Police Underground

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Writter ©Gherald

Genre : Action, Supranatural, Friendship, Romance.

Rate : M (No Lemon/Lime)

Pairing : [Naruto x Hinata] and others.

WARNING

Typo(s), OOC, Violence, No Lemon/Lime!, Multichapter, DLDR, Mind RnR?

.

.

.

.

.

OPENING THEME

One Ok Rock – Nothing Helps

.

.

.

.

.

^Enjoy Reading^

.

.

.

Chapter 3

-Ambang (Bagian II)-

.

"Selamat atas keberhasilanmu, Hyuuga Hinata-san."

Dalam beberapa saat saja, Hinata dapat merasakan bagaimana kekakuan atas syaraf-syaraf tubuhnya. Sulit dijelaskan dengan kata-kata, apa dan bagaimana rasa kejut dalam dirinya saat ini atas sosok menyeramkan yang berada di hadapannya. Kinerja otaknya seolah terhenti, dan seolah memutar kembali kenangan yang pernah dialaminya di masa lalu. Segalanya terasa nyata — darah, jeritan, dan kematian — semua itu berputar di dalam otaknya secara berulang-ulang; hingga akhirnya ia pun mulai tenggelam dalam pikirannya.

Sedangkan di sisi lain, Danzo berjalan mendekati Hinata yang masih termangu di tempatnya; wujud mutannya tampak semakin menyeramkan, kala tiga buah tulang berujung tajam menyembul di garis punggungnya. Danzo, tak bisa menahan seringaiannya, ketika melihat sosok Hyuuga Hinata dengan memasang tatapan kosong yang membulat terkejut. Ini adalah pertama kalinya ia melihat raut itu di wajah seorang Hyuuga Hinata, wanita dengan kesan dingin dan angkuh yang kental itu sangat jarang menunjukkan rasa takut juga kekhawatiran dalam dirinya. Namun, saat ini — di hadapannya, Hyuuga Hinata terlihat begitu lemah, tidak lebih hebat dari seekor kucing rumahan.

Danzo pun tertawa, dengan suara berat yang menyeramkan. "Kau! Bagaimana perasaanmu, bisakah kau jelaskan bagaimana rasa takut itu bagimu, Hyuuga Hinata?" katanya seraya memunculkan kuku-kuku tajam di setiap jari-jari tangannya, "Apakah begitu menyenangkan, sampai-sampai kau pun sulit untuk memberitahukannya padaku ... ataukah, rasa takutmu masih belum cukup?"

"..."

"Apakah aku harus membuatmu menjerit kesakitan untuk memberitahuku tentang ketakutanmu eh, Hyuuga Hinata?" ujar Danzo bernada sinis; ia terus menerus berbicara meski tak mendapat jawaban dari Hinata. Tujuannya memang melenyapkan Hyuuga Hinata, namun membalas penolakan Akatsuki waktu itu juga menjadi prioritasnya.

Namun, di tengah langkahnya, tiba-tiba sekumpulan kabut asap yang berbau pekat menutupi keduanya, juga area sekitar mereka. Danzo pun menghentikan langkahnya dan mulai mengedarkan pandangannya; geraman rendah pun seketika keluar dari mulutnya. Pandangannya benar-benar terhalang, penciumannya pun tak berfungsi dengan baik, dan pendengarannya entah kenapa juga perlahan menjadi tumpul. Untuk sesaat, Danzo berpikir bahwa ini semua mungkin karena peluru yang meledak di dalam tubuhnya tadi, dan melukai salah satu jantungnya. Namun, ketika ia mengingat-ingat kembali, bukan itu yang membuat inderanya pendengarannya menumpul. Tetapi, karena ...

'Pedebah-pedebah itu ...' batin Danzo seraya menggeram rendah, emosi kemarahan mulai membakar batinnya dan membuat hasarat membunuhnya pun semakin besar.

Benar, semuanya karena serangan Hinata yang mengenai titik-titik vitalnya tadi. Baru ia sadari, bahwa serangan-serangan itu bukan tanpa alasan. Sejak awal — dan mungkin, sebelum pertarungan mereka dimulai — wanita itu mungkin memang sudah mengetahui semuanya. Namun, otaknya menempik itu semua; karena melihat ekspresi wanita itu sebelumnya, tampak jelas raut terkejut di sana, mustahil jika serangan-serangan itu sudah direncakan sejak awal.

Jadi, bagaimana bisa?

Pertanyaan itu seolah menjadi bom waktu bagi Danzo. Sekeras apapun ia berpikir, ia tetap tak menemukan satu pun jawaban atas segalanya — niat-niat yang disembunyikan Hinata. Dengan suara geraman rendah, juga ekspresi kekejian di wajahnya; Danzo pun berteriak marah dan mulai mencari keberadaan Hinata.

"Wanita sialan ...! Kubunuh kau! Haaargh!" ujar Danzo bernada tinggi. Emosinya semakin meluap-luap, kala sebuah peluru kembali melesat ke dalam tubuhnya, dan meledak di dalamnya. Sel-sel di dalam tubuhnya pun mengalami kerusakan cukup parah, kedua jantungnya yang masih tersisa pun mengalami sedikit luka, sehingga menghambat proses regenerasi tubuhnya. Namun, tak butuh banyak waktu untuk memulihkan kembali kedua jantung miliknya yang tersisa.

"Aku berubah pikiran! Akan kubunuh kau dihadapan kelompokmu secara perlahan-lahan! Lihat saja! Hyuuga Hinata ...!" Danzo yang semakin murka pun berteriak dan berjalan tak tentu arah, untuk mencari keberadaan Hinata.

-oOo-

Hinata sempat terkejut dengan adanya kumpulan asap yang cukup tebal, namun tak cukup untuk menghalangi sepasang mata byakugan miliknya. Samar-samar, ia bisa mendengar suara Danzo dan juga getaran tanah akibat gerakan yang dibuat Danzo. Dengan asap yang menyelubunginya, ia juga masih bisa melihat bagaimana perjuangan kedua anggotanya yang berada di atap salah satu gedung. Terlihat, Konan yang masih tak menyerah untuk terus menembak ke arah Danzo, sedangkan Deidara yang tampak begitu fokus dalam merakit bom. Di sana, kedua anggotanya tengah berjuang demi menyelamatkan dirinya.

Lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri?

Yang bahkan hanya bersembunyi, seperti seorang pecundang.

Ia bahkan tak melakukan sesuatu yang berarti di sini. Ya, Hinata sadar akan dirinya yang menjadi beban saat ini. Ia tak bisa melakukan apapun yang berarti kali ini, segalanya menjadi sia-sia di matanya saat ini, bahkan hanya tinggal menunggu hitungan detik saja dan semuanya akan kembali menjadi gelap — byakugan miliknya telah sampai pada batasnya.

Dalam keheningan, Hinata tersenyum miring seraya memejamkan sepasang matanya. 'Semuanya telah berakhir di sini, apa yang bisa kuperbuat? Cih, bahkan bergerak pun aku merasa takut,' batinnya kalut. Hinata kemudian membuka matanya secara perlahan tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. Dan ketika sepasang kelopak matanya benar-benar terbuka, ia pun dikejutkan dengan kondisi di sekitarnya. Asing, semuanya tampak begitu aneh di matanya; semuanya berbeda, ia tidak berada di tempat sebelumnya ia berada.

.

.

.

ZLAP

'A-Apa?! D-Dimana ini ...?' batin Hinata berbicara lagi.

Ruangan hitam legam tanpa cahaya, dengan suara tetesan air yang seolah memecah keheningan ruangan — itulah deskripsi singkat untuk tempat dimana saat ini Hinata berada. Beberapa saat setelahnya, Hinata bisa mendengar suara langkah seseorang yang semakin mendekat ke arahnya, dan semakin mendekat; sampai akhirnya ia melihat siluet seorang itu. Dalam jarah beberapa meter, sepasang manik byakugan miliknya menangkah sesosok wanita bergaun hitam beraksen ungu tua; wanita itu tampak mengenakan sebuah topeng rubah hitam beraksen putih. Rambut hitam panjangnya, tampak terurai dan hampir penyentuh lantai. Sikapnya yang anggun nan tegas, membuat Hinata berpikir bahwa sosok itu merupakan malaikat maut yang hendak membawa jiwanya ke Neraka.

Hinata pun tersenyum rendah, saat memikirkannya. "Hei, kau — malaikat pencabut nyawa," ujar Hinata dengan suara rendah nan angkuh, "cepat bawa jiwaku sekarang ke Neraka. Kau tidak perlu memaksaku untuk menyerahkan jiwaku, karena aku akan menyerahkannya dengan senang hati." Hinata kemudian terkekeh pelan seraya memandang rendah sosok yang berdiri di hadapannya; lalu ia memejamkan mata seolah menanti kematiannya dengan penuh khidmat.

Namun, jawabannya justru berbeda dari apa yang diharapkannya.

Sosok bergaun gelap di hadapan Hinata itu pun berbicara dengan nada lirih nan anggun, "Hyuuga Hinata, kita bertemu lagi. Aku tidak menyangka akan secepat ini, ne." Suara bagaikan lonceng itu pun mengalun lembut.

Untuk sesaat, Hinata sediikit tersentak akan suara yang didengarnya; bukan karena keindahan suara itu, namun lebih kepada ingatan akan suara itu. Satu kali, ia pernah mendengarnya entah dimana; suara yang tak asing dikecap oleh indera pendengarannya, dan ia melupakan darimana dan kapan ia menemui suara itu. Hingga akhirnya, ingatan miliknya secara spontan terputar pada peristiwa 12 tahun lalu. Ia yang saat itu mengalami masa-masa terburuknya, pun bertemu dengan seorang wanita bertopeng rubah di tengah badai salju. Selama beberapa tahun, ia tinggal bersama wanita itu dan mempelajari banyak hal dari wanita itu, salah satunya ilmu berpedang.

"K-Kau ..."

TES

Suara tetesan air seolah memecah keheningan sesaat di antara mereka. Di balik topeng yang menutupi wajahnya, wanita itu tersenyum kecil. "Benar, Hinata," balas wanita bertopeng itu seraya berjalan mendekati Hinata, "Aku adalah orang yang sama dengan orang yang kau temui dua belas tahun lalu."

Hinata tersenyum rendah seraya memandang angkuh wanita di hadapannya. "Kau tidak berubah, tetap memakai topeng anehmu itu," kata Hinata bernada remeh.

"Dan kau berubah, Hinata," balas wanita itu yang kini berada tepat di hadapan Hinata; sembari tersenyum di balik topeng miliknya, ia pun kembali berbicara, "keangkuhan, keberanian, ketegasan, dan ketajaman—kau memiliki unsur-unsur baru di dalam dirimu saat ini, kau mampu menyatukan semua unsur itu untuk membentuk suatu kekuatan baru di dalam dirimu. Tetapi satu hal yang belum berubah dari dirimu, Hinata ..."

"..."

"— rasa peduli, kau masih memiliki rasa peduli yang sama kuatnya dengan saat pertama kali kita bertemu, bahkan lebih kuat dari waktu itu," jelas wanita bertopeng itu seraya memegang kedua pundak Hinata. "Apakah mereka yang membuatmu begitu?" tanyanya singkat dengan nada yang terkesan bercanda.

Mendengar perkataan wanita bertopeng di hadapannya, Hinata pun terkekeh pelan. Masih sama — wanita di hadapannya ini masih piawai dalam memberi pujian. "Khe, kau berkata seperti itu pun tidak akan mengubah keadaan, bahwa aku telah gagal — tidak, tidak! Aku bukan gagal, tapi sejak awal akulah kegagalan itu sendiri," ujar Hinata dengan tatapan sinis, namun redup. "Pada akhirnya, segala yang berada di dekatku hanya akan mengalami penderitaan yang berujung pada kematian dan kehancuran." Hinata berujar lirih seraya menatap ke arah lain, meski ia tahu tak ada objek apapun selain kekosongan.

"Hyuuga Hinata," panggil wanita bertopeng itu dengan suara tegas, "Menurutmu, mengapa pelangi tidak selalu ada? Mengapa matahari tak selalu muncul?" Wanita itu melontarkan pertanyaannya dengan nada lembut. Sedangkan Hinata mengangkat sebelah alisnya dan mengerutkan dahi, ia sama sekali tak mengerti maksud apa yang hendak disampaikan wanita di hadapannya; ia pun memilih diam dan menggeleng singkat seraya bergumam kecil.

Di balik topengnya, wanita itu tersenyum sebelum kembali membuka suara, "karena bumi pun akan menjawab, segalanya memiliki masa. Keindahan tidak begitu saja muncul, namun membutuhkan waktu."

"..."

"Dan jika saja pelangi akan terus ada, dan matahari terus bersinar ... menurutmu, apa yang akan terjadi?"

Hinata terdiam beberapa saat; sampai akhirnya sepasang manik peraknya pun membulat dan raut wajahnya pun berubah terkejut. Segalanya yang semula terasa gelap, kini berubah menjadi penuh cahaya; ruangan hitam yang sempat dihuninya pun, seketika retak dan berubah menjadi ruangan putih yang menyilaukan pandangan. Benar, masih ada jalan atas ini semua. Tidak ada jalan buntu di dalam kehidupan; karena pikiran manusia lah yang membuatnya demikian. Alur kehidupan tak selalu memihaknya, kebenaran pun tak selalu mengangguk padanya; akan tetapi pilihan akan selalu menghampirinya, dan dengan itu ia akan menentukan akhir untuk alur kehidupannya. Hinata baru menyadari segalanya. Ia benar-benar beruntung bertemu dengan wanita bertopeng ini pada waktu yang tepat, sehingga ia mampu menyadari bahwa keputusan selalu berada di dekatnya; cahaya selalu mengelilinginya, namun dirinya lah yang lebih memilih kegelapan untuk bersamanya.

"Jadi, apakah kau sudah menentukan jawabanmu, Hinata?"

Mendengar pertanyaan yang terlontar dari wanita di hadapannya, Hinata pun tersenyum tulus untuk sesaat sebelum akhirnya mengubahnya menjadi senyum angkuh. "Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu," ujar Hinata yang kemudian memejamkan matanya sejenak seraya berbalik dan melangkah pergi, "waktunya tinggal satu menit, sebelum aku menjadi orang buta pada umumnya. Heh, benar-benar menyebalkan."

"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik. Kita akan bertemu lagi, jika saatnya telah tiba—dan saat itulah, aku akan menceritakan segalanya padamu juga menunjukkan wajahku padamu," ujar sosok wanita bertopeng itu. Tubuh fananya pun perlahan mulai lenyap, sebelum akhirnya menghilang seperti debu yang tertiup angin.

Hinata menengok ke belakang sejenak. Sejenak ia tersenyum, sebelum akhirnya membalikkan lagi tubuhnya dan kembali melangkah, menuju sebuah gerbang yang berada tak jauh di depannya. Saat tubuh Hinata semakin dekat, gerbang itu pun perlahan terbuka seolah menyambut kedatangan Hinata bak seorang ratu yang masuk ke dalam istananya. Sebelum ekstensinya menghilang dari ruangan itu, Hinata tersenyum dan menggumam pelan, "kau juga jaga dirimu ...,"

"..."

"— Ibu."

.

.

.

"Ketemu kau! Wanita sialan! Haarghh ...!"

Suara berat milik Danzo, kembali mengusik indera pendengaran Hinata; sepasang kelopak matanya pun terbuka dan menatap dingin ke arah Danzo menggunakan byakugan miliknya; bersamaan itu pula, kumpulan asap di sekitar mereka lenyap dengan perlahan. Ada yang berbeda dari byakugan miliknya, tampak lebih bercahaya dan tajam dibanding sebelumnya — dan Danzo menyadari hal itu. Namun tanpa mempedulikan akan perubahan mata byakugan milik Hinata, Danzo memilih langsung menyerang Hinata tanpa berkata apapun. Lengan besarnya melayang cepan ke arah Hinata, berusaha menghujamkan kuku tajamnya ke tubuh Hinata. Namun ...,

SET

KRASH

Bukan suara jeritan dan rintihan, melainkan suara benturan dan gesekan yang justru terdengar. 'A-Apa ini? Dia — bagaimana mungkin, dia masih memiliki tena-ga dan kecepatan seperti ini?! Mustahil!' Batin Danzo pun menjerit tak percaya akan gerakan gesit Hinata. Wanita yang semula ia lihat tampak tak memiliki daya untuk bergerak, tiba-tiba saja mampu menandingi kecepatan seekor kuda — tidak! Bahkan, kilat sekalipun kalah dengan kecepatan wanita itu.

Sedangkan di sisi lain, Hinata melompat dengan lincah dengan kuda-kuda yang begitu matang. Wanita pemiilik mata byakugan itu kembali memamerkan senyum angkuhnya, seraya mensejajarkan lengannya di dada dengan gerakan gemulai. "Hoi, Pak Tua! Maaf saja, tapi hukum alam mengatakan bahwa orang tua kotor sepertimu yang akan lebih dulu pergi ke Neraka," ujar Hinata seraya terkekeh pelan di akhir katanya.

Danzo mendelik tajam, dan tampak kemurkaan pada raut wajahnya. "Jangan banyak bicara! Aku akan mengakhirimu di sini, karena kau tidak akan bisa menandingi kekuatan Dewa! Haaaargh!" Danzo berteriak keras, seraya melayangkan kuku-kuku tajamnya ke arah tubuh Hinata, seolah berusaha mengoyak daging wanita itu dan memisahkannya dari tulang yang ada di sana.

Hinata yang melihat serangan Danzo, hanya tersenyum angkuh seraya mempertajam mata byakugan miliknya. Ia tidak mengambil langkah untuk menghindar; namun sebaliknya, ia menerima serangan itu dengan telapak tangan kirinya, dan menepisnya ke atas menggunakan telapak tangan kanannya. Hanya dengan itu, ia mampu membuat Danzo terpental beberapa meter dari tempatnya semula, dan dengan sepasang mata byakugan miliknya, Hinata melihat kerusakan parah yang terjadi pada tubuh bagian dalam Danzo. Bagian terparahnya, kerusakan-kerusakan itu sama sekali tidak beregenerasi seperti sebelumnya.

'Ti-dak m-mungkin! T-Tubuhku ...' Danzo membatin panik di dalam ketidakberdayaannya kali ini. Ia tidak percaya, jika takdir akan berbalik dan memihak Hyuuga Hinata yang hampir terbunuh di tangannya — hanya sedikit usaha saja, maka nyawa wanita itu akan hilang di tangannya. Namun ...,

"Kau selesai di sini ... Danzo!"

Benar, ia sudah selesai di sini — pimpinan tingkat tiga Organisasi Yakuza telah selesai. Melihat kedatangan serangan Hinata, Danzo hanya menyeringai rendah seraya terkekeh di dalam hati. Untuk ke depannya Danzo berpikir, mungkin ia tak akan meremehkan seekor anak iblis sekalipun. Karena seekor anak iblis, bisa jadi merupakan cikal bakal dari raja iblis.

SET

KRAK

Tentu saja, itu semua akan ia lakukan di Neraka.

CRASH

Dan detik berikutnya, hanya suara patahan tulang yang terdengar, juga suara cipratan darah yang keluar paksa dari urat leher. Hanya dengan tangan kanannya, Hinata berhasil memutuskan tiga tulah leher milik wujud mutan Danzo. Seketika itu pula, Hinata tak mendengar suara apapun dari wujud Danzo, bahkan kedipan mata sekalipun. Beberapa saat kemudian, sosok yang telah menjadi mayat di depannya itu pun berubah menjadi gumpalan darah berwarna hitam pekat dan berbau bangkai; darah itu pun mengering dengan cepat dan tak meninggalkan jejak apapun di sana. Ia berhasil. Danzo telah kalah, dan ia menjadi pemenangnya.

Hyuuga Hinata lah pemenangnya.

Suara helaan napas panjang mengiringi terjatuhnya tubuh Hinata ke atas pemukaan tanah, dan bersamaan itu pula kemampuan mata byakugan miliknya lenyap dan kembali dengan kegelapan dan kekosongan. Tenaganya telah habis, dan bahkan kesadarannya perlahan menghilang. Namun, perasaan lega dan bahagia menghampiri batinnya. Sebelumnya, Hinata tidak pernah merasakan perasaan seperti ini — tidak sekalipun. Bahkan rasa kepuasan kali ini, lebih terasa nikmat dibanding sebelum-sebelumnya.

"Hhhh ... aku — menang?" gumam Hinata seraya memejamkan sepasang kelopak matanya dan menikmati semilir angin yang menerpa kulit wajahnya. "Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi — wanita menyebalkan itu, benar-benar menepati ucapannya," gumam Hinata lagi dengan suara yang semakin lirih. Kesadarannya sudah mencapai batasnya, namun ia tetap mencoba bertahan untuk tepat sadar.

.

.

.

Karin menghentikan laju larinya; berdiri dengan air muka yang tampak terkejut, seraya menatap ke arah sosok Hyuuga Hinata yang terbaring lemah di permukaan aspal, dan sesosok monster itu berubah menjadi genangan darah berwarna hitam yang kemudian mengering dengan cepat. Namun, bukan itu yang menjadi keterkejutan pada diri Karin saat ini, melainkan hal lain yang dimiliki oleh Hyuuga Hinata; sesuatu yang mengingatkannya pada 'seseorang', dan hanya 'orang' itulah yang memiliki sesuatu itu. Akan tetapi, kali ini ia harus menyangkalnya, karena Hyuuga Hinata juga memiliki sesuatu yang dimiliki oleh 'orang itu'.

'Jyuuken ... a-apa baru saja dia menggunakan j-jyuuken?' batin Karin, seraya berjalan mendekat perlahan dengan tangan yang tampak bergetar dalam beberapa detik. Karin tidak mengerti, mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal ia yakin betul, kalau 'dia' telah dikutuk dan tidak akan memiliki keturunan. Jadi, tidak mungkin jika Hyuuga Hinata adalah keturunan dari 'dia'.

Dengan geraman rendah, Karin berusaha menahan kegelisahan batinnya; ia pun mendekat perlahan ke arah tubuh Hinata, seraya mempererat genggamannya pada gagang zanbato miliknya. Semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat, sampai akhirnya suara tembakan terdengar dan sebuah peluru meluncur ke arahnya. Karin yang semula sempat berpikiran kosong pun tampak terkejut, namun refleknya yang cepat membuatnya dengan mudah menangkis peluru tersebut, dengan membentengi dirinya menggunakan bilah besi dari pedangnya. Karin mendecih kecil sesaat, namun kemudian ia kembali mengeluarkan senyum jenakanya seolah tak terjadi apapun.

"A — loha~" sapanya dengan wajah ceria dan senyum jenakanya, "kalian pasti temannya Hyuuga Hinata-san, bukan? Kalau begitu perkenalkan, aku —"

KLEK

"Tahan!" Konan berteriak keras dan mengacungkan mulut senapannya ke arah Karin, begitu pula dengan beberapa anggota Akatsuki lainnya yang masih bertahan.

"..."

"Maju selangkah saja ... aku pastikan kau akan hancur menjadi gumpalan daging!" gertak Konan seraya mendecih pelan, "kalian! Cepat bawa Shishou pergi, aku akan —"

Ucapan Konan terhenti seketika, saat ia merasakan sebuah cengkraman pada tungkai kakinya. Ia kemudian menengok, dan mendapati sosok ketua Akatsuki yang tampak berusaha bangkit meski dalam keadaan setengah sadar; melihat hal itu, Konan pun segera menghalau sang Ketua untuk bangkit, namun niatnya itu diindahkan olehnya. "S-Shishou, a-anda tidak perlu —"

"Konan ...," ujar Hinata lirih, "dia bukan tandinganmu, bahkan jikapun kalian semua menyerangnya secara bersamaan sekalipun — karena aku, pernah bertarung dengannya." Hinata berujar lagi, seraya menegakkan tubuhnya walau sedikit kepayahan.

Mendengar hal itu, Konan pun terkejut dan kemudian menatap ketuanya dengan tatapan tak percaya. "S-Shishou, jangan k-katakan kalau dia wanita yang malam itu anda ceritakan."

Tak ada jawaban dari Hinata, hanya dengan pejaman mata dan itu sudah mewakili sebagian dari jawabannya. Konan tahu itu, dan ia tak perlu menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya, ataupun menunggu suara ketuanya sebagai jawaban atas pertanyaannya. Konan pun tak bisa membantah sepatah kata pun, dan hanya berjaga-jaga dari belakang. Konan juga tahu betul akan kondisi ketuanya saat ini, dan tentang kemampuan mata byakugan milik ketuanya. Kemampuan byakugan adalah kemampuan mata yang paling menakjubkan, kemampuan yang mampu melihat secara detil kondisi lawan, melihat dari jarak yang sangat jauh dan memperlambat gerakan lawan dalam penglihatan. Namun, dibalik kehebatan itu tentunya ada beberapa kekurangan dari byakugan yakni, pengguna menjadi buta warna dan hanya mampu melihat tiga warna saja, dan hanya mampu aktif selama delapan menit; setelah waktu habis, byakugan baru bisa diaktifkan satu jam kemudian. Itulah yang dijelaskan oleh ketuanya beberapa bulan yang lalu. Dan kondisi ketuanya saat ini ...

Konan tak bisa lagi menahan geraman emosinya, ia bahkan sampai mencengkram erat badan senapan miliknya seraya menggertakkan kedua sisi rahangnya. Ia tidak bisa tenang di saat seperti ini, namun ia menuntut dirinya untuk tetap berpikir jernih. Karena, kemenangan hanya akan didapatkan dengan kendali emosi yang baik — ketuanya yang mengatakan itu.

"Dengar, Merah!" ujar Hinata memecah keheningan, "aku tidak peduli tentang organisasi anehmu dan apa tujuanmu kemari," lanjutnya dengan nada dan decihan angkuhnya. "Aku juga tidak memiliki kemampuan lagi untuk melawanmu, aku hanyalah orang buta biasa sekarang. Jadi, kita selesaikan ini dengan mudah ...,"

"..."

Hinata menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kembali perkataannya, "aku akan ikut denganmu." Keputusan yang diambil Hinata membuat Konan mendelik terkejut, bahkan seluruh anggota Akatsuki pun begitu. Mereka kemudian menatap ke arah Hinata dengan tatapan tak percaya.

"H-Hinata-shishou, a-apa maksudnya ini?!" protes Hidan yang setengah merintih kesakitan, seraya memegangi luka menganga di perutnya. "B-Bagaimana a-anda bisa —"

Perkataan Hidan terpotong, karena sebuah isyarat dari Hinata yang memerintahkannya untuk tetap diam dan tenang. Hinata kemudian mengambil napas dalam-dalam seraya memejamkan sepasang kelopak matanya, dan ketika ia menghembuskan napasnya barulah ia membuka kembali matanya. "Tapi, aku mengajukan dua syarat."

Karin mengangkat sebelah alisnya. "Katakanlah Hyuuga Hinata-san." Dan dengan senyum ramahnya, ia mengakhiri ucapannya.

"Pertama, aku menginginkan mereka semua mendapat perawatan dari organisasimu itu," ujar Hinata dan membuat semua anggotanya semakin terkejut mendengarnya, sedangkan Karin tetap mempertahankan senyum ramahnya.

"T-Tapi Shishou —"

"Kedua, aku ingin mereka juga direkrut dalam organisasimu itu ... kau dan ketuamu itu, harus mengizinkan mereka juga masuk dalam organisasimu itu — suka tidak suka," kata Hinata seraya menutup kelopak matanya, "jika kau setuju keduanya, aku akan ikut denganmu, dan jika tidak, maka aku akan menolaknya meskipun kau membunuhku," lanjutnya lagi, dan tanpa ia sadari ...,

... Karin tengah tersenyum.

"T-Tunggu S-Shishou!" protes Gaara seraya maju beberapa langkah dan mensejajarkan dirinya bersebelahan dengan Hinata, "a-anda tidak bisa mengambil keputusan ini! B-Bagaimana anda bisa membubarkan Akatsuki dan memutuskan untuk menjadi anggota dari organisasi lain?!" lanjutnya lagi dengan nada yang satu oktaf lebih tinggi.

Mendengar perkataan Gaara, Hinata mengambil napas sejenak. "Lalu apa yang terbaik menurutmu, Gaara?" tanya Hinata seraya melontarkan desahan sinis di akhir kalimatnya, "hanya tersisa empat dari sepuluh. Kau ingin aku berbuat apa? Mengorbankan empat yang tersisa, begitu?" Hinata melontarkan pertanyaan lagi. Seketika Gaara pun terdiam, dan hanya mengepalkan kedua tangannya; menciptakan ruam-ruam merah pada buku-buku jarinya. Dalam hati ia masih tak terima akan keputusan sang Ketua yang dianggapnya sebagai keputusan konyol. Membubarkan Akatsuki dan bergabung dengan organisasi lain? Yang benar saja!

Di tengah-tengah suasana penuh ketegangan itu; Karin malah bertepuk tangan. Wanita berambut merah itu pun berucap, "Yosh! Yosh! Permintaanmu kuterima Hyuuga Hinata-san. Tapi ...,"

"..."

"— aku tidak bisa memastikan apakah mereka benar-benar akan diterima di sana. Masalahnya aku tidak menerima perintah untuk merekrut selain dirimu, Hyuuga Hinata-san," lanjut Karin dengan masih mempertahankan senyumnya, namun sesaat kemudian wajahnya berubah dingin dan serius. "Hanya saja, semuanya tergantung dengan kekuatan mereka bertahan di dalam organisasi kami. Jika mereka mampu, mereka akan tetap ada di organisasi kami, tapi bila sebaliknya maka mereka akan dibuang dari sana."

"..."

"Bagaimana? Tetap pada keputusanmu, atau —"

"Diterima." Hinata segera mengambil keputusan, tanpa menunggu Karin menyelesaikan ucapannya. Para anggotanya pun mau tak mau menganggukkan kepala atau sekedar diam dan menurut, walau dalam hati mereka menolak keputusan ini.

Karin kembali tersenyum jenaka, kemudian mengangkat pedang zanbato miliknya, seolah pedang itu begitu ringan di tangannya. "Baiklah~ sekarang ikuti aku, semuanya~" Setelah berkata begitu, Karin pun segera berjalan mendahului sekelompok orang di belakangnya dan tidak seorang pun tahu, akan raut wajah Karin saat ini — senyum jenaka itu berubah dalam sekejap menjadi raut dingin.

"Karin, kau tahu tentang segala hukum di Underworld, tapi kau tetap menerima persyaratannya. Apa yang sebenarnya kau rencanakan di sini?!" Suara seorang pria tiba-tiba muncul dalam pikirannya; pria itu tak lain adalah Suigetsu yang kini berada dalam wujud pedang zanbato di genggamannya.

Dalam diam Karin tersenyum penuh arti dan batinnya pun menjawab perkataan Suigetsu di dalam piikirannya, 'Saa ne~ apa ya, yang kurencanakan. Bukankah kau adalah Dewa, kau tentu mengerti segalanya — Leviathan, sang Naga Laut.'

.

.

.

Distrik Barat Tokyo, Jepang

Di tempat lain, tepatnya di salah satu distrik di Tokyo dengan jajaran ruko-ruko yang tampak sederhana, terdapat sebuah ruko yang terlihat sedikit lebih besar dari ruko-ruko yang ada. Ruko tersebut terdiri dari lima lantai, merupakan sebuah bar di lantai satu, hotel di lantai dua, sedangkan lantai tiga ke atas adalah sebuah kantor rahasia yang mana tidak semua orang tahu kantor macam apa itu. Di sana, tepatnya di lantai lima, tampak lima orang wanita berdiri di belakang sebuah sofa dan dua orang pria yang berlutut di depan sofa yang di duduki oleh seorang wanita berambut coklat. Baik kelima wanita itu, maupun dua orang pria di sana tampak menunduk dan berwajah takut-takut.

"Katakan sekali lagi, apakah informasimu itu benar-benar akurat?!" ujar wanita yang menduduki sofa itu, dengan tatapan mengintimidasi dan nada yang mengancam.

Hal ini tentu saja membuat nyali kedua pria yang berlutut di hadapannya pun menjadi ciut. "B-Benar, M-Madam! S-Saya memastikan dari s-seorang pengamat di perbatasan utara Hamamatsu, b-bahwa t-tuan Danzo sudah dikalahkan," ujar salah seorang pria itu dengan nada takut-takut, "j-jika Madam menginginkan, s-saya akan —"

"Tidak perlu," balasnya seraya beranjak dari sofa, "aku akan pastikan semuanya sendiri besok. Kalian segera keluar dari sini, dan persiapkan untuk besok, antar aku ke tempat kejadiannya. " Ia kemudian menyalakan rokoknya dan menyesapnya lamat-lamat, kemudian menghembuskan napasnya seolah mengeluarkan rasa frustasi dalam dirinya.

"B-Baik, M-Madam!" Tanpa membuang-buang waktu, kedua pria itu segera beranjak keluar dengan cepat, bahkan tampak seperti setengah berlari. Keduanya benar-benar tidak ingin mati di tangan wakil ketua sekaligus istri dari tingkat tiga Yakuza, Hashimura Danzo.

Tepat sedetik setelah kedua pria itu keluar ruangan, seorang pria lain masuk ke dalam. Pria berpawakan tinggi tegap itu tampak begitu seksi dengan beberapa kancing kemejanya yang terbuka, sehingga menampilkan dadanya yang bidang; rambutnya yang berantakan justru menciptakan daya tarik tersendiri baginya, dan yang membuatnya semakin dikagumi oleh banyak wanita adalah sikapnya yang humoris dan santai. Dengan tatapan jenaka, ia menatap ke arah sosok wanita berambut coklat yang tampak berwajah frustasi.

"Wah, Madam Erina ... senang melihat anda kembali dari perjalanan bisnis anda," ujarnya seraya menjatuhkan diri di permukaan sofa di ruangan itu, dan dengan seenaknya ia mengambil segelas wine yang berada di atas meja kecil di depan sofa tersebut. "Bagaimana? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanyanya sekedar basa-basi, seraya menyesap sedikit segelas wine di tangannya.

Sedangkan wanita yang dipanggil Madam Erina itu, tampak berwajah kesal. "Diamlah, Ryougo! Kau benar-benar membuatku semakin kesal," ujarnya seraya menggeram rendah, "dan sudah berapa kali kukatakan, namaku adalah Elina, dan bukan Erina!" lanjutnya lagi dengan nada yang penuh penekanan.

Pria bernama Ryougo itu pun terkekeh pelan, sebelum akhirnya beranjak dari sofa. "Sayangnya aku orang Jepang, dan pelafalan 'L' akan berganti dengan 'R'," balasnya seraya menyeringai kecil, "dan aku juga sudah katakan itu berkali-kali, Darling."

"Ryougo ...," balas Elina cepat, seraya berbalik dan menghela napas sembari memejamkan matanya, "bisakah kau berhenti memanggilku begitu? Kau tahu, aku adalah istri dari Hashimura Danzo — Hashimura Elina Raberto. Aku mencintai suamiku sampai detik ini, dan kuharap kau mengerti." Nada suaranya terdengar naik beberapa oktaf.

Hal ini membuat pria bernama Ryougo itu tersenyum. "Well, setidaknya pak tua itu sudah mati sekarang. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk menolak tidur denganku," balas Ryougo santai, dan seketika itu pula ia dihadiahi ujung dari rapier yang hampir menusuk lehernya.

SET

SRING

"Katakan sekali lagi, dan kupastikan kau akan kehilangan suaramu untuk selamanya," ujar Elina dengan nada mengancam dan membuat kelima pelayan wanita di ruangan itu semakin ketakutan, "aku mengerti perbedaan umurku dan suamiku terbilang tidak lazim, tapi aku tidak mungkin biasa mengkhianati pria yang bahkan sangat menyayangiku dan putri kami," lanjutnya lagi dengan nada yang lebih tajam dan penuh keyakinan. "Dan bagiku, suamiku tidak pernah mati! Dia selalu ada dan akan selalu ada. Aku harap kau paham itu." Ia kemudian menarik kembali ujung rapier yang hendak menembus leher pria di hadapannya.

Mendengar perkataan Elina, tak ayal membuat Ryougo tertawa. "Inilah yang kusuka dari dirimu. Kau tidak seperti wanita kebanyakan, harga dirimu yang tinggi menjadi tantangan tersendiri untukku menaklukan dirimu, Elina Raberto!"

Elina menghela napas kecil, ia pun berbalik dan memasukkan kembali rapier miliknya ke dalam sarung pedangnya. "Ini bukan soal harga diri, Ryougo," ujarnya bernada dingin dan seolah menahan rasa frustasi dalam dirinya, "tapi ini masalah komitmen dan kesetiaan. Kau pikir, apa alasanku tidak mempekerjakan pelayan pria di ruanganku?"

"..."

"Itu karena aku menjaga komitmen dan kesetiaanku pada keluarga dan juga suamiku," ujarnya lagi dan dengan helaan napas frustasi, ia pun beranjak dari tempatnya dan menghampiri sebuah pintu lain di ruangan tersebut. "Kurasa, pembicaraan ini cukup sampai di sini. Sadar atau tidak, kau itu benar-benar memuakkan." Ia berhenti, dan sedikit menengok ke belakang; mengurungkan niatnya untuk memutar kenop pintu yang menyambungkan ruang kerjanya dengan kamar pribadi miliknya.

"..."

"Dan kuharap kau tidak lupa dimana pintu keluarnya ...,"

"..."

"... selamat siang!"

BLAM

Keadaan berubah sunyi seketika. Para pelayan wanita di ruangan itu pun segera keluar ruangan dengan langkah ketakutan. Kini, hanya ada Ryougo di sana yang terdiam beberapa saat, sampai akhirnya mengeluarkan seringainnya dan tertawa keras seolah ada sesuatu yang konyol yang patut ditertawakan. Namun, di balik tawanya, raut frustasi dan kekecewaan begitu kental di wajahnya; tidak ada yang mengetahui ini, karena memang tidak ada seorang pun di sana selain dirinya. Beberapa saat kemudian, ia menghentikan tawanya dan raut wajahnya pun ikut berubah; sepercik emosi kesal dan sesal menyelimuti dirinya kali ini.

'Pak Tua itu ... benar-benar tua bangka yang beruntung.'

.

.

.

UNDERWORLD

Gerbang Hampa, Dungeoun Barat.

.

Underworld, merupakan dunia yang tak pernah terbayangkan dalam benak manusia sedikitpun, dunia yang sering di salah artikan oleh kebanyak orang sebagai Neraka. Pada kenyataannya, Underworld merupakan nama belaka, karena letaknya yang berada di bawah dunia manusia. Ya, Underworld merupakan dimensi berbeda, seperti bumi yang menjadi tempat tinggal manusia, hewan, dan tumbuhan. Hanya saja, Underworld merupakan tempat tinggal para Dewa, dan para makhluk berumur panjang, atau bahkan abadi.

Kediaman Dewa disebuat dengan maze yang berbentuk seperti dungeoun. Semakin tinggi tempat maze itu berada, maka semakin tinggi pula kekuatan Dewa itu. Namun, ada sebuah misteri dari sebuah maze yang belum terpecahkan — maze yang berada di bawah tanah, atau sering disebut sebagai Gerbang Hampa. Maze tersebut ditinggali oleh sesosok Dewa Rubah yang terkenal akan kekejian dan keangkuhannya, yang dipuja oleh masyarakat Jepang zaman dulu.

Kyuubi no Kitsune

Itulah sebutannya. Tidak ada satu pun makhluk di Underworld yang tahu, siapa nama asli dari sang Dewa. Dan dalam sejarah, siapapun yang masuk ke dalam maze milik sang Dewa Rubah, maka ia tak akan pernah keluar dengan selamat. Sehingga, maze itu pun disegel dengan segel sembilan mantera dari sembilan penguasa di Underworld, agar tak ada yang masuk ke sana.

Dari dalam maze yang disebut sebagai Gerbang Hampa itu terdengar suara geraman rendah dari sosok monster rubah berwujud pria berambut pirang dan bertelinga rubah, juga memiliki lima ekor. Di dalam kegelapan, sosok itu tampak duduk bersila dan memejamkan matanya; hari ini akan menjadi genapnya ia bersemedi selama seribu tahun. Seperti yang sudah digariskan oleh leluhurnya; akan ada seorang manusia yang berkontrak dengannya setelah seribu tahun ia bersemedi, dan saat itulah ia akan keluar dari tempat mengerikan ini.

Ia benar-benar sudah mempersiapkan segalanya untuk hari ini.

"Hari dimana aku akan terbebas ...,"

.

.

"— dari tempat terkutuk ini."

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

Author Note :

Aloha~

Chapter besok, adalah chapter yang mungkin akan menjawab pertanyaan kebanyakan readers "Narutonya dimana?" atau "Naruto kapan muncul?" atau "Apa Naruto cuma figuran?"

Saya jawab singkat di sini. Naruto bukan figuran dan perannya justru sangat penting di sini. Yap! Chapter besok adalah pertemuan antara Hinata dan Naruto, yang sepertinya tidak akan berjalan mulus. Di chap ini (bagian terakhir) sudah dijelaskan, seperti apa sosok Naruto itu, kan? Kyuubi no Kitsune~ nah tapi kenapa saya bilang di atas ekornya ada lima? :v masih menjadi misteri~

Untuk penjelasan lebih lengkap, tolong benar-benar disimak untuk yang chap depan, supaya gak ada pertanyaan yang diulang-ulang dan kegagal pahaman. Karena chap depan akan dijelaskan beberapa hal di bawah ini :

Apa itu Police Underground, serta tujuannya apa?

Mengenai shinseinabuki atau biasa disebut senjata suci/jantung Dewa?

Monster apa yang menjadi sosok Danzo itu?

Kondisi Jepang di dalam cerita ini.

Pengaruh para mafia di Jepang dalam cerita ini.

Bagi yang tidak paham. Saya gak bisa bantu apa-apa, karena itu dari diri kalian masing-masing, dan daya tangkap kalian masing-masing. Saya memang belum menjelaskan secara detilnya di sini, karena sampai chapter ini hanya sebatas pengenalan karakter saja. Dan chapter depan barulah penjelasan rincinya.

Saya sengaja update ini dengan kilat, karena ff ini yang chapternya paling banyak, alurnya paling njlimet, dan seasonnya juga paling banyak. Saya bahkan sedikit kesulitan dan harus melakukan edit beberapa kali untuk deskripsinya. Alasan lain, karena saya sedang tidak mood mengetik yang romansa.

Jangan khawatir, update saya mungkin akan lebih cepat karena saya sudah ada laptop. Sebelumnya lama karena saya ngetiknya dari hape (bayangin aja lo ngedit dari hape dengan words yang bejibun). Karena sekarang udah ada media yang lebih baik, jadi saya bisa update lebih cepat. Mungkin, diusahakan sebulan sekali/dua kali entah ff yang mana (kalau lancar).

Maaf bila ada salah kata dan typo atau tanda baca yang kurang tepat, daku agak linglung karena tugas. Terima kasih atas dukungannya~ dan ... byebye di chapter depan

Sign

Gherald