Disclaimer: Bukan rahasia lagi kalau One Piece hanya milik Oda-sensei seorang.


Rencana Jangka Panjang

CHAPTER III

Vivi bahkan tak sempat berteriak saat Luffy membawanya terbang dari kapal. Ia baru berteriak saat mereka hampir menghantam tanah.

"Gomu gomu no fuusen!"

Vivi mendarat dengan aman setelah sedikit terpental sebelumnya.

"Luffy-san!"

"Shishishi! Ini menyenangkan!"

Vivi menggeleng-gelengkan kepalanya. Kelihatannya tak ada gunanya marah-marah pada Luffy, karena yang dimarahi sama sekali tidak merasa bersalah.

"Aku akan ke arah sini kalau begitu." Vivi berbalik dan berjalan.

"Hati-hati Vivi! Jika sesuatu terjadi padamu, kau tinggal berteriak, oke? Jika bukan aku, Sanji dan Zoro pasti akan datang!"

Langkah Vivi langsung terhenti saat mendengar peringatan itu.

"Dan jangan lupa mengumpulkan buah-buahan yang bisa dimakan! Sanji pasti akan senang!"

Luffy berlari menjauh sebelum Vivi sempat mencerna apa yang sudah dikatakannya. Begitu Vivi paham, dia hanya berdecak kesal.

"Tentu saja mereka tak mau aku dalam bahaya. Mereka pasti tak ingin imbalan mereka berkurang."

OoO

Zoro sedang bersenang-senang memburu seekor dinosaurus ketika ia mendengar teriakan. Tanpa pikir panjang ia segera meninggalkan buruannya dan berlari menuju arah teriakan itu. Ia menemukan Vivi yang sedang berlari sambil dikejar oleh seekor dinosaurus bergigi tajam. Zoro segera menghunus katananya dan menghabisi dinosaurus itu dengan sekali serangan.

"Kau tak apa-apa?"

Vivi hanya mengangguk. Kelihatannya ia masih belum menemukan suaranya yang menghilang karena ketakutan.

"Baguslah kalau begitu." Zoro menyarungkan katananya dan bersiap menyeret dinosaurus itu ketepi pantai. Ero cook pasti bisa memasak sesuatu yang enak dengan daging sebanyak ini.

"K-kau mengalahkan makhluk sebesar itu dengan mudah?"

Zoro menatap Vivi dengan ekspresi tak pedulinya. "Tentu."

"Kau sangat kuat."

Zoro mengangkat bahunya. "Ini bukan apa-apa."

"Apakah yang lain juga sekuat dirimu?"

"Menurutmu?"

Saat Zoro tak mendengar jawaban, ia mulai menyeret dinosaurus itu. Tanpa melihat kebelakang, ia tahu Vivi mengikutinya.

"Maafkan aku. Buah-buahan yang sudah kukumpulkan tadi terjatuh."

"Tak masalah." Apa lagi yang bisa Zoro katakan? Dia bukan pembicara yang baik, dan mengobrol juga bukanlah hobinya.

"Maafkan aku tidak bisa membantu apapun. Aku hanya merepotkan kalian saja."

Zoro menjatuhkan ekor dinosaurus yang sedang dipegangnya. Ia berhenti berjalan dan barbalik menatap Vivi.

"Apa kau mendengar kami mengeluh? Apa kau pernah mendengar kami menyalahkanmu? Apa kami terlihat kerepotan? Jangan meremehkan kami." Zoro menunjuk ke arah kapal mereka. "Kami sudah memutuskan untuk menolongmu, dan apapun yang terjadi tak akan ada yang meninggalkanmu atau menyakitimu. Aku tahu kau tidak percaya pada niat baik kami, tapi setidaknya kau bisa percaya kami tidak akan mengkhianatimu." Zoro memungut kembali dinosaurusnya dan mulai menyeretnya ke kapal.

Zoro tak tahu apa yang membuatnya mengatakan hal itu. Mungkin tatapan ragu dari Vivi kepada teman-temannya yang membuatnya kesal. Zoro bukan tipe orang yang banyak bicara atau mudah terbawa perasaan, tapi ia tahu teman-temannya dan juga dirinya peduli pada Vivi. Ia tak tahu apa yang sudah mengubah Vivi terakhir kali, tapi yang pasti bukanlah dirinya. Mungkin Luffy? Dia memang punya kemampuan aneh yang bisa membuat orang-orang mengikutinya dan mempercayainya.

Kematian Vivi paling mempengaruhi Nami dan Luffy. Nami karena ia yang meyakinkan mereka untuk menolong Vivi, dan Luffy karena ialah yang paling dekat dan dipercaya oleh Vivi. Melihat seseorang yang begitu disayangi oleh teman-temannya menatap dengan tatapan tak percaya seperti itu membuat Zoro kehilangan kesabarannya.

Jujur, jika Zoro punya skala prioritas, dulunya ia meletakkan Mihawk nomor satu. Tapi berlayar bersama Luffy mengubah skala prioritasnya. Luffy sekarang adalah nomor satu baginya. Teman-temannya adalah nomor dua. Sementara entah sejak kapan Mihawk menempati posisi nomor tiga.

OoO

Saat Luffy mendengar teriakan Vivi, ia berencana akan menolongnya, tapi begitu ia merasakan Zoro sudah disana, ia memutar arah dan berjalan menuju hutan. Ia yakin Zoro akan menyelesaikan masalah apapun yang sedang dihadapi oleh Vivi.

Mengingat Vivi yang sekarang, Luffy sedikit kecewa. Vivi masih belum percaya pada mereka. Kali terakhir, pengorbanan teman-temannya di Little Garden saat bertarung dengan para agen Baroque Works yang membuat Vivi luluh dan menerima mereka sebagai temannya.

Luffy tak yakin kali ini mereka bisa berteman kembali seakrab dulu, tapi setelah dipikir-pikir, itu tidak penting. Yang penting adalah Vivi tetap hidup, dan mereka akan membebaskan Alabasta sekali lagi.

OoO

Malamnya, mereka berpesta bersama dua raksasa yang sudah berteman baik dengan Usopp. Kelihatannya, Usopp memang punya bakat khusus jika itu berkaitan dengan raksasa. Paginya mereka berangkat diiringi dengan lambaian dari para raksasa.

"Bagaimana dengan eternal posenya? Log pose masih belum terisi penuh bukan?" Vivi bertanya dengan cemas.

"Ah, kami lupa bilang padamu Vivi. Saat menangkap Unluckies, kami menemukan eternal pose Alabasta." Jelas Nami. "Tapi kita masih belum bisa berangkat langsung ke Alabasta."

"Kenapa?" Vivi was-was mendengar jawaban Nami.

"Kami harus singgah di Kerajaan Drum sebentar. Seorang teman kami menunggu disana." Luffy yang menjawab pertanyaan Vivi. "Dia sangat berharga dan kami tak ingin meninggalkannya."

Vivi terdiam. Apa arti kata-kata 'teman' bagi orang-orang ini? Kenapa mereka mengucapkannya dengan nada seperti itu? Dan melihat kekuatan Mr. Bushido, dia lebih kuat daripada Luffy-san. Tapi kenapa dia mengikuti Luffy-san? Kenapa mereka semua mengikuti Luffy-san yang kelihatannya paling muda diantara mereka?

OoO

Beberapa jam setelah meninggalkan Little Garden, Luffy dan teman-temannya menemukan musuh lama mereka.

"Hey, lihat itu. Bukankah dia raja menyebalkan yang sudah menyakiti Chopper?" tunjuk Usopp.

Yang lain segera menatap arah yang ditunjuk Usopp.

"Ah, benar." Sanji mematikan rokoknya.

"Apa kita bisa membereskan mereka disini?" Zoro berdiri.

"Aku bisa menembak mereka dari sini." Usopp menyiapkan ketapelnya.

"Kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita menyakiti para dokter yang bersama dengannya." Nami memperingatkan teman-temannya.

"Oke!" terdengar beberapa jawaban serentak. Sanji menggunakan Sky walk dan Luffy melemparkan dirinya bersama dengan Zoro ke kapal Wapol.

OoO

"Menurutmu, kita butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikan ini?" Sanji menurunkan kembali lengan bajunya yang sudah digulungnya sebelumnya. "Aku harus mulai bersiap untuk membuat makan siang kita."

Zoro dan Luffy saling tatap sebelum kompak menjawab, "Tiga menit."

Sebenarnya, mereka bisa menyelesaikan hal ini dengan mudah tanpa harus bertarung. Tapi Luffy sudah menekankan pada nakamanya agar mereka sebisa mungkin tidak menggunakan haki dalam bertarung, dan Nami setuju dengan hal itu.

Luffy beralasan mereka perlu latihan dan menggunakan haki akan mempermudah pertarungan mereka. Sementara Nami beralasan, mereka tak perlu menarik perhatian, karena jika segerombolan remaja yang sudah menguasai haki dan berlayar bersama sampai menarik perhatian orang banyak (baik itu angkatan laut ataupun bajak laut), mereka akan kesulitan bergerak.

"Kalian bisa mengurus yang lainnya kan?" Luffy meregangkan tubuhnya. "Aku akan mengurus raja palsu itu."

"Hai..hai.."

Luffy, Zoro, dan Sanji langsung melompat saat sebuah mulut yang besar berusaha menelan mereka.

"Siapa kalian? Berani-beraninya kalian menyerang kapalku!" Wapol, sang (mantan) raja kerajaan Drum yang sudah memakan Baku baku no mi berteriak marah. "Chess! Kuromarimo! Urus mereka!"

"Hooo… ada marimo lain di kapal ini ternyata." Sanji melompat dan mendarat diatas salah satu barel.

"Diam kau, alis keriting!" teriak Zoro.

"Apa?"

Chess dan Kuromarimo kesal karena kelihatannya orang-orang ini sama sekali tidak mempedulikan mereka.

"Eleki marimo!"

Zoro menebas rambut afro yang bertebangan ke arahnya. "Oni giri!"

Rambut-rambut itu berjatuhan di lantai sebelum sempat mencapai Zoro dan Sanji.

"Apa-apaan itu?" Zoro menyeringai. Ia menyarungkan Wado Ichimonjinya, meninggalkan dua pedang ditangannya. "Nitoryuu iai, Rashumon!"

Kuro marimo terlempar dan tak bangun lagi.

"Diable jambe!" Chess menghantam dinding dengan tubuh berapi.

Sanji menyeringai. "Ck..ck..Kau baru saja membunuh teman sesama marimomu."

"Ha..ha.." Zoro tertawa dengan nada datar. "Lucu sekali, koki mesum."

OoO

"Chess! Kuro marimo!" teriak Wapol. Ia mulai panik, apalagi saat melihat anak buahnya yang lain terkapar dan dikalahkan oleh pemuda berambut hijau dan pirang itu dengan mudah.

Pemuda dengan topi jerami itu mengamatinya dengan ekspresi datar.

"Sekarang tinggal kau sendiri. Kau bisa memilih, kau mundur dengan sukarela atau kau mundur setelah kuhajar?"

Wapol gemetar, tapi ia masih punya sedikit keberanian yang tersisa. "Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah seorang raja! Jika kau menggangguku, maka itu berarti kau menyatakan perang pada pemerintah dunia!"

Pemuda itu maju selangkah mendekatinya, dan Wapol otomatis mundur selangkah.

"Aku tak peduli." Ucap pemuda itu. "Kau pergi sekarang tanpa harus terluka parah, atau aku dan teman-temanku harus memaksamu pergi?"

"Ba-baiklah! Kau menang kali ini! Tapi aku akan kembali! Dan saat aku kembali, aku akan membalaskan dendamku pada kalian!"

Wapol langsung tahu itu adalah hal yang salah untuk diucapkan, karena ekspresi pemuda itu yang tadinya datar berubah menjadi dingin.

"Kembali, katamu?"

Wapol merasakan hawa disekitarnya menjadi dingin.

"Sayang sekali. Kau harus mati kalau begitu. Kau tak boleh kembali lagi setelah kabur dari kerajaanmu dengan pengecut."

Pemuda itu terus berjalan mendekatinya dan Wapol terus mundur sampai akhirnya ia merasakan dinding di punggungnya. Ia terduduk dan pemuda itu berhenti tepat dihadapannya dan berjongkok.

"Kau ingin mati, atau pergi dan tak pernah kembali?"

Untuk saat ini, Wapol akan memilih pilihan kedua. Ia bisa mencari cara lain untuk kembali ke kerajaannya nantinya.

"Kau juga tak boleh mencari cara lain untuk kembali, karena percayalah, begitu kau menginjakkan kaki disana, aku akan tahu dan akan datang untuk menghukummu."

Pemuda itu kelihatannya bisa membaca pikirannya.

"Jadi, yang mana yang akan kau pilih?"

Wapol merasakan napasnya sesak, entah kenapa. Hawa disekitarnya semakin dingin, dan meskipun pemuda yang saat ini berjongkok dihadapannya tersenyum, Wapol bisa melihat mata pemuda itu tidak ikut tersenyum. Siapapun pemuda ini serius dengan ancamannya dan tidak main-main untuk membuktikannya. Wapol tak akan pernah menang darinya.

"A-aku menyerah! Aku tak akan pernah kembali lagi!"

"Bagus." Pemuda itu langsung berdiri. "Dan kirim kembali para dokter ke tempat asal mereka. Aku akan tahu jika kau tidak melakukannya."

"Kenapa aku juga harus melakukan itu?" Wapol berkata antara takut dan kesal.

Terdengar suara 'swissh' yang panjang, dan pemuda berambut hijau mengeluarkan katananya dari sarungnya dan mengelus ujung katana itu.

"Baiklah! Aku akan melakukannya!"

OoO

Tujuh menit kemudian mereka kembali dengan meninggalkan kapal yang berasap dibelakang mereka.

"Sudah selesai?"

"Kami sudah membereskannya, Nami-swan~~"

"Apa kalian yakin Wapol tak akan kembali ke kerajaan drum lagi?"

"Tidak. Luffy sudah memastikan itu. Dan ia juga mengirim para dokter itu kembali ke kerajaan drum."

"Bagaimana caranya?" Nami bertanya dengan penasaran.

Zoro dan Sanji menoleh serentak pada Luffy. Luffy yang merasa ditatap hanya tersenyum, tapi bukan senyum lebarnya seperti biasa, ia tersenyum malu-malu.

"Luffy?"

Luffy menggosok kepalanya. "Aku hanya sedikit mengancamnya dengan haki, jika kau paham maksudku."

Nami mengangkat alisnya. "Bukankah kau bilang kau tak ingin menggunakan haki untuk sementara ini karena kau harus meningkatkan tenagamu?"

"Aku tidak menggunakannya untuk bertarung, Nami. Aku hanya menggunakannya untuk mengancam Wapol."

"Kau bisa menggunakan haki untuk mengancam seseorang?"

"Yah, ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi." Jawab Luffy. "Tergantung bagaimana cara kita menggunakannya, haoshoku haki bahkan bisa digunakan untuk menghilangkan ingatan seseorang."

"Be-benarkah?" Usopp terdengar kagum.

"Kalian tahu tentang cerita orang-orang yang kehilangan ingatan mereka saat mereka mengalami sesuatu yang membuat mereka sangat trauma bukan?"

Sanji, Nami, dan Usopp berusaha mengatur ekspresi mereka tetap serius. Mendengar Luffy menjelaskan sesuatu adalah pengalaman yang baru bagi mereka, karena biasanya merekalah yang melakukan itu, dan bukannya Luffy.

"Nah, aku berusaha menggunakan itu. Tapi masih dalam tahap percobaan sih."

"Ku sudah pernah mencobanya pada seseorang?"

Luffy mengangguk. "Tapi tidak terlalu sukses, benar kan Zoro?"

"Tidak terlalu sukses? Maksudmu?" Sanji membayangkan bahwa Luffy gagal dalam percobaannya.

"Hmph. Kau hanya perlu mengendalikannya saja." Zoro berkata dengan mata terpejam.

"Tapi menurutku perbedaannya terlalu jauh, Zoro." Luffy menggembungkan pipinya dan duduk disamping Zoro.

"Bisakah kalian berbagi dengan kami?" Nami berkata dengan kesal. "Aku tidak paham dengan apa yang kalian maksud 'tidak sukses'."

Zoro membuka matanya dan menatap yang lain dengan ekspresi datar. "Luffy berniat menghapus ingatan seorang bandit di Gray Terminal selama satu minggu kebelakang, tapi ia malah kehilangan ingatannya selama tujuh tahun."

Hening sejenak sebelum teriakan "APA?" bergema.

OoO

Seekor rusa kutub kecil duduk didepan jendela, mengamati hujan salju yang sudah beberapa hari ini turun.

"Dokterin, mereka akan datang menjemputku."

"Hm, begitu? Apa kau akan pergi?"

"Ya!"

Dokter Kureha tak berkata apa-apa, tapi ia menatap rusa kutub itu dengan bangga.

"Aku tak akan mencegahmu."

Paginya seekor burung datang dan menjatuhkan sebuah amplop dihadapan Chopper yang sedang menyekop salju di gerbang istana.

"Sedang dalam perjalan. Wapol berhasil dikalahkan. Mengirim para dokter kesana. Bersiaplah."

Setelah hampir tiga tahun, akhirnya Chopper mendapatkan kabar dari teman-temannya. Ia berlari kedalam kastil, memanggil Dokterin untuk memperlihatkan surat itu.

"Dokterin! Wapol tak akan pernah kembali lagi!"

OoO

Dalton tak percaya ini. Semuanya berawal dari sebuah kapal tanpa bendera yang meminta izin untuk berlabuh.

"Diam! Kalian pasti bajak laut! Kami tak akan mengizinkan kalian berlabuh!"

Salah seorang penduduk menembakkan senjatanya sebelum Dalton sempat mencegahnya.

"Guard point!"

Tiba-tiba saja seekor makhluk yang terlihat seperti bola bulu melompat dan tembakan itu mengenai makhluk itu. Teriakan 'Chopper!' terdengar dari arah kapal.

"Haah…kenapa kalian selalu bertindak tergesa-gesa seperti itu?"

"Do-dokter Kureha? Kenapa anda turun? Apa ada yang sakit?" Dalton bertanya saat melihat Dokter Kureha, satu-satunya dokter disekitar tempat ini turun dari kereta saljunya.

"Aku mengantarkan bocah kecilku."

"Hah?"

Dalton baru paham saat melihat orang-orang di kapal itu memeluk makhluk bulu yang tadi melompat menghalangi tembakan salah satu penduduk. Makhluk bulu itu berubah menjadi rusa kutub kecil dengan hidung biru dan balas memeluk seorang pemuda bertopi jerami sambil menangis. Pemuda itu menepuk kepala rusa kutub itu dan mengatakan sesuatu yang tak bisa Dalton dengar. Apapun yang dikatakan pemuda itu membuat rusa kutub itu menangis semakin keras.

DUAR!

Terdengar tembakan meriam dari arah kastil. Dalton tersentak. Apa Wapol sudah menguasai kastil?

Tapi saat ia berbalik, ia melihat salju-salju yang berjatuhan berubah warna menjadi merah muda. Pemandangan itu sangat indah dan Dalton melihat para penduduk yang ternganga menatap langit.

"Dokterin! Aku pergi! Terima kasih untuk semuanya!"

Rusa kutub kecil itu sekarang duduk di bahu seorang pemuda berambut hijau dan melambaikan tangannya. Tunggu dulu. Hidung biru?

Dalton mengenali rusa kutub kecil itu.

"Pergilah!" Dalton menatap mata Dokter Kureha yang berkaca-kaca. ". . . anak bodoh." Dalton tak akan mendengar hal itu jika ia tak berdiri disamping Dokter Kureha.

Kapal itu memutar arah. Kelihatannya mereka datang hanya untuk menjemput rusa kutub itu.

"Ossan! Kau bisa tenang! Wapol tak akan pernah kembali!" Pemuda bertopi jerami itu berteriak sebelum kapal mereka menjauh dari pelabuhan.

"Apa?"

Dalton yakin bukan hanya dirinya yang terperangah.

"Kalian dengar bocah itu. Ini bukan waktunya untuk hidup dalam ketakutan lagi."

Ada banyak pertanyaan yang ingin Dalton tanyakan, tapi perkataan Dokter Kureha meyakinkannya.

"Siapa mereka?"

Dokter Kureha tersenyum. "Hanya segerombolan anak-anak keras kepala."

OoO

"Chopper! Kami merindukanmu!"

"Kalian merindukanku sama sekali tidak membuatku senang, dasar bodoh!" Chopper berkata sambil menari dengan senyum lebar.

"Chopper tak berubah."

Vivi mengamati orang-orang di kapal itu yang mengerumuni makhluk yang baru saja mereka jemput. Makhluk itu terlihat seperti rusa kutub, tapi ia bisa bicara. Pengguna buah setan? Apapun jenis makhluk itu, kelihatannya semua orang di kapal tak masalah dengan hal itu. Mereka menatap rusa kutub itu dengan sayang, seakan rusa itu adalah adik kecil mereka.

"Dia Tony Tony Chopper, dokter kami." Nami duduk disampingnya dan melanjutkan membaca bukunya yang sempat tertunda. "Dia manis bukan? Dia adalah yang termuda diantara kami semua."

"Dia adalah dokter?" Vivi bertanya tak percaya.

"Yep. Dan salah satu yang terbaik di dunia, menurut pendapatku." Nami membalik halaman bukunya. "Ia juga bisa bahasa hewan."

Vivi tak ingin percaya, tapi ia harus menelan ketidakpercayaannya saat beberapa jam setelah itu ia melihat rusa kutub itu bercakap-cakap dengan akrab bersama Carue.

Gerombolan ini memang aneh, tapi Vivi bisa merasakan kalau mereka semua saling menyayangi dan selalu saling menjaga.

Dan mereka menganggap Vivi sebagai salah satu dari mereka.

OoO

Mereka berhasil mendarat di kota pelabuhan Alabasta tanpa menarik perhatian. Vivi berusaha mencari kabar tentang Kohza, sahabat masa kecilnya yang menurut kabar sekarang adalah pimpinan para pemberontak.

"Kalian paham? Jangan sampai menarik perhatian." Vivi memperingatkan mereka sesaat sebelum turun dari kapal.

"Oke!"

Tak habis-habis heran Vivi dengan teman-teman barunya ini. Tidak sekalipun mereka bertanya tentang Baroque Works selama perjalanan mereka. Dan begitu Vivi menyebutkan Crocodile sebagai pemimpin mereka, tak seorangpun diatas kapal itu yang terlihat terkejut.

"Aku hanya perlu menghajarnya bukan?"

Sesimpel itu. Vivi yakin mereka tidak paham tentang siapa itu Shichibukai dan sekuat apa para Shichibukai itu jika mereka menanggapi berita ini dengan begitu santai. Setelah berlayar bersama mereka, Vivi bisa melihat kalau mereka adalah orang-orang baik, dan mereka terlibat dalam misi bunuh diri karena ingin menolongnya.

"Maafkan aku karena sudah melibatkan kalian sejauh ini." Vivi menunduk. "Padahal kalian hanya berkata akan mengantarkanku pulang, tapi kalian malah harus terlibat dengan masalah negaraku."

"Haah.." Zoro hanya menggelengkan kepalanya.

"Vivi, kami sudah bilang kalau kami temanmu bukan? Dan kami bukanlah tipe orang yang melakukan sesuatu separo-separo. Jika kami berkata akan mengantarkanmu pulang, maka artinya kami akan mengantarkanmu sampai ke istana dengan aman." Nami menjawab sambil memukul dahi Vivi.

"Jadi, kemana kita harus mencari para pemberontak itu?"

"Yuba." Vivi menatap ke arah gurun pasir. "Kita harus melewati gurun pasir itu untuk sampai kesana."

"Ooh.."

"Baiklah kalau begitu. Kita akan membeli persediaan makanan dan minuman sebelum berangkat." Putus Nami. "Sanji, Zoro, Usopp, dan Luffy akan pergi berbelanja."

"Bagaimana denganmu, Nami?" Tanya Luffy.

"Aku, Vivi, dan Chopper akan membeli pakaian. Kita butuh pakaian yang berbeda untuk melewati gurun pasir itu."

"Yosh! Kita berkumpul lagi di tempat ini dalam tiga jam!"

"Aye!"

OoO

"Oi Luffy, kau mau kemana?"

Luffy menghentikan langkahnya. "Aku akan pergi ke suatu tempat."

"Kau tidak dengar Nami-san? Kita harus berbelanja!"

Luffy menggelengkan dengan keras kepala. "Aku harus pergi ke tempat ini. Disana ada rumah yang membakar tepung dan membuat hujan. Vivi berkata itu hal yang buruk bukan?"

Yang lain saling tatap sebelum akhirnya mengambil keputusan.

"Aku, Marimo, dan Usopp akan berbelanja. Kau dan Chopper pergi kesana."

"Terima kasih Sanji!" Luffy menggendong Chopper dan segera berlari.

OoO

"Ne Luffy, kita sudah tahu para pemberontak sudah meninggalkan Yuba dan pindah ke Katronea. Kenapa kita masih singgah ke tempat itu?" Chopper bertanya dalam perjalanan kembali ke kota setelah sebelumnya mereka memusnahkan bubuk hujan yang terletak di halaman sebuah rumah.

"Karena alasan yang sama kami singgah di Little Garden sebelumnya, Chopper. Ada seseorang yang harus kita temui disana."

"Ah, maksudmu Toto-san."

"Ya."

"Kasihan ojisan itu. Ia terus-terusan menggali di kota yang sudah mati itu sendirian." Chopper terisak kecil.

"Karena itu kita harus kesana dan memberi tahu ossan itu, kalau ia tidak sendirian!" Luffy menggendong Chopper dan meletakkannya di bahunya. "Apa kau bisa mencium bau teman-teman kita, Chopper?"

"Un!"

OoO

Luffy tak bisa menahan diri untuk tidak bertarung dengan para kungfu dugong. Teman-temannya sudah menyerah untuk menghentikannya dan hanya mengamati Luffy yang dengan seriusnya melatih para dugong itu. Vivi sudah mengirim Carue dengan surat untuk ayahnya, dan mereka sudah siap untuk berangkat ke Yuba.

Perjalanan ke Yuba berlangsung sama. Yang berbeda hanyalah tak ada Ace yang menemani perjalanan mereka. Toto masih laki-laki tua yang senang menggali, dan Luffy kembali membantunya menggali malam itu.

Vivi menangis saat mereka meninggalkan Yuba.

"Aku harus menghentikan perang ini! Aku tak ingin ada lagi yang tewas dan terluka!" Ia terus berkata sambil menangis terisak. "Aku akan menghentikannya, walaupun harus mengorbankan nyawaku!"

Kali ini Luffy tak lagi memukul Vivi. Ia hanya berhenti berjalan dan menunggu Vivi berhenti menangis.

"Semua orang pasti mati, Vivi." Luffy berkata saat Vivi sudah tenang. "Dan kau boleh saja mengorbankan nyawamu. Tapi kau harus ingat, kau tak pernah sendirian. Kau masih punya ayahmu, ossan aneh itu, serta Carue. Dan kami juga bersamamu. Aku sudah bilang kalau kami adalah temanmu. Jika kau mempertaruhkan nyawamu, maka kami juga akan melakukannya."

Vivi tak mengatakan apa-apa, tapi ia menatap Luffy tak percaya. Ia mengira ia akan melihat kebohongan disana, tapi ia melihat ketulusan di mata Luffy. Dan saat Vivi menatap sekelilingnya, ia juga melihat ketulusan yang sama di mata teman-temannya.

Luffy memastikan Vivi sudah berada di atas unta dan sibuk mengobrol dengan Nami sebelum berkata dengan pelan.

"Kita selesaikan semuanya di Rainbase."

Ia tak perlu jawaban. Ekspresi teman-temannya sudah cukup sebagai jawaban.

OoO

Robin sedang berdiri di depan jendela, menatap ke arah kota saat ia melihat segerombolan orang yang dikenalnya (atau mungkin akan dikenalnya).

"Mereka sudah datang."

Para agen dan partnernya langsung berdiri, sementara Crocodile masih duduk dengan santai. Robin tersenyum. Crocodile terlalu angkuh dan percaya diri. Robin yakin Luffy bisa mengalahkan Crocodile tanpa kesulitan kali ini, jika ia menghabiskan waktu mereka sejak kembali untuk berlatih.

"Kau tidak ikut?" Robin tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.

"Para agenku cukup untuk membereskan hama kecil seperti mereka. Kita hanya perlu mencegah Vivi bertemu dengan Kohza."

Tentu saja. Jika sang putri bertemu dengan pimpinan pemberontak, tak diragukan lagi rencana Crocodile akan terbongkar. Kohza bukanlah orang yang bodoh. Jika Vivi memberitahunya bahwa Crocodile berada dibalik semua ini, tanpa diragukan lagi Kohza akan berbalik melawan Crocodile. Ia pasti akan lebih percaya pada kata-kata sahabat kecilnya daripada kata-kata seorang Shichibukai.

Robin kembali menoleh ke jendela. Ia mengerutkan keningnya saat ia tidak melihat sang putri dan Nami. Kemana mereka pergi?


(Little Chomper tahu Wapol kabur dari Kerajaan Drum saat Kurohige menyerang kerajaannya, tapi seperti yang Little Chomper katakan sebelumnya, ini AU dan Wapol pada dasarnya memang pengecut, jadi saat bajak laut lain yang bukan kurohige menyerang kerajaannya, ia kabur. Dalam timeline ini, Kurohige masih belum berkhianat dan Thatch masih hidup.)

Dengan adanya chapter terbaru manga One Piece, Little Chomper menyatakan admiral Fujitora adalah anggota angkatan laut favoritnya~

Thanks as always to Bayangan semu, Ardie agregor, Blank, sgiariza, aku, tri, dan Anonim18 untuk reviewnya~

PS: Untuk chapter berikutnya dari Pirates, Nakama, and Family kelihatannya akan dibagi menjadi beberapa part karena tanpa Little Chomper sadari, chapternya kepanjangan :D

PS2: Little Chomper sudah mengedit bagian yang salah, sesuai dengan saran Ko-chan. Maaf atas ketidaknyamanannya :)