"Permisi Tuan..." Merasa seseorang memanggil dirinya, membuat seorang pria yang sudah nampak berusia senja, menghentikan aktivitasnya sementara.
Tanpa menoleh, pria tua itu berbicara. "Laporkan."
"Saya sudah menerima laporan dari Korea. Anak anda...mulai mencari sang pelaku Tuan. Apakah kami harus melakukan sesuatu?" Meski tampak tenang, sebersit keraguan muncul di hatinya.
"Biarkan saja. Biarlah ia mengetahui yang sesungguhnya terjadi." Pria tua itu menghela nafasnya kasar. Sedikit mengkhawatirkan keadaan anaknya kelak jika semua telah terungkap. "Semoga ia mampu menyelesaikan pencariannya..."
Keheningan melanda ruangan itu. Yang satu sibuk menerka-nerka masa depan dan yang lain masih menunggu perintah sang ketua.
"Ada lagi yang ingin kau laporkan?" Ucap si pria tua memecah keheningan.
"Ya tuan...Saya sudah menemukan lokasi keberadaan orang yang anda cari..." Pria yang lebih tua mulai memusatkan perhatiannya pada bawahannya.
"Dimana dia?" Sahutnya sedikit tak sabar. Ini adalah berita yang telah ia tunggu-tunggu sejak lama. Namun, dahinya mengkerut ketika melihat tatapan iba dari bawahannya.
"Beliau berada di Busan..." Si pria tua sampai menahan nafasnya. Menunggu kelanjutan infomasi dari bawahannya.
"Di sebuah pemakaman..."
.
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other cast
.
.
.
Perdebatan panjang, terjadi di sebuah mansion megah milik kelompok mafia terbesar di Korea. Byun Baekhyun dan Oh Sehun yang menjadi pelakunya. Semua berawal dari kesepakatan akuisisi dengan kelompok pemegang kuasa bea cukai dan perizinan pengiriman barang area pelabuhan. Sebaik-baiknya seseorang, jika itu adalah kelompok mafia, maka tak terlepas dari berbagai barang haram dan ilegal yang bernilai tinggi. Memiliki kuasa untuk mengatur pajak cukai dan memanipulasi pengiriman barang ilegal, menjadi sesuatu yang sering diinginkan oleh para mafia.
Dan Baekhyun, selaku pemimpin mafia yang menggantikan ayahnya, tidak mau melewatkan kesempatan emas ini. 3 hari yang lalu, akhirnya setelah beberapa tahun lamanya, terjadilah kesepakatan untuk saling bekerja sama. Tapi..mereka memberikan satu syarat. Baekhyun..yang harus datang menandatangani perjanjian mereka. Sendirian.
Hal itulah yang sejak tadi didebatkan oleh Baekhyun dan Sehun. Dimana Baekhyun yang kukuh, tak gentar untuk berangkat sendiri. Sedangkan Sehun...
"Kau harus membawa Chanyeol. Final. Ini keputusanku."
Baekhyun melempar dirinya sendiri ke sofa. Geram pada Sehun yang sejak tadi tidak mau mengalah dan terus memaksa hal yang tidak masuk akal bagi Baekhyun.
Bukan tanpa alasan, Sehun meminta Baekhyun membawa Chanyeol. Dirinya pun begitu membenci pria itu dan semakin membencinya ketika tahu hanya dia lah yang bisa membantu Baekhyun kali ini. Pemimpin kelompok mafia yang mereka ajak bekerja sama, adalah adik dari seorang pimpinan mafia di Spanyol. Dan sialnya kakaknya menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan Chanyeol.
Bukannya ia tidak percaya pada kemampuan Baekhyun, hanya saja..Sehun belum mampu melepaskan Baekhyun bertindak sendirian. Apalagi menemui seorang pemimpin geng yang memiliki berbagai rumor negatif. Selain alasan tersebut, jangan lupakan. Jika berhubungan dengan Baekhyun, maka Sehun akan selalu bertindak protektif.
"Apa bedanya Chanyeol dengan pria itu?!" Baekhyun benar. Chanyeol sudah jelas bukan lah orang yang lebih baik. Entahlah, Sehun juga tidak mampu menjawab ini. Firasatnya merasakan sesuatu yang buruk akan hal ini.
"Bahkan Chanyeol hampir membunuhku malam itu!" Ucap Baekhyun sambil bersedekap. Mengingat kembali kejadian naas, yang hampir merenggut nyawanya.
"Bukan Chanyeol pelakunya.." Baekhyun menoleh ke arah Sehun. Tepatnya di sisi kanan Sehun, seseorang yang baru saja mengucapkan sesuatu. Dan itu adalah Kim Jongdae. "Motif dan timingnya tidak mengarah pada Chanyeol. Dugaan lebih mengarah pada keluarga Kim. Atau mungkin...orang lain?" Lanjutnya dan semakin membuat kedua orang di ruangan itu mengerutkan dahi.
Suasana menjadi hening setelahnya. Baekhyun menghela nafas kasar. Sehun ikut bergabung duduk di sofa bersama Jongdae. Dan Jongdae sendiri terlihat sedang menerawang sesuatu. Kejadian bom malam itu, sedikit mengguncang kelompok mereka. Karena selama ini mereka lebih sering dihadapkan dengan baku tembak langsung ketimbang serangan pengecut seperti itu. Masing-masing mengantongi siapa pelaku yang diduga melakukan hal ini. Yah...hanya satu dari mereka yang mengetahui dengan tepat siapa pelakunya. Atau mungkin dua.
"Jadi...bagaimana menurutmu Jongdae?" Baekhyun menutup matanya. Mulai merasa lelah karena malam sudah semakin larut.
"Menurutku...ide Sehun perlu dicoba."
.
.
.
"Mmm...hhh geli Yeol gelihhh..."
Chanyeol menulikan telinganya dan terus mengecupi leher mulus Kyungsoo, yang berada di bawahnya. Kyungsoo bergerak gelisah sambil mendongakkan kepalanya. Memberikan kemudahan pada kekasihnya untuk menorehkan tanda-tanda cinta.
"Hmmhhh.. ini masih pagi Yeol! Aku tidak mau" Dengan sekuat tenaga, Kyungsoo menghentikan kepala Chanyeol yang mulai bergerak ke bawah lehernya. Mata bulatnya menajam menatap pria yang nyengir di depan wajahnya. Chanyeol menunduk, mencoba meraih bibir apel itu. Naas, justru sentilan di bibirnya yang ia dapati. Kyungsoo masih memberikan tatapan tajamnya, namun ia meneguk ludah melihat senyuman di sudut bibir Chanyeol.
"Biar tubuhmu yang berbicara"
Sebelah tangan Chanyeol mengunci kedua tangan Kyungsoo di atas kepalanya. Sedangkan bibirnya mulai bergerilya di area-area sensitif yang sudah sangat ia ketahui tempatnya. Membuat suhu tubuh pria di bawahnya memanas sampai ke pusat tubuhnya. Chanyeol menyeringai puas merasakan sesuatu yang keras menyentuh perutnya. Kyungsoo memang begitu sensitif. Hanya beberapa sentuhan yang tepat, pria itu akan dengan mudahnya membuka lebar kedua kakinya.
Tidak munafik, terkadang Chanyeol ingin mencoba bercinta dengan seseorang yang sebanding dengannya. Seseorang yang tidak mudah untuk ditaklukan di ranjang. Dan sialnya terlintas satu nama di pikirannya.
"Wah..wah..wah" Chanyeol mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa suara Kyungsoo terdengar seperti suaranya. Ini gila pikirnya. Untuk pertama kalinya ia memikirkan orang lain ketika sedang bercinta dengan kekasihnya.
Chanyeol sempat mengira Kyungsoo marah padanya ketika mendapati pria itu bangkit terduduk tiba-tiba. Ia sudah akan berucap sesuatu, namun terhenti begitu menyadari tatapan kekasihnya bukan padanya. Melainkan di belakangnya. Dan Chanyeol sungguh tercekat setelah ikut menoleh kebelakang. Melihat seseorang yang sedang senyum meremehkan. Byun Baekhyun.
"Aku permisi dulu" Kyungsoo beranjak dengan canggung. Meninggalkan Chanyeol yang masih terkejut di atas ranjang bersama Baekhyun yang melambaikan tangan sambil tersenyum manis di sofa. Senyuman palsu tentu saja.
Tak lama setelah pintu kamar tertutup. Mereka berdua bertatapan kembali. "Apa yang membuatmu kemari?...Ingin bergabung dengan kami? Atau menggantikan Kyungsoo mungkin?" Ucapnya sambil tersenyum menggoda.
Baekhyun menggeram dalam hati. Sudah menduga akan menghadapi ini. "Mungkin bisa kita lakukan nanti." Balasnya dengan senyum yang lebih menggoda. "Untuk sekarang...aku butuh bantuanmu." Lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku melakukan kesepakatan dengan para pemegang cukai. Yang mana pemimpinnya adalah adik kandung dari Joseph, rekan baikmu di Spanyol." Chanyeol mengangguk. Joseph memang rekan bisnis, sekaligus temannya semasa kuliah. Melihat Chanyeol tidak ingin mengatakan sesuatu, Baekhyun menarik nafas sejenak untuk melanjutkan ucapannya. "Dan aku perlu dirimu..untuk menemaniku."
"Sesungguhnya aku diminta untuk datang sendiri..jika kau bertanya-tanya. Sedangkan Sehun, tidak akan membiarkanku untuk pergi sendirian." Sergahnya begitu melihat kerutan di dahi Chanyeol. "Kau teman baik kakaknya. Ia tidak akan keberatan dan tidak akan menyentuhmu. Itulah alasanku ingin membawamu." Lanjutnya. Seolah mengetahui apa yang ada di pikiran pria di depannya ini.
Chanyeol mengangguk paham. Ia berdeham pelan dan menatap serius ke depan. . "Lalu..apa yang akan kudapatkan?" Ucapnya.
"Kau bisa mendapatkan beberapa aset besar milik kami" ucap Baekhyun sambil mengangkat kedua bahunya.
Chanyeol menggeleng. "Aku sudah memiliki banyak aset."
Baekhyun berpikir kembali. "Kau juga bisa menikmati pajak cukai yang lebih rendah dan bebas mengirimkan barang-barang apapun itu" tawarnya lagi.
"Cukup menarik." Dengan adanya kebebasan pengiriman barang, akan memudahkannya untuk melakukan transaksi skala besar. Chanyeol sudah akan mengiyakan tawaran Baekhyun. Namun, melihat wajah angkuh penuh kepuasan Baekhyun, membuat Chanyeol menunda sesaat keputusannya.
"Kuakui itu menguntungkan. Namun..." Chanyeol sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia menahan tawa melihat ekspresi Baekhyun penuh harap, menunggunya melanjutkan berbicara. Baekhyun sendiri mulai was-was. Terlebih lagi melihat seringai nakal yang muncul di wajah Chanyeol.
Dan seperti yang telah diduga Baekhyun..
"Namun...aku ingin sesuatu yang lain. Yang lebih menarik. Seperti...mendapatkan dirimu di ranjang?" Ucapnya dengan nada sensual. Yang tentu saja hanya dibuat-buat. Chanyeol beralih menatap selimut. Berusaha menahan diri agar tidak tertawa melihat wajah kaku Baekhyun .
Chanyeol berdeham dan berniat untuk menatap Baekhyun kembali. Namun..sofa yang diduduki Baekhyun telah kosong. Karena orang yang mendudukinya tadi sudah berdiri di kaki ranjang Chanyeol. "Baiklah" ucap Baekhyun. Semakin bergerak mendekati ranjang. Chanyeol meneguk salivanya, begitu Baekhyun merangkak ke atas ranjang. Dan mendudukkan dirinya tepat di atas pusat tubuh Chanyeol.
"Kita bisa melakukannya sekarang" Bisiknya sambil meniup telinga Chanyeol. Baekhyun sesekali bergerak di pangkuan Chanyeol dan memberikan tekanan tepat di kejantanannya. Membuat pria tinggi itu mulai berdesis.
Baekhyun tersenyum miring. Perlahan, ia bawa bibir mungilnya menyentuh dahi, hidung dan berhenti sesaat di depan bibir Chanyeol. Membuat Chanyeol tak sabaran dan memajukan wajahnya untuk meraup bibir nakal itu. Namun ia kalah cepat, karena Baekhyun sudah beralih mengecupi lehernya. Turun ke dadanya yang bidang sambil melonjak kecil di atas selangkangannya yang mulai mengeras. Dan Chanyeol benar-benar hampir melepaskan desahan, ketika Baekhyun menjilat bekas sayatan pisau di dadanya.
Chanyeol sedikit beranjak, hendak mengangkat dan membaringkan Baekhyun di ranjangnya. Namun pria yang lebih kecil menahannya. "Biarkan aku yang bekerja" ucapnya sambil mengerling nakal. Belum sempat Chanyell mengucapkan apapun, tubuhnya sudah dihempaskan telentang di atas ranjang. Pelakunya tentu saja Baekhyun, yang sedang duduk mengangkangi di atas kedua pahanya.
Baekhyun menatap Chanyeol sambil tersenyum sensual. Kilatan gairah sudah nampak di mata Chanyeol. Seolah tak peduli, Baekhyun merendahkan wajahnya. Mengulangi memberikan kecupan basah yang dimulai dari dahi, hidung dan sekali lagi melewatkan bibirnya. Sambil terus menggerakkan bibirnya, tangan Baekhyun juga mulai bergerak. Langsung menuju pusat tubuh Chanyeol.
"Eerggh..!" Satu umpatan yang terdengar seperti erangan, keluar dari mulut Chanyeol ketika tangan mungil Baekhyun meremas kuat kejantanannya. Kecupan Baekhyun mulai sampai di daerah v-line Chanyeol. Ia berhenti sejenak di depan bagian yang tertutupi selimut.
"Sepertinya...ada sesuatu di balik selimut ini" Baekhyun berkata tepat di atas sesuatu yang menonjol di balik selimut. Ia rendahkan lagi bibirnya, hampir menyentuh selimut. Dapat Chanyeol rasakan, nafas hangat Baekhyun yang melingkupi kejantanannya. Membuat dirinya mulai pusing akan desakan gairah. "Sentuh Baek. Sentuh dengan bibir panasmu itu" perintahnya.
Baekhyun menurutinya. Ia posisikan bibirnya tepat menempel di atas bagian tubuh yang menegak di balik selimut. Namun ia sama sekali tidak berniat untuk bergerak. "Besar sekali.." ucapnya masih sambil menempel. Tak mempedulikan erangan rendah pria di bawahnya. "Begitu pas..mengisi lubang kecilku" lanjutnya lagi dan diakhiri dengan mengecup pelan milik Chanyeol yang sudah mengeras sempurna.
Brukk!
Chanyeol segera merubah posisi mereka di atas ranjang. Tatapannya berkabut memandangi Baekhyun yang justru tersenyum angkuh. Gairah benar-benar merampas akal sehatnya. Ia bahkan tidak ingat bahwa masih ada Kyungsoo di rumahnya. Yang ia fikirkan hanya ingin melumat habis bibir nakal itu dan mengobrak abrik lubang sempit Baekhyun dengan miliknya yang besar.
Tangan Chanyeol sudah terulur ingin melucuti pakaian Baekhyun, namun...ia berhenti. Ia memutar mata dan perlahan bangkit dari tubuh Baekhyun. Niatnya untuk menyetubuhi Baekhyun dengan kasar sudah gagal. Gagal seutuhnya ketika Baekhyun menodongkan pistol di dahi Chanyeol.
"Sayang sekali. Aroma Kyungsoo di ranjang ini menghilangkan mood bercintaku" ucap Baekhyun pura-pura tak bersalah. Tentu saja sejak tadi ia hanya menggoda Chanyeol. Karena ia lebih dulu tahu Chanyeol akan mengerjainya tadi.
Baekhyun bangkit dari ranjang menuju pintu kamar. Sebelum keluar, ia sempatkan melirik Chanyeol yang terus menatap penuh arti padanya. Lalu beralih pada bagian bawah tubuhnya yang masih menegak.
"Kau boleh menuntaskan hasratmu dulu dengan pria kecilmu itu. Aku tunggu di bawah." Baekhyun pun pergi. Chanyeol menatap miris pada ereksinya. Bagaimana bisa dia menuntaskannya dengan Kyungsoo, jika yang ia mau..adalah Baekhyun.
.
.
.
Leeteuk sedang memantau para pelayan yang menyiapkan hidangan di meja makan, sampai seseorang masuk dalam penglihatannya. Orang itu adalah Baekhyun, yang baru saja selesai melihat-lihat seisi rumah Chanyeol.
"Selamat pagi tuan Byun" Leeteuk tersenyum dan menundukkan kepalanya begitu Baekhyun telah berdiri di hadapannya.
"Ah ya selamat pagi..emm"
"Paman Leeteuk. Kau boleh memanggilku paman" Ucap Leeteuk masih dengan senyuman hangatnya. Sementara Baekhyun, menggaruk tengkuknya. Merasa sedikit canggung memanggil pria tua ini dengan panggilan tak formal.
Baekhyun mengernyit menyadari Leeteuk terus menatapi dirinya. "Ada yang salah denganku paman?" Tanyanya. Leeteuk sedikit tersentak dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang salah. Hanya saja...kau tidak berubah sejak kecil.." lirihnya.
Baekhyun pun semakin mengernyit. Sejak kecil? Baekhyun tidak merasa pernah bertemu paman Leeteuk saat dirinya masih anak-anak. Maka ia pun bertanya kembali. "Maksudmu..paman pernah bertemu denganku dulu?" Baekhyun semakin dibuat bingung ketika Leeteuk menganggukkan kepalanya. "Tapi paman-"
"Setelah diriku, kau berniat menggoda pamanku, Byun?" Baekhyun mengumpati pria yang memotong ucapannya. Leeteuk segera beralih berdiri di belakang tuannya. Setelah Chanyeol duduk, Baekhyun juga duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh seorang pelayan. Ia melirik ke bawah, melihat celana Chanyeol yang masih sedikit menggembung.
"Cepat sekali turun kemari? Aku kan sudah memberimu waktu untuk mengurus barang besarmu itu" Baekhyun terkekeh menahan geli. Sedangkan Chanyeol menutup matanya sejenak, menetralisir pikiran kotornya agar celananya tidak semakin menggembung. Ditatapnya tajam Baekhyun. Namun sialnya, pria itu malah menjulurkan lidahnya di sepanjang bibirnya. Double sial!
Chanyeol menarik nafas panjang. "Berhenti menantangku, atau aku tak segan-segan mengangkangi dirimu di atas meja ini. Detik ini juga. Di depan semua orang." Ancaman mengerikan yang cukup membuat Baekhyun berpikir lagi untuk menggoda Chanyeol.
Menit-menit selanjutnya diisi dengan suara dentingan pisau dan garpu. Baekhyun masih enggan untuk membuka suara. Tak suka dengan keheningan yang terjadi, Chanyeol berdeham sebelum berbicara. "Mengenai tawaranmu...akan kupikirkan" Mendengar itu Baekhyun mengangkat kepalanya segera dan tersenyum senang pada Chanyeol. Sebuah senyuman manis yang baru pertama kali Chanyeol lihat di wajah Baekhyun. Yang secara tak sadar membuatnya ikut menarik sudut bibirnya.
Sayang momen langka itu terganggu ketika.."Dia masih disini?" Kyungsoo bergabung bersama mereka dan memilih duduk di samping Chanyeol. Tanpa malu, pria itu bergelayut manja di lengan kekasih tingginya. Baekhyun memutar mata, dan membuat ekspresi ingin muntah. Ia bangkit berdiri. "Jika yang kau maksud itu aku, yah..aku pergi sekarang". Ia melihat sekilas pada Chanyeol yang berekspresi datar, lalu berbalik ingin meninggalkan ruangan.
"Hah! Memalukan sekali..demi memajukan kelompokmu, kau sampai meminta belas kasih pada musuhmu sendiri. Apakah kau selalu menawarkan tubuhmu pada setiap musuhmu?" Kyungsoo tertawa mengejek. Chanyeol masih diam dan Baekhyun berhenti sejenak tanpa membalik badannya.
"Setidaknya, jika itupun benar aku mendapatkan yang setimpal dengan tubuhku. Bukan memberikannya secara gratis pada sembarang pria" Baekhyun membalas tawa sarkastiknya. Lalu mulai melangkahkan kakinya kembali. Sampai..
"Ibumu...pasti ibumu yang menurunkan sifat jalangnya padamu Baekhyun"
Sesuatu yang fatal, ketika ibunya dihina seperti itu. Aura membunuh menguar di sekujur tubuhnya. Tatapannya menggelap.
Chanyeol terkejut karena tahu-tahu Baekhyun sudah berdiri di sampingnya. Menarik kerah baju Kyungsoo, dan tangannya bergerak untuk mencekik leher Kyungsoo. Chanyeol berusaha keras menarik Baekhyun. "Lepaskan Baek!" Baekhyun tak bergeming, dan Chanyeol mengakui kekuatan Baekhyun tidak bisa diremehkan ketika pria itu sedang dilanda amarah. Baru ketika Leeteuk ikut turun tangan, Baekhyun dan Kyungsoo akhirnya bisa dipisahkan.
Baekhyun menghempaskan dengan kasar, sepasang tangan yang melingkari perutnya. Itu adalah tangan Chanyeol. Baekhyun berbalik dan menatap penuh amarah pada Chanyeol.
"Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun hari ini.."
Chanyeol tertegun memandangi punggung Baekhyun yang sudah menjauh. Meski hanya sesaat..setetes air mata tak luput dari pandangannya tadi. Baekhyun menangis...
Chanyeol mengusap kasar wajahnya. Sungguh pagi yang buruk untuk mengawali harinya. Ia putuskan untuk duduk kembali dan memijat kepalanya.
"Yeol leherku sakiiit~~" Kyungsoo mulai merajuk manja. Chanyeol tetap tak bereaksi, dan membuat heran Kyungsoo. Karena..ini pertama kalinya Chanyeol acuh pada rengekannya.
"Yeolll~~ aku tidak mau pria itu datang lagi! Aku tidak-"
"-diam!" Ini juga pertama kalinya Chanyeol membentaknya. Seolah tak peduli dengan bentakan yang baru saja ia lontarkan, Chanyeol meneruskan ucapannya. "Siapapun dia. Baekhyun adalah tamuku. Rekan bisnisku. Kau melewati batasmu Soo" ucapnya dingin. Lagi-lagi untuk yang pertama kalinya bagi Kyungsoo.
Chanyeol mulai bangkit berdiri. "Lakukan yang kedua kalinya,maka aku tidak akan selembut ini" Dan Chanyeol pun pergi. Sedangkan Kyungsoo, sangat mengetahui itu adalah sebuah ancaman. Ia menatap punggung Chanyeol sesaat, lalu beralih pada pemandangan di luar jendela. Ketakutan terbesarnya mulai terjadi...
'Halo..Jongin'
.
.
.
'Halo Soo..'
'Bukan aku. Mereka yang menyarankan untuk membawa Chanyeol'
'Kenapa? Kau takut Chanyeolmu terluka?'
'Jangan lupa Kyungsoo, aku sudah lama-
"OH SEHUN! KIM JONGDAE!" Pria yang sedang menelpon itu sampai hampir menjatuhkan teleponnya mendengar teriakan menggelegar dari bawah. "DIMANA KALIAN SEMUA HAH!"
'Kita bicara lagi nanti. Tuanku sudah kembali.' Setelah menutup telponnya, pria itu segera menyelinap keluar untuk turun ke bawah. Menemui ketuanya yang sepertinya sedang diliputi ledakan emosi.
Sementara Baekhyun, sibuk menendangi sofa yang ada di depannya. Melampiaskan amarahnya yang masih belum mereda sedikitpun. Satu-persatu anggotanya mulai turun ke bawah dan tak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat kepala untuk menatap sang ketua. Baekhyun mengedarkan padangannya ke sekitar, hingga akhirnya matanya terpaku pada dua pria yang sama-sama datang dari pintu belakang. Sehun dan Jongdae.
Dengan langkah tergesa-gesa, ia dekati kedua pria itu."Persetan dengan rencana sialan kalian berdua!" Teriaknya benar-benar marah. Sehun dan Jongdae tak bereaksi apa-apa. Tapi masing-masing terkejut, mendapati Baekhyun begitu emosi. Bertahun-tahun tinggal bersama, tentunya mereka tahu bagaimana watak Baekhyun. Pria itu memang mudah marah dan berteriak. Tapi jarang sampai meledak-ledak seperti ini. Mereka menerka-nerka, apa kiranya yang telah dilakukan Chanyeol pada Baekhyun?
Melihat Sehun dan Jongdae yang diam tak berkutik, membuat Baekhyun semakin geram. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar. "Sekarang. Tidak peduli dengan omong kosong kalian! Aku akan tetap berangkat ke sana!" Ucapnya di depan pintu.
.
.
.
Deburan ombak yang menggulung dan semerbak aroma khas suasana pantai, menandakan Baekhyun telah sampai di tempat yang dituju. Ia tidak sendiri, ada Sehun dan Jongdae serta 2 mobil berisikan anggotanya di belakang.
Sehun dan Jongdae mengantarkan Baekhyun sampai di depan mobil yang telah disiapkan untuk menjemputnya. Seperti yang diajukan dalam syarat, hanya Baekhyun yang diminta untuk datang sendiri, menandatangani kesepakatan di atas kertas.
Pintu mobil sudah terbuka. Baekhyun baru saja ingin masuk, sampai sepasang tangan melingkari perutnya. "Aku tidak mau kau terluka. Segera hubungi kami, jika terjadi sesuatu." Baekhyun berbalik, tanpa melepas dekapan Sehun. Ditatapnya Sehun, sambil memperpendek jarak diantara mereka.
Cup!
Sehun memejamkan mata ketika Baekhyun mengecup lembut dahinya. "Aku akan baik-baik saja Sehun" . Dan Baekhyun pun masuk ke mobil. Meninggalkan kedua pria yang masih berdiri di tempat itu. 'Semoga Kyungsoo tidak bertindak gegabah...'
.
Tak sampai 10 menit, mobil yang ditumpangi Baekhyun sudah berhenti di sebuah rumah bak istana di tengah pulau kecil. Kakinya melangkah keluar, begitu pintu mobilnya dibuka oleh seorang penjaga. "Lewat sini.." ucap penjaga itu menunjukkan jalan masuk.
Suasana kuno ala bangunan Eropa menyambut Baekhyun, ketika dirinya sampai di ruang tengah. Berbagai furniture langka dan berkelas, terususun rapi di ruangan itu. Baekhyun masih mengedarkan pandangannya sampai akhirnya bertemu pandang dengan seseorang yang duduk sambil menyesap wine di atas sofa.
"Silakan duduk tuan Byun" Pria itu berdiri dan mengarahkan Baekhyun menuju sofa kecil di belakangnya. Baekhyun pun hanya diam dan duduk di tempat yang telah disediakan.
"Ingin mencoba segelas?" Ucap pria itu lagi untuk menawarkan segelas wine.
"Terima kasih. Tapi aku perlu menandatangani kesepakatan kita dalam kondisi sadar..Dean" Baekhyun menolak secara halus. Meskipun seorang mafia, Baekhyun bukanlah peminum yanb baik.
Pria yang bernama Dean itu terkekeh. "Aku suka antusiasmu" ucapnya. Perlahan ia taruh gelas kosongnya di meja. Lalu melangkah ke belakang sofa tempat Baekhyun duduk.
Baekhyun terus mengawasi segala gerak gerik pria itu dan semakin waspada ketika dirasakannya hembusan nafas yang menggelitik bagian belakang kepalanya. "Sepertinya kita harus memulai membahas beberapa-
"-ssstt" Baekhyun bergidik, ketika Dean berbisik di telinganya. "Malam masih panjang Byun..Kita masih punya waktu untuk bersenang-senang". Baekhyun geram ketika Dean dengan lancangnya mengulum telinganya. Ia tarik kepalanya menjauh dan menatap tajam ke arah pria itu.
"Bukan ini kesepakatannya Dean!" Bentak Baekhyun. Membuat beberapa penjaga yang berdiri di ruangan itu menatapnya waspada. Dean sendiri tidak terpengaruh pada gertakan Baekhyun. Ia beralih memutar sofa dan berdiri tepat di depan Baekhyun.
Ditundukkan kepalanya sejajar dengan Baekhyun. "Yah..awalnya memang begitu...sebelum aku mengetahui betapa menggodanya seorang Byun Baekhyun." Bisiknya. Tanpa takut, pria itu mengusakkan hidungnya di leher Baekhyun, mengendus aroma yang semakin memabukkan dirinya.
Baekhyun memejamkan mata. Menahan amarah bukan gairah. Seks..memang menjadi satu hal yang sering digunakan sebagai alat untuk menjalin kerja sama di kalangan mafia. Namun Baekhyun belum mampu. Setidaknya ia tidak ingin, yang pertama kalinya dilakukan karena bisnis semata.
Melihat tak ada perlawanan, Dean bertindak semakin berani. "Just making out Byun..and you will get what you want..." bisiknya sensual. Ia menyeringai puas melihat Baekhyun mendongakkan kepalanya. Memberikan akses pada dirinya untuk menelusuri leher mulus itu. Tangan Dean mulai bergerak menuju kancing kemeja Baekhyun. Satu kancing sudah terlepas.
Beberapa penjaga di ruangan itu tahu diri dan satu persatu meninggalkan tuannya. Penjaga terakhir baru saja ingin menutup pintu sampai sebuah telapak tangan menahan pintu itu dari belakang. Itu adalah tangan seorang pria, yang kini melenggang masuk ke dalam ruangan.
"Wah..bolehkah aku ikut bersenang-senang?" Deg! Baekhyun mengenali sekali siapa pemilik suara ini. Dean bangkit dari kegiatan mencumbunya dan segera menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang datang mengganggunya.
"Chanyeol" Dean tersenyum bersahabat. "Lama tidak berjumpa" lanjutnya. Dean telah bangkit seutuhnya dari tubuh Baekhyun dan melangkah mendekati Chanyeol. Kedua pria itu saling berjabat tangan sesaat.
Chanyeol duduk tak jauh dari tempat Baekhyun. Tak mempedulikan tatapan bingung yang mengarah kepadanya. Dean memberikannya segelas wine dan ikut duduk di sofa seberang.
"Jadi apa yang membawamu kesini?" Tanya Dean.
Chanyeol meneguk habis winenya sambil melirik ke arah Baekhyun. "Aku hanya ingin memastikan pria kecilku baik-baik saja." Baik Baekhyun dan Dean terbelalak bersamaan.
Dean berdeham mencairkan keterkejutan dirinya. "Jadi maksudmu..Baekhyun adalah milikmu?" tanya Dean. Chanyeol menaruh gelasnya yang telah kosong. Tangannya terjulur membuka kancing kemejanya yang paling atas. Membuat dua orang yang lain mengernyit keheranan.
Kancing kerah Chanyeol terbuka. Ia tarik kebawah salah satu sisi kerah kemejanya. Menampilkan sebuah ruam yang kontras dengan kulitnya yang putih. "Sepertinya ini cukup menjelaskan semuanya" Sudut bibirnya melengkung sempurna. Tanda itu memang benar dibuat oleh Baekhyun tadi pagi.
Dean tertawa kecil dan memilih beranjak dari duduknya. Ia mengambil beberapa kertas yang berada di dalam lemari. Baekhyun bernafas lega mengetahui itu adalah surat perjanjian mereka. Tangannya baru saja hendak menorehkan pena sampai langkah kaki tergesa terdengar mendekati mereka.
"Bos! Ada sekelompok orang yang menyusup dan menyerang gerbang utara!" Sahut penjaga itu. Dean segera berdiri dan mendekati penjaga itu. "Darimana mereka?!"
Penjaga itu melirik ke arah Baekhyun sesaat. "Mereka adalah anggota Byun..." Lalu penjaga itu berlari keluar.
Chanyeol dan Baekhyun juga ikut angkit dan saling bertatapan. "Bukan..bukan aku. Aku tak pernah memerintahkan apapun." Baekhyun menggelengkan kepalanya. Meminta Chanyeol untuk percaya padanya.
Dean kembali lagi mendekati mereka, bersama beberapa penjaga di belakangnya. "Aku mengizinkanmu pergi Yeol. Kau sahabat kakakku." Ucapnya. "Tapi tidak untuk yang satu ini".
Baekhyun mulai berdiri waspada. Dilihatnya Chanyeol masih diam nampak memikirkan sesuatu dan Dean yang semakin bergerak mendekati dirinya.
Splashh!
Semua terjadi begitu cepat. Seisi ruangan penuh oleh kepulan asap. Baekhyun tidak mampu melihat dan bernafas dengan baik. Dapat ia rasakan, telapak tangan yang menutup hidungnya dan tangan yang lain menarik tangannya untuk berlari.
Hingga udara bersih sudah masuk ke paru-parunya. Baekhyun membuka mata. Dan Chanyeol adalah orang pertama yang ia lihat. Chanyeol tidak berkata apa-apa dan tetap menariknya berlari. Baekhyun menahan tangannya, ketika Chanyeol membawanya menuju jendela.
"Hanya ini jalan satu-satunya Baek" ucap Chanyeol terburu-buru.
"Ini lantai dua Yeol! Kau mau-CHANYEOOOLLLLLLL" Baekhyun berteriak heboh begitu Chanyeol memeluknya. Lalu...
Membawanya terjun dari jendela!
Mereka berguling-guling di atap sekitar beberapa menit dan berakhir di atas trampoline. Ada untungnya Chanyeol memarkir mobil di sini dan melihat trampoline di dekat mobilnya. Mencegah tubuh mereka berdua bertabrakan dengan aspal.
Chanyeol yang pertama bangkit dan membantu Baekhyun untuk berdiri. Tanpa berpikir dua kali, mereka masuk ke dalam mobil dan Chanyeol melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kemudian, beberapa orang yang saling berkelahi nampak di penglihatan mereka. "Benar itu bukan orangmu?" Chanyeol menoleh sekilas. Baekhyun memicingkan matanya dan mengangguk yakin.
"Tundukkan kepalamu" Baekhyun menurut. Sementara Chanyeol menginjak gas lebih dalam. Mencoba untuk menerobos kerumunan itu. Tapi...sesuatu membuatnya merasakan keanehan. Para penyusup itu..membukakan jalan begitu melihat dirinya...
Baekhyun mengangkat kepalanya ketika ia merasa laju mobil Chanyeol melambat. Ia mengira mereka telah sampai di ujung gerbang. Namun nyatanya...baru beberapa meter melewati kerumunan itu.
"Ke arah situ Yeol !"
.
.
.
Tak jauh dari kerumunan yang saling berkelahi, nampak seorang pria yang sedang bersembunyi di dekat pohon kelapa. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Setetes darah terlihat mengalir dari lengannya.
Sial! Umpatnya dalam hati. Misi malam ini telah gagal. Harusnya ia mendengarkan bosnya untuk tidak bertindak gegabah menyusup sendirian. Ia terlalu bersemangat tadi. Melihat kesempatan emas untuk mendapatkan tangkapan besar, membuat dirinya tak sabaran.
Pria itu sedang mengawasi transaksi ilegal, sampai keributan terjadi di gedung sebelahnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas orang-orang mulai saling menyerang. Termasuk dirinya. Yang harus melawan 10 orang tanpa henti.
Tenaganya sudah habis kini. Lengannya terkena tusukan dan patahan di kakinya yang belum sembuh sepenuhnya semakin memperburuk keadaan. Ia menghela nafas putus asa, begitu melihat seseorang berlari mendekatinya. Ia menutup mata, memasrahkan diri. Namun...
"Kim Jongin!"
Jongin membelalak sempurna. "Baekhyun...?!"
.
.
.
Suasana canggung dan tak bersahabat menyelimuti ketiga orang yang berada di dalam mobil. Tiga orang itu adalah Chanyeol yang menyetir, Baekhyun yang duduk di sebelahnya dan Jongin yang duduk di belakang.
"Tidak kusangka..aku harus turun tangan menyelamatkan musuhku dan selingkuhan kekasihku" Chanyeol mendecih. Baekhyun diam tak menanggapi.
"Itulah dirimu. Terlalu sibuk dengan hal lain...hingga tak menyadari kekasihnya butuh kehangatan" Jongin membalas
"Kau bukan yang pertama Jongin.." Chanyeol tak mau kalah.
Jongin tertawa kecil dan memajukan tubuhnya sejajar dengan bangku Chanyeol. "Tapi aku yang pertama...merasakan lubang sempitnya" bisiknya.
Baekhyun tertegun. Sepertinya ada kisah lama antara Jongin, Chanyeol dan Kyungsoo. Sungguh fakta yang menyakitkan pikirnya. Dapat ia lihat, jemari Chanyeol memutih karena meremas stir terlalu kuat.
Ckiiitttt!
Chanyeol sengaja mengerem mendadak. Membuat kepala Jongin, sedikit terantuk di dashboard. "Sudah sampai" sahut Chanyeol dan bergegas keluar mobil. Baekhyun menyusul tak lama setelahnya.
"Halo..Soo?" Itu bukan Chanyeol. Melainkan Jongin. Chanyeol membuang pandangannya ke belakang. Tangannya terkepal menahan amarah.
"Aku masih di luar"
"Hmm baiklah. Datang saja ke tempatku. Dan...tunggu aku di atas ranjang" Jongin menekankan kalimat akhirnya. Sengaja untuk memanas-manasi Chanyeol yang kini sedang menatap penuh permusuhan pada dirinya. Jongin mengangkat bahunya tak peduli dan beralih pada Baekhyun. "Terima kasih sudah menolongku Baek" Ucapnya
Cup. Satu kecupan ia daratkan di pipi Baekhyun.
"Sialan!" Chanyeol benar-benar menggeram marah. Jongin tak gentar dan justru berjalan mendekati pria itu. Dan berhenti tepat di depan Chanyeol. "Kenapa?...Kau iri tidak bisa memiliki satupun diantara mereka?" Ucapnya sambil tersenyum miring di depan wajah Chanyeol.
Chanyeol sudah akan menarik pistolnya sebelum tangan kecil Baekhyun menahan lengannya. "Pergilah Jongin!" Jongin tersenyum angkuh sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
Perlahan, tangan Baekhyun turun dari siku Chanyeol untuk melepasnya. Namun...belum sempat ia tarik tangannya, pria di depannya berbalik menggenggam tangannya.
Baekhyun tertegun melihat tatapan yang diberikan Chanyeol padanya. Tatapan tak asing. Yang pernah ia lihat beberapa tahun lalu.
"Berhati-hati lah. Setelah ini tak akan mudah.."
.
.
.
Tok Tok Tok! Suara ketukan pintu sudah sejak tadi menggema di ruangannya.
"Baek. Buka pintunya. Kupastikan aku akan mendobraknya pada hitungan ketiga." Baekhyun mendengus. Ia beranjak malas menuju pintu dan membukanya kasar. Lalu tanpa mempedulikan sosok yang memasuki ruangannya, ia berbaring kembali di sofa panjangnya.
"Ada apa Sehun?" Ucapnya malas.
Sehun berdecak dan duduk di dekat ujung kaki Baekhyun. "Kau sudah dua hari mengurung diri Baek. Kau juga butuh makan dan minum!"
Baekhyun menggeleng. Menatap Sehun dengan raut kekecewaan. "Bagaimana aku bisa makan..disaat kekuasaan kita sedang terancam Hun."
Sehun menarik tangan Baekhyun untuk duduk, lalu mendekapnya dalam kehangatan. Satu tangannya terulur untuk mengusap rambut Baekhyun. Baekhyun sendiri merasa nyaman dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun.
"Aku...aku telah gagal Hun. Mereka benar...aku tidak pantas menggantikan ayah." Lirihnya. Sehun masih diam mendengarkan. Tangannya tetap bergerak mengelus surai halus itu sambil sesekali mengecupnya.
"Aku...mengecewakan ayah. Aku tidak bisa memenuhi permintaan ayahku..." lirihnya lagi. Sehun mengangkat dagu Baekhyun begitu merasakan bajunya yang terasa basah. Dan benar saja...linangan air mata membasahi pipi Baekhyun.
"Baekhyun.." Sehun berbisik sambil mengusap air mata yang terus mengalir. "Ayahmu sendiri yang berkata...Memiliki dirimu adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Kau sudah melakukan dengan baik sejauh ini. Aku yakin ia bangga padamu" Sehun tersenyum teduh. Dikecupnya bibir Baekhyun singkat. "Jangan merasa sendiri Baek. Aku sudah bersumpah untuk selalu di sampingmu sejak malam naas itu Baek.." Malam yang merubah kehidupan Baekhyun. Malam ketika untuk pertama kalinya ia merenggut nyawa seseorang.
"Wah..tragis sekali kisah dua saudara ini ckckck"
Baekhyun dan Sehun serempak menoleh ke samping. Baik Sehun maupun Baekhyun menatap tak percaya, mengapa pria itu selalu dengan mudahnya masuk kemari.
"Bisakah drama keluarga ini dilanjutkan lain waktu? Ada urusan yang lebih penting disini." Ucapnya tak peduli pada tatapan datar dari kedua orang lainnya.
Baekhyun membuang muka dan berdecak malas. "Apa maumu Chanyeol?"
"Mauku..kau kemasi pakaianmu dan paspormu. Kita berangkat ke Spanyol saat ini juga"
Baekhyun dan Sehun sampai ternganga. Sudah cukup terkejut akan kehadirannya disini, sekarang pria itu tiba-tiba mengucapka sesuatu yang tak masuk akal.
Chanyeol memutar matanya. "Kita harus segera bertemu Joseph sebelum ia yang datang kemari. Di sini, aku tidak berbuat banyak. Tapi di Spanyol, kuasaku jauh di atasnya." Ucapnya panjang lebar. Baekhyun mengangguk mengerti dan mulai menyiapkan beberapa pakaian dari lemari.
"Aku ikut" ucap Sehun tiba-tiba.
"Dan memperburuk keadaan?" Satu sisi ujung bibir Chanyeol melengkung ke atas melihat Sehun terdiam.
10 menit kemudian, Baekhyun telah menyiapkan semuanya. Baik dompet, pakaian, passport, dan...senjata. Sebelum pergi, Baekhyun mendekati Sehun. Sedikit berjinjit untuk meraih bibir lelaki itu. Dan sungguh mengejutkan karena itu bukan kecupan singkat. Baekhyun benar-benar sedang menggerakkan bibirnya di atas bibir Sehun.
Chanyeol memilih berbalik. Tak mau lama-lama melihat dua orang yang saling berpagutan di belakangnya. Ia menggelengkan kepalanya. Membuang fikiran aneh yang muncul di kepalanya.
.
.
.
"Kau masuk duluan Baek. Aku harus menelpon seseorang".
Chanyeol dan Baekhyun sudah sampai di bandara. Baekhyun masuk terlebih dahulu. Meninggalkan Chanyeol yang sedang memencet kontak di handphonenya.
'Halo paman'
'Selama aku pergi...cari tahu semua hal negatif dari keluarga Byun. Dan...temukan dimana keberadaan ayahnya.."
Chanyeol sudah akan menutup teleponnya saat itu sebelum Leeteuk menginterupsi dan mengatakan sesuatu. Rahang Chanyeol mengeras.
'Kami mulai mendapatkan petunjuk mengenai pembunuh Nyonya Besar. Seorang informan mengatakan pelaku sesungguhnya masih belum terlacak. Namun...'
'Kabarnya dulu sang pelaku mengangkat seorang anak untuk menemani anak kandungnya'
.
.
.
Tebece
.
.
.
Chanbaek pergi berdua ke Spanyol 3 hari. Enaknya ngapain tuh? Yuuuk review.
Oh iya, aku buat lagi FF baru dengan tema crime lagi tapi dengan cerita yang berbeda. Judulnya Someone Behind You. Silahkan dibaca :)
Terima kasih untuk yang sudah membaca, fav, follow dan menuliskan review. Aku bacain semuanya hehehe.
