YOUR BODYGUARD

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto-Hinata slight Kiba-Hinata

Genre: Romance/Fluff

Rated: T

A/N: typo(s), OOC, terinspirasi dari K-Drama DOTS, Bold Italic (Isi Chat), Bold (flashback) dan semua kesalahan yang tidak disengaja lainnya.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

"Dia perempuan atau laki-laki?"

"Laki-laki."

"Ah, aku tidak mau bantu," jawab Naruto pura-pura kesal.

"Ke-kenapa?"

"Kalau nanti kau jatuh cinta padanya bagaimana? Aku tidak mau," jawab Naruto lagi.

Hinata terdiam, apa maksud ucapan pemuda disampingnya ini? Apa Naruto cemburu? Ah.. ternyata pemuda itu sudah suka ya padanya. Ada perasaan senang dihatinya saat itu juga.

"Kalau aku jatuh cinta padanya, ya itu artinya kau harus berjuang keras untuk membuatku jatuh cinta padamu," kata Hinata sambil bersemu merah.

.

.

Neng Nia Present

.

.

Hinata kini sedang berada di ruangan kerja sang senior, Shizune. Gadis itu baru beres menggantikan Dokter lain yang seharusnya melakukan operasi sore ini, hasilnya jadi gadis cantik itu terlambat untuk pulang.

"Bagaimana hubunganmu dengan si kapten?" tanya Shizune seraya menaruh minuman hangat di mejanya.

Hinata menopang dagu, mata lavendernya memperhatikan gelas minumannya. "Hubungan apa?"

"Kau selalu diantar olehnya, masa kalian tidak ada hubungan?"

Hinata merubah posisinya, kini gadis itu menaruh kepalanya di meja. Dia juga bingung apa hubungannya sekarang? Setelah obrolan tadi pagi dalam mobil. Ah, kenapa dia mengatakan itu? "Aku tidak tahu, Shizune-nee."

"Memangnya kau tidak menyukainya?"

"Entahlah, aku bingung..."

"Bingung kenapa lagi? Ah, apa kau mulai menyukai Kiba ya?"

Hinata menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "tidak, enak saja. Aku terjebak oleh dua cowok keren, shizune-nee," jawab Hinata kini meraih gelasnya.

"Dua? Satu lagi Kiba?"

"Bu-bukan," ucap Hinata sambil mengibaskan tangannya.

"Berceritalah yang jelas, Hinata-chan."

Hinata tersenyum, "iya maaf."

.

.

Naruto keluar dari mobilnya, pemuda itu menghampiri seorang gadis yang hampir seminggu ini tak ditemuinya. Sahabatnya, Sakura. Dia bisa melihat Sakura memperhatikannya, gadis berambut pink itu menghentikan kerjaannya, dan menghampiri Naruto.

"Hai, bagaimana kabarmu Naruto?"

"Baik, maaf aku baru menemui. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Naruto yang kini sudah tidak canggung lagi, setelah putusnya hubungan mereka sebagai kekasih.

"Aku sangat baik, apa kau mau minum teh hangat?" tanya Sakura.

"Boleh," jawab Naruto singkat.

.

.

Naruto dan Sakura kini sedang berada di sebuah caffe, menikmati minuman yang mereka pesan.

"Aku rindu saat kita berkumpul bersama, Naruto."

Naruto mengangguk, "ya, sekarang Shikamaru dan Sasuke entah dimana. Belum ada kabar juga dari mereka sampai saat ini," jawab Naruto sambil melirik kaca caffe. Hari mulai malam, dan dia belum mendapat intruksi harus menjemput Hinata jam berapa.

"Apa mereka baik-baik saja ya?"

"Semoga, semoga mereka baik-baik saja."

"Bagaimana tugasmu? Kudengar kau misi gabungan beberapa hari kemarin," tanya Sakura mengganti topik, karena terlalu sakit jika harus mengingat Sasuke.

"Lancar, tidak ada yang terluka."

"Syukurlah," balas Sakura sambil tersenyum.

.

.

Hinata baru saja keluar dari kantin ketika dia melihat seorang pemuda yang tidak mau ditemuinya sedang berdiri di tangga. Gadis itu menghela nafas, lalu melanjutkan perjalanannya.

"Tidak mau menyapaku, Hinata-chan?" Ucap Kiba seraya memegang tangan kanan Hinata.

Hinata mencoba melepaskan tangan Kiba, namun pegangan pemuda itu terlalu kuat. "Lepaskan tanganku, Kiba."

"Apa ini perintah?"

Hinata meringis kesakitan karena pegangan Kiba semakin kuat. Aduh, kemana teman-temannya disaat seperti ini? "Kau mau aku berteriak?"

"Berteriaklah, tidak akan ada yang mau menolongmu."

"Ada," tangan seseorang melepaskan tangan Kiba dari Hinata. "Aku yang akan menolongnya," lanjutnya dengan tatapan sinis.

"Na-Naruto.."

Naruto tersenyum pada Hinata, dan memeriksa pergelangan tangan sang Gadis. "Maaf, aku terlambat."

"Ti-tidak apa," ucap Hinata lalu menarik tangannya dari Naruto. "Jangan bikin keributan di sini ya, Naruto," ucap Hinata berbisik.

Naruto menghembuskan nafas, "ya, tidak akan." Pemuda itu menatap Kiba dengan tajam, "kau pulanglah, jika tidak mau mengalami patah tulang."

Hinata nyaris terkekeh mendengar kalimat sang Kapten, ah pemuda yang satu ini selain percaya diri dan konyol, ternyata bisa tegas dan menakutkan juga.

.

.

Minato menutup pintu ruang kerjanya setelah sang anak memasuki ruangan tersebut. Pria yang merupakan seorang Kepala Kemiliteran itu menatap sang anak yang kini sedang berdiri tak jauh darinya. "Ada alasan lain sebenarnya, kenapa Otousan memilihmu untuk menjaga Hinata."

"Alasan lain?" Ulang Naruto yang memang tidak mengerti.

Minato tersenyum, "untuk alasan lain itu belum bisa Otousan katakan. Tapi, yang lebih penting adalah, kau harus menjaga Hinata-chan dari pengantin laki-laki yang Hinata-chan tinggalkan di Gereja."

Naruto tak mengatakan apapun, pemuda itu hanya fokus pada cerita sang ayah. Ternyata, pengantin laki-laki yang ditinggalkan Dokter cantik itu merupakan salah satu tangan kanan dari Gangster yang belum bisa ditangkap kepolisian Jepang. Kiba sendiri, adalah anak dari pengusaha terkenal di Jepang.

.

.

"Yang tadi itu, pengantinmu'kan?" Tanya Naruto yang kini sedang berada dalam lift bersama sang Dokter Bedah Rumah Sakit Konoha itu.

Hinata tidak aneh kalau sang Bodyguard serba tahu tentang apa yang dirahasiakannya. "Ya," jawabnya singkat.

"Kenapa kau meninggalkannya?"

Hinata menoleh pada pemuda berambut pirang disampingnya yang terus memperhatikan angka di dalam lift. "Kalau aku tidak meninggalkannya, aku tidak akan bertemu denganmu."

Naruto tersenyum sekilas, gadis ini benar-benar menyenangkan. Naruto menoleh balik pada gadis yang masih memperhatikannya. "Mau pergi nonton denganku malam ini?"

"Apakah ini ajakan kencan, Kapten?"

"Hm... terserah kau mau menyebutnya apa," balas Naruto enteng.

Hinata tersenyum, "aku menolak."

Naruto menghela nafas, "ah.. haruskah aku mengucapkan ini dulu padamu, Hime?"

Hinata mengerutkan dahinya.

"Mau kah kau jadi pacarku?" Tanya Naruto sambil menatap sang Gadis yang kini terlihat kaget. Naruto mengalihkan pandangannya, "ah.. kita bukan anak remaja lagi yang harus mengucapkan hal seperti itu," lanjut Naruto sambil bersandar pada dinding lift tersebut. "Atau, jangan-jangan kau mulai menyukai laki-laki yang menolongmu saat kabur ya? Ah... sainganku cukup berat ternyata."

Hinata tidak bisa berbicara apa-apa, pemuda disampingnya ini benar-benar santai dan, apa yang dikatakannya mengakibatkan jantung Dokter cantik ini berdebar tidak teratur. Oh Tuhan, apa yang harus dia lakukan?

.

.

Hinata turun dari mobil Naruto, saat Naruto akan kembali melajukan mobilnya, Kepala Pelayan Mansion Hyuuga keluar dan menahan kepergian Naruto.

"Namikaze-san, tolong jangan pulang dulu. Tuan ingin bertemu denganmu," ucap Kepala Pelayan yang bermata merah. Kurenai Yuuhi.

Naruto mengangguk, lalu keluar mobil. Pemuda itu menatap Hinata yang masih berdiri, "ayo kita masuk," ajak Naruto pada gadis berambut indigo itu.

.

.

"Baru kali ini ya kita bertemu langsung?" Tanya Hiashi sambil memperhatikan pemuda yang duduk di depannya. Pemuda dengan perawakan ideal dan wajah yang jauh dari kata jelek.

"Iya, saat saya pertama kesini bersama Kakashi-san, anda sedang keluar kota," balas Naruto ramah pada pria yang sepertinya lebih tua 3 atau 4 tahun dari ayahnya.

Sementara itu di kamar Hinata, ada Tenten dan juga Hanabi disana. Hinata baru beres mandi saat itu.

"Kira-kira apa yang Otousama bicarakan dengan Naruto ya?" Pikir Hinata sambil duduk dikursi rias.

"Sepertinya, Otousama sedang melamar Naruto-san hehehe," goda Hanabi, dan hal itu membuat Hinata memerah. Ah, semenjak obrolan dalam lift itu, hati si Gadis mulai tidak tenang.

"Sepertinya, Naruto-kun tidak keberatan jika dilamar oleh Otousama," timpal Tenten. "Naruto-kun, sepertinya sangat menyukaimu, Hinata," lanjut Tenten sambil tersenyum pada gadis yang sedang menyisir rambut.

.

.

Keesokan harinya, Naruto yang baru selesai membuat roti bakar kini meraih Hp-nya yang dia letakan dekat TV. Naruto mengernyitkan dahi ketika melihat ada chat dari sang Dokter, tumben.

"Masih sarapan?"

Naruto sedikit berpikir, lalu mengetik balasannya.

"Aku baru beres mandi. Masih telanjang."

Hinata nyaris memuntahkan susu cokelatnya saat membaca balasan chat dari sang Bodyguard. Ah, dasar mesum. Belum juga membalas, Hinata sudah mendapat chat baru.

"Mau lihat buktinya kalau aku masih telanjang? Mau aku kirimkan photonya, Hime?"

Naruto tersenyum ketika mendapat balasan yang begitu kilat dari Hinata. Tangan kiri sang Kapten mengambil teh manis hangatnya, dan jarinya mengetik sesuatu.

"Hei, kalau kau bertemu dengan penolongmu itu, apa yang akan kau lakukan padanya?"

"Pergi nonton, pergi makan, pokoknya aku akan berkencan dengannya."

" Memangnya dia akan mau?"

Hinata melap bibirnya, lalu gadis itu pamit pada keluarganya karena sudah selesai sarapan. Menghiraukan tatapan aneh dari sang ayah, kakak, dan adiknya karena dia tak lepas dari Hp selama sarapan, Hinata berjalan menuju kamarnya, untuk bersiap-siap ke Rumah Sakit Konoha. Hinata mengetik balasan chat sang Kapten.

"Aku yakin dia mau, mana ada yang menolak Dokter cantik sepertiku?"

"Kau sungguh tidak berperasaan."

Hinata tersenyum, "maksudmu?"

"Aku cemburu."

.

.

Naruto menyetir dengan santai, matanya sesekali melirik gadis yang duduk disisinya. Gadis itu mengenakan celana putih dengan atasan kemeja berwarna krem, lalu sebuah bando menghiasi rambutnya yang tergerai, bando berwarna putih senada dengan celana panjang yang dikenakan Hinata.

"Aku cantik ya?" Tanya Hinata yang sadar tengah diperhatikan.

"Ya, kau memang cantik," jawab Naruto jujur dan tulus. "Oh ya, kapan kau akan mengakui perasaanmu padaku?"

"Pe-perasaan apa?"

Naruto tersenyum, "kalau Hinata-hime menyukai Kapten muda ini."

.

.

Setelah melakukan perjalanan selama 30 menit, kini Hinata dan Naruto sudah sampai di depan Rumah Sakit Konoha. Hinatapun turun dari sedan milik Naruto, "bawakan pemuda itu ya, Kapten."

"Beritahu dulu, ciri-ciri motornya seperti apa, dan warna helmnya apa?" Tanya Naruto pura-pura tidak tahu.

"Motornya Ducati Hitam dengan sedikit corak warna orange, lalu... ng.. helm-nya warna hitam juga ada gambar rubah dengan ekor sembilannya kalau tidak salah," jelas Hinata seraya mengingat.

"Plat nomornya?"

" Tidak tahu hehehe."

Naruto tersenyum, gadis ini ternyata masih ingat dengan motor dan helm-nya. "Baiklah nanti akan aku bawakan semua photo motor dengan merk itu yang sudah terdata di kepolisian, ok?"

Hinata mengacungkan jempol, "ok."

.

.

Mobil sedan Naruto terhenti, ketika dijalanan sepi dia dihadang oleh sebuah mobil jeep. Pemuda yang sudah memiliki 3 bintang di pundakseragam militenya ini, keluar dari mobilnya. Perasaannya mulai tidak enak.

4 pemuda lain turun dari Jeep tersebut, dari perawakan mereka sepertinya mereka sering berkelahi. Ah, ada tato juga di bahu salah satu pemuda yang mengenakan kaos tanpa lengan. Mata Naruto melirik pada seorang Pemuda yang hanya bersandar pada mobilnya, yaitu Inuzuka Kiba. Sepertinya pemuda yang kini berdiri tak jauh dari Naruto adalah suruhan atau anggota Gangster yang menaungi Kiba.

"Apa kau ingin lari dari kami, hei Pirang," ejek Kiba dengan santainya.

Naruto tersenyum sinis, pemuda yang saat ini mengenakan kaos lengan panjang itu menggulung kaos bagian lengannya sebatas sikut. "Seharusnya kalian yang lari dariku, Tuan Inuzuka."

"Ck, habisi dia," perintah Kiba santai lalu mengeluarkan sebatang rokok.

Tiga pemuda didepan Naruto menyerang secara bersamaan, namun jangan panggil Kapten jika dia tidak bisa mengelak bahkan memukul perut salah satu 3 brandal yang menyerangnya. Naruto hanya berdoa, kalau mereka tidak membawa senjata. Itu akan sangat merepotkan baginya. Ah, apalagi jika dia harus membuat laporan karena telah menggunakan pistol yang selalu dibawanya.

Bugh! Satu serangan mendarat pada pipi brandal yang bertato. Ketika tangan kanan Naruto ditahan oleh sikena pukulan, kaki kirinya langsung menendang salah seorang yang nyaris menyerangnya dari belakang. Dan sebuah pukulanpun dari teman si Brandal mendarat pada hidung brandal yang tengah menahan tangan kanan Naruto.

.

.

Hinata berlari tergesa-gesa pada mobil ambulance yang baru saja datang. "Kenapa pasien ini?"

"Dia korban kecelakaan mobil, " ucap suster yang tengah membantu si sopir mengeluarkan pasien dari mobil.

"Ayo kita harus segera cepat," kata Hinata seraya membantu si suster mendorong pasien menuju ruang UGD. "Sepertinya dia mengalami patah tulang dalam, siapkan CT Scan untuk pasien ini," ucap Hinata lagi pada Ino yang baru saja menghampirinya.

"Siap," balas Ino cepat.

.

.

Naruto menaruh beberapa photo dimeja sang Komandan, photo yang dia ambil setelah si 3 Brandal dijebloskan ke penjara, sementara Kiba? Pemuda itu hanya bisa kabur dengan mobil Jeep-nya. Naruto tidak melaporkan masalah Kiba pada Polisi, dia hanya memberi laporan telah dihadang brandalan saat perjalanan pulang.

Kakashi meraih photo tersebut. "Jadi ini beberapa anggota Gangster yang menaungi Kiba?"

"Ya, apa Komandan tahu nama Gangster mereka?" Tanya Naruto yang lupa tidak bertanya pada sang ayah beberapa waktu yang lalu.

"Akatsuki, itu nama mereka. Pihak kepolisian atau kita, belum tahu siapa ketua mereka. Hanya baru diketahui kalau Kiba-lah tangan kanan mereka."

"Bagaimana dengan keluarga Inuzuka?"

Kakashi menghelanfas, "sepertinya mereka juga menggunakan jasa Akatsuki, entahlah, belum diselidiki lagi."

.

.

"Lanjutkan jahitannya, Sora," ucap Hinata pada Dokter Magang yang mengikuti operasi saat ini. Hinata meninggalkan ruang operasi, gadis itu membuka masker dan membuang sarung tangan operasinya. "Aku harus ke toilet dulu, sepertinya," ucapnya dalam hati lalu berjalan menjauhi ruang operasi.

.

.

Malam pun telah tiba, Naruto berdiri didepan lemari bajunya, atau lebih tepatnya dia sedang bercermin. Tiba-tiba Hp-nya berbunyi, pemuda itu segera meraih Hp-nya dan melihat chat yang masuk.

"Sudah dapat photo-photo motornya?"

Naruto mengerutkan dahi, gadis ini benar-benar to the point tanpa basa basi. Naruto pun mengetik sesuatu seraya mengirim photo beberapa motor. Tidak lama, pemuda itu mendapat balasan.

"Photo yang terakhir yang benar, apa kau sudah bertemu dengannya?"

Naruto langsung menelepon Hinata, dia terlalu malas untuk mengetik. Telephone pun diangkat.

"Bersiap-siaplah, kau akan berkencan dengannya malam ini. Dia akan menjemputmu, Ibu Dokter."

"Be-benarkah?"

"Hn."

"A-apa kau tidak apa-apa?"

Naruto tersenyum, ya walaupun si gadis tak akan melihat senyumannya. "Yang jelas, kau akan menyesal." Belum juga Naruto mendengar jawaban sang Gadis, pemuda itu langsung menutup telephonenya. Pemuda itu kembali bercermin, sepertinya dia memang pantas memakai pakaian apapun. Selalu terlihat Keren.

"Saatnya pergi."

.

.

To Be Continued

.

.