Author's note:

Sedikit tambahan, di sini, nama Victor, saya ganti jadi Viktor. Awalnya saya kira pake C karena ship nya Victuuri, tapi ada juga yang tulis namanya pake huruf K., jadi akhirnya saya putuskan buat mengikuti style mereka. No reason, hanya demen aja lihat keseimbangan hurufnya kalo pake K instead of C. XD

Disclaimer : Yuri on Ice not mine

Rage by Cyancosmic

Warning: AU, Fem!Yuuri, Fem!Yura, OOC, 1st pov

.

.

.

Enjoy!

Yuuri : Promise

"Berita selanjutnya, Viktor Nikiforov, seorang eksekutif muda yang tengah berkunjung ke Jepang masih dikabarkan hilang hingga hari ini."

Tanganku yang tengah mengaduk sup, terhenti sejenak begitu mendengar kabar tersebut. Kepalaku menoleh ke sumber suara, dan menatap ke layar televisi di mana seorang pembawa berita berkulit gelap tengah berbicara. Melihat huruf 'Viktor Nikiforov' terpampang di layar bersama foto pemuda itu, aku pun mematikan kompor dan mendekat.

"Dengan ini, terhitung sudah tiga hari sejak pihak keluarga menyatakan kehilangannya dan menghubungi pihak yang berwajib. Pencariannya pun sudah dilakukan sejak tiga hari yang lalu, namun penyidik masih belum menemukan titik terang."

Kakiku melangkah sembari mendengarkan berita tersebut. Tak sampai sepuluh langkah, aku sudah berada di belakang sofa yang menghadap ke televisi. Sembari meletakkan kedua tangan pada sandaran sofa, aku memerhatikan tamu kami, yang tengah menguasai area tersebut.

Saat kutengok, aku sedikit terkejut melihat pemuda berambut kelabu, dengan wajah yang sama seperti yang terpampang di televisi, berbaring terlentang dengan mata terpejam. Wajah tidurnya begitu damai, dengan dada bidang yang bergerak naik turun. Melihatnya seperti ini, membuatku tidak percaya bahwa pemuda ini merupakan pemuda yang sama dengan eksekutif muda yang tengah diberitakan di televisi.

Kualihkan perhatianku dari pemuda tersebut dan kembali memfokuskan diri pada layar televisi. Si pembawa berita, berambut hitam dengan kulit cokelat gelap tengah berdiri di depan sebuah bangunan. Ia dan beberapa wartawan lain tengah berkumpul, menanti seseorang. Aku luput mendengarkan siapa yang tengah ditunggunya, namun ketika kamera menyorot pada seorang wanita berwajah pucat, dengan rambut diikat tinggi ke atas dan dibentuk bulat, barulah aku sadar.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, wanita itu berkulit putih, hampir pucat. Ia mengangkat rambutnya tinggi-tinggi, berbentuk bulat. Dengan tata rias itu, ia membuat tulang pipinya terlihat semakin tinggi, terlebih ditambah dengan riasan yang mencolok. Sekali lihat pun, aku tahu bahwa wanita ini sangat berbeda dengan wanita paruh baya pada umumnya. Melihat wanita ini membuat perhatianku terfokus padanya, hingga lagi-lagi aku mengabaikan apa yang tengah disampaikan oleh si pembawa berita.

Namun sepertinya aku tidak perlu khawatir, begitu perhatianku sudah mulai fokus, aku bisa melihat si pembawa berita bersama wartawan lain tengah menodongkan mike pada wanita itu. Mereka semua mengajukan pertanyaan secara bersamaan. Aku hanya dapat mendengar sedikit dari apa yang mereka sampaikan, seperti…

"Madame Lilia, mohon komentar Anda mengenai berita kehilangan putra Anda."

"Madame Lilia, perusahaan Nikiforov terancam kehilangan pewaris tunggalnya, bagaimana komentar Anda mengenai masalah ini?"

"Madame Lilia, apakah benar isu yang mengatakan bahwa putra Anda telah diculik dan dibunuh oleh saingan bisnis keluarga Rusia?"

"Madame, apakah Anda punya dugaan siapa pelakunya?"

"Satu pertanyaan, Madame!"

Para wartawan memanggilnya dengan sebutan 'Madame Lilia'. Terus terang, aku tidak tahu siapa wanita bernama 'Madame Lilia' yang ditayangkan di televisi saat ini. Hanya saja, mendengar para wartawan mengait-ngaitkan nama Nikiforov, kemudian menyebut-nyebut soal pewaris tunggalnya, kurasa aku bisa menebak sendiri bahwa wanita ini mungkin Ibu dari Viktor Nikiforov. Walaupun aku sedikit menyangsikannya karena sosoknya tidak terlihat mirip dengan sosok si anak.

"No comment!" Wanita itu menjawab dengan tegas. Kepalanya tetap ditegakkan dan matanya menatap ke depan, mengabaikan para wartawan yang bertanya. Sikapnya yang seperti itu membuat para wartawan pun bergeming. Alih-alih mengajukan pertanyaan, mereka malah membuat jalan bagi wanita itu dan membiarkannya lalu dari hadapan mereka bahkan sebelum tim keamanan bertindak. Hanya cameramen yang tetap menyoroti wanita itu hingga akhirnya ia masuk ke dalam sebuah mobil dan menutup pintu. Baru setelah itu pesona wanita itu menghilang dan kamera kembali fokus pada si pembawa berita.

"Seperti yang sudah diduga, Madame Lilia selaku pihak keluarga tidak memberikan informasi apa pun," ujar si pembawa berita sambil menggelengkan kepala, menunjukkan dengan jelas kekecewaannya. Ia menatap ke kamera, mengangkat bahunya dan berkata, "Sekian sekilas berita, nantikan kami dengan berita selanjutnya. Dari lokasi, saya Phicit Chulanont melaporkan."

Pemandangan di layar televisi berubah, digantikan dengan studio di mana seorang pembawa berita wanita tengah duduk dengan beberapa dokumen. Ia tersenyum dan kembali membacakan berita yang hendak disampaikannya. Aku masih bertahan, menatap layar televisi selama beberapa saat, sebelum kehilangan minat dengan berita yang lain. Begitu mulai bosan, aku pun meninggalkan sofa dan berjalan kembali ke kompor yang sebelumnya kutinggalkan. Kunyalakan kembali kompor, sementara tanganku yang lain meraih sendok. Kuaduk isi sup di panci yang tengah kupanaskan sembari memikirkan berita yang baru saja disampaikan.

Mengikuti hitungan si pembawa berita, berarti ini sudah hari ketiga semenjak aku menemukan pemuda berambut kelabu itu. Sejak saat itu, aku sudah membiarkannya tinggal di rumahku, mengobati luka-lukanya dan memberinya makanan yang cukup untuk memulihkan kondisinya. Aku mengganti perbannya dua kali sehari, juga membubuhkan obat luka agar semua jaringan yang terbuka dapat segera menutup. Berkat itu, aku bisa dengan bangga menyebutkan bahwa hampir semua luka-lukanya sudah menutup dan akan segera mongering.

Memang harus kuakui, luka sebelumnya cukup parah. Banyak luka sayatan, luka tusukan dan luka gores di sekujur tubuhnya. Aku bersyukur tidak ada luka tusukan yang dalam atau luka tembak yang parah. Kalau tidak, mustahil aku dapat merawatnya seorang diri dengan bermodalkan perban, alkohol dan obat luka.

Hanya saja, sekalipun aku sudah cukup telaten merawatnya, kondisi pemuda itu tetap mengkhawatirkan. Aku mengira pemuda itu sudah membaik karena luka-lukanya sudah mulai menutup. Namun melihatnya yang lebih sering tertidur dibanding pemuda pada umumnya, membuatku ragu. Berhasilkah pengobatan yang kuberikan? Atau justru salah? Apakah sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit dan membiarkan para perawat yang mengambil alih tugasnya?

Sungguh! Aku memang berniat membawanya ke rumah sakit. Hanya saja, teringat perkataan pemuda itu sebelum aku memapahnya membuatku ragu.

"Po…"

"T-tunggu sebentar," ujarku yang gemetaran sambil mengeluarkan sebuah handphone. "B-biar kupanggilkan ambulans untuk merawatmu. Kau… kau harus segera diobati."

Sebelum aku sempat menekan tombol-tombol di layar handphoneku, pemuda yang hendak kutolong malah menghalau tanganku. Ia membuat handphoneku jatuh dengan layar lebih dulu menghantam jalan. Alhasil, sebuah retakan panjang kini tertera di layar handphoneku.

Ketika aku hendak mengajukan protes akibat tindakannya, pemuda berambut kelabu itu malah menggenggam tanganku erat dan berkata, "Jangan!"

"J-jangan?" Aku mengerutkan dahi saat mendengar ucapannya. "Apanya yang…"

"Jangan...," ucapnya sambil berjengit, "ambulans… rumah sakit… tidak…"

Dahiku berkerut mendengar bahasa Jepang yang patah-patah itu. Aku terdiam selama beberapa saat sebelum mencerna ucapannya menjadi, "Jangan panggil ambulans? Kau tidak mau ke rumah sakit?"

"Tidak," jawabnya dengan tegas, sementara tangannya tetap menggenggam tanganku erat. "Tidak mau."

"Tapi kau terluka," ucapku sambil menatap kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya, "kalau tidak memanggil ambulans, kau mungkin bisa mati."

"Tidak," ujarnya, begitu yakin. "Pokoknya tidak."

Mendengarnya berkata dengan penuh keyakinan, aku pun mendecak. Yang bersangkutan sendiri enggan dibawa ke sana, bagaimana caranya aku menyelamatkannya? Aku tidak mengerti kenapa ia tidak mau ke rumah sakit, namun, aku tidak bisa berlama-lama memikirkan alasannya karena sadar bahwa pemuda ini harus segera diselamatkan.

Ia berjengit saat mengucapkannya, sehingga aku kembali berkata, "Tapi kalau tidak segera ditangani akan berbahaya, kau bisa…"

"Tidak!" Ia bersikeras sementara tangannya mencengkeram tanganku dengan erat. "Tidak aman."

Rupanya itu sebabnya, jadi baginya rumah sakit bukanlah tempat yang aman untuk mengobati luka-luka di tubuhnya. Aku pun kembali berpikir. Kalau keamanan adalah masalah utamanya, bagaimana kalau mendatangkan polisi? Mungkin kehadiran mereka bisa memberikan rasa aman?

Namun saat aku menyampaikan solusi tersebut, pemuda itu malah semakin berjengit. Ia mengguncang-guncangkan tanganku dan berkata, "Tidak… polisi…," ujar pemuda itu sembari mencengkeram tanganku dengan seluruh kekuatannya. "Tidak…"

Lagi-lagi. Polisi tidak, rumah sakit tidak. Padahal menurutku hanya dua tempat itu yang dapat menampung orang terluka sepertinya. Kalau keduanya bukan merupakan opsi yang memungkinkan, lalu ke mana lagi aku harus membawanya? Masa aku harus membawanya ke rumahku? Yura bisa marah be…

Apa sebaiknya kubawa ke rumah saja?

Pemuda itu menundukkan kepalanya, napasnya mulai tersengal dan tangannya gemetar. Ia menggigil dengan bibir yang sedikit membiru. Melihatnya, aku pun sadar bahwa aku telah menghabiskan banyak waktu dengan berdiam diri dan mengajaknya bicara. Aku harus segera membawanya ke suatu tempat, yang lebih hangat dibanding di jalanan.

Karena itu, kucoba memikirkan opsi lain yang lebih baik. Tidak di rumah, apa aku bisa menampungnya di bar JJ? Atau mungkin di minimarket tempatku bekerja dan akan kujemput nanti? Mungkin manajer minimarket dapat memaklumi perbuatanku?

Seolah memahami kesulitanku, pemuda itu mengguncang lagi tanganku, membuat perhatianku kembali padanya. Begitu iris cokelat milikku bertemu kembali dengan iris matanya, pemuda itu pun berkata, "Jangan… orang… terlihat…"

'Jangan orang terlihat?' Apa maksudnya? Apa dia tidak ingin diketahui orang? Kalau tidak ingin diketahui orang maka satu-satunya tempat yang dapat kupikirkan hanya di apartemenku. Tapi bagaimana dengan Yura kalau ia tahu bahwa aku menampung orang yang telah membunuh Yakov?

Pemuda itu menyadari keragu-raguanku, sehingga ia berkata, "Kau… tidak menolongku?"

"Apa?"

"Kau… juga pembunuh?" Ia bertanya padaku. "Suruhan…"

"Pembunuh? Aku?" Kutunjuk diriku sendiri. "Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mau membunuh orang, tidak mungkin aku pembunuh. Aku… aku hanya…"

Kusadari, semakin lama kami berdiam diri di sini, kondisi tubuh pemuda ini akan semakin memburuk. Aku menggigit bibir bawahku, menyadari bahwa kemungkinannya hanya dua, yakni membiarkannya di sini, atau membawanya ke rumah. Kalau meninggalkannya di sini, berarti aku sama saja dengan seorang pembunuh, tapi kalau aku membawanya ke rumah, Yura mungkin akan membunuhku. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?

Viktor Nikiforov tetap menundukkan kepala, membuat rambut perak kelabunya menghalangi wajahnya. Ia tidak lagi meminta tolong. Pemuda itu sudah menyerah dan lebih memilih untuk berdiam diri, menghemat tenaganya. Melihatnya seperti ini, aku pun akhirnya menghela napas.

"Tidak rumah sakit, tidak polisi," ucapku sambil mengalungkan tas selempanganku padanya, juga memakaikan jaket yang kukenakan padanya. "Kau jangan protes bila cara pengobatanku buruk. Aku tidak punya lisensi medis soalnya."

Benar. Aku tidak punya lisensi medis. Aku sudah memperingatkannya dan akhirnya pemuda ini malah kehilangan ingatan. Memang bukan salahku hingga ingatannya lenyap, tapi belakangan aku berpikir, apa ia mengalami amnesia karena aku tidak membawanya ke rumah sakit? Apakah jangan-jangan kepalanya terbentur atau ada organ internalnya yang terluka sehingga ia terkena amnesia?

Memikirkan hal itu, membuatku tidak menyadari bahwa supku telah mendidih. Ketika aku mendengar bunyi mendesis, barulah aku panik dan segera berlari ke arah kompor. Dengan terburu-buru, kumatikan kompor dan menunggu sebentar hingga buih di panci menghilang sebelum menuangkannya ke mangkuk dan kutambahkan seledri sebagai penghias. Setelahnya, aku pun mengambil nampan, dan membawanya ke ruang keluarga untuk kuletakkan di atas coffee table.

Aku memang sengaja membuatkan sup ini untuk pemuda yang tengah terbaring di atas sofa itu. Kondisi kesehatannya yang masih belum stabil membuatku ragu untuk memberikannya makanan padat, sehingga Yura marah-marah padaku. Benar katanya, aku memberikan pembunuh Yakov makanan yang bergizi untuk kesembuhannya, sementara adikku sendiri kubiarkan memakan kol dan miso yang tidak ada gizinya.

Sebenarnya apa yang kupikirkan waktu itu? Kenapa aku menyelamatkan Viktor? Aku sadar bahwa pemuda ini adalah pembunuh Yakov. Aku sadar bahwa orang ini berbahaya dan bisa saja mengancam keselamatan Yura dan aku. Tapi kenapa aku malah mengundangnya ke rumah dan merawatnya hingga seperti ini? Kenapa aku memedulikan keselamatannya padahal ia telah merenggut keluarga yang kami miliki?

"Ng…"

"Oh!" gumamku begitu melihat kelopak mata pemuda itu mulai bergerak. Menyadari bahwa ia akan segera terbangun, aku pun pindah dari sofa menuju ke bagian lengannya. Kubiarkan pemuda itu menggerakkan kaki dan merentangkan tangan terlebih dahulu sebelum kedua iris toscanya memandangku. "Ohayou, Viktor!"

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihatku berada di dekat kakinya. Sedikit terkejut, ia pun melipat kaki dan berkata, "Ohayou, Yuuri!" Ia menguap terlebih dahulu dan mengalihkan perhatiannya pada televisi yang tak dimatikan. "Aku tertidur lagi?"

Kuanggukkan kepalaku sementara pemuda itu mengumpulkan kesadarannya. Pandangannya pun beralih, dari layar televisi menuju ke sup yang kuletakkan di atas coffee table. "Ini…"

"Kau terbangun di saat yang tepat," ujarku sambil mengulurkan mangkuk tersebut ke arahnya. "Aku baru saja selesai membuatkan sup kaldu."

"Sup kaldu?" Ia bertanya, masih mengerjapkan mata sebelum akhirnya ia mengulurkan tangan. Begitu mangkuk tersebut sudah berada dengan aman di tangannya, pemuda itu berjengit, sehingga membuatku memberikan piring kecil untuk menempatkan mangkuk agar tidak terlalu panas saat dipegang.

"Sup dari sari daging dengan campuran labu, irisan daging ayam dan kentang," jawabku sambil memberikan sendok untuknya begitu mangkuk tersebut sudah berada dengan aman di pahanya. Melihatnya hanya tertegun sambil menatap sup itu, aku pun kembali berkata, "A-anu… apa kau tidak suka sup kaldu?"

Pemuda itu menatapku, dan menggelengkan kepala sembari menebarkan senyumnya, senyum yang sama dengan yang dulu kulihat bersama Yura. "Bukan, bukan itu. Boleh kumakan?"

Aku mengangguk sembari menyerahkan sendok padanya, "Silakan."

Kubiarkan pemuda itu menyendok sup dari mangkuk dan meniup-niup-nya terlebih dahulu. Ia melakukannya sedikit lebih lama, berharap bahwa suhu panasnya dapat lebih berkurang dengan melakukannya. Setelah dirasanya cukup dingin, baru dimasukkannya sup itu ke mulutnya.

"Bagaimana…?" Aku menatapnya dengan takut-takut. "Apakah… tidak enak?"

Viktor menggelengkan kepalanya dan kembali menyeruput sup yang kubuatkan. "Aku masih bisa memakannya."

Aku bernapas lega mendengar komentarnya. Mungkin makanan ini tidak sama seperti makanan Rusia, tapi mendengarnya masih bisa memakannya, kupikir mungkin itulah komentar terbaik yang dapat diberikannya untuk masakanku. Jadi kuanggukkan kepalaku dan kubiarkan pemuda itu menikmati makan siangnya.

Ketika melihatku hanya duduk dan menatapnya, pemuda itu pun berkata, "Yuuri tidak makan?"

"Nah, aku sudah kenyang saat mencicipinya," dalihku.

"Tapi…"

'Ting-Tong'

Bunyi yang tak disangka-sangka itu membuat Viktor menghentikan ucapannya dan menggerakkan kepala menuju ke sumber suara. Mengikuti contohnya, aku pun menggerakkan kepala ke arah pintu sembari beranjak dari sofa. Aku memiringkan kepalaku sejenak, menerka-nerka, siapa gerangan yang berdiri di balik pintu apartemenku.

Tanpa banyak berpikir, aku pun berjinjit dan mengintip melalui lubang kecil yang ada di pintu. Dari tempatku berdiri, bisa kulihat dua orang pemuda tengah berdiri di depan pintu rumahku. Salah satu dari mereka berambut keemasan dengan highlight merah menyala di bagian poninya, sementara yang satunya lagi berambut hitam dan gelap. Mereka berdua mengenakan seragam yang sama dengan petugas yang kulihat di televisi ditambah dengan topi di kepala mereka.

Menyadari identitas keduanya, buru-buru aku berbalik menuju ke sofa. Kusambar mangkuk juga piring yang sedang dipegang oleh Viktor dan kuletakkan di atas coffee table. Lalu kutarik tangan pemuda itu dan memaksanya untuk beranjak dari sofa. Pemuda itu mengerutkan dahi dan hendak membuka mulut untuk bertanya, namun aku lebih dulu mendorongnya ke ruangan terdekat yang dapat kutemukan.

"Yuuri?"

Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaannya. Tanganku mendorong pemuda itu sementara pandanganku kembali ke pintu depan ketika mendengar bel pintu kembali berbunyi. Panik menyerangku, sehingga aku buru-buru menarik gagang pintu, hendak menutupnya tanpa menjelaskan apa pun. Sayangnya, pemuda ini tidak puas kalau aku belum memberikan penjelasan, sehingga ia menahan tanganku.

"Ada apa?" Ia bertanya, nadanya begitu tegas, mengingatkanku akan kekeras kepalaannya sewaktu aku menolongnya. "Siapa di depan?"

"Di depan," ucapku sambil menunjuk ke pintu, "polisi."

Kepala pemuda itu bergerak sedikit mendengar ucapanku. "Polisi?"

Aku mengangguk, "Aku tidak tahu kenapa mereka ada di depan pintu, tapi sebaiknya kau bersembunyi di kamar. Oke?"

Viktor masih diam di tempatnya, bergeming. Ia tentu takkan beranjak kalau suara ketukan tidak terdengar dan membuatnya mundur ke belakang. Melihatnya berbalik, aku pun tak membuang waktu dan segera menutup pintu kamar. Sebelum bergerak ke pintu depan, aku memutar kepala, mencari-cari sesuatu yang dapat kujadikan alasan untuk menghadapi dua petugas yang berdiri di depan pintu.

Tanpa berpikir lagi, kusambar selimut yang sebelumnya kugunakan untuk menyelimuti Viktor. Aku menyampirkan selimut itu ke tubuhku dan kuacak-acak rambutku. Aku juga mengeluarkan obat-obatan yang ada di kotak P3K untuk diletakkan di atas coffee table. Baru setelahnya, kakiku melangkah menuju ambang pintu.

Ketika pintu mengayun dan sinar mentari siang hari menyusup masuk, aku bisa melihat dua orang pemuda berseragam berdiri di hadapanku. Seperti yang kuintip dari lubang pintu, di hadapanku berdiri dua orang pemuda, di mana yang satu berambut hitam dan yang satunya lagi berhiglight merah. Si rambut hitam menatapku penuh intimidasi dengan matanya yang memicing tajam, berbeda dengan si highlight merah yang tersenyum sembari meraih tanganku.

"Konnichiwa!" Si highlight merah berkata sembari menunjukkan giginya yang putih berkilau. "Hampir saja kami mengira tidak ada orang. Lama sekali Anda membukakan pintu?"

Aku berusaha membalas senyumannya, walaupun tanganku sedikit gemetar karena gugup. "M-maaf, kukira aku masih bermimpi tadi."

"Bermimpi?" Petugas yang berbicara itu mengulang ucapanku. "Kau… baru bangun tidur? Jam segini?"

Aku mengangguk, "Aku sedang sakit."

Lawan bicaraku itu mengangguk kecil, tampak paham saat mendengar penjelasanku. Melihatnya memercayai kebohonganku sedikit membuatku bernapas lega. Paling tidak, yang satu ini sepertinya masih bisa kuatasi. Entah dengan pemuda berambut hitam di sebelahnya yang terus memberikan tajam semenjak aku keluar menemui keduanya.

"Boleh kami berkunjung ke dalam?" tanya si rambut hitam.

"E-eh?" Aku terkejut mendengar kedua petugas itu tiba-tiba berkata ingin berkunjung. "K-kenapa tiba-tiba…"

Tanpa banyak bicara, si rambut hitam mengeluarkan sebuah surat dan amplop untuk diserahkan padaku. Sementara aku membaca, pemuda itu menjelaskan isi suratnya dengan berkata, "Kami diperintahkan untuk mencari seorang pemuda, dan kabarnya pemuda itu pernah terlihat di apartemen ini. Makanya kami memeriksa setiap unit untuk menemukan pemuda itu."

Mendengar penjelasannya, aku langsung paham siapa yang dimaksud. Berita di televisi, kedatangan kedua petugas ke apartemenku untuk mencari seorang pemuda langsung membuatku memahami kondisinya. Mereka mencari Viktor rupanya. Untung saja aku sudah lebih dulu memaksanya bersembunyi sebelum mereka masuk.

"Mencari seseorang?" Aku berpura-pura mengerutkan alis. "Siapa?"

"Viktor Nikiforov," jawab yang rambut hitam, tidak menutup-nutupi. "Apa kami boleh masuk?"

Kupaksakan kakiku untuk bergeser dari pintu, mempersilakan kedua pemuda itu masuk. Walaupun enggan, akan lebih mencurigakan bila aku mengarang-ngarang alasan untuk menahan mereka. Aku berdoa, semoga di dalam sana, Viktor menemukan tempat bersembunyi yang tak dapat ditemukan oleh kedua petugas ini.

"Anda tinggal sendiri?" Si highlight merah menyala bertanya ketika melihat mangkuk yang kuletakkan di atas coffee table.

"O-oh tidak, aku tinggal dengan adik perempuanku," jawabku sambil melangkah masuk mengikuti kedua pemuda yang tengah menyapukan pandangan ke ruang keluarga sekaligus ruang makan milikku. "Kami hanya berdua."

Petugas yang bertanya sebelumnya menggumamkan 'Oh' panjang, sementara pandangan matanya memandangi foto-foto yang kuletakkan di samping televisi. Ia mengangkat salah satu bingkai foto yang kuletakkan di sana dan menunjukkannya padaku. "Yang berambut pirang ini adikmu?"

Mendengar pertanyaannya, aku pun mengangguk. "Ya, dia adikku."

"Kalian tidak mirip," jawabnya sambil melihatku dan menatap kembali foto di tangannya. "Kok bisa adikmu seperti orang asing? Apa orang tua kalian berbeda?"

"Ah, memang banyak yang berkomentar seperti itu," jawabku. "Orang tua kami berbeda. Itu saja."

Petugas yang berhighlight merah itu menganggukkan kepalanya dan tidak menanyakan lagi perihal orang tua kami. Ia kembali menjelajah, menuju ke dapur dan membuka lemari tempatku menyimpan piring juga panci. Diamatinya isi dalam lemariku selama beberapa saat sebelum pemuda itu menutupnya kembali dan memutuskan untuk beralih pada hal lain.

Setelah beberapa saat mengamati dan menelisik bagian dalam lemari, pemuda itu berkata pada rekannya yang berambut gelap. "Menemukan sesuatu, Seung-Gil?"

Pemuda berambut hitam yang dipanggil Seung-Gil itu menutup cabinet di samping kulkas dan menggelengkan kepalanya. Sikapnya membuat pemuda yang behighlight merah menyala itu kembali menghela napas dan berkata, "Sudah kukatakan, menyelidiki satu-satu di apartemen itu percuma. Siapa sih yang memberikan laporan bahwa pemuda itu terlihat di sini?"

"Anu… Viktor Nikiforov yang dibicarakan ini, apakah sama dengan pemuda jutawan dari Rusia yang dibicarakan di televisi?"

Mendengar pertanyaanku, perhatian keduanya kembali beralih padaku. Lalu salah satu dari mereka, "Benar, yang itu."

Aku menganggukkan kepala mendengar pernyataan tersebut. "Di berita, baru saja disebutkan bahwa ia menghilang… Apakah itu sebabnya?"

Petugas yang lebih banyak bicara, si highlight merah, mengangkat tangannya ke belakang kepala. Lalu ia berkomentar, "Ini gara-gara ada laporan dari salah seorang warga yang mengatakan bahwa ada yang melihat pemuda yang mirip dengan Viktor Nikiforov di sini. Gara-gara itu, kepolisian pusat sampai heboh dan menugaskan kami untuk menyelidiki unit apartemen satu persatu."

"Kau tidak perlu menjelaskan serinci itu padanya!" Si rambut hitam mengingatkan. "Dia bisa saja orang yang menyembunyikan pemuda itu di unit apartemennya."

"Eh?" Si highlight merah terdengar kaget saat mendengar dugaan pemuda itu. Aku sendiri sempat berkeringat dingin saat mendengar perkataannya, namun menutupinya dengan tertawa getir. "Tidak mungkin! Dia saja tidak menduga bahwa Viktor yang dimaksud adalah Viktor yang sama dengan di televisi. Bagaimana mungkin dia pelakunya?"

"Dia bisa saja bersandiwara," jawab si rambut hitam sembari bergerak ke pintu kamar Yura yang tertutup. Ia tidak menunggu izinku dan langsung mendorong pintu kamar, mengamati isi di dalamnya. "Mungkin saja ia menyembunyikan pemuda itu di salah satu ruangan ini."

"Mana mungkin!" Petugas yang satu mengucapkannya sambil mencibir. Biarpun begitu, ia ikut menyelidiki dan menyingkap selimut yang dihamparkan Yura di atas ranjangnya. "Kalau tidak ada di sini, kau akan mentraktirku Katsudon."

"Diam dan kembalilah bekerja!" Si rambut hitam menjawab sembari menutup pintu lemari. Ia telah selesai mengamati dan hendak menuju ke pintu terakhir yang berada di samping kamar Yura. "Kalau kutemukan, kau harus memberikanku jatah makan siangmu selama seminggu."

"Apa? Tidak adil!" Rekannya balas menjawab sembari mengikuti si rambut hitam yang telah membuka pintu kamarku. "Kalau begitu, aku juga mau ditraktir Katsudon satu minggu penuh bila kau tidak berhasil menemukannya."

"Mimpi saja sana!"

Mendengar jawaban sinis pemuda itu, si highlight merah kembali merengek. Mereka bertukar kata sembari menyingkap selimut di kamar, membuka lemari pakaian dan menyingkap gorden. Biarpun mereka melakukannya sembari bercanda, aku sama sekali tidak bisa menikmatinya. Malahan aku gelisah hingga membuat keringat dingin membasahi telapak tangan dan pelipisku.

Apakah Viktor berhasil mendapatkan tempat sembunyi yang aman? Ia tidak ada di lemari, di bawah ranjang dan di jendela, lalu di mana dia? Tempat mana lagi yang dapat dijadikan tempat persembunyian selain di sana? Bagaimana kalau ia ketahuan? Apakah kedua petugas ini akan menangkapnya? Kalau mereka menangkapnya, lalu bagaimana denganku? Apakah mereka akan menangkapku juga karena telah menyembunyikannya? Jujur saja, aku tidak berpikir sejauh itu ketika memutuskan untuk membawanya.

Detik demi detik yang mereka habiskan di kamarku, terasa bagaikan bertahun-tahun untukku. Ketika akhirnya keduanya keluar dari ambang pintu dan menemuiku, barulah aku merasa lega. Terlebih ketika si rambut hitam menyuarakan kekesalannya dan berkata, "Sial!"

"Katsudon seminggu!" Si highlight merah berkata sambil menunjuknya. "Yay!"

"Aku tidak pernah menjanjikan itu," balas si rambut hitam sambil menatapnya sinis. Ia berjalan melewatiku, menuju ke pintu keluar. "Kupikir ia ada di sini karena terlalu banyak yang mencurigakan."

"T-terlalu banyak yang mencurigakan?" Aku mengulang ucapannya. "Apa maksudnya?"

"Ah, jangan dipikirkan!" Rekannya yang berada di sampingku tersenyum, mencoba menenangkanku. "Seung-Gil menemukan baju-baju yang kebesaran di lemari pakaianmu sehingga ia menduganya sebagai pakaian Viktor. Tapi selera bajunya tidak seperti itu dan kami juga tidak menemukan sepatu pria di rumahmu, sehingga kami tidak yakin."

"Kenjirou Minami!" Si rambut hitam mengingatkan. "Sekali lagi kau membocorkan analisaku pada penduduk sipil, akan kusolatip mulutmu."

"Yah, dia marah," jawab si highlight merah yang baru belakangan kuketahui bernama Kenjirou Minami. "Jangan dipikirkan! Ia hanya kesal karena hipotesanya tidak terbukti. Seung-Gil sering mencoba membuat hipotesa, tapi tidak pernah ada yang terbukti benar."

"Minami!"

"Baik, baik," jawab si highlight merah ketika mendengar peringatan rekannya. Kali ini ia kembali tersenyum di hadapanku dan berkata, "Nah, kalau begitu kami permisi dulu. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat Anda."

"O-oh ya," jawabku. "Tidak masalah."

"Selamat istirahat." Si highlight merah berkata sambil membungkukkan kepala sedikit. Setelahnya, ia langsung berbalik dan mengikuti rekannya yang telah membunyikan bel di unit lain.

Melihat keduanya sudah mengalihkan perhatian, aku pun menutup pintu dengan segera dan menguncinya rapat-rapat. Aku menyentuhkan dahiku pada daun pintu selama beberapa saat, sebelum aku berbalik dan menjatuhkan seluruh bobotku ke lantai. Kuangkat tanganku dan kututup wajahku selama beberapa saat untuk menenangkan diri.

Bodohnya. Aku benar-benar bodoh. Kedua petugas datang ke rumahku, tapi alih-alih menyerahkan pemuda itu, aku malah memilih untuk menyembunyikannya. Padahal akan jauh lebih baik bila pihak yang berwajib mendapatkan pemuda itu. Bukankah mereka tengah mencarinya atas permintaan pihak keluarganya? Tapi kenapa aku malah bersikeras menyembunyikannya? Bukankah jauh lebih baik bila pemuda ini segera dikembalikan ke keluarganya? Oh Tuhan! Jangan-jangan aku telah membuat keputusan yang salah.

Ketika aku tengah berpikir demikian, bayangan seseorang menghalangi pandanganku, membuatku menggerakkan kepala dan menatap ke depan. Pemuda berambut perak kelabu yang seharusnya kukembalikan pada orang tuanya itu berdiri di hadapanku dan berjalan mendekat. Ia pun menekuk satu kakinya sementara iris biru kehijauannya menatapku.

Ekspresi di wajahnya membuatku tertegun selama sesaat. Aku tak pernah mengira akan menemukan alis yang tertekuk, dengan iris mata yang tak memandangku lurus. Melihatnya, rasanya seperti bukan Viktor. Viktor yang asli, tidak akan pernah menunjukkan ekspresi ketakutan seperti itu. Ini..

"Kau takut?" Aku bertanya ketika melihat ekspresinya. "Pada keduanya?"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bukan itu."

Mungkin pemuda ini hanya mengelak, mungkin sebenarnya pemuda ini memang ketakutan hanya enggan mengakuinya. Aku sendiri pun tidak ingin membuka diriku pada orang yang baru kukenal. Terlebih lagi, bila aku mengalami amnesia dan tidak tahu mana orang yang dapat kupercaya untuk menunjukkan diriku yang sebenarnya.

"Tidak apa," ucapku sambil menyentuh punggungnya. "Aku mengerti."

"Apa… yang kau mengerti?" Ia bertanya ketika aku mendekat dan menaruh kepalaku pada bahunya.

"Kau ketakutan," ucapku. "Kau ketakutan karena berpikir, aku akan menyerahkanmu pada mereka."

Perkataanku membuatnya bergeming. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Kurasa tebakanku benar. Pemuda ini takut, namun bukan kedua petugas itu yang ia takutkan. Ia hanya takut, dibawa oleh orang asing setelah setengah mati berusaha beradaptasi dengan ingatannya yang sekarang.

"Tidak apa-apa," ujarku lagi, "aku tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun."

"Yuuri?"

"Jangan khawatir! Kau aman di sini."

Kutepuk punggungnya perlahan sementara kepalaku bersandar padanya. Aku tidak tahu berapa lama aku melakukannya, hingga akhirnya, kepala pemuda itu pun diletakkan di atas bahuku dan disusul dengan sebuah benda dingin yang jatuh mengenai kulitku.

"Viktor?"

Pemuda berambut perak kelabu yang kutanyai itu masih menundukkan kepala, tanpa mengucapkan apa-apa. Ia terus diam hingga akhirnya ia berkata, "Jadi… Yuuri akan melindungiku?"

"Apa?"

"Kata Yuuri di sini aman," ucap pemuda itu. "Jadi artinya aku boleh tinggal di sini dan Yuuri akan melindungiku?"

Kuanggukkan kepalaku, "Sampai ingatanmu kembali, aku yang akan melindungimu."

Ia menggerakkan sedikit kepalanya, hingga hidungnya menyentuh leherku. "Begitu…"

"Ng…Viktor ini…"

Kepala pemuda itu diangkat tak lama setelah aku mengucapkannya. Iris tosca yang memesona itu menatapku sekali lagi sebelum kedua tangannya memelukku erat. Kemudian pemuda itu pun berkata, "Kalau begitu, berjanjilah! Berjanjilah Yuuri takkan menyerahkanku pada orang lain! Berjanjilah bahwa Yuuri akan selalu melindungiku!"

"A-ah ya, aku berjanji." Aku mengucapkannya tanpa banyak berpikir. Tak mempertimbangkan lebih lanjut, perkataan yang telah kuucapkan. Aku hanya spontan mengucapkannya semata-mata untuk menenangkan seorang pemuda yang ketakutan, di mataku.

Ia melepaskan pelukannya dariku setelah aku selesai berjanji. "Terima kasih, Yuuri!"

"O-oh," ucapku ketika melihat senyumannya ketika mengucapkan terima kasih.

Viktor pun mengangguk ketika mendengarku menanggapi ucapannya dan menurunkan kedua tangannya dariku. Setelahnya ia berbalik dan kembali menuju ke sofa, tempatnya berbaring. Ia duduk di sana lebih dulu dengan tangan terulur untuk mengambil mangkuk yang sebelumnya ditinggalkan. Lalu ia berkata, "Ah, supnya jadi dingin."

"Oh, biar kuhangatkan!" Aku berkata sembari bangkit berdiri dan hendak mendekat padanya. Namun begitu aku bangkit, sesuatu terjatuh dan menghantam lantai dengan bunyi berdenting. Bunyinya yang tak biasa itu, akhirnya membuatku membungkukkan badan untuk mengamati lebih jelas.

Aku sedikit heran melihat ada sebuah garpu berwarna perak yang terjatuh di dekat kakiku. Seingatku, aku tidak membawa-bawa garpu ketika membukakan pintu untuk kedua petugas tadi. Kenapa garpu itu bisa ada di dekat kakiku?

"Yuuri?"

Suara Viktor kembali mengalihkan perhatianku. Tanpa memikirkan lebih lanjut soal garpu tersebut, aku mengambil peralatan makan tersebut dan berjalan mendekat pada Viktor.

"Tunggu sebentar ya, akan segera kuhangatkan."

"Ya, Yuuri," ucapnya sambil tersenyum, mengingatkanku akan senyum yang sama di malam ketika ia membunuh Yakov. "Terima kasih."

.

.

.

Author's note:

Konnichiwa!

Fujoshi-desu, Madamme Jung: Thank you again for review XD, pertanyaan kalian sebenernya mengembangkan detail-detail baru yang kelewatan sama ane, jadi makasih banget buat pertanyaan dan masukannya

Hiro Mineha: XD iyah, sampe chapter ini memang belum keliatan dia mau apain mereka berdua, tapi so far, saya lumayan demen Viktor yang licik-licik tersembunyi begitu, kesannya dia misterius walaupun jahat, dan… kita lihat aja nanti apakah dia kena karma ato nggak *evilgrin

Hikaru Rikou : IYEYY! Si Rusian satu itu memang licik sih dan ane demen mode liciknya dia. Di film nggak begitu banyak adegan dia licik dan keren, makanya… mengumpulkan serpihan-serpihan, ane mencoba buat dia licik dan keren XD

ParkYuu : Yes Sir/ Madame, saya usahakan agar chara mereka tetep stabil XD sampe sekarang, ane sendiri masih ngerasa susah untuk tulis Yuuri sih, lebih gampang Yura yang meledak-ledak. Untuk Viktornya, iyah, saya juga demen dia yang licik begini. Semoga ke depannya dia nggak melenceng dari harapan kamu ya XD

And for all of you, thank you for reading! I hope you enjoy reading this fic. Aniway, if you mind, please give any review so I can make it better XD