Pertama-tama LutfiyaR mau berterima kasih kepada yang sudah mau mereview, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya!
Rin disini tidak ada bedanya dengan Rin di Anime. Jadi wajar saja gak ada yang percaya. Lihat aja suara sama tingkah lakunya. Sama sekali tidak seperti wanita.
Ngomong-ngomong kalau dipikir-pikir dibuat fanfic bahasa inggris memang lebih bagus karena ada perbedaan penyebutan 'dia' yaitu 'he' dan 'she'. Sayangnya, LutfiyaR tidak pintar bahasa inggris :(.
~o~o~o~
Disclaimer : I do not own Ao No Exorcist
~o~o~o~
"Nii-san!" Yukio menopang tubuh kakaknya yang terluka parah. Darah membasahi seragamnya. Kelihatannya Shura telah menusuk lengannya.
"Yukio, obatilah dia."
"..."
"Ada apa? Kenapa kau diam saja?"
"Aku akan menghubungi kenalanku untuk mengobati lukanya," Yukio meraih handphonenya. Sebuah tangan mencegahnya.
"Kau ingin menjadi dokter, kan? Apa kau tidak tau cara merawat kakakmu sendiri?"
"Shura..." Yukio menghela nafas. "Jika aku harus merawat luka di lengan Nii-san berarti aku harus membuka bajunya. Aku tidak bisa melakukan itu."
"Kenapa tidak?"
"Karena Nii-san adalah seorang wanita."
"Kusarankan kau membeli kacamata baru."
"Aku serius, Shura!"
Shura sepertinya memahami keseriusannya. Dia menatap Rin dengan pandangan meneliti.
"Apakah itu benar?"
"Yah..." Rin memalingkan muka. Wajahnya memerah malu. "Itu memang benar."
"Aku masih tidak percaya. Jika kau memang wanita, jawab pertanyaanku. Kenapa kau selalu mengenakan baju laki-laki?"
"Lagi?" Rin memutar mata lelah. "Kau menanyakan pertanyaan yang sama persis dengan Yukio. Apa kalian sudah berencana untuk membuatku kesal sebelumnya?"
"Maksudmu Yukio juga tidak menyadari bahwa kau adalah wanita?" Tatapan Shura berpindah antara Yukio dan Rin. Dia tertawa keras. Rin menggembungkan pipinya kesal.
"Sudahlah, lupakan saja. Tidak penting apa aku ini seorang wanita atau tidak."
"Ya, maaf, maaf. Tapi, kurasa kau tidak buruk juga jika mencoba berpakaian seperti wanita. Aku bisa mengajarimu kalau kau mau."
Wajah Yukio langsung memucat. Bayangan Rin yang berpakaian terbuka seperti Shura dengan diikuti banyak tatapan laki-laki berputar-putar di kepalanya.
"Tidak akan kubiarkan! Nii-san sama sekali tidak punya masalah berpakaian seperti laki-laki!"
Yukio menyilangkan tangan, sama sekali tidak setuju dengan saran Shura. Dia akan melindungi Rin. Baik itu dari iblis maupun laki-laki mesum yang menginginkan kakaknya.
"Menjauhlah dari kakakku, Shura!"
"Baik, baik, aku mengerti. Ngomong-ngomong, jika kau tidak segera menyembuhkan luka kakakmu, aku tidak bisa menjamin keselamatannya."
Yukio menoleh kearah Rin. Benar saja. Tubuhnya terlihat lemas dan tidak bertenaga.
"B-bertahanlah, Nii-san!"
Sementara Yukio mengirim pesan kepada kenalan yang dimaksud, Shura berdiri di sebelah Rin dan mengamatinya seakan dia objek yang menarik.
"Dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita. Apa kau yakin dia benar-benar wanita bukannya laki-laki pengidap penyakit delusional?"
"Hei, aku bisa mendengarmu. Aku tidak tau mana yang lebih buruk, disebut wanita transgender atau laki-laki pengidap penyakit delusional," Rin memutar mata. "Apa aku perlu membuka bajuku agar kau puas?"
"Yah, maaf, hanya saja selama ini aku memperhatikanmu belajar di Juku, tidak satu kalipun aku mencurigaimu sebagai seorang wanita. Ini membuatmu lebih spesial, kau tau?"
"Apa maksudmu?"
"Kau adalah anak Satan yang hidup di Assiah dan tidak hanya itu saja. Kau adalah satu-satunya anak perempuannya."
"Itu tidak membuatku lebih baik."
"Aku mengatakan itu memang bukan untuk membuatmu lebih baik."
Rin menggeram marah dan itu adalah akhir dari percakapan Apakah-kau-benar-benar-wanita-? diantara mereka.
~o~o~o~
A/N : Please Give Me Your Review!
