A/N: Chapter 4 sudah diupdate! Maaf kalau telat! Gomen, gomen! *bungkuk-bungkuk*

True Feeling © Blue NaNadia

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Genre: Romance, a little bit humor

Warning(!): OOC, Typo(s), Aneh, GaJe, dan warning-warning lainnya

Summary: Apa jawaban Naruto bisa memuaskan hati sang kepala keluarga Hyuuga? Apa Hiashi akan marah ketika tahu sang anak berhubungan dengan Naruto?

.

.

~'*'~

~ True Feeling ~

~'*'~

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

Happy Reading!

.

.

Enaknya aku jawab apa ya? Teman? Pacar? Sahabat? Calon suami? Eh? Lupakan yang terakhir itu. Lebih baik aku menjawab seperti ini saja, "T-Tadinya kami h-hanya t-teman, tapi s-sekarang, kami s-sudah resmi b-berpacaran." ucapku takut-takut.

"Oh, begitu rupanya. Jadi kau benar-benar menyukai anakku?"

"Tentu saja, saya benar-benar menyukai Hinata. Saya bukan sekedar menyukai Hinata, tapi mencintainya. Saya bersungguh-sungguh." entah mendapat kekuatan dari mana, aku menjadi lancar mengucapkan kalimat tadi. Mungkin karena kekuatan super bernama cinta...

"Kalau begitu, bisakah kau menunjukkan seberapa besar cintamu pada anakku?" apa? Harus ditunjukkan juga? B-Bagaimana caranya?

"A-Ah, apa harus ditunjukkan j-juga paman?" tanyaku tergagap-gagap lagi.

"Tentu!"

"Caranya?"

"Pikir saja sendiri!" pelit sekali! Setidaknya beritahulah contoh-contohnya paman Hiashi!

"Begini saja, kalau paman ada diposisiku, apa yang akan paman lakukan?" hehehe, aku pintar sekali! Kalau begini, aku bisa mengulur-ulur waktu dan membuat paman Hiashi yang berpikir. Ternyata aku tak sebodoh kata orang-orang.

"Tentu saja aku akan..." paman Hiashi mulai bingung. Dalam hati aku tertawa keras ketika melihat wajah bingung Hyuuga Hiashi. Sekali-kali wajah sangarnya itu harus diubah sedikit, biar tampak lucu.

"Aku akan..."

"Aku akan..."

"Aku akan... arghhh aku tidak tahu!" sepertinya paman Hiashi sudah menyerah. Nah, bagaimana kalau Naruto yang tampan ini menunjukkan kebolehannya sekarang?

Sedikit narsis tidak apa-apa kan?

"Kau jawab sendiri saja! Aku tidak tahu caranya!" ucap paman Hiashi dengan wajah kesalnya.

"Saya juga tidak tahu cara menunjukkan seberapa besar cinta saya pada Hinata, tapi, demi cinta Hinata, saya akan lakukan apapun untuknya. Saya akan lakukan apapun untuk membuat paman Hiashi merestui hubungan kami!" kataku dengan penuh semangat membara. Mungkin kata-kataku terlalu berlebihan, tapi aku tak peduli.

Kulihat wajah paman Hiashi. Ada sebuah senyuman dibibirnya. Eh? Dia tersenyum?

"Bagus. Kau lulus. Aku merestui hubunganmu dengan Hinata." apa aku salah dengar? Apa ada gangguan di telingaku?

YEAY!

"B-benarkah itu paman?" tanyaku. Paman Hiashi hanya mengangguk. Oh Kami-sama, I LOVE YOU FULL! I LOVE YOU SO MUCH!

"Terimakasih paman! Aku benar-benar berterimakasih pada paman!"

"Ya, ya. Mulai sekarang kau boleh mampir kerumah ini kapan saja. Dan ajaklah Minato dan Kushina kemari. Meski hanya sekedar mengobrol saja."

"Lho? Paman kenal Tou-san dan Kaa-san?" tanyaku tak percaya.

"Tentu, mereka kan teman ku dulu."

"Oh begitu. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu paman. Saya ingin segera memberitahu Tou-san dan Kaa-san kabar gembira ini."

"Lain kali datanglah lagi."

"Ya, saya permisi dulu paman." Aku segera membungkuk dan keluar dari Mansion Hyuuga yang megah. Aku pun menaikki sepeda motorku dan pulang. Dijalan aku tak henti-hentinya berteriak senang, sepeda motorku pun ku jalankan berbelok-belok, untung jalanan sedang sepi –sangat sepi-. Biarlah aku dikira gila atau sedang mabuk, karena itu memang benar. Aku gila dan mabuk karena cinta.

.

.

.

Sesampainya di rumah, aku langsung saja memeluk Tou-san dan Kaa-san. Tak lupa, Karin yang sudah pulang dari acara jalan-jalan dengan kekasihnya juga ku peluk.

"Ada apa Naruto? Kenapa kau kelihatan senang sekali?" tanya Kaa-san.

"Kaa-san, pernyataan cintaku ke Hinata di terima!" kataku setengah berteriak. Wajahku berbinar-binar. Saat ini juga aku ingin berteriak. Memberitahu semua orang kalau aku sudah memiliki seorang kekasih.

"Wah, wah, wah... Berarti kita semua dapat PJ!" kata Tou-san senang.

"Bukan itu saja, tadi aku juga di restui oleh paman Hiashi! Dan aku bisa ke rumahnya kapan saja! Bahkan aku di suruh untuk mengajak Tou-san dan Kaa-san ikut juga!"

"Naruto! Kamu hebat! Kamu benar-benar pemberani!" kata Kaa-san sambil mengguncang-ngguncang badanku.

"Kau harus cepat besar! Dengan begitu, kami bisa menikahkan kau dengan Hinata!" kata Tou-san. Ah~ Tou-san, hal itu masih terlalu lama buat kami. Kami kan masih terlalu muda!

"Iya, kami ingin segera punya cucu, Naruto! Jadi cepatlah menikah! Lalu segera punya anak!" Kaa-san benar-benar semangat kalau sedang membicarakan tentang cucu. "Maunya sih begitu..." kataku pelan, bahkan bisa di katakan gumaman. Mengutarakan pendapat boleh saja kan?

"Kalau begitu, besok kau menikah dengan Hinata!" kata Tou-san tiba-tiba. Mataku terbelalak kaget. Karin malah tertawa terbahak-bahak dan Kaa-san hanya tersenyum puas. Bangga pada keputusan suami tercintanya.

"Eh? Tidak bisa! Kami ini masih SMA! Belum boleh menikah, Tou-san!" cegahku dengan wajah sangat terkejut.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Karin.

"Ya tidak boleh! Kemarin aku lihat di televisi, pelajar yang sudah menikah itu tidak boleh ikut ujian! Kalau tidak ikut ujian kan tidak bisa lulus!" ujarku dengan penuh penekanan di tiap katanya. Agar terdengar meyakinkan.

"Begitu ya? Ya sudahlah kalau begitu. Kita undur saja. Setelah kau lulus SMA, kami akan menikahkanmu dengan Hinata!"

Bukannya aku menolak dinikahkan dengan Hinata, tapi aku takut Hinata akan shock berat ketika tahu kalau Tou-san dan Kaa-san akan menikahkanku dengannya. Lagipula, kami kan baru berpacaran, hehehe..

Yah~ Yang bisa aku lakukan sekarang hanya menunggu. Dan karena besok libur, aku pun menghabiskan waktu yang tersisa dengan telepon-teleponan dengan Hinata.

Hari ini benar-benar hari bahagia ku! Kami-sama, terimakasih banyak!

.

.

.

Naruto POV

Seperti kata Tou-san, setelah aku dan Hinata lulus SMA, Tou-san langsung saja merencanakan pernikahan kami dengan paman Hiashi. Paman Hiashi dan keluarga Hinata setuju, begitu juga dengan keluargaku. Semuanya setuju. Tak terkecuali aku dan Hinata.

Dan disinilah aku, di sebuah tempat pernikahan. Acara sudah berlangsung sejak tadi. Sekarang acaranya sudah berakhir. Aku dan Hinata sedang asyik mengobrol dengan teman-teman. Hal yang paling aku takutkan telah terjadi. Semua teman-temanku menggodaku dan Hinata. Ah~ Betapa malunya aku sekarang. Tapi perasaan bahagiaku masih jauh lebih banyak dibandingkan rasa maluku.

Ugh, lain kali aku akan belajar menutup mulutku, aku akan belajar tidak mengutarakan pendapatku pada Tou-san dan Kaa-san, atau akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Seperti pernikahan mendadak dan terlalu cepat ini.

Tapi, aku tetap senang. Aku bersyukur bisa memiliki Tou-san yang MRKB itu. Berkat Tou-san, aku bisa menikah dengan Hinata. Terimakasih, Tou-san!

Naruto POV End

.

.

.

Ten Years Later...

Hari itu adalah hari Minggu. Naruto dan Hinata sedang tidak ada pekerjaan. Sebenarnya Hinata punya, tapi ia menyerahkan pekerjaan-pekerjaannya itu pada asistennya, Sakura, yang merupakan sahabatnya sedari sekolah dasar.

Sejak lulus kuliah, Hinata memutuskan untuk membuka kembali butik milik ibunya yang sudah lama tutup karena pemiliknya meninggal.

Karena hari itu adalah hari libur, Naruto dan Hinata menyempatkan diri untuk jalan-jalan bersama dengan anaknya, Hikari. Gadis berumur 6 tahun itu kelihatan sangat bersemangat. Hikari memiliki sifat yang mirip dengan Naruto. Rambutnya pun pirang layaknya ayahnya itu. Tapi, matanya adalah mata lavender pucat seperti Hinata. Rambutnya pun dimodel seperti sang ibu, rambut panjang dengan poni rata.

Mereka bertiga berjalan menuju taman Konoha. Hikari berjalan diantara Naruto dan Hinata, dengan tangan kanan digenggam Naruto dan tangan kiri digenggam Hinata.

"Tou-chan, Kaa-chan, ayo duduk di bangku itu!" tunjuk Hikari pada bangku taman dibawah pohon sakura yang sedang berbunga.

"Ayo!" balas Naruto dan Hinata bersamaan. Mereka pun segera duduk dibangku yang dimaksud Hikari.

"Kaa-chan, bunga sakura itu indah ya?" kata Hikari. Mata lavendernya menatap kelopak-kelopak bunga sakura yang berterbangan. Hinata hanya tersenyum mendengar perkataan sang anak.

"Tapi, menurutku bunga lavender dan bunga matahari jauh lebih indah daripada sakura!" ucap Hikari dengan penuh semangat.

"Menurut Tou-chan, bunga lavender dan bunga matahari memang sangatlah indah!" ujar Naruto tak kalah semangat. Dia lalu menoleh kearah Hinata. Yang ditatap hanya menunduk menyembunyikan rona merah dipipinya.

"Kalau menurut Kaa-chan, bunga mana yang paling indah?"

"Umm, bunga matahari." balas Hinata dengan bibir yang membentuk senyuman. Dia lalu mengelus-elus rambut Hikari.

"Kenapa bunga matahari?" tanya Hikari yang kelihatan sangat antusias.

"Karena bunga matahari itu mengingatkan Kaa-chan pada Tou-chan. Karena mereka sama-sama kuning!" jawab Hinata sambil tertawa pelan.

"Kalau Tou-chan, bunga apa yang paling indah?" kini giliran Naruto yang ditanya.

"Ya, tentu saja lavender! Karena lavender mengingatkan Tou-chan pada Kaa-chan. Mereka kan sama-sama ungu!"

"Apanya yang ungu?" gumam Hinata sambil memperhatikan seluruh tubuhnya.

"Naruto-kun, apa yang ungu di tubuhku ini? Bajuku warnanya biru, rambutku warnanya indigo, kulitku putih, jadi apa yang ungu?" tanya Hinata bingung.

"Matamu itu kan warnanya ungu!"

"Ini bukan ungu, tapi ungu pucat!"

"Tapi kan tetap ungu!"

"Tapi itu beda!"

"Sama!"

"Beda!"

Dan dimulailah pertengkaran Naruto dan Hinata yang berselisih pendapat tentang warna mata Hinata.

"Tou-chan kok jadi bertengkar dengan Kaa-chan sih?" tanya Hikari yang merasa dilupakan oleh orang tuanya.

"Eh? Maaf Hikari-chan!" kata Naruto dan Hinata bersamaan. Mereka pun cepat-cepat memeluk Hikari. Takut kalau gadis kecil itu akan menangis. Tapi bukannya menangis, Hikari justru menguap lebar.

"Hikari-chan mengantuk ya?" tanya Hinata. Hikari hanya mengangguk. Hinata pun menyuruh Hikari untuk tidur di pangkuan Hinata. Hikari menurut saja. Dan dalam waktu singkat, Hikari sudah terlelap di pangkuan Hinata.

"Lucunya Hikari kalau sedang tidur..." ucap Naruto sambil mengelus rambut Hikari dengan lembut.

"Lucu seperti Kaa-chan-nya kalau sedang kesal." Naruto mencubit pipi Hinata. Sebuah cengiran khas super ceria ditunjukkan Naruto pada Hinata, seolah-olah meminta maaf karena ia mencubit pipi Hinata.

"Naruto-kun!"

"Iya, Hinata-chan~" Naruto terkekeh saat Hinata memukul pelan lengannya.

"Oh, iya Naruto-kun, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Mau bertanya apa Hinata-chan~"

"Aku ingin tahu siapa Shion itu?" tatapan Hinata berubah tajam. Membuat Naruto bergidik ngeri.

"S-Shion? Hinata-chan kenal dari siapa?" Naruto bertanya dengan takut-takut.

"Dari Sakura-chan."

"Hinata-chan benar-benar ingin tahu?"

"Ya."

"Tapi jangan marah ya nanti!"

"Iya!"

"Dia itu... cinta pertamaku."

Hinata tak membalas ucapan Naruto, sepertinya menunggu Naruto mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Dia itu mirip denganmu, tapi yang mirip hanya luarnya saja, tapi sifat, kalian berbeda."

"Lalu apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Hinata.

"Dulunya kami berpacaran, tapi kami putus, karena ternyata dia hanya memanfaatkanku saja."

"Awalnya aku kira dia adalah gadis yang baik, tapi ternyata sebaliknya. Dia diam-diam menjalin hubungan dengan orang lain dibelakangku. Dan dia sedikit demi sedikit memerasku. Maksudku, dia menghabiskan uang yang kupunya." Naruto meneruskan kalimatnya.

"Jadi begitu..." Hinata jadi lega. Ia tersenyum karena tahu bahwa Naruto sudah tak berhubungan lagi dengan Shion.

"Kau cemburu ya Hinata-chan!" goda Naruto. Sebuah senyum jahil dibibir Naruto membuat Hinata merona.

"T-Tidak!" jawab Hinata sambil memalingkan wajahnya dari Naruto.

"Bilang saja iya!" Naruto masih saja menggoda Hinata.

"Aku bilang tidak ya tidak, Naruto-kun!"

"Hahaha.. Kau ini Hinata-chan! Lucu sekali kalau sedang kesal."

Biarkanlah sepasang suami istri yang sedang saling menggoda itu berduaan. Eh, maksudnya bertiga, karena ada Hikari yang sedang tidur. Dan sepertinya Naruto berhasil menggoda Hinata, buktinya Hinata sampai pingsan. Pingsan karena pipinya yang chubby itu dicium oleh Naruto.

.

.

.

OWARI

.

.

.

Balesan review buat yang gak log in:

scorpion vx: Maaf chapter 4-nya telat update. Wah, wah, wah, sepertinya Hiashi gak sekedar ngerjai Naruto, hehehe. Arigatou sudah mereview!

Manguni 1: Hinata jadi pemberani? Wah, author kok tidak sadar ya, hehehe. Terimakasih untuk review-nya!

Guest 1: Maaf kalau chara yang ada di fic ini berubah-ubah, maklum author bingung saat ngerjain fic ini, kekurangan ide. Nah, ini sudah lanjut. Arigatou telah mereview.

Manguni 2: Jawabannya Naruto adalah... liat aja sendiri#plak. Terimakasih telah mereview!

Guest 2: Chapter 4 sudah datang. Maaf kalau nunggunya lama. Arigatou review-nya!

Dan: Ini sudah dilanjut. Maaf kalau telat. Terima kasih sudah mereview!

A/N:

Halo minna~! Chapter 4 sudah update *meski telat banget*! Bagaimana? Bagus tidak? Memuaskan tidak? Jelek ya? Pasti iya. Maklum lah, aku kan Author baru, jadi masih dalam tahap belajar, lagipula saat ini NaNa sedang UKK, jadi dibatasi main internetnya. Hehehe...

Chapter 4 kurang panjang ya? Ending-nya ngegantung ya? Kalau iya, tolong maafkan aku reader-reader sekalian. Menurut reader-san, apa perlu aku buatkan sekuel?

Jawab lewat review ya?

Sekaligus berkomentar tentang chapter ini.

Dan beribu-ribu terima kasih aku persembahkan pada reader yang mau mereview fic-ku dari chapter 1-4. Aku juga berterima kasih pada silent reader-silent reader yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic-ku^^

Sekali lagi terima kasih*ojigi*

.

.

.

Jadi adakah yang berminat untuk mereview chapter terakhir?