tanpa Sehun sadari, seseorang tengah mengumpulkan nyawa sekarang.

Mata Jongin mengerjap perlahan, perlahan-lahan netra matanya menangkap cahaya pagi yang sedikit mengusik tidurnya. Jongin bergumam kecil, entah kenapa pagi ini terasa sedikit aneh. Ia merasa saat tertidur tadi, ia terus merasa seseorang memperhatikannya. Dan sekarang ia merasakan sebuah sentuhan di sekitar perutnya, ia pun merasaka hembusan udara hangat mengenai permukaan kulit perutnya. Seperti nafas seseorang, pikir Jongin.

Jongin perlahan mengucek matanya. Sekarang semuanya menjadi jelas, Jongin membulatkan matanya. Dan…

"Arrrghhhh! Kyaaaa… Bocah mesum! Dasar kau bocah cabul! Berani-beraninya kau mencoba memperkosakuu!" teriak Jongin saat melihat dengan jelas Sehun menyentuh ujung pakaiannya.

Dan pekikan Jongin pagi ini nyaris membuat telinga Sehun tuli mendadak. Selain berteriak-teriak seperti seorang gadis perawan yang akan di perkosa, Jongin langsung memukuli Sehun dengan brutal. Bahkan dengan ganasnya Jongin menjambaki rambut Oh Sehun. Demi Tuhan, Sehun merasa seperti pelaku pemerkosaan sekarang.

"YAA! Kim Jongin! Lepaskan.. arrghhh.. Jongin ini sakit… sudah arrghh! Berhenti memukulku.. Jongin arrgghh!" teriakan Sehun pun ikut membuat gaduh suasana pagi ini, dan Jongin seolah tuli. Ia terus memukuli Sehun sambil sesekali mengumpatinya.

"Berani-beraninya kau! Kau pikir aku ini orang macam apa? Dasar cabul.. kyaa.. akan ku botaki kepala mesum-mu itu Oh Sehun!" Jongin masih belum ternyata, "Yaa! Kau salah.. Arrghhh! Lepaskan dan biarkan aku aww… Jongin.. sakit arghhh! Menjelaskannya.." teriak Sehun saat merasakan tangan Jongin mencubiti bahu dan dadanya.

Perlahan-lahan setelah mendengar teriakan kesakitan Sehun cubitan Jongin mengendur. Jujur Jongin tak tega setelah melihat keadaan Sehun sekarang, rambut berantakan dan beberapa bagian tangannya terlihat merah karena cubitan-nya. Dan Sehun, ia langsung berjalan menjauhi Jongin dengan tatapan waspada. Sebenarnya mahluk apa yang ada di depannya ini, pikir Sehun frustasi.

Jongin pun menatap Sehun tajam lalu dengan cepat ia menutupi dadanya dengan bantal Sofa. "Dasar cabul! Apalagi yang salah? Kau mau memperkosaku kan tadi, bocah maniak gila!" seru Jongin.

Sehun mengusap wajahnya kasar, "Aku tidak melakukan itu Jongin!" seru Sehun frustasi, Jongin menatap Sehun tak percaya. "Lalu apa?" ucap Jongin kemudian.

"Tadi piyama-mu terbuka, aku tak sengaja melihatnya jadi aku berusaha menutupnya." Heol~ batin Jongin. Tidak mungkin bocah cabul itu melakukannya. Ia yakin pasti bocah itu ingin melakukan hal yang iya-iya pada Jongin.

"Aku tak percaya Oh Sehun.. dasar bocah maniak gila!" ucap Jongin kemudian langsung bangkit dari Sofa sembari menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku serius Jongin…" pekik Sehun kemudian, "Tidak, kau bocah cabul… Akan ku laporkan kau pada ibumu jika kau berani menyentuhku lagi." Oceh Jongin kemudian langsung berlari menaiki tangga rumahnya.

Oh, sial. Bokong Jongin terhentak-hentak lagi. Benar-benar mengundang untuk di remas. Dan tanpa Sengaja mata Sehun menangkap pergerakan bokong seksi itu lagi dengan cepat Sehun mengalihkan pandangannya, bagaimana seorang predator seperti Jongin bisa memiliki bokong se-seksi itu. Oh Sehun sepertinya benar-benar butuh kekuatan lebih untuk menghadapi Kim Jongin.

Tiba-tiba langkah kaki Jongin terhenti di anak tangga paling atas. Ia melirik Sehun yang tengah duduk di sofa sembari mengelus-elus tubuh malangnya. "Hei, Sehun." Seru Jongin membuat Sehun mendongakkan kepala. Ia melirik Jongin benar-benar terasa nyeri, sial. "Hnggg~" gumam Sehun.

"Tolong buang semua bungkus snack dan minuman itu, dan tidak ada alasan untuk menolak." Ucap Jongin cepat kemudian langsung masuk ke kamarnya. Sehun menghela nafasnya pasrah. Memang benar-benar butuh kekuatan lebih untuk menghadapi predator seperti Jongin.

Jongin berjalan perlahan menuruni tangga rumahnya, matanya sesekali melirik liar ke berbagai sudut rumahnya sembari berharap kalau bocah maniak gila itu tak ada di rumahnya. Tapi sialnya mata Jongin menangkap dengan jelas objek yang ia hindari itu tengah tertidur di sofa ruang tamunya. Kini gantian Jongin yang menghampiri Sehun perlahan. Bocah itu tengah tertidur dengan wajah tenangnya yang sejujurnya di mata Jongin terlihat tampan.

Setelah memandang wajah Sehun, Jongin mengedarkan pandangannya lagi di sekitar ruang keluarga rumahnya. Terlihat bersih dan rapi. Sehun benar-benar membersihkan semuanya, Jongin menatap ruangan itu dengan cukup kagum. Tiba-tiba saja terbesit sedikit rasa bersalah di hatinya, sepertinya ia cukup keterlaluan sudah menghajar Sehun seperti itu.

Jongin menghela nafasnya pelan, "Maaf, Sehun…" gumam Jongin pelan dan tanpa Jongin sadari ternyata Oh Sehun tak tertidur, sembari masih memejamkan matanya bocah itu tersenyum tipis bahkan sangat tipis begitu mendengar ucapan Jongin sehingga Jongin bahkan tak menyadari senyuman bocah itu.

Jongin menundukkan kepalanya melihat Oh Sehun masih tak bergeming, bibirnya mengerucut dan tanpa sengaja mata Kim Jongin menangkap lebam berwarna merah keunguan di lengan Sehun yang berkulit putih pucat itu, cukup kontras dengan kulit Jongin yang berwarnya bronze. Itu pasti bekas cubitan tadi, pikir Jongin. Membuat Jongin merasa makin bersalah sudah memukuli bocah itu dengan brutal.

Tiba-tiba saja terbesit ide di otak Jongin untuk mengobati Sehun diam-diam, tanpa pikir panjang lagi Jongin langsung bangkit dari duduknya. Jongin berjalan ke arah dapur pelan-pelan. Ia tak ingin membangunkan Sehun, Sehun yang merasa Jongin pergi dari sampingnya perlahan membuka matanya. Ia penasaran.

"Mau apa dia?" gumam Sehun saat melihat Jongin berjinjit mencari sesuatu di atas lemari dapur. Sesekali Jongin mengerucutkan bibirnya, "Dia manis juga…" gumam Sehun lagi sembari tersenyum kecil.

Dan Jongin setelah mendapatkan hal yang ia cari (dengan sedikit kesusahan sebenarnya) langsung mengambil kotak obat itu membuat Sehun yang diam-diam tengah memandangi Jongin langsung gelagapan dan pura-pura tidur lagi, beruntung bagi Sehun karena Jongin tak menyadari aktingnya itu.

Jongin langsung duduk lantai, berhadapan dengan tubuh Sehun yang tengah (pura-pura) tidur di sofa rumahnya. Ia mengambil gel pereda nyeri di kotak obat itu lalu mengusapkannya perlahan pada memar-memar di bagian lengan Sehun. Dingin dan lembutnya permukaan jari Jongin itulah yang Sehun rasakan saat Jongin mengobati lengannya.

Mati-matian Sehun menahan diri untuk tidak tergelak. Ternyata predator seperti Jongin masih punya belas kasihan juga. Dan Jongin, pipi pria itu terasa memerah sekarang. Padahal ia hanya mengobati Sehun, tapi ia merasa pipinya seolah terbakar ketika jarinya menyentuh kulit dingin dan pucat Sehun.

Sehun tak dapat menahannya lagi, "Jangan terlalu fokus memandangiku, Jongin. Jangan terlalu mengagumi ketampanan-ku." Ucap Sehun tiba-tiba kemdian langsung tergelak. Jongin sendiri langsung tersentak. Mata puppy miliknya membulat, ia langsung menarik jarinya yang tengah mengobati Sehun da menjatuhkan gel pereda nyeri di tangannya tanpa sengaja ke lantai.

"Ya! Sialan kau… Mau membuatku mati muda, eoh?" seru Jongin kesal sembari mengerucutkan bibirnya, membuat Sehun diam-diam cukup sulit menelan ludahnya. Pipi Jongin memerah mendengar ucapan Sehun tadi. Hell Yeah, ia hanya memperhatikan wajah sehun yang sedikit tampan hanya sedikit. Sedikit saja kok, sungguh. Pipi Jongin semakin memerah. Dengan cepat ia mengalihkan wajahnya dari Sehun. Apa jadinya kalau Sehun sampai melihat wajahnya yang seperti.

Sedangkan Sehun, bocah itu sedang memasang seringai kecilnya sekarang sembari memandangi Jongin yang duduk di lantai dan mengalihkan wajah serta tatapan matanya dari Oh Sehun.

"Jangan mengelak Jongin." Ucap Sehun yang entah kenapa nadanya terdengar menggoda di telinga Jongin. Jongin merasa pipinya benar panas sekarang, "Ti.. Tidak.. Lelucon macam apa itu?" bantah Jongin sembari masih mengalihkan wajahnya dari Oh Sehun. Sial, kenapa suaraku harus seperti ini? Batin Jongin setengah frustasi.

Oh Sehun sendiri, bocah itu menyeringai makin lebar. Dengan cepat a bangkit dari posisi tidurannya dan duduk di atas sofa, berhadapan dengan Jongin yang tengah duduk di lantai. "Kau tak bisa berbong dari ku, Kim Jongin.. Kkk~" Sehun kemudian terkikik kecil.

Lalu, bagaikan sihir. Tiba-tiba tangan Sehun menyentuh dagu Jongin perlahan. Entah apa yang membuatnya melakukan hal itu, mengabaikan resiko seandainya Jongin akan memukulinya lagi. Ia hanya mngikuti perasaannya sekarang. Kim Jongin terlihat sangat manis jika seperti ini.

Jongin sendiri, pria manis itu pun tak memberontak kali ini. Entah apa yang membuatnya seperti ini, Jongin pun merasa ia hanya harus mengikuti perasaannya sekarang. Jongin merasakan ujung jari dingin Sehun yang menyentuh dagunya lembut, ia mengarahkan wajah Jongin dengan lembut ke arahnya. Membuat mata mereka saling bertatapan sekarang.

Oh Sehun menatap manik mata kecoklatan yang terlihat teduh itu, Kim Jongin pun menatap mata elang Sehun. Semuanya terasa seperti sebuah Samudra sekarang, Kim Jongin dan Oh Sehun sudah tenggelam, bahkan terasa sangat sulit bagi salah satunya untuk naik ke permukaan masing-masing.

Dan bagaikan dua buah kutub magnet, keduanya saling tertarik ke dalam pesona masing-masing. Entah siapa yang memulai, jarak di antara mereka semakin menipis. Oh Sehun menundukkan tubuh jangkungnya. Ia merunduk dan mendekatkan jarak wajahnya dengan Jongin. "Benar-benar manis." Batin Oh Sehun saat kulit kecoklatan di hiasi semburat merah di pipi Jongin semakin jelas, mengingatkan Oh Sehun pada kue coklat di taburi buah Strawberry kesukaannya.

Jongin sendiri, tubuhnya bagaikan terkena sihir. Ia hanya dapat terdiam dan terus memandangi wajah tampan Sehun yang terus mendekat ke arahnya. Sampai akhirnya…

CHUU~

Bibir mereka pun bertemu, Sehun mengecup bibir merah ber-volume itu. Kim Jongin membulatkan matanya saat merasakan bibir tipis Sehun ada di di bibirnya. Tunggu, ini terasa salah bagi Jongin. Jongin benar-benar ingin melepaskan diri, naik ke permukaan dan berhenti tenggelam ke dalam pesona seorang bocah seperti Oh Sehun.

Tapi…

Ia tidak bisa, bahkan ia hanya dapat memejamkan matanya saat Oh Sehun mengelus lembut tengkuknya dan menekannya. Membuat ciuman mereka makin dalam, Sehun melumat bibir sexy itu. Menghisapnya dengan begitu dalam, bibir Jongin terasa seperti madu di dalam mulut Sehun.

Jongin sendiri semakin terhanyut ke dalam ciuman bocah itu, ia tak tau dengan apa yang ia rasakan. Jongin hanya merasa perutnya penuh akan kupu-kupu, terasa menggelitik dan sangat menyenangkan. Dengan mengikuti instingnya, perlahan-lahan Jongin membalas lumatan bibir Sehun. Membalas ciuman bocah albino itu sembari sesekali menggigit kecil bibir bawah Sehun seolah meminta lebih.

Sehun yang merasa telah di respon, Sehun memberanikan diri untuk lebih dalam menjamah bibir itu, perlahan ia menerobos mulut Jongin dan mempertemukan lidah mereka berdua. Menjilat lidah Jongin hati-hati kemudian menyesapnya dengan nikmat. Oh, I am addicted with this lips for the first time I was kiss.

"Eumhh~ Ngghh…" Jongin hanya dapat melenguh kenikmatan. Ia merasa semakin banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya sehingga membuatnya tak dapat menahan diri lagi untuk tidak mendesah. Jongin meremat bahu Sehun membuat Sehun semakin menundukkan tubuhnya.

Dan Oh Sehun, ia merasa semakin menggila setelah mendengar desahan Jongin. Perlahan setelah Jongin merasa kehabisan nafas, Sehun melepaskan ciuman itu dan mengecup pelan bibir Jongin sebelum sepenuhnya melepaskan bibir itu dengan tidak rela sebenarnya. "Eumhhh~" desah Jongin saat tautan bibir mereka terlepas.

Oh shit, desahan itu lagi. Oh Sehun lagi-lagi tak bisa menahan diri. Tanpa pikir panjang Sehun langsung menempelkan bibirnya pada leher Jongin, mengendusi aroma yang keluar dari leher tan itu, aroma yang manis dan membuat Sehun mabuk. Dada Jongin naik turun, membuat Oh Sehun ingin sekali menciumi dada Jongin dan memberikan kissmark-nya di sana. Aku sudah gila. Itulah yang hanya ada di pikiran Sehun sekarang.

Sehun kemudain menjilat leher itu, menghisap kemudian menggigitnya kecil tapi tiba-tiba hal itu membuat Jongin tersadar dari hal ini. Jongin membulatkan matanya, ia kembali ke permukaan ia takut kalau dirinya semakin tenggelam terlalu jauh pada hal ini.

Dengan cepat Jongin menarik tubuhnya menjauhi Sehun dan membuat gigitan Sehun terlepas dari lehernya, Jongin buru-buru bangkit dari duduknya. Menatap Sehun dengan tatapan shock, sungguh ia masih tak percaya Sehun menariknya dan membuatnya tenggelam ke dalam Samudra bocah maniak gila itu.

Bahkan aku masih bisa merasakan ciuman serta setuhannya. Aku pasti gila. Batin Jongin.

Tanpa sepatah kata Jongin pun langsung membalikan tubuhnya dan pergi dari hadapan Sehun, Jongin berlari menaiki anak tangga dengan jantung berdebar. Pipinya kembali memerah. Ini gila, sangat gila. Sialnya, karena hal itu Oh Sehun berhasil memenuhi isi otaknya.

Dan Oh Sehun kini hanya dapat menatap tubuh Jongin yang berlari tergesa-gesa di anak tangga lalu menghilang di balik pintu kamarnya. Jongin bersembunyi lagi. Oh Sehun tersenyum kecil, satu hal yang ia sadari setelah kejadian ini. Kim Jongin perlahan-lahan merubuhkan benteng pertahanannya.

Kyaaa.. maaf kalau FF nya kurang memuaskan . aku takut kurang ada feel di chapter kali ini, maaf juga Cuma bisa bikin kisscene nya dulu gomen~ /.\ Jangan timpukin aku karena belum bisa bikin ehem-ehemnya.

Tapi aku usahain di chapter selanjutnya ada, aku minta maaf lagi kalau ceritanya makin aneh. Makasih juga buat yang udah sabar nunggu dan ngasih review, aku Cuma berharap kalau kalian ga bosen sama FF ini. Oh ya, jangan lupa kasih review buat kritik dan sarannya ^^

Terimakasih ^3^)/