gomeeen,gomen,gomen!Maaf harusnya fanfic ini update setiap hari sabtu... tapi sabtu kemarin, kuota internet habis hehehe *garuk-garuk kepala*
Terimakasih yang telah setia membaca fanfic saya, aku jadi terhura.(Len: "terharu kali." Rika: "biar gak maenstrim, getoh" *kibas rambut* Miku: "Jangan kibas rambut!Rambut lu bau tau!" Rika:"kok lu jahat,Miku *nangis seember*" Miku: "itu balasannya karena udah bikin aku nangis di chapter ini!" Reader: "haa..Miku nangis?" Rika: "Bodoh!Jangan spoiler!")
Terimakasih review review,silent rider aku cintah kalian semuaah haha
Yosh, aku malah kebanyakan curhat. Yok, mulai!
Rika Miyake Present:
Miku miku love
Disclaimer: Vocaloid bukan punya saya, tapi ini ceritanya 100% punya saya
Gaje,typo,newbie,Eyd tidak tepat,titik koma tidak tepat,alur kecepatan
"tidak itu tidak benar."kata Miku seraya menarik pergelangan tangan luki. "karena aku.."
Suasananya hening. Miku masih menggantungkan ucapannya.
"Karena kamu apa?"tanya Luki seraya menatap Miku.
"Ka-ka karena..Maaf aku lupa."kata Miku seraya membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan rona merahnya. Luki diam saja menatap Miku.
"Ke-kenapa kau me-memperhatikanku?"tanya Miku.
"Karena, kurasa kau berbohong tadi,"kata Luki seraya menghela napas. "Katakan sejujurnya, Miku."
Miku terdiam, ia meremas-remas ujung dress maidnya tersebut. "Ka..karena aku merasakan kehangatan setiap kamu memelukku. Aku ingin terus merasakan kehangatan itu, dan juga setiap rasa berdebar debar ini, yang kata orang Bernama..cinta.."
Miku mendongak menatap wajah Luki. Ekspresi Luki campur aduk hingga membuat Miku tidak bisa membacanya.
"Oh."ucap Luki seraya pergi meninggalkan Miku. Miku merasakan wajahnya merah karena marah.
"APA-APAAN ITU!AKU SUDAH MENGUNGKAPKAN PERASAANKU DAN DIA..DIA..BERKATA HANYA 'OH'?!"Batin Miku seraya menatap punggung Luki.
Miku terdiam sesaat "i-itu..berarti..aku sudah ditolak, ya?"ucap Miku pelan, Miku menyunggingkan senyum. Entah kenapa, kaki Miku terasa kaku dan lemas ia akhirnya jatuh terduduk diatas lantai keramik dapur.
"Terimakasih, sekarang kau sukses menghancurkan hati seorang Hatsune Miku. Yang tadinya ia berharap bahwa laki laki itu juga mencintainya.."Miku menangis pelan tanpa suara. "Saat aku sudah memutuskan untuk bisa mudah jatuh cinta agar melupakan 'dia' secepatnya. Aku kira aku akan punya kehidupan menyenangkan karena aku lebih terbuka dan sensitif serta mudah jatuh aku salah.." "Lagi-lagi keputusan salah. Dou sureba ii(apa yang harus kulakukan)?"
Luki POV:
Aku membenamkan wajahku ke . Aku sungguh menyesal.
"Baka yarou!(dasar Bego/idiot)"dari tadi hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku membalik tubuhku dan menatap langit-langit kamarku. Aku sudah bisa menebak dari gerak-gerik Miku yang seperti ingin menyatakan perasaan cinta. Namun, karena aku terlalu senang aku hanya bisa berkata 'oh'. Baiklah, aku baru menyadari ternyata Luka benar, aku memang cowok terbego sedunia.
"Sial!dia pasti salah sangka dan mengira aku menolaknya."Kataku seraya menghela napas pelan. Tiba-tiba, Aku mendengar suara orang berjalan kearah dapur.( FYI or for your information: Dapur rumahku memang dekat dengan kamarku)
"Mikuo."gumamku secara tidak sadar. Sedetik kemudian, Mataku mengecil dan membulat sempurna. Hal buruk akan menimpaku, segera. Namun, Samar-samar aku bisa mendengar percakapan dua kakak beradik itu.
"Miku?!Kamu kenapa?!mana si kusso(brengsek) itu?"
"M-hm. Aku tak apa, Kuo-nii..."
"Pasti si kusso itu yang melakukan ini padamu!mana dia?!"
"B-bukan..Tapi, aku sendiri."
Lalu, terjadi keheningan panjang.
"Jadi begitu ceritanya?" ucap Mikuo. Oh, aku yakin Miku telah menceritakan semuanya. "Aku akan bunuh dia!"ujar Mikuo. Seketika, bulu kuduk milikku berdiri semua.
"Dame da yo(jangan!)!"kali ini suara Miku.
"Dia telah menyakitimu, Miku. Menyakitimu!"kata Mikuo memberi penekanan 'menyakitimu'. "Aku selalu menjagamu agar kau tak sakit hati dan selalu ceria. Lalu, dia dengan mudahnya mematahkan hatimu?" suara Mikuo mengecil dan memelan.
"Ku..kuo-nii."
"Ayo kita pergi dari sini." Lalu terdengar dua langkah kaki. Satunya seperti berjalan pelan yang satu lagi berjalan cepat. Aku menghela napas, Aku memang tak suka mendengar pembicaraan orang lain. Namun, Aku yakin 100% aku telah menyakiti Miku.
"Bukan.. bukan begini harusnya.."Kataku pelan. "Bukan ini yang kuharapkan.."
Miku POV:
"Sudah menempelkannya?"tanya Mikuo. Aku mengangguk seraya menatap sendu kearah kertas yang sekarang tertempel di depan kamar Luki.
Dear Luki..
Maafkan aku yang terlalu banyak berharap darimu. Maaf sekali lagi maaf telah mempunyai perasaan seperti ini. Kau tak salah. Aku yang salah, kenapa dengan mudahnya aku jatuh cinta denganmu? Aneh memang. Tapi kurasa itu karena kau begitu menyenangkan , baik, dan perhatian serta ada faktor x yang membuatku menyukaimu. Kau tak usah membalas perasaanku ini dengan begitu hutang-hutangku kepadamu telah selesai. Menyakitiku sama saja membayar hutangku yang banyak kepadamu. Ima made arigatou(makasih untuk segalanya).
"Ayo, Miku..."Ucap Mikuo pelan. Aku menoleh kearah Mikuo lalu mengangguk. Kami berdua keluar dari kediaman rumah Megurine.
"sayonara.."ucapku pelan. Aku berusaha tersenyum. Berhasil. Bila orang yang tidak mengenal dekat denganku, pasti orang itu tidak akan tahu bahwa senyum ini...palsu. Senyum yang menyimpan berjuta kesedihan didalamnya.
Seminggu kemudian..
Normal POV:
"Ohayou, Miku-chaan! Kita jarang bertemu karena kau berada di rumah Luka-senpai. Dan sekarang?akhirnya hasrat menemuimu terpenuhi juga!"seru Rin dengan nada super super ceria. Kini ia tengah duduk di atas kasur disamping Miku.
"Etto..Rin-chan. Sedang apa kau disini?"tanya Miku dengan suara masih mengantuk. Yang benar saja! Ini masih 8 pagi! Seminggu ini, Miku tidak bisa tidur. M-hm penyebab Miku jadwal tidurnya tidak teratur+sering marah-marah+uring-uringan karena Luki seorang.
"Mikuo-senpai telah memperbolehkanku masuk!"kata Rin ceria .
"Hahaha..., tentu saja dia memperbolehkanmu masuk! Kalau tidak, kau kan bisa-bisa menggilas Mikuo karena tidak boleh masuk."kata Miku seraya tertawa kencang. Rin memasang muka bad-mood.
"Kau jadi membuatku teringat akan Road Roller milikku, Road roller kesayanganku disita ayah. Cuma karena melindas 8 bangunan."kata Rin dengan wajah sendu.
"Apa?! 8 bangunan?!"Seru Miku kaget.
"Iya, 8. 2 sekolah, 4 rumah warga, 2 restoran."kata Rin polos. Mau tak mau, Miku memeluk Rin seraya menepuk kepalanya. Mati-matian, Miku menahan tawa yang akan meledak sebentar lagi.
"Kenapa kamu menghancurkan 8 bangunan itu?"tanya Miku. Tentunya dengan suara bergetar menahan tawa.
"Un..Itu karena aku benci 2 sekolah itu. Lalu, rumah warga itu adalah rumah perempuan yang yang sok sekali. Terakhir, karena aku tidak segera menerima pesanan makananku."kata akhirnya melepaskan tawa dahsyatnya. Rin kembali memasang muka bad-mood.
"Tadi kau bilang perempuan sok? Memangnya mereka siapa?"tanya Miku ditengah tawanya. Rin terdiam sebentar lalu menghela napas.
"Kau tak perlu tahu. Dia itu perempuan yang ngesok sekali waktu aku masih smp. Akhirnya, aku bisa membalas dendamku."kata Rin. Miku mendorong Rin pelan masih dengan tawanya.
"Kau ini..tapi, mereka tidak apa-apa kan?maksudku.. tidak ter-"kata Miku hendak berbicara namun dipotong Rin.
"Tentu saja tidak!walau aku sebenarnya ingin melindas mereka. Namun tetap saja, tidak. Aku tidak mau membunuh orang."Kata Rin. Aku tersenyum kecil seraya menepuk kepala Rin.
Rin. Selalu bisa membuatku melupakan Luki. Ia selalu menelponku tiap hari. Menghibur dengan kepolosan dan kekonyolan-nya.
"Terkadang. Kurasa kalian cocok jadi pasangan lesbi"desis seseorang. Miku menatap tajam kearah orang itu.
"Meiko-san?! Kau sedang apa disitu?"tanya Miku heran.
"Yah, gadis domba itu memaksa aku ke rumahmu. Begitulah."kata Meiko seraya ikut duduk di ranjang hijau Miku.
Miku menatap penasaran ke arah sebuah minuman yang tengah dibawa Meiko."Kau baru saja membeli starb*cks?"kata Miku.
"Tidak. gadis domba itu yang membelikannya."kata Meiko seraya menunjuk Rin.
"Berhentilah memanggilku domba, Mei-chan!"kata Rin menatap garang ke Meiko.
"Habisnya, kau selalu memanggilku dengan sebutan Mei-chan! Aku kesal. Kenapa nggak Meiko-san seperti Miku yang normal. Hari ini kau juga jadi domba kecil yang pemarah."kata Meiko berterus terang.
"H-hidoi(jahat)!sekarang kalian berdua begitu nih?!"kata Rin serta memasang muka bohongan ingin menangis.
"Yaa begitulah."kata Meiko dan Miku seraya terkikik geli. Lalu, mereka bertiga perang bantal seraya tertawa-tawa. Debu dan busa bantal bertebangan kemana-mana.
"nee..hari ini kita mau kemana?"tanya Miku sambil ngos-ngosan. Mengusap peluh yang berjatuhan karena habis perang bantal mendadak.
"Bagaimana kalau ke salon?"tanya Rin bersamangat. Meiko mengangguk menyetujui.
"Ok!"kata Miku dan Meiko bersamaan.
Skip time..Di jalan..
"Kalian tahu?dyed rambutku ternyata tidak terlalu buruk!Terimakasih, Meiko-san atas sarannya!"kata Miku seraya terpukau menatap rambut twintailnya. Di ujung rambut tealnya, ada warna biru gelap yang membuat penampilan Miku cantik dan bergaya.
"Aku cukup di creambath dengan wangi orange!Sekarang, aku seperti ingin memakan rambutku sendiri"ucap Rin polos seraya memelintir rambutnya dengan tangannya.
"Unn..aku ingin sekali ombre!Warna cokelat rambutku ini dengan merah.."kata Meiko sambil menatap rambutnya di kaca. Meiko hanya memotong rambutnya sedikit. Katanya, untuk menghilangkan rambut bercabang miliknya. "Sama-sama Miku-chan! Melihat rambutmu sendiri memang bagus untuk di dyed dengan warna biru. Kurasa, aku akan mengombre rambutku sendiri, mungkin bulan depan."
"U-un..Onaka ga suita(aku lapar). Kalian tidak mau makan?"tanya Rin seraya mengelus perutnya sendiri.
"Tadi kan kamu sudah menghabiskan Croissant kita,"kata Meiko datar. "dan kau masih lapar?" kata Meiko heran.
"Biariin!Croissant tidak mengenyangkan. Kalau kau tidak mau ikut, aku bersama Miku-chan saja!"kata Rin seraya bergelayut manja di tangan Miku.
"Hahahaha. Tapi bagaimana dengan kalau aku tidak mau ikut denganmu dan aku lebih mau ikut dengan Meiko?"tanya Miku. Meiko dan Miku ber-tos ria.
"HIDOOOI!kalian ini bersengkongkol!lihat saja aku akan menggilas kalian dengan road rollerku!"kata Rin.
"Ampuni kami, Rinhime sama."Kata Meiko dan Miku sambil membungkuk dalam-dalam sambil tertawa-tawa. Mau tak mau, Rin ikut tertawa.
"Yasudah ayo kita sarapan!aku tahu tempat makan yang enak~"kata Rin seraya menarik tangan Meiko dan dan Miku. Meiko dan Miku hanya mendesah tertahan. Ini sudah jam 11 siang dan Rin masih lapar. Sekedar info, Rin tadi pagi sebelum menjemput Miku sudah memakan satu hamburger, lalu menghabiskan croissant yang dibelikan Rin untuk Miku tadi,jumlah croissant itu kira kira ada 8. Dan sekarang ia masih lapar? Ampun..memang enak punya tubuh seperti Rin dan Miku yang tidak bisa gemuk!
"Sudah kubilang!disini enak, kan?"tanya Rin seraya tersenyum lebar. Kini Rin hendak memakan pancakenya. Miku hanya memesan roti dan sereal sementara Meiko memesan omelet.
"Hmm."kata Miku dan Meiko yang hanya mendengungkan suaranya.
"Tenang aku traktir kook!"kata Rin ceria. Miku dan Meiko menggaguk pelan.
"Eh, Itu bukannya Luki?kakaknya Luka itu!"seru Rin. Miku terperanjat kaget. Miku terbatuk-batuk.
"Minum."kata Meiko seraya menyodorkan segelas air mineral. Miku menggumamkan kata terimakasih lalu meminum air mineral tersebut.
Miku menatap kearah Luki. Luki memakai baju butler dan sedang melayani tiga orang. Eh, sepertinya Miku juga kenal dengan tiga orang itu. Sebelum Miku sempat bicara, Rin bangkit dari duduknya dengan kesal. Meiko hendak mencegah Rin tapi terlambat.
"SEDANG APA KALIAN BERTIGA DISINI?!"Seru Rin dengan suara paling kencang yang ia punya. . Kira-kira itu 5 oktaf. Seketika , cafe itu hening.
"A-ano.."kata sebuah suara yang mirip Len.
"JELASKAN KEPADAKU, SEKARANG!"jerit Rin. Rin menarik kerah pemuda yang berambut kuning dan dikuncir satu itu.
Ternyata, Len, Kaito, dan Mikuo hendak memata-matai Miku. Rin membentak-bentak Len, Kaito, dan Mikuo "AKU TIDAK AKAN MENGINCAR MIKU!AKU INI PEREMPUAN KALIAN, IDIOT!" Dan serentetan kata tidak penting lainnya.
"Habis kalian cocok sih.."kata Kaito dengan suara kecil. Meiko tertawa kencang, Meiko yakin si 'bakaito' itu akan menjadi gepeng setelah di gilas oleh Rin dengan road roller. Yah, kalau road roller Rin masih ada. Namun sekarang road roller Rin sedang disita oleh ayahnya.
"Kalian ini aneh sekali. Kita kan hanya melakukan aktivitas girls day out saja. Tenang, Miku tidak akan kami bawa pergi,"kata Meiko dengan suara tenang ."tapi kalau aku jadi cowok sih. Miku akan kuculik. Habis, dia cantik sih hahaha"kata Meiko. Seketika semuanya hening.
"Ja-jadi kau lesbi?"tanya Len dengan suara pelan. Meiko mendelik ke arah Len.
"Rin! Cepat ambil road rollermu. Target kita Len dan Kaito!"kata Meiko."Kau ini tuli atau apa?!kan kubilang kalau aku perempuan!"
"Jangan bunuh aku! Aku bahkan belum nge-date dengan Miku!"Kata Len menjerit tertahan. Meiko menggelengkan kepalanya pelan, ia heran kenapa ia mau berteman dengan teman teman aneh seperti itu. Kecuali Miku. Dia normal namun kadang tidak normal.
"Demo(tapi..),Meiko-chan..Road rollerku.."kata Rin pasrah.
"Kalian itu!Aku jelas tidak tertarik dengan cowok apalagi cewek!Namun, kalau Rin sih..."kata Meiko seraya melirik Rin. "kan, bukannya Rin maunya sama Mikuo, ya?"tanya Meiko. Seketika wajah Rin memerah.
"Tidak!..itu.."kata Rin. Namun, sebelum ia menyelesaikan kata-katanya Rin kabur ke kamar mandi.
"Ck"kata Meiko seraya menatap beralih menatap Miku, gadis itu tidak tertarik untuk bergabung dengan Meiko, Len, Kaito, Mikuo, dan Rin. Gadis itu sekarang berada di luar cafe seraya bermain dengan kucing yang kelihatannya jinak. Meiko tertawa kecil hendak menghampiri Miku namun, ada seseorang berambut pink yang mendahului Meiko. Ia tergesa-gesa membuka pintu itu menghampiri Miku dengan tergesa gesa lalu memeluk Miku.
Miku POV:
Aku berjalan pelan kearah pintu cafe. Bahkan, karena semua orang fokus dengan pertengkaran tidak penting dan menarik itu, mereka tidak menyadari Aku telah pergi dari cafe.
"Nyaa.." ada suara khas dari hewan tersebut. Aku melirik kearah binatang tersebut lalu tersenyum kecil.
"Hei, kamu. Mau kan main bersama denganku? Aku kadang suka malas dengan teman-temanku yang selalu berantem itu.."Kataku seraya mengelus kepala kucing itu dan mengelus lehernya membuat kucing itu menjadi senang di sampingku. Aku tertawa kecil, aku memang suka dengan makhluk bernama kucing.
"Miku?"sebuah suara bass terdengar dari belakangku. Aku terkejut serta membalik badanku.
"L-Luki?"kataku spontan. Tiba-tiba , Luki mendekap tubuhku. Aku terkejut sekaligus malu.
"Akhirnya, aku menemukanmu."Aku terdiam mendengar kata-kata Luki.
"M-menemukanku?"kataku
"Ya, menemukanmu. Aku mencari-carimu. Saat aku setiap hari datang kerumah, kakakmu bilang kau sekarang jarang di rumah."kata Luki. Miku memutar bola matanya. Ia memang akhir akhir ini sering mendengar kakaknya uring-uringan untuk membuka pagar rumah mereka+ada yang berkali kali menge-bel rumah mereka.
"Kau terlihat cantik, itu baru ya?"tanya Luki seraya menatap kearah bagian rambut yang telah di- tersenyum kecil.
"M-hm. Begitulah."kataku seraya tersenyum lembut. Luki yang menatapku ikut tersenyum.
"ka-kau terlihat berantakan.."kataku seraya tertawa kecil saat melihat kantung mata Luki.
"Hahaha. H-habisnya aku seminggu ini tidak bisa tidur nyenyak."kata Luki seraya menggaruk kepalanya.
"Nande yo(kenapa)?"tanyaku heran.
"Ingat kan seminggu ya lalu?"kata Luki. Tiba-tiba, jantungku berdegup cepat. Tentu saja siapa yang tidak ingat pengalaman memalukan yang menembak cewek dan ditolak segera?
"I..iya.."kataku "aku..takkan lupa.." kataku
"Kenapa aku berbicara seenaknya?!"Runtukku dalam hati.
"gak bisa lupa ya?padahal aku ingin kamu melupakannya,"kata Luki,"Dan jatuh cinta padaku lagi."
Aku terdiam lebih tepatnya speechless. "Setiap detik aku selalu memikirkanmu. Aku tak bisa lupa. Aku jadi tidak bisa tidur. Gomen ne,"kata masih diam saja menunggu ia menyelesaikan ucapannya. "jawaban yang waktu itu bukan jawaban yang aku inginkan untuk menjawab pernyatanmu.."Aku terkejut. Luki melepaskan pelukannya lalu menatapku.
"karena aku tak bisa memutar kembali waktu. Jadi, kumohon... jatuh cinta lah kepadaku, lagi,"kata Luki. "Begitu melihatmu tadi. Aku begitu senang sekali apalagi kau tidak lupa tak akan menyakitimu. Aku selalu berada di sisimu"kata Luki. Aku masih tersenyum.
"Aku anggap jawabanmu sebagai 'ya'. Masuklah ke mobilku"kata Luki seraya mendorong pelan badanku kearah mobil bewarna hitam.
"Hei!kita mau kemana?!"walau begitu Aku menurut masuk ke mobil Luki
"Duduk yang manis."Perintah Luki. Anehnya, aku mengikuti apa perintahnya dia.
Normal POV:
Di Pantai..
Luki tersenyum saat membukakan pintu mobil untuk Miku. Pantai itu sepi. Pantai itu selalu menjadi tempat Luki merenung.
"Bagus bukan?"tanya Luki. Miku mengangguk pelan.
Suasananya hening, Miku berusaha memecahkan suasana.
"Eh. Etto..Ano.. Jadi, kenapa kau kerja di cafe itu?"tanya Miku hati-hati. Luki tertawa lepas.
"yah begitulah. Luka marah besar karena aku membuatmu pergi dari rumahku. Lalu akibatnya, aku disuruh kerja sih agar aku lebih rajin sih, Cuma akal akalan dia aja biar dia kebantu."kata Luki seraya tertawa pelan. Mau tak mau, Miku tertawa kecil.
"Oh ya!"kata Luki seraya ke bagasi mobil. Miku menatap Luki dengan heran.
"Ini"kata Luki. Miku menatap kearah sebuah dress bewarna putih. Sementara, Luki memegang sebuah tuxedo hitam.
"Coba kau pakai itu!aku ada kejutan buatmu.."kata Luki seraya tersenyum.
"Ok!"kata Miku. Miku berjalan ke arah tempat berganti baju yang terdapat di pantai itu. Sekitar 1 menit ia telah selesai berganti baju, Miku menatap dirinya di cermin tersebut.
"Memangnya Luki merencanakan apa ya?"kata Miku. Kemudian, senyum mengembang di wajah cantik Miku.
"Aku terlihat bagus di dress ini!nggak kusangka, Luki mempunyai selera fashion yang high class. Dan oh, ukurannya pas denganku!"kata Miku senang.
"Hei, Kau sudah siap?"tanya Luki di luar bilik tempat berganti baju. Miku mengangguk lalu akhirnya sadar bahwa Luki tak bisa melihatnya mengangguk.
"Iya."kata Miku.
"Keluarlah.."kata Luki. Miku menyibakkan tirai tempat berganti baju itu. Lalu, Miku speechless dengan penampilan Luki yang benar benar benar tampan. Begitupun sebaliknya, Luki speechless dengan penampilan Miku.
"Ehm.."kata itu berhasil membuat Miku sadar daritadi ia telah memperhatikan Luki, seketika wajah Miku memerah.
"Go-gomen ne!aku tadi memperhatikanmu bukan karena aku suka gayamu!Jangan ke-geeran!"seru Miku. Luki tertawa ringan, ia tahu gadis di depannya ini sedang malu dan berusaha menyembunyikannya. Dan tentu saja, ah..tipikal gadis tsundere kalau sedang malu begitu bukan?
"Ayo, Ohime sama."kata Luki seraya menggandeng tangan Miku. Miku merasakan wajahnya memerah.
"eh,sebentar."kata Luki. Miku memiringkan kepalanya seraya menatap Luki, tandanya ia bingung. Luki mengeluarkan sebuah penutup mata.
"kau harus pakai ini. Tenang, aku tidak akan menyakitimu."kata Luki. Miku mengangguk mengiyakan. Bahkan, Miku selalu percaya kepada Luki dan tidak punya pikiran Luki akan menyakitinya.
Luki menuntun Miku. Kira-kira mereka hanya berjalan 43 langkah. Tidak terlalu banyak.
"Sudah sampai."kata Luki. Luki dengan pelan melepas tutup mata yang menutupi mata indah Miku.
"Ah...wow.."kata Miku kagum. Di depannya, ada sebuah meja yang terdapat dua buah kursi. Diatasnya ada sebuah spaghetti dan satunya lagi steak. Ada lilin yang membuat suasana tambah romantis. Serta, oh!sunset yang sangat indah. Semuanya terasa lengkap, semuanya membuat paduan romantis.
"Duduklah."kata Luki seraya menggeser tempat duduk agar Miku bisa duduk. Miku tersenyum lembut.
"indah sekali.."kata Miku seraya menatap kearah sunset.
"Iya.."kata Luki. Namun, Luki tidak melihat ke arah sunset ia melihat kearah Miku.
"Kau melihat yang indah sunset itu. Tapi bagiku, definisi indah sekali itu cocok untukmu,"kata Luki. Seketika wajah Miku menunduk malu. "Oh bukan. Kau tidak hanya indah. Kamu menakjubkan. Makanya, aku jatuh cinta no seida(salah sendiri), kamu cantik sih. Dan aku tidak menyesalinya. Bahwa, aku cinta padamu"
Seketika, sekitar Miku dan Luki seperti berhenti. Miku masih bisa melihat senyum di wajah tampan Miku seperti sedang bermaraton ria. Wajah Miku seperti campur aduk.
"Maaf. Aku tidak bisa memendam perasaanku. Sudah, sekarang kita makan dulu. Kau tak perlu menjawabnya sekarang."kata Luki sesaat setelah melihat perubahan wajah Miku.
"Baiklah.."kata Miku.
Lalu, Miku menikmati spaghetti miliknya. Oh, rasanya seperti di surga. Enak sekali. Miku tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang sangat menyukai spaghetti itu.
"Syukurlah, kau menyukainya."kata Luki seraya tersenyum lembut. Miku tersenyum lebar. Senyuman itu jarang sekali Miku tampilkan, biasanya senyum itu ada kalau dia sedang senang sekali.
"Arigato, Luki."kata Miku seraya tersenyum. Luki bisa merasakan kali ini jantungnya bermaraton ria. Senyuman itu, senyuman yang jarang sekali ditampilkan. Luki ikut tersenyum, setidaknya, hanya dia yang bisa melihat senyuman itu. Oh, apakah Mikuo juga pernah melihatnya?
Miku menyelesaikan makan-nya. Lalu, Miku menatap matahari yang hendak terbenam sambil tersenyum tenang. Luki hanya melihat Miku sambil tersenyum. Diam-diam, Luki mengeluarkan kamera.
"Gaya pose candid seperti itu bagus, lho!"kata Luki seraya tertawa setelah selesai meng-foto Miku.
"iih!hapus hapus!aku terlihat jelek pasti!"seru Miku. Luki tertawa seraya berlari. Miku mengejarnya. Mereka berdua berlarian diatas pasir yang lembut seraya tertawa.
"Chigau yo!(salah kok!)kamu terlihat cantik, sumpah!"seru Luki. Namun, Miku tetap mengejarnya
Orang-orang yang sedang menikmati indahnya pantai tersembunyi itu (kira-kira hanya 9 orang karena sedikit yang tahu) hanya menggeleng gelengkan kepalanya seraya bergumam "dasar anak muda".Miku berhasil mengejar Luki karena Luki tadi sempat jatuh. Miku menjatuhkan dirinya diatas Luki yang sedang tengkurap diatas pasir.
"Kena kau!"kata Miku seraya tertawa senang. Ia mengambil kamera dari tangan Luki.
"Beraat..!kau berat sekalih, huft!"jerit Luki. Miku tertawa jahat.
Duakk!
"aaw!"jerit Miku. Miku merasakan ada sebuah sepatu kanvas yang mengenai kepalanya.
"Aduh!siapa itu?!"kata Miku. Beberapa saat ia lupa dengan kamera Luki, Luki kini sedang posisi duduk. Luki juga menatap heran kearah sepatu yang dilemparkan oleh seseorang. Kalau tidak salah sepatu itu kan milik...
"AKU MENCARI CARI KALIAN BERDUA DAN KALIAN SEDANG ASYIK BERDUAAN DISINI?!"Kata sebuah suara. Suara itu jelas mencerminkan orang itu sedang khawatir sekaligus marah. Orang itu memakai kemeja putih,rok hitam,sepatu canvas yang dipakai sebelah(karena satu lagi ada di tangan Miku). Gadis itu berambut pink yang sama dengan milik Luki, gadis itu adalah, Luka. Dia baru saja selesai dari part-time jobnya. Disamping Luka ada gadis berambut kuning yang dikenali Luki sebagai Rin,lalu laki laki berambut kuning yang wajahnya mirip Rin, Meiko si perempuan berambut cokelat, laki laki berambut biru dan ah ya..kakak Hatsune Miku, Mikuo. Luki kenal dengan Rin dan Meiko karena terkadang mereka sering main ke rumah Luka. Yah, yang paling sering sih Miku.
"Berduaan?"tanya Miku heran. Miku masih duduk di atas pasir di samping Luki.
"oh-eh.."Miku segera bangkit dan membersihkan rok dan bajunya yang terkena bersemu merah
"jelaskan sekarang."kata Luka seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Luka-senpai.."kata Miku seraya berusha berlari kearahnya lalu mendekapnya pelan. Lalu, Luka menatap wajah Miku, seakan sedang memeriksa apakah ada yang salah dengan Miku. Namun, tidak, tidak ada apa-apa.
"Miku-chan, kau tidak kenapa-kenapa kan?"tanya Luka seraya menatap Miku. Miku mengangguk. Rasa serba salah muncul di benak Luka.
"kan aku berniat menjodohkan mereka berdua!kenapa aku malah menghancurkan momen ini?harusnya aku tahu kalau Miku hilang karena dibawa luki!Baka yarou!"Gumam Luka.
"enak saja memangnya aku penjahat apah?!"gumam Luki. Luki memberikan tatapan ke arah Luka dengan 'kau-merusak-momen-ini-bodoh!' lalu Luka membalas dengan tatapan 'maaf-aku-tak –tau-hehe'.Memang yang bisa membaca ekspresi mata itu hanya kembaran Megurine itu.
"Aku akan mengantar Miku pulang. Kalian bersama Luka saja."kata Luki dingin seraya menarik tangan Miku. Mikuo hendak buka mulut namun dipotong oleh kata-kata Luki.
"Aku tidak akan menyakiti dia. Aku janji."kata Luki. Mikuo mengangguk lalu masuk ke mobil Kaito, yang dipakai mereka untuk kesini.
Di dalam mobil..
"Mereka merusak suasana saja" tanpa sadar. Luki menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Miku menatap Luki yang tengah menatap kearah spion mobil. Menunggu mobil itu pergi dahulu.
"Merusak suasana?"tanya Miku.
"Iya. Padahal, kan aku berencana untuk membuatmu jatuh cinta padaku lagi."kata Luki. Miku menatap Luki tidak percaya.
"hah?!"tanya Miku heran.
"Kurasa aku gagal.."kata Luki.
"Kurasa kau tidak gagal.."kata Miku pelan seraya meantap ke arah dashboard mobil.
"Hah..jadi kau.."
"m-hm.."potong Miku. Miku tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya. Luki tersenyum senang.
"Baiklah. Ayo, aku antar kau pulang."kata Luki. Miku mengangguk pelan.
Di depan rumah Miku..
"Miku.."kata Luki
"Arigato untuk hari ini. Aku senang sekali."Kata Miku seraya memberikan senyum termanisnya dan membungkuk dalam-dalam.
"Ah, sama-sama."kata Luki sambil menyunggingkan senyum kecil.
"Miku.." Kali ini, Luki memeluk Miku dari belakang. Miku tidak terkejut, sepertinya ia sudah biasa.
"Kenapa?"tanya Miku pelan.
"Suki , Aishiteru.."kata Luki. Miku diam saja "itu kata yang lebih tepat."kata Luki.
"Maukah kau jadi milikku?"tanya Luki, Miku masih diam.
"Kurasa..Aku belum bisa mengatakannya.."kata Miku. Luki mengangguk mengerti
"Hingga kau memutuskan jodohmu ya?"tanya Luki
"Iya."kata Miku
"Sebenarnya, pada awalnya aku merasa terpaksa sekali mengikuti perjodohanmu ini,"kata Luki sambil mengadah menatap langit. Miku menatap Luki. Miku Menunggu untuk menyelesaikan ucapannya. "Tapi, malah aku jadi ikut jatuh cinta kepadamu."Kata Luki. Kali ini matanya beradu pandang dengan mata milik tersenyum tulus seraya mengusap genangan air mata yang berada di matanya.
"Aku takkan memaksamu untuk memilihku. Namun, aku harap kamu mau bersamaku."Kata Luki seraya tersenyum lembut. Lalu, menepuk kepala Miku. Miku tersenyum.
"Aku tidak bisa bilang aku mencintaimu. Aku juga tidak bisa bilang aku membencimu. Itu jawabanku, selengkapnya kau akan tau saat hari itu tiba."kata Miku.
"sampai jumpa."kata masuk ke mobil. Ia menurunkan kaca mobilnya agar bisa melihat MIku
"Oyasumi,Luki-kun."kata Miku. Luki menatapnya selama beberapa saat lalu tersenyum.
"Oyasumi,Miku-koi." Kata Luki.
"Sou ne.."kata sebuah suara. Miku mengangguk pelan.
"Jadi, dia baru saja menembakmu?"tanya Meiko. Miku mengangguk. Lalu, Miku sadar bahwa ia sedang bertelepon jadi Meiko tidak bisa melihat anggukannya.
"Iya."kata Miku.
"kau akan memilihnya?"tanya Meiko. Miku terdiam beberapa saat.
"Kau akan menggantungnya seperti Kaito?!"tanya Meiko
"Tidak. mencintai mereka berdua."kata Miku gelisah .
"M-hm. Lalu jadikan saja mereka berdua pacarmu"kata Meiko dengan nada sarkastik.
"Kau gila!"seru Miku. Meiko tertawa pelan.
"Hahaha..tapi di hatimu itu kau Cuma paling suka sama seseorang kan?"tanya Meiko
"..." Miku diam saja. "Bagaimana ini,Meiko-san?aku sudah berusaha melupakan dia. Namun, setiap aku mencintai laki laki perasaan itu tidak menyaingi perasaanku kepada si dia itu.."kata Miku
"Susah juga. Hidupmu rumit, Miku"kata Meiko.
"Hidupmu berantakan. Kau sering sekali minum sake. Sake tidak menyelesaikan masalah."Cibir Miku.
"Aku tahu, aku tidak menyelesaikan masalah. Tapi, kabur dari masalah"kata Meiko. Miku terdiam.
"Aku benci sekolah. Namun aku terlahir jenius. Makanya, aku minum sake terus. Mungkin saja, aku akan kehilangan ke-jeniusan ku."kata Meiko.
"Kembali ke topik tadi. Namun, kau tidak mau menyakiti hati mereka berdua kan?"tanya Meiko. Miku terdiam.
"Ya."ucap Miku. "Sudah malam, tidur saja sana. Rahasiakan ini, Meiko!"ancam Miku.
"Iya, iya. Kau mau ini jadi rahasia karena kamu tidak mau menyakiti semua orang kan?"tanya Meiko. Miku tertawa.
"Kau memang mengerti aku. Yasudah,Oyasumi Meiko-san!"kata Miku.
"Oyasumi,Miku-san!"kata Meiko. Meiko mengubah posisinya menjadi terlentang menatap langit-langit kamarnya.
"Tapi berhati-hatilah, Miku. Karena suatu saat kau bisa melakukan kesalahan."kata Meiko seraya menghela napas pelan. Rahasia yang dibagi Miku hanya mereka berdua yang tahu. Rin memang Miku berniat beri tahu. Namun, nanti saat ada waktunya.
Jiah..Endingnya jadi membawa ke sebuah rahasia selanjutnyaa hahaha.. maaf, kalau semuanya jadi penasaran , selanjutnya Miku akan date dengan yang berhubungan hijau. Siapakah dia,jreng jreng jreng saja di chap kedepannya!di chap kedepannya akan membahas rahasia Ne, disini Len bicaranya diiikiitt sekali *^* , Mikuo juga tambah sedikit percakapannya hahaha. Aku usahakan chap kedepannya ada setidaknya Len you, minna-san!Update jadi setiap hari senin yah! Dan juga rencananya setiap chap ada dua part :)
Curhat Rika:
Ehm, walaupun banyak ujian, Rika masih tetap semangat update dan nulis cerita hehehe...Chap ini gabakal keputus di tengah jalan!tenang saja! Rencananya, Rika mau nyelipin setidaknya satu lagu vocaloid di dalam satu chapter :). Dan oh yaaa.. aku bakal bikin fanfic baru!
Balasan review:
Indah605
Arigatooo, yaampunn terimakasih ya!Hm, maaf atas kebiasaanku ini. Kadang aku suka menjelekkan diriku sendiri, kadang tidak percaya diri, dan kadang juga terlalu berlebihan memikirkan suatu konflik kecil :). Tapi, aku gapernah keberatan namanya di review. Walaupun kasar sekalipun, itu tetap saja tantangan buatku agar aku lebih baik lagi!Kamu juga ganbatte ya!
Clairith54'tina
Kenapa ganti namaaa? jadinya aku manggilnya apa? Clare-san atau Martina-san? atau apa?Atau Martina-koi? *wanjer*. Aku malah suka ada yang perhatiin aku apalagi punya kakak yang super overprotektif itu seru haha!benarkah ceritaku sweet?Egh, bener nih cinta segitiga wehewehewehe
SarahAmalia
Iyaaa!ABIS KU CHECK ADA TYPONYA ARGHHH!Emang baunya kecium yha?hahaha...Miku pilih siapa hayo *senyum sok cool*. Sarah-san juga terus semangaat!ganbatteee!
DarkLibra13
A..apah?menarik?Senangnya *mati*. Ok, hahaha cie cie penasaran. Nah, sekarang udah ga penasaran lagi kan?Aku gamau tanggung jawab! *lari menjauh*
