Fanfic ini saia buat untuk mengenang persahabatan saia dengan teman-teman saia. Girls, you rock! Hha.. buat teman saia yang tergila-gila sama Nick Jonas, yang tergila-gila sama komik, yang tergila-gila sama Jesse Mc Cartney, yang tergila-gila sama Joe Jonas, dan ada yang tergila-gila sama novel. This is for you!
X X X
a new fanfic from Violett.
Naruto © Masashi Kishimoto.
Our Friendship © Primrose Violett.
X X X
Ketika persahabatan diuji. Karena cinta, dan keegoisan. Dapatkah mereka tetap bersahabat? SakuHinaTenInoTema/ SasuNaruNejiSaiShika. FRIENDSHIP.
X X X
Three : The Secret 1
"Ayo, teman-teman. Masuk." seru Hinata mempersilahkan keempat temannya—Ino, Sakura, Tenten, dan Temari untuk masuk ke pekarangan rumahnya yang besar.
"Wow. Halaman rumahmu masih sebesar dulu, ya? Atau mungkin lebih besar dari pada yang dulu." Tenten berdecak kagum.
"Hei, hei. Setahuku, waktu seminggu yang lalu kita main ke rumahmu, disitu belum ada arena bermain." kata Ino sambil menunjuk kearah perosotan, ayunan, komidi putar, dan lain-lain.
"Iya. Hanabi menginginkan di rumah ini ada taman bermainnya. Jadi, Ayah membelikannya berbagai permainan itu, dan membuatkan arena khusus buatnya." ujar Hinata pelan.
"Wahh… Ayahmu baik, ya?" ujar Temari. "Aku ingin punya Ayah seperti Ayahmu."
Hinata hanya tertawa dan tersenyum simpul, "Kalian hanya tidak tahu siapa Ayahku yang sebenarnya. Sebenarnya, Ayahku juga tidak sebaik yang kalian kira." serunya.
"Ano… kenapa disini ada sepatu remaja cowok, Hinata?" tanya Sakura sambil menunjuk kearah sepatu kets berwarna biru tua yang khas sekali cowok yang diletakkan di pintu masuk sebuah kamar—Sakura bahkan sudah tidak menangis lagi—
"Oh, itu. Itu sepatu saudara laki-lakiku." ujar Hinata.
"Oh, ya? Saudara laki-laki? Cakep tidak?" tanya Ino bersemangat.
Temari menjitak kepala Ino, "Awww…" omel Ino kesakitan. "Apaan sih, Temari?" tanya Ino sambil memasang ekspresi marah.
"Dasar. Pikiranmu itu cowok terus." ujar Temari.
"Memang iya. Daripada mengoleksi kipas???" ejek Ino.
"Huh. Pantesan saja otakmu bodoh, Ino." Temari balas mengejek Ino.
"Apa kamu bilang??? Dasar penggila kipas!"
"Penggila cowok!"
"STOPPP!" teriak Tenten menengahi acara ejek-mengejek Ino dan Temari. "Sudahlah. Kata Hinata, saudaranya itu baru saja tiba di Konoha, dan dia berasal dari Suna, jauh 'kan?" seru Tenten.
"And so???" tanya Temari dan Ino bersamaan.
"Haduh. Artinya, kalian itu nggak boleh berisik. Dia sedang beristirahat." teriak Tenten gemas.
"Hei. Kamu kali yang akan membangunkannya. Suaramu keras sekali tahu!" ujar Ino.
Temari mengangguk setuju, "Iya. Suaramu itu keras sekali tadi."
"Oooopsss…"
X X X
"Sakura-chan, sebenarnya ada apa, sih?" tanya Hinata penasaran.
Sakura menggeleng. Tidak mau memberi tahu masalahnya.
"Sakura, cerita saja." bujuk Temari.
Sakura tetap menggeleng.
"Hei. Kita 'kan teman. Seberapa rumitnya permasalahanmu, kami tidak akan menyebarkannya kok." kata Temari. "Yah, kecuali Ino. Dia sih ada kemungkinan akan menyebarkan semuanya." lanjut Temari.
Ino memelototinya.
"Cerita, ya?" tanya Ino lembut.
Sakura menggeleng.
"Sakura… kamu tahu? Kalau kita memiliki masalah dan tidak mau membaginya kepada seseorang, maka perasaan kita pasti lebih berat…" seru Ino. "…dan kalau kita membaginya kepada seseorang, maka beban kita juga pasti akan terasa lebih ringan." lanjutnya.
"Yup." ujar Tenten, Temari, dan Hinata bersamaan.
Sakura mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk. Dia memang sudah berhenti menangis sejak di mobil Hinata.
"Maaf ya, teman-teman." ujar Sakura pelan.
"Maaf untuk apa, Sakura-chan?" tanya Hinata bingung.
"Karena aku tadi sempat meragukan kalian." kata Sakura.
"Hmmm… tidak apa-apa, Sakura." kata Tenten lembut.
"Kalian janji, ya? Nggak akan memberitahu kepada siapa pun tentang masalahku ini?" tanya Sakura.
"Tentu saja." seru Temari.
"Kita 'kan sahabat?" kata Tenten.
"Dan, kita akan bersumpah demi persahabatan. Bahwa kami nggak akan memberitahu siapa pun tentang masalahmu." ujar Ino.
Tenten, Hinata, dan Temari mengangguk setuju.
"Baiklah…" desah Sakura.
"Ini adalah masalah yang sudah terjadi cukup lama…" ucapan Sakura mengambang.
"Saat itu—Ah! Aku takut." ujar Sakura memotong ceritanya dan menatap keempat temannya.
Death glare.
"Ah—iya, iya… aku ceritakan sekarang." ujar Sakura ketakutan.
"Waktu itu, saat aku masih duduk di kelas 2 SMP, kedua orang tuaku bertengkar hebat, dan seperti yang kalian tahu… mereka akhirnya bercerai." cerita Sakura dengan suara serak—mungkin karena menangis tadi.
"Dan… saat itu, aku dan Kak Takumi ikut dengan Ibuku, sedangkan kedua kakakku yang lain ikut dengan Ayahku…" cerita Sakura mengambang.
"Dan mulai saat itu… aku dan Kak Takumi bermusuhan dengan kedua kakakku yang lainnya, sebenarnya bukan kami yang ingin mencari masalah… tapi, mereka yang memusuhi kami duluan."
"Terus? Siapa kedua kakakmu itu, Sakura?" tanya Temari penasaran.
"Iya. Setahuku, kamu hanya memiliki satu kakak; Kak Takumi." ujar Tenten.
"Hei. Kamu melupakan Kak Furuki yang cakep itu, tahu." protes Ino.
"Ino-chan merusak suasana saja." ujar Hinata pelan.
"Apa?" tanya Ino.
"Hei. Sudah-sudah." ujar Tenten sebelum terjadi pertengkaran (lagi).
"Lanjut, Sakura…" pinta Ino.
"Kedua kakakku yang tidak kalian kenal itu adalah Kak Dilla yang adalah anak pertama, dan Kak Furuki sebagai anak kedua."
"Lalu? Apa masalahmu dengan Kak Furuki?"
"Kak Furuki jadi sangat membenciku sejak aku memilih untuk ikut dengan Ibu." ujar Sakura.
"Benci? Bukankah itu keterlaluan? Membenci adiknya yang cantik seperti Sakura?" Tenten mendengus kesal.
"Haha… Tenten bisa saja… yah, tapi itulah kenyataannya; Kak Furuki membenciku dan Kak Takumi. Tapi, Kak Furuki lebih membenciku daripada Kak Takumi."
"Lalu… bagaimana dengan Kak Dilla?" tanya Ino.
"Kak Dilla kebalikannya. Dia tidak membenciku, tapi membenci Takumi."
"Kenapa?" tanya Hinata penasaran.
"Karena...—Ah! Ceritanya panjang!"
"Ayolah… kami akan dengan setia mendengarkan semuanya." ujar Temari.
"Oke. Baiklah. Dulu… aku dan Kak Furuki itu sangat dekat. Bisa dibilang, kami itu sehati karena aku dan Kak Furuki pasti akan menyukai hal yang sama." ujar Sakura. "Seperti sama-sama menyukai warna merah, hitam, dan biru. Sama-sama menyukai komik ber-genre adventure. Sama-sama lebih menyayangi Ayah dibanding Ibu."
"Lalu, apa masalahnya? Kalau kalian sehati, kenapa kalian musuhan begitu?" tanya Ino aneh.
"Entahlah… mungkin hanya karena kesalah pahaman. Kak Furuki berpikir bahwa aku akan ikut dengan Ayah kalau Ayah dan Ibu bercerai, tapi nyatanya tidak." ujar Sakura pelan. "Kurasa Kak Furuki kecewa padaku."
"Dan karena dia kecewa, dia marah padaku yang tidak pernah memperhatikannya lagi, yang tidak pernah meneleponnya lagi. Karena itu, dia membenciku."
"Tapi… tidak seharusnya begitu 'kan? Kasihan Sakura-chan." ujar Hinata pelan.
"Haha… aku tidak apa-apa kok. Lagian, itu memang salahku sendiri." kata Sakura.
TOK… TOK… TOK…
Mereka semua terkejut dengan ketukan pintu kamar Hinata—suasana yang tadinya sunyi sepi nan hening, berubah seketika karena ketukan pintu tersebut.
"Ini saya, Nona Hinata." ujar salah seorang pelayan wanita Hinata dari luar.
"Ah, Hona-san. Masuk." Hinata mempersilahkan pelayan yang bernama Hona itu untuk masuk.
"Permisi…" ujar Hona sopan dan membuka pintunya. "Tuan Hiashi menyuruh saya untuk memanggil Nona Hinata dan teman-teman Nona untuk makan siang bersama Tuan di ruang makan. Saya sudah memasak bento, dan yakiniku kesukaan Nona dan Neji-san." ujar Hona lagi.
"Ah, baiklah Hona-san. Tunggu sebentar, biar aku dan teman-teman untuk bersiap dahulu." kata Hinata.
Hona menatap mereka bingung, "Bersiap untuk apa? Bukankah kalian memang sudah cantik?"
"Bukan itu, Hona-san." ujar Hinata pelan.
"Ya sudah, baiklah. Saya tunggu di luar."
Hinata mengangguk. "Permisi, Nona."
X X X
"Wahhh… makanannya terlihat lezat, ya." Tenten berteriak kagum melihat makanan yang telah tersaji di meja makan yang besar itu.
Ino menyikut Tenten. "Ten, jangan norak gitu, dong. Malu tahu." omel Ino.
"Ah, iya. Maaf."
"Silahkan kalian menikmati makan siang kalian. Kalian boleh mencicipi semua makanan yang telah Hona persiapkan." ujar Ayah Hinata—Hiashi.
"Iya, Oom." ujar Sakura, Ino, Temari, dan Tenten bersamaan.
Mereka pun mulai mengambil makanan yang mereka inginkan, "Itadakimasuuu…" teriak mereka serempak. Hiashi hanya tertawa melihat tingkah teman-teman putrinya itu.
"Ayah… mana Kak Neji?" tanya Hinata tiba-tiba.
"Ah… iya. Hona… Neji mana?" tanya Hiashi kepada Hona yang sedang membereskan hidangan penutup.
"Ah… saya tidak tahu, Tuan. Tadi saya memanggilnya, tapi tidak dijawab, dan pintunya pun dikunci." ujar Hona dari dapur.
"Oh. Biar saya yang ke kamar Neji." ujar Hiashi bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh menuju kamar Neji.
"Hei, Hinata. Ngomong-ngomong, Neji itu siapa?" tanya Sakura.
"Mmmm, siapa ya???" tanya Hinata balik ke dirinya sendiri.
"Tadi kamu memanggilnya 'Kakak'." ujar Tenten.
"Hmmm, Kak Neji itu saudaraku. Seperti yang tadi aku bilang padamu, Tenten. Dia berasal dari Suna dan dia suka pergi seminggu sekali ke Konoha. Sampai akhirnya hari ini dia memutuskan untuk tinggal di Konoha denganku." cerita Hinata.
"Oh ya??? Cakep nggak?" tanya Ino yang tiba-tiba roh ngecenginnya bangkit lagi.
"Ino…" semuanya melotot kearah Ino.
"Hehe… maaf." ujar Ino nyengir.
"Sebenarnya, untuk apa dia pergi ke Konoha seminggu sekali?" tanya Temari penasaran.
"Haha… untuk les di Terara. Sebentar lagi dia masuk universitas, dan dia ingin masuk ke universitas Kono-hana. Kalian tahu 'kan kalau les di Terara, kita pasti akan lolos masuk ke universitas atau sekolah yang kita inginkan??? Itu sebabnya dia pergi ke Konoha seminggu sekali."
"Oooohhh…"
"Nona Hinata, permisi ini hidangan penutupnya." ujar Hona.
"Ah, peach pie, aku suka sekali peach pie. Jadi mengingatkan aku saat aku masih kecil." ujar Sakura menerawang. Pikirannya terbang jauh ke memori di masa lalu.
FLASHBACK
Sakura kecil berlari-lari di halaman rumahnya yang luas dan yang ditanami banyak tanaman buah-buahan.
"Kakak! Kak Furuki!" teriak Sakura sambil terus berlari kerah seorang laki-laki kecil yang sedang bermain mobil-mobilan.
"Eh? Ada apa, Sakura?" tanya laki-laki tersebut memberhentikan aktivitasnya bermain mobil-mobilan dan menatap Sakura.
"Tebak! Siang ini ada berita bagus!" teriak Sakura dengan suara imutnya sambil bertepuk tangan.
"Ada apa? Ada apa?" tanya anak laki-laki itu penasaran.
"Hari ini… Ayah… membuatkan kita… peach pie… untuk merayakan ulang tahun Kak Takumi." ujar Sakura senang.
Sakura dan Kakaknya—Furuki, memang paling suka dengan peach pie buatan Ayah mereka.
"Masa??? Apakah sekarang peach pie-nya sudah jadi???" tanya anak itu bersemangat.
"Tentu saja. Karena itu, Sakura menemui Kak Furuki kesini. Untuk memberitahu Kakak bahwa peach pie kesukaan kita itu sudah jadi. Masih hangat lhoo…" ujar Sakura.
"Kalau begitu… ayo kita ke ruang makan!" ajak anak itu senang sambil menggandeng tangan Sakura yang kecil itu.
END OF FLASHBACK
'Hmm… dulu aku dan Kak Furuki itu dekat sekali, ya.' pikir Sakura. 'Ini semua gara-gara Mama!' geram Sakura marah.
"Sakura? Ada apa?"
Suara merdu Ino membangunkan Sakura dari pikirannya.
'Ya. Ini semua salah Mama!'
X X X
TBC!
Jiah… akhirnya update juga!
Setelah sekian lamanya tidak mendapatkan ide untuk meneruskan fic ini, akhirnya tiba-tiba dapet ide mendadak waktu di sekolah. Alhasil, pulang sekolah langsung ngetik, deh.
Oya, di fanfic ini, Sakura dan Kakaknya memanggil Papanya dengan sebutan Ayah, tapi untuk Mamanya mereka panggil Mama.
Rasanya… Sakura terlalu kejam, deh. Furuki juga! *ditampol Furu*
Hemmm… hemmm… sebenarnya, apa sih yang terjadi dengan Sakura dan keluarganya???
JENGG… JENGGGG… JENGGG…
"Saksikan di chapter berikutnya!" *ditabok*
Baiklah… chappie 4 nanti judulnya 'The Secret 2'
side story juga…
dan akan *mungkin* akan dipenuhi dengan FLASHBACK.
Karena chappie 4-nya nanti adalah side story, maka dengan itu saia nyatakan bahwa setelah chappie 4 di update, fic ini resmi HIATUS! (kecuali emang lagi ad aide dan lagi ada mood untuk ngetik-nya)
Oya, dan mulai chappie depan, semua OC mulai nampang!
Jadi, kalau yang keterima jadi OC, mulai chappie depan bacalah fic ini, okey??? Karena kalian akan mulai nampang di chappie depan.
Yasud! Mau nggak mau tetep REVIEW! *ditabok*
