"Pernikahan adalah satu – satunya hal yang tak pernah kau pelajari dan aku juga baru dalam hal itu." Sungmin memusatkan pandangannya pada sebuah lemari. Ia takut kalau memandangi pria itu ia akan kehilangan kendali dirinya. "Kau pernah menghabiskan seratus juta won untuk sebuah lukisan, dan setelah lukisan itu terpajang di apartemenmu untuk satu malam, kau meminjamkannya ke museum, dan kurasa kau tidak pernah melihatnya kembali, Kyu. Yang menarik bagimu adalah proses mendapatkannya."

Wajah Kyuhyun mengeras saat ia menyalakan lampu kamar tidur besar yang ia masuki, kemudian ia memberi jalan untuk mempersilakan Sungmin masuk. "Omong kosong."

"Tidak, ini bukan omong kosong. Aku seperti lukisan itu. Setelah mendapatkanku, kau kehilangan minat," lanjut Sungmin dengan kasar.

"Aku tidak perlu menjawab imajinasimu itu." Kyuhyun menunjuk telepon yang berada di nakas di samping tempat tidur. "Gunakan telepon itu bila kau membutuhkan sesuatu." Dengan langkah santai, Kyuhyun berjalan menuju pintu, tampak sangat arogan, dan yakin akan dirinya serta menantang Sungmin dalam setiap langkah. "Jaljayo."

Jaljayo? Apakah ia bercanda? Sungmin menggigit bibirnya dan berusaha menahan berbagai macam cacian yang ingin dikeluarkannya.


The Mistress Wife (Remake)

Lynne Graham

Cho Kyuhyun & Lee Sungmin

Romance

Chapter 4

Genderswitch

Rate M for this Chapter

Adelle – Don't You Remember

.

.

.

"Tapi aku tidak minta cinta... aku hanya menginginkan seks."

.

.


Sungmin menekan nomor telepon rumahnya saat ia mulai merasa tenang. Saat tidak ada jawaban dari kakaknya, kegelisahannya meningkat dan ia mulai menghubungi handphone kakaknya.

"Sungmin?" Suara Yeonhee tidak terdengar jelas karena suara musik yang ada di belakangnya. "Mengapa kau meneleponku?"

Sungmin heran musik sekeras itu tidak mengganggu pendengaran kakaknya dan mulai mengerti kenapa Yeonhee tidak mendengar telepon di ruang tengah berdering. "Aku hanya sedikit khawatir. Tadi Jungmo datang ke rumah saat eonni keluar."

Hening sejenak sebelum Yeonhee berseru kesal. "Aku tidak keluar. Tapi saat kulihat itu dia, aku malas membukakan pintu."

"Ah, begitu... tapi, bisakah eonni mengecilkan suara musik itu sedikit. Kalau Minhyun menangis, aku tidak bisa mendengarnya," ujar Sungmin dengan nada meminta maaf. "Aku harus bermalam di Korea dan akan kembali pagi – pagi sekali, tapi bila eonni ingin aku kembali malam ini, aku akan─"

"Jangan bodoh. Tidak ada gunanya kau pulang cepat – cepat." Seru kakaknya dengan tidak sabar. Terdengar suara pintu tertutup dan tiba – tiba kedamaian terdengar di ujung telepon. "Minhyun baik – baik saja... ia tidur lelap sekali. Bagaimana pertemuanmu dengan Kyuhyun?"

Mendengar nama Kyuhyun, Sungmin merasa kakinya melemah dan terduduk di tepi ranjang. "Buruk... ia mengencani Victoria Song, sang model, dan aku bertemu dengannya. Ia sangat mempesona─"

Yeonhee tertawa datar. "Sayang sekali, ini benar – benar bukan harimu! Bukankah aku sudah memperingatkanmu?"

"Ya, memang..." Sungmin mengakui dengan terbata.

"Kyuhyun benar – benar keterlaluan," seru kakaknya. "Apa kau bertanya padanya tentang tunjangan keuangan?"

Sungmin menelan ludah. "Iya... kurasa masalah itu beres."

"Bagus!" seru Yeonhee.

Sungmin merasa ia mendengar suara lain di belakang kakaknya. "Apa ada teman eonni yang datang menginap?"

"Mengapa kau bertanya seperti itu?"

"Kupikir aku mendengar seseorang berbicara pada eonni─"

"Kau salah dengar... itu suara televisi. Sampai besok!"

Belum sempat Sungmin mengucapkan sepatah kata, telepon itu terputus.

Perlahan, Sungmin meletakkan handphonenya di nakas. Dan saat kesunyian melandanya, ia teringat lagi akan pria itu. Kyuhyun tidak akan menjadi bagian hidupnya lagi. Rasa sakit itu melukainya begitu tajam dan mendalam, membuatnya menggigil. Lebih dari tiga tahun berlalu sejak Sungmin melarikan diri dari pesta di apartemen Ryeowook setelah melihat Kyuhyun dalam pelukan seorang wanita cantik. Saat itu, Kyuhyun mengikutinya sampai ke jalan.

"Jadi kau menginginkanku sebagaimana aku menginginkanmu," ungkap Kyuhyun dengan penuh kepuasan. "Jangan khawatir mengenai pasanganku, ia hanyalah pajangan"

"Apakah yeoja itu mengetahui hal itu?" Sungmin terkejut mendengar perkataan Kyuhyun.

Kyuhyun mengedikkan bahunya. "Kaulah yang kuinginkan, Min. Yeoja lain hanyalah pengganti dirimu. Bila kau ingin menyalahkan seseorang untuk itu, salahkan dirimu."

"Jangan membuatku bertanggung jawab atas sikapmu yang suka mempermainkan wanita!"

"Aku single... aku tidak berbohong dan aku tidak melanggar peraturan. Jangan bersikap begitu naif. Kalau aku pria baik – baik seperti yang kau harapkan, saat ini aku pasti sudah menikah dan punya anak dan kau akan menderita karena kenyataan itu. Saat ini aku tidak terikat dan yang kau butuhkan hanyalah keberanian untuk berhenti melarikan diri seperti gadis kecil dari apa yang terjadi di antara kita."

Pada jam tiga pagi, Kyuhyun mendatangi apartemen Sungmin. Dipengaruhi oleh rasa lega karena malam itu Kyuhyun tidak ada dalam pelukan yeoja lain, Sungmin mempersilakannya masuk. Kyuhyun menariknya mendekat dalam kegelapan ruang tamu dan berbisik perlahan, "Aku akan berbeda denganmu, Min. Kau akan mendapatkan perhatianku seutuhnya."

Sungmin gemetar mendengar ucapan tulus Kyuhyun.

"Dan aku akan membuatmu bahagia. Ini akan sangat mudah, sangat sederhana," Kyuhyun berbisik dengan suara selicin satin. "Mengapa mempersulitnya?"

Namun, satu – satunya hal yang mudah adalah mencintai Kyuhyun dan mencintai pria itu bukanlah sesuatu yang dapat Sungmin pilih. Mereka bertemu kapan pun mereka sempat, tapi tak pernah ada cukup waktu untuk memuaskan mereka berdua. Mereka berdua benar – benar jatuh cinta setengah mati dan Sungmin tidak ragu sedikit pun terhadap hubungan mereka. Dalam dua bulan, Kyuhyun melamarnya, tapi begitu cincin pertunangan melekat di jarinya, privasi yang mereka nikmati sebelumnya hilang.

Rekan bisnis Kyuhyun memujinya di depan Kyuhyun, tapi di belakang memberikan komentar menyakitkan. Kyuhyun, dengan silsilah keluarga dan kekayaan yang besar, dianggap sebagai pria impian semua wanita dan sebagian besar wanita di lingkungan pergaulannya merasa terhina karena ia memilih Sungmin, wanita yang dianggap kuno, sebagai istrinya. Rasa malu yang berkepanjangan dan sindiran menyakitkan mengenai reputasi Kyuhyun dengan wanita, daya tarik sensual Kyuhyun, serta kurangnya daya tariknya sendiri merusak rasa percaya diri Sungmin dan kepercayaannya pada Kyuhyun, bahkan sebelum pernikahan.

Namun, saat itu Sungmin tidak menyadari kenyataan tersebut. Hari ketika ia menikah dengan Kyuhyun merupakan saat paling membahagiakan dalam kehidupannya dan bulan madu mereka yang singkat terasa seperti surga kebahagiaan. Hanya sepuluh bulan setelahnya, Sungmin merasa sangat kesepian dan tidak bahagia. Kalau bukan karena tuduhan Kim Hyuna, ia akan tetap bersama Kyuhyun. Kyuhyun tidak pernah menyadari alasan sebenarnya aku meninggalkan dirinya, Sungmin menyadari dengan getir. Ketidaksetiaannya yang tampak jelas meyakinkan Sungmin kalau perceraian adalah pilihan terbaik yang bisa ia berikan kepada pria yang dengan jelas mengakui, beberapa minggu sebelum peristiwa itu terjadi, kalau ia menyesal telah menikah dengan Sungmin...

Kesal dengan air mata yang membasahi pipinya, Sungmin berdiri dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Sambil membasuh wajahnya, ia memutuskan akan berendam dalam air hangat dan berharap hal itu membuatnya rileks.

Tenggelam dalam air hangat yang dipenuhi aroma menenangkan, ia mulai berpikir mengapa Yeonhee sangat membenci Kyuhyun. Eonninya itu tidak pernah mengatakan satu hal baik pun mengenai Kyuhyun, dan sebenarnya Kyuhyun juga bersikap agak dingin terhadap Yeonhee. Mungkin ketidakcocokan kepribadian. Sungmin menelan ludah dan berharap ada Minhyun di sampingnya untuk dipeluk.

Terdengar suara ketukan ringan di pintu kamar mandi. Ia terdiam karena terkejut, kemudian langsung duduk tegak. Secara naluriah ia memeluk kedua lututnya untuk menutupi ketelanjangannya. "Jangan masuk. Aku tidak berpakaian!" teriaknya sebagai peringatan pada orang yang mengetuk pintu tersebut.

"Tidak masalah," kata Kyuhyun dan pintu itu terbuka. Ia menekankan setiap kata yang diucapkannya. "Aku meminta orang mengantarkan makanan padamu, tapi kau tidak menjawab saat makanan itu diantar. Jadi aku bilang akan mengurusnya."

"Aku tidak lapar..." gumam Sungmin yang masih terkejut karena kehadiran Kyuhyun.

Dengan sepasang mata gelap yang berbinar penuh gairah, Kyuhyun mengamati wanita itu. Saat berjalan masuk melewati pintu kamar mandi, Kyuhyun disambut oleh pemandangan sepasang payudara Sungmin yang menggairahkan. Gairah dengan cepat menyebar ke sekujur tubuhnya. Di tengah bathtub, Sungmin berendam dengan kedua lengan memeluk lutut dan seperti biasa tidak memakai riasan apa pun. Tapi ia memancarkan daya tarik yang besar. Rambutnya yang lembut tampak kusut dan lembab, membentuk ikal halus di atas mata foxy yang berwarna kecokelatan, dan bibir yang sangat menggoda bagai segelas red wine kesukaan Kyuhyun.

"Aku yang lapar," geram Kyuhyun.

"Kalau begitu kau bawa saja nampannya dan keluar dari sini." Ucap Sungmin, berusaha melepaskan pandangannya dari Kyuhyun, tapi gagal. Kyuhyun mempunyai sepasang mata yang sangat indah dan pupil yang besar. Dan saat Kyuhyun memandanginya, Sungmin merasakan ada yang meleleh di bawah pusarnya. Sangat sulit baginya untuk berpikir rasional. Kyuhyun sudah membuka jaket dan dasinya, serta melonggarkan kerah kemeja hitamnya. Kyuhyun tampak misterius, berbahaya, dan sangat menarik, membuat sistem sarafnya seperti dialiri listrik.

Mulut Kyuhyun yang terpahat sempurna menyeringai. "Kau tidak berhak mengusirku keluar, Min."

Sungmin terdiam tanpa kata dan semakin menutupi tubuhnya dengan semampu yang ia bisa.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Sungmin. Ia terkejut menyadari kalau ia menginginkan Sungmin bukan hanya di ranjangnya. Mengapa? Mengapa ia harus terlibat begitu dalam dengan wanita itu? Mengapa ia harus mempermudah segalanya untuk dia? Lagi pula, ia sudah mengatur seluruh situasi ini untuk mencapai akhir yang ia inginkan. Dengan sengaja membatalkan niat Sungmin untuk pulang dan bertemu si kutu buku, Kyuhyun memutuskan akan merayu Sungmin kembali ke pelukannya untuk malam ini. Tapi, saat ini, dengan keras kepala ia ingin Sungmin sendiri yang menentukan pilihannya dan bertindak sesuai keinginannya...

"Kalau kau ingin tidur denganku malam ini, aku ada di kamar sebelah. Kau bisa mendatangiku." Kyuhyun mengamati wajah Sungmin yang gugup.

Rasa malu membuat kulit Sungmin merona merah dan mulutnya ternganga. "Bagaimana... bagaimana kau dapat mengatakan hal seperti itu padaku?"

"Hidup itu singkat. Aku berusaha menghemat waktu. Entah kau sangat menginginkanku sehingga berani mengambil resiko atau tidak, Min." ujar Kyuhyun perlahan. "Keputusan ada di tanganmu."

Masih tidak mampu berkata – kata, Sungmin melihat punggung Kyuhyun menjauh dan pintu kamar mandi tertutup. Pria itu telah pergi. Dengan heran, Sungmin berdiri dari bathtub dan melilitkan handuk di sekeliling tubuhnya. Ia gemetar. Kyuhyun sangat mengenal dirinya. Walau ia berusaha mengusir lelaki itu, Kyuhyun mengetahui keinginan terdalamnya. Pria itu tahu kalau ia menunggu Kyuhyun menariknya ke dalam pelukan saat ia duduk di bathtub,. Tapi bukannya melakukan hal yang biasa ia lakukan, atau apa yang biasa dilakukan pria dengan sikap dominan, Kyuhyun menyindir sikap pasif Sungmin dan menantangnya.

Sungmin tidak pernah berani mengambil resiko. Oleh karena itu, apa yang ia lakukan hari ini terasa tidak nyata, karena ia berani mengambil resiko mendekati Kyuhyun tidak hanya sekali, tapi dua kali. Keberaniannya menghapus semua kebohongan yang ia katakan pada dirinya sendiri selama dua tahun dan membuatnya berani mengakui betapa sengsara kehidupannya tanpa Kyuhyun. Hal itu juga mendorongnya untuk mempertimbangkan kembali pernikahannya dengan Kyuhyun yang selama ini tak pernah ia pikirkan.

Walaupun kecantikan dan kesempurnaan Victoria Song sangat luar biasa, Kyuhyun masih tetap memiliki ketertarikan pada istrinya. Bukannya kesal dengan keterusterangan Kyuhyun, Sungmin bersyukur karena ia masih menarik minat Kyuhyun di bagian itu. Kalau Kyuhyun menganggapnya tidak menarik, maka tidak ada harapan untuk mereka berbaikan. Tapi apakah ia yakin dengan keputusannya? Bukankah ini terlalu cepat? Kyuhyun bahkan tak menunjukkan ekspresi kesal saat Sungmin mencoba mengusirnya tadi.

Kyuhyun memiliki hasrat sensual yang besar. Mereka masih menikah dan karena kesalahannyalah mereka berpisah. Sepanjang hari ini, Sungmin telah berusaha meyakinkan Kyuhyun dan wajar saja kalau Kyuhyun salah mengartikan tindakan Sungmin. Saat Kyuhyun menantangnya untuk mengambil resiko, apa ini pertanda kalau mereka masih memiliki masa depan bersama?

Ini bukan waktunya memikirkan kenyataan kalau aku bukanlah wanita yang menarik dan seksi, ia berkata tegas pada dirinya sendiri. Ini mungkin satu – satunya kesempatanku untuk menyelamatkan pernikahan dan aku tidak boleh menyerah karena rasa malu. Setelah memakai bra dan celana dalam, Sungmin terpaku. Akan terlihat aneh kalau ia berpakaian lengkap hanya untuk ke kamar sebelah. Setelah lama berpikir, akhirnya Sungmin menarik kain penutup tempat tidur dari pinggir ranjang dan memakainya untuk menyelimuti tubuhnya seperti kain pantai.

Sebelum kegugupan melandanya, ia segera meninggalkan kamar dan membuka pintu kamar sebelah hanya untuk mendapati kamar itu gelap dan kosong, dan tampaknya ia berada di kamar yang salah. Kyuhyun juga tidak ada di kamar di seberang koridor. Memburu suami, pikir Sungmin histeris. Apakah Kyuhyun sudah berubah pikiran?

"Tidak perlu mencari ke seluruh rumah, aku ada di sini..." Kyuhyun berkata sinis.

Sungmin tersentak kaget dan tanpa sengaja menginjak bagian bawah kain yang menyelimuti dirinya dan terjatuh.

"Min! Kau baik – baik saja?" Kyuhyun mencondongkan tubuhnya untuk memegang Sungmin dan membantunya berdiri.

"Tentu saja," jawab Sungmin cepat karena rasa malu yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Tanpa izin, Kyuhyun menggendong dan membawa Sungmin ke kamarnya dan menurunkannya di dekat ranjang.

"Jadi, apa maumu sekarang?" tanya Sungmin gugup dan memalingkan wajahnya asal tak melihat tatapan Kyuhyun.

"Aku akan membebaskanmu dari kain itu sebelum kau mematahkan kakimu." Sambil meletakkan tangan di ujung kain itu, Kyuhyun memutar tubuh Sungmin dan melepaskan kain pengganggu itu sebelum Sungmin menyadari apa yang ia lakukan.

"Oh!" Sungmin menyilangkan kedua lengannya untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut bra dan celana dalam, kemudian menatap Kyuhyun.

Kyuhyun hanya memakai celana pendek. Sebuah pemandangan yang membuat Sungmin tidak bisa melepas pandangannya. Bahu lebar berwarna pucatnya membuat perut Sungmin terasa tergelitik dan tubuhnya bertambah tegang.

"Terasa... sangat aneh berada di dekatmu lagi," ungkap Sungmin.

"Aku menyebutnya erotis..." sahut Kyuhyun, sambil bergerak mendekat untuk mengusap rambut Sungmin dan mengangkat kepala wanita itu. "Aku merasa seperti raja dengan budaknya. Aku rasa aku bisa mendapatkan apa pun yang kuinginkan malam ini."

Sungmin memaksakan tawa miris karena tahu Kyuhyun hanya bercanda. "Aku tidak akan melakukannya denganmu sejauh itu malam ini..."

"Kupikir kau akan melakukannya kalau aku menginginkanmu melakukannya, Min." Kyuhyun menempelkan bibirnya dengan ketepatan yang luar biasa di bibir Sungmin.

Perut Sungmin bergejolak dan tubuhnya bergetar. Kyuhyun mengangkat wajahnya hanya untuk mengamati Sungmin, kemudian menciumnya lagi dengan penuh tuntutan.

Sungmin memegangi bahu pria itu agak bisa tetap berdiri. Dan saat itulah tangan Kyuhyun melepaskan bra wanita itu. Sungmin tersentak kaget dan Kyuhyun langsung menggenggam tangan Sungmin dengan tangannya sebelum wanita itu membalikan tubuhnya secara naluriah untuk menutupi ketelanjangannya. Sepasang mata hitam penuh gairah mengamati payudara Sungmin yang menggiurkan.

"Aku merindukan tubuhmu..." ungkap Kyuhyun.

Tubuh Sungmin menegang karena ucapan Kyuhyun. Tapi di satu sisi dia merasa puas akan hal itu.

"Aku akan menikmati saat – saat menjelajahinya kembali," ujar Kyuhyun, membiarkan ibu jarinya mengelus puncak payudara Sungmin yang menegang, sambil terus mengamati respons Sungmin serta mendengar erangan tertahan wanita itu. Sambil membungkuk, ia mengangkat Sungmin ke dalam pelukannya.

"M-mau ke mana kita dengan ini? Maksudku... kau dan aku?" tanya Sungmin tergagap.

"Ranjangku..."

Kyuhyun membaringkan Sungmin di kasur yang besar. Ia menginginkan Sungmin dan wanita itu bersedia. Sinar lampu temaram menyinari rambutnya yang berantakan, menonjolkan kulitnya yang seputih susu dan lekuk tubuhnya yang tanpa cacat.

Kyuhyun memegang pinggang Sungmin di ranjang untuk menahannya di sana, dan seulas senyum malu – malu tampak di wajah gelisah Sungmin karena tatapan Kyuhyun yang intens. Tidak perlu ada yang dicurigai mengenai niat Kyuhyun. Sudah pasti ini bukan termasuk ejekan kejamnya. Kyuhyun betul – betul menginginkannya. Keingintahuannya mengenai seberapa besar Kyuhyun menginginkan Victoria Song mulai timbul, tapi dengan cepat Sungmin menghilangkan pikiran tersebut.

"Kau sangat cantik... dengan caramu sendiri," Kyuhyun berkata kasar, rahangnya mengeras seakan ia takut pujian seperti itu akan membuat Sungmin berharap lebih.

"Itu hanya pendapatmu," ucap Sungmin.

"Tidakkah Jungmo mempunyai pendapat yang sama denganku?"

"Jungmo?" Mata Sungmin melebar dalam kebingungan. Ia tidak tahu mengapa Kyuhyun menyadari adanya pria lain dalam kehidupannya, tapi ia tidak ambil pusing akan hal itu. "Aku pikir ia tidak pernah memikirkan penampilanku. Ia mirip sepertiku."

"Informasi itu tidak penting untukku," Kyuhyun berbisik di antara gertakan giginya, kesal dengan cara Sungmin yang mengungkapkan kesamaan sikapnya dengan pria lain. "Yang kupikirkan saat ini hanyalah dirimu."

Jantung Sungmin berdebar mendengar perkataan Kyuhyun.

"Jadi, hentikanlah usahamu untuk bersembunyi di balik selimut dan menutupi dirimu dariku. Sudah sangat lama... biarkan aku menikmati pemandangan ini," desak Kyuhyun, sambil memusatkan perhatiannya pada pakaian dalam yang dikenakan Sungmin dan melepaskannya. "Ini jauh lebih baik..."

Mata gelap Kyuhyun mengamati Sungmin dengan sensual dan penuh percaya diri, kemudian Kyuhyun mundur untuk melepaskan pakaiannya sendiri. Ia benar – benar bergairah dan tampak bersemangat. Wajah Sungmin terasa panas. Sungmin memejamkan kedua matanya, tapi sensasi panas itu tetap terasa di bawah pusarnya.

"Tatap aku..." perintah Kyuhyun parau saat ia membaringkan tubuhnya di samping Sungmin. Hatinya berdesir. Ia mengenali rasa hangat ini. Jantungnya tidak bisa berdetak tenang melihat Sungmin begitu dekat dengannya.

Sungmin membuka matanya perlahan. Kyuhyun tersenyum membiarkan ujung jarinya perlahan menelusuri puncak payudara wanita itu. Sungmin melengkungkan tubuhnya, gelombang panas menghantam pusat dirinya dan ia terkesiap, "Kyu..."

Kyuhyun menundukkan kepala, kemudian menjilati puncak payudara Sungmin yang menegang. Pinggul Sungmin bergerak gelisah. Sudah sangat lama Sungmin tidak bercinta dan ia terkejut dengan responnya sendiri terhadap perlakuan Kyuhyun. Ia mengepalkan kedua tangan kuat – kuat disisinya, berjuang mengendalikan tangannya agar tak berlabuh di rambut Kyuhyun, tapi gagal. Ia mencengkeramkan jari – jarinya ke rambut Kyuhyun untuk menahan pria itu.

Kyuhyun bergerak dan menarik Sungmin ke arahnya, menghujamkan lidahnya ke dalam mulut Sungmin. Berulang – ulang sampai Sungmin hanya mampu bernapas pendek – pendek.

Tangan Kyuhyun bermain di paha Sungmin dan kembali ke payudaranya. Secara naluri, Sungmin mengaitkan pergelangan kakinya di belakang tubuh Kyuhyun.

Kepala Kyuhyun berputar – putar saat merasakan Sungmin melingkupinya seperti ini. Hawa panas dan basah dari paha bagian dalam Sungmin membakar pinggangnya.

Ia menurunkan tangan ke bagian tubuh Sungmin yang paling ia dambakan.

Sungmin mengerang dan gemetar saat Kyuhyun menggoda celah di tubuhnya.

Kyuhyun menginginkan bagian yang ini dari Sungmin. Ia ingin melihat kepala Sungmin tersentak ke belakang dan mendengarnya menjerit keras – keras saat pelepasan.

Sungmin membuka kakinya lebih lebar lagi, memberikan ruang gerak yang lebih leluasa untuk Kyuhyun. Dan ketika kepala kejantanan Kyuhyun menekan kewanitaannya, ia merintih.

Kyuhyun menarik kejantanannya sedikit dan menghujam kewanitaan Sungmin.

Mereka mengerang bersama – sama.

Sungmin melengkungkan punggungnya karena desakan tubuh Kyuhyun saat menyatukan tubuh mereka. Kyuhyun sangat keras dan panas, sangat penuh.

Kyuhyun menggerakkan pinggulnya dan menghujamkan dirinya semakin dalam, semakin keras ke tubuh Sungmin.

Sungmin mendesah karena gerakan Kyuhyun saat kejantanannya menyelinap masuk dan keluar, keras dan dalam. Jari Kyuhyun menggoda Sungmin bersamaan dengan hujamannya yang liar.

Dan ketika Sungmin mencapai pelepasan, orgasmenya begitu intens sehingga ia menjerit.

"Min...!" Kyuhyun menggeram waktu mendengar suara kenikmatan Sungmin sementara kewanitaan Sungmin mencengkeram miliknya.

Dengan napas yang masih tersengal, Sungmin mengalungkan kedua lengannya di tubuh Kyuhyun sementara Kyuhyun berusaha bernapas normal. Sungmin merasa sangat bahagia. Kami bersama lagi, pikir Sungmin, lega dan bersyukur.

"Ini bukan hidup namanya jika tanpamu, Kyu..." desah Sungmin penuh emosi dan berusaha menahan air matanya, tapi hal itu sangat sulit karena ia sangat bahagia.

"Apakah benar, Min?" Kyuhyun bergerak dan memberikan kecupan di kening Sungmin.

Diam – diam Kyuhyun merasa sennag karena dirinya tak tergantikan dalam kehidupan wanita itu. Dalam beberapa detik itu, Kyuhyun seolah berada pada masa lalu, tapi imajinasi itu terhapus dan digantikan oleh kejadian yang terjadi dua tahun belakangan ini. Kegelapan dan kesinisan kembali memenuhi jiwanya. Ia menatap Sungmin dengan mata gelapnya yang separuh tertutup oleh bulu mata tebal dan cokelat.

Sungmin membiarkan jari – jarinya meraba dada Kyuhyun serta membiarkan pandangannya menelusuri wajah Kyuhyun yang tampan dan berbahaya. Ia menarik napas dalam – dalam. "Aku... aku masih mencintaimu."

"Aku tersanjung mendengarnya." Kyuhyun mengangkat salah satu tangannya. "Apa kau mencintaiku sebesar ini? Atau sebesar ini?" Ia merentangkan jari – jarinya lebih lebar.

Senyum malu perlahan mengembang di bibirnya yang kemerahan ─karena ciuman Kyuhyun tentunya. Sungmin berpikir Kyuhyun sedang menggodanya. "Lebih besar lagi tentunya, Kyu..."

"Tapi aku tidak minta cinta... aku hanya menginginkan seks."

Dengan mata berkabut, Sungmin mengernyit. "Kuharap kau tidak berkata seperti itu."

"Jika kau mencintaiku, kau akan memaafkanku," kata Kyuhyun sinis.

Sungmin terdiam, kemudian menangkap nada sinis dalam suara Kyuhyun yang berat dan menyadari bahwa ada yang salah. Kyuhyun melepaskan diri dari Sungmin dan bangkit berdiri. Tubuh Kyuhyun sangat maskulin. Sungmin menatapnya dan merasakan kekosongan di rongga perutnya. Seakan Kyuhyun membelahnya menjadi dua. Sungmin menyerahkan diri sepenuhnya dan menawarkan cintanya, tapi Kyuhyun hanya mengambil salah satu dan membuang yang lain. Kyuhyun menolak cintanya. Aku hanya menginginkan seks. Apa ia serius? Sungmin gemetar, muak dengan penghinaan yang diterimanya.

Telepon di nakas samping ranjang berbunyi dengan nyaring. Sambil bersungut dalam bahasa kasar, Kyuhyun mengangkat gagang telepon. Tiba – tiba ia menegang, rahangnya mengeras. "Ya, saya Cho Kyuhyun. Apa yang terjadi?"

Ketegangan suaranya memaksa Sungmin bangun dan duduk di ranjang, memandangnya. Kulitnya memucat. "Rumah sakit mana? Bagaimana keadaannya?". Kyuhyun bertanya datar. "Bagaimana kejadiannya?"

Sambil mendengarkan, raut wajahnya mengeras dan menggelap. "Arigato gozaimasu," Kyuhyun menarik napas keras. "Saya akan pergi ke rumah sakit secepat mungkin."

Sambil membanting gagang telepon, Kyuhyun menatap Sungmin penuh kebencian dan tuduhan. "Itu tadi polisi. Satu jam lalu, mereka membawa Minhyun ke rumah sakit. Ia terluka dan memar. Ia ditemukan berada di jalan seorang diri."

Sungmin masih tidak mempercayai apa yang dikatakan Kyuhyun. "Apa...?"

"Eonnimu berusaha mengambil Minhyun, tapi dianggap terlalu mabuk untuk bisa mengurus Minhyun untuk kedua kalinya. Tampaknya ia mengajak Minhyun ke sebuah pesta dan anak itu berjalan ke luar rumah tanpa seorang pun menyadari bahwa ia menghilang!" Kyuhyun menjelaskan situasi itu dengan gigi bergemeretak.

"Oh, tidak, tidak!" Diselimuti ketakutan akan keselamatan putranya, Sungmin berusaha mengesampingkan ketidakpercayaannya bahwa hal itu bisa terjadi dan memusatkan pikirannya pada hal yang penting. "Rumah sakit? Minhyun ada di rumah sakit? Apakah ia terluka?"

Pandangan mata Kyuhyun membuatnya makin gemetar. "Bagaimana kau bisa meninggalkan putraku yang masih kecil ke tangan wanita egois itu?"

"Tolong katakan padaku bagaimana keadaan Minhyun... apakah ia baik – baik saja?" desak Sungmin.

"Apa maksudmu 'baik – baik saja'?! Minhyun terluka dan memar serta ketakutan. Ia bisa saja diculik, dibunuh, apa pun! Aku berterima kasih kepada Tuhan karena Ia sudah melindungi Minhyun dan karena kita masih memiliki anak," Kyuhyun melontarkan kemarahannya pada Sungmin sambil tergesa – gesa berpakaian. "Seseorang harus bertanggung jawab untuk kejadian ini!"

.

.

.

"But don't you remember? Don't you remember?

The reason you loved me before..

Baby, please remember me once more...

Gave you the space so you could breathe,

I kept my distance so you would be free,

And hope that you find the missing piece,

To bring you back to me...

Why don't you remember?"

.

.

To Be Continued


Arigato gozaimasu : Terima kasih


So sorry guys :(

Maaf banget udah buat kalian nunggu lama.

And that's chapter 4! So, like it? Hate it?

I hope you guys enjoy it. I tried my best.

Sebenernya agak kurang berkenan sama adegan seks-nya. Agak 'kecepetan' kayanya *cough*

Dan mau sekedar kasih tau kalau untuk selanjutnya, semua tulisan saya bakal pindah ke cainnellee. wordpress. com (tanpa spasi)

Kenapa? Karena susah banget buat ngepost ff di sini. Saya harus nunggu berjam - jam dan itu lumayan banget buat ngantuk.

Tapi mungkin sementara bakal saya 'private' karena mau dirapihin dulu blognya biar wangi #slappedbykyu

Thank you so much my readers.

And please review, they keeps me motivated to continue this story.