Peringatan: This fanfiction contains YAOI-ness in some chapters. The rest may have slight slash or just shonen-ai like this one (????). Not all chapters contained boys-love scenes. Some were clear from it, like this one. And the rest may contain girls-love scenes.
This chapter was rated K+.
Setting: Alternate Universe. Kejadiannya sama dengan di cerita utama Death Note, cuma saya tambahin macam-macam yang mustahil ada di versi aslinya, misal: keberadaan fandom death note di fanfiction . net
Setting waktu utama: masa di dalam 4 tahun kosong setelah kematian L sebelum kemunculan SPK.
Disclaimer: Death Note dan semua tokohnya bukan milik saya.
Chapter 4
Jatuh.
Tidak, tidak, tidak, tidak. Tidak.
Tidak jatuh. Tidak jatuh. Tidak jatuh.
….
Memang jatuh.
Misa menatap lantai penuh rasa sesal dan takut. Hatinya dipenuhi penyangkalan. Seharusnya ini tak terjadi, hal mengerikan semacam ini seharusnya tak terjadi. Tetapi hal ini benar-benar terjadi. Ia telah melakukannya–walau ia melakukannya diluar kesadarannya–dan ia sama sekali tak siap menanggung konsekuensinya.
"Misa tak bermaksud melakukannya," ucap Misa berulang-ulang, berusaha meyakinkan udara kosong dan dirinya sendiri. Air mata menggenangi pelupuk matanya sebelum tiba-tiba kedua matanya menghentak terbuka—terkejut menyadari kenyataan yang akan dihadapkan padanya. "Se-sebelum ada yang datang… Mi-Misa harus segera kabur…."
Warna merah mewarnai lantai marmer putih, menyala terang. Baunya memenuhi ruangan, manis sekaligus memualkan. Beling-beling berserakan di antara warna merah itu–ketajamannya tak berubah walau beningnya telah ternoda merah.
O, ia tak akan selamat bila tak segera kabur!
\-(--)-/
Misa menatap layar laptopnya girang, berdebar-debar dan penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya di fanfic itu. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya, berteriak menuntut jawaban. Apa yang telah Misa lakukan di fanfic itu? Apakah Misa membunuh seseorang dengan senjata tajam? Tak mungkin Misa membunuh Light, kan? Walau hanya fiksi, Misa tetap tak pernah bisa membayangkan dirinya membunuh Raito–itu adalah hal paling mustahil yang dapat terjadi dalam hidupnya.
/-(--)-\
Krieet, krieet….
Misa menoleh ke arah pintu nyaris panik. Wajah gadis itu pucat pasi. Ia tak boleh tertangkap. Apapun yang terjadi, ia akan kabur dan selamat.
Krieet….
Suara aneh itu muncul lagi, suara jeritan tangga kayu yang telah lapuk dimakan waktu.
Misa siap berlari. Masalahnya, ia tak tahu ke mana ia harus pergi. Ia telah melakukan hal yang tak termaafkan, ia tak punya keberanian untuk tetap tinggal dan mengakuinya lalu tiba-tiba kehilangan kepala, dan Misa tidak bercanda soal kehilangan kepala.
Krieet….
Lagi, suaranya semakin keras, semakin mendekat. Misa semakin ketakutan. Di manakah ia bisa bersembunyi? Cepat, cepat!, teriak Misa dalam hati.
Krieet….
Deritan yang keenam. Satu anak tangga dan lima langkah lagi sebelum mencapai ruangan tempat Misa berada.
Krieet.
Habislah semuanya…, pikir Misa pasrah. Misa memang bersalah… maafkan Misa, Light. Misa… Misa….
Tap.
Satu detik terasa seperti satu jam. Bedanya, Misa tak dapat bergerak sama sekali dalam waktu satu jam tersebut.
Tap.
Misa menahan napasnya dan menggigit bibir.
Tap.
Jantungnya melompat-lompat, menghantam sekitarnya. Debarannya terlalu kencang dan Misa tak akan heran bila tiba-tiba jantungnya berhenti berdetak.
Tap.
Tidak. Tidak. Tidak.
Tap.
Ckreek… suara pintu dibuka. Dan di sana, di ambang pintu, berdiri sesosok manusia.
Misa mau pingsan ketika melihat sosok itu. Ya, Misa mau pingsan sekaligus menjerit pada saat bersamaan.
"Misa-san?"
Pemilik suara itu–seorang lelaki muda–menatap wajah Misa yang dibanjiri air mata lekat-lekat. Misa semakin ingin menjerit, tetapi menjerit tak akan menghasilkan sesuatu yang bagus untuknya, mungkin malah mempercepat hukumannya. Gadis itu membeku di tempat, tak berani bergerak seakan satu gerakan kecil darinya saja dapat meruntuhkan dunia.
Lelaki itu menyadari keanehan pada diri Misa, ketakutan yang berlebihan dari gadis itu membuatnya semakin penasaran mengenai apa yang terjadi. Ia menoleh ke lantai di sebelah kanan Misa dan dalam waktu kurang dari satu detik, ia menemukan jawabannya.
Mata besarnya membelalak dan bila Misa sedang tak berada dalam posisi yang berbahaya ini, gadis itu pasti sudah bertanya-tanya bagaimana mungkin kedua bola mata itu belum keluar dari rongga mereka.
"Misa-san…," lelaki itu kembali memanggil gadis pirang di hadapannya. Ekspresinya tak dapat Misa lihat karena wajahnya menatap lantai di sebelah kaki gadis itu, dimana korban sekaligus barang bukti tergeletak mengenaskan. Tetapi dari suaranya, Misa tahu ini semua akan berubah menjadi sangat amat buruk seperti yang ia perkirakan.
"Apa yang kau lakukan," lelaki itu bertanya, kali ini dengan nada geram dan mempersalahkan, "padanya?"
"Mi, Misa…," Misa kehilangan kata-kata, tak tahu harus menjawab apa. Semua kata yang terucap dari bibirnya akan digunakan untuk melawannya, Misa tahu itu. Untuk urusan hidup-mati seperti ini, gadis itu memiliki kepekaan yang bagus akan situasi.
"Padahal kukira kau mencintainya," ucap si lelaki menuduh tajam. "Aku percaya padamu, dan sekarang apa yang kau lakukan padanya? Kau menghancurkannya, membunuhnya."
"Misa tak bermaksud begitu. Misa… sungguh…," Misa berusaha keras menahan tangisnya, dan di sela isakannya terlontar kata-kata penyesalan dari bibirnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau harus menanggung resikonya," kecam si lelaki. Ia memandang sedih ke lantai marmer yang ternoda warna merah, dimana yang sangat disayanginya tergeletak tak berdaya, tak bernyawa.
"Hu hiks," Misa tersedu sedan, berusaha menyuarakan penyesalannya lagi. "Mi, Misa… akan menanggung hukumannya. Ryuzaki-san boleh menghukum Misa. Karena Misa telah membunuh… membunuh…."
Ryuzaki melangkah maju. Misa masih tak bergerak, ia tahu ia tak bisa kabur dan tak boleh kabur. Ia telah melakukan hal yang tak termaafkan, ia akan menjalani hukumannya.
Beling-beling di lantai menimbulkan suara-suara kecil ketika saling bertabrakan, terdorong tangan Ryuzaki yang mencari beling terbesar di antara mereka. Ketika lelaki itu mendapatkannya, Misa menutup matanya erat, ketakutan yang hebat menjalari tubuhnya.
Maafkan Misa, Light…, batin Misa. Misa tak akan ada di sana ketika Light menjadi dewa di dunia impian kita berdua….
Tepat 15 inchi sebelum beling di tangan Ryuzaki mendarat di jantung Misa, seorang lelaki berambut sewarna karamel memukul daun pintu keras-keras dalam usahanya menghentikan Ryuzaki membunuh sang gadis.
"Misa!" panggil Light terengah-engah, nyaris seperti perintah. Tenaganya nyaris terkuras habis karena ia telah berlari dari lantai 12a ke lantai 22 melalui anak-anak tangga yang tak henti-hentinya menderit setiap ia menapaki mereka–menunggu lift turun telah habis memakan kesabarannya–demi menyelamatkan Misa. Gadis yang dipanggil olehnya membuka kedua mata dan berlari menghambur ke pelukan kekasihnya.
Dari belakang lelaki tampan itu, muncul seorang lelaki muda yang lain, berambut kelam dan berantakan. Mata besarnya membulat, menatap seantero ruangan, menyelidik.
"B, kali ini kau sudah keterlaluan," ucap si lelaki yang baru muncul itu–L. "Atas tuduhan percobaan pembunuhan, kau ditangkap dan akan dipulangkan ke penjara California dua hari lebih cepat. Anggap saja pembicaraan akan keringanan hukuman kemarin tak pernah ada."
"Tunggu, L," Ryuzaki–B–mencoba memberi penjelasan yang masuk akal, setidaknya cukup masuk akal baginya. "Apa yang telah anak perempuan itu lakukan benar-benar tak termaafkan. Coba kau lihat apa yang telah dia lakukan."
L menatap lekat beling-beling di lantai dekat kaki B, wajahnya menyiratkan rasa kasihan dan kepedihan yang luar biasa.
"Misa-san akan mendapatkan hukumannya sendiri," ucap L akhirnya.
L dan Light menyingkir dari ambang pintu, membiarkan anggota kepolisian Jepang mengambil alih situasi dan mengamankan sang pelaku pembunuhan berantai yang sempat menggemparkan kota para malaikat, Los Angeles, dua tahun yang lalu.
"L, maksudku, Ryuga," panggil Light setelah Beyond Birthday dibawa–lebih tepatnya diikuti–oleh para polisi menuju ruang isolasi bawah tanah. "Aku tahu Misa telah melakukan hal yang tak termaafkan. Dia memang harus dihukum, tetapi… tetap saja, haruskah kita membawa Misa ke pengadilan?"
"Tentu, Light-kun," jawab L mantap. Di wajahnya tersirat kepedihan yang besar. "Malang sekali sang korban tindakan Misa-san…. Tetapi kejahatan tetap kejahatan, Misa-san telah melakukannya dan ia akan ditindak atas perbuatannya itu."
"Tetapi, Ryuga," Light menatap Misa yang pingsan di dekapannya, "bagaimanapun juga… perlukah kau menggunakan kuasa hukum pada seorang gadis berusia dua puluh tahun hanya karena ia memecahkan sebuah toples berisi selai stroberi?"
"Ya, perlu, Light-kun," jawab L dengan wajah serius. "Membuang-buang makanan terlebih lagi makanan manis dan merupakan barang bukti suatu kasus adalah sebuah pelanggaran yang sangat amat berat di gedung ini. Kau seharusnya paling tahu itu setelah saya dan Watari. Dan hukumannya sangat amat berat."
Mendengarnya, alam bawah sadar Misa bergidik hebat. Dan seumur hidupnya, Misa tak akan pernah membeli atau mengkonsumsi selai stroberi lagi.
\-(--)-/
Misa menghembuskan nafas lega. Syukurlah ternyata Misa tak membunuh Light. Syukurlah ternyata Misa tak dibunuh Beyond Birthday. Syukurlah ternyata Misa bukannya mengotori tangannya dengan darah tetapi hanya dengan selai stroberi.
Dengan perasaan lega, Misa menutup laptopnya dan berjalan keluar kamar, menuju dapur di lantai atas, lantai dua puluh dua.
"Baik, Misa akan memasak untuk makan malam!" seru gadis itu penuh semangat.
Ia membuka kulkas untuk mengambil dua butir telur. Tetapi, malangnya, satu kecerobohan terjadi. Tanpa sengaja, Misa menyenggol sebuah toples penuh cairan merah kental yang manis, menyebabkan suara keras ketika benda mudah pecah itu menghantam lantai marmer yang dingin.
Jatuh.
Tidak, tidak, tidak, tidak. Tidak.
Tidak jatuh. Tidak jatuh. Tidak jatuh.
….
Memang jatuh.
Misa menatap lantai penuh rasa sesal dan takut. Hatinya dipenuhi penyangkalan. Seharusnya ini tak terjadi, hal mengerikan semacam ini seharusnya tak terjadi. Tetapi hal ini benar-benar terjadi. Ia telah melakukannya–walau ia melakukannya di luar kesadarannya–dan ia sama sekali tak siap menanggung konsekuensinya.
Toples berisi selai stroberi yang sangat disayangi Raito kini telah pecah dan menghamburkan semua isinya. Selai stroberi milik Beyond Birthday–yang dulu diambil L sebagai barang bukti, dan di luar dugaan pertama Raito, L benar-benar belum memakan selai yang manis itu–yang disimpan Raito sejak Raito mendapatkannya entah kapan dari L–yang pasti di saat Misa tak ada karena ia tak tahu kapan Raito mendapatkan si 'barang bukti', ia hanya tahu Raito menyimpan selai stroberi itu tanpa pernah memakannya. Misa pernah berusaha meyakinkan Raito untuk membuang selai stroberi yang mulai busuk itu, tetapi Raito bersikeras menyimpan barang bukti kasus yang dititipkan padanya, jauh dari L yang terus tergoda untuk mencerna si barang bukti, walau kita semua tahu L tidak akan menghancurkan barang bukti suatu kasus semanis apapun barang bukti itu. Mungkin.
Intinya, selai stroberi itu sangat berharga bagi Raito, L, dan Beyond Birthday.
"Misa tak bermaksud melakukannya," ucap Misa berulang-ulang, berusaha meyakinkan udara kosong dan dirinya sendiri. Air mata menggenangi pelupuk matanya sebelum tiba-tiba kedua matanya menghentak terbuka—terkejut menyadari kenyataan yang akan dihadapkan padanya.
Sa-sama seperti yang terjadi di fanfic yang Misa baca…? Ka-kalau begitu, be-berarti bisa-bisa Misa….
"Se-sebelum ada yang datang… Mi-Misa harus segera kabur…."
Warna merah mewarnai lantai marmer putih, menyala terang. Baunya memenuhi ruangan, manis sekaligus memualkan. Beling-beling berserakan di antara warna merah itu–ketajamannya tak berubah walau beningnya telah ternoda merah.
O, ia tak akan selamat bila tak segera kabur!
Catatan:
Fanfic yang tercantum dalam cerita ini hanyalah fiksi (ya, iyalah! Namanya juga fanfic!). Kesamaan nama, judul, plot, ataupun summary, hanyalah kebetulan semata.
Chapter kali ini dibuat sepenuhnya oleh Hino Sakura.
Sakura: Lagi, sebuah chapter yang sangat tak jelas…. Dan mohon maafkan saya yang mengubah banyak bagian versi aslinya di alternate universe ini, terutama soal waktu. Apa yang terjadi pada fic di atas sangat mustahil terjadi di versi asli. Di versi asli, Beyond Birthday tewas pada 21 Januari 2004 disebabkan serangan jantung, dan ketika itu Raito bahkan belum bertemu Misa; sementara di fanfic ini, Beyond Birthday tewas bersamaan dengan L, dibunuh oleh Rem, baik di e-novel Death Note dan cerita utama fanfic ini.
Dengan kata lain, Misa tak akan bertemu Beyond Birthday atau L di akhir chapter ini karena mereka berdua telah tewas. Semua itu terlihat sama karena imajinasi Misa yang berlebihan –dibakar pembaca-. Tapi, yah, kalau Misa bertemu dengan B atau L di akhir cerita, berarti bahaya besar dong, secara keduanya telah meninggal dibunuh Rem….
