Kupu-Kupu Tak Berkepak

Chapter IV

.

.

Untuk setiap kasih, sayang, dan perhatian…

Untuk setiap nasehat, pujian, dan saran…

Untuk setiap yang beliau berikan…

Untukmu, Kakak…

Dariku untuk Awan Hitam

Kakak yang ku sayangi dan kagumi…

.

.


Naruto © Masashi Kishimoto

Kupu-Kupu Tak Berkepak © aya-na rifa'i


Hatake Kakashi

.

Seharian ini aku berusaha menenangkan Sasori yang terlalu cemburu pada Sakura. Entah apa yang dilihatnya pada Sakura hingga dia begitu merasa terancam dengan keberadaannya sebagai istriku. Padahal, ialah yang menyarankanku menikah sebagai kamuflase hubungan kami. Ah… uke memang selalu sulit ditebak.

Bicara tentang Sakura. Tak ku sangkal, kehidupannya sedikit membuatku pilu. Aku telah terbiasa hidup berkecukupan sama sekali tak bisa membayangkan betapa tak terperinya hidupnya saat membaca buku hariannya. Aku akui, ia sama tak mengetahui bahwa selama ini aku telah membaca setiap goresan tangannya di buku kecil itu. Dari sanalah aku tahu, ia adalah wanita baik-baik. Tak peduli puluhan lelaki bejak itu telah merenggut kehormatannya sebagai wanita. Di mataku, ia wanita terhormat.

Aku masuk ke kamar kami, menutup pintu secara perlahan tanpa suara. Melihat lampu yang telah padam, sepertinya Sakura sudah tidur. Namun perkiraanku salah, saat aku mendengar ia memanggilku.

"Kashi?"

"Ya… Aku di sini." Jawabku sembari merebahkan tubuhku di sampingnya. Aku memejamkan mataku sejenak sampai aku mendengar suaranya kembali.

"Kau habis minum ya?"

Aku membuka kedua mataku, memiringkn posisi tidurku menatapnya. Langsung saja kedua mata giokknya menyambutku.

"Hanya sedikit whisky dan vodka." Kataku datar. Ku perhatikan kedua matanya langsung membulat dan ia memukul bahuku dengan tangan kanannya.

"Baka Hatake!" Ia langsung beranjak dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi. "Whisky dan Vodka ia bilang hanya?" Samar-samar aku masih mendengar gerutuannya.

"Kau mau kemana, Saku?" Panggilku.

"Tentu saja menyiapkan air hangat untukmu mandi, Baka!" Sahutnya kesal.

Untukku mandi? Yang benar saja? Wanita memang kadang-kadang aneh.

Kira-kira lima belas menit kemudian Sakura sudah kembali berada di hadapanku. Aku sedikit terlelap saat dengan kedua tangannya ia mengguncang-guncang bahuku.

"Kashi, bangun dulu! Kau harus mandi dulu!" Ucapnya masih dengan guncangan di kedua bahuku.

"Aa… Aku ngantuk, Saku!" Elakku masih dengan mata terpejam. Ku pikir ia menyerah, namun sesuatu yang tiba-tiba menekan lembut bibirku membuat mataku langsung terbuka sempurna.

Ia… Menciumku…

"Bangun! Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Dan aku akan menyiapkan teh hangat untukmu setelah mandi. Ayo cepat sana, mandi!" Perintahnya sambil beranjak ke arah dispenser di sudut kamar kami.

Aku tertegun… Dapat ku lihat walau sekilas, wajah putihnya merona merah. Tanpa ku sadari, jantungku pun berdetak lebih kencang…

Ada apa denganku Tuhan?

Aku pun mandi sesuai dengan perintahnya. Selama itu, aku memikirkan apa saja yang telah terjadi antara kami berdua. Aku dan Sakura. Usianya masih sekitar sembilan belas tahun, sungguh berbeda jauh denganku yang telah berusia dua puluh sembilan tahun. Seharusnya ia masihlah seorang gadis belia yang sedang menikmati indahnya masa remaja, bukan gadis yang terpaksa matang sebelum waktunya, memenuhi nafsu para lelaki hidung belang, hingga akhirny menjadi istri seorang gay sepertiku.

Tak adilkah takdir untuknya?

Aku teringat saat pertama menemuinya di hotel itu. Ku akui, di usianya yang terbilang cukup muda, ia telah berhasil merubah dirinya menjadi sesosok wanita yang akan mampu membius puluhan lelaki normal. Bagaimana sikap sinisnya yang terasa begitu menggoda, hanya untuk menutupi perihnya hati saat ia terpaksa menjalankan profesinya. Dan saat itulah aku tahu, aku ingin menjaganya. Bukan sebagai pria pada wanita melainkan sebagai kakak pada adiknya.

Ciuman yang kudaratkan padanya di malam pengantin kami membuatku sedikit tersentak. Jujur, aku tak pernah merencanakan itu. Naluri itu timbul secara alamiah saat aku melihat bibir merah mudanya yang begitu menggoda tanpa polesan lipstick yang justru menambah pesona bibirnya, membuatku tergoda mencicipi bibi itu. Bagai Adam yang tergoda untuk mencicipi buah terlarang. Dan hasilnya pun sama…

Jika Adam merasakan kenikmatan surgawi yang tak terkira saat merasakan buah terlarang, maka aku pun merasakan kenikmatan duniawi yang tak pernah ku perkirakan sebelumnya saat mengecup bibir ranum Sakura yang terlarang bagiku. Itu pun yang semakin membuatku tergoda untuk mencicipi bibir itu lagi dan lagi, dan aku tahu aku harus menahannya. Sakura terlarang bagiku…

Aku telah memiliki Sasori yang selama ini setia menemaniku. Tak sepantasnya aku mengkhianatinya demi hal terlarang dalam wujud Sakura. Walau kini di ingatanku bukan hanya terecap dinginnya bibir Sasori, melainkan satu rasa baru… Hangat, manis, dan lembutnya bibir Sakura.

Aku tersadar dari lamunanku saat ku dengar sayup-sayup Sakura memanggilku.

"Kashi, kau lama sekali? Kau tidak tertidur dalam bathtub 'kan?"

"Ya! Sebentar lagi aku selesai!" Balasku.

Aku mengeringkan tubuhku dengan handuk kimono yang telah disiapkan Sakura, yang menggantung di kaitan kamar mandi. Ku balut tubuhku dengan kimono itu sebelum melangkah keluar kamar mandi dan menujunya yang tengah duduk di tepi tempat tidur menungguku.

Ia menyuruhku duduk di tepi tempat tidur sama sepertinya, walau ia sendiri berdiri dan tanpa ku duga mengeringkan rambutku dengan handuk yang telah ia siapkan sebelumnya.

"Kau ini! Usianya sudah tua, Kashi! Tapi kau sama manja dan teledornya dengan bocah remaja!" Ocehnya sambil terus mengeringkan rambutku. "Kau tahu, kau itu habis minum, kau harus mandi dan minum air ah, bukan, tapi teh hangat sebelum tidur—" aku terus mendengarkan ocehannya. "—kalau kau langsung tidur, pagi-pagi nanti kau akan mual dan muntah-muntah. Kau ini—hei! Kau mendengarkanku tidak, sih?" Gerutunya.

"Ya… Ya… Ya… Aku mendengarkanmu, Saku!" Jawabku malas walau hatiku terasa hangat dengan segala perhatian dan ocehannya.

"Bagus! Kalau begitu, tunggu! Aku akan mengambilkan teh hangat dulu!" Ia berkata sebelum mengambil teh hangat yang sudah disiapkannya di atas meja di sudut kamar kami.

Aku memandangnya yang sedang berjalan penuh. Dapat ku rasakan hatiku sedikit melembut… Rasa hangat mengaliri tubuhku.

"Nah, minumlah!" Serunya sekembalinya mengambil teh hangat dan menyodorkan teh itu padaku. Ku terima dan ku minum secara perlahan. Ku tatap wajahnya dalam-dalam.

"Terimakasih, Sakura."

"Aa… Sama-sama." Ku lihat ia memalingkan wajahnya dari tatapanku dan itu membuatku tersenyum tipis.

"Duduklah, disini!" Kataku sambil menyilahkannya duduk di sampingku. Ia sedikit memandangku dengan tatapan heran walau akhirnya tetap duduk di sampingku.

Aku memandang lurus ke depan tak memandang wajahnya saat aku memutuskan menceritakan hal ini padanya.

"Aku benci wanita."

"Eh?" Dapat ku rasakan kini tatapannya sepenuhnya padaku. Aku pun menatapnya dan kedua mata kami kembali besirobok. Kedua mata giok miliknya menatapku dalam-dalam.

"Saat aku berusia tujuh tahun, aku mengalami pelecehan seksual…"

"Aa…" matanya membelalak saat mendengar pengakuanku.

"…ibu tiriku yang melakukannya." Aku kembali mengalihkan pandanganku darinya, menatap lurus ke depan, membuka kembali memoir pedih yang selamanya ingin ku hapus dari hidupku. Walau ku tahu, memoir itu akan terus mengikuti sepanjang sisa hidupku. "Sejak itu aku benci wanita. Aku benci tatapan mereka yang menggoda. Mereka hanyalah setan di balik setiap tutur kata lembut dan manis dari bibir mereka. Aku benci wa—"

Aku menghentikan kata-kataku saat ku rasakan tangan mungil yang hangat melingkari tubuhku dari samping, membenamkan wajahnya di bahuku.

"Jangan diteruskan, Kashi! Jika itu hanya akan menyakitimu…" Aku tak pernah menyangka akan dihibur oleh seorang wanita yang usianya sepuluh tahun di bawahku. "…jika kau membenci wanita, aku tak menyalahkanmu. Tapi…" ia menggantungkan kalimatnya, sejurus kemudian menatap lembut kedua mataku. "…jika kau membutuhkan seorang wanita hadir dalam hidupmu, ingatlah aku, Chiyo-basan dan setiap wanita yang menyayangimu dengan tulus."

Aku menganggukkan kepalaku. Tanpa ku perintah, kedua tanganku merengkuh tubuhnya dalam pelukanku. Ku sandarkan kepalanya di dadaku. Dapat ku rasakan rambut merah mudanya menggelitik tengkukku. Tapi aku tak peduli. Hanya kenyamanan yang ku rasakan saat ini. Ku belai pelahan rambutnya dengan jemariku.

"Arigatou, Sakura."

Terimakasih untuk segala yang kau lakukan…

Selamat tidur, wanitaku…

.

.

To Be Continue…


Catatan Kecil:

Trims banget sama yang masih mau baca and ripiu fic ini. Hehehe...

Lagi kesambet apa kali saya cepet apdet!#plakk..XDD

Chap ini dengan sudut pandang Kakashi, maaf jika mengecewakan. Hanya saja saya ingin membuat chap ini sebagai fondasi beberapa hubungan yang akan terjadi di fic ini. Walau memang plot dan ceritanya mungkin pasaran. #pundung...

Sekali lagi terimakasih untuk semua.^^

Untuk Y0uNii D3ViLL, aku lagi nyiapin draft buat Affair.^^ makasih buat semangatnya.*hug*

Aya^^31102010