Feeling Under Spell? © RyuzakiRyuuga
Naruto and characters © Masashi Kishimoto
Warnings : OOC, Typos, Bad Plot, etc.
.
.
"Don't playing games with me, kids. You know that spell somehow can bring you to the unknown world. Once you there, many things happen. First, you want to leave. Then, you want to stay. But, remember.. Sometimes reality refuses to follow what you want."
.
.
.
.
Chapter 4 : Is She?
.
.
Sakura duduk di atas tempat tidur berukuran queen size itu dengan tenang. Dia masih mengenakan piyama bermotif abstrak dengan rambut merah mudanya yang masih acak-acakan. Kedua emeraldnya menatap lurus ke arah jendela kaca berukuran besar disamping tempat tidur itu, meskipun yang sebenarnya terjadi adalah pikirannya tak benar-benar kesitu. Tangan kanannya digunakan untuk menopang dagu dengan jari telunjuknya yang mengetuk-ngetuk pelan pipinya.
Tanda bahwa seorang Haruno Sakura sedang berpikir keras.
Perempuan itu hanya tidur selama kurang lebih dua jam semalam, mengingat dirinya susah sekali untuk tidur. Dia sudah mencoba berbagai cara, menghitung domba, mendengarkan lagu, bahkan sampai minum susu hangat yang dia tahu sangat mujarab. Dan tak ada satupun yang bekerja. Setidaknya dia berharap ketika dia terbangun semua akan kembali seperti semula. Tapi percuma saja berharap, karena dia yakin untuk lari dari kejadian mengerikan ini harus dengan sesuatu yang lebih rumit. Bukan hanya sekedar tidur, bangun dan voila! hidupmu bisa kembali normal.
Matanya melirik ke arah jam digital di atas meja kecil yang terletak disamping tempat tidur.
Pukul 6.54.
Masih beberapa jam lagi sebelum dia harus berangkat ke kantor.
Ya, Sakura kini sadar bahwa dirinya sudah mengingat semua rutinitas "dirinya" yang sekarang. Dia sudah mengingat seluruh kegiatan, beras-berkas dan berbagai pekerjaan rumahnya sebagai Manager of Public Relations yang masih menunggu untuk diselesaikan. Jangankan itu, dia bahkan mengingat seluk beluk kantornya, staf bawahannya, sampai kafe favoritnya yang terletak di seberang tempatnya bekerja.
Namun, Sakura sedikit lega bahwa ternyata ruangan Sasuke tidak berada di lantai yang sama dengannya. Kalau tidak, dia bahkan tak yakin kalau dirinya bisa hanya untuk sekedar fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk. Sejujurnya, dirinya lumayan takjub dengan entah-apa-yang-terjadi antara dirinya, Sasuke, maupun dengan enam tahun itu. Sakura masih bisa mengingat setiap detil kejadian, memori, yang ada antara dirinya dengan orang-orang disekitarnya terutama ehm, Sasuke. Namun yang berbeda hanyalah perasaan dibalik itu semua. Kini dia curiga kalau ada sesuatu yang merasuki dirinya dan Sasuke selama enam tahun dan berbuat kau-tahu-apa.
Oh iya, berbicara tentang dirinya dan Sasuke, semalam pula mereka berdua telah membuat berbagai kesepakatan. Salah satunya adalah pembagian tempat tidur. Sasuke tetap bersikeras tidur di kamarnya dan Sakura mendapat kamar satunya.
Sejujurnya ada lumayan kamar di cottage Sasuke, namun Sakura dengan tegas memilih kamar dengan jarak 'terjauh' dari kamar Sasuke. Dia tak ingin sesuatu dalam tanda kutip terjadi lagi, dan pada akhirnya Sasuke mengatai Sakura dengan tenang bahwa perempuan itu terlalu percaya diri karena nyatanya Sasuke tak berminat dengan wanita yang sama sekali bukan tipenya. Sakura juga melemparkan pernyataan sinis tentang kau-juga-bukan-tipeku-apalagi-dengan-rambut-pantat-ayam-aneh dan lain sebagainya. Dan begitulah seterusnya, tebak saja sendiri.
Dengan satu gerakan cepat, Sakura melompat dari tempat tidurnya dan langsung mendarat dengan kedua tangannya menopang dirinya sendiri di kusen jendela. Dia tak menduga efek dari tidak tidur semalaman itu benar-benar membuat kepalanya sepusing ini. Dengan langkah gontai, perempuan bersurai merah muda itu membawa langkahnya ke dalam kamar mandi.
.
.
.
Sasuke mengernyitkan kening sambil menatap LCD tablet di tangannya dengan serius. Bagaimana bisa proses pendistribusian cabang Kyoto disabotase pihak luar segampang itu? Seharusnya proses distribusi di Kyoto bukanlah hal yang rumit mengingat kota itu bukanlah kota terpencil yang memerlukan usaha lebih dalam prosesnya. Kota seramai itu, perusahaan sebesar Uchiha Corp. dan pegawai yang kompeten, dan masih bisa-bisanya disabotase dengan jalan tak modern layaknya perampokan mobil yang membawa barang produksi.
Untung saja, pelaku sabotase segera ditangkap beberapa jam kemudian setelah perampokan. Dan seperti dugaan Sasuke, pelakunya itu adalah suruhan dari perusahaan saingan mereka yang masih berkecimpung dalam skala nasional.
Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan sambil meletakkan tablet itu kembali di atas meja. A pathetic idiot, pikirnya. Berniat menjatuhkan suatu perusahaan sebesar perusahaan keluarganya itu membutuhkan usaha jauh lebih keras dibandingkan hanya dengan menyabotase satu mobil pengangkut. Apa mereka sebodoh dan seputus asa itu?
Gerakan tangannya yang hendak meraih secangkir teh di atas meja terhenti ketika matanya menangkap sesosok perempuan bergerak menuruni tangga. Pagi ini Sakura menggunakan blouse hitam dengan dilapisi dengan blazer seputih gading dan pencil skirt sebagai bawahannya. Stiletto hitam menghiasi kedua kaki jenjangnya.
Satu hal yang terlintas di pikiran Sasuke,
Classy.
Dia kembali meraih cangkir teh porselen itu dan menyesap isinya perlahan. Lelaki itu kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sebelum menolehkan seluruh pandangannya ke arah Sakura. Bibirnya menyeringai kecil.
"Sebegitu nyamankah tempat tidur di rumahku sampai-sampai seorang wanita baru bangun kira-kira sejam yang lalu?" Tanyanya skeptis segera setelah Sakura mendaratkan langkah di anak tangga yang terakhir.
Wanita itu mendelik sinis ke arah Sasuke. Dia tahu kalau laki-laki ini pasti menghitung rata-rata kecepatan wanita berdandan dari cara berpakaiannya sehingga menebak kalau dirinya bangun sejam yang lalu dan menggunakan sisa waktunya untuk berdandan. Cih, kelihatan sekali kalau Tuan Uchiha ini sudah ahli dalam seluk beluk tentang wanita.
"Tebakanmu salah. Aku tak bisa tidur semalaman." Gumam Sakura yang kini tengah mematut bayangan dirinya untuk sekian kalinya di cermin raksasa yang ada di ruang tamu rumah itu. Wanita itu meringis pelan ketika melihat ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya. Ternyata maskara belum cukup untuk menyembunyikan kantung mata yang sangat dihindari oleh Sakura. Bagaimanapun juga, penampilan adalah elemen yang penting mengingat dirinya adalah seorang wanita karir yang mengharuskannya untuk bertemu dengan berbagai orang penting.
Dari cermin itu, dia bisa melihat Sasuke mengernyitkan kening sambil sedikit memiringkan kepalanya ke satu arah. Seolah-olah lelaki itu tengah menilai dirinya. Sakura jadi gerah juga dipandang seperti itu. Kegerahannya semakin bertambah ketika melihat Sasuke kembali menampilkan seringai di wajahnya yang tak bercela itu.
Oh, betapa Sakura benci seringaian yang menyebalkan milik tuan besar berambut ayam itu.
"Saking memikirkanku sampai tak tidur, Sakura? I'm impressed," Ujar Sasuke tenang sebelum kembali meminum tehnya, mengalihkan pandangannya dari tubuh Sakura.
Sakura menganga. Dia memandang bayangan Sasuke yang kembali menyeringai padanya di cermin dengan pandangan tak percaya. Dengan geram, perempuan itu kemudian menopang pinggang dengan kedua tangan dan menatap balik Sasuke dengan tatapan sinis. Bukan Sasuke, lebih tepatnya bayangan Sasuke.
"Percayalah Sasuke, memikirkan satu senti dari tubuhmu saja aku tak berminat."
Detik kemudian wanita itu mengangkat dagu setinggi mungkin sebelum melangkahkan kakinya dengan percaya diri ke arah pintu besar yang menuju ke garasi indoor tanpa sekalipun menoleh kepada Sasuke. Biar dia tahu kalau dia tak bisa sembarangan mempermainkanku. Aku tak sebodoh itu.
"You left your bag, you know."
Langkah Sakura terhenti tiba-tiba.
Wajahnya memerah campuran antara malu dan marah.
Dengan sigap dia memutar tubuhnya dan kembali ke melangkah ke meja kecil di depan cermin. Benar saja, tasnya masih ada disitu. Saking jengkelnya, dia sampai lupa untuk mengambil tasnya dari situ. Sakura bahkan tak berani melihat cermin. Dia sudah menebak seberapa menyebalkannya wajah si Sasuke itu. Perempuan itu kemudian meraih tasnya dengan gemas dan melangkah ke arah pintu tadi tanpa berkata apa-apa dan tanpa menoleh ke belakang.
"Your welcome," sahut Sasuke dari belakangnya.
Dia mempercepat langkahnya karena dia yakin sang manajer marketing itu pasti tengah menyeringai lebar melihat kecerobohan dirinya tadi.
Sialan!
.
.
.
"Ohayou, Sakura-san." sapa seorang perempuan muda ketika Sakura menginjakkan kaki dalam ruangannya yang terletak di lantai 21 Uchiha Corp.
"Ohayou, Ami." Sakura menyapa balik asistennya itu dengan senyuman tanpa memberhentikan langkahnya.
Kebiasaannya memang seperti itu. Tiap hari dia akan disapa oleh asistennya yang sudah siap sedia kurang lebih sejam sebelum dirinya hadir. Meja asistennya memang tidak berada di ruangan sama tempat Sakura bekerja dan dipisahkan oleh sebuah pintu dari kaca yang selalu terbuka agar lebih memudahkan kontak diantara keduanya. Dan seperti yang sudah ditebaknya, segelas Caramel Cappucino pasti sudah tersedia di atas mejanya yang sudah dipenuhi berkas-berkas kantor.
Sakura meletakkan tasnya diatas meja sebelum mendudukkan diri dengan nyaman diatas kursi hitam miliknya. Beberapa detik kemudian Ami datang dengan setumpuk map dengan berbagai warna ditangannya. Sakura tersenyum maklum melihat asistennya yang kelihatannya sudah terbiasa dengan barang-barang seperti itu. Asisten yang cekatan dan kompeten. Dia sudah mengenal Ami cukup lama bahkan sebelum dia 'menikah' dengan Sasuke. Ewh, memikirkannya saja membuat Sakura mual.
"Ano, Sakura-san. Empat berkas ini adalah pengajuan proposal kerja sama antar divisi untuk iklan dibawah naungan perusahaan ini. Sedangkan sisanya adalah berkas pengajuan konferensi pers skala nasional mengenai peluncuran dua produk baru dalam waktu beberapa bulan ini dari bagian promosi." ujarnya dengan detail sambil meletakkan beberapa map di atas meja Sakura. Gadis itu memisahkan tumpukan itu menjadi dua bagian seperti apa yang dijelaskannya tadi.
Sakura mengangguk tanda mengerti. Dia menjulurkan tangannya ke map yang terletak paling atas. Matanya bergerak membaca tiap deretan tulisan yang tercetak rapi di atas kertas-kertas tersebut.
Huh, pekerjaannya semakin menumpuk gara-gara cuti selama beberapa hari.
"Ini saja?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari isi map itu. "Untuk berkas persetujuan dan penandatanganan hanya itu, Sakura-san. Tapi ada beberapa meeting dan kunjungan ke perusahaan cabang untuk beberapa waktu ke depan. Apa perlu aku bacakan, Sakura-san?" Ami menjelaskan. Tangannya bersiap-siap untuk membuka agenda miliknya.
"Tidak usah. Kirimkan saja draft-nya ke komputerku. Ah, iya. Apakah para mahasiswa magang dari Tokyo University itu sudah mulai masuk?" kini Sakura sudah mengalihkan pandangan sepenuhnya ke arah asisten mudanya itu.
"Iya, mereka sudah mulai masuk kira-kira seminggu yang lalu."
"Sekalian kirimkan transkrip nilai beserta laporan kegiatan mereka minggu ini padaku. Kau tahu 'kan maksudku, Ami?" gadis itupun mengangguk paham.
Dia mengenal bosnya itu sebagai wanita karir yang tegas dan cerdas. Meskipun hanya dalam kasus mahasiswa magang, seorang Haruno Sakura tak akan sembarangan menerima pegawai dalam divisi Public Relations yang dipegangnya. Makanya, dirinya sangat bangga menjadi asisten satu wanita karir itu. Bagi seorang Watanabe Ami, Haruno Sakura adalah sosok wanita yang pantas dicontoh. Dia mengagumi segala hal dari bosnya itu. Selera fashion-nya yang berkelas, kecerdasannya yang tinggi, ketegasannya dalam mengambil keputusan meskipun dalam keadaan mendesak dan satu lagi..
Keberuntungannya mendapat seorang suami sesempurna Uchiha Sasuke! Sudah jadi rahasia umum kalau seluruh penghuni kantor ini, dari lantai bawah sampai lantai atas, dari segala divisi, terutama perempuan, apalagi yang single pasti iri habis-habisan dengan bosnya ini. Karena sepengetahuannya, para wanita rela melakukan apa saja demi mendapatkan posisi yang sekarang dimiliki Sakura.
Dan berbicara keberuntungan, Ami merasa dirinya bisa dikategorikan sebagai orang yang sangat beruntung lantaran bisa tiap harinya melihat The Uchiha Sasuke ketika mengunjungi bosnya.
"Ada lagi, Ami?"
Gadis itupun tersentak dari gelutan pikirannya. Sakura menatap asistennya dengan bingung lantaran gadis mungil itu kelihatan tak fokus, pikirannya sepertinya menjalar kemana-mana. Beberapa detik kemudian Ami menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Baiklah, kau boleh kembali ke mejamu kalau begitu. Ah, dan terima kasih untuk cappucino-nya," ujar Sakura tersenyum sembari menunjuk gelas cappucino diatas meja dengan dagunya. Ami balik tersenyum, "Sudah kewajibanku, Sakura-san. Permisi," dia hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Sakura sebelum kembali membalikkan badannya ke arah Sakura duduk.
"Ano.. Sakura-san?"
"Hm?"
"Mungkin aku sudah pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi.. Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Sakura-san sekali lagi." ujarnya dengan senyum sumringah. Sakura melongo.
"Eh? Ah, iya.. Terima kasih, Ami." Sakura menjawab dengan ragu.
"Maaf sebelumnya kalau aku lancang, Sakura-san.. Tapi, bagaimana dengan Paris? Aku yakin Sakura-san dan Sasuke-san pasti sangat menikmati bulan madunya, 'kan? Ettou, apalagi setahuku Paris itu salah satu kota paling romantis di dunia. Wah.. Pasti romantis sekali.. Sakura-san dan Sasuke-san memang ditakdirkan untuk bersama! Seperti di film-film drama itu!" kini Ami benar-benar antusias. Dia tipe wanita yang suka dengan hal yang romantis, dan ketika mendengar bocoran bahwa bosnya dan sang manajer marketing memilih untuk berbulan madu di Paris, dia langsung membayangkan adegan-adegan seperti dalam film-film drama yang sering ditontonnya. Tanpa sadar dia telah berbicara kepada Sakura dengan suaranya yang nyaring dan penuh antusiasme.
Dan Sakura?
Dia speechless. Percayalah, kalau sekarang dia sedang minum cappucino, sudah pasti minuman itu meluber kemana-mana. Baru saja dia ingin melupakan masalah tentang dirinya dan Sasuke dengan cara menyibukkan diri dalam lautan pekerjaannya, kini asistennyalah yang mulai memancing pikiran-pikiran itu lagi.
Sakura memang tahu karakter asistennya ini yang kadang bisa berubah menjadi drama queen sejati seperti Tenten, tapi tetap saja, mendengar Ami berbicara tentang betapa cocok dirinya dan Sasuke itu hal yang tak masuk akal. Layaknya membayangkan lautan menjadi kering, atau layaknya membayangkan Spongebob berubah warna dari kuning jadi biru polkadot.
No way.
Sakura baru saja hendak menjawab pertanyaan Ami dengan beberapa penjelasan masuk akal yang tiba-tiba terlintas dikepalanya sebelum telepon di atas meja Ami berdering. Mulut Sakura yang sudah terbuka kembali menutup ketika asistennya memohon diri sebentar untuk mengangkat telepon. Memang sudah jadi aturannya, kalau tiap kali telepon di meja asisten berbunyi haruslah diangkat. Karena biasanya hal yang disampaikan melalui seorang asisten selalu berhubungan dengan perusahaan. Dan Sakura bisa menarik nafas lega, karena setidaknya dirinya bisa terlepas dari obrolan oh-betapa-romantisnya-kalian-berdua dengan Ami.
Beberapa saat kemudian Ami sudah kembali tergopoh-gopoh dengan telepon wireless yang dijepit antara pundak dan telinganya. Kepalanya mengangguk-angguk pelan sambil menggumamkan beberapa kalimat yang tak bisa didengar Sakura mengingat jarak mereka yang masih terpisah beberapa meter. Gadis berambut gelap itu menatap Sakura sepenuhnya sebelum berkata,
"Sakura-san, Direktur ingin bertemu. Beliau sudah menunggu diruangannya."
.
.
.
Seorang pria yang tengah duduk dengan nyaman dikursinya terlihat berusaha keras menahan tawanya. Pada akhirnya, tawa pelan pun keluar dari mulutnya.
"Sudah selesai?" sebuah suara dingin berujar tepat dihadapannya. Namun bukannya berhenti, tawanya malah menjadi-jadi. Beberapa saat setelah derai tawanya selesai pria itupun berdiri dari kursi dan melangkahkan kakinya ke arah jendela. Masih tersenyum geli, lelaki itupun memasukkan sebelah tangannya ke saku celana sebelum memandang sosok yang tengah duduk di kursi tamu dengan tatapan aneh.
"Kau tahu, Sasuke? Dari dulu aku sudah mengira bahwa kau tak akan pernah menikah, tapi sekarang kau membuktikan bahwa aku salah." Ujarnya sambil menyeringai tipis. Dia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar Sasuke menggumamkan sesuatu yang kedengaran seperti baka-aniki dan lain sebagainya. Bagi Itachi, Sasuke sama sekali tak berubah meskipun dia sudah berusia dua puluh dua tahun sekarang. Sasuke masih tetap ototou-nya yang sama, ototou yang dingin dan cuek namun tak mempan dengan godaannya.
"Kau memanggilku kesini hanya untuk menggodaku, eh Aniki? Kau tahu ada hal yang lebih penting dibandingkan membicarakan tentang pernikahanku," Sasuke berkata tanpa memandang kakaknya.
Tatapannya masih terfokus ke benda kotak yang ada di tangannya. Sebuah rubik milik Ryu, anak kakaknya yang tak sengaja tertinggal saat dia dan ibunya berkunjung kemarin. Jemarinya yang panjang bergerak lincah dengan benda itu. Putar ke sini, putar ke sana. Membuat sang kakak hanya terdiam memandang adiknya yang tak beda dengan Sasuke saat masih kecil.
"Maksudmu, soal sabotase itu?"
"Hn."
Ck, masih saja sibuk dengan rubik. Itachi terkekeh pelan.
"Itu hanya masalah kecil, Sasuke. Semuanya sudah diatasi dengan baik. Kau pasti tahu kalau hal sekecil itu takkan berpengaruh apa-apa dengan perusahaan ini."
"Memang. Tapi ini baru ancaman awal. Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan dua product launching yang akan datang." Itachi mengangguk mendengar pendapat Sasuke.
Memang benar, peluncuran produk baru ini memang sudah pasti diwanti-wanti oleh semua rival mereka. Mengingat produk smartphone ini adalah salah satu andalan mereka untuk menarik konsumen dan menjatuhkan lawan.
Tapi, Itachi tak pernah khawatir. Dia tahu betul dengan kemampuan Sasuke. Sejak awal Itachi sudah tahu kalau menempatkan Sasuke sebagai seorang Marketing Manager itu adalah keputusan yang tepat. Otaknya yang hobi dengan angka-angka itu sangatlah pas untuk posisi ini.
Apalagi kalau sudah takdirnya kalau manajer marketing selalu dihubungkan dengan manajer humas. Menempatkan adik iparnya sendiri di posisi manajer humas juga keputusan yang benar untuk dilakukan. Kapasitas Sakura dalam hal berhubungan dengan berbagai pihak dan kepiawaiannya dalam berkomunikasi membuat Itachi dan ayahnya tak perlu berpikir lebih panjang untuk menaruh Sakura di posisi manajer PR.
Ckck, baka ototou-nya ini memang pintar mencari istri. Itachi tersenyum melihat adiknya yang masih bergulat dengan rubik di tangannya. Perhatiannya teralih ketika mendengar ketukan pelan di pintu,
"Masuk,"
Sosok familiar muncul dari balik pintu dan langsung tersenyum manis kepadanya. Itachi balas tersenyum sebelum berkata, "Duduklah, Sakura."
Pergerakan jemari Sasuke tiba-tiba terhenti dari kegiatannya memutar bongkahan rubik kesana-sini setelah mendengar perkataan Itachi. Perhatian Sasuke kini beralih ke Sakura yang berdiri diam dengan mata yang sedikit membelalak seolah-olah tak menyangka dirinya bisa ada disini. Tatapan Sasuke seperti berkata 'Halo? Apa salahnya seorang adik berada di ruang kerja kakaknya sendiri?', namun berikutnya dia hanya diam sebelum kembali memfokuskan dirinya ke rubik yang sedari tadi dipegangnya.
Sakura berjalan pelan mendekati meja Itachi sebelum akhirnya duduk dengan enggan di kursi yang sudah disediakan. Dan sialnya, tepat disamping kursi yang diduduki Sasuke.
"Itachi-nii memanggilku?" sesaat mengatakan kalimat itu, Sakura tertegun. Dia tak menyangka betapa dia terbiasa memanggil pria ini dengan panggilan seakrab itu. Padahal nyatanya, Itachi adalah atasannya di kantor. Dia akhirnya hanya menanti jawaban Itachi.
"Ah iya, sebenarnya ini berkaitan dengan launching produk kita yang baru."
Sakura mengangguk-angguk kepalanya menunggu penjelasan selanjutnya dari Itachi. Mata emeraldnya sedikit melirik ke arah kanan. Dilihatnya Sasuke tengah memainkan rubik yang sedikit lagi sudah selesai dengan sempurna.
Adik macam ini? Tak sopan sekali, jelas-jelas kakak dan sekaligus atasannya sedang berbicara dan lihat saja dia! Masih sibuk bermain seperti anak kecil. Sakura mencibir dalam hati. Dia kembali memfokuskan pikirannya ke Itachi yang juga serius.
"Aku ingin segala sesuatunya sempurna sebelum launching nanti, mengingat produk ini adalah andalan kita untuk musim ini. Apalagi ada dua produk yang diluncurkan sekaligus, hal ini berarti kita harus bekerja dua kali lipat dari biasanya. Selain itu, target utama kita kali ini bukan hanya pasar Asia, melainkan juga pasar Eropa. Kita butuh lebih banyak info tentang cara promosi paling tepat untuk menarik perhatian konsumen di area sana, yang tentu saja berbeda dari orang Asia. Nah, kalian berdua pasti tahu 'kan maksudku?"
"European Consumers Seminar."
Sakura melihat Itachi mengangguk mendengar ucapan singkat Sasuke. Dengan cepat dia mengalihkan matanya ke Sasuke yang kini tengah mengetukkan jarinya di atas meja dengan bosan.
Sejak kapan dia mendengarkan pembicaraan Itachi? Rubik yang tadinya dimainkan Sasuke kini sudah tergeletak diatas meja dengan susunan warna yang sempurna. Sakura benci mengakuinya, tapi untuk kali ini dia dibuat terkagum-kagum dengan otak Sasuke yang dengan cepat menangkap maksud Itachi. Tentu saja Sakura tahu apa itu ECS, tapi dia tak menyangka kalau Sasuke ternyata menaruh perhatian terhadap penjelasan Itachi dan bahkan menebak lebih dulu apa maksud atasan mereka berdua itu.
"Ya, itu maksudku. Aku ingin mengirimkan orang untuk mengikuti seminar itu. Staf ahli dari divisi kalian berdua tentu saja," lanjut Itachi lagi.
Sakura dengan cepat menyusun nama-nama dalam otaknya yang dirasa mampu untuk mengikuti seminar yang setahunya baru akan berlangsung bulan depan. Masih cukup waktu untuk melatih beberapa staf bawahannya itu agar nantinya bisa membawa pulang hal-hal yang berguna sebagaimana yang diharapkan Itachi dan perusahaan mereka.
"Tapi," Itachi terdiam sejenak dan tersenyum lebar kepada Sasuke dan Sakura.
"Mengingat kemampuan kalian berdua saja sama dengan beberapa orang yang pintar di perusahaan ini, aku memutuskan untuk mengirim adik dan adik iparku sendiri ke Jerman bulan depan."
Oh. Itu cukup mengejutkan. Sakura menatap Itachi dengan bingung, beda dengan Sasuke yang menatap kakaknya dengan tajam.
"Aku bisa pergi sendiri kalau hanya untuk hal ini," tukas Sasuke singkat tanpa melemahkan death glare-nya.
"Iya, Itachi-nii. Kurasa lebih baik kalau Sasuke pergi sendiri." Tanpa sadar Sakura menyetujui ucapan Sasuke. Bukan karena alasan apa, tapi hal pertama yang melintas di pikirannya adalah ketika dirinya dan Sasuke harus berada jauh dari negeri ini, dan hanya berdua! Oh, Tuhan.. Bagi Sakura itu neraka. Meskipun sejujurnya dia juga ingin pergi ke seminar yang besar seperti ECS, tapi dia lebih mementingkan kewarasan otaknya yang sepertinya akan terancam kalau berduaan terlalu lama dengan seorang Sasuke.
Sasuke yang mendengar perkataan Sakura hanya memandang wanita itu dengan diam. Seringaiannya muncul. Dia tahu persis apa yang Sakura pikirkan. Dan diapun memikirkan hal yang sama. Tugas keluar negeri bersama dengan wanita segalak Sakura itu sama saja bunuh diri. Lebih baik hanya salah satu diantara mereka yang pergi.
Keduanya tersadar dari pikiran masing-masing ketika mendengar tawa yang keluar dari mulut sosok yang duduk berseberangan dari mereka. Itachi menyeringai lebar kepada keduanya.
"Sebagai orang yang sudah menikah duluan, aku baru tahu ada suami istri yang bertengkar sehabis berbulan madu."
Oh lagi.
Sakura bergerak tak nyaman dikursinya. Tangannya bergerak merapikan poni yang nyatanya masih rapi. Sasuke sendiri mengalihkan pandangannya ke jendela, menolak bertemu muka dengan pria yang lebih tua beberapa tahun dihadapannya.
Hening.
Itachi merasa dirinya seperti pak guru yang menangkap basah muridnya yang tengah mencontek saat ujian. Perlahan, lelaki itu mendekatkan dirinya ke Sakura dan menyeringai tipis.
"Apakah adikku sepayah itu di tempat tidur, Sakura?"
Kedua emeraldnya membelalak kaget.
"Itachi-nii! Bukan begitu, a-ano.. Ehm.. A-aku hanya..Tidak apa-apa." Sakura kesusahan menemukan kata-katanya yang sekan-akan terkunci di tenggorokan. Kami, bisa-bisanya Itachi bertanya seperti itu di depan mereka berdua. Pertanyaan yang terlalu.. Transparan. Wanita itu tak membayangkan seberapa merah wajahnya saat ini.
"Aniki.." ujar Sasuke dingin, namun Sakura dan Itachi tahu kalau satu kata itu penuh dengan ribuan peringatan didalamnya. Sakura bahkan hampir mengira kalau temperatur ruangan ini sudah turun beberapa derajat hanya karena dirinya tiba-tiba merasakan aura dingin dan menyeramkan dari sebelahnya.
Itachi tertawa terbahak-bahak kemudian. Kedua matanya menyipit dan bahunya berguncang karena tertawa.
"Baiklah,baiklah.. Aku hanya bercanda 'kok," Itachi berkata setelah tawanya reda beberapa saat kemudian. Dengan tenang pria berambut panjang itu menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap lekat-lekat kedua orang yang sepertinya salah tingkah didepannya.
"Apapun yang terjadi antara kalian, tolong lupakan. Sasuke, Sakura." Keduanya kembali menatap Itachi mendengar nama mereka disebut.
"Aku tahu kalian berdua adalah karyawan yang profesional. Dan apapun yang terjadi, seperti yang kukatakan tadi, tinggalkan dulu. Dunia kerja itu berat, menuntut profesionalisme seberat apapun masalah orang yang menjalaninya. Aku tak ingin mengambil resiko dengan mengirim orang lain selain kalian berdua karena aku tahu dengan pasti seperti apa kemampuan yang dimiliki kalian. Dan tak ada penolakan sama sekali. Ingat, aku berbicara sebagai seorang Direktur, bukan sebagai keluarga. Keputusanku absolut sebagai seorang atasan. Kalian pasti mengerti 'kan?"
Sakura terdiam. Sasuke memandang Itachi dengan bosan. Dia selalu bingung dengan kakaknya yang bisa berubah tampang secepat itu dari seorang kakak yang menyebalkan ke seorang atasan yang profesional. Dan dia selalu mengagumi hal itu dari kakaknya, tapi tentu saja dia tak pernah mengakuinya.
Itachi tersenyum puas seolah-olah diamnya mereka itu adalah jawaban 'iya' untuknya.
"Ah, iya. Dan kalian harusnya berterima kasih padaku karena hal ini,"
Sakura dan Sasuke sama-sama mengernyitkan alis tak mengerti.
"Anggap saja seminar ini sebagai hadiah bulan madu kalian yang kedua dariku.".
.
.
.
Sakura memandang pintu lift dihadapannya tak sabar. Kedua tangannya terlipat didepan dada. Dia menggerak-gerakkan kakinya dengan dengan bosan.
Ayolah, lift sialan..
Sakura menyumpah-nyumpah dalam hati. Bagaimana bisa kantor semegah ini memiliki fasilitas yang tak memuaskan. Dia sudah berdiri disini selama kurang lebih lima menit dan pintu ini sama sekali belum terbuka. Tangannya kembali terjulur menekan-nekan tombol di dinding samping pintu lift berada dengan gemas.
Oh, lihat. Kini dirinya sudah menyumpah-nyumpah kantor ini bahkan liftnya yang sebenarnya tak bersalah. Sebenarnya dia enggan mengakuinya, tapi dia tak ingin terlalu lama berdiri di koridor ini.
Karena satu hal. Si rambut ayam itu pasti akan segera menuju ke sini segera setelah urusannya dengan Itachi selesai lantaran ruangan Sasuke juga berada di lantai bawah. Dan sialnya, ruangan Sakura juga terletak di lantai 21 yang sudah pasti berada beberapa lantai dibawah lantai ini.
Logikanya, Sakura tak ingin berada di dalam lift yang sama dengan seorang Uchiha Sasuke. Simpel, kan?
Matanya melirik ke koridor yang menuju ke ruangan Itachi. Dia menghela nafas lega setelah yakin kalau sosok yang dihindarinya itu tak muncul-muncul. Namun dirinya masih kesal dengan lift yang ternyata belum terbuka dari tadi. Getaran handphone di saku blazernya mengalihkan perhatiannya untuk meninju lift tak bersalah itu.
Ini pasti Ami. Baru saja Sakura mengirimkan pesan kepada asistennya itu untuk mengecek keadaan dibawah sana.
Watanabe Ami :
Petugas gedung menginformasikan padaku kalau lift-nya baru bisa dipakai 10 menit lagi, Sakura-san.
Sakura menatap LCD handphone-nya dengan tatapan tak percaya. Hampir-hampir wanita ini bermaksud untuk menelan bulat-bulat telepon genggamnya itu. Pada akhirnya dia melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah sofa yang terletak disamping lift dan mendudukkan dirinya disitu. Sakura hanya bisa menundukkan kepalanya dengan lesu sembari memijit keningnya perlahan.
Sepuluh menit.
Sepuluh menit dan dia yakin Sasuke pasti sudah ada disini saat itu juga. Dia benar-benar tak menyangka kalau emosinya hari bakal dikuras habis-habisan hanya dengan memikirkan suaminya itu. Apalagi kalau harus berduaan dengannya. Dia bahkan merasa kalau hidupnya itu bertambah berat hanya dengan memikirkan bahwa dirinya sudah diseret ke paradoks selama enam tahun lamanya. Sakura bertanya-tanya apa yang Sasuke rasakan dengan semua kejadian ini. Lelaki itu selalu memasang tampang cuek dan tak peduli, paling tinggi hanya seringaiannya yang menyebalkan itu. Tak lebih. Berulang kali Sakura berusaha membaca pikiran pria itu, namun sulit. Seakan mustahil.
Sakura mendengus pelan. Untuk apa memikirkan apa yang dia rasakan? Sekarang yang harus dia pedulikan adalah mencari solusi dari masalah ini sebelum dia jadi gila karena terlalu pusing memikirkannya.
Bosan menunggu, Sakura kembali mengangkat handphone-nya dan mengutak-atik benda itu sambil bersandar di sandaran sofa yang empuk. Matanya terfokus ke list schedule-nya yang dikirim oleh Ami ke alamat emailnya. Sebenarnya dia berniat untuk mengecek draft itu di komputer nanti setelah dia sampai ke ruangannya, namun menilik dari keadaan sekarang lebih baik dia membaca schedule-nya secara singkat. Dari daftar yang dikirim Ami, sebenarnya tak ada pertemuan yang berskala besar atau sebangsanya namun Sakura tetap saja mengeluh bahwa kebanyakan pertemuan itu dilaksanakan di dari pagi sampai sore harinya. Otaknya memikirkan cara bagaimana tetap beristirahat dengan jadwal sesibuk ini.
"Apa? Ada gangguan dengan liftnya? Baiklah, kau tunggu aku di lobi bawah saja kalau begitu."
Terdengar suara perempuan di dekat tempat Sakura duduk. Sakura kemudian mengangkat wajahnya sekilas untuk melihat siapa yang sepertinya baru selesai berbicara di telepon.
Perempuan itu kurus langsing, dengan pakaian yang menempel dengan ketat di tubuhnya. High heels-nya yang super tinggi itu memang membuatnya kelihatan tinggi, tapi Sakura yakin bahwa dirinya lebih tinggi dengan wanita yang memakai make-up yang mencolok kalau hanya untuk sekedar bekerja. Dia memang cantik dengan wajah khas model Asia.
Sakura berdehem untuk menahan tawa ketika menyadari betapa pendeknya rok yang dipakai wanita itu. Dia yakin wanita itu akan jadi tontonan kalau sampai dia berjongkok meskipun hanya sedikit. Sakura tak mengatakan bahwa perempuan ini "fashion disaster", tapi seharusnya seorang wanita haruslah tahu busana yang tepat dengan bentuk tubuhnya. Melihat wanita ini seperti melihat tiang yang dipakaikan baju ketat.
Sakura mengalihkan pandangannya kembali ke telepon genggamnya. Berusaha menenggelamkan pikirannya ke schedulenya yang sudah menunggu bagaikan mafia yang menagih hutang.
"Sasuke-kun?" suara wanita itu lagi.
Apa katanya tadi? Sasuke-kun?
Sakura memastikan bahwa dirinya tak salah dengar. Perlahan, dia mendongakkan wajahnya dan dapat melihat dengan jelas sosok tegap, gagah. maskulin yang tengah berjalan ke arahnya dengan sebelah tangan dimasukkan kedalam saku. Atau mungkin bukan ke arahnya. Tapi..
"Sasuke-kun! Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini!" seru wanita langsing itu sambil berlari kecil ke arah Sasuke yang masih berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi. Sakura mengangkat sebelah alisnya bingung sedangkan si bungsu Uchiha menghentikan langkahnya perlahan.
"Karin?" tanya Sasuke yang juga sepertinya tak menyangka kehadiran si wanita yang bernama Karin itu. Mulut Sakura membentuk huruf O.
Ohh.. Jadi mereka saling kenal. Wajarlah, mana ada orang di Jepang terutama di kalangan bisnis yang tak kenal kakak-beradik Uchiha itu? Keduanya sudah seperti selebritis tanpa perlu berusaha keras untuk itu.
Dia kembali menekuni telepon genggamnya.
"I miss you like crazy a lot!" serunya sebelum memeluk erat Sasuke dan mendaratkan kecupan di pipi kiri dan kanan lelaki itu. Sasuke hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapannya terpaku ke arah Sakura yang sedang menunduk menatap handphone di genggamannya sambil bersandar di sofa.
"Sakura?"
Sakura menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan matanya menemukan (sepertinya) pemandangan paling menjijikkan sepanjang hari ini. Dirinya memandang sangsi wanita kurus bernama Karin itu yang tengah bergelayut manja di lengan Sasuke. Mungkin mereka bukan sekedar teman, pikir Sakura.
"Ada apa?"
"Kau masih disini?" tanyanya tanpa memedulikan Karin yang kini menatap kedua orang didekatnya dengan bingung.
"Liftnya rusak. Makanya aku masih disini. Kenapa? Kau tak suka?" ujar Sakura ketus. Mungkin dia tak sadar dengan nada bicaranya sehingga membuat lelaki itu menyeringai tipis.
If I'm not mistaken, she's jea―
"Sasuke-kun, you knew her? Kau stafnya Sasuke-kun, ya?" tanya Karin dengan manja sambil mengeratkan pelukannya di lengan pria itu. Kedua ruby-nya menatap Sakura tanpa minat. Sasuke hanya diam dan menyeringai tak jelas kepada Sakura yang kini sudah melotot kepada Karin.
Wow, pemandangan yang luar biasa dan berapi-api untuk ditonton.
Wanita berambut merah muda itu sudah mau mengomeli si kurus yang enak saja mengatainya bawahan Sasuke. Enak saja, dia adalah seorang Manager of Public Relations di Uchiha Corporation ini, kau tahu?!
Ting.
Tiba-tiba pintu lift terbuka.
Kau beruntunglift sialan ini sudah terbuka, Nona Kurus yang entah siapanya Sasuke.. Sakura berdiri dari sofa dengan sigap. Matanya tak lepas dari dua orang dihadapannya. Dan benar seperti dugaannya, wanita itu bahkan tak mencapai keningnya meskipun dengan heels setinggi itu. Dia berhenti sekilas di samping Karin dan berkata dengan tenang, "Tanyakan saja pada Sasuke-kunmu. Konnichiwa." sebelum menghilang dibalik pintu liftyang kemudian tertutup.
Meninggalkan Karin yang melongo bingung. Dan meninggalkan Sasuke yang masih menyeringai.
Sesaat kemudian Sasuke melepaskan tangan Karin yang sedari tadi melingkari lengannya, membuat wanita itu menatapnya tak percaya. Perempuan berambut merah itu kini menatap Sasuke sepenuhnya dengan rasa ingin tahu yang membara di sekujur tubuhnya.
"Siapa dia, Sasuke-kun?" tanyanya penasaran dengan tampang yang masih kebingungan. Sasuke hanya diam sambil kemudian menjulurkan tangannya untuk menekan tombol lift. Karin menatap sosok tampan di sampingnya dengan tak sabar. Kenapa dia diam saja sih? Wanita itu juga, berambut aneh dan kenapa Sasuke-kun menatapnya seperti itu?
"Sasuke-kun? Jawab pertanyaanku, siapa dia?" Karin merengek manja.
Ting.
Pintu lift sekali lagi terbuka.
"She is my wife, Karin." ujar Sasuke singkat sambil melangkahkan kakinya dengan santai ke dalam lift. Seringaian belum lepas dari wajahnya.
Sekali lagi Karin melongo. Butuh beberapa detik untuk Karin meresapi ucapan Sasuke barusan.
Wife?!
"What?! Eh, Sasuke-kun, tunggu aku!"
Teriaknya tanpa sadar dia sudah seperti orang gila yang bertengger depan pintu lift yang sudah tertutup.
.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
Review Please?
Jangan marah ya tentang sok-sok bisnisnya, hehe :D aku cuma ngarang kok!
Love buat yang udah review, fave and follow. I love ye, guys :3
Sincerely,
Ryuzaki Ryuuga.
