Memento Mori
(The Sequel of : Demion; The Story of Wasted Angel)
Cast: Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Park Jimin, Min Yoongi, Kim Seokjin, Kim Namjoon, Jung Hoseok, and OC's
Genre: Romance, Fantasy, YAOI, Marriage life,Mpreg
Length: Chaptered
Rate: T
****Chapter 4****
~Jungkook is the Hottest Daddy~
Jungkook sibuk mondar-mandir di depan pintu sewarna tulang bak setrika panas. Tepat di belakangnya ada sosok gadis mungil dengan sebuah dot yang masih setia di bibir mungilnya. Matanya mengerjap polos sembari tetap mengikuti langkah orang dewasa di hadapannya yang tampak sibuk dengan ponselnya.
Gurat khawatir terukir di wajah tampan Jungkook. Pasalnya, begitu ia bangun, ia tidak mendapati kehadiran Taehyung dan malah disambut tangisan gadis mungil ini yang tampak baru bangun juga dari tidurnya.
Bagaimana bisa Jungkook tidak khawatir?! Setelah membuatkan susu untuk putrinya ini, Jungkook segera meraih ponselnya. Ya, gadis mungil yang sedari tadi mengikuti langkahnya ini adalah putrinya. Namanya Sana, Jeon Sana. Bayi mungil yang Taehyung lahirkan kini berusia 3 tahun, bertransformasi menjadi gadis mungil nan menggemaskan.
Jungkook baru berhenti mondar-mandir begitu merasakan sebuah tarikan di celananya. Jungkook segera menoleh kearah Sana, kemudian berjongkok menyamakan tinggi mereka. ''Dimana Mommy?'', Tanya Sana sambil memeluk leher sang Ayah.
Jungkook segera menggendong tubuh mungil putrinya sebelum menjawab,''Mommy sedang pergi, jadi Uri Princess hari ini akan bermain bersama Daddy,okey?'', Jungkook dapat merasakan putrinya mengangguk di bahunya dan Jungkook tersenyum setelahnya. Meskipun keberadaan Taehyung masih abu-abu, Jungkook masih punya Sana.
Jungkook mengecup pipi mulus Sana lalu berpura-pura mengernyit menatap putrinya,''Ada yang belum mandi disini hmm?'', Sana tergelak begitu sang Ayah bertanya sembari mengusakkan hidung mereka. Jungkook baru berhenti begitu Sana memohon dengan suaranya yang menggemaskan.
''Baiklah, Ayo kita mandi sekarang'', Begitu Jungkook menurunkan tubuhnya, Sana segera berlari ke kamar mandi sambil melepaskan semua pakaiannya hingga berceceran di lantai. Jungkook hanya bisa menggeleng sambil memunguti pakaian putrinya.
Dalam beberapa jam kedepan, Jungkook akan menghadapi tingkah hiperaktif putrinya. Setidaknya sampai Taehyung kembali.
.
.
Yang Taehyung ingat, ia masih berbaring di samping Jungkook sebelum bel rumahnya berbunyi. Jimin dan Seokjin datang kerumahnya, berceloteh tentang Hottest Daddy sebelum akhirnya ia terdampar disini bersama dua uke absurd, di sebuah pemandian air panas.
''Jangan khawatir, Tae. Jungkook tidak mungkin membakar Sana'', Taehyung memutar bola matanya mendengar ucapan Jimin. Ayolah, Jungkook tidak sebrutal itu.
''Setidaknya kembalikan ponselku. Aku tidak ingin Jungkook khawatir.'', Jimin tertawa mengejek sebelum mengulurkan ponsel Taehyung pada pemiliknya. Taehyung segera menghubungi Jungkook begitu ponselnya berada di tangannya.
Taehyung menggigit bibir bawahnya saat nada sambungnya terdengar begitu lama. Apa Jungkook marah?-batinnya.
'Tae..', hampir saja Taehyung menjatuhkan ponselnya. Taehyung segera menempelkan ponselnya ke telinga,
"Hai Kook, maaf baru menghubungimu.", terdengar suara helaan nafas juga suara gaduh yang Taehyung yakini berasal dari putrinya.'Iya, kau dimana hmm? Tangisan Sana menjadi alarm ku pagi ini..', Taehyung tertawa pelan mendengar rajukan Jungkook, membuat Jimin mendekatkan telinganya ke ponsel Taehyung, sementara Seokjin hanya menggeleng melihat tingkah dua saudara ini.
"Mark menghubungiku pagi-pagi sekali tadi, ia memintaku menemaninya mencari WO untuk pernikahannya. Maaf aku tidak memberitahumu lebih dulu", Sebenarnya Taehyung tidak bohong, Mark benar-benar menghubunginya dan memintanya menemani mencari WO yang bagus tapi sore nanti. Salahkan Jimin dan Seokjin yang tiba-tiba menyeretnya kemari.
Meskipun sedikit kasihan pada Jungkook yang harus menjaga Sana sendirian, tapi Taehyung tetap menyetujui ide Jimin juga Seokjin. Demi satu juta won yang akan ia dapatkan jika Jungkook tidak memintanya segera pulang. Hal ini juga berlaku pada Seokjin dan Jimin apabila Namjoon juga Yoongi tidak menghubungi mereka.
'Apa akan lama?', suara Jungkook kembali terdengar. Taehyung tersenyum,"Sepertinya iya. Apa tidak apa-apa? Apa aku harus pulang sekarang?",Taehyung berusaha keras menahan tawanya sambil tetap berusaha membuat suaranya terdengar memelas.
'Tidak apa-apa, jangan khawatir. Kurasa kau juga butuh liburan, Tae. Aku akan menjaga Sana hari ini. Hati-hati ne? Jangan lupa makan dan jangan terlalu lelah', Taehyung bersorak tanpa suara, sementara Jimin dan Seokjin tampaknya harus menyerah pada Our Hottest Daddy, Jungkook.
"Gumawo Kookie-a. Kalau tidak ingin masak, kau bisa mengajak Sana makan diluar. Kalau lelah, cukup berikan mainan puzzle nya, dan kau bisa istirahat.", terdengar suara tawa Jungkook,'Arasseo.. Jangan khawatir sayang..', Taehyung kembali tersenyum. Betapa beruntungnya ia memiliki Jungkook yang begitu pengertian.
'Oops, sepertinya Sana menghancurkan sesuatu.. Sudah dulu ya, hati-hati sayang. Saranghae..'. belum sempat Taehyung membalas 'Nado Saranghae', Jungkook sudah memutuskan panggilannya. Taehyung meletakkan ponselnya di meja yang tak jauh darinya, sebelum memandang kearah Seokjin dan Jimin disertai senyuman penuh arti juga alisnya yang bergerak naik turun.
"So... Siap menyerah dengan 1 juta won?"
.
.
Prang
Obsidian Jungkook membulat saat mendengar bunyi sesuatu yang pecah,''Oops, sepertinya Sana menghancurkan sesuatu.. Sudah dulu ya, hati-hati sayang. Saranghae..'', usai mematikan sambungan telfonnya, Jungkook segera menghampiri Sana.
Jungkook segera mengangkat tubuh mungil Sana yang dikelilingi pecahan porselen. Setelah mendudukannya di sofa , Jungkook segera memeriksa tubuh putrinya, memastikan permata kecilnya tidak terluka. Sementara Sana hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya si cantik Sana merasa bersalah.
Jungkook bernapas lega saat mendapati putrinya tidak terluka. Ia lalu memeluk tubuh mungil putrinya yang nampak bergetar. Isakan kecil dapat ditangkap indra pendengaran Jungkook, membuatnya tak tega untuk tidak mengusap punggung sempit putrinya.
''Hei, ada yang sakit Sweetie?'', Jungkook menangkup pipi Sana lembut, sembari mengusap lelehan airmata yang mengalir disana. Bocah itu menggeleng pelan. Jungkook tersenyum sebelum mengecup kening Sana.
''Jadi, apa yang membuat Princess Daddy menangis hmm?'', Jungkook bertanya lembut sambil membawa tubuh mungil Sana ke pangkuannya yang kini sudah duduk di sofa. Sesekali Jungkook mengusap surai Sana, berusaha menenangkan putrinya.
''Aku takut Mommy malah kalena melucak guci kecayangannya..'', obsidian Sana kembali berkaca-kaca. Jungkook segera memeluk Sana,'' Ssstt, Jangan menangis.. Mommy tidak akan marah..Mommy malah akan sedih kalau melihat Sana menangis..'', Sana segera mengusap airmatanya lalu kembali tersenyum, membuat Jungkook ikut tersenyum.
''Sekarang siapa yang lapar?'', Sana mengangkat tangan kanannya semangat. Jungkook lantas berdiri dengan menggendong Sana,''Ayo kita makan diluar..Uri Sana mau makan apa?'', Sana menaruh jari telunjuknya di dagu seolah tengah berpikir,''Bulgogi'',pekiknya kemudian.
''Baiklah, kita makan bulgogi..''
.
.
Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Jungkook. Sana tidak rewel saat ia suapi. Sesekali Jungkook mengusap sudut bibir mungil putrinya yang terdapat sisa saus Bulgogi. Seisi restoran memandang kearah pasangan ayah dan anak ini. Ada yang memberi tatapan takjub, memuja, bahkan ada yang memotret mereka, hingga Jungkook merasa risih.
Begitu selesai membayar tagihan mereka, Jungkook segera membawa tubuh mungil putrinya memasuki mobilnya yang terparkir di sisi jalan dan kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Sana tak henti-hentinya berceloteh sambil terus bertanya tentang apa yang ia lihat di jalanan sampai Jungkook kewalahan dibuatnya.
''Daddy, kenapa kita halus belhenti caat lampu melah?''
''Kenapa mobil bica belgelak?''
Hingga suara kecil Sana kini tak terdengar lagi karena bocah ini sudah tertidur bahkan ketika mereka belum sampai di rumah. Sesampainya mereka di rumah, Jungkook segera memarkirkan mobilnya di basement, menarik rem tangan sebelum keluar lebih dulu. Jungkook sedikit berlari kecil lalu membuka pintu mobil. Lengan kokohnya mengukung tubuh Sana kemudian menutup pintu mobil dengan kakinya.
Karena malas menghabiskan waktu lama dengan berjalan, Jungkook memutuskan berteleportasi langsung ke kamar Sana. Jungkook ikut membaringkan tubuhnya di samping Sana usai membaringkan putrinya, dan menyusul ke alam mimpi dengan sebelah lengannya memeluk tubuh sang putri.
.
.
Taehyung dan Jimin berusaha menahan tawanya saat mendengar suara Namjoon yang meraung dari ponsel Seokjin, memintanya segera pulang. Padahal sekarang baru pukul 1 siang. Dengan kesal Seokjin mengeluarkan lembaran kertas bernilai lima ratus ribu won, menghempaskannya di meja di hadapan Jimin juga Taehyung sebelum beranjak pergi sambil menenteng tasnya. Sementara Jimin dan Taehyung sibuk ber-high five ria.
''Kita tidak mungkin terus disini kan? Ayo pergi ke tempat lain'', Taehyung menarik tangan Jimin keluar dari sana dan langsung memanggil taxi. Begitu mendapatkan taxi, mereka berdua segera memasukinya dan mereka memutuskan pergi ke rumah Mark.
.
.
Tak lama di rumah Mark, kali ini Jimin yang harus pulang. Lain halnya dengan Jimin yang sibuk berdecak kesal saat dihubungi olehYoongi, Taehyung malah tertawa kencang sambil memeluk perutnya. Sementara Mark hanya menggeleng melihat tingkah seniornya.
''Yess! Aku menang! Saranghaeyo Jungkookie..'', pekik Taehyung senang sambil melompat-lompat bahkan memeluk Mark erat saking senangnya.
Usai memberikan uang lima ratus ribu wonnya pada Taehyung, Jimin segera pulang. Meskipun sedikit kesal, Jimin tetap memeluk bahkan mengecup kening Taehyung sebelum beranjak darisana.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang, Mark dan Taehyung memutuskan untuk segera pergi mencari Wedding Organizer untuk Mark, agar Taehyung dapat segera pulang. Dengan menggunakan mobil Mark, mereka segera menuju WO kenalan Taehyung, yang mengurus pernikahannya dengan Jungkook dulu.
Beruntung tanpa menghabiskan waktu lama, Mark setuju menggunakan jasa WO pilihan Taehyung. Untuk konsep, Mark mengatakan ingin berkonsultasi bersama Taeyong terlebih dahulu. Jadi Taehyung dapat segera pulang, karena jujur Taehyung mulai khawatir pada Jungkook juga Sana.
''Gumawo Hyung, sudah bersedia menemaniku..'', ungkap Mark dalam perjalanan ke rumah Taehyung. Taehyung tersenyum sembari mengusak surai Mark. Ia tidak menyangka Mark sudah beranjak dewasa bahkan akan segera melangsungkan pernikahan.''Tidak masalah. Kau bisa selalu menghubungiku jika butuh bantuan, Mark-ie..''
Mark tersenyum manis sembari menggumamkan 'terima kasih'. Rumah minimalis Taehyung sudah dapat dijangkau oleh obsidian Mark. Taehyung menghela nafas lega begitu Mark menghentikan mobilnya,''Kau khawatir sekali ya Hyung? Maaf mengganggu waktumu hyung..'', Mark menunjukkan raut menyesal, membuat Taehyung sedikit tak enak hati.''Eeyy, tidak apa-apa.. Aku justru berterima kasih, karena kau aku dapat satu juta won, hehe.'', Mark tertawa mendengarnya,''Ya sudah, tidak ingin mampir dulu hmm?'', tawar Taehyung begitu keluar dari mobil. Mark menggeleng sebagai jawaban,''Terima kasih hyung, aku harus segera pulang.. titip salam untuk Sana dan Jungkook hyung ya..''
''Ya sudah kalau begitu, hati-hati dijalan ya..'', Mark melambaikan tangannya sebelum mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Taehyung.
Hanya sepi yang Taehyung dapati begitu memasuki rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya sambil melangkah menuju kamar Sana. Perlahan Taehyung membuka pintu berwarna putih tulang dengan aksen bunga juga tulisan 'Sana's Room' tertempel disana.
Taehyung tidak dapat menahan senyumannya ketika obsidiannya mendapati pemandangan yang begitu manis. Jungkook tidur di samping Sana sambil memeluknya, sementara tangan mungil Sana tersampir di pipi Jungkook.
Tanpa menimbulkan suara, Taehyung mendekati ranjang Sana lalu duduk di tepiannya. Tiba-tiba saja Sana membuka matanya sambil menangis pelan, mungkin terusik oleh kedatangan Taehyung. Karena khawatir akan membangunkan Jungkook yang tampak lelah, Taehyung segera menggendong Sana sembari menepuk punggungnya agar tenang,
''Sstt, cup cup cup, nanti Sana bisa membangunkan Daddy..'',bisik Taehyung pelan, membuat Sana berhenti merengek dan menoleh kearah Jungkook yang masih tertidur.
''Daddy tampan cekali.. cepelti pangelan di buku Cana..'',gumam Sana polos di gendongan Taehyung. Taehyung tidak menampik gumaman Sana, karena jujur, Jungkook memang sangat tampan. Apalagi saat tertidur seperti ini..
''Mommy cucu..'',suara Sana menyadarkan Taehyung dari kegiatan 'Mari mengagumi wajah Jeon Jungkook'. Ia segera membawa Sana keluar sebelum bocah ini kembali merengek. Sebelum itu, Taehyung menyempatkan untuk mengecup pipi Jungkook.
.
.
Begitu membuka matanya, dengan refleks Jungkook menoleh kesampingnya, tempat Sana tertidur tadinya. Namun Onyxnya tak mendapati kehadiran putrinya. Panik mulai melingkupi hatinya. Dengan tergesa-gesa ia segera keluar dari kamar bernuansa soft pink tersebut.
Jungkook mulai bernapas lega saat mendapati putrinya sedang sibuk dengan mainan puzzle-nya, juga eksistensi Taehyung yang duduk di sofa dengan mata tertuju ke televisi di depannya.
Senyuman jahil terlukis di bibir Jungkook. Dengan tiba-tiba ia duduk di samping Taehyung, ''Sedang menonton apa?'', tanyanya membuat Taehyung sontak menoleh dan…
Cup
Bibirnya menempel di bibir Taehyung. Seolah tanpa menggubris keberadaan bocah dibawah umur disana, Jungkook menahan tengkuk Taehyung lalu melumat bibir Taehyung lembut. Jungkook baru melepasan pagutan mereka saat Taehyung menepuk dadanya.
Taehyung segera menggeplak kepala Jungkook begitu ciuman mereka terlepas. Meskipun sedikit meringis, Jungkook masih bisa tertawa. Lain halnya dengan Taehyung yang merasakan pipinya memanas.
''Kau bisa menodai otak polos Sana, Jeon Jungkook!'',desis Taehyung kesal. Jungkook segera merangkul pinggang Taehyung, menipiskan jarak mereka.
Jungkook menatap Taehyung lama, hingga Taehyung kembali merona sambil menoleh kearah Jungkook,''Apa?''
''Aku sudah menjaga Sana seharian, mana hadiahku?''
''Jadi kau tidak ikhlas menjaga putrimu sendiri?!'', pekik Taehyung kesal dengan mata membulat. Jungkook tampak gugup saat Taehyung memelototinya.
''Bukan begitu sayangku.. Ini pertama kalinya kau meninggalkanku seharian bersama Sana.. Jadi, boleh aku minta hadiah?''
''Tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa..'', lanjutnya terburu-buru. Kemudian hening melingkupi mereka. Jungkook pura-pura sibuk bermain bersama Sana, sementara Taehyung nampak berpikir. Benar juga, Taehyung harusnya berterima kasih pada Jungkook.
Taehyung berdehem keras membuat Jungkook menoleh,''Baiklah, mau hadiah apa?'', netra Taehyung bergerak random menghindari tatapan Jungkook. Entah kenapa ia jadi menyesal bertanya pada Jungkook begitu melihat tatapan mesum Jungkook.
''Adik untuk Sana?'', Sana segera menoleh dengan semangat begitu mendengar kata adik.
''Adik? Boleh aku minta adik laki-laki?'', Jungkook tersenyum penuh arti,''Tentu saja sayang, Daddy akan berikan adik laki-laki.. iyakan Mommy?''
''Yeah.. Aku akan punya Namdongcaeng..'', pekikan senang Sana berbanding terbalik dengan Taehyung yang justru menelan ludah gugup.
'Aku akan susah berjalan lagi..', Taehyung meratapi nasib tubuhnya dalam beberapa hari kedepan.
Jungkook memang Hottest Daddy, tapi jangan lupakan kalau ia juga pervert.
End
