How World Betrayed Her





Ino berdiri di depan pintu atap. Sudah beberapa hari berlalu sejak 'deklarasi perang'nya dengan Gaara. Hari-hari yang ia lalui setelah itu sangatlah berat. Beberapa kali meja dan lokernya dipenuhi oleh sampah. Bahkan ia pernah kehilangan sepatu indoornya, hingga seharian ia menggunakan sandal di sekolah.

Sebenarnya Ino telah menyiapkan dirinya untuk hal-hal itu. Satu-satunya hal yang mengganggunya adalah fakta bahwa teman sekelasnya benar-benar menjauhinya. Ia seolah dianggap seperti udara di sana. Ia bahkan merasa lebih suka jika mereka menyerangnya secara langsung, seperti beberapa gadis tidak beruntung yang pernah menyerangnya di kamar mandi. Mereka kakak kelasnya.

Ino sebenarnya tidak berniat meladeni gadis-gadis itu. Meskipun kesal, Ia hanya mengacuhkan gadis yang terus berkata kasar sambil mempermainkan wajah dan rambutnya. Hingga salah seorang gadis itu merebut tasnya kemudian melemparnya, membuat isinya berserakan, termasuk bekalnya. Ino benar-benar meledak saat itu. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengganggunya.

Ino mendesah setelah memutar knob pintu atap. Lagi-lagi pintu itu terkunci. Setiap hari ia selalu menuju atap tiap jam makan siang, tapi pintu atap itu selalu terkunci. Terakhir pintu itu terbuka adalah beberapa hari lalu, saat ia bersama... senpai, yang ia tidak tahu namanya itu.

Bisa dikatakan, Ino menikmati waktu yang ia habiskan dengan senpainya itu. Ia sama sekali tidak merasa takut saat berada di dekat pemuda itu. Ino bahkan dapat merasakan kenhangatan yang nyaman di dadanya saat bersama senpainya itu.

Ino mendesah lagi. Mungkin hari ini ia akan makan siang di sini lagi, di depan pintu yang terkunci seperti hari-hari sebelumnya, sendiri.



***



Sasori berjalan santai menaiki tangga. Di tangannya ia menenteng kantung plastik yang isinya beberapa bungkus roti yakisoba dan dua kaleng moccachino. Ia memang telah terbiasa dengan menu makan siang tersebut.

Sudah beberapa hari sejak Sasori terakhir makan siang di atap. Kesibukan OSIS memang sangat menumpuk di tahun ajaran baru, mengingat beberapa bulan lagi pengurus OSIS akan berganti. Hal tersebut membuatnya tidak sempat makan siang di tempat favoritnya. Selain itu, ia juga sangat ingin merokok.

Sasori menghentikan langkahnya beberapa meter dari pintu atap. Seorang gadis berambut pirang berdiri di depan pintu tersebut, membelakanginya. Gadis itu menjinjing tasnya. Dari tempatnya berdiri, Sasori dapat mendengar desahan gadis tersebut.

Gadis itu kemudian berbalik hendak beranjak dari tempat itu, tapi berhenti begitu melihat Sasori. Mata gadis itu terlihat agak terkejut. Terlihat pipi gadis itu agak merona.

"Yo..." Sasori membuka suaranya menyapa gadis di depannya. Ia kemudian mendekat ke arah gadis itu. "Menungguku?"

"Hah?" Ino melotot ke arah pemuda di depannya. "Tentu saja tidak, narsis-senpai"

"Benarkah?" Sasori sedikit menyunggingkan senyumannya. "Aku kira kau meridukanku" ia tidak bisa menahan diri untuk menggoda gadis di depannya. "Bukankah setiap jam makan siang kau kesini?"

"E-eh" Ino kaget. "Bagaimana kau ta-" ia menghentikan ucapannya setelah melihat ekspresi 'tuh kan' dari senpainya itu. Ia memanyunkan bibirnya. "Senpai, mungkinkah kau-" Ino melindungi dadanya dengan kedua tangannya, sambil sedikit mundur. "-stalker"

"Tentu saja tidak, baka-kohai" Sasori berjalan ke arah pintu atap. Memasukan kunci ke lubangnya, kemudian memutar knobnya. "Aku terlalu menarik untuk jadi seorang stalker"

"Apakah kau selalu senarsis ini, senpai?" Ino berjalan melalui pintu yang baru saja dibuka. Senpainya kemudian mengikutinya, tidak lupa menutup kembali pintu tersebut. "Kau sangat mengagumkan. Dalam arti negatif tentu saja"

"Setidaknya aku bukan gadis aneh yang menghabiskan jam makan siangnya sendiri di atap" Sasori terkekeh melihat gadis di depannya menoleh dengan raut wajah kesal. "Memangnya kau tidak punya teman?"

Ino duduk setelah menemukan tempat yang teduh. Ia mengacuhkan pertanyaan senpainya itu, tidak tahu harus menjawab apa. Sasori duduk di sampingnya, dengan jarak sekitar satu meter. Ia kemudian mengeluarkan kotak bekal dari tasnya. Sedangkan Sasori mengeluarkan kaleng moccachinonya, membuka lalu meneguk isinya.

"Bukankah kau juga begitu, senpai?" Ino membuka kotak bekalnya. Mengambil sumpitnya kemudian mengatupkan tangannya, berdoa, kemudian mengambil telur gulungnya. "Makan siang sendiri di atap sendiri" Ia menikmati aroma makanannya sebelum melahapnya. "Senpai tidak terlihat seperti orang yang tidak punya teman"

"Aku tidak suka keramaian saat aku makan" Sasori membuka roti yakisobanya, kemudian memasukannya ke mulut. "Selain itu aku juga butuh tempat untuk merokok" Sasori menyunggingkan bibirnya mendengar desahan gadis di sampingnya. "Dan juga, aku ingin menemani kohaiku yang malang"

"Hei, aku tidak semengedihkankan itu" Ino merengut kesal. "Aku tidak mau dikasihani olehmu, senpai" Ia mengunyah makanannya. "Kau tidak perlu menemaniku"

"Hmm... begitukah?" Senyum Sasori melebar. Entah sejak kapan wajah cemberut gadis di sampinya itu telah menjadi salah satu hal favoritnya. "Bukankah kau setiap hari kau ke atap, berharap bertemu denganku?"

"Waaaahh...." Ino menjauhkan badannya dari pemuda di sampingnya. "Seperti biasa, senpai. Kau selalu bisa membuatku merinding" Ia kembali menyuap makan siangnya. "Aku semakin yakin kalau kau seorang stalker"

"Heehh" Sasori terkekeh. "Aku tidak tahu kau senarsis itu" terdengar suara batuk dari sebelahnya. Ino tersedak. "Mungkinkah kau mengharapkan itu?" Ia melihat gadis di sebelahnya meneguk teh olong dari botolnya. Pipi gadis itu memerah. "Apakah kau yakin tidak menyukaiku?"

"Sejauh ini aku yakin" Ino melanjutkan makannya. Beberapa suap lagi bekalnya akan habis. "Dan behentilah menggodaku"

"Aku menolak" Sasori membalas santai. Ia telah menghabiskan makan siangnya. "Menggodamu menyenangkan, kau tahu" Ia meneguk minumannya. "Aku suka melihat wajahmu yang merona seperti itu" ia menatap Ino yang langsung membuang muka. Dari sudut pandangnya, ia dapat melihat telinga gadis itu memerah. "Terlihat manis. Dan kuyakin juga terasa manis"

"Hmmp..." Ino bangkit dari tempat duduknya setelah merapikan kotak bekalnya. "Kau menyebalkan, senpai" Ia dapat merasakan wajahnya yang memanas, serta jantungnya yang memacu lebih cepat dari biasanya. "Berhentilah mempermainkanku"

"Hei. Aku serius lho" Sasori memandang gadis yang mulai berjalan menuju pintu atap. "Tidak pernah seserius ini, kau tahu"

"Terserahmu saja, senpai" Ino membuka pintu atap. "Aku tidak akan percaya padamu" Ia berjalan hendak keluar dari atap. Tepat sebelum ia menutup pintu itu, ia tersenyum ke arah Sasori. Senyum yang sangat lembut. "Terima kasih telah menemaniku, Baka-senpai"

Sasori tertegun di tempatnya. Ia tidak pernah menduga Ino akan tersenyum seperti itu. Ia benar-benar terkena serangan telak. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari tasnya. Mengeluarkan sebatang kemudian membakarnya. Ia harus menenangkan gemuruh di dadanya. Sasori menghisap dalam-dalam rokoknya, kemudian menghembuskannya ke udara. 'Perasaanku saja atau rokok ini rasanya agak manis' batinnya.



***



Keseharian Ino terus berlanjut. Ia mulai terbiasa menghadapi Gaara dan "neraka"nya. Ia memang setiap hari diganggu olehnya, tapi ia tidak pernah menanggapinya serius. Ia berpikir suatu hari Gaara akan jenuh mengganggunya, selama ia tetap mengacuhkannya.

Beberapa kali air mata Ino hampir keluar gara-gara perbuatan Gaara dan teman-temannya. Ino menahannya sekuat tenaga. Menurutnya menangis berarti kalah, dan ia tidak ingin kalah dari pemuda itu.

Seperti telah menjadi rutinitas, tiap hari Ino menghabiskan jam makan siangnya di atap. Ia selalu makan siang bersama senpai berambut merahnya. Ia mulai terbiasa dengan godaan senpai yang menurutnya narsis tersebut. Meskipun begitu, tetap saja pemuda itu berhasil membuat pipi Ino merona. Terkadang wajah tertawa pemuda itu membuat jantungnya bekerja lebih keras.

Ino sendiri tidak tahu tepatnya, ketika ia mulai menikmati masa SMAnya. Hari-harinya yang keras gara-gara Gaara membuat beberapa menit jam makan siang bersama senpainya itu menjadi sangat berarti. Ia mulai merasa membutuhkan pemuda tersebut, meskipun tentu saja ia tidak akan mau mengakuinya.



***



Ino mendesah kesal. Ia baru saja menghabiskan makan siangnya sendiri, di depan pintu atap. Senpai merahnya tidak datang.

Ia memasukkan kotak bekalnya dengan kasar. Masih ada banyak waktu yang tersisa karena ia menghabiskan makan siangnya dengan cepat. Ia tentu saja tidak mau kembali ke kelasnya. Ada kemungkinan ia akan bertemu dengan Gaara di sana. Jam istirahatnya terlalu berharga untuk dihabiskan dengan panda merah itu.

Ino berjalan tanpa arah. Ia tidak mempunyai rencana hendak ke mana. Ia akhirnya berhenti di depan perpustakaan. Wajahnya yang tadi kusut menjadi cerah. Ia segera masuk ke dalam.

Perpustakaan itu bisa dibilang cukup sepi. Hanya beberapa siswa yang berada di sana. Ino bersyukur akan hal tersebut. Ia tidak terlalu suka keramaian. Ia kemudian memilih buku yang menarik perhatiannya dan mulai membaca buku tersebut.

Ino akhirnya menutup buku yang dibacanya. Beberapa menit telah terlewat. Ia melirik jam tangan di lengannya. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Ia bergegas merapikan buku di depannya. Lankahnya terhenti mendengar suara terjatuh.

BRUK

"A-aduh..."

Ino bergegas mencari sumber suara.

Ino menemukan gadis yang tengah tersungkur. Buku-buku berserakan di sekitar gadis itu. Posisi gadis itu membelakangi Ino. Ia melihat rok gadis itu tersingkap.

"UNGU!"

Ino tanpa sadar berteriak. Membuat hadis di depannya terlonjak. Gadis itu dengan cepat berdiri. Tangannya merapikan roknya. Wajah gadis itu merah seperti kepiting rebus.

"M-maaf" Ino segera membungkuk meminta maaf. Ia merasa bersalah telah membuat gadis di depannya malu. "Aku tidak sengaja"

"Ti-tidak a-apa-apa" gadis itu ikut membungkuk. "A-aku hanya t-terkejut"

Ino menatap gadis di depannya. Gadis itu berambut indigo, kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Mata gadis itu seperti manik amatheist. Ino tidak perlu menjadi laki-laki untuk mengakui kecantikan gadis di depannya.

Gadis itu mulai memunguti buku-buku yang terjatuh.

"Biar ku bantu" Ino mulai membantu gadis di depannya. Ia ikut memunguti buku-buku yang berserakan kemudian menyodorkannya pada gadis itu. "Aku Yamanaka Ino"

"E-eh" gadis berambut indigo itu agak terkejut oleh perkenalan tiba-tiba Ino. "A-aku Hyuga Hinata" gadis yang bernama Hinata itu mengambil buku-buku yang disodorkan Ino. "A-aku petugas perpustakaan. T-terima kasih telah membantuku, Y-yamanaka-san"

"Mmm..." Ino mengangguk. Ia tersenyum tulus. "Sama-sama, Hyuga-san"

Mereka kemudian melanjutkan merapikan buku-buku di perpustakaan sambil berbincang tentang buku. Ino merasa membantu Hinata cukup menyenangkan. Gadis itu cukup berwawasan tentang buku. Ino bahkan mendapatkan beberapa rekomendasi buku dari Hinata.

Ino sangat bersyukur bisa datang ke perpustakaan hari ini. Ia bahkan melupakan rasa kesalnya pada senpai merahnya, juga pada panda merah di kelasnya.



***



Ino mendesah lelah. Ia sangat tidak menyukai keramaian. Ia lebih suka menghabiskan waktu di kamarnya, tenggelam dalam buku-bukunya. Terima kasih pada ibunya yang menyeretnya dari kamarnya yang nyaman untuk menemaninya belanja. Ino hanya bisa pasrah merelakan akhir pekannya yang berharga.

Jujur saja Ino sangat jarang keluar untuk belanja. Ia lebih suka berbelanja secara online. Tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan ibunya. Lebih tepatnya ia tidak bisa menolak pafrait yang dijanjikan ibunya jika ia menemaninya ke mall.

Dan disinilah Ino sekarang. Di tengah-tengah toko pakaian yang tengah ramai. Ia sempat mendengar ibunya berbicara dengan semangat tentang diskon yang ada di toko ini selama perjalanan tadi.

Ino mendesah lelah. Belum setengah jam ia mengekori ibunya, tapi ia merasa energi di tubuhnya telah habis. Ia tidak percaya saat ibunya berkata bahwa ia biasanya menghabiskan berjam-jam di sana. 'Kalian pasti bukan manusia' batinnya.

Ino akhirnya bisa bernafas lega ketika ibunya mengajaknya keluar dari toko itu. Mereka memasuki sebuah kafe yang terletak di mall. Kafe itu cukup ramai. Wajah Ino yang sedari tadi kusut akhirnya cerah setelah merasakan pafrait yang telah ia tunggu-tunggu. Ia menimatinya dengan lahap mengabaikan ibunya yang mengomelinya dengan 'kau bisa gendut' dan semacamnya.

Setelah keluar dari kafe, Ino langsung meminta izin ke ibunya untuk pergi ke toko buku. Ia tidak mau menghabiskan waktu mengekori ibunya lagi. Untungnya ibunya mengiyakan permintaan putrinya itu.

Ino memasuki sebuah toko buku. Suasana di dalam toko itu sangat sunyi, kontras dengan kebisingan di luar. Rak-rak tinggi terbuat dari kayu berjejer dengan rapi. Di dekat jendela kaca, terdapat beberapa meja yang bisa digunakan pengunjung untuk membaca. Ino sangat menyukai toko itu.

Ino berjalan menuju rak yang bertuliskan "fiksi". Ia mulai melihat-lihat buku disana. Ia tidak melihat ada pengunjung lain di toko itu. Ia bersyukur akan hal itu. Ia merasa sangat nyaman berada di sana. Ia kemudian mengeluarkan kacamata bacanya dari tasnya, kemudian mengenakannya dan mulai membaca beberapa buku.

Beberapa menit berlalu, Ino memilih beberapa buku yang menurutnya menarik. Ia kemudian berjalan menuju rak yang terletak di pojok ruangan.

Langkah Ino terhenti mendengar suara berisik dari balik rak pojok itu. Adegan-adegan dari film horor yang pernah ia tonton mulai berputar di kepalanya. Ia dengan cepat menggeleng, mencoba mengenyahkannya. Ia memberanikan diri mendekati rak tersebut. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.

Ino terpaku di tempatnya. Ia benar-benar tidak percaya apa yang dilihatnya. Di depannya seorang pemuda berambut merah tengah mencumbu seorang gadis. Pemuda itu membelakangi Ino. Gadis di pelukan pemuda itu memejamkan matanya, menikmati tiap sentuhan dari pemuda berambut merah itu.

Ino tahu pemuda itu, meskipun pemuda itu membelakinginya. Tapi ia menolak untuk percaya.

Ino kehilangan kekuatannya. Buku-buku yang ia bawa di tangannya berjatuhan, membuat pasangan di depannya terlonjak. Pemuda berambut merah itu berbalik. Seketika mata hazelnut pemuda itu terbelalak.

Ino bergegas keluar dari toko tersebut. Ia kemudian berlari sekuat tenaga. Beberapa kali ia menabrak karena pengelihatannya yang berembun. Entah sejak kapan air matanya telah mengalir dengan derasnya.

'Mengapa aku berlari?' Ino membatin. 'Mengapa aku menangis?' Ino bertanya pada dirinya sendiri. 'Mengapa dadaku sesak?'

Ino terus berlari tanpa arah. Langit sudah menggelap.

Ino menghentikan langkahnya. Di depannya terdapat dinding, sebuah gang buntu. Ia baru sadar. Gang buntu itu gelap.

Ino segera berbalik, bergegas meninggalkan tempat tersebut. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia berhenti. Di depannya sekelompok pria mendekatinya.

Tubuh Ino bergetar hebat. Sekelebat kenangan buruknya telintas di kepalanya. Ia mundur menjauh dari pria-pria tersebut, hingga punggungnya menyentuh dinding di belakangnya.

Pria-pria itu mulai mendekati Ino. Telinganya berdengung. Ia tidak bisa mendengar apapun, tapi ia dapat melihat pria-pria tersebut tertawa. Salah satu pria itu memegangi tangannya. Tubuh Ino melemas. Ia mencoba sekuat tenaga melawan, tapi tubuhnya seperti tidak mematuhinya.

Pria-pria itu mulai mengerubungi Ino. Ino mencoba untuk berteriak minta tolong, tapi suaranya tidak mau keluar. Hanya suara parau yang keluar dari mulutnya. Saat pria-pria itu mulai menyentuhnya, akhirnya suaranya keluar. Suara yang pelan

"To-tolong!"



TBC



Mind to RnR