TIGA

"Apa kau lihat Sai?" kepala Ino muncul di pintu yang sedikit terbuka.

Sakura memindahkan kursinya ke belakang untuk menatap Ino, pulpennya masih tergenggam di tangan. Tampaknya Sakura sedang ditengah-tengah belajar medical jutsu di kamar Sakura dan Ino yang disediakan Rumah Sakit Konoha. Karena keduanya menghabiskan waktu sangat banyak di rumah sakit, keduanya punya ruang istirahat untuk menginap kalau shift malam.

"Tidak, belum lihat dia seharian. Kenapa?"

"Kakashi baru saja memberikan misi untukku dan Sai seharusnya partnerku. Tapi dia bahkan tidak muncul tadi." Ino berdiri di samping pintu, tangannya terlipat di depan. "Apa kau tahu rumahnya?"

Sakura menggelengkan kepala. "Mungkin Naruto tahu."

"Naruto sedang ada misi dengan tim 10." Sejujurnya, sejak Naruto dan Hinata resmi pacaran, Naruto selalu ikut dalam misi tim Hinata. Agak lucu sebenarnya, melihat calon Hokage itu memohon pada Kakashi untuk diikutsertakan.

"Mungkin Sai ada di Kantor Pusat Anbu, Ino." Ino memikirkan kemungkinan Sakura benar. "eh, rasanya ini pertama kalinya kalian berdua punya misi yang sama. Misi apa itu?" Ino bisa melihat senyum Sakura.

"Jangan meledek, Jidat. Kakashi hanya ingin kami berdua membetulkan dinding Selatan Konoha."

"Tapi itu kesempatan bagus, kan? Kau selalu menanyakan keadaannya padaku saat dia masih di rumah sakit sehabis kejadian di Land of Silence itu. Jujurlah terhadap perasaanmu sendiri padanya."

"Itu hanya karena kau medic-nin yang bertugas saat itu. Apa aku tidak boleh khawatir terhadapnya? Dia temanku juga kan."

"Aku tidak yakin hanya teman." Sakura terkikik, Ia senang meledek Ino. Gadis berambut pirang itu akan bersikap seperti wanita pemalu kalau menyangkut soal Sai akhir-akhir ini. Sakura pikir mungkin rasa suka Ino pada ninja berkulit pucat itu sudah bukan rasa suka main-main, tapi di level yang berbeda, walau Ino sendiri selalu menyangkalnya.

"Haa, kenapa sih susah sekali bicara dengan anggota tim 7? Katakan saja padanya kalau kau bertemu dengannya untuk segera ke dinding selatan Konoha dan menemuiku, oke?" Ino melambai pamit pada teman akrabnya itu lalu pergi.

Ino sudah mencari Sai kemana-mana pagi ini, setelah Kakashi memberikan misi. Sai dan Ino sama-sama punya ketertarikan terhadap seni, jadi Kakashi menempatkan mereka berdua di bagian restorasi sarana dan prasarana Konoha setelah perang. Biasanya mereka berdua punya tugas yang berbeda, jadi Sakura memang benar, ini misi pertama mereka berdua.

Sudah beberapa minggu setelah kali terakhir mereka bertemu, sebenarnya. Ino sering melihat Sai di jalan, tapi sapaan mereka hanya saling bertemu pandang dan mengangguk satu sama lain. Kadang kala Ino berharap mereka adalah rekan setim, jadi mereka bisa menghabiskan waktu bersama dan mengenal satu sama lain lebih dalam.

Ino penasaran apa yang membuat mata hitam itu selalu tampak nyalang dan tanpa emosi, apa yang membuat senyumnya begitu kesepian. Ino benar-benar ingin tahu.


Satu jam setelah Ino sampai di dinding selatan, akhirnya Sai muncul juga. Pria itu melompat dari elang tinta-nya dan minta maaf atas keterlambatannya. Ino baru saja setelah menginspeksi reruntuhan dinding, membuat rencana apa yang harus mereka lakukan hari ini. Merencanakan sesuatu sudah jadi kebiasaannya, gara-gara bergaul terlalu lama dengan Shikamaru (yah, kau tidak bisa menang bermain shogi lawan si kepala nanas itu tanpa rencana, kan?)

"Baru datang dari misi lain?" Ino menyimpulkan dari pakaian Anbu Sai dan rambutnya yang berantakan. Sai mengangguk, menghilangkan elang tinta-nya. "kau tidak capek memangnya?"

"Aku baik-baik saja, Bijin-san." Ino mengerjapkan matanya menatap Sai. Lalu tiba-tiba ia tertawa. Sai menatapnya bingung.

"Bukan apa-apa kok." Ino melambaikan tangan sebelum Sai bertanya. Dia balik menggunakan nama panggilan itu lagi, gumam Ino geli. Sepertinya Sai sudah kembali jadi dirinya sendiri, berarti dia sudah berhasil bangun dari kejadian di Land of Silence. Tidak perlu lagi berhati-hati dalam bersikap disekitarnya sekarang.

Sai memandangi dinding yang runtuh, berpikir.

"Cukup banyak yang harus dikerjakan." Ino menyerahkan notesnya pada Sai. Ino sudah menulis perincian tugas yang harus mereka kerjakan, dimana saja runtuhan dinding yang harus mereka tambal. Sai sedikit kaget dengan fakta bahwa Ino tahu bagaimana membangun dinding, padahal sejauh yang Ia tahu Ino adalah seorang botanist. Mungkin Yamanaka Ino lebih dari yang terlihat dari luar.

"Grup terakhir yang membetulkan dinding ini meninggalkan sebagian semen dan batu bata, tapi aku tidak yakin itu cukup untuk semua dinding yang harus ditambal. Kita masih butuh bahan. Kurasa aku bisa mengandalkan elang tinta mu untuk transportasi." Ino menjelaskan. "Aku akan mulai dari ujung timur, bagaimana kalau kau membetulkan ujung satunya?"

Sai mengangguk, lalu menggambar singa ciptaannya untuk membantu Ino. "Kau tahu, aku mulai terbiasa dengan mahkluk tinta ciptaanmu. Mungkin aku akan mulai menginginkan mereka sebagai peliharaan, suatu hari nanti." Ino mengatakan dengan bercanda, berpikir kembali beberapa hari yang lalu singa ciptaannya mengantarkan Ino pulang dengan efisien.

"Kau menginginkan mereka sebagai peliharaan?" Sai menaikkan satu alisnya. "tapi mereka akan menghilang saat chakra ku lemah."

"Uh, maksudku… sudahlah, lupakan. Ayo mulai bekerja." Ino mengajak singa tinta itu untuk membantunya mengangkut sekantung batu bata. Ino mengamati singa itu sambil berjalan menuju ujung timur, ekspresinya datar seperti pembuatnya.

"Dia tidak bisa menggambarmu dengan lebih manis ya? Bisakah kau bicara? Apa kau bisa mengerti kata-kataku?" singa tinta itu menatap Ino dan mengangguk. "wow, aku benar-benar mulai terbiasa dengan ini." Ino menepuk pelan kepala singa tinta itu.


Waktu berlalu tanpa disadari Ino saat mengerjakan reruntuhan tembok. Singa tinta Sai benar-benar membantunya dengan efektif; singa tinta itu membiarkan Ino menaikinya saat Ino butuh meraih tempat yang tinggi. Juga membawa batu bata dan kantong semen yang berat. Bahkan mendengarkan segala cerita Ino, walaupun singa tinta itu tidak menjawabnya. Ino suka bercerita, jadi Ia suka siapa saja yang mau mendengarkan.

"…jadi kubilang pada Shika untuk jadi lebih berani dan bilang pada Temari kalau dia menyukainya. Ayolah, memangnya apa susahnya bilang 'aku menyukaimu' ke orang yang memang kamu sukai?" Ino mengambil satu batu bata dan memandang si singa tinta. "hey, aku baru sadar, karena kamu terbuat dari chakranya, kau juga bereaksi seperti dia, ya? Selalu diam saja."

Singa tinta itu memiringkan kepalanya sebagai jawaban. Ino bisa membayangkan Sai bersikap seperti itu padanya saat ini.

"Kalau saja kau benar-benar hidup, mungkin aku bisa bertanya satu atau dua hal tentang penciptamu." Ino mengamati singa tinta itu lekat-lekat. Sai menganggambarnya dengan details sempurna, kadang-kadang Ino kagum pada kemampuan pria itu. "Aku penasaran, apa yang dia lakukan saat senggang? Apa dia pernah punya waktu senggang?"

Singa tinta itu tidak mengangguk ataupun menggelengkan kepala.

"Kau tahu, aku ingin mengenalnya lebih baik. Lebih dekat." Ino berkata lagi, meletakkan batu bata di dinding yang bolong. Singa tinta itu menghampirinya lebih dekat, tahu bahwa sebentar lagi Ino akan butuh bantuan memanjat ke dinding yang lebih tinggi. "Aku ingin jadi temannya…" Ino bergumam, menatap si singa tinta.

Makhluk tinta itu menunduk, membiarkan Ino memanjat dan berdiri di punggungnya. Tiba-tiba saja singa tinta itu mengangguk. "Hee? Apa maksudmu kau pikir dia juga ingin jadi temanku?" lagi, singa tinta itu mengangguk. "Yah… setidaknya kau dan aku teman sekarang." Ino tertawa dan menepuk kepala singa tinta itu.

Ino menatap hasil kerjanya; semua bagian yang harus ditambal di ujung timur sudah selesai. "Ayo lihat hasil kerja tuanmu." Ajaknya. Keduanya berjalan ke ujung barat tempat Sai bekerja, Ino setengah berharap Sai sudah menyelesaikan kerjaannya.

Tapi yang Ino lihat adalah Sai yang duduk dengan punggung menyandar ke dinding yang masih berlubang, bahkan setengahnya saja belum selesa. Ia tampak beristirahat di bawah bayangan dinding, kepalanya tertunduk.

"Sai?" Ino berdiri di sebelahnya, sang Anbu mendongak untuk menatapnya. Ino bertanya-tanya apa itu hanya perasaannya saja, atau Sai terlihat lebih pucat dari biasanya.

"Ya?"

"Kau belum selesai juga?"

"Aku kehabisan batu bata…"

"Kenapa tidak terbang dengan elang tintamu saja ke Konoha?" Sai mengambil nafas dalam dan panjang sebelum bangun. Ia menggambar elangnya dan segera menaiki hewan tinta itu. Ino tidak yakin itu hanya imajinasinya saja, atau tangan Sai memang sedikit gemetar saat menggambar. Elangnya bersiap terbang, dan Ino segera yakin bahwa Ia tidak berimajinasi sebelumnya.

Tubuh Sai condong ke satu sisi, membuat Elang yang baru beberapa meter dari tanah itu segera turun menjejak tanah lagi sebelum penunggannya terjatuh. Ino segera berlari menemuinya, memegang pundaknya untuk menstabilkan tubuhnya. Ino menyentuh lehernya untuk mengukur panasnya, karena Sai tengah menggunakan pelindung dahi jadi tidak bisa mengukur lewat dahinya.

"Kau demam. Kenapa tidak bilang sebelumnya?" Ino membantunya berjalan ke pohon terdekat, memaksanya untuk duduk dibawah kerindangan pohon. Sai menyentuh tangan Ino di lehernya, tersenyum lemah.

"Tanganmu dingin. Rasanya sejuk."

"Bukan tanganku yang dingin, tapi kau yang sedang demam tinggi. Tubuhmu terbakar." Ino mencopot pelindung dahi Sai, tangannya yang mengeluarkan cahaya lembut menyentuh dahinya yang panas. Sai membuka sedikit matanya untik menatap Ino, tapi gadis itu terlalu berkonsentrasi menyembuhkannya untuk sadar Sai tengah menatapnya.

"Apa sarapanmu pagi ini?" Sai menggeleng. "tidak sarapan? Jam berapa kau bangun hari ini?"

"Sekitar jam 4, kalau tidak salah."

"Kau punya misi sejak jam 4 pagi sampai jam 8, dank au tidak sarapan sama sekali?" Sai mengangguk. "apa kau makan malam kemarin?"

"Aku hanya mengingat aku langsung tidur begitu sampai rumah." Ino menggembuskan nafas gemas.

"Tunggu disini. Jangan pergi kemana-mana." Ino menaiki elangnya, meninggalkan Sai dengan singa tinta disebelahnya. Sai menatapnya sampai elangnya dan Ino menghilang ke langit luas.

"Kerjas keras dengannya?" Sai menoleh menatap singa tintanya. Makhluk itu mengangguk. "Aku rasa dia menyukaimu… wanita aneh yang bicara dengan hewan tinta."


Ino kembali dengan cepat menemui Sai yang masih duduk bersandar di bawah pohon.

"Makan dan istirahatlah." Ino menyodorkan sekotak bento dan minuman. "Kau kecapekan dan kurang makan. Hilangkan saja makhluk tintamu untuk menyimpan energy dan chakramu. Aku akan kerjakan sisanya."

Sai menolak bentonya, mengerutkan alis. "Kalau begitu sama saja dengan aku tidak mengerjakan apapun."

"Elangmu membantuku mengambil batu bata tadi. Singa mu membantuku sebelumnya. Sekarang giliranmu yang membantuku dengan duduk disini dan makan."

"Ino," panggil Sai tegas. "Ini misi kita, bukan kau seorang." Giliran Ino yang mengerutkan alis.

"Justru karena ini misi kita, aku membantumu saat kau sedang tidak sehat. Kau akan melakukan hal yang sama untukku, lagipula. Aku kira kau sudah belajar tentang kerja tim saat di tim 7, kan? Teman tidak meninggalkan satu sama lain." Sai mendengarkan kata-katanya baik-baik, tangannya yang tadinya menolak bento dari Ino sedikit melemah.

"Tapi kalau kau mengerjakan sendirian, bisa sampai sore baru selesai."

"Aku lebih kuat dari yang kau pikir." Ino meletakkan bento di tangan Sai. "Sudahlah, semakin cepat kau melakukan nasihatku, semakin cepat kau sembuh, semakin cepat pula kau bisa membantuku. Oke?"

Ino meninggalkannya dan kembali menekuni pekerjaan. Sai menatap elangnya dan singa tintanya, akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran Ino. Ia tidak pernah melihat Ino sebagai wanita yang lemah, sejujurnya. Ia tahu betapa kuatnya Ino saat mereka tengah berperang dulu, dan tahu betapa bergunanya medical-jutsu yang Ino gunakan. Sai pikir wanita lebih suka ditawarkan bantuan, tapi melihat Ino dan Sakura, tampaknya hal itu malah berkebalikan; kedua gadis itu malah akan merasa tersinggung. Sai menghilangkan kedua makhluk tinta ciptaannya, mengumpulkan chakranya kembali.

Sai menghabiskan bentonya dalam diam sembari menatap Ino dari jauh. Ino menggunakan chakra di kakinya untuk memanjat tembok yang tinggi. Kemampuan pengendalian chakranya sangat bagus menurut Sai, tidak sekalipun gadis itu terjatuh. Rasanya Sai seperti melihatnya terbang. Ino tampaknya tidak begitu memikirkan tentang panas matahari dan keringat, tidak seperti wanita kebanyakan yang Sai tahu. Ino menggunakan sapu tangannya untuk menghapus keringat, kadang-kadang hanya dengan punggung tangannya saja. Di bawah sinar matahari, rambutnya bersinar keemasan.

Gadis dengan matahari di rambutnya, Sai memberinya nama baru.

Ino punya tubuh yang ramping, agak terlalu kurus kalau menurut opini pribadi Sai. Ia tidak mengerti kenapa Ino begitu keras kepala untuk diet (Ia mendengar percakapan Ino dan Sakura saat Ia berpapasan dengan mereka di cafetaria rumah sakit) padahal ia sudah cukup kurus. Ino sebenarnya enak dilihat saat gadis itu tidak sedang bad mood, Sai tahu ada banyak shinobi dan masyarakat biasa yang menyukai gadis itu.

Bahkan teman-temannya di Anbu juga berbicara tentang si pewaris Yamanaka. Sai tahu Ino sering datang di Kantor Pusat Anbu karena permintaan Ibiki-san, dan rumor berkata bahwa hanya tinggal urusan waktu gadis itu akan bergabung dengan Divisi Interogasi. Dari pengamatannya, Sai mendengar bahwa Ino sangat dekat dengan teman-temannya. Mendengar dari berbagai macam opini orang tentang keberaniannya dalam misi untuk melindungi rekan se timnya, meletakkan hidupnya demi melindungi mereka.

Sai belum pernah mengalami segala rumor tentang Ino, tapi sedikit banyak Ia meyakininya sekarang. Sakura pernah mengingatkannya untuk lebih menjaga lidahnya di depan Ino karena gadis itu sudah mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menolongnya saat di Land of Silence (mungkin ini juga penyebab Sai jadi lebih hati-hati dalam bersikap di depan Ino akhir-akhir ini). Sai ingat betapa leganya Ia saat Ino mengeluarkannya dari genjutsu itu.

Ino mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya sendiri, sudah lebih dari setengah dinding selesai. Rambutnya yang panjang diikat jadi ekor kuda tinggi seperti biasa, rambut pirang itu bergoyang-goyang mengikuti irama tubuhnya saat ia bekerja. Sai bertanya-tanya bagaimana cara menjaga rambut itu selalu terlihat indah, karena Ia sendiri malas mengurusi rambutnya yang semakin panjang. Sai bertanya-tanya bagaimana rasanya helaian emas itu di tangannya; Ia pernah membaca bahwa rambut perempuan itu sehalus sutra. Sai belum pernah mencoba menyentuh rambut Sakura untuk membuktikan artikel itu, ia lebih mencintainya hidupnya daripada rasa penasarannya.

Sai penasaran bagaimana tubuh segemulai itu bisa menghandle pekerjaan seberat ini, dan kenapa Ino menyanggupinya. Jari-jemari Ino menari diatas kerasnya batu bata di dinding yang terbakar panas. Menurut Sai, jari-jari itu lebih pantas memegang bunga, seperti yang sering Ia lihat kalau ia melewati toko bunga Yamanaka. Sai tahu gadis itu punya toko bunga, tapi Ia belum pernah datang, toh Ia sendiri tak punya siapapun yang butuh diberi bunga.

Di bawah kerindangan pohon, Sai sadar bahwa ini pertaka kalinya ia benar-benar memperhatikannya. Yamanaka Ino bukan hanya sebuah nama di kepalanya, Ia punya details tentang penampilan fisik gadis itu, dengan lebih banyak informasi. Rasa penasarannya bertambah, ada suara di kepalanya untuk ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu.

Perlahan-lahan, Yamanaka Ino membuatnya tertarik.


Ino baru bersiap-siap untuk melompat lagi, untuk meletakkan batu bata di tempat yang tinggi saat tiba-tiba singa tinta Sai mendekat padanya. Pria berambut hitam itu tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.

"Oh, sudah merasa baikan?"

"Jauh lebih baik. Terimakasih." Ino tersenyum, memberi batu bata di tangannya pada Sai, lalu duduk menyandar di dinding. Ino mengomentari panasnya matahari terasa seperti mencakar kulitnya, dan Ia berharap untuk segera pulang dan mandi dengan air dingin. Sai menggambar payung dari tinta untuk melindungi Ino dari panasnya matahari.

"Geez, kenapa tidak dari tadi saja kau lakukan itu."

"Wanita sulit ditebak. Aku kan tidak tahu kalau kau butuh dipayungi kalau kau tidak bilang." Ino menghembuskan nafas gemas pada pria disampingnya, lalu menatapnya bekerja lekat-lekat.

"Hey. Kenapa kau menyanggupi misi ini kalau kau baru saja dari misi lainnya? Memangnya tidak capek?" Sai menatapnya seakan Ino baru saja bertanya tentang hal yang sangat mendasar.

"Bukankah shinobi itu pekerjaanya adalah menyanggupi misi? Apa lagi yang mereka kerjakan untuk hidup?"

"Kau kan bisa menolak, kalau itu hanya D-rank atau C-rank misi. Dan kau punya alasan bagus untuk menolak, kalau itu menyangkut kesehatan." Sai mengangkat bahu.

"Mungkin karena aku terbiasa. Aku tidak pernah menolak misi." Pandangan Ino melembut padanya.

"Apa seperti itu hari-harimu di ROOT? Tidak ada kesempatan untuk menolak misi?" Sai berhenti mengerjakan dinding yang harus ditambal, tidak yakin bagaimana menjawab Ino. Ia tidak pernah bicara banyak dengan orang lain tentang masa lalunya di ROOT.

"Bahkan tidak ada kesempatan untuk mempertanyakan misi." Sai akhirnya menjawab. "Kami punya segel ROOT di lidah yang akan aktif kalau membocorkan informasi tentang organisasi dan membunuh kami." Ia memberi tahu Ino hal yang sama yang pernah Ia katakan pada Naruto dan Sakura.

"Kenapa? Itu kan jahat!" Ino tiba-tiba berdiri, mendekat padanya. Sai mengambil satu langkah mundur, kaget karena kedekatan mereka yang tiba-tiba.

"Karena ROOT banyak melakukan hal yang seharusnya dipertanyakan demi menjaga Konoha." Sai menjawab lagi. "salah satunya saat Danzo-zama memerintahkan untuk membunuh Sasuke Uchiha."

Ino mengerjapkan mata mendengarnya. "Tapi kau bukan bagian dari itu lagi sekarang. Kau seharusnya berhenti menyanggupi misi kalau kesehatanmu tidak mendukung."

Sai meletakkan satu batu bata lagi sebelum memutar tubuh menghadap Ino.

"Kalau aku berhenti menyanggupi semua misi, aku tidak akan ada gunanya untuk Negara ini."

Bulu mata Ino yang tebal mengerjap. Sai menatapnya lekat, kedua mata aquamarinenya yang besar menarik perhatiannya. Hening melingkupi mereka, lalu tiba-tiba saja Ino memukulnya keras di dada, membuatnya Sai terjatuh keras ke belakang.

"Hey, apa maksudnya?!" ucapnya jengkel. Walaupun itu bukan pukulan yang mematikan, tetap saja dadanya sakit seperti baru menghadapi rasengan Naruto.

"Sakit kan?"

"Lebih dari sakit." Jawab Sai jengkel. Ino menatapnya berusaha bangun sambil memegangi dadanya yang baru saja dipukul. Ino berkacak pinggang, menatap Sai dengan pandangan kesal. Sampai detik ini, Sai tidak tahu apa kesalahan yang baru dilakukannya sampai ia pantas menerima pukulan itu. Telunjuk Ino menunjuk tepat di dada Sai, di bagian yang baru saja dipukulnya.

"Kau merasa sakit kan, artinya kau itu manusia. Bukan senjata tak bernyawa yang digunakan untuk misi. Dan manusia bukanlah barang yang digunakan untuk kepentingan Negara ini. Jadi berhentilah bersikap seperti robot dan mulai hidup seperti pria normal lainnya."

Sai terdiam mendengarnya.

"Hhh, kerjamu terlalu lambat. Berikan aku batu bata itu." Ino kembali ke sikap bossy-nya yang biasa.

Ini mungkin pertama kalinya mereka bekerja berdampingan. Menambal dinding yang rusak karena perang rasanya seperti menambal bagian yang rusak dalam diri mereka masing-masing.


Sebelum matahari terbenam, akhirnya mereka selesai mengerjakan dindng yang rusak.

"Aku mau pulang, mau bareng?" Sai menggelengkan kepala pada tawaran Ino.

"Aku mau menghabiskan waktu sebentar di sini. Kau bisa duluan." Singa tinta Sai mendekat pada Ino, seakan menawarkan dirinya untuk mengantar Ino lagi.

"Kau meminjamkan dia padaku lagi?" Ino menunjuk singa tinta itu. "Kau tahu, kau bisa mulai bisnis transportasi di Konoha kalau seperti ini." Ujar Ino bercanda. Sai menaikkan satu alisnya, tidak begitu mengerti bercandaan Ino.

"Kau sendiri yang bilang kau berteman dengannya. Jadi kubiarkan kau menghabiskan waktu lebih lama dengannya sekalian mengantarmu pulang."

"Aku hanya bercanda saat kubilang aku menginginkannya sebagai peliharaan… tunggu, aku tidak bilang apapun padamu soal aku berteman dengannya." Sai mengerjapkan mata. "Aku memang bicara dengannya saat bekerja, tapi…"

Ino menutup mulutnya saat menyadari sesuatu. Matanya membulat karena kaget.

"K-kau mendengar itu semua?!" ujarnya pada Sai. Pria itu menatapnya dengan senyuman polos.

"Mahkhluk tinta ciptaanku kan bagian dari chakraku juga. Aku bisa mendengar apa yang ia dengar…"

Wajah Ino memerah seutuhnya menyadari bahwa Sai mendengar semua kicauannya di depan singa tinta nya hari ini.


A/N : Bijin-san artinya miss beautiful dalam bahasa jepang