My Beauty Rider
.
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong
Other cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin
Genre : YAOI/Shonen-ai
Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Ini hanya repost. Dan ini adalah FF pertama saya di dalam dunia perFFan.
.
.
.
Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai
.
.
DOUZO
···
Chap 4
···
Sepasang mata musang milik Yunho, tampak serius mengintai rumah dihadapannya. Mata musangnya memicing mencoba mencari keberadaan penghuni rumah itu. Satu tangannya menggenggam teropong, dan sebelahnya lagi menggenggam ponsel. Sudah dua jam ia mengintai rumah besar dihadapannya itu, berharap orang yang dicarinya keluar dan ia bisa membuntuinya. Namun yang terjadi malah rumah itu sepertinya kosong tak berpenghuni. Karena sejak dua jam tadi, tak seorangpun yang keluar masuk ke rumah itu. Setengah putus asa, Yunhopun menghubungi Yoochun.
"Chunie, kau membohongiku eoh! Rumah ini tak berpenghuni, sejak tadi aku berada disini, tak seorangpun yang keluar masuk rumah itu." dengan emosi Yunho membentak Yoochun.
"Aku tak mungkin salah hyung, aku mendapatkan alamatnya dari Junsu. Tak mungkin ia membohongiku."
"Cih, awas saja kau chunie, kalau samp-. Akh, itu dia. Dia datang, nanti ku telpon lagi ne." Yunho segera mematikan sambungan telponnya ketika dilihatnya Jaejoong memasukkan motornya.
"Dia baru datang rupanya, yeoja macam apa dia. Tengah hari bagini baru pulang." Yunho mencibir Jaejoong yang baru tiba. Matanya tak lepas dari tubuh Jaejoong.
Deg
Jantung Yunho kembali berdetak kencang. Saat dilihatnya tubuh Jaejoong yang hanya dibalut kaos berpotongan rendah. Memperlihatkan lehernya yang putih.
"Argghh, kenapa jantungku berdetak cepat tiap melihat dia. Dasar yeoja sialan, kau akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dariku, karna sudah membuatku malu dan merasa tak tenang seperti ini."
Yunho terus memandangi tubuh Jaejoong hingga Jaejoong menghilang di balik gerbang rumahnya.
.
Jaejoong POV
Kurasakan penat yang luar biasa. Tak seperti biasanya, hari ini aku begitu lelah. Setelah kemarin seharian balapan, aku menginap dirumah Junsu. Aku baru pulang kerumah saat matahari sudah tepat berada diatas kepala.
.
Flash back
"Jae hyung, bangun. Hari sudah pagi."
Sayup-sayup kudengar suara Junsu disebelahku. Kurasakan sinar matahari masuk, aku yakin Junsu menyibak gorden yang membuat sinar matahari menyeruak masuk. Aku menggeliat pelan karna sinar matahari menusuk mataku, kutarik selimut hingga menutupi sebagian wajahku.
"Kyaa hyung, kau ini malas sekali. Lihat hari sudah siang, apa kau tak mau pulang eoh? Appamu pasti kebingungan mencarimu hyung!"
Junsu menarik selimutku hingga aku terusik, perlahan kubuka mata dan mencoba menyesuaikan dengan keadaan sekitar.
"Ahh, Su-ie, biarkan aku tidur lagi ne. Aku masih mengantuk."
"Andwae, kau harus mandi. Setelah itu kau pulang, appamu pasti mencarimu."
"Ah, biarkan saja namja tua itu kebingungan. Aku tak peduli." aku sudah sepenuhnya bangun, kurasakan pegal yang luar biasa disekujur tubuhku.
"Akh, Su-ie, badanku sungguh pegal. Kau mau memijatku eoh?" aku sedikit merayu Junsu. Berharap ia mau memijatku sebentar saja.
"Kau ini hyung, menyusahkanku saja." walaupun ia mengomel tapi tetap saja ia mau memijatku. Ahh, rasanya begitu nikmat. Saat jemari lentik Junsu memijatku pelan.
"Hyung, apa kau masih marah pada appamu?" pertanyaan retoris dari Junsu. Sebenarnya aku malas jika harus bicara mengenai appaku. Aku masih terlalu sakit hati dengan sikapnya kepada eommaku.
"Haruskah aku menjawabmu Su-ie?"
"Ani, aku hanya penasaran. Hyung, bolehkah aku memberimu nasehat?" aku tahu kalau Junsu begitu ingin kalau aku dan appaku berdamai. Sering sekali ia berusaha untuk membuatku bersama dengan appa.
"Kau mau mengguruiku eoh?"
"Ani hyung. Anggaplah ini harapan dari dongsaengmu."
"..."
"Ku anggap hyung setuju." Junsu langsung saja mengambil keputusan, padahal aku tengah berfikir. Dia pun mulai mengoceh.
"Hyung, aku rasa sebaiknya hyung berdamai dengan appamu hyung. Bagaimanapun dia satu-satunya orangtua yang hyung miliki. Aku rasa appamu juga sangat ingin kau memaafkannya. Lihat saja betapa khawatirnya ia saat hyung tak pulang kerumah. Apa kau tak merasakannya hyung? Dia, begitu menyayangimu hyung. Walaupun cara yang ia tunjukkan salah, dengan memarahimu. Tapi itu wajar hyung, itu bukti kalau ia begitu sayang padamu. Appaku pun terkadang begitu. Ia memarahiku kalau aku berbuat kenakalan. Tapi itu justru membuatku tambah yakin kalau ia sangat sayang padaku. Ia ingin aku menjadi orang yang baik dan tidak nakal."
Aku terdiam mendengar kata-kata Junsu. Tak kusangka, namja imut itu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Kubiarkan ia menumpahkan semua hal yang begitu ingin ia utarakan padaku.
"Aku juga kadang merasa kesal pada appa kalau ia memarahiku, rasanya lebih baik ia tak ada disini, mungkin aku tak akan mendengar ceramahnya lagi."
Sesaat dia berhenti, kulihat matanya sedikit memerah.
"Tapi pikiran itu sungguh jahat. Bayangkan hyung, kalau tidak ada appa bukankah kita tak akan bisa lahir kedunia ini. Jika tak ada appa kita tak akan bisa tinggal dalam rumah yang nyaman. Jika tidak ada appa kita pastinya tidak bisa sekolah hingga lulus seperti sekarang."
"Su-ie, jika saja ia hanya memarahiku aku tak akan masalah. Tapi dia sungguh kelewatan. Bayangkan saja dia berselingkuh dan membuat eomma ku bunuh diri. Coba kau yang ada diposisiku, apa kau akan dengan mudah memaafkannya?" jawabku dengan sedikit emosi.
"Ne hyung, arraseo. Tapi, memendam kebencian dihatimu jauh lebih akan menyakitkan. Dan justru malah membuatmu labih tersakiti lagi hyung. Aku yakin, sebenarnya jauh dilubuk hatimu yang terdalam, kau masih mempunyai rasa sayang pada appamu. Buktinya kau sampai sekarang tak pernah berbuat hal yang nekat yang membahayakan appamu. Itu bukti kalau kau sebenarnya masih menyayangi appamu hyung."
Aku sekali lagi terdiam mendengarkan Junsu, ada perasaan aneh menyelimutiku. Aku tak tahu kenapa, aku merasa sebagian dari diriku membenarkan kata-kata Junsu. Sejujurnya, aku juga tak ingin bila appa juga pergi meninggalkanku. Tak ingin membuat appa khawatir, tapi sisi hatiku yang begitu terluka saat eomma bunuh diri membuatku tak bisa memaafkan appa.
"Su-ie, aku tak tahu harus berbuat apa. Disatu sisi aku sangat membenci appaku, tapi disisi lain aku tak ingin kehilangan dia juga. Na molla, molla." aku akhirnya berterus terang pada Junsu. Hanya dengannya aku bisa terbuka mengenai perasaanku.
"Ne hyung. Kalau kau mau mendengarkanku, lebih baik kau pulang dan berdamai dengan appamu. Percayalah padaku, setelah kau berdamai aku yakin perasaanmu akan lebih tenang dan lega."
Kulihat senyum tulus dari Junsu. Nampaknya sahabatku ini tidak ingin melihatku menyesal nantinya.
"Baiklah. Aku akan mencobanya, tapi aku tak yakin akan berjalan semudah itu."
"Arasseo. Semua itu butuh proses hyung." lagi-lagi kulihat senyum di wajah Junsu. Nampaknya ia begitu lega. "Baiklah kalau begitu, sekarang kau mandi dulu. Setelah itu kita sarapan bersama lalu kau harus pulang, pasti appamu mengkhawatirkanmu!"
"Aiss, kau ini cerewet sekali. Biarkan aku lebih lama disini eoh. Aku masih ingin ngobrol dengan Kim ahjumma."
"Andwae, kau harus cepat pulang. Ini sudah hampir tengah siang"
"Ne ne."
Flash back end
.
Aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang. Suasana sunyi begitu terasa. Jantungku berdetak lebih kencang saat membuka pintu rumahku. Perasaan yang tak pernah aku rasakan. Entah kenapa aku merasa sedikit gugup, biasanya aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Namun, aku bertekad ingin mengubah hubunganku dengan appa. Kuturuti semua perkataan Junsu, mudah-mudahan semua berjalan lancar dan aku bisa merasakan kebahagiaan lagi.
"Aku pulang." sepi, tak ada yang menjawab salamku. Kuedarkan pandangan dan mendapati appa tergeletak dilantai. "APPA!" pekikku, tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju tubuh appa.
"Appa, appa. Bangun appa," tak ada respon.
Aku semakin tercekat, tak tahu harus berbuat apa. Bayangan masa lalu ku berkelebat dipikiranku.
/
"Yeobo, andwae!"
"Eommaaaaa,"
Darah segar mengucur dari tubuh eommaku, kulihat eomma sudah tak sadarkan diri. Terbaring lemah di lantai dapur. Segera aku mendekati tubuh eomma dan mengguncangkannya.
"Eomma, eomma." tangisku pecah saat kulihat eomma tak membuka matanya.
"Joongie, cepat bantu appa membawa eommamu ke rumah sakit."
Dengan sekuat tenaga aku mengangkat tubuh eomma, kurasakan tangan eomma yang dingin.
"Eomma, bangun eomma. Bangun!" aku tak bisa berfikir jernih, pikiran negatif terus menghantuiku. Sesampainya di rumah sakit appa langsung membawa eomma ke ruang periksa.
"Dokter, tolong istri saya." kulihat appa begitu panik.
"Baik, tenang dulu tuan. Kami akan berusaha membantu istri anda."
Tubuh eomma langsung dibawa ke suatu ruang oprasi, aku dan appa hanya bisa menunggu di luar ruangan. Kulirik appa yang tengah kusyuk berdoa. Cukup lama aku dan appa menunggu diluar, kira-kira setengah jam dokter keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" appa langsung bertanya saat dilihatnya dokter keluar.
Dan jawaban dokter kemudian seakan menohok hatiku dengan tajam. Dengan hati-hati dokter itu mengatakan tentang keadaan eommaku.
"Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk istri anda. Ia kehilangan banyak darah, karna bagian dalam perutnya sobek cukup panjang. Kami sudah brupaya untuk memberi penanganan sebisa kami, namun mungkin Tuhan berkehendak lain. Istri anda, sudah berpulang dengan tenang. Mianhae tuan."
Sakit. Itulah yang aku rasakan. Pernyataan dokter tadi serasa menusukku tepat dihati. Langsung membuat hatiku terjun kejurang yang sangat dalam.
"Andwae, yeobo. Andwae." kulihat appa sangat terpukul mendengar itu. Tubuhnya yang kokoh langsung lemah dan merosot didepan pintu ruangan oprasi. Ia lalu menarikku kedalam pelukannya. Dan apa yang aku lakukan, aku menepis tangannya dan menatapnya tajam.
"Joongie,"
"Kau, gara-gara kau eomma jadi begini." teriakku kencang, "Gara-gara appa, eomma jadi bunuh diri dan meninggalkan ku. Kau sungguh jahat!"
"Ania Joongie, ini hanya salah paham, dengarkan ap-"
"Diammm! Aku tak mau lagi mendengar apapun darimu. Mulai sekarang, jangan mengurusiku Kim Sajangnim!"
Aku berteriak dan langsung meninggalkan appa yang tengah menangis. Setengah berlari, aku meninggalkan appa dengan airmata yang terus tumpah dari mataku. Aku tak tahu harus berbuat apa, yang ada dipikiranku hanya rasa benci yang besar terhadap appa, gara-gara appa eomma jadi begini. Mulai detik itu, aku berjanji tak akan lagi perduli dengan appa. Orang yang sudah membunuh eommaku.
/
Aku panik, aku bingung harus berbuat apa. Aku tak ingin kejadian dulu kini harus terulang lagi. Cukup eomma yang meninggalkanku, appa tak boleh meninggalkanku juga. Aku berlari keluar mencari bantuan, sambil berteriak berharap ada yang mendengarku.
Jaejoong POV end
.
Yunho POV
Aku penasaran dengan Kim Jaejoong itu. Dia bisa mengalahkanku hanya dengan sekali pertandingan. Sebenarnya aku salut dengannya, walau dia seorang yeoja tapi dia begitu tangguh memacu motornya. Tapi aneh, sebelumnya aku tak pernah bisa tertarik dengan yeoja manapun di dunia ini. Tapi dengannya, aku merasakan perasaan lain. Entah karna apa, setiap aku menatap matanya, jantungku beretak lebih kencang dari biasanya.
Tanpa terasa kakiku memasuki gerbang rumah yeoja itu. Kakiku berjalan sendiri tanpa kuperintah. Kutengokkan kepalaku kedalam rumah itu, sepi tak ada suara apapun. Sedikit nekat, aku masuk karna pintu gerbang yang memang sudah terbuka sedikit. Mengingat tadi Jaejoong baru tiba. Ku edarkan pandangan, mengamati dengan seksama rumah yang menurutku sangat luas ini. Aku yakin orang tua Jaejoong pasti sangat kaya. Sehingga bisa membangun rumah yang begitu luas dan megah seperti ini.
Sudah puas aku melihat sebentar rumah Jaejoong, akupun segera berbalik untuk keluar dari rumah ini, bagaimanapun aku sudah tanpa izin masuk. Belum jauh aku melangkah, ku dengar seseorang berteriak memanggilku.
"Yunho-ssi, jebal."
Aku berbalik dan kulihat Jaejoong setengah berlari menghampiriku, matanya merah dan wajahnya begitu panik.
"Jaejoong-ssi."
Yunho POV end
.
Jaejoong berlari menghampiri Yunho. Ia begitu panik sampai-sampai saat ia sampai di hadapan Yunho, tanpa sadar ia memeluk Yunho. Karna begitu kalut dan panik, ia begitu trauma melihat eommanya dulu bunuh diri dihadapannya. Dan tadi ia seperti melihat kembali luka lama yang ingin ia hilangkan. Melihat appanya tergeletak tak sadarkan diri, membuatnya takut. Dan saat melihat Yunho, ia begitu lega.
"Yunho-ssi, jebal. Tolong appaku. Ia tak sadarkan diri. Jebal, tolong aku,"
"Ah, ne. Baiklah, ayo kita bawa appamu ke rumah sakit. Kajja."
Merekapun segera membawa Mr. Kim menuju rumah sakit. Dengan mengendarai mobil milik Mr. Kim. Diperjalanan, Jaejoong tak henti-hentinya menangis. Ia takut kalau terjadi apa-apa dengan appanya.
"Appa, ku mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan aku." Jaejoong terisak, sementara Yunho hanya bisa melihat dengan iba.
.
Yunho POV
Kulihat Jaejoong menangis terisak di jok belakang. Saat ia memintaku mengantarnya ke rumah sakit, aku tak tahu kenapa, aku malah ingin membantunya. Melihatnya panik dan wajahnya yang merah, membuatku ingin melindunginya. Melihatnya sekarang menangis seperti itu, rasanya aku sangat ingin memeluk dan menenangkannya.
Ah, aku ini kenapa! Mengapa aku begitu lemah jika berada dihadapannya? Bukankah tujuanku mengintai rumahnya adalah untuk membalas dendam padanya, tapi kenapa malah aku membantunya. Ada apa sebenarnya denganmu Jung Yunho!
"Jaejoong-ssi, kita sudah sampai. Kau tunggu dulu disini, aku akan memanggil dokter."
Jaejoong hanya mengangguk. Wajahnya begitu merah karna menangis. Aku segera masuk dan mencari dokter, segera setelah kuberitahu keadaan appa Jaejoong. Kulihat suster-suster segera membawa ranjang pasien, mereka lalu mengangkut tubuh appa Jaejoong.
"Suster, appa ku baik-baik saja kan?" kudengar Jaejoong bertanya pada salah satu suster. Aku mengikutinya dari belakang.
"Mian, kalian silakan menunggu diluar. Kami akan berusaha menolong sebisa kami."
"Tapi, suster aku ingin melihat appa."
"Kami akan melakukan yang terbaik, sebaiknya anda menunggu dan berdoa."
"Jaejoong-ssi, tenanglah. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk appamu."
Aiss, apa yang aku lakukan. Pabo! Bukankah ini kesempatan untuk membuatnya semakin tersiksa, tapi aku tak bisa melakukannya. Melihatnya rapuh dan tak berdaya seperti ini, aku malah ingin melindunginya. Tanpa kuminta, tangan ku terulur membelai kepalanya, kencoba menenangkannya. Perlahan turun dan berakhir di pundaknya. Kuremas pundaknya untuk memberinya kekuatan.
"Yunho-ssi, gomawo ne. Kau sudah membantuku."
Tanpa sadar aku tersenyum membalas ucapannya. "Cheonma."
"Maaf, apa diantara kalian ada keluarga dari pasien?" seorang dokter keluar dari ruang UGD.
"Ne. Aku anaknya."
"Bisa kita bicara sebentar, mengenai keadaan appa anda. Mari." kulihat Jaejoong berjalan mengikuti dokter itu. Tak lupa sebelumnya ia berbicara padaku.
Yunho POV end
.
"Bagaimana keadaan appa saya dokter?"
"Keadaannya sudah melewati masa kritis, tadi beliau mengalami serangan jantung ringan. Untung anda segera membawanya kesini, kalau terlambat mungkin hal buruk bisa terjadi."
"Syukurlah, sekarang bolehkah saya bertemu dengannya?"
"Ne silakan. Kalau begitu saya permisi."
Jaejoong langsung bergegas menemui appanya. Tak lupa ia mengajak Yunho ikut masuk.
"Appa, ini aku Jaejoong."
Mr. Kim terbaring lemah diranjang kamarnya. Tangannya dipasangi selang infus. Matanya sayu memandang kearah anaknya.
"Jaejoong-ah." suara lemah Mr. Kim memanggil anaknya.
"Ne appa, appa jangan banyak bicara. Istirahatlah. Aku akan menemani appa."
Mr. Kim tersenyum lembut, lalu memejamkan matanya.
Jaejoong merasa lega melihat appanya sudah siuman. Senyum tak henti menghiasi wajahnya. Melihat itu, jantung Yunho kembali berdetak lebih kencang.
"Jaejoong-ssi, mian. Sepertinya hari sudah sore. Aku harus pulang."
"Ah, mian Yunho-ssi, aku melupakanmu. Baiklah, terimakasih untuk semuanya."
"Cheonma. Nanti aku akan kemari lagi. Apa ada hal lain yang kau perlukan Jaejoong-ssi?"
"Ah, ne. Aku lupa menghubungi Junsu. Ponselku kutinggalkan di teras. Karna aku terlalu panik tadi, jadi bolehkah aku meminjam ponselmu?"
"Ne, ini."
Jaejoong segera menghubungi Junsu. Memberitahu sahabatnya itu tentang kondisi appanya. Tak lupa ia menyuruh Junsu untuk membawakan dirinya pakaian.
"Gomawo ne Su-ie."
"Ne hyung. Aku segera kesana."
Jaejoong mematikan sambungan telponnya pada Junsu lalu mengembalikan posel milik Yunho.
"Gomawo Yunho-ssi."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Nanti aku akan kembali lagi. Permisi."
Jaejoong mengantar Yunho, setelahnya ia kembali ke kamar lalu mulai mengurusi appanya.
.
Yunho POV
Aku duduk menunggu kedatangan Yoochun. Sembari menunggu kedatangan Yoochun pikiranku kembali saat tadi aku untuk pertama kalinya melihat senyum Jaejoong. Dan lagi-lagi jantungku berdetak tanpa bisa aku kontrol. Entah kenapa melihatnya tersenyum membuatku merasa senang dan tentram. Melihat senyum menghiasi bibir merah cherynya itu. Sungguh manis dan ingin rasanya aku merasakan bibir itu.
"Aihh, apa yang aku pikirkan. Bukankah selama ini aku tak pernah tertarik dengan yeo-, tunggu. Yeoja? Kalau memang Jaejoong itu yeoja, tapi kenapa aku tak melihat bentuk itu di dadanya?"
Aku kembali mengingat-ingat bentuk tubuh Jaejoong. Dan benar saja, tak ada tonjolan itu di dadanya. Seharusnya jika ia yeoja ia memiliki tonjolan itu.
"Pabo! Jadi dia itu namja?"
Aku terpekik baru menyadari kebodohanku.
"Hyung, apa yang kau lakukan disini?"
"Aigoo Chunie, kau mengagetkanku saja." aku sama sekali tak mendengar kedatangan Yoochun.
"Yah, hyung, bagaimana? Kau berhasil membalas dendam eoh?"
"Ternyata kau benar Chunie, ternyata Jaejoong itu memang namja. Kenapa aku begitu bodoh!" jawabku tak mendengar pertanyaan Yoochun.
"Hyung, neo gwencana?"
"Chunie, ayo kita pulang saja. Kepalaku sanggat pusing. Kajja."
Aku segera mengajak Yoochun untuk pulang, aku sangat lelah hari ini. Lelah dengan kenyataan yang baru saja aku sadari.
Yunho POV end
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Saya kembali membawa chap 4~
Bagaimana chap ini ? Adakah yang bingung dengan plot yang saya buat ?
Bagaiamana kelanjutan hubungan Yunjae ne? Yun selalu dokidoki suru kalo deket Jaejoong.. Ada apakah gerangan? Apa Yun mulai sukakah? Hohoho...
Terimakasih bagi yang kemaren review.. Semoga chap ini bisa membuat kalian senang dan mau mereview lagi ne~
Arigatou gozaimasu minna san.. Review onegai~
Chap depan lusa saya post lusa yaaa~
