TABU YANG BENAR

Summary: memasuki awal tahun ketujuh, setelah melawan si pesek yang tidak lucu, yang tidak berperikemanusiaan, Voldemort. Tiga serangkai, Harry James Potter, Ronald Bilius Weasley, dan Hermione Jean Granger kembali mengulang pelajaran mereka untuk satu tahun terakhir kedepan.

Disclaimer: Tante JK. Rowling, aku rasa dia memang salah satu murid dunia sihir -,-

Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger

Rated: awalnya masih T mungkin, tapi kesanaannya bakal jadi M. kalo gak sanggup jangan lanjutkan ya, hhe. mohon maap kalo kata-kata disini terbilang kasar. maka dari itulah saya gunakan rate M.

Read n Review, I need your Review, Your Review its my drug xD


Hermione menangkap dua sosok di matanya. Dua sosok itu sedang mendempet di dinding. Kedua tubuhnya juga bertempelan sangat dekat. 'sedang apa mereka?'

"lumos!" gumam Hermione. Kedua sosok itu tersontak kaget melihat tongkat Hermione yang berpendar.

Dan sama halnya dengan Hermione. Ia sangat terkejut melihat dua sosok yang ada dihadapannya kini.

"M-Malfoy?! Lisa Turpin?!"


Chapter 4

Draco terkejut melihat sosok Hermione sedang menatapinya bercumbu dengan Lisa Turpin, gadis Ravenclaw berambut pirang panjang.

"Apa yang kau lakukan disini, Granger?" Bentak Draco spontan.

Hermione mematung. Suaranya hilang seketika.

Menjijikan.

Itulah yang Hermione rasakan melihat keduanya sedang bercumbu mesra. Kemeja sang gadis kusut berantakan. Kancingnya terbuka setengah jalan. Jubah asramanyanya terinjak dikakinya sendiri. Sedang tangan Draco menjelajahi punggungnya. Bibir mereka terpagut, saling mencari nafsu.

Entah mengapa, Hermione benci melihatnya. Memang seharusnya ia tak melihat ini. Sungguh gila! Hermione mengelengkan kepalanya.

"Kau gila, Malfoy. Kau tidak pantas jadi ketua murid. Lepaskan jabatanmu sebelum aku mengatakannya pada Proffesor McGonagall." Ancamnya. Hermione menatap mereka berdua rendah serendah-rendahnya. Lalu Hermione menjauh dari mereka. Ia tak sudi melihat mereka lebih lama lagi.

Draco mencerna perkataannya. Memahami maksud Hermione, yaitu melaporkan tindakannya tadi pada Proffesor McGonagall. Ia hanya menatap Turpin sekilas dan kemudian meninggalkannya pergi.

"Malfoy!" Panggil Turpin. Namun Draco tidak menggubris panggilan itu. ia percepat langkahnya untuk menyusul Hermione.

Turpin menghentakkan kakinya kesal dengan sikap Draco yang pergi begitu saja.

'seenaknya saja dia meninggalkanku!' gerutunya dalam hati.

Ia meraih jubahnya. Kemudian bergegas pergi sambil mengancingkan kemejanya.

Hermione meneruskan langkahnya cepat. Menyusuri koridor sendirian yang gelap dan sepi. Hanya ada obor-obor disisi-sisinya sebagai penerang. Dan dinding-dinding yang kokoh yang seakan mengamatinya berjalan. Mulutnya menyumpah-nyumpah sendiri, menyesali pemandangan yang sangat merusak matanya untuk dilihat.

Ia bersumpah akan melaporkan ini pada McGonagall. Hermione benar-benar tidak tahan akan sikap sang Pangeran Slytherin. Mungkin ini akan menjadi salah satu pembalasan dendamnya akan detensi yang diterimanya. Dan soal permintaan maaf, ia sudah buang jauh-jauh setelah ia menemukan Malfoy.

'tap-tap-tap'

Hermione mendengar derap langkah dibelakang. Ia menoleh. Dan Draco sedang berjalan setengah lari mengejarnya. Hermione mengindahkannya, fokus berjalan kedepan.

Derapnya semakin keras terdengar. Semakin dekat. Dan berhasil menyelaraskan langkahnya dengan Hermione dari belakang. Desah nafasnya tak beraturan.

"Kau tuli, Granger!" ujar Draco, disela nafasnya yang tersengal-sengal. Hermione diam. Tak menjawab panggilan-panggilan Draco sedari tadi. Lebih baik ia diam, daripada harus berurusan panjang dengan Draco.

"Kau akan mengadu, Granger? sangat kekanak-kanakkan." Cibir Draco, menyinggung perkataan Hermione sebelumnya. Memang itu tujuan Draco Malfoy mengejar Hermione. Mengkonfirmasi, apakah ia benar-benar akan mengadu atau tidak. Draco menunggu balasan wanita didepannya.

Hermione tertawa sinis.

"ya, Malfoy. Kau benar. Aku akan mengadukannya. Ada masalah?" ucap Hermione. Kakinya terus berjalan. Tidak ingin berhenti untuk menghadapi Draco.

Draco tak ingin menganggap serius ucapan Hermione. Namun Hermione adalah orang yang berani dan nekat. Ucapannya tidak hanya sekedar gertakan. Draco menyadari itu.

Jabatan ketua murid adalah jabatan nomor satu di Hogwarts. Apa jadinya, bila seorang Draco Malfoy diturunkan jabatannya dengan paksa, hanya karena mulut comber seorang Hermione. 'tak akan!'

"Kau akan menyesal jika melakukannya, Granger!" ancam Draco. Hermione sudah biasa mendengar nada itu. Ia tidak akan takut dengan gertakan seorang Draco Malfoy.

"coba saja mengancamku, Malfoy. Sudah berapa kali kubilang. aku tidak takut padamu." ucap Hermione enteng. Ia memutar bola matanya bosan dengan ancaman kosong Draco.

"Apa maumu, Mudblood!" Ujar Draco tak sabar.

"sudah kubilang berapa kali, Malfoy. Berhenti menyebutku mudblood dan lepaskan jabatanmu!" jelas Hermione.

"Aku tidak akan melepaskannya hanya karena aduan seorang -Darah-Lumpur-Jalang- sepertimu!" Umpat Draco menahan emosinya. Ia sangat muak dengan semua omong kosong ini. ia ingin cepat-cepat mengakhirinya.

Wajah Hermione terasa panas. Mukanya memerah menahan marah.

"Coba saja, Ferret busuk." Ejek Hermione.

Tiba-tiba Draco menarik tangan Hermione dengan paksa. Ia mendorong tubuhnya ke dinding batu yang dingin, mengunci pergelangan tangan ramping Hermione, mensejajarkan dengan telinganya. Badan Draco memblokir pergerakan Hermione.

Hermione sangat kaget. Tindakan Draco begitu cepat. Draco menarik badannya kasar dan Hermione tidak bisa antisipasi. Tangannya di cengkeram sangat kuat. Hermione meringis kesakitan.

"A-apa yang k-kau lakukan, Malfoy. Lepaskan aku. " Pinta Hermione keras. Tangannya meronta-ronta. Tapi cengkeraman Draco sangat kuat. Tenaga Hermione seperti tidak ada apa-apanya. Sangat tidak sebanding dengan Draco yang tenaganya dipusatkan oleh emosi. Mungkin pergelangan tangan Hermione sudah membiru sekarang. Tapi ia tidak peduli. Emosinya suda jebol dari pertahanannya. Fokus kemarahannya saat ini hanyalah kepada Hermione.

Hermione tidak bisa melakukan apa-apa. Ia terperangkap. Ia mencoba untuk lepas, namun Draco semakin menahannya. Berteriak pun tidak mungkin. Tak akan ada satupun yang melewati koridor itu. Semua murid dan guru sudah terlelap dalam tidurnya. Ia tak tahu harus apa.

Draco ada dihadapannya. Nafasnya memburu, mewakili kekesalan hatinya yang sudah berada ditingkat paling akhir. Mengeluarkan setiap kebenciannya melalui tatapan kelabu Draco yang tajam. Mengintimidasi Hermione atas tindakannya. Menghukum ancaman Hermione dengan cengkramannya.

Nafas berat Draco, tertahan di atas wajah Hermione. Bisa dirasakan. Betapa beratnya hembusan itu, mewakili banyaknya kebencian milik seorang Draco Malfoy. Manik madu menatap kilat kelabu. Mencari suatu jawaban atas tatapannya. Namun ia mendapat jawaban yang pahit dari kelabu Draco. Bahwa orang yang ada dihadapannya kini, benar-benar sangat membencinya. Ia tak segan menyakitinya. Sungguh-sungguh tak mengizinkan kehadiran Hermione didunianya. Sekalipun yang lain sudah berdamai. Hermione membaca pesan itu dari kilat kelabu Draco yang kelam. Sorot yang menyiratkan kebenaran, kejujuran yang sangat dalam dari hatinya. Benci. Hanya sebuah benci untuknya.


Hermione's POV

Wajahnya terlihat jelas dimataku. Kulitnya pipinya yang halus, rambut pirang platina yang menawan, mata kelabunya yang indah. Aku bisa melihatnya. Aku akui, mereka benar. Sang Cassanova, sangat terpetakan diwajahnya. Pangeran Slytherin, sangat ada diseluruh tubuhnya. Aku menyadarinya, dijarak kami yang sangat dekat. Semua kesempurnaannya akan sangat indah bagiku, apabila dia bukan musuh terbesarku. Bila dia bukan orang yang kubenci dari ujung kaki sampai kepalaku. Namun itu tidak akan pernah terjadi. Kami saling membenci. Aku bisa merasakan kebenciannya yang sangat dalam dinafasnya. Memang harus begitu. Aku membencinya. Dia juga membenciku. Sesempurna apapun dia, aku hanya melihatnya dengan kebencianku. Walaupun harus sakit mendapati seseorang mempunyai rasa benci yang tak terhingga terhadapku.

"Sudah kuperingatkan, Granger. Jangan pernah berani berurusan denganku." Ujarnya dengan nada sarkastik. Aku bergidik mendengarnya. Badanku gemetar.

'Aku harus kuat. Jangan gemetar, Hermione. Aku tidak takut' batin menguatkanku.

Tanganku memberontak, mencoba untuk lepas dari tangan dan dinding yang menghimpitku. Tapi semakin banyak bergerak, Malfoy semakin menyakitiku. Aku kumpulkan keberanianku. Walau posisiku sungguh sangat tidak mendukung. Ku sembunyikan gemetarku. Aku tak mau Malfoy tahu kalau aku sedang takut.

"apa alasannya aku harus tidak berani denganmu, Malfoy. Kau sama sepertiku. Apanya yang beda? Kita penyihir. Kita sekolah di Hogwarts. Kita Ketua Murid. Bahkan darah murni yang selalu kau puja-puja mengalir ditubuhmu, tidak ada bedanya denganku. Warnanya sama. Tak ada bedanya!" ucapku cepat. Sebelum suaraku kembali gemetar.

"Jangan samakan aku denganmu, Darah-Lumpur. Kita sangat berbeda! Kau hanya Darah-Lumpur yang merangsak masuk dunia sihir dan merusak kami. Kau tidak bisa menyamakan dirimu dengan Darah-Murni seperti kami. Itu tidak akan mungkin terjadi, Granger!"

Lagi. Dia membahasnya lagi. Mudblood dan Pureblood. Mengapa kau tidak pernah berubah, Malfoy? Mengapa hatimu sangat batu? Huh, Kiamat aku mengharapkannnya berubah. Sama halnya seperti melihat Voldemort memiliki pacar, tidak akan mungkin terjadi!

Demi Merlin! Mengapa dia masih mempermasalahkannya. Semua sudah berdamai. Dunia sudah menyatu.

'Kau sangat idiot, Malfoy! Kau tidak pernah menggunakan otak dan hatimu. Kau tidak punya hati, Malfoy!'

"Aku penyihir, Malfoy. Memang disini tempatku. Aku tidak merusak tempatmu tapi kau yang merusaknya. Kau yang menyebarkan paham idiotmu itu, Malfoy. Agggh…"

Draco mencengkram tangan ku lebih kuat. Sungguh dia makhluk terbiadab yang pernah aku temui. Dia sama halnya dengan Voldemort. Kejam. Dia bisa-bisanya menyakiti wanita. Menyakitiku.

Sepertinya aku tidak bisa menahan rasa sakit ini lebih lama lagi. Kurasa tanganku membiru. Tenagaku sudah habis menahannya. Aku biarkan rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhku. Menerima rasa sakit dari Draco yang sedang menghukumku.

"kau salah bicara, Granger!" ujarnya dingin. Mataku memanas. Badanku gemetar, dan aku tidak bisa menahannya lagi. Rasa sakit ini melenyapkan tenagaku. Draco menatapku dengan tatapan yang heran. Dia merasakan tubuhku yang gemetar. 'Brengsek! Badan Brengsek! Ferret sialan.'

Aku berusaha menutupinya. Menutupi kesakitan ini. Dia tidak boleh tahu dengan jelas apa yang aku rasakan. Tapi, aku tidak bisa menahannya lagi. Tanganku seperti mati rasa. Aku mengumpulkan tenaga ku yang masih tersisa.

"Apa bedanya denganmu!" ucapku melemah.

"Kau juga selalu salah padaku, Malfoy! Saat kau meneriaki ku mudblood. Saat kau menyebut ku Jalang. Menghinaku disetiap kita bertemu. Menatap rendah padaku. Ribut dengan teman-temanku dan kau menyalahkanku dengan semua keadaan itu. menyebutku sebagai wanita kotor didepan teman-temanmu. Mencap ku sebagai manusia yang tidak pantas hidup disini. Apa kau masih pantas disebut tidak salah, Malfoy. Katakan padaku!"

Aku luapkan segala kebencian itu. kelakuannya yang selalu membuatku membencinya. Kelakuannya yang selalu menambah rasa muakku padanya. Kau harus tahu, Malfoy! Aku membencimu ! kau telah melakukan banyak kesalahan sepanjang hidupmu. Sangat banyak.

Aku menatapnya. Ia pun menatapku. Dia telah mengetahuinya. Berfikirlah, Malfoy. kau tidak lebih suci dariku!

Lama ia menatapku. Entah apa yang ia fikirkan. Biru kelabunya masih menatapku lekat.

"Yang kukatakan itu semua benar, Granger, bukan hinaan. Aku selalu benar dengan apa yang kukatakan padamu. Kau mudblood, kotor, jalang! Jangan sok suci, Granger. Hadapilah kenyataanmu." Balasnya. Aku terdiam menatap matanya. mata yang menatapku tajam. Hatiku terasa tercabik. Bulir air mata memaksa untuk keluar. Dan aku tak bisa menahannya. Satu tetes jatuh dari mataku. Terasa mengalir dipipiku. Aku tidak memikirkan apa-apa lagi tentang apa yang akan Malfoy katakan. aku tak tahu, kata-kata apalagi yang ia punya untuk merendahkanku. Bagaiman ia melanjutkan untuk menginjak-injak harga diriku.

"Apalagi, Malfoy. Apalagi!" teriakku. Air mata yang lainnya menerobos pelupuk mataku. Aku menangis dihadapannya.


Draco's POV

Dia, menangis? Ada apa dengannya? Mustahil rasanya bagiku melihat ini. sesuatu yang ajaib, langka. Granger menangis, didepanku? Aku menatap manik madunya yang berkaca. Coklat madunya meneteskan lagi satu air matanya. Manik madu yang selalu mengancamku. Mata yang selalu mengirim sinyal kebencian padaku. Mata yang selalu siap menanggapi ucapanku. Mata yang - indah. Brengsek! Mengapa orang kotor sepertimu mempunyai mata indah seperti itu, Granger. Aku masih melihatnya. Rasa sakit yang kau gambarkan disana, rasa sakit yang teramat dalam. Karenaku. Bahkan aku bisa membacanya dimatanya yang jernih, Granger. Tapi, mengapa kau menangis? Badanmu gemetar. Apa pesanku berhasil untuk menghentikan langkahmu yang kurang ajar padaku? Kalau begitu, well done, Draco! Kau berhasil. Ya! Kau berhasil mengancamnya. Kau berhasil meruntuhkan dinding kesombongannya. Lihat bagaimana dia sekarang. Menyedihkan. Sangat menyedihkan. Itulah balasannya jika berani macam-macam denganku, Granger. Menangislah! Meratapi nasibmu yang menyedihkan!

Aku tertawa melihatnya menangis.

"Menyedihkan, Granger. Jangan ulangi kebodohanmu denganku kalau tidak mau mendapati dirimu seperti ini, jalang!" ucapku penuh kepuasan. Ia mengeluarkan lagi setetes air matanya.

Jantungku berdegup. Aneh. Melihat semakin menambahnya air mata yang dikeluarkan Granger, aku merasa sesuatu yang aneh. Aku menarik nafasku. Berusaha menghilangkan apa yang sedang kurasakan. Tapi, aku tetap merasakannya. Aku tidak mengerti. Air mata itu, membuatku merasa, bersalah.

Tidak! Tidak! Ini menyenangkan. Aku berhasil mengalahkan keras kepalanya. AKu menghentikan keangkuhannya. Aku berhasil membuatnya menuruti perkataanku. Tapi disisi lain, aku juga ingin menghentikan air matanya. Ingin sekali. Aku merasakan kesalahan pada hatiku. Shit! Apa yang baru saja aku fikirkan?

"Terserah kau, Malfoy! Aku sudah tidak peduli lagi." Jawabnya lemah. Tangannya memberontak lemah di genggamanku. Aku merasakan lemah tenaganya.

"Semudah itu, eh? Bagaimana aku mempercayaimu?" Tanyaku konyol. Hanya itu pertanyaan yang ada di kepalaku. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Otakku berhenti berfikir melihatnya yang menyender lemas menghadapiku. Kedua pipinya sudah basah oleh air matanya sendiri.


Normal's POV

Hermione terdiam. Tubuhnya sudah kehabisan tenaga. Perdebatannya kali ini dengan pewaris tunggal keluarga Malfoy sangat menguras tenaganya. Ia sangat lelah menghadapinya. Mungkin ini waktunya untuk ia menyerah. Menuruti apa yang dikatakan Malfoy. Ia sudah lelah dan ingin cepat-cepat mengakhiri semuanya. Ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.

"Kau bisa pegang ucapanku. Aku tidak akan mengingkarinya." Jawab Hermione pelan.

Kelemahannya semakin Nampak jelas dikedua biru kelabu Draco. Membuat hatinya memberontak, memaksa melakukan sesuatu. Apa saja, agar Hermione bisa bangkit menjadi dirinya lagi, menghadapi seorang Malfoy dengan keberaniannya. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Satu-satunya yang ingin ia lakukan dibenaknya adalah…

Draco mendaratkan bibirnya di bibir Hermione. Draco, menciumnya. Tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh sang Putri Gryfindor nantinya. Ia terus menciumnya, mencoba mengalirkan energi ketubuh rival terbesarnya. Dan Draco merasakan sesuatu yang berdesir aneh di jantungnya. Ketika merasakan mulut Hermione yang –manis-. Bagaikan chery, Draco terus mengecupnya. Membuat kupu-kupu secara ajaib masuk kedalam perutnya, membuatnya semakin bergejolak.

Hermione membuka lebar-lebar matanya yang tertutup lemah. Draco masih mengecupi bibirnya penuh nafsu. Aroma mint menyeruak dari tubuh sang Pangeran Slytherin, terhirup begitu saja di penciuman Hermione. Wanginya, menenangkan. Hermione merasakan energinya seperti datang kembali. Merasakan kehangatan yang berbanding terbalik dengan dinding di belakang punggungnya. Ia menatap lelaki didepannya. Rambut platina tertangkap dengan jelas di kedua manik madu. Kedua matanya terpejam, merasakan tiap detik peristiwa diantara mereka.

Kehabisan udara membuat keduanya melepas diri. Namun tak berapa lama, Draco kembali mendekati Hermione. Kembali menciumnya. Draco menekankan mulutnya semakin dalam, mencari-cari kenikmatan yang tersembunyi dibalik bibir Hermione yang terutup. Hermione merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang. Ia tidak mengerti. Saat ini, Draco Malfoy, sang Pangeran Slytherin yang baru saja terlibat perberdebatan hebat, saling mencibir, saling merendahkan, saling mempertahankan harga diri, dan saling mengeluarkan semua kebencian yang ada pada dirinya, kini saling bertukar kehangatan. Ini sangat gila! Hermione masih mencerna apa yang Draco lakukan saat ini, sungguh tidak wajar. Sungguh, diluar batas logika.

Hermione menyadari Draco yang mulai naik gairahnya. Ciumannya semakin panas, tak seperti sebelumnya. Hermione mencoba mencari-cari logika yang sedari tadi hilang diotaknya. Ia menyadari, ini tak boleh dilanjutkan. Ia tak ingin sel-sel bejat Draco menempel ditubuhnya. Ia tak ingin melanjutkan lebih jauh lagi. Hermione memalingkan wajahnya, melepaskan ciuman panas sang Cassanova di hadapannya. Draco merasakan kegiatannya terganggu, namun satu tangan Draco meraih kedua pipi Hermione, menahannya. Mengarahkan lagi keposisi semula, dan ia kembali menciumi Hermione.

Draco mulai mengeluarkan lidahnya. Bergerak mencari-cari celah pintu masuk dimulut Hermione yang terkunci. Bibirnya mengecup putus asa, tidak menemukan apa yang ia inginkan. Draco mencoba menggigit bibir bawah Hermione, menyesapnya, sehingga membuat Hermione mendesah. Kesempatan itu tidak dibuang Draco untuk menelusupkan lidahnya, memasuki ruang baru. Lidah Draco menari senang. Lidahnya kembali bergerak, menyesuaikan diri bersama barisan gigi-gigi Hermione yang rapi, merasakan lidah milik Hermione yang tidak menyambutnya dengan senang hati.

Draco menyadari kegilaan ini. Mencium seorang Mudblood. Seorang rival terbesarnya. Ini sangat tidak benar. Sungguh kelakuannya saat ini sangat diluar akal sehat. Atau mungkin ia sedang sakit. Ia merasakan perutnya yang bergejolak, jantungnya berdegup kencang. Seperti tersengat sesuatu disekujur tubuhnya. Merasakan perasaannya membuncah. Dan mendapatkan kenikmatan dari ciuman yang ia berikan pada Hermione.

Ya, mungkin ia sedang sakit. Sangat sakit! Kegilaan ini, kegilaan yang menyenangkan baginya. Ia merasakan hal berbeda ketika sedang mencium Hermione. Merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dari wanita-wanita yang pernah ia cumbu sebelumnya. Dan ia tidak ingin melepaskannya, tak ingin benar-benar mengakhirinya.

Saliva mengalir disudut bibir keduanya. Stok nafas mereka sudah hampir habis. Draco mulai menyerah dengan keadaan, melepas pagutannya dengan Hermione. Menghirup sebanyak-banyaknya nafas yang terbuang. Matanya terbuka, menatap manik madu yang menatapnya penuh pertanyaan.

Hermione memandangnya tanpa lepas. Mata biru kelabu itu menatapnya dengan lekat. Bukan tatapan tajam seperti biasanya. Bukan tatapan kebencian. Tangannya mengelap sudut bibirnya yang masih menyisakan setetes saliva mereka, dan Hermione melakukan hal yang sama. Draco telah membebaskan tangan Hermione. Ada bekas biru disana. Draco mencelos melihatnya.

Hermione mengatur nafasnya. Mengatur degup jantungnya yang berlari cepat. Wajahnya kembali memerah. Tidak percaya, Rival nomor satu baginya telah melakukan hal seperti itu. Hal yang sangat tidak wajar, yang baginya -menjijikan.

"Beraninya kau, Malfoy! Kau gila! " Ucap Hermione tak percaya. Matanya menelisik kelabu didepannya. Mencari jawaban atas pertanyaan yang terdapat di benaknya.

Draco membuang muka, mengalihkan pandangannya dari Hermione yang terus menatapnya. Ia juga tidak mengerti apa yang telah dilakukannya. Barusan saja, ia melakukan sesuatu yang sangat terlarang. Sangat tidak mungkin. Sangat Tabu. Namun sangat benar. Hermione mungkin benar, Draco benar-benar gila. Draco menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mencari kata untuk alasan yang masuk akal.

"Untuk memastikan kau benar-benar tidak akan mengadu, Granger!" Ucap Draco enteng. Sengaja di enteng-entengkan, karena Draco benar-benar belum mengerti apa yang tadi dilakukannya.

Hermione mengerutkan alisnya. Wajahnya merah padam dan nafasnya menahan emosi yang hampir meledak. Draco menoleh dan menyadari perubahan air muka Hermione.

"Memang apa yang kau harapkan, eh? Aku sudah sangat sering melakukan itu." Draco tertawa sinis. "Satu lagi, Granger. Jangan pernah beritahu ini pada siapapun, atau kau akan menerima lebih dari ini!" ancam Draco. Draco berbalik dan pergi meninggalkan Hermione. Namun sesungguhnya, fikirannya benar-benar tidak pergi. Ia masih memikirkannya, memikirkan kejadian tadi, memikirkan segala sesuatunya yang sangat salah.

Hermione masih terdiam. Draco telah menghilang dari pandangannya. Kini ia hanya bertarung sendiri dengan fikirannya, dengan logikanya yang menurutnya sudah rusak. Bingung, heran, penasaran, benci bercampur menjadi satu. Bahkan senang juga terlarut didalamnya. Jemarinya bergerak perlahan, meraba ke atas bibirnya. Ia mengingat-ingat kejadian tadi. Kejadian yang sangat mengejutkan baginya, yang menyebabkan kupu-kupu berterbangan tak karuan didalam perutnya, dan menimbulkan kehangatan yang menjalar diseluruh darahnya. Entah, ia seharusnya benci dengan perlakuan Draco tadi. Ia memang benci, tapi benci itu datang bersamaan dengan rasa yang lain. Rasa yang aneh dan berbeda. Rasa yang menyenangkan mendapati yang-Tak-Tersentuh- telah menyentuhnya, membuat bergejolak lagi perutnya mengingat hal itu.

Dan lebih anehnya lagi , batin terdalam Hermione berkata bahwa ia, Hermione Jean Granger, ingin merasakan bibir milik seorang Draco Malfoy sekali lagi.


TBC

huraay, akhirnya selesai #lari ala-ala spongebob#

aku minta maaf ya kaaren kelamaan.. tapi yang penting, udah hadir nih kelanjutannya..

aku mu jawab review dari

Moku-Chan: hmm belum nih, baru sekedar kissing scene doank, hhe.. sabarrr yah.. mungkin ada mungkin nggak aku belum tahu. aku juga lum pengalaman bikin lemon scene xD #maklumNewbie jadi tunggu kelanjutannnya aja ya,, biar surpress ;p review lagi ya :D

Blizzard19: wah, maap-maap ga tau.. kalo ini udah bener kan nulisnya? hhe.. makasii makasii.. jangan sampe kamu yang angkat kaki meninggalkan ff-ku ini ya #puppyeyesModeOn# Review lagi ya :D

Ochan malfoy: Ahihi penasaran beratnya sudah diselesaikan, maap suramap ya gabisa se'kilat' yang kamu harepin. moga cap ini menjawab penasaran kmu dengan sukses,, iya ada dua kali, tapi gpapa ko (y) hehe RnR again ya xD

Noeri07: makasih ade,, (walau gatau siapa yang lebih muda n tua disini #plakk) xD smoga terhibur dengan lnjutannya ya.. #kedip-kedipGJ jangan lupa Review lagi :D

Hime No Rika: ini dia update-annya.. RnR lagi okay ;D

Gimana nih tanggepannya sama chapter ini? suka ga? bagus apa jelek? ngena ga si? kasih tau doooonk xD #AuthorKepo
RnR lagi ya, miss you Reader's, Silent Readers n Reviewers, Visitors also {}

I'll be right back! #POP