NARUTOMASAHI KISHIMOTO
NIGHTMARESHIROI NO TSUKI
GENRE: ROMANCE/DRAMA
WARNING: AU, OOC, TYPO'S, DON'T LIKE? DON'T READ!, DLL
PAIRING: ITAHINA
~CHAPTER 4~
.
.
.
.
.
.
Hinata mendesah pelan ketika ia berada disebuah taman belakang mansion Uchiha, untuk apa Itachi membawanya kesini?
Apalagi sekarang matahari telah digantikan tugasnya oleh bulan sabit yang sekarang telah bersinar terang.
Sekarang ia hanya duduk diam dibangku taman, sedangkan si tuan rumah—Itachi—entah pergi kemana. Ia tidak tahu.
"Hahh… Tau begini aku tidak mengikuti keinginannya." Hinata mendesah pelan seraya memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam dimusim semi.
"Nona Hinata, waktunya anda makan malam," panggil Kakashi yang sedari tadi memang telah mengawasi Hinata agar gadis itu tidak kabur.
"Aku tidak nafsu Kakashi-San," Hinata menolak ajakan Kakashi dengan bosan.
"L-Lagipula kemana T-Tuan mudamu itu p-pergi?"
"Itachi-Sama sedang menemui Tuan Fugaku, Nona."
"L-Lalu k-kenapa aku di-diajak juga?"
"…"
"Kakashi-San?"
"Mungkin Itachi-Sama memerlukan bantuan anda…"
Hinata mengerutkan keningnya bingung, "M-Maksudnya?"
Kakashi hanya menghela napas lelah dengan semua pertanyaan dari Hinata, kalau begini terus Hinata pasti akan menanyakan hal yang macam-macam padanya.
"Anda harus makan malam, Nona. Mari saya antar." Untuk mengalihkan pembicaraan Kakashi haruslah memaksa Hinata untuk memebawanya keruang makan.
Sedikit kedutan dialis Hinata menandakan kalau dia sudah mulai jengah, "Su-Sudah kubilang, ak-aku tidak n-nafsu makan…" Hinata mulai menekankan setiap katanya.
"Tapi Nona…"
"Bisakah kau t-tidak memanggilku s-seformal itu?" Hinata mulai berdiri dari tempatnya duduk, "A-Aku bukan N-Nonamu."
"T-Tapi Nona adalah…" Perkataan Kakashi kontan terhenti ketika ia ingat apa yang akan ia katakan pada Hinata.
"Adalah a-apa?" Hinata mulai tertarik dengan apa yang akan Kakashi katakan.
Dengan gugup kakashi menyela. "T-Tidak apa-apa, Nona." Kakashi meringis dalam hati, kalau seandainya saja ia kelepasan berbicara pada Nonanya ini, ia pasti akan mendapatkan Deathglare gratis dari Itachi.
.
.
.
.
.
Disebuah ruang kerja kepala keluarga Uchiha, terdapat dua orang pria yang saling bertatapan intens dan seorang pemuda yang merasa tidak nyaman dengan keadaan disekeliling nya.
Itachi sedikit tegang dengan apa yang dibicarakan oleh kedua pria tersebut yaitu Ayahnya dan mungkin calon mertuanya.
Ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi secepat ini, ia memikirkan bagaimana nanti calon tunangannya?
Sungguh ia masih belum siap akan hal ini, ia akan dijodohkan dengan seorang gadis yang itachi 'pun tahu kalau gadis itu sebenarnya adalah dari Sahabat Ayahnya sendiri.
Sekarang yang ada dalam pikiran Itachi hanyalah Hinata, bagaimana ia menjelaskan bahwa memang Hinata 'lah pilihannya, pendamping yang akan berada disisinya seumur Hidupnya.
Itachi tidak mau lagi kehilangan Hinata untuk yang kedua kalinya, cukup Sasuke yang mengambil Hinata pada saat itu.
Walaupun Itachi tahu Hinata masih belum mengetahui akan perasaannya. Tapi, sekarang ia akan berusaha untuk menyakinkan Tou-Sannya bahwa Hinata adalah pilihannya.
"Tou-San," kedua pria yang saling bertatapan itu menoleh pada satu-satunya pemuda yang berada dihadapan mereka.
"Hn, ada apa Itachi." Fugaku menanggapi Itachi dengan suara dingin khas miliknya, membuat jantung Itachi berdetak lebih cepat.
"Sumimasen…" Tiba-tiba saja Itachi berdiri dari tempat duduknya dan memberi hormat kepada kedua kepala keluarga tersebut.
"Saya telah menetapkan pilihan Saya sendiri Tou-San," Itach berkata lancar tanpa keraguan sedikit 'pun dimatanya, segera ia menegakkan tubuhnya kembali.
Fugaku menatap mata Itachi yang penuh dengan keseriusan, ia yakin bahwa Itachi telah memiliki jalannya sendiri untuk gadis itu. Namun ini adalah demi keluarga besar Uchiha, penerus Uchiha memang haruslah dari keluarga yang bermartabat tinggi walau 'pun bermarteri sederhana.
Pria dissamping Fugaku hanya menatap Itachi denagan penuh makna, pria itu tidak menyangka Itachi akan mengatakan hal tersebut untuk menyakinkan Ayahnya. 'Berani juga pemuda ini' batinnya berseringai.
"permisi," Itachi berlalu setelah memberi salam tersebut.
Setelah Itachi menutup pintu ruang kerja Ayahnya, ia menghela nepas lega beberapa kali hingga detak jantungnya yang tadi memompa cepat. Kini kembali normal.
.
.
.
.
.
.
Hinata meletakkan sepasang peralatan makan diatas piring yang kini telah kosong karena telah habis dia makan.
"Se-Selesai, Kakasi-San sekarang aku boleh pulang 'kan?" Hinata sedikit kesal dengan salah satu pelayan pribadi Uchiha ini, sedari tadi ia ingin sekali pulang keapartemennya. Tapi pria ini selalu saja mencegahnya.
"Anda harus menunggu Itachi-Sama dulu Nona."
"U-Untuk apa aku ha-harus menunggu? B-Bukankah Itachi-San sedang bersama… Tu-Tunangannya" Hinata berucap lirih pada akhir kata 'tunangan' pada kalimatnya.
Entah kenapa Hinata menjadi takut, jika Itachi mempunyai seorang tunangan. Maka ia akan merasa sendirian lagi.
Ia takut jika Itachi mengacuhkannya, Hinata takut kalau ia akan sendirian lagi.
Ia tidak mau, paling tidak. Orang selama ini yang selalu menemaninya disaat ia merasa memebutuhkan, memang selama ini Sahabatnya juga selalu menemani Hinta saat ia membutuhkan.
Tapi, ini berneda, ia tidak tahu kenapa, tapi yang pasti perasaan ini sangat berbeda dari perasaannya terhadap teman-temannya.
"Tidak, bukan tunangan, Nona. Tapi calon tunangan…" Kakashi mengoreksi ucapan Hinata sebelumnya.
Hinata hanya diam tidak menanggapi Kakashi, ia sudah akan bangkit dari kursi ketika ia mendengar Kehadiran Itachi diruang makan tersebut.
"Itachi-San," Panggil Hinata
"Kau sudah makan?"
Hinata hanya menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Itachi.
"Baiklah, temani aku makan!" Itachi berkata datar seolah Hinata adalah seorang pelayannya.
Hinata kembali duduk dikursi yang memang sedari tadi ia tempati, tanpa mengatakan sepatah katapun ia hanya diam menatap Itachi yang mulai menyantap makan malamnya.
Itachi yang merasa diperhatikan oleh Hinata, tersenyum dalam Hati, "Kenapa? Apa aku sebegitu tampan sehingga kau terus memandangku seperti itu?"
Itachi berkata sebebegitu percaya dirinya.
Hinata sontak terkejut mendengar perkataan Itachi. "A-Ap—"
"Bahkan calon tunanganku 'pun terpesona akan ketampananku, apalagi gadis sepertimu…" Sekali lagi Itachi memotong ucapan Hinata dan berkata dengan PeDenya.
Kakashi hanya melongo mendengar penuturan Tuannya, ia tidak pernah menyangka bahwa Tuannya akan berkata sepercaya diri seperti ini sebelumnya.
Apalagi dihadapan seorang gadis.
"K-Kau terlalu P-percaya diri T-Tuan Uchiha," Hinata mendelik tajam pada Itachi.
Itachi yang mendapat perlakuan tersebut, hanya menyeringai sambil kembali menyantap makan malamnya..
.
.
.
.
.
"Jadi, a-apa aku se-sekarang boleh p-pulang?" Hinata kembali menayakan pertanyaan yang sama berulang kali sejak mereka keluar dari ruang makan.
Sekarang mereka—Itachi dan Hinata—sedang berada diruang keluarga Uchiha.
"Hn…" sedari tadi, hanya itulah tanggapan Dari Itachi atas pertanyaan Hinata, ia hanya sibuk dengan buku yang ada ditangannya—entah buku apa itu, Hinata 'pun tidak tahu—
Hinata hanya merengut kesal kepada pemuda dismapingnya ini.
Tiba-tiba Hinata teringat sesuatu, bukankan calon tunangan itachi ada dimansion ini? Tapi kenapa sedari tadi Hinata tidak melihat seorang 'pun.
Dan lagi, bukankah Tuan besar Uchiha juga sedang berada dikediaman ini. Tapi Hinata belum melihat keberadaan satu orang 'pun—kecuali mereka dan para maid tentunya—
Penasaran, akhirnya Hinata 'pun dengan ragu menayakannya pada Itachi. "I-Itachi-San, Bu-bukankah calon T-Tunanganmu—"
"Dia berada disini." Itachi mengerti apa yang akan Hinata tanyakan, karena itulah ia dengan cepat menjawabnya.
Hinata yang bingung akan jawaban Itachi, mulai melonggokkan kepalanya kesana-kemari mencari sesuatu objek yang sekarang sedang dibahas—tunangan Itachi—
Itachi yang melihat tingkah Hinata tersebut, sedikit tertarik untuk membuat Hinata makin penasaran. Ia menutup buku yang sedari tadi dibacanya dan melrt/akkannya diatas meja dihadapannya.
"A-aku tidak me-melihat seorang 'pun…" Hinata yang menyerah, akhirnnya mulai mempertanyakan lagi.
Perlahan Itachi mendekat pada hinata, kini tubuh mereka berada pada jarak yang sangat dekat, sehingga Hinata 'pun dapat merasakan hembusan napas hangat Itachi diwajahnya.
"Kau begitu penasaran?"
Hinata dengan perlahan menaggukkan kepalanya, hanya perlahan. Ia takut kalau wajahnya nanti akan membentur wajah Uchiha Sulung dihadapannya.
Itachi memandang intens wajah gadis dihadapanya, ia melihat sedikit samar rona merah diwajah Hinata.
Melihat itu semakin membuat Itachi merasa puas dengan godaannya.
"Kau akan melihatnya besok."
"Ha-Hah?"
"Kakahi, Shizune—" Itachi memanggil dua pelayan pribadi kepercayaannya.
Serempak keduanya datang dan menghadap kepada Sang Tuan yang memanggil mereka.
"Hai, aitachi-Sama." Jawab mereka bersaan.
"Bawa Hinata kedalam kamarnya!"
What?
Kedalam kamar?
Kamar siapa?
Hinata jadi semakin tidak mengerti akan tingkah Uchiha sulung ini.
Dengan cepat Kakashi dan Shizune memegang kedua tangan Hinata bak seorang Napi yang akan dieksekusi.
"A-Apa Y-Yang kalian La-Lakukan?" Hinata hampir, hanya hampir berteriak histeris ketika mereka mulai menyeret Hinata.
"H-HEI ITACHI, SURUH MEREKA MELEPASKANKU!" Dan pada akhirnya Hinata memang telah berteriak histeris.
Itachi hanya melambaikan tangannya dengan wajah tanpa dosa, sambil melihat Hinata yang diseret oleh Kakashi dan Shizune hingga teriakan Histeris Hinata menghilang ditelan Koridor yang membawanya kekamar yang Itachi maksud.
"Ehm…!" aktivitas yang dilakukan Itachi terhenti akibat suara yang deheman seorang pria yang sedari tadi memperhatikan mereka dari ruang sebelah.
Itach melonggokkan kepala kearah sumber suara, "Paman?"
"Hm, apa kau tidak keterlaluan terhadapnya Itachi?" pria itu berkata sedikit ketus.
Itachi hanya tersenyum tipis mendengar perkataan paman… ah, tidak. Mungkin bisa disebut sebagai calon mertuanya.
"kau akan mendapat balasan yang setimpal atas perlakuanmu terhadapnya…" orang yang disebut Itachi Paman itu memandang dingin kepadanya.
Itachi malah melebarkan senyumnya ketika mendapati air muka sang calon mertua yang sedikit marah, "Hukuman itu ditunda saja, Paman…" Katanya menyeringai penuh kemenangan.
.
.
.
.
.
BRUKKK!
"Ittaaaiii~"
Hinata meringis kesakitan setelah bokongnya dengan keras menyentuh lantai marmer dibawahnya.
Sambil berusaha bangkit, ia mencoba menghilangkan rasa sakit dibokongnya dengan mengusap-usap 'kan tangannya pada pantatnya.
Cklekk…
Tanpa Hinata sadari suara kunci berbunyi dari pintu yang baru saja ditutup oleh Kakashi.
Hinata membelalakkan matanya, dengan cepat ia meraih handle pintu dan mencoba untuk membuka pintu tersebut. sekarang hilang sudah rasa sakit yang Hinata rasakan dibokongnya.
Tapi nihil, pintu memang sudah dikunci dari luar kamar.
"KA-KAKASHI-SAN TOLONG BU-BUKA PINTUNYA!" Sekarang Hinata sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali berteriak untuk meminta dibukakan pintu.
Menyerah, Hinata akhirnya menyerah setelah beberapa menit mencoba menggedor pintu.
Hal itu memang sudah tidak ada gunanya jika diluar sana sudah tidak ada orang. Hinata menghela napas mencoba menenagkan dirinya.
Perlahan ia membalikkna tubuhnya, dan matanya memebelalak kaget melihat pemandangan disekitarnya.
Sekarang ia memang berada di dalam kamar yang mewah namun terlihat sederhana dari perabotan yang terdapat didalamnya.
Tapi, bukan itu yang membuatnya membelalakkan matanya. Hinata melihat sebuah objek yang sekarang berada diatas ranjang yang ada dalam kamar itu.
Sebuah boneka kesayangannya—boneka beruang—pemberian almarhum ibunya, terntu saja ia sangat mengenali boneka itu walaupun dari jarak yang cukup jauh. Karena dileher boneka itu terdapat sebuah kalung berliontin jam milik ibunya.
"Ke-kenapa bisa a-ada disini?" Hinata menatap penuh kebingungan akan isi dari kamar ini, kenapa bisa miliknya yang seharusnya berada diaprtemen yang ia tinggali selama ini malah berada dikamar ini?
Lalu, jangan-jangan…
Dengan cepat Hinata membuka lemari yang berada disamping meja belajar yang ia ketahui peralatan belajar diatasnya adalah semua MILIKNYA.
Lagi, Hinata sangat kaget dengan apa yang ada didalamnya. Semua pakaian yang ia lihat sekarang 'pun adalah miliknya yang seharusnya berada diapartemen.
"A-Apa?" Hinata tidak dapat berbicara lagi, ia hanya memundurkan langkahnya hingga menyentuh tepi ranjang.
Kontan ia merebahkan dirinya dengan rasa ketidakpercayaan.
"Kami-Sama…" Gumamnya lirih tidak percaya akan apa yang ia lihat sekarang.
.
.
.
.
.
hujan yang gerimis mengawali pagi hari ini, Itachi yang duduk di beranda belakang taman Uchiha, sedang menikmati turunnya Hujan yang telah menemaninya sejak tadi. Matanya menelusuri setiap kata yang ada pada buku yang dipegangnya, walau 'pun begitu, sebenarnya pikiran Itachi tidaklah terfokus pada buku yang sedang dibacanya ini. Melainkan pada sesosok gadis yang telah lama mrngisi hatinya—Hinata—
"kakashi!" Itachi memanggil pelayan yang berdiri dibelakangnya.
"Ya, Itachi-San," Kakashi melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Itachi.
Itachi tersenyum walaupun tidak terlihat oleh kakashi, "Panggilanmu ini lebih baik daripada kau memanggilku Itachi-Sama."
Kakashi hanya tersenyum menanggapinya, "Bukankah kau yang memerintahkannya padaku?"
"Hn"
"Kau memanggilku bukan hanya untuk berkomentar itu 'kan?"
"…"
Kakashi mengernyitkan alis, "Itachi-San?"
"Bagaimana keadaannya?" Itachi dengan kasar menutup buku yang sedari tadi dibacanya.
"Kenapa tidak kau tanya 'kan saja padanya?"
Itachi menoleh kepada kakashi, mata onyxnya menatap tajam kearahnya.
Namun, yang ditatap samasekali merubah eakpresi wajahnya, malah Kakashi semaki mengembangkan senyumnya pada Itachi.
Tanpa mengatakan sepatah kata 'pun itachi bengkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya berlalu begitu saja dari hadapan kakashi.
"Gambatte! Itachi-San!" Ucap Kakashi menyemangati.
.
.
.
.
.
Hinata mematut dirinya dicermin, tersenyum pada bayangan dirinya dan senyuman itu lantas menghilang ketika ia melihat sepintas bayangan sasuke disampingnya.
"Sasuke-Kun…" Lirihnya untuk dirinya sendiri, kenapa?
Kenapa Hinata tidak pernah memimpikan tentang kecelakaan itu lagi? Lalu kenapa ia juga tidak melihat bayangan Sasuke dengan jelas lagi? Kenapa ia selalu memimpikan Hal yang indah saat bersama Sasuke? Juga kenapa dalam mimpi tersebut, Sasuke seperti ingin memeberi tahu satu hal yang tidak dapat diucapkannya.
Seperti yang dialaminya kemarin malam. Hinata hanya melihat Sasuke tersenyum kepadanya disebuah tempat yang entah apa itu Hinata 'pun tidak tahu, surga 'kah?
Saat itu Hinata hanya bisa memandang Sasukenya dari jarak yang jauh, ia tidak dapat menggapai Sasuke. Dan kaerna itu lah Hinata tidak dapat apa yang Sasuke katakana.
Hinata terus bertanya kepada dirinya sendiri, apa arti dari mimpinya ini?
Tanpa Hinata sadari, sepasang mata Onyx telah memperhatikannya dari tadi. Pemilik mata Onyx itu—Itachi—terus memandang wajah Hinata yang terpantul dari cermin.
Bahkan ia 'pun mendengar gumaman Hinata yang menyebut nama Sasuke.
Sakit.
Itulah yang pemuda itu rasakan saat ini, hatinya benar-benar terasa sakit. Itachi mulai berpikir apakah yang selama ini yang dilakukannya pada Hinata sia-sia?
Tidak.
Ia selalu berusaha membuat Hinata bangkit dari keterpurukannya, ia juga sudah berusaha membuat Hinata menjalani hari yang baru. Jadi semua itu tidaklah sia-sia 'kan?
Hinata membalikkan tubuhnya, mata almethysnya sedikit terbuka lebar ketika melihat Itachi berada di ambang pintu.
"Itachi-San? Sejak kapan?" Sapa Hinata pada Itachi yang ia 'pun tidak tahu kenapa pemuda itu bengong didepan pintu kamarnya. Bukan, tapi pintu kamar yang sedang ditempatinya.
Merasa dipanggil, Itachi hanya memandang Hinata lurus seraya masuk kedalam kamar. Hinata hanya mengikuti gerak-gerik Itachi yang mulai mencurigakan—menurutnya—
Itachi terus memandang Hinata sampai ia menjatuhkan pantatnya pada sisi ranjang, Hinata yang terus merasa dipandangi, mulai merasa gelisah dan mulai menundukkan kepalanya dengan gugup.
Tiba-tiba suara handphone milik Itachi berbunyi menanadakan ada panggilan masuk, dengan cepat ia meraih ponsel yang ada di saku celananya.
"Hn, ada apa." Sapa Itachi pada sipenelpon.
Itachi mulai mendengarkan sipenelpon tersebut berbicara, Hinata yang merasa diacuhkan kini ia kembali memandang dirinya dicermin. Karana hari ini adalah hari libur, jadi Hinata berniat untuk membereskan barang-barangnya yang ada disini untuk membawanya kembali keapartemen.
Hinata jadi bingung bagaimana orang ini membawa semua barangnya tanpa ia ketahui. Bahkan ia tidak menyadari kalau Itachi itu bisa melakukan hal tersebut tinggal dengan hanya menyuruh para pelayannya.
"Hinata!." Lamunan Hinata buyar ketika Itachi memanggilnya.
Itachi melemparkan telponnya keatas kasur yang ditiduri Hinata, sejenak ia menghela napas pendek. "Saatnya sarapan," Lanjutnya.
Hinata hanya diam, mengernyitkan alis, lalu menunjuk dirinya sendiri. "A-Aku?"
"Siapa lagi?" Itachi mendelik tajam.
"…" Hinata hanya memandang Itachi dengan pandngan bingung.
"Kenapa?"
"A-Apa tunanganmu ti-tidak marah kalau a-aku juga ikut s-sarapan?" Hinata merasa ragu dengan pertanyaannya sendiri. 'Itachi memang aneh' pikirnya.
Itachi bangkit dari duduknya, tangan kekarnya menggenggam tangan Hinata lembut. "Kurasa tidak, sebentar lagi mungkin kau akan mengetahui siapa tunanganku," ucapnya sembari menarik tangan lembut itu untuk membimbingnya keruang makan. "Semuanya sudah berkumpul menunggu kita," lanjunya.
Hinata hanya mengikuti saja langkah Itachi, sebenarnya ia merasa bingung pada sifat Itachi. Terutama terhadapnya, Hinata merasa kalau sifat itachi yang terkadang kasar padanya. Tapi dari pancaran mata itu ada suatu kelembutan yang diberikan Itachi padanya.
.
.
.
.
.
Sesampainya diruang makan Hinata dikagetkan oleh seseorang yang membuatnya membelalakan matanya.
"To-Tou-San?" Hinata hamper terpekik melihat Ayahnya duduk manis dimeja makan yang berbentuk persegi panjang itu.
"Hinata," Panggil Ayahnya seraya berdiri menyambut kedatangan putrinya diruang makan.
Hinata langsung menerjang sang Ayah dan memeluknya erat, "Aku merindukan Tou-San…" Hinata berucap lirih dipundak Ayahnya.
Itachi yang melihat adegan tersebut hanya mengembangkan senyum tipisnya pada mereka—Hiashi dan Hinata—Itachi sudah menduga reaksi apa yang diberikan Hinata kepada Ayahnya, sejenak ia berpikir seandainya saja yang berada diposisi Hiashi adlah dirinya. Itachi pasti akan merasa sangat senang dan tidak akan membiarkan moment itu hilang begitu saja.
Sontak lamunan Itachi buyar 'Apa yang kupikirkan' Batinnya dalam hati.
Hinata melapas pelukannya pada sang ayah, "Tou-San, k-kenapa bisa—"
"Tou-Sanmu telah diundang oleh keluarga Uchiha, Hinata…" Potong suara berat milik Fugaku—Ayah Itachi—
Hinata memandang bingung pada seseorang yang telah memotong ucapannya.
"Dia Ayah dan—" Itachi menunjuk seorang wanita yang duduk disebelah Fugaku, "Dia Ibuku, Hinata." Lanjut Itachi yang menjawab pertanyaan yang mungkin akan terlontar dari bibir manis Hinata.
Hinata kemudian membungkuk hormat pada Fugaku dan Mikoto, "Hinata, Hyuuga Hinata." Hinata memperkenalkan dirinya.
"Hn, dudklah!" Fugaku mempersilahkan Hinata duduk diringi dengan Itachi dan Hiashi yang juga menduduki kursi mereka masing-masing.
Hinata yang merasa bingung akan kedatangan Ayahnya ditengah-tengah keluarga Uchiha memberanikan diri untuk bertanya pada Ayahnya, " Se-Sebenarnya, a-apa yang t-terjadi Tou-San? K-Kenapa bisa ada d-disini? Mana Ne-Neji-Nii?"
Mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari putri bungsunya Hinata, akhirnya Hiashi mulai angkat bicara, "Tou-San kesini untuk menerima lamaran Itachi padamu—"
"Ha-Ha? L-Lamaran?" Hinata terkejut, sangat—
Hiashi hanya menganggukkan kepalanya sekali dan melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terpotong, "Dan kakakmu Neji sedang berada dikonoha, menggantikan toko Tou-San untuk sementara." Hiashi hanya mengucapkan kata-kata tersebut dengan tenang menghiraukan rasa terkejutnya Hinata.
"T-Tou-San? Lamaran?" Hinata mengulang pertanyaannya tadi, ia ingin mita penjelasan pada Tou-Sannya.
"Kita akan ditunangkan, Hinata…" Itachi menginterupsi pembicaraan Hinata dan Tou-Sannya.
Hinata mengalihkan pandangannya pada Itachi, "Tu-Tunangan? Jadi—" Hinata kali ini tidak bisa meneruskan kata-katanya.
Semua yang berada dalam ruangan tersebut terdiam menanti reaksi Hinata selanjutnya.
Hinata secara bergantian memandangi orang-orang yang berada disekelilingnya, ia masih belum percaya akan kabar mendadak begini.
"Kenapa? KE-KENAPA AKU Y-YANG MUSTI DITUNANGKAN? KE-KENAPA TIDAK Neji-Nii yang ditunangkan dengan Itachi-San?" Hinata berkata histeris sesaat kemudian berkata lirih walaupun masih terdengar oleh semua penghumi ruangan tersebut.
Sontak Itachi tersedak kopi yang telah diminumnya, Hiashi dan Fugaku menegang dan Mikoto memebelalakan matanya.
Sejenak suasana jadi hening.
"Ehm!" Akhirnya sang pelayan pribadilah yang membuyarkan keheningan tersebut—Kakashi—yang baru saja datang membawa menu sarapan pagi ini. "Sarapan sudah siap," Ucapnya.
Hinata berdiri dari posisi duduknya. "S-Sumimasen, permisi." Denagn cepat dia berlalu keluar dari tempat itu, tempat yang menyesakkan baginya.
Hiashi berdiri akan menyusul Hinata. Tapi hal tersebut dicegah oleh Itachi yang menginterupsi langkahnya.
"Biar saya yang mengerjarnya, paman." Itachi setengah berlari menyusul Hinata..
.
.
.
.
.
Matahri masih bersembunyi dibalik awan mendung menyebabkan hujan dipagi hari ini semakin deras, Hinata masih berlari menuju gerbang Uchiha. Namun, kegiatannya terhenti ketika tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang tubuhnya.
Sontak Hinata menghentikan langkahnya, ia bisa merasakan hangat tubuh seseorang yang memeluknya saat ini. Pegangan tangan kekar itu makin mengerat pada tubuhnya ketika Hinata mencoba untuk berontak.
Perlahan Hinata akhirnya menghentikan rontaannya, diam. Hinata mencoba untuk menenagkan dirinya.
Itachi akhirnya sedikit melonggarkan pelukannya pada Hinata. Tapi ia tetap tidak akan melepaskan dekapannya terhadap Hinata.
Hinata bisa merasakan hembusan napas hangat Itachi yang menerpa tengkuknya, membuatnya merasakan sedikit geli.
Tetes demi tetess air hujan mengguyur keduanya yang tanpa pertahanan membuat mereka merasakan dinginnya air hujan yang menghantam tubuh mereka. Tapi rasa dingin itu perlahan menghilang digantikan rasa hangat tubuh mereka yang berdekapan.
Hinata hanya diam membiarkan Itachi memeluknya tanpa kata.
Sungguh, Hinata sangat bingung akan perasaannya, kenapa bisa ia hanya diam dalam pelukan pemuda ini. Kenapa ia malah menikmati setiap kehangatan yang diberikan oleh pemuda tersebut?
Air mata Hinata entah sudah yang kesekian kalinya kembali mengalir menganak sungai dipipinya, walaupin hujan deras, Itachi tahu kalau Hinata sekarang sedang menangis.
Itachi benar-benar tidak ingin melihat Hinatanya menangis lagi, tapi apa yang bisa ia perbuat? Itachi sendiri tidak tau.
Dengan cepat Itachi membalikkan tubuh Hinata dan kembali memeluknya erat, menyandarkan tubuh Hinata yang rapuh didada bidangnya.
"Hiks… Hiks…Hiks…" Akhirnya pecah sudah isak tangis Hinata yang sedari tadi ditahannya.
"Kumohon Hinata, jangan pergi lagi…" Itachi berkata lirih sembari mengecup puncak kepala Hinata.
Hinata menggelengkan kepalanya dalam pelukan Itachi.
"Doushite? Hiks.. hiks…" Hinata sungguh tidak dapat menahan isak tangisnya, " Ke-Kenapa kau berkata begitu… Hiks a-Hiks apa maksudmu…"
"Karena aku mencintaimu, jauh sebelum kau mengenal Sasuke, Hinata Aishiteru…" Itachi semakin mendekapkan tubuhnya pada Hinata, menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher gadis itu.
Hinata tidak percaya apa yang dikatakan Itachi padanya, "Bohong, kau pasti berbohong padaku Itachi—"
"Aku tidak berbohong," Tegas Itachi
"Apa yang harus kulakukan, agar kau bisa percaya padaku?"
Hinata benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Itachi, ia Hanya bisa membalas dekapan Itachi dengan lembut.
'Maaf Itachi-San, aku masih mencintai Sasuke-Kun'
Tanpa mereka sadari enam pasang mata sedari tadi telah memperhatikan mereka di balkon utama Mansion Uchiha. Siapa lagi kalau bukan sepasang suami-istri Uchiha, Tou-San Hinata dan kedua pelayang pribadi Itachi.
Mikoto dan Shizune saling berpalukan melihat adegan yang tersaji didepan mata mereka, walaupun mereka tidak tau apa yang sedang dibicarakan oleh Itachi dan Hinata. Tapi mereka bisa merasakan kesedihan yang dialami keduanya.
Sedangkan ketiga pria yang lainnya, hanya memandang mereka penuh dengan tatapn yang sangat sulit diartikan.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
A/N: Selesaaaaaaaaai
Hufh….
Makasih yang udah review chap 3 buat sasuhina-caem dan Mamoka
^-^ makasih yang masih mau juga membaca ini fic…
Salam…
Shiroi No Tsuki
