"Our phones fall, we panic. Our friends fall, we laugh."
(anonymous)
Di hari keempat mereka disekap, Toneri dan kelompoknya yang selalu bertopeng bulan purnama itu, tak henti mencambuki sang tentara. Berbanding terbalik dari hari-hari kemarin, kesunyian yang aneh melanda garasi tempat para terrorist bersembunyi.
Di antara bunyi cambukan memekakkan telinga, amarah Hinata yang konstan tersuarakan meski dengan suara kering, Naruto senantiasa melantunkan mantranya.
"Naruto Uzumaki. Lahir sepuluh Oktober, tahun XXXX. Nomor ID: 0001937845, Tokushu Sakusen Gun, Special Operation Force unit Matahari Terbit. Kelahiran Jepang, Tokyo. Tidak sudi mati hari ini, tidak sampai dapat pacar yang bisa mematahkan pertunangan dari Otou-chan dan Kaa-chan—DATTEBAYOOO!"
Gaduh yang riuh-redam, deru desing peluru di luar sana, justru menetaskan ekspresi Naruto yang semula menderita, berubah jadi seringai kemenangan.
"Aku akan mengakhiri ini, manusia-manusia yang korosif dan perusak muka bumi—"
"Kau mencari perusak muka bumi?" Naruto yang merasa darah telah menggelegak dan rangka gerak berderak, melentingkan lirikan mematikan. "Butuh kuambilkan cermin?"
"Kalaupun ada yang butuh cermin, kau akan lihat betapa mengenaskan kau sekarang." Tawa angkuh Toneri memantul-mantul ke seisi garasi.
"Masih lebih baik." Naruto mengedikkan bahu, menyengir dengan sorot mata berpura-pura paham. "Kalau kau yang bercermin, aku yakin cerminnya langsung retak atau si cermin akan kaupecahkan duluan saking buruk rupanya kau."
Toneri mencambuknya sekali lagi lebih keras. "Diam! Bagaimana caranya kau membuat kontak dengan teman-temanmu?"
"Telepati," Naruto berbicara seolah tengah mengomentari cerahnya musim panas, kemudian memutar kepalanya meniru gerakan liliput, "seperti alien. Beep beep beep!"
Toneri menjambak rambut pirang lusuh itu dan mendongakkannya. "Katakan selamat tinggal pada dunia ini."
Tepat ketika Toneri persis ada di dekatnya, Naruto dengan cengiran nakal mendesis, "Kupastikan kau tidak akan mati, tidak sampai merasakan disfungsi ereksi sebenarnya."
"Berhenti melakukan semua ini!" Hinata berusaha menggapai Naruto dan menjauhkannya dari Toneri. "Kalau kaupikir, menyiksa atau menghina sesuatu atau seseorang yang orang lain suka bisa membuat dirimu lebih baik, kau salah besar! It will backfire to you later!"
Toneri memincingkan mata, murka melihat Hinata memegangi wajah Naruto yang berlumuran darah dengan lembut sementara memandangnya seolah tengah menantang maut. Rautnya seketika menjelma seperti diktator zaman pra-sejarah. Meraung marah, mengayunkan cambuk keras-keras.
"Naruto—urgh!—Uzumaki. La-lahir sepuluh Oktober—"
"HENTIKAN!" pekik Hinata.
Toneri mendengarkan keheningan mengerikan dari luar. Tangannya merogoh ke balik jubah yang ia kenakan. Kalung bergemerincing ketika ia memegang pistol, kemudian membuka borgol Hinata secepat yang ia bisa.
"Kau pernah menolongku saat kau di Akademi Keperawatan dulu, Hinata," ulas Toneri, menahan lengan Hinata yang berontak ingin lepas. "Kecelakaan beruntun bus, mobil, dan motor. IGD sibuk, aku diabaikan, tapi kau datang untuk menyelamatkanku—"
Tatapan Hinata berubah nanar. "Kalau aku tahu begini jadinya—"
"Setelah ini, mari kita menikah—"
Pintu didobrak terbuka.
Sebulat sinar merah, pinpoint target, menghunus pertemuan alis Naruto yang batuk berdarah.
Semua orang dalam ruangan kalang kabut karena intrusi, orang-orang berseragam loreng yang menggenggam senapan serbu, dan jeritan mematikan.
Hinata tercengang bukan kepalang melihat orang-orang berseragam loreng dan hitam mengambur ke dalam ruangan. Tanpa suara, dengan kecepatan mengagumkan, tanpa sempat Toneri menjadikannya sandera atau pakai gas airmata, seseorang meroda lincah dan menendang telak pinggang Toneri hingga terpelanting ke samping.
Hinata tidak begitu melihat apa yang terjadi. Operasi penyergapan berlangsung begitu cepat, seseorang menduduki perut Toneri, dan menendang pistol jauh-jauh dari tangannya, memakai cambuk untuk mengikat sang dalang keras-keras agar tidak bisa lari. Sementara ia masih berpikir semua ini mimpi.
"Hinata-san, kau baik-baik saja?"
Begitu melihat rupa si tentara yang menendang pinggang Toneri, membuka kaca helm-nya dan menampakkan senyuman, seketika mata Hinata berkaca-kaca. "Lee-san!"
Seorang tentara lain menodong kepala Naruto, mengoar garang, "ANGKAT PANTAT!"
"Saya bersumpah demi Icha-Icha Paradise Kolonel Hatake, ditusbol itu menyakitkan!" jawab Naruto dengan raung bernada amat lega. "Brengsek, kalian tidak becus sekali baru sekarang sampai ke sini!"
"Passcode Tokushu Sakusen Gun unit Matahari Terbit diterima." Seseorang merangsek mendekat untuk membuka borgol Naruto. Helm-nya terbuka. "Sandera berhasil diidentifikasi. Sir, we secured Naruto Uzumaki, Hinata Hyuuga, and the rest of organized crime, Outsutsuki's members, successfuly. Over. Naruto, kau oke?"
"Apa aku kelihatan kayak orang baru dapat jackpot, Kiba?" salak Naruto galak.
Bunyi gemersak ala kantung plastik itu, berasal dari dalam saku seragam hitam di mana wireless walkie-talkie tersimpan, bahkan melegakan Naruto bukan main.
"Otsukare. Kiba, aku ingin bicara dengan Naruto. Over."
Kiba menyerahkan walkie-talkie lain pada Naruto setelah melepaskan borgol dari Naruto yang masih kesemutan. Dia bergegas menghampiri Hinata yang tengah dilepaskan dari borgol dan rantai oleh Lee. "Astaga, kau baik-baik saja?!"
Hinata berurai mata ketika melihat teman sebangkunya dulu datang. "Kiba-kun, Shino-kun, Lee-san, terima kasih ..."
"Yap. Tampangmu benar-benar kayak orang dapat jackpot, Naruto." Sai datang untuk menyerahkan air mineral pada Naruto yang langsung menenggak dengan rakus, menatap penuh makna pada selangkangan yang menggembung.
Naruto tersedak. Refleks menendang Sai, di mana penggodanya itu dengan elegan menghindari serangannya. "Ini karena Toneri! Dia bandar narkoba afrodisiak—"
"Senang bisa disandera dengan wanita?" goda Sai lagi dengan senyum yang mengiritasi mata.
"Siapa yang senang, hah?!" desis Naruto murka.
"Hmm. Betul juga." Sai mengangguk sok polos. "Kalau tidak melakukan apa-apa, bagaimana bisa senang, ya?"
"Siapa pun, pinjamkan aku bazooka untuk membom mulut Sai sekarang juga." Naruto berguling untuk menendang Sai yang meloncat menghindari serangannya."
"Naruto, kau ini tidak konsisten. Katanya tidak mau mati perjaka," Shino bahkan ikut menyahut.
"Kau jangan ikut-ikutan!" Naruto melotot pada Shino yang tengah mengikat bawahan Toneri, seperti sosis dibalut mie sebelum digoreng ke dalam minyak panas. "Aku tidak mau kalau itu Hinata!"
"Jadi kalau bukan Hinata, tidak apa-apa?" tanya Chouji polos.
"Dengan selain Hinata juga tidak!" Naruto mencak-mencak mengacak rambutnya.
"Oh, pantas saja. Aku tidak akan kaget kalau kau mati perjaka," timpal Kiba berpura-pura prihatin.
Naruto menyambar serpihan batu dan melempari Kiba yang gesit berkelit. "Aku tidak mau jadi budak nafsu, tahu!"
Konohamaru yang kini beralih tengah memapah Hinata, refleks tergelak. "Oh, Naruto-Senpai kan sukanya jadi budak cinta."
"Cinta pada Sakura-san saja tidak pernah sampai." Lee geleng-geleng kepala, memandangi Naruto dengan simpati.
"Kayak kau iya saja!" desis Naruto, melotot sengit pada Lee.
"Buat apa mencinta bila kau terancam tak bisa bercinta, Naruto?" Sai menutupi selangkangan Naruto dengan kain robekan hakama yang bekas pakai mengelap darahnya.
Naruto melotot sepenuh hati pada semuanya. "KALIAAAAN!"
"Itu cara mereka merindukanmu, Naruto." Shikamaru menepuk pundak Naruto, menahannya agar tidak loncat untuk memberikan azab pedih pada tim mereka.
"Aku tidak mau dirindukan sesinting ini! Benar-benar tidak normal!" Naruto berdecak sebal.
"Lihat siapa yang bicara," komentar Gaara yang memeriksa kondisi fisik Naruto.
"Naruto-Senpai, coba dibalasnya dengan otak, bukan otot." Udon dengan salut menepuk bahu sang senior yang membelalak galak.
Naruto menahan desahan saat teman-temannya menggulingkannya dengan semena-mena ke atas tandu. "Pelan-pelaaan!"
"Kau masih sensitif, ya?" Sai tersenyum pengertian.
"Pecat mereka dari tim ini, Kapten!" adu Naruto begitu melihat Shikamaru memerhatikan tim mereka mengamankan Toneri dan anggota gila lainnya.
"Berhenti melakukan hal merepotkan, Naruto." Shikamaru mengerlingnya sepintas.
Sai menatap dengan kecemasan yang membuahkan tawa mereka, pada SOF combat Medics di unit mereka. "Gaara, coba diperiksa. Siapa tahu Naruti disfungsi ereksi, bisa-bisa mandul dia."
"Naruto bisa perjaka sampai mati!" sorak Kiba, mengakak disertai gelak tawa yang lainnya.
"Sudah, kau terima nasib saja bakal ditunangkan oleh Letjen Namikaze. Oke?" kata Shino, tepukan di punggung lengan Naruto terlalu serius.
"Kasihan perempuannya, dong. Mending dengan aku!" seru Konohamaru.
"Ku-PHK kau dari unit Narubebe, Konohamaru!" hardik Naruto dengan kemarahan yang melegakan semua orang.
"Oke. Nanti kalau kita mulai operasi dan ada yang perlu diajak loncat dari helihopter yang sedang terbang, jangan cari aku lagi, Senpai!" Konohamaru terbahak.
Sai menatap Naruto dengan wajah mencerah. "Betul juga. Konohamaru kan sehat, rajin menabung, dan tidak mandul."
"Salute! Kolonel Hatake," Naruto yang telah terbaring di tandu menatap syahdu langit-langit ruangan seraya mendekatkan walkie-talkie ke mulutnya, "pisahkan aku dari unit Matahari Terbit, relakan aku tidak bersama iblis-iblis sialan ini. Over."
"Tidak ada lagi unit yang mau dan sanggup menerimamu, Naruto," tanggap Kakashi, atasan yang bertanggung jawab pada unit mereka, dengan bijak dan desah lelah. "Kalian kan aslinya unit ABK. Over."
"Hei, yang masuk golongan Anak Berkebutuhan Khusus itu cuma Naruto!" protes Kiba dengan nada berpura-pura terluka.
"Kolonel Hatake, pecat aku dari tim ini. Cepat." Naruto hendak menyambar Colt M4, senapan serbu tipe assault riffle, yang tergantung di lengan Gaara. "Sebelum aku membunuh mereka semua. Over."
"Iya, iya, Naruto. Kami juga rindu padamu," tanggap Kakashi sambil lalu. Baru Naruto mau berseru terharu, batal ketika atasannya berujar, "Kedengarannya kau baik-baik saja, meskipun terancam impoten. Over."
"Kenapa aku pernah merasa bahagia kau jadi guruku? Kenapa? Over." ratap Naruto yang digotong keluar di atas tandu.
Kakashi sedikit terkekeh ketika berkata, "Omong-omong, Letjen Namikaze bilang, beliau dan istrinya akan tetap mencintaimu meski kau tidak bisa menghamili anak orang, juga menyerahlah, kau pasti jadi ditunangkan. Over."
"Tidak ada yang normal di sekitarku, tidak bahkan orang tuaku sendiri. Over." Naruto mengerang. Senyumnya perlahan terkembang.
Sesungguhnya ia mengerti mengapa unitnya bercanda dengan brutal seperti ini. Bukan hanya karena merindukan, tapi masa-masa di mana tidak ada topangan mereka, yaitu Naruto sendiri, pastilah masa yang amat berat dan mengerikan karena tidak tahu di mana keberadaannya.
"Salute!" Naruto memberikan salut, menghormat seolah tengah menghadap tiang dengan bendera negaranya berkibar indah dilatari langit biru. "Terima kasih sudah menyelamatkan Naruto Uzumaki. Lahir sepuluh Oktober, tahun XXXX. Nomor ID: 0001937845, Tokushu Sakusen Gun, Special Operation Force unit Matahari Terbit. Kelahiran Jepang, Tokyo. Tidak sudi mati hari ini, tidak sampai dapat pacar yang bisa mematahkan pertunangan rancangan orang tuanya—DATTEBAYOOO!"
Di atas tandunya sendiri, Hinata dapat melihat, dari sorot hangat tatapan tiap para tentara yang ada, betapa mereka saling menghargai dan menyayangi satu sama lain—sekalipun ketika perang tengah berkecamuk.
"Onee-sama!"
"Hinata-sama!"
Di tenda para pengungsi dan korban perang, Hinata yang telah selesai diobati oleh tim medis, segera dikerubungi oleh keluarganya yang ternyata masih ada di sana.
Ia pikir airmatanya telah setandus padang pasir, dan tidak akan menangis sama sekali, melihat kota seindah Hokkaido berubah gersang karena jadi medan perang. Apalagi melihat berapa mayat yang bergelimpang.
Namun, malah ternyata airmata menghujan. Menandingi derasnya niagara tatkala mengetahui seluruh anggotanya selamat dan hanya mengalami luka minor. Paling parah hanyalah Neji, kakak sepupunya itu tertembak di perut.
"Terima kasih sudah menyelamatkan Neji Nii-san, Sakura-san," kata Hinata, begitu ia selesai diobati oleh Sakura yang sukses menyingkirkan semua orang agar berhenti mengerubungi Hinata.
Sang relawan dokter itu, yang mengaku telah tiba di tempat perkara dua hari setelah perang meletus, meremas tangannya dengan pelan dan senyuman menenangkan.
"Terima kasih sudah menjadi begitu kuat menemani si Bodoh Naruto, Hinata. Payah sekali dia, jadi rakyat sipil tinggal ditolong saja, malah membagi kesialannya denganmu, sampai-sampai kalian tersandera berdua."
Rakyat sipil? Hinata mengerutkan kening. Masa Sakura tidak tahu bahwa sekarang Naruto seorang tentara?
Sebelum sempat Hinata menanggapinya, Sakura memula senyum sesal. "Maaf, ya, kutinggal dulu. Masih banyak pasien yang perlu kuurus."
Di sisi lain tempat tidur darurat yang tertutup tirai, Sakura menyergah sambil berkacak pinggang. "Jangan kemana-mana sampai infus IV habis, Naruto. Awas kau kalau coba-coba kabur dan sok-sok menolong orang!"
Naruto bersuara memelas. "Sakura-chan, aku nyaris mati, tahu."
"Orang bodoh tidak cepat mati, kok." Sakura merapikan peralatan yang akan ia bawa ke garis batas terdepan, tapi cukup aman dari medan perang. "Jangan macam-macam. Aku lebih pandai pakai pisau daripada kau."
Sakura mengentakkan langkah keluar dari bilik-bilik IGD ala kadarnya. Hinata sepintas melihat siluetnya menembus kericuhan, gagah berani melangkah ke medan perang.
"Sakura-chan, Sakura-chan." Hinata membayangkan Naruto terkekeh geli sambil geleng-geleng kepala. "Kalau soal pisau bedah, sih, kau memang ahlinya."
Hinata menggeser tubuhnya yang terserang demam, menghadap ke arah di mana ranjang Naruto berada. Menerawang, seakan matanya adalah mata abnormal yang bisa melihat tembus pandang.
Giginya bergemelutuk pelan, menahan sensasi panas dari dalam badan dan dingin angin pagi buta yang berwangi embun. Efek samping kedinginan begitu lama, dan afrodisiak di badannya.
Embusan angin di membelai terpal dan tenda yang agak goyang, tapi takkan rubuh begitu saja. Hinata dihantui bayangan mengerikan hari-hari yang telah terjadi, mata-mata menyorot kosong. Jiwa tapa raga.
Ada bunyi gemersik familiar. Hinata tahu itu suara walkie-talkie yang dipakai para militan.
"Channel Nine to channel Three." Hinata benar-benar baru tersadar, Naruto dulu yang kapasitas bahasa Inggrisnya mentok di yes, no, I'm hungry, sekarang pelafalan bahkan logatnya telah begitu fasih. "Nine Tailed Fox here. What's wrong, Captain?"
Kapten. Guratan dalam muncul di kening Hinata, kalau tidak salah ingat, unit yang Naruto sebut-sebut bernama Matahari Terbit itu memang berada di bawah kepimimpinan Shikamaru.
"What?!" seruan tertahan. "He's running away?!"
Hinata menahan napas.
"No, I won't let him go." Kali ini bunyi gemersik selimut, seseorang jatuh dari kasur dan mengumpat kesakitan, lalu suara roda bergulir dan gema tetes infus terinterupsi dengan riak. "I'll go now. Oh? Go back to our basecamp first to refill our equipment? No probs. Yes. Yes ... okay, let's meet over there!"
Tidak lama, suara tirai tersibak dan derap langkah, mendorong Hinata untuk keluar dari selimut. Tanpa memakai alas kaki terlebih dahulu, berlari mengejar langkah seseorang yang begitu senyap, menyelinap ke dalam malam untuk lenyap.
Namun malam tak begitu senyap. Purnama yang pucat dan keperakan menuangkan sinar minimalis, menerangi seisi kota Hokuryu, yang berkabung dikawani sunyi.
Rambut pirang itu, meski kusam di tengah keremangan, tetap mencolok di tengah padang bunga matahari, berpagarkan semak four-leaf clovers.
"Naruto-kun!"
Seseorang yang diam-diam berniat kabur itu berjengit, sigap melompat ke semak-semak four-leaf clover dan bunga matahari. Kepala menyembul untuk mengintip. Mengembuskan napas lega mengetahui siapa yang terhuyung mengejarnya.
"Oh, Hinata."
"Mau ke mana? Sakura-san bilang kau jangan kemana-mana sampai infusnya habis." Hinata memandangi telapak tangan Naruto yang sebelumnya ditempeli infus. Bisa-bisanya main dicabut begitu.
"Ke toilet." Naruto tertawa canggung, dengan gerakan robot, keluar dari semak berdaun tiga.
Begitu menyadari Hinata hanya menatapi, apalagi dengan kilat pengertian bahwa ada banyak hal yang Naruto tidak bisa katakan padanya karena protokol dan Standar Operasional Prosedur (SOP dalam berinteraksi dengan rakyat sipil), Naruto menghela napas panjang.
Naruto berjalan perlahan menghampirinya.
Angin membelai permukaan dataran ungu, menerbangkan helaian bunga matahari yang telah diacak-acak perang, beberapa petak terkayak, tapi tak kurang tetap berkilat bernderang. Wangi padang bunga lain seakan terembus sampai sini, selembut embun di tubuh subuh. Cahaya purnama meredup.
Ternyata masih ada sebelah rupa dunia yang tak terjamah tangan kejam peperangan.
Hinata tidak menyukai situasi ini, karena ia jadi tidak bisa melihat bayang senyum Naruto maupun matanya yang begitu biru.
"Kenapa Sakura-san tidak tahu kau itu tentara yang berbeda dari tentara biasa?" tanya Hinata begitu Naruto berdiri persis di hadapannya, seperti terbitnya cahaya matahari di padang ungu dan malam rimba.
"Sakura-chan, Ino, dan yang lainnya tahu, kalau Shikamaru dan yang lainnya tentara."
"Yang a-aku tanyakan itu Naruto-kun."
Naruto memetik asal setangkai 4-leaf clovers. Memilinnya dalam jemari, tatapannya menghindari Hinata. Sorot pandang memancang bunga matahari yang menjulang.
"Soalnya aku terlalu bodoh untuk melakukan hal itu. Begitu yang sering mereka bilang." Naruto mengedik bahu sejenaka yang ia bisa. "Lebih baik kalau mereka tidak usah tahu."
Hinata menahan angin yang meraung lebih garang dengan lengan. Suara samar Naruto terdengar tenang, mengundang debar menyenangkan.
"Toneri berhasil kabur, Hinata," Naruto menyerah dengan suara rendah, "aku tidak mau membiarkannya lari begitu saja."
Hinata terperangah tak percaya. Dia memejamkan mata teringat siksaan yang diberikan pada mereka. Tubuhnya panas dingin, tapi Hinata yakin ada bara lain yang bercokol di dadanya.
"Aku mesti pergi." Jemari Naruto terulur, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Hinata. "Tolong jangan katakan pada siapa pun."
"... siapa kau sebenarnya?" bisik Hinata.
Naruto bergeming.
Hinata menatap dengan sorot mata menyendu. Ia memang belum sedewasa itu, tapi cukup untuk tahu bahwa ada hal di dunia ini di mana banyak orang lebih baik tidak tahu, dan biarkan saja begitu.
Berbekalkan ingatan betapa kuat Naruto disiksa, mengukuhkan bahwa ia tidak seharusnya merasa miris, melainkan salut dengan keteguhan hati dan kekuatan Naruto di saat terburuk sekalipun, Hinata menelan ludah. Susah untuk tidak menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Hati-hati, ya, Naruto-kun." Hinata menepuk punggung lengan Naruto dengan pelan, membiarkan pandangannya tertambat lebih lama pada sekeping laut yang bersemayam di mata Naruto.
"Selamat berjuang ... dan semoga cepat pulang," kata Hinata. Memulas senyum, pengertian tersimpan dari caranya memandang Naruto.
Tangan tan dan ditoreh bekas-bekas luka meraih tangan berjemari lentik, menyelipkan 4-leaf clovers di jemari. Hinata mendengarkan puisi Ariwara no Yukihira, dibisikkan Naruto yang bahkan dulu selalu tertidur di jam pelajaran Sastra Jepang.
.
.
"Tachiwakare Inaba no yama no Mine ni ouru
Matsu to shi kikaba Ima kaeri kon."
.
.
(Note that though we may be apart,
If I am to hear that you pine for me as the Inaba mountain pines,
I shall return to you.)
.
.
Naruto menjumput ujung rambut Hinata, menciumnya dengan pelan dan sayang seperti janji.
Naruto beranjak pergi; menyelami sunyi, meninggalkan Hinata tersepi sendiri.
Special Operacion Group, Unit Matahari Terbit. Anggota: Shikamaru (Captain), Lee, Naruto, Gaara, Kiba, Shino, Sai, Chouji, Konohamaru, Udon.
Puisi tsb ditulis dan diciptakan oleh Ariwara no Yukihira, saya mendisklaim itu milik saya. Dan kutipan pembuka maksudnya dalam arti bercanda. Jadi tolong enggak di-applied/related ke segala hal dalam pertemanan, ya.
Terima kasih pada Kak Prominensa, Ren Azure Lucifer D Kanedy, nhlgandaria-chan, 666-avanger, Jinna, dan Tectona Grandis yang telah meluangkan waktu untuk RnR fanfiksi ini.
