.
.
Ada beberapa hal yang telah kulupa tapi kau membantuku mengingatnya. Saat aku mengingatnya kau malah menjauhiku. Tanpa sebab yang jelas kau melenyapkan diri dariku.
NARUTO BELONG TO MASASHI KISHIMOTO
warning : TYPO, Don't like don't read
.
COUNTDOWN
(menghitung mundur)
.
Selamat untuk subuh yang mendinginkan kehangatan Hyuuga Hanabi!
Hyuuga bungsu ini awalnya sangat bersemangat. Dia bahkan hanya tidur selama tiga jam saja. tapi semangatnya yang membara itu sirna setelah menyentuh air untuk mencuci muka.
"Diingiin.." seru Hanabi sambil memeluk tubuhnya sendiri. berpura-pura dalam kondisi menggigil hebat. Padahal hanya telunjuknya saja yang kedinginan. mungkin efek bersemangat membuat seluruh tubuhnya bersemangat untuk kedinginan bersama-sama.
Bagaimanapun Hanabi adalah Hanabi. Gadis kecil yang pantang menyerah.
Dengan menahan gemetar tangannya dia menampung air sampai tumpah.
BYUURS
"Waaaaa..." dia berteriak. Air dingin itu membuat kesadarannya tersentak. Dingin. Mukanya sangat dingin lalu hangat dan tiba-tiba kaku karena kedinginan lagi. Angin yang secara tidak sengaja telah terhempas pelan mengenai mukanya membuat mukanya kaku kedinginan.
"Brrr.." Hanabi menggelengkan kepalanya. Menambah kedinginan. setelah itu tertawa kecil. Ia melakukan itu berulang kali. Sampai sesuatu melintas dalam pikirannya.
'..lah Jam lima subuh'
Hanabi langsung menceburkan dirinya ke dalam bathup yang sudah berisi air. Untung saja ada pemanas air. Jika tidak mungkin saja setelah mandi bukannya latihan malah kena flu dan itu sangat memalukan bagi Hyuuga bungsu nakal kita ini.
Selain Hanabi masih ada Hyuuga lain yang terbangun di subuh hari, Neji.
Tidak seperti Hanabi yang subuhnya penuh kelucuan Neji malah memiliki subuh yang sangat datar.
Neji bangun subuh sekitar jam tiga. Latihan katana dan taekwondo sebentar untuk memanaskan diri sembari menunggu bathup-nya penuh dengan air hangat. Setelah dirasa penuh dan badannya berkeringat. Dengan langkah tegas dia masuk ke dalam bathup setelah melepaskan semua pakaiannya.
Dia berendam sejenak lalu keluar dari bathup. Mengambil shampo lalu keramas. Setelah keramas Ia memakai shower dan membilas kepalanya untuk menghilangkan busa di rambut sewarna kayu miliknya. Setelah itu Ia kembali ke bathup. Berendam sebentar. Keluar dari bathup. Mengambil handuk dan bersiap untuk memakai pakaian latihannya.
Lain halnya dengan Hiashi, Sang pemimpin Hyuuga.
Dia hanya tidur sekitar dua jam. Dari jam setengah tiga sampai jam lima. Yang Ia lakukan sebelum tidur adalah memposisikan dirinya senyaman mungkin dengan gaya tidur menyamping di atas 'kasur' iya kasur king size. Setelah itu Ia tatap sisi kasur yang kosong di depannya. Ia usap sisi kasur yang kosong itu. lama dan penuh perasaan. Ia menutup matanya. Yang Ia bayangkan adalah Istrinya yang tertidur pulas di depannya. Membayangkan wajah ayu Sang Istri yang tidak hilang kecantikannya meskipun telah tertidur.
Ia membuka matanya kembali.
"Aku sangat merindukanmu, Anata.." bisik Hiashi sepelan mungkin. bisiknya seperti Istrinya memang benar-benar tertidur di hadapannya saat ini.
Yang selalu Ia rasakan setelah kepergian Istrinya adalah penyesalan.
Kenapa Istrinya pergi? kenapa harus istrinya yang pergi? kenapa bukan orang lain saja? Kenapa saat itu dia tidak datang menolong Istrinya?
Kenapa dan kenapa terus-menerus muncul dalam pikirannya. Dan itu terus-menerus terjadi setiap malam setelah kepergian Istrinya.
Hiashi menutup matanya lagi. Dia mengingat semua kenangannya bersama Istrinya. Sampai akhirnya kesadarannya menghilang dan dia pun tertidur lelap.
Sebenarnya sebelum Ia tertidur lelap, Hiashi selalu merasakan 'anata-nya' memeluk dirinya. Seperti dulu. Seperti sebelum istri tercintanya pergi. Istrinya selalu memeluknya dan mengusap punggungnya untuk membuatnya tertidur lelap.
Dan setelah Ia terbangun dia akan menatap lama tempat yang selalu menjadi tempat Istrinya tertidur lelap. Lalu tersenyum penuh semangat, "Untuk pengorbananmu aku akan membesarkan anak-anak kita seperti kau membesarkannya, anata," Ia berbisik seperti tidak ingin membangunkan siapapun.
Setelah ritual bisik-berbisik itu selesai dia akan menjalani rutinitas setelah bangun tidur. Apalagi kalau bukan mandi, sikat gigi, olahraga pagi, dan lain sebagainya
...
Hanabilah yang paling pertama berada dalam ruangan tertutup nan aneh ini. disusul Neji dengan langkah yang sangat tegas.
Tidak butuh satu jam untuk menunggu Hiashi Sang pemimpin Hyuuga karena hanya dalam waktu tiga sampai lima menit langkah khas kepala klan ini sudah terdengar bergema dalam ruangan hening nan besar ini.
"Apa kalian siap?" tanya Hiashi untuk memantapkan jiwa keponakan beserta putri bungsunya.
"Saya siap," jawab kedua manusia itu dengan tegas dan bersamaan.
Hiashi lalu berjalan ke suatu tempat. Secara otomatis Hanabi dan Neji mengikuti pemimpin klan tersebut. Mereka masuk ke suatu lorong yang tiba-tiba muncul saat Hiashi menginjakkan kaki di sekitar lorong gaib itu.
Hiashi memasuki lorong itu dengan santai sementara dua orang yang mengekor di belakangnya terserang demam panik. Tapi seperti Hyuuga pada umumnya. Mereka bisa menyembunyikan kepanikan mereka dan dengan cepat menggunakan logika mereka untuk mempelajari tempat baru ini.
Terlihat cahaya di ujung lorong.
Semakin dekat cahaya itu semakin terang dan menyilaukan mata. bohong jika Hanabi tidak menutup matanya. Ia tidak terbiasa dan matanya terasa aneh karena pupil matanya harus bekerja ekstra dari gelap yang sangat ke terang yang sangat pula.
Sementara Neji.. tidak usah ditanya. Responnya tidak jauh beda dengan Hiashi. Sama-sama tenang dengan langkah yang tegas. Bagaimanpun mereka adalah laki-laki. mereka adalah laki-laki dari klan Hyuuga. Dan semua laki-laki klan Hyuuga dari kecil sudah menghadapi berbagai latihan fisik juga mental.
Mereka bertiga seperti terserap dalam cahaya menyilaukan itu.
Hanabi membuka matanya.
"Waaaaaaaa...!" Hanabi berteriak dan kaget bukan main. Pastinya.
hinata
Aku sekarang berada di mana? Seharusnya aku berada di suatu tempat atau kasur atau semacamnya karena aku dibawa oleh seorang pria aneh tidak jelas dengan gaya yang norak lalu mengaku di depanku sebagai putra dari klan Otsutsuki. Itupun aku tidak tahu pasti klan seperti apakah itu.
Yang jelas aku harus siaga. Tapi untuk apa aku siaga jika yang kulihat sejauh mata memandang hanyalah wana putih.
Lebih baik aku berjalan dan berteriak.
Aku curiga kalau aku sedang tertidur. Ya, pasti aku sedang tertidur. Hm lebih baik aku menikmatinya.
"Haloo.. apakah ada orang?" aku bertanya pada tempat putih tidak berujung ini. sambil jalan dengan santai aku terus saja berteriak memastikan apakah aku akan bertemu orang atau tidak.
Tiba-tiba aku merinding. Bulu kudukku berdiri tegang. Aku secepatnya berbalik setelah merasakan hawa aneh itu.
Ini buruk. Baru pertamakalinya aku bertemu sesuatu yang seburuk ini. aku tidak bisa bergerak. Bukan karena takut tapi karena sesuatu yang berada di depanku. Sesuatu yang menahanku untuk bergerak.
Sesuatu itu semakin dekat ke arahku. Sesuatu bewarna ungu pekat dengan warna hitam kelam di tengahnya.
Apakah itu kekuatanku? Tidak. Tidak mungkin auranya sejahat ini.
"Siapa kau?" entah darimana aku mendapatkan keberanian untuk bertanya pada mahluk ini. mahluk yang bentuknya tidak jelas. Hanya berbentuk gumpalan dan asap yang mengitarinya.
"Wah.. kau berani juga ya," dia meremehkanku. Aku tidak boleh lengah. Ini artinya dia kuat jika dia berani meremahkanku.
"Aku menginginkanmu menjadi bonekaku. Kau begitu cantik dan lihatlah.. kau membuat lelaki manapun bergairah melihat lekukan tubuhmu," Aku membiarkan gumpalan tidak berbentuk ini berbicara. Mau bagaimanapun aku tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Biarkan kali ini harga diriku terinjak. Aku ingin melihat apa yang bisa dia lakukan.
"Persetan dengan perjanjian masa lalu itu. kau.." tiba-tiba sebuah tangan hitam mengerikan dengan buku-buku jari yang panjang mendekati mukaku. Tangan itu berasal dari gumpalan aneh itu. Aku takut. Kami-sama kumohon bangunkan aku.
Seiring dengan tangannya yang semakin dekat.. gumpalan itu berubah wujud menjadi manusia.
Dia juga berjalan sedekat mungkin denganku meskipun wujudnya masih proses menjadi manusia.
"Jangan mendekat!" aku memberikannya peringatan tapi mahluk itu tidak menggubrisnya.
Tangannya telah menyentuh pipiku. Tangannya sangat dingin dan kasar. Aku tidak suka. Baunya juga seperti bangkai. Dia telah menjadi manusia seutuhnya. Aku tidak bisa melihat seluruh tubuhnya karena dia begitu dekat.
Aku tetap tidak bisa bergerak. Posisiku seperti tentara yang sedang bersiap. Kedua tangan di samping kira kananku dan kakiku saling merapat. Tubuhku tegap dan pandanganku lurus ke depan.
Sebelah tangannya menyingkirkan sebelah rambutku ke belakang. Leher kananku tampak jelas di matanya. Dia mendekatkan kepalanya pada leherku. Lalu menghirup pelan udara di sekitar leherku.
"Darahmu sangat manis, sayang," godanya dan itu membuat sensasi aneh pada tubuhku.
"Lepaskan aku!" gertakku padanya. Tapi dia tidak juga berhenti.
"Kau semakin menggodaku jika seperti ini. kau tidak akan bisa bergerak. Kau adalah milikku," bisiknya di antara leher dan telingaku. Pipiku menjadi panas dan tubuhku semakin aneh.
Dia menggigit kecil telingaku. Tubuhku semakin aneh. pipiku semakin panas. Yang paling parah adalah saat aku mengeluarkan sepatah kata erotis, "Ahhn.. lepaskan,"
"Hei.. kau semakin membuatku tidak bisa berhenti," mahluk mengerikan ini menghentikan aksinya. Lalu menjilat bibirnya sendiri di hadapanku. Aku merasakan firasat buruk. Tolong aku!
Aku menutup mataku. Aku pasrah.
Aku menangis. Airmataku keluar begitu deras. Aku tidak bisa melakukan apapun. Dan hal yang paling menjengkelkan adalah dia tertawa melihatku tidak berdaya.
Aku pasrah. Aku menunggu aksinya. Tapi tidak ada respon apapun. Aku juga merasa bisa menggerakkan tanganku. Kugerakkan jari-jariku dan ternyata berhasil.
"Hime.."
Ini.
Ini suara Kyuubi-kun!
Aku membuka mataku. Benar ini Kyuubi. Dia memakai pakaian yang seperti tadi. Aku menangis hebat. Dia mengingatku? Ah itu tidak penting. Yang terpenting ke mana mahluk seram itu pergi?
"Mahluk itu sudah kuusir. Tenanglah Hime," terangnya seakan-akan bisa membaca pikiranku. Aku tersenyum sambil terus mengeluarkan air mata.
Aku berlari ke arahnya yang tidak jauh dariku. Semakin dekat dan dia membuka lebar-lebar tangannya seperti bersiap untuk memeluk diriku.
Aku memeluk tubuhnya dan dia berubah menjadi butiran air yang terciprat karena kupeluk.
Aku menarik kembali kedua tanganku. Kulihat lama tanganku lalu kulihat tempat Kyuubi-kun berdiri tadi. Aku jatuh terduduk dan kembali menangis.
"Kyuubi.. Kyuubi.. apa kau meniggalkanku lagi?"
...
Pelayan berumur sangat belia itu khawatir.
Tamu cantik mereka mengigau tidak jelas. Selain mengigau, tamu mereka juga mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba tamu sekaligus Nona mereka berteriak dan histeris. Pelayan itu mengira Nona mereka telah bangun. Tapi ternyata Nona mereka masih setia dalam alam bawah sadarnya.
Pelayan kecil itu panik.
Dia dengan berani mendekatkan diri ke arah Tamunya. Duduk di ujung kasur dan memeriksa denyut nadinya. Nonanya tidak dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Tapi kenapa dia merasa takut melihat Nonanya seperti ini.
Sekali lagi Pelayan kecil ini menambah keberaniannya.
Dia menepuk sekali pipi Tamunya.
Tiba-tiba Hinata bangun. Dia langsung terduduk. Tanpa aba-aba Hinata memeluk pelayan yang berada di sampingnya. Mencari ketenangan juga kehangatan.
"Apa yang terjadi Nona," tanya pelayan itu dan Hinata hanya diam.
Dia melepaskan pelukannya setelah dia merasa agak baikan. Dia melihat dengan teliti dari ujung rambut ke kaki dan kembali lagi ke ujung rambut. Dari observasi Hinata dia menemukan satu fakta bahwa gadis kecil yang perkiraan umurnya duabelas tahun itu adalah pelayan dan Otsutsuki aneh yang tidak dikenalnya menjadikan gadis belia ini sebagai pelayan pribadinya.
"Apa kau pelayan pribadiku?" tanya Hinata menyakinkan.
"Iya," Jawab pelayan itu sambil menudukkan kepalanya.
Hinata mengangkat kepala itu dengan sebelah tangannya, "Hei... tidak usah takut. Kalau boleh aku ingin tahu siapa nama gadis cantik ini?" tanya Hinata dengan sangat lembut. Dan gadis yang ditanya itu merasa seperti bukan pelayan melainkan manusia yang merdeka. Baru pertamakali dia ditanya dengan lembut. Itupun oleh seorang Tamu penting.
"Na-namaku shizuka," jawab pelayan itu malu-malu. Dan Hinata tersenyum senang. Tanpa ditanya Hinata mengenalkan dirinya dengan sangat lembut, "Namaku Hyuuga Hinata. kau bisa memanggilku Hinata-nee dan itu adalah perintahku,"
Hm. lembut dan tegas juga.
"Baiklah shizuka-chan. Sekarang jam berapa? Dan apakah di sini ada alat komunikasi seperti handphone atau smartphone?" tanya Hinata pada pelayan pribadi barunya. Shizuka terlihat kebingungan, "Hm.. kami memakai burung merpati atau beberapa burung khusus sebagai alat komunikasi. Dan sekarang sudah jam setengah enam pagi Hinata-nee," jawab Shizuka takut. Dia takut jika jawabannya mengecewakan.
Tetapi Hinata malah tersenyum. Dia sudah menduga hal itu sebelumnya. Dari arsitektur kamarnya saja dia tahu jika di dimensi ini masih zaman kerajaan atau kekaisaraan atau pun kesultanan.
Kenapa? Karena Hinata tidak menemukan kabel seperti di abad dua satunya.
"Apa Hinata-nee ingin mandi?" tanya Shizuka. Dan Hinata mengangguk. Sebelum Hinata berangkat dari kasurnya dia terlebih dahulu bertanya pada Shizuka, "Apa di sini terdapat pakaian yang.. em tidak sepertimu dan tidak seperti yang kupakai? Aku tidak terbiasa menggunakannya. Jika tidak ada aku ingin menjahitnya," terang Hinata. selain alasan yang dia ungkapkan, Hinata tidak mau memakai baju ini karena dia merasa kuno dan tidak sesuai dengan selera modelnya.
"Bagaimana jika aku menunjukkan semua jenis pakaian dan kain pada Hinata-nee?" seru Shizuka dengan semangat. Dia merasa seperti memilih baju bersama kakak kandung perempuan.
Hinata mengangguk cepat dan mengikuti Shizuka ke suatu tempat.
...
Hinata terkejut.
Ini bukan kamar tempat penyimpanan kain atau pakaian tetapi ini seperti pabrik! Besar sangat besar ruangan ini juga kainnya yang beraneka ragam.
Tapi Hinata adalah seorang Hyuuga. Dia langsung berjalan ke arah kain yang menarik perhatiannya. Dia mengambil beberapa kain dan memberikan kain itu pada Shizuka lalu dia kembali ke kamarnya. Dia duduk di atas kasur dan menyuruh Shizuka meletakkan semua pakaian di atas kasur. Shizuka mengikuti perintah Hinata. lalu Hinata meminta tolong pada Shizuka untuk mengambil alat tulis dan kertas.
Shizuka pun pergi untuk mengambil apa yang diminta oleh Hinata. tidak lama kemudian Shizuka kembali dan menyerahkan apa yang dipegangnya.
Hinata menggambar beberapa sketsa baju. Sketsa empat pakaian tidur, tiga pakain pesta, tiga pakaian latihan yang kembar, satu lusin pakaian dalam, empat pakaian santai dan selebihnya pakaian formal yang bisa dipakai semua untuk semua kondisi.
Semuanya tiga puluh enam sketsa.
"Shizuka-chan di mana aku menjahit?" Tanya Hinata dan itu membuat Shizuka tertawa. Hinata yang bingung akhirnya diberi penjelasan bahwa dia bisa membuat pakaian itu tanpa menjahitnya.
"Bagaimana caranya?" tanya Hinata dan Shizuka hanya bisa mengelus dagunya dengan tampang seperti sedang berpikir.
"Mungkin kau bisa membayangkannya lalu mengarahkan tanganmu ke arah pakaian itu," Jelas Shizuka.
Percaya tidak percaya Hinata melakukannya.
Dia menutup matanya dan membayangkan semua sketsanya. Kalau dia tahu seperti ini dia tidak perlu menggambar. Ah, biarlah.
Hinata tidak tahu jika yang terjadi saat dia menutup matanya adalah kainnya tertutup oleh cahaya yang menyilaukan mata sampai-sampai Shizuka melindungi matanya dengan kedua tangannya.
Setelah Hinata selesai dengan pikirannya dan membuka matanya. Pakaian telah siap di atas kasurnya.
Ini luar biasa.
Hinata tersenyum senang. Dia bisa mandi sekarang.
Naruto menatap datar sekelilingnya.
"Paman bilang kita akan pergi ke suatu tempat untuk menjadikanku kyuubi no kitsune! Tapi apa ini? tempat ini sangat gelap dan tidak berujung. Apa paman yakin tidak masuk ke portal yang salah?" tanya Naruto untuk menyakinkan pamannya.
"Naruto kau akan menemui kyuubi mu sendiri. bicaralah yang baik padanya nanti," Jawab Nagato dengan jelas dan padat.
"Apa? Kyuubi? Paman tak pernah bilang apapun tentang siapa kyuubi itu," Terang Naruto santai sambil menyandarkan kepalanya pada kedua tangannya yang bersila ke belakang kepalanya.
"Tunggu apalagi paman! Ayo!" ajak Naruto sambil mengangkat sebelah kakinya. Bersiap untuk mencari kyuubi. Padahal Naruto tidak tahu di mana kyuubi itu berada. Dan pamannya hanya bisa pasrah melihat keponakannya ini.
"Aku tidak bilang kau akan menemuinya sekarang. Kau harus melewati beberapa langkah dulu," terang Nagato menghentikan langkah Naruto.
Naruto menatap datar pamannya, "Paman kau orang paling aneh yang tidak bisa kumengerti," keluh Naruto terhadap pamannya. Kenapa? Karena tadi pamannya bilang begini dan sekarang bilang begitu.
Tiba-tiba Pamannya membukakan sebuah portal. Naruto melihat ke arah Pamannya. Menatap tanya pamannya apa Ia harus masuk ke dalam lobang aneh lagi atau tidak. Pamannya menatap yakin disusul datar dan malas. Ayolah.. pamannya tidak sabar ingin memukul naruto agar cepat masuk ke dalam portal jika Naruto terus-menerus hanya menatap portal itu.
"Apa yang kau tunggu?" tanya Nagato geram.
"A-" belum selesai bicara Nagato langsung mendorong tubuh Naruto untuk masuk ke dalam portal.
Sekarang hanya Nagato yang berada di tempat gelap nan sunyi ini.
Tiba-tiba ada suara yang amat rendah dan mengerikan menguar dari setiap sisi ruang gelap yang tidak berujung itu, "Anak itu tidak berubah ya, Nagato!"
Nagato tersenyum tipis. Dia membalas sapaan pembuka dari pemilik suara itu, "Benar Kurama. Dia masih seperti dulu,"
TBC
Terimakasih telah membaca dan terimakasih telah review!. GAYA PENULISAN AGAK BERUBAH KARENA MOOD AUTHOR LAGI PANCAROBA
Eeh... chap ini jg sudah dire-make! Banyak yang salah. Hoho. Ya namanya juga manusia :v
REVIEW! :v
Updet terserah saya :v
Netto. 2494
