"Hn. Anything for you, Hime."


"Hn. Jidatnya memang lebar, kadang terlihat seperti lampu taman di depan rumahku."


"Hei, kau kira aku pernah makan ban?"


"Hn. Mungkin kau bisa mencobanya sesekali."


"Hn. Kalau begitu aku akan membelikan restoran itu untukmu."


"Dan jangan menggodaku lagi, atau kau tidak akan kuantarkan pulang ke rumahmu nanti, Hime."


Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Setan Tampan © Reggika Uchiha

Genre :

Romance &Humor

Rate :

T

Main Pair :

SasuxSaku

Warning :

OoC, AU, Typo bertebaran, GaJe, Mengakibatkan Mual dan Muntah, dll.

DON'T LIKE DON'T READ!

R&R please?


"The Hell just Begin"

Sakura's POV

Aku baru saja keluar dari restoran ternama itu bersama Sasuke dengan perut sedikit lebih buncit dari sebelumnya. Salahkan ucapanku tadi yang meminta satu porsi makanan tiap satu kecupan, sehingga dia memesankan aku belasan— ah, tidak-tidak, lebih dari dua puluh porsi makanan dan memaksaku untuk menghabiskan semuanya —meski pun perut sudah meronta minta berhenti dijejali makanan sebanyak itu— dengan ancaman dia tak akan mengantarkanku pulang sebelum makanan itu benar-benar habis. Jangan bercanda, aku tak mungkin pulang sendirian, aku bahkan tak terlalu mengenal tempat ini, aku hanya tahu bahwa restoran ini ternama karena teman-temanku yang membicarakannya, tapi aku tak terlalu mendengarkannya. Salah-salah aku malah tersesat kalau nekat. Ck.

Kenapa bisa lebih dari dua puluh porsi?

Salahkan lagi mulut bodohku yang mengatakan satu porsi makanan tiap satu kecupan, akhirnya dia malah mencari kesempatan dengan mengecup pipiku berkali-kali di perjalanan menuju restoran ini. Sialan, rasanya benar-benar ingin mencekiknya, tapi aku masih sayang nyawa. Hei, dia sedang menyetir, kalau dia kucekik, nanti mobilnya bisa oleng, salah-salah masuk jurang hingga membuatku dikabarkan mati, namun beberapa tahun kemudian hidup lagi seperti di TV-TV itu. Ah, aku jadi seperti korban sinetron yang sering diceritakan Ino dan Tenten, dasar ibu-ibu.

"Hn. Kau buncit." Olok Si Ayam saat membukakan pintu mobil untukku. Aku cemberut mendengar kata-katanya. Memangnya siapa yang membuatku jadi buncit?

"Oke, sekarang siapa yang membuatku jadi buncit begini?" Tanyaku sambil melirik sinis ke arah Sasuke yang baru saja masuk dan menyalakan mesin mobil. Dia menoleh.

"Hn. Kau." Jawabnya tanpa intonasi dengan wajah super datar. Pandangannya kembali teralih ke depan dan mobil mulai melaju. Aku berdecak sebal.

"Ck! Kau yang cari-cari kesempatan menciumku di mobil saat berangkat tadi, Ayam. Jangan membuatku ingin mencekikmu sampai mati dan membawamu pulang ke rumah untuk menu makan malamku dan keluargaku. Kau tahu? Sasori-nii sangat suka ayam goreng tepung."

"Hn. Kau sendiri yang bilang satu porsi untuk satu kecupan, lagipula kau bilang kau sangat lapar tadi." Jawabnya dengan senyum mengejek. "Dan silahkan saja kau mencekikku, kau tak akan berhenti menangis setelahnya."

"Percaya diri sekali kau." Aku menoleh ke arahnya dan mencibir. Dia melirikku dengan ekor matanya dan menyeringai.

"Hn. Harus." Jawabnya datar. Setelah itu tak terdengar lagi percakapan antara aku dan si Ayam.


Baru saja mobil Sasuke memasuki halaman rumahku, nampak Sasori-nii berdiri dengan wajah garang di depan pintu sambil bersidekap. Gawat, jangan-jangan dia menonton liputan acara tadi? Aku melirik Sasuke dengan ekor mataku, dia terlihat santai saja dan malah melambai ke arah Sasori-nii. "Yo! Muka Bayi." Aku melihat wajah Sasori-nii semakin garang. Sialan Sasuke, dia cari masalah.

Aku menepuk jidatku frustasi. Dalam hitungan ketiga pasti perang dunia dimulai.

1

2

3

"BRENGSEK! Kau apakan adik kecilku heh Uchiha?! Dia masih kecil dan kau sudah mengajarkan hal-hal yang sangat tidak baik untuk perempuan seusianya! Kau mau mati, hah?!" Sembur Sasori-nii pada Sasuke, sedangkan Sasuke dengan wajah datarnya sedikit menunduk menatap Sasori-nii karena Sasuke memang lebih tinggi dari Sasori-nii.

"Hn. Kalau kau mau tahu, Muka Bayi, dia hanya satu tingkat di bawahmu. Tidak ada yang mengatakan bahwa perempuan kelas dua SMA itu masih kecil, kecuali kau." Jawab Sasuke sinis tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sasori-nii. Di mataku, seolah-olah ada percikan listrik di antara tatapan keduanya. Untung saja aku bukan seorang fujoshi, sehingga adegan di depanku ini tak kuanggap sebagai adegan yaoi. Yah, kalau mungkin ada yang berpikiran begitu, itu juga tak apa-apa sih, aku maklum saja, lagipula dengan Sasuke yang tampangnya tampan tapi sangar itu memang terlihat cukup cocok dengan Sasori-nii yang terlihat lebih pendek dan berwajah imut-imut.

HEI! Apa yang kupikirkan?!

"Sekali lagi kau memanggilku Muka Bayi, kau akan kuhab—"

"EH! Ada Nak Sasuke!" Belum sempat Sasori-nii melanjutkan omelannya, Kaa-chan muncul dari dalam rumah dan membuat kami semua mengalihkan pandangan pada beliau. "Saso-chan, kenapa tidak disuruh masuk? Ayo silahkan masuk Nak Sasuke.. Sakura, buatkan minuman untuk Nak Sasuke."

"Ppfffftt.." Aku dan Sasori-nii menoleh pada Sasuke yang terlihat sedang menahan tawanya agar tidak meledak dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, sangat Out of Character mengingat Sasuke yang jarang sekali tertawa. "Terima kasih ba-san. Saya hanya mampir sebentar kok." Sasuke tersenyum ke arah Kaa-chan, kemudian melirik Sasori-nii. "Aku pergi dulu, Jidat."

CUP!

Sasuke mengecup keningku, Sasori-nii melongo.

"Bye, Saso-chan." Pamitnya sambil menyeringai ke arah Sasori-nii yang wajahnya mulai memerah menahan marah.

1 detik

Sasuke berlari menjauh.

3 detik

Sasuke masuk mobil dan tancap gas meninggalkan halaman rumah kami.

5 detik

"UCHIHA SIALAAAAAN!"

BLAM! CEKLEK!

Aku melonjak kaget, lalu melongo. Kenapa Sasori-nii menutup pintu dan menguncinya sedangkan aku masih di luar?!

"HEI! Sasori-nii buka pintunyaaaa!" Seruku sambil menggedor-gedor pintu sekuat tenaga sepenuh jiwa.

DOR! DOR! DOR!

CEKLEK!

PLETAK!

"ADAW!" Pekik Sasori-nii mundur selangkah sambil melayangkan tatapan membunuhnya kepadaku.

"Ups!" Kepala Sasori-nii terkena gedoran mautku. Habisnya aku tak bisa menghentikan laju tanganku yang sedang menggedor pintu saat Sasori-nii sedang membukanya. Sasori-nii masih melotot padaku. "Sorry. Hehehe.." Aku nyengir dan segera menerobos masuk ke dalam rumah dan berlari ke kamar, namun aku masih sempat mendengar Sasori-nii berteriak.

"SAKURA KAU KURANG AJAR!"


"Jadi, Sakura-chan yang sekarang sudah besar, apakah kau benar-benar jadian dengan Chuiha tak sopan itu, heh?" Sasori-nii membuka percakapan saat Sasori-nii, aku, dan Kaa-chan sedang duduk bersama menonton TV yang menyiarkan tayangan infotainment tentang 'Pacar Baru Sasuke Uchiha' termasuk adegan ciuman memalukan di panggung tadi. Kaa-chan? Sedang senyum-senyum melihat adegan itu. Ckckck, Kaa-chan ini..

"Sasori-nii, Uchiha, bukan Chuiha." Aku membetulkan ucapan Sasori-nii tadi yang salah sebut Uchiha menjadi Chuiha.

"Aku sengaja." Jawabnya ketus, kemudian melirik perutku yang masih saja buncit setelah dihajar Sasuke dengan lebih dari dua puluh porsi makanan tadi lalu melotot horror. "Ck! Lihat perutmu!" Serunya sambil menunjuk-nunjuk perutku yang buncit. "Baru sehari kau pacaran dengannya dan kau sudah hamil?! Dia benar-benar breng—"

"Dia tadi mentraktirku makan sebanyak-banyaknya di restoran, Sasori-nii no Baka. Dan jangan bercanda, proses terjadinya kehamilan untuk menjadikan perutku buncit tak sesingkat satu hari, kau tahu." Potongku malas. "Nilai Biologimu berapa sih?" Tanyaku sadis.

"Hooo~, kau lebih membelanya daripada aku kakakmu sendiri, heh?" Tanyanya sinis, kemudian mengalihkan pandangannya ke televisi, lalu ke arah Kaa-chan. "Dan Kaa-chan, tak bisakah Kaa-chan menasihati Sakura yang mulai membantah kakak tercintanya sendiri dan lebih membela Uchiha kurang ajar itu dan berhenti senyum-senyum tak jelas melihat Sakura-chan diperlakukan kurang ajar olehnya?" Kaa-chan menoleh dan mulai angkat bicara.

"Saso-chan, kau—"

"Jangan memanggilku Saso-chan, Kaa-chan!" Potong Sasori-nii sebal.

"Baiklah, baiklah, habisnya kau terlalu imut." Sasori-nii cemberut, aku tersenyum menang. "Jadi, Sasori-kun, Sasuke-kun tidak sekurang ajar yang kau kira." Kaa-chan tersenyum lembut, aku mulai penasaran. Kaa-chan melanjutkan, "Dia laki-laki yang baik, sudah tampan, kaya, keturunan Uchiha lagi. Itu bibit unggul." Sasori-nii mendecih sebal. "Kau tahu? Dia mau bernyanyi bukan karena mengincar mendapat uang bayarannya." Aku mengeryit.

"Maksud Kaa-chan?" Aku mulai kepo.

"Iya, dulu, ada sebuah tayangan infotainment yang menyebutkan bahwa semua uang yang didapatkan Sasuke-kun dan kakaknya dari konser, tampil di acara-acara, dan hasil penjualan rekamannya disumbangkan ke panti asuhan di Konoha." Aku melongo.

"Kakaknya? Maksud Kaa-chan Itachi-nii? Dan masa iya Sasuke sebaik itu?" Tanyaku ragu.

"Iya, Sakura-chan." Jawab Kaa-chan tersenyum lembut. "Yah, tampilannya memang menipu sih." Kaa-chan bangkit berdiri. "Kaa-chan mau masak dulu untuk makan malam nanti." Kemudian pergi ke dapur.

"Sakura, kau kenal Itahi?" Tanya Sasori-nii curiga. Aku menoleh horror pada Sasori-nii, kenapa dia suka sekali mengubah nama keluarga Sasuke sih?

"Nii-chan, Itachi, bukan Itahi. Aku memang mengenalnya, tadi sebelum Sasuke perform aku sempat diseretnya lari dari kejaran fans, kemudian bertemu Itachi-nii dan berkenalan deh." Jawabku.

"Sakura, kau tadi bilang tadi kalian dikejar fans?" Tanya Sasori-nii dengan alis dinaikkan sebelah.

"Iya, memangnya kenap— ASTAGA SASORI-NII?!" Aku melotot horror.

"Mati kau, Sakura-chan. Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengannya. Fansnya fanatik, kau tahu." Sasori-nii memijat pelipisnya. Kasihan. Dia pasti sangat frustasi. "Yah, tapi apa boleh buat, media terlanjur menayangkan semuanya sih." Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisku, aku tahu betul fans Sasuke memang fanatik. "Kau tenang saja, aku akan menghubungi Itachi agar melindungimu dari keganasan fansgirl Sasuke, dia dan aku satu geng." Sasori-nii bangkit, kemudian menepuk puncak kepalaku, "Dan kau, harus tetap berhati-hati. Katakan padaku jika ada yang berani menyakitimu." Kemudian Sasori-nii berlalu menuju kamarnya. Aku tersenyum, segalak apa pun Sasori-nii, dia tetap kakak yang sangat baik yang akan selalu melindungi adiknya. Aku tahu itu.


Hari masih pagi, bahkan aku dan Sasori-nii belum berangkat ke sekolah, tapi sudah terjadi keributan di teras rumahku. Coba tebak siapa? Ya! Sasori-nii sedang mencak-mencak dengan baju seragam yang belum dikancingkan, sedangkan aku berdiri mematung di ambang pintu dan bahkan belum menelan sandwich gigitan pertamaku.

Sasuke.

Ya, Sasukelah yang telah dengan sengaja atau tidak, memancing keributan di pagi yang seharusnya indah ini.

"Mau apa kau datang ke sini, hah?!" Sembur Sasori-nii dengan kepala agak mendongak ke atas, terkesan menantang sosok Uchiha yang sedang berdiri angkuh dengan tatapan malas.

"Hn. Aku hanya ingin menjemput kekasihku, Muka Bayi." Jawab Sasuke datar dengan kedua tangan di dalam saku celana seragamnya. Yah, kuakui terlihat cukup keren sih, tapi tetap saja seolah-olah di atas kepalanya masih terlihat sepasang tanduk yang justru lebih besar dibanding biasanya.

"Dia akan berangkat bersamaku, Uchiha! Dan berhenti memanggilku Muka Bayi!" Seru Sasori-nii garang. Sasuke masih menatap Sasori-nii malas.

"Hn. Bagaimana kau akan berangkat dengannya sedangkan bajumu pun belum kau kancingkan, heh?" Tanya Sasuke dengan nada mengejek. "Dan mukamu memang seperti bayi." Kemudian Sasuke menghampiriku dan menggenggam tanganku, menyuruhku masuk mobilnya. Sasuke kemudian menoleh ke arah Sasori-nii, "Lagipula aku sudah dipastikan mendapatkan izin dari orang tua kalian, Muka Bayi." Lalu Sasuke masuk ke dalam mobil. Dia menoleh ke arahku yang masih melongo dengan sepotong sandwich di tangan kananku. "Habiskan sandwichmu." Mobil pun melaju meninggalkan Sasori-nii yang kuyakini tengah dongkol setengah mati pada makhluk yang sedang menyetir di sampingku ini.

"Sasuke, kenap—"

"Kun."

"Apanya?"

"Hn."

"Kau ngomong apa sih?"

"Tidak."

"Hn."

Seperti de javu, aku merasa sedang terlibat dalam percakapan antar orang idiot, hanya saja kali ini Itachi-nii tidak ikut andil di dalamnya. Kesimpulannya, yang membuat percakapan kami terdengar idiot itu Sasuke, dan kurasa aku mulai tertular.

CKIIT!

JDUAK!

"ADAW!" Kepalaku terbentur interior bagian depan mobil dengan cukup keras. "Kenapa kau berhenti tiba-tiba sih?! Kau mau aku amnesia setelah kepalaku terbentur dan akan membawaku ke rumahmu sebagai babumu, heh?!" Tuduhku sadis.

"Kenapa kau menggunakan 'Hn'ku?" Tanya Sasuke sewot.

"Kau susah sekali diajak bicara sih." Jawabku tak kalah sewot. "Ditanya ini dijawab itu."

Aku memelototi Sasuke.

Sasuke melotot balik.

Aku merengut.

Sasuke memajukan wajahnya dua senti dari wajahku, masih dengan mata melotot.

"Ck, Sasuke, kau mengerikan." Aku mengalihkan pandanganku ke luar mobil. Keder juga aku dipelototi Sasuke.

"Hn." Aku melirik Sasuke dengan ekor mataku, dia mulai menjauh dan perlahan mobil mulai melaju kembali. "Kau harus memanggilku 'Sasuke-kun', mengerti?"

"Kenapa 'harus'?" Protesku.

"Hn. Karena kau adalah kekasihku." Jawabnya santai. Wajahku mulai memanas. "Merangkap babuku—"

"HAH?! Enak saja kau menyebutku sebagai babumu?!" Potongku seketika setelah mendengar ucapan ngawur Sasuke. Ckckck, anak ini mau mati rupanya.

"Hn. Kau sendiri yang meminta tadi."

"Bu-bukan begitu maksudku. Mana mau aku jadi babumu." Balasku sebal. Mobil Sasuke mulai memasuki halaman sekolah.

"Hn. Baiklah kalau kau tidak mau." Jawabnya sambil memarkirkan mobilnya. "Tapi menjadi kekasihku kau tak mungkin menolak." Lanjutnya dengan seringai terpatri di wajah tampan–tapi–menjengkelkannya kemudian mematikan mesin mobil dan keluar lalu membukakan pintu untukku. Ck. Ada kalanya dia berlaku manis juga. Aku segera keluar dari mobil Sasuke dan coba tebak apa yang kutemui pertama kali?

Sahabat pirangku, Ino Yamanaka sedang berdiri bersidekap dengan wajah sangar tak jauh dari aku dan Sasuke, ditambah puluhan pasang mata fansgirl Sasuke menatap horror penuh kebencian padaku. Lagi-lagi aku keder, bukan karena dipelototi Sasuke, tetapi dipelototi fansgirlnya. Tapi kemudian kami dikagetkan dengan suara cempreng Naruto Uzumaki, sahabat Sasuke yang tampan tapi bodoh.

"YO! TEME!"

"Hn. Dobe." Balas Sasuke malas. Naruto memandangku, "Sakura-chan! Ohayou!" Sapanya padaku dengan cengirannya. Yah, dia memang cukup dekat dengan Hinata sehingga otomatis aku, Ino, dan Naruto juga menjadi cukup akrab.

"Ohayou mo, Naruto." Jawabku dengan seulas senyum. Ah, aku pasti terlihat sangat manis.

Kenapa? Narsis? Biarin.

"Ne, Sakura-chan, aku pinjam Sasu-teme sebentar ya. Hehehe.." Pintanya padaku sambil menyeret Sasuke menjauh. Penasaran? Curiga? Tidak juga. Aku sering melihat Naruto menyeret Sasuke yang baru datang ke sekolah, untuk meminjam buku PR.

"Ehem!" Suara deheman membuatku mengalihkan pandangan dari sepasang sahabat Teme-Dobe tadi, kulihat Ino menatapku aneh dengan alis mata diangkat sebelah.

"Ada apa, Pig?"

"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi kemarin, Jidat." Jawabnya sambil melirik ke kanan dan ke kiri, terlihat jelas puluhan pasang mata sedang melayangkan pandangan mematikan kepadaku. Ino melanjutkan, "Atau aku tidak akan membantumu keluar dari masalah yang baru saja kau buat di konser Sasuke kemarin."

HAH?!

Apa lagi sekarang?!


TBC!

Yoshaaa, update lagiii, akhirnya Author kembali semangat mengupdate fic gaje ini! Yeaaaay! *jingkrak-jingkrak* *peluk Sasuke*

Readers, terima kasih banyak reviewnya di chap kemarin fanfic ini *terharu* akhirnya Author kembali mendapatkan semangatnya untuk melanjutkan fanfic ini.. :D

Gimana chapter kali ini? Masih gaje, lebih gaje, apa malah gaje banget?

Pendek? Jelek? Garing?

Yah, mau gimana lagi? Hiks.. Saya masih saja belum bisa bikin yang lebih bagus dari ini.. *pundung di pojokan*


Yosh!

Seperti biasa,

Read&Review please? #PuppyEyesNoJutsu

Jangan cuma jadi silent reader, Ok? ;)

Tinggalkan jejak review, biar saya lebih semangat bikin penpik ^_^