Digimon Saver (c) Hongo Akiyoshi

Warning: Boy x Boy. PWP. Drama. Headcanon.


It Started With a Kiss

.
Beta by Ratu Obeng (id: 1658345)
Plot & Written by Seyravie

.

.

.


Epilogue.

Touma meninggalkan bunga tidur saat merasakan seseorang mengguncang pundaknya ringan. Matanya mengerjap beberapa kali, membiasakan pendar cahaya semakin menusuk sebelum melihat sosok yang baru saja membangunkannya.

"Tuan, anda tidak apa-apa? Teman anda juga?" pria itu bertanya formal untuk menyembunyikan kekhawatirannya.

Sang pemilik manik biru cerah mengernyit lalu menoleh untuk melihat Masaru masih tertidur—bersandar di bahunya seperti orang mati. Perhatiannya kembali dipusatkan pada sosok asing yang diketahui sebagai salah satu staf DATS jika dilihat dari seragam yang sedang dikenakannya, "Yah. Kurasa. Bagaimana anda menemukan kami?"

"Saya kebetulan hendak mengambil sesuatu di ruangan ini. Anda sekalian beruntung. Tidak banyak orang datang kemari, sehingga kami ikut bertanggung jawab karena tidak memberikan peringatan sebelumya kalau kunci ruangan ini rusak. Jika tidak memiliki kode pintunya, anda tidak akan pernah bisa keluar." pria itu menjelaskan panjang lebar dengan penuh rasa bersalah.

"Ah…"

"Sekarang sudah pagi. Anda dari divisi apa, Tuan? Saya akan bantu menginformasikan langsung pada bagian anda."

"Tidak masalah. Kami baru saja hendak kembali bekerja. Hei, Masaru! Bangun!" Touma mengguncang tubuh partnernya kasar, berbeda dengan kelembutan yang sempat diperlihatkan di malam sebelumnya.

Rasanya masih sulit dipercaya dengan guncangan seperti itu Masaru masih saja tertidur pulas. Pemuda itu bahkan sempat bergumam, "Diamlah, Agumon… sepuluh menit lagi…"

Desahan berat keluar dari ujung mulut Touma. Walau sedang mengigau, tapi menyamakan Dirinya dengan digimon benar-benar hal yang keterlaluan. Dengan sengaja dia bangkit dan membiarkan Masaru yang sedari awal bersandar di bahunya terantuk dinginnya lantai.

Mengusap bagian kepalanya yang terbentur cukup keras, Masaru memekik, "Brengsek, Touma! Kau kasar sekali!"

Pemuda Austria itu menepuk beberapa bagian seragamnya acuh, "Sudah pagi, kita harus kembali."

Setelah berterima kasih kepada petugas sebelumnya, Touma melangkah pergi diikuti Masaru yang tampak sudah bangun sepenuhnya. Hingga kembali ke ruang kerja, tak satupun dari mereka mencoba membahas apa yang terjadi semalam seakan topik itu menjadi sensitif bagi keduanya.

Lagi, setiap mata yang ada segera menjadikan mereka sorotan utama ketika sepasang remaja itu berjalan berdampingan. Touma melangkah mundur cekatan saat Agumon berlari ke arah tuannya—melompat seraya menimpa dengan bobot tubuhnya yang berat.

Tangan Touma spontan meraih bahu Masaru agar pemuda itu tidak langsung kehilangan keseimbangan karena terjangan sang partner, terutama karena dia yakin bagian tubuh belakang Masaru pasti masih terasa sakit.

"Anikiiii~, kau baik-baik saja? Kalian berdua hilang bersamaan, kami khawatir." Agumon menyerukan nada cemas.

Masaru meregangkan leher belakangnya sembari tertawa, "Maaf, maaf. Aku terkunci seharian di gudang... maaf membuatmu khawatir."

Memainkan sikap seolah sentuhannya tidak menyiratkan apapun, Touma menepuk pundak Masaru sekali lagi, "Kembali ke tempatmu, kapten sudah mengawasi dari tadi."

Kemudian pemuda bersurai emas itu beranjak menuju kursinya dengan Gaomon kembali mendampinginya.

Tidak dengan Masaru, dia berbalik ke arah meja Satsuma, mengulurkan kedua tangannya sambil memberikan pria separuh baya itu tatapan super serius, "Kapten, ini tentang laporan kemarin. Jika anda tidak keberatan, saya ingin mengulanginya lagi karena semua itu—"

"—Touma yang mengerjakannya, kan?" potong Satsuma tepat sasaran.

Masaru mengerjap berulang kali. Sementara Touma tetap bungkam walau seuntai senyum tipis lolos dari ujung bibirnya.

Menempatkan tumpukan kertas ke arah tangan Masaru yang terulur, Satsuma menjawab pertanyaan non verbal anak buahnya tersebut, "Sangat jelas, walau dia berusaha meniru gaya tulisanmu. Aku akan tutup mata untuk kasus kemarin, tapi kali ini pastikan kalian mengerjakan hukuman baru itu bersama."

Kepala Masaru menunduk pasrah melihat tangannya sudah terisi setumpuk kertas tebal yang harus dikerjakan. Tanpa mencoba membantah, Masaru secepatnya berbalik menuju meja kerja yang berada tepat di sebelah Touma.

"Ngomong-ngomong, Touma." nada suara Satsuma sarat dengan kebingungan.

Touma menjawab panggilan tersebut dari posisinya, "Ya, Sir!"

Sambil membekam dagu, Satsuma menjabarkan rasa penasarannya, "Jika aku tidak salah ingat, gudang yang kau sebut harusnya masih memakai sistem kuncian lama. Bukankah mudah bagimu untuk langsung membukanya?"

Kalimat sang kapten cukup membuat Masaru berpaling cepat ke arah pemuda berambut pirang di sampingnya dengan tatapan shock.

"Saat itu gelap, Sir. Sangat berbahaya untuk bergerak sembarangan dalam kondisi ruangan yang terlalu banyak barang—walau saya tidak begitu memerhatikannya. Tapi mungkin, ya, saya bisa membukanya."

"T-T-Touma… k-kau…" Masaru menggeram dengan pita suara tercekat. Apa maksudnya dengan saat itu gelap? Keadaan ruangan ketika itu bahkan sangat terang seakan matahari berada di sana. Masaru mengaum secara mental. Brengsek, jangan bilang dia memang bertujuan untuk—

"Masaru!" teriakan Yoshino berhasil menyurai setumpuk prasangka Masaru. Ia mengerjap saat gadis itu menunjuk sebuah jam dinding di ruangan, "Hari ini hari senin. Kau tidak sekolah?"

Damn! Masaru merutuk pelan, bergegas ke arah loker untuk mengambil seragam serta keperluan sekolahnya. Ibunya akan memberinya hukuman berat jika dia berani bolos walau satu hari saja.

Sebelum menghilang dari ruangan dengan lambaian tangan kepada setiap yang ada di sana, pemuda itu bahkan masih sempat meraih digivice-nya. Langkahnya sempat terhenti saat Touma memanggil namanya,

"Kalau kau mau, supirku bisa mengantarmu." tawarnya.

Dengan sikap kekanakan, Masaru menjulurkan lidahnya—menyahut, "Lebih baik aku terlambat daripada terjebak denganmu lagi. Aku benar-benar benci padamu, Tonma. Kau yang terburuk!"

Melihat pintu yang sudah tertutup bersama kepergian Masaru, Yoshino menghembuskan napas panjang, "Seharian terkunci bersama dan hubungan kalian tetap tidak ada yang berubah. Aku turut prihatin, Touma."

Menyenderkan nyaman tubuhnya ke belakang dengan mengangkat secarik kertas untuk menutupi sebagian wajahnya, Touma mengistirahatkan sepasang pelupuknya lalu mengangkat bahunya ringan, "Memang begitulah Masaru."

Namun tentu saja, di balik kertas itu dia tersenyum diam-diam. Tidak bergeming pada tatapan mengasihani dari karyawan lain atas kejadian yang baru saja menimpanya.

Memang hal cukup rumit telah terjadi di antara mereka, tapi paling tidak keduanya telah menemukan sebuah pemahaman. Orang lain tidak perlu paham, cukup mereka saja. Walau tidak ada yang berubah dari luar, mereka berdua tahu apa yang sudah berubah di dalam. Biar waktu saja yang menjawabnya suatu saat nanti.

Saat ini, mereka cukup puas dengan apa adanya mereka.


END

.

.

.

A/N:
Tengkyu bagi semua yang udah berpartisipasi di acara DigiSavers Party 2008. Emang ini karya jadul yang di remake, tapi serunya belum ilang-ilang nih… suatu saat, semoga ada acara lain serupa biar fans2 Digimon lain tahu, ada series sehebat Savers selain pendahulu2nya ヽ(´∇`)ノ

(Ah btw, Tonma itu emang ejekan dari Masaru untuk Touma #intermezo)

Super thank's buat Ratu Galau, Nycken, Power, RanzCelestia, Nekoi dan Shirogane90 yang sempat memeriahkan acara ini. Special teruntuk Seyravie sebagai pemenang tunggal. Lalu maafkan untuk segala kekurangannya terutama dari segi tekhnik penulisan atau Typo2 yang terjadi, akan diperbaiki di fic mendatang. Sekali lagi, terima kasih pada reader yang sudah mau membaca #bow

R&R maybe? C: