Helaan napas panjang dilakukan oleh Hinata, sekali lagi amethyst miliknya melihat pada kaca rias di kamarnya. Mata itu masih terlihat membengkak, efek hebat karena tangisan tadi malam. Penyebabnya tentu saja siapa lagi kalau bukan si brengsek, Naruto itu. masih membekas di ingatannya bagaimana perbuatan pemuda itu pada dirinya. Bahkan bagaimana rasa saat bibir mereka bertemu dan..
"Argh!" Serunya terlihat frsutasi. Bagaimana bisa ia masih mengingat kejadian itu. Apa tidak ada cara untuk melupakan kejadian kemarin.
Mengantukan kepala ke meja rias dilakukan Hinata -sedikit pelan. Perlahan mengangkatnya kembali melihat ke arah kaca. Menatap bayangan dirinya sendiri di sana. Terdiam sesaat sebelum akhirnya, mendecak kesal tidak percaya pada diri sendiri yang mau-maunya saja, mengikuti kata hatinya untuk menjenguk keadaan pria itu yang sudah lama tidak pernah menghubunginya, kalau tau akan seperti ini jadinya, mungkin lebih baik ia tidak pernah menemui pria itu.
"Apa yang sudah kulakukan, dasar bodoh!" merutuki diri sendiri akan perbuatan di luar kebiasaannya itu. "Hah!" kembali menghela napas mencoba mengingat penyebab dari tingkah aneh pria itu dan decakan kecil keluar dari bibirnya.
Apa selingkuh? Bisa-bisanya pria itu menuduh dirinya selingkuh. Memang apa salahnya jika ia dekat dengan Gaara? Pria itukan selalu menolongnya selama ini. Dan apa pula maksud dari foto-foto itu. Jadi, selama ini ia diikuti. Brengsek! Naruto brengsek, pantas saja pria itu tahu tentang dirinya.
Aih, bukan itu yang harus ia pikirkan. Seharusnya yang ia pikirkan sekarang adalah foto –foto yang jadi biang kerok permasalahan ini. Bukan berarti ia tidak kesal mengetahui dirinya diikuti hanya saja, bagaimana mungkin ia terima dilecehkan seperti ini hanya karena sebuah foto. Dasar Naruto bodoh! Seharusnya ia tanya dulukan kenapa di foto itu ia dan Gaara berpelukan. Jangan main percaya begitu saja dengan foto tidak jelas itu. Apa ia tidak tahu, saat itu Gaara sedang menolongnya yang hampir terjatuh.
"Idiot! Stupid!" tersadar baru saja mengupat hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Ini semua karena si jabrik itu, mengacak rambutnya yang tadi sudah tertata rapi. "Gah, aku membencimu!" menggeram kesal melupakan fakta bahwa adik semata wayangnya kini menatap aneh padanya.
"Apa aku sudah melakukan kesalahan Onee-chan?" pertanyaan itu disertai dengan mata yang mengerjap polos saat ia menoleh, melihat pada amethyst yang sama persis dengan miliknya
Mengantukkan kepala pada meja rias ia lakukan, tidak peduli pada adiknya yang kini menggarukan kepala bingung akan tingkah sang kakak yang yang terlihat aneh hari ini. Hinata yang tidak menjawab pertanyaannya sudah cukup membuatnya paham, bukan ia yang dimaksud oleh sang kakak. Membuatnya memilih berbalik meninggalkan sang kakak dan hobi barunya yang terlihat senang dengan kegiatannya sekarang.
Naruto Masashi Kishimoto
GenreRomance.
RatingT
Warning: AU, OOC, Typo(s), dan segala bentuk ke absurdan lainnya yang murni dalam pemikiran saya.
Jadi kalau ada kesamaan ide, pastinya tidak di sengaja :D
Don't Like, Don't read
Jika tidak berkenan, silahkan pencet tombol kembali.
Crazy Choice
Onxy itu mengerjap sesaat, saling berpandangan sebelum akhirnya kembali menatap pada sang sahabat yang saat ini terlihat mengkompres pipinya dengan handuk dingin.
"Wow, hebat! Capnya jelas sekali." Kekehan kecil terdengar dari salah satu pemilik onxy, memilih duduk tidak jauh dari sahabat pirangnya yang kini berbaring di sofa.
Decakan kecil terdengar dari si rambut pirang, iris sapphirenya melirik malas pada dua pria yang dengan 'sopan'nya duduk tanpa ia suruh. Menghela napas kasar, dan memilih bangun dari tidurnya saat ia lihat salah satu pria membuka isi dari amplop di atas meja.
"Mau apa kalian kemari?" pertanyaan itu terdengar datar.
"Heh, sepertinya kekasihmu selingkuh, dobe." Sahutan sinis itu terdengar dari pria yang membuka amplop. Mengamati satu persatu lembar foto yang ada di tangannya.
Suara siulan terdengar dari pria satunya, "sepertinya ia lebih ganteng darimu, Naru." Diikuti kekehan kecil.
"Sialan kau, Sai." Sungut Naruto menatap pada kedua sahabatnya yang tertawa kecil, ralat hanya pria yang bernama Sai saja yang tertawa. Sedangkan pria satunya hanya tersenyum.
Memilih menyadar di sandaran sofa, dilakukan oleh pria satunya. Iris onxynya menatap ke arah pria keturunan Uzumaki tersebut. Membuat posisi yang dirasanya sangat nyaman sebelum akhirnya berkata. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya, dobe?" Tanyanya menatap pada pria di hadapannya yang kini menatapnya balik. "Ini semua rencanamu kan." Seringainya.
Berkedip sekali, sebelum akhinya bibir itu sedikit tertarik. "Walau sudah ku prediksi. Tetap saja, aku tidak menyangka kau tau jalan pikiranku, Teme." Senyumnya sinis.
"Seminggu bukan, waktu yang kau berikan." Tantangnya balik, "dan seingatku, kau bukan tipe orang yang suka menunggu." Sahutnya santai mengingat ini lebih dari waktu yang diberikan oleh pria Uzumaki itu. Dapat ia lihat Naruto terdiam sebelum akhirnya tertawa.
"Ah, Uchiha dan kepintarannya." Tertawa sarkatik.
Dengusan sinis terdengar dari pria di sebelah, Sasuke. Membuat ke dua iris berbeda warna itu melirik ke satu arah. "Demi rencana ini, kau mengorbankan wajahmu. Kau benar-benar gila, Naru." Senyum yang sama yang diberikan oleh pria itu pada kedua temannya.
"Apa kau lupa, Sai?" Pertanyaan itu terdengar dari Sasuke, membuat pria itu menoleh. "Si dobe itu kan memang gila." Sahutnya tak peduli, mengabaikan Naru yang mengambil salah satu foto di dekatnya.
Seminggu, yah. Seminggu waktu yang ia berikan untuk gadis itu. Lebih dari itu ia akan bertindak, sama seperti yang ia lakukan kemarin. Sebuah seringai pun diberikan oleh Naruto, saat melihat wajah gadis yang didaulatnya sebagai miliknya kini. Dengusan sinis disertai wajah menyeringaipun diberikan oleh kedua sahabatnya. Teringat dengan kejadian yang sama saat mereka berada dalam situasi yang tidak jauh berbeda dengan Naruto saat ini. Terobsesi dengan sosok yang memang ingin mereka miliki. Walau cara yang mereka pakai tentu saja berbeda.
Crazy
Stress itulah yang dirasakan Hinata sekarang, iris amethyst miliknya kini ia sembunyikan dalam kelopak matanya. Menyandarkan tubuhnya pada sofa yang kini ia duduki, tangan kirinya ia gunakan untuk memijit kepalanya pelan.
"Kau baik-baik saja, Nata?" pertanyaan itu terdengar dari seorang wanita, membuat kelopak mata itu perlahan terbuka menampilkan amethyst miliknya.
"Shion," ucapnya pelan memberikan senyum terpaksa. "Kau lama," lanjutnya terdengar sedikit manja.
Melihat jam tangannya dilakukan gadis pirang itu, "bukannya ini sesuai dengan jam pertemuan kita." Sedikit tautan keheranan diberikan gadis bernama Shion itu. "Apa bukan kau yang kecepatan?"
Kekehan kecil terdengar dari Hinata, setelah beberapa hari ini tawa riangnya tidak terdengar. "Aku bercanda, Shion. Aku memang datang lebih awal." Senyumnya terpaksa.
Kedipan bingung diberikan oleh Shion melihat gelagat teman sejak High Schoolnya ini. "Kau sudah pesan?" tanyanya membuka buku menu dan memanggil waiters.
Anggukan kecil dilakukan Hinata, mengaduk minumannya pelan. Sambil sesekali menghela napas pelan.
"Jadi, ada apa?" pertanyaan itu kembali terdengar dari Shion setelah ia selesai memesan makanan pilihannya.
"Apa?"
Menghela napas panjang, "kau tidak mungkin memanggil ku kemari tanpa sebabkan, Nata?" menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Oh, yah. Tentu, aku hanya ingin ada orang yang menemaniku, makan siang saja." Cengirnya tidak enak melihat bagaimana iris milik Shion menatapnya lama.
Mengangkat bahunya acuh, sebelum akhirnya menghela napas pelan. "Baiklah aku percaya." Sahutnya singkat menatap kembali pada Hinata yang sedikit menghela napas lega. "Jadi kau galau bukan karena pria itu sedang bersama seorang gadis kan." Mengaduk minuman yang telah dipesankan Hinata sebelum ia datang.
"Eh? Pria?Maksudmu apa?" tanyanya heran melihat pada Shion yang menyeruput jusnya.
Menghentikan aksi menyeruput jus, iris miliknya dapat melihat bagaimana wajah temannya itu terlihat bingung sekarang. "Ku kira kau galau karena pria yang saat itu bersamamu sekarang, sedang duduk manis bersama seorang gadis di sana." Jawabnya dengan iris tertuju pada sosok pria berambut pirang jabrik yang duduk sedikit jauh dari mereka.
"A-apa?" iris itu berkedip bingung, perlahan menoleh mengikuti arahan Shion yang kembali menyeruput jusnya dengan santai.
Hanya butuh seperkian detik, sebelum akhirnya amethyst itu membulat sempurna. Jauh darinya terlihat orang yang dikenalnya kini sedang duduk santai, terlihat mengobrol dengan seorang gadis sambil tertawa-tawa. Dan tidak butuh waktu yang lama, iris miliknya dan milik pria yang ia ketahui namanya saling bertemu. Sebuah senyum miring dapat ia lihat di wajah pria itu.
Choice
Kesal, gondok, kecewa dan sebuah kata yang memiliki makna yang sama mengutarakan perasaan Hinata saat ini. Menggeram kesal, ingin rasanya ia melempar barang-barang di kamarnya sebelum teringat bahwa, ia membelinya dengan susah payah. Ingin merusak dan mencabik boneka rubah di dekatnya, dan kembali menggerutu kesal mengingat bahwa boneka itu sangat bagus. Intinya apapun yang ingin dirusak atau dipecahkan, harga diri, dan harga barang itu jauh lebih mahal dari apapun. Ia tak akan pernah melakukan itu, sekesal apapun sekarang. Otaknya mengingatkannya dengan baik itu semua, membuatnya makin gondok karena tidak ada pelampiasan.
"Kalau bukan karena ini cantik, ini mahal, ini susah dicari." Tunjuknya pada masing-masing barang yang pernah dibelikan Naruto untuknya –Hinata tidak pernah meminta, pria itu yang seenaknya saja membelikan ditambah sedikit paksaan agar ia menerima. "Habis sudah," cibirnya kesal.
Merebahkan diri di kasur, di lakukan Hinata. "Aku membencimu, Naru. Kau menyebalkan." Sungutnya lengan kanan ia gunakan untuk menutup kedua matanya. "Aku benar-benar membencimu," suara itu terdengar begitu lirih bersamaan dengan liquid bening yang perlahan terlihat keluar dari sela lengan yang menutupi matanya.
.
.
.
.
TBC
Hola! Gie datang lagi dengan kecepatan maks, maklum updatenya nyicil. Kalau gak gitu, bakalan luama banget. Jadi kalau ini terkesan sedikit, yah...gitu deh *mojok*. Oke, thanks to zielavienaz96, Kiyouko Akane, kejorasenja25, Hqhqhq, Hayden, MF, Wagus-san, Ikanatsu, Voice, Saikari Ara Nafiel, Guest1,2,3, Kazeko05, Sena Ayuk, Aizen L sousuke, rantachibanasoraaoiyl, Hestifan Avery, Logic yang fav dan alert. Gie harap chapter ini dapat ngejelasin ada apa dengan Naru. See you next chapter! ^-^
Balas rev
zielavienaz96
Beh, bukan terobsesi lagi, Naru mah mang gila *dirasengan.
Kiyouko Akane
Thanks, revnya juga keren. *kedip ganjen
kejorasenja25
Maklum, tuntuan peran. *kedip2
Hqhqhq
Iya, Narunya baru keluar dari Rumki-*ditabok. Anime apa? Tapi ceritanya bedakan *nyengir
Hayden
Oh, pasti ada dong. Nih lanjutannya, masih panas baru keluar dari oven (?)
MF
Thanks *kedip2
Wagus-san
Rate M? oh, gampang bisa diatur. Tapi Gie updatenya 2 tahun sekali yah *kedip2#dihajar. Seriusan, cari ide buat rate M itu bisa buat gie mabok duluan. Ampun dah
Ikanatsu
Gie juga bingung, nih sebenarnya dimana coba *pasrah#ditabok. Tapi dari awal Naru juga kenalin dirinya pakai awal depankan, kalau embelnya itu ada alasannya kok. Tar kalau sempat gie update deh.
Voice
Setuju! Thanks, revnya juga keren kok *kedip2.
Saikari Ara Nafiel
Gak, Naruto gak mengerikan kok. Dia hanya gila aja *dirasengan. Yang terjadi *lihat atas.
Guest1,2,3
Kependekan? gie harap ini gak ikutan pendek. Maklum sibuk banget T_T. Bipolar? emmm... mung- *keburu digeplak
Kazeko05
Thanks, Oke, nih udah lanjut.
Sena Ayuki
Thanks, gie juga suka kok dengan revnya *kedip ganjen *plak. Yah, walau sebenarnya dikit ngeri juga waktu ngalamin di RL, dalam versi berbeda tentunya *mojok*. Di sini sudah jelas kan Naruto itu seperti apa. Dia gak akan pernah goyah *ketawa nista. Udah kejawab juga hari keberapa bukan.
Aizen L sousuke
Yups, masalah. Berubah haluan dikit.
rantachibanasoraaoiyl
Naruto itu seorang pria, dengan rambut kuning dengan mata.. *dihajar
Hestifan Avery
Thanks, ini udah dilanjut kok
Logic
Eh? Sasori *bingung
.
.
.
Sigh,
ImyGie_Chan
